Pulau Penyengat (sequel)

Oleh Bondan Winarno

Beberapa tahun yang lalu saya sudah pernah menulis tentang kunjungan ke Pulau Penyengat di Kepulauan Riau. Minggu lalu, untuk kelima kalinya saya datang lagi ke pulau ini. Tuhan Maha Baik!

Kunjungan kali ini bersama rombongan Yayasan Warna Warni Indonesia yang dipimpin Ibu Krisnina Akbar Tandjung. Sudah beberapa kali Bu Nina dengan sukses memimpin wisata budaya ke berbagai situs budaya. Menurut laporan, pesertanya selalu mencapai sekitar seratus orang. Yayasan Warna Warni Indonesia merayakan keberagaman budaya Indonesia yang memang penuh warna-warni.

Sesuai dengan thema wisata untuk mengenali budaya Melayu, kali ini muhibah diberi tajuk “Dendang Melayu Warna Warni”. Kami terbang dari Jakarta menuju Batam, kemudian sambung dengan kapal cepat menuju Bintan Lagoi. Di pulau ini kami melakukan kunjungan ke hutan bakau untuk mengenali kekayaan alam kita. Malamnya, setelah makan malam di sebuah kelong (rumah makan yang lantainya disangga tiang-tiang di atas laut), Bu Nina mendatangkan pelatih tari Melayu. Dapat diduga, kami semua bergembira-ria menari Melayu hingga larut malam.

Sekalipun Pak Akbar Tandjung juga ikut sebagai salah seorang peserta, Bu Nina tidak selalu mendampingi suaminya. Ia menjalankan perannya sebagai seorang pemimpin rombongan yang baik. Selalu berada di depan, dan selalu menangani langsung hal-hal yang harus dilakukan untuk melayani peserta muhibah dengan keinginan yang bermacam-macam. Saya angkat topi untuk Bu Nina.

Pagi kedua, kami semua naik kapal cepat lagi dari Bintan Lagoi menuju Pulau Penyengat yang terletak sekitar satu setengah kilometer dari pelabuhan Tanjung Pinang. Ombak agak kurang bersahabat, sehingga iring-iringan tiga kapal cepat itu tidak dapat melaju terlalu cepat. Perjalanan makan waktu sekitar satu setengah jam, hampir sama dengan durasi perjalanan bila ditempuh dengan kendaraan darat.

Saya beruntung datang lebih dulu di Pulau Penyengat, dan bertemu dengan Walikota Tanjung Pinang serta Lurah Pulau Penyengat yang dua-duanya adalah perempuan. Luar biasa! Menurut Walikota, di Tanjungpinang ada 4 kecamatan, dan 2 camatnya adalah perempuan. Dari 18 kelurahan, 10 lurahnya adalah perempuan. Hebat, ‘kan? Kenyataan ini benar-benar membuktikan bahwa di lingkungan predominan Muslim, perempuan diterima dengan penghargaan untuk menjadi pemimpin yang sah.

Sambil menunggu seluruh rombongan tiba, di dermaga saya singgah ke warung kopi dan berbaur dengan warga setempat yang sedang sarapan. Santapan khas untuk makan pagi di kawasan ini adalah mi lendir yang juga disebut mi lotek. Agak mirip mi belitung, karena sama-sama disiram dengan kuah yang kental seperti lendir. Kuah kental ini dibuat dari kacang tanah, ebi, tepung terigu, dan bumbu-bumbu lain. Penamaan mi lendir mengacu pada kekentalan kuahnya, sedang mi lotek mengacu pada rasa kacang tanahnya. Topping-nya adalah sebutir telur rebus dan bawang goreng. Aroma ebi-nya sudah tercium jauh di luar warung.

Saya juga sempat melihat seorang nelayan mengangkat jaringnya yang penuh ikan dingkis. Jenis ikan laut ini endemik Pulau Penyengat dan sekitarnya. Warnanya abu-abu gelap bertutul. Siripnya besar berduri tajam. Ikan ini memiliki sengat di dua sisi: atas dan bawah. Karena itu nelayan harus hati-hati menanganinya. Bila tersengat, badan bisa demam sehari-semalam.

Ikan dingkis biasanya dimasak dengan kuah gulai. Tetapi, juga lezat dibakar. Menjelang Tahun Baru Imlek, nelayan berlomba-lomba mencari ikan dingkis yang berukuran sebesar telapak tangan. Seekor ikan bisa laku sekitar Rp 100 ribu. Di kalangan warga keturunan Tionghoa di Tanjung Pinang, Imlek tanpa ikan dingkis adalah pertanda sial. Warga keturunan Tionghoa di Kepulauan Riau biasanya tuguran semalam penuh pada malam menjelang Imlek, sambil minum bir dan makan ikan dingkis kukus.

Rombongan Dendang Melayu Warna Warni disambut Walikota, Lurah, dan ibu-ibu yang melantunkan pantun selamat datang dengan iringan rebana. Karena jumlah rombongan yang terlalu besar, sebagian harus berjalan kaki menuju tempat-tempat yang akan dikunjungi di Pulau Penyengat. Maklum, di pulau yang kelilingnya lima kilometer itu hanya terdapat 27 bemor (becak motor).

Di pulau ini kami mengunjungi Masjid Sultan yang dibangun pada tahun 1818, Istana Kantor, makam Raja Hamidah alias Engku Putri, serta makam Raja Ali Haji, pujangga kerajaan yang mencipta Gurindam XII. Pulau Penyengat di masa lalu adalah pusat Kerajaan Riau-Lingga.

Kunjungan ke Pulau Penyengat diakhiri dengan makan siang di Balai Rakyat. Bu Nina sengaja mengatur menu makan siang itu untuk menampilkan hidangan-hidangan Melayu yang khas.

Appetizer-nya adalah laksa riau yang sangat khas. Di Indonesia, kita mengenal sangat banyak jenis laksa. Di Bogor saja terdapat dua jenis laksa yang berbeda satu sama lain. Untuk laksa riau, mi-nya agak tebal dan dibuat dari tepung sagu. Warnanya abu-abu transparan. Sekalipun direbus sampai matang, tetapi tingkat kekenyalannya masih al dente. Mi sagu ini ditempatkan di atas selembar daun mangkokan, karena itu porsinya memang imut sekali – cocok untuk appetizer maupun light breakfast. Mi sagu kemudian diguyur dengan kuah kental dengan aroma maupun rasa ikan dan trasi yang nendang banget. Kuahnya dibuat dari daging ikan tamban (semacam ikan kembung) yang diuleg halus dengan jahe, bumbu kari, cabe, ketumbar, bawang merah, trasi, dan santan. Penggunaan ikan dalam kuah laksa riau ini membuatnya agak mirip dengan asam laksa dari Pulau Pinang, Malaysia. Agaknya, penggunaan ikan untuk kuah laksa adalah ciri khas masyarakat kepulauan.

Untuk menghabiskan nasi panas yang terhidang, disajikan empat lauk-pauk. Tentu saja harus ada ikan asam pedas. Berbeda dengan masakan asam pedas di Pekanbaru atau Batam yang berkuah encer, di Kepulauan Riau asam pedasnya lebih kental dengan bumbu yang intens. Tidak heran bila orang Riau juga sering menyebut masakan ini sebagai ikan gulai. Ikan yang banyak digunakan untuk masakan asam pedas adalah ikan bulat (ikan kuwe = trevally).

Pacri nenas juga merupakan sajian khas Melayu. Irisan nenas dimasak dengan bumbu kari, gula merah, cengkeh, kapulaga, kayu manis, dan sedikit santan. Asam-segar-gurih yang sangat balanced dan cocok disantap mendampingi masakan ikan.

Dua lauk-pauk lain yang disajikan pada santap siang itu juga sangat tradisional Riau. Ada acar berempah yang sekilas justru tidak tampak seperti acar yang biasa kita lihat. Sajian ini tampak agak kering, sedangkan acar biasanya basah. Acar berempah ini dibuat dari irisan timun dan wortel yang dimasak cepat dengan korma, bumbu kari, cuka, bawang merah, bawang putih dan jahe. Sekalipun setengah kering, tetapi rasanya sungguh sangat segar. Di masa lalu, jemaah haji dari Riau tidak pernah ketinggalan membawa acar berempah sebagai bekal.

Hidangan lain yang patut saya catat di sini adalah daging masak kecap. Lagi-lagi sajian ini dimasak dengan bumbu kari, tetapi dengan kecap manis yang cukup banyak. Ini unik mengingat kecap manis bukanlah bumbu yang umum dipakai dalam masakan Melayu maupun Minang. Hasilnya mirip daging lapis di Jawa.

Karena Riau adalah negeri pantun, maka saya pun merasa berkewajiban menutup tulisan ini dengan sebait pantun

Kalau jauh kita teringat
Kalau dekat kita berdansa
Kalau datang ke Pulau Penyengat
Jangan lewatkan makan laksa.

-

Arsip Blog

Recent Posts