Waktu Berhenti di Bumi Laskar Pelangi

Oleh Benny Benke

Banyak pulau di Indonesia yang punya pantai indah. Salah satunya pantai di Belitung yang berada di provinsi Bangka Belitung (Babel), sebuah pulau yang berbatasan dengan Laut China Selatan di utara, Laut Jawa di selatan, dan Selat Gaspar di barat. Namun, keindahan pantai di Bumi Laskar Pelangi, sebutan baru untuk Belitung, bisa dibilang sangat sempurna.

Paling tidak, begitu komentar Ginette (54) dan Jeans Cammas (57), pasangan istri suami dari Perpignon, Prancis. Dengan kapal layar, keduanya mengikuti Sail Indonesia 2008 yang telah menyusuri Darwin, Kupang, Alor, Lembata, Maumere, Ende, Riung, Labuan Bajo, Bima, Karimun Jawa, Kumai, dan Belitung. Sepanjang pelayaran mereka, pantai-pantai yang bagi mereka memiliki keindahan sempurna itu ada di pantai-pantai Billiton alias Belitung.

”Belum pernah saya mampir di sebuah negara seindah Indonesia. Tapi Belitung...,” kata Ginette sembari menekan suara, ”sempurna!”

Seperti pasangan tersebut, banyak pelancong yang sangat terkesan oleh keramahan penduduk Belitung yang cair. Di Eropa, tambah Ginette, orang sangat mendewakan uang tapi tidak punya hati.

”Di Indonesia dan di sini (Belitung-Red), meski mungkin masyarakatnya tidak punya uang, tapi kaya hati.”

Apa yang dikatakan Ginette me­ngenai pulau penghasil merica dan timah itu tidaklah berlebihan. Memang begitu kenyataannya. Di pulau yang namanya diambil dari nama batu billitonite atau batu satam oleh kolonialis Belanda sejak tahun 1922 itu waktu terasa begitu lambat berputar. Ah, tidak, tidak sekadar itu. Waktu di sana seperti berhenti.

Waktu yang berhenti itulah yang menjadi salah satu indikasi kedamai­an yang melenakan. Dua kabupaten yang ada, yaitu Kabupaten Belitung Barat dengan Tanjung Pandan sebagai pusat pemerintahannya, dan Belitung Timur dengan Manggar sebagai pusat keramaiannya, sehari-hari nyaris sepi oleh aktivitas manusia.

Kemeriahan hanya berlangsung pada akhir pekan. Itu pun hanya terpusat di loka-loka tujuan wisata. Apalagi kalau bukan pantai yang menjadi tempat pertemuan ratusan bahkan ribuan orang untuk berlibur.

Tidak ada pusat permainan, gedung bioskop atau tempat perbelanjaan mewah seperti di Jakarta, atau kota besar lainnya di Jawa. Pantai, yang puluhan jumlahnya, tampaknya mampu mengganti keberadaan semua tempat itu dengan purna. Layaknya gaya hidup orang-orang Eropa, masyarakat Belitung, baik di Barat maupun di Timur, senantiasa meluangkan waktu di akhir pekan untuk berpiknik. Entah siapa yang memulainya. Menurut pengakuan salah seorang warga asli Belitung, kebiasaan itu sudah lama berlangsung, dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Dan pantai adalah tujuan yang istimewa.

Jadi, sepanjang pagi hingga petang di akhir pekan, baik di pantai Tanjung Pendam, Tanjung Tinggi, Tanjung Kelayang, Bukit Berahu, dan berbagai pantai lainnya, puluhan keluarga dari suku Melayu, keturunan Tionghoa Hokkian dan Hakka bercampur baur dan bergembira bersama. Di sana, nyaris tidak terbetik cerita mengenai perseteruan di antara mereka. Benarlah, di pulau yang sebagian besar penduduknya tinggal di kawasan pesisir pantai dan menambang timah di pedalamannya itu keakuran menjadi harga mati yang tidak terbantahkan.

***

NAH, kalau sudah sampai Belitung, sempatkanlah mampir ke Desa Gantong di Belitung Timur, sekitar 100 kilometer dari Tanjung Pandan di Belitung Barat. Di desa itulah Andrea Hirata, penulis Laskar Pelangi, melewati masa kecilnya. Di desa itu, seperti 11 desa lainnya yang tersebar di lima kecamatan di Belitung, tradisi berake dan begalor masih mengakar kuat. Berake adalah semangat gotong royong tanpa memandang latar belakang termasuk agama. Contohnya bisa dilihat pada saat musim hajatan seperti khitanan atau pernikahan. Ketika itu, dapat dipastikan semua tetangga akan bergotong royong menyumbang apa yang mereka mampu sumbangkan kepada ”sahibul hajat”, termasuk sumbangan tenaga.

Adapun begalor yang hampir sama dengan ungkapan Jawa mangan ora mangan kumpul (makan tidak makan yang penting berkumpul), adalah tradisi pemersatu semua kelompok etnis yang ada di pulau permai tersebut. Umumnya mereka berkumpul di warung-warung, dan sembari menyeruput kopi, mereka membincangkan banyak hal, dari yang remeh temeh hingga hal-hal penting menyangkut hajat hidup mereka. Bahkan, mereka juga membincangkan keresahan mereka tak bisa menyaksikan film Laskar Pelangi karena tak satu pun gedung bioskop ada di Belitung.

Ya, di tengah kepermaian alam provinsi Bangka Belitung yang belum lama menjadi provinsi setelah mele­paskan diri dari Provinsi Sumatera Selatan, ada cerita yang mengkha­wa­tirkan mengenai penggalian timah. Dalam novel Laskar Pelangi, Andrea menceritakan dengan baik kondisi PN Timah pada masa jayanya yang terletak di Desa Gantong. Kenyataannya, sekarang ini kondisi penggalian timah itu lebih mengerikan. Penggalian timah oleh individu-individu yang menjual hasilnya langsung ke pengepul atau PN Timah itu bisa dibilang tidak dikelola dengan baik.

Walhasil, kalau kita menyaksikan panorama dari udara, begitu banyak sisa tambang timah yang sudah tidak diproduksi dibiarkan terbengkalai. Padahal keasaman tanahnya akan kembali normal seperti sediakala setelah sepuluh tahun lamanya. Cekung-cekung tanah dan timbunan sisa penambangan itulah yang saban hari terus terjadi. Wajar saja banyak orang memrediksi, jika penambangan timah yang juga menghasilkan kemakmuran bagi penambangnya itu tidak akan berlangsung lama.

Kalau sudah begitu, hasil bumi di pulau itu bakal tinggal cerita belaka. Ironisnya, cerita itu bakal sangat memilukan. Apalagi penambangan timah yang sekarang masih dilakukan di sana oleh sembarang orang yang punya izin dari instansi terkait itu sudah berlangsung sejak zaman Hindia Belanda. Bayangkan saja, bagaimana jadinya jika hasil galian seperti timah, bijih besi, tanah liat, pasir bangunan, gelas, serta kaolin yang diekspor baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri, terus dieksploitasi tanpa manajemen yang bijak.

***

UNTUNG saja pulau tersebut masih menghasilkan rempah-rempah seperti lada berkualitas ekspor dan perkebunan sawit yang hasil produksinya juga diekspor berupa minyak sawit mentah (CPO), dan pantai yang superindah. Dengan pengaturan yang terperi, pulau seluas 4.547 km berpenduduk 204.776 (2000) dan dapat dikelilingi hanya selama 12 jam, akan menjadi sebuah destinasi pariwisata yang mumpuni. Apalagi masih ada sesuatu yang bisa dijual seperti masih banyaknya bangunan berarsitek khas Melayu seperti yang ditemukan di daerah-daerah sepanjang pesisir Sumatera dan Malaka.

Ya, bangunan-bangunan yang bertipe arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubung Panjang, dan Melayu Bubung Limas itu berupa rumah panggung kayu dengan bahan dari kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang tumbuh dan mudah diperoleh di sekitar pemukiman. Belum lagi masih banyak arsitektur kolonial bergaya victorian seperti yang terdapat di Rumah Tuan Kuasa, atau rumah penguasa timah tempo dulu di Tanjung Pandan Belitung Barat.

Belum lagi, puluhan rumah bergaya serupa di Gantong pada kompleks PN Timah yang masih menyisakan kegagahan dan kemegahannya. Atau sebagaimana daerah lain yang mahir menjual upacara atau perayaan daerahnya, Belitung juga mempunyai agenda serupa seperti Perang Ketupat, Buang Jong, Mandi Belimau, Ruwah, Kongian, Imlek, Sembahyang Rebut, Sembahyang Kubur, Kawin Masal, Nganggung, Maulidan, Muharoman, Selikur, Cukur, dan Lebaran Puasa.

Begitu juga khazanah kuliner Belitung yang kaya. Ada mi Belitung yang tidak kalah enaknya dengan mi Bangka yang jadi ”seterunya”. Atau getas dan keretek yang berbahan dasar ikan dan terigu yang dibuat dengan berbagai bentuk yang rasanya hampir sama dengan kerupuk. Ada juga rusip, makanan berbahan dasar ikan bilis yang dicuci bersih dan diiris secara steril, kemudian dicampur dengan garam dengan komposisi seimbang.

Tak kalah memikat adalah keberadaan batu satam yang hanya ada di Belitung dan sangat langka. Istilah ”satam” diambil dari bahasa warga keturunan China yang berada di Belitung. ”Sa” berarti pasir, dan ”tam” bermakna empedu. Jadi, satam adalah empedu pasir. Sedangkan orang pribumi mengartikan ”satam” sebagai batu hitam karena warnanya memang sangat hitam.

Mengenai batu itu, bisa pula kita baca pada buku De Ontwikkling Van Het Eiland Billiton-Maatschappij karangan Door JC Mollema yang diterbitkan S Gravenhage, Martinus Nijhoff (1992). Di situ dituliskan mengenai seorang Belanda bernama Ir N Wing Easton dari Akademi Amsterdam yang menamakan beba­tuan meteor itu dengan istilah billitonite, yang artinya ”batu dari Pulau Belitung”. Batu itu biasanya ditemukan secara tidak sengaja oleh penambang pada kedalaman 50 meter dari atas permukaan tanah.

Dari Aidit hingga Andrea Hirata

ORANG ternama bisa berasal dari mana saja, juga dari kepulauan Bangka Belitung. Beberapa dari mereka antara lain Achmad Aidit (yang lebih dikenal sebagai Dipa Nusantara Aidit), Sobron Aidit, Yusril Ihza Mahendra, dan Andrea Hirata.

Apa yang membuat Belitung melahirkan orang-orang seperti mereka? Semangat belajar yang tinggi. Itu setidaknya diungkapkan Edi Handoko alias Hans (23), pemuda yang tinggal di Pasar Gantong yang letaknya bersebelahan dengan PN Timah di Belitung Timur. Dia bercerita, untuk bersekolah di SMAN 1 Manggar yang jaraknya sekitar 18 km dari Gantong, setiap hari dia harus menempuh perjalanan selama 40 menit dengan mobil sayuran, buah-buah, atau barang lainnya. Hal itu dia lakukan dengan suka cita. Banyak juga kawannya yang rumahnya lebih jauh lagi.

Jadi, ketika membaca Laskar Pelangi, dia tak tergetar lagi pada tokoh Lintang yang harus bersepeda pergi pulang dari rumah ke sekolah sepanjang 80 km.

”Itu biasa di sini,” ujarnya.

Menurutnya, memang tidak semua anak mempunyai kemauan belajar tinggi. Tapi, kecenderungan belajar untuk menuntut ilmu pengetahuan anak Belitung membanggakan. Indikasinya, tambah dia, hampir dapat dipastikan, lulusan SMAN 1 Manggar, sekolah paling favorit di Belitung Timur, bisa diterima di universitas negeri favorit di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, atau Semarang.

Hans yang pernah kuliah di Univesitas Bina Nusantara Jakarta bisa diambil sebagai contoh. Dia menguasai Bahasa Inggris dan Mandarin, dan kini sedang menyempurnakan kemampuan Bahasa Prancis. Kemampuan berbahasanya itu dia dapat sewaktu duduk di bangku SMPN 1 Gantong.

Benar memang, ada kendala aksesibilitas bagi anak-anak Belitung yang ingin berstudi di Jawa. Catat saja, perjalanan laut ke Tanjung Priuk di Jakarta misalnya harus ditempuh selama 18 jam. Begitu pula, pesawat dari Jakarta ke Tanjung Pandan di Belitung Barat pun hanya tiga kali sehari. Tapi semua itu tak dianggap sebagai rintangan mereka yang ingin menuntaskan semangat belajar.

Semangat belajar yang tinggi terjumpai juga pada DN Aidit. Di luar catatan buram Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam sejarah kita, kecemerlangan pikirannya membuat dia menjadi Ketua Central Co­mitte partai tersebut pada usia 31 tahun.

Kecemerlangan pikiran juga dijumpai pada adik DN Aidit yang bernama Sobron Aidit, seorang eksil yang menjadi penulis di Paris sebelum meninggal di kota itu pada 10 Februari 2007. Ada juga nama Yusril Ihza Mahendra, yang intelektualitasnya sudah sangat kaloka alias terkenal. Dan yang terkini, tentu saja nama Andrea Hirata. Bang Andis, demikian ia dikenal warga Gantong, memberikan inspirasi yang luar biasa kepada pembaca novelnya. Inspirasi yang timbul dari tanah Belitung itulah yang kini membuat orang Belitung bangga terhadap tanah kelahiran mereka.

Sumber: http://suaramerdeka.com
-

Arsip Blog

Recent Posts