Saung Angklung Udjo

Oleh Wisnu Kisawa

Energi tempat wisata tersebut berpusat pada bambu. Benar, bambu-bambu tumbuh lalu memberikan napas pada banyak kehidupan yang lain. Dan lokawisata itu tak sekadar elok tapi juga mencerdaskan mereka yang mendatanginya.

Ya, ke mana Anda akan menghabiskan waktu kalau berwisata di Kota Bandung? Cibaduyut atau kawasan Cihampelas? Mungkin. Lalu pernahkah terbayang untuk berkunjung ke Saung Angklung Udjo? Jika belum, rasanya tempat wisata yang sejatinya sanggar seni itu layak untuk Anda coba.

Berwisata ke sanggar seni? Tunggu dulu. Jangan bayangkan Anda hanya akan duduk manis menikmati pertunjukan. Sebab di sana, Anda bisa beroleh sesuatu yang lebih dari itu. Meski pertunjukan tetap menjadi menu utamanya, namun ada kehidupan lain yang juga tak kalah menarik. Itulah mengapa butuh waktu sehari jika ingin berwisata ke sana.

Saung Angklung Udjo berada di Jalan Padasuka No 118, Bandung. Seperti namanya, kesenian angklung adalah ruh tempat tersebut. Meski begitu, pertunjukan dari bilah-bilah bambu bernada itu hanya menjadi semacam pemicu. Ya, pemicu untuk kemudian memberikan daya gugah pada sekian banyak nafas kehidupan di sana. Inilah yang menjadikan saung itu terasa begitu menarik. Bukan sekadar sanggar seni.

Maka waktu sehari menjadi terasa penuh dengan pengalaman. Ada banyak hal yang bisa dinikmati di sekitar kehidupan kesenian angklung, sebelum kemudian mengamini kecerdasan pengelolaan tempat wisata tersebut.

Siapa yang membayangkan jika bambu bisa sedemikian dahsyat memberikan banyak energi kehidupan?

”Kami sadar ini adalah sanggar seni. Tapi di sini kami berusaha agar Anda tidak sekadar menjadi penikmat kesenian tradisional Sunda. Sebab kami juga memberikan tawaran lain yang mungkin tidak akan Anda bayangkan,” kata Taufik Hidayat, salah seorang dari pemilik Saung Angklung Udjo.

Saung itu berada di kawasan yang boleh dikata cukup strategis. Paling tidak dengan letaknya yang masih berada di kawasan perkotaan.

Di sebuah pekarangan yang cukup luas dengan banyak bangunan di dalamnya, yang menarik adalah banyaknya bambu yang tumbuh di berbagai sudut. Inilah ciri khas yang sekaligus akan mematri kenangan selepas pulang dari saung. Begitu datang, wisatawan akan langsung disambut dengan senyum dan juga bentuk-bentuk keramahan yang lain. Termasuk mendapatkan minuman selamat datang berupa bajigur yang hangatnya bagai menjalar ke seluruh tubuh. Selain itu juga akan ada pemandu yang siap mengantarkan para wisatawan untuk berkeliling.

***

KALI pertama, pengunjung akan diajak ke galeri. Di sana ada banyak produk kerajinan angklung. Ukurannya cukup beragam mulai dari yang mini hingga maksi. Angklung-angklung tersebut sekaligus ditawarkan jika ada yang berminat membeli. Harganya sesuai dengan ukuran masing-masing angklung. Selain itu, di galeri juga masih ada benda-benda kerajinan khas wisata yang lain. Tentu saja kebanyakan berkenaan dengan khazanah kesundaan. Misalnya kain tenun, topeng, dan pastinya berbagai kerajinan dari bambu.

”Sedikit banyak galeri ini juga mengungkapkan kebudayaan Sunda,” tandas Taufik.

Lalu di mana bambu-bambu itu bertumbuhan? Di belakang galeri atau di bagian belakang pekarangan, ada cukup banyak rumpun bambu yang lebat. Beberapa langkah saja memasuki kawasan itu, kita akan menjumpai bilik-bilik kecil. Di sana tangan-tangan terampil sedang mengubah bilahan bambu menjadi sebentuk alat musik angklung. Konon, sebagian ada yang untuk dijual, dan sebagian lain untuk mengganti alat pertunjukan yang sudah rusak.

”Seperti inilah daur kehidupan kami. Di sini kami memulai, di sini pula kami tumbuh,” ujar Taufik lagi .

Itulah di antaranya daya tarik dari bukan sekadar pertunjukan di Saung Angklung Udjo Bandung. Daya tarik yang lain? Jangan lupakan dengan bilik kecil lainnya yang berada di persis di samping galeri. Di sana ada anak-anak yang sedang bersiap menari. Jumlahnya puluhan, dan mereka adalah anak-anak kampung sekitar saung.

”Mereka mendapat ruang kreasi di sini, sementara kami mendapatkan aktivitas mereka. Kalau toh kami memberikan sekadar bantuan uang sekolah, itu bukan untuk mengeksploitasi. Itu lebih karena mereka memang pantas mendapatkannya.”

Relasi yang sungguh manis, bukan? Apalagi ketika aktivitas anak-anak itu tak harus mengganggu waktu belajar mereka. Maka filosofi ”hidup dan tumbuh” di saung itu benar-benar terasakan. Bahkan hingga rehat, sembari menikmati kue-kue tradisional -beserta bajigur yang hangatnya ”sunda banget” itu-, akan terus terasakan.

***

JANGAN lupakan pula para pemandu yang ada di Saung Angklung Udjo. Bukan karena mereka adalah perempuan-perempuan yang cantik khas neng geulis. Namun karena dari merekalah kecerdasan sebuah tempat wisata itu juga termaknai. Tidak hanya saat memandu, namun juga ketika mereka kemudian menjadi pembawa acara dalam pertunjukan kesenian di situ.

Ya, di gedung pertunjukan, saat menjadi MC, perempuan pemandu itu memang bagai magnet. Tak hanya pandai menyegarkan suasana, tapi juga dengan keahliannya yang lain. Utamanya saat menjaga sajian pertunjukan.

Akhirnya pertunjukan memang menjadi pemuncak di Saung Angklung Udjo. Tapi tunggulah dulu. Sebab, sekali lagi, pengunjung tak hanya duduk manis menikmati Kaulinan Urang Lembur, Arumba, Topeng Sunda, Rampak Kendang, Calung Cilik atau pun Kecapi Suling. Tidak, tidak sekadar menunggu giliran bertepuk tangan usai pertunjukan. Pada saat-saat tertentu, ternyata juga bisa terlibat bahkan turut larut menjadi pemain.

Selepas beberapa pertunjukan kesenian, para wisatawan memang diajari bagaimana memainkan alat musik angklung. Dengan pendekatan yang begitu sederhana, pengunjung yang masing-masing memegang satu alat musik angklung ternyata bisa menjadi pemain dadakan. Hebatnya lagunya bukan melulu Sunda, tapi juga lagu yang sudah populer. Hal itu dilakukan dengan cara mengubah nada angklung yang pentatonis (etnis) menjadi diatonis. Inilah yang kemudian membuat para turis asing -ada cukup banyak turis manca yang datang ke sana setiap hari- kemudian merasa begitu senang. Sebab alat musik yang mereka kira sulit untuk dimainkan ternyata tidak seperti yang mereka bayangkan.

Demikianlah, waktu sehari berada di Saung Angklung Udjo, pengunjung akan banyak mendapatkan banyak pelajaran tentang kebudayaan Sunda. Dari sana mereka akan segara beroleh jawaban. Mengapa dari yang ”hanya” pertunjukan angklung itu bisa memikat wisatawan yang begitu banyak. Nyaris setiap hari puluhan orang datang. Bahkan, beberapa tahun lalu, kata Taufik Hidayat, sempat mencapai ratusan setiap hari. Dan jelas, kedatangan mereka itu tersedot oleh energi bambu di situ.

Dari Kekuatan Cinta

APAKAH mendiang Udjo Ngalagena -pendiri Saung Angklung Udjo- dulunya juga yakin jika saung yang dia bangun akan menjadi seperti sekarang? Padahal -dari apa yang tertulis dalam buku kecil berjudul Sekilas Saung Angklung Udjo, dia memulainya dari halaman rumah yang tak seberapa luas. Sangat mungkin tidak, bukan?

Lalu apa yang menjadi daya dukung lain? Cinta. Ya, mendiang Mang Udjo memang memulainya dari cinta. Bahkan ketika tahun 1966 ingin mendirikan sebuah saung tapi halaman rumah sudah tak lagi representatif, cinta itu masih menjadi kekuatan paling dahsyat. Semuanya memang berawal dari kecintaan terhadap musik angklung (musik Sunda). Paling tidak, anak Mang Udjo sendiri juga mengakui.

”Kecintaannya terhadap seni musik Sunda, terutama angklung, telah tertanam sejak kanak-kanak. Inilah sebenarnya cikal bakal dari saung ini.” Karena mendiang ayah saya adalah penggagas, pendiri sekaligus arsiteknya,” kata Taufik Hidayat, yang menjadi penerus Mang Udjo itu.

Saung Angklung Udjo Bandung memang tidak serta merta langsung menjadi besar seperti sekarang. Namun melalui perjalanan panjang dan proses yang berliku. Dari awalnya yang masih sebatas pertemuan dan pertunjukan, lalu berkembang menjadi sanggar barulah kemudian menjadi tempat wisata seperti sekarang. Menariknya, satu hal yang tak pernah berkurang hingga kini adalah kondisi alamiahnya.

”Panggung pertunjukan di sini bukanlah sekat yang membatasi. Bukan hanya milik pemain, tapi juga para wisatawan yang ingin merasakan berbaur bersama kami,” kata Taufik menjelaskan bagaimana saung itu menjaga kealamiahannya.

Lalu karena itukah yang membuat orang merasa nyaman ketika berada di sana? Hal yang paling dicari ketika orang tengah berplesir? Sepertinya memang demikian.

Maka melihat bagaimana tempat wisata itu coba digarap di sana, Bandung rasanya memang akan semakin menuai lebih banyak wisatawan saja. Ketika jalan tol semakin melapangkan orang berduyun pelesir ke sana, masyarakat Kota Kembang sepertinya juga semakin cerdas saja menangkap peluang. Di Saung Angklung Udjo, itu terasakan benar.

Sumber: http://suaramerdeka.com
-

Arsip Blog

Recent Posts