Pakaian Tradisional Melayu

Oleh: Abdul Malik

1. Keberagaman dalam Kebersamaan
Siapakah orang Melayu? Menurut Encyclopaedia Britannica (Micropaedia, 1985:727), “Malay or Orang Melayu” adalah satu kelompok etnis di Semenanjung Malaya dan sebagian pulau-pulau yang berdekatan di Asia Tenggara, termasuk pesisir timur Sumatera, pesisir Kalimantan, dan pulau-pulau yang lebih kecil di antara kawasan tersebut. (Ethnic group of the Malay Peninsula and part of adjacent island of Southeast Asia, including the east coast of Sumatera, the coast of Borneo, and smaller islands between areas).

Dengan demikian, kelompok etnis Melayu di Indonesia mendiami kawasan yang terentang dari Temiang di sebelah selatan Aceh, beberapa bagian Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi dan Kalimantan Barat. Beberapa pakar bahkan membuat ke- luasan yang lebih dari itu. Apalagi jika dasar ukurannya ialah bahasa, maka keluasan itu akan mencapai Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, dan Maluku. Kawasan inilah yang dinyatakan oleh peneliti ilmu-ilmu sosial sebagai kawasan kebudayaan pesisir yang ciri khas utamanya ialah kepercayaan dan lembaga Islam serta orientasi ke arah aktivitas pasar. (Geertz, 1981:43).

Persamaan dan perbedaan yang terdapat dalam lingkungan yang disebut daerah tempat tinggal orang Melayu meliputi semua aspek kehidupan dari bahasa sampai ke gastronomi, juga pakaian. Seyogya-nya setiap persamaan dipandang sebagai faktor dasar pengikat dan landasan identitas, sedangkan setiap perbedaan sebagai variasi yang bersifat memperkaya. Persamaan membina sosok yang tunggal, sedangkan kemajemukan semestinya dibiarkan terus berkembang.

2. Keindahan Melayu
Salah satu karya sastra Melayu lama ada menggambarkan tentang apa yang disebut cantik sebagai berikut ini.

“Setelah Dewa Mandu mendengar kata Puteri Lela Ratna Kumala demikian itu maka baginda pun tersenyum seraya membaca suatu isim Allah, lalu ditiupnya kepala Gajah putih itu tiga kali. Maka dirasai oleh Tuan Puteri itu sejuklah segala anggotanya, seketika ia pun kembalilah seperti sediakala menjadi manusia. Setelah dilihat oleh Dewa Mandu akan rupa Tuan Puteri itu maka ia pun pingsanlah seketika. Lalu Tuan Puteri itu pun meniup kepala Dewa Mandu. Maka Dewa Mandu pun sadarlah akan dirinya, lalu ia mengucap seraya memuji Tuhan seru sekalian alam katanya, ‘Salangkan hamba-Nya yang dijadikan-Nya lagi sekian (cantiknya, AM), jikalau yang menjadikan berapa lagi. Makin bertambah-tambahlah tauhid dan tasdiknya akan Tuhan Malik al-Manan. (Chambert-Loir, 1980:109)

Petikan di atas menggambarkan aspek ontologis, salah satu aspek terpenting dalam konsep estetika Melayu yang senantiasa mengaitkan keindahan du-niawi atau lahiriyah dengan keindahan ilahiyah sebagai pernyataan “rupa mahasempurna” sebagaimana diungkapkan dengan bagus oleh penyair Amir Hamzah dalam salah satu sajaknya.

Kecantikan duniawi (lahiriyah) sebagai tertera dalam Hikayat Dewa Mandu yang dipetik di atas, baru akan dapat mencapai derajat kesempurnaan apabila merupakan gabungan dari “seri gunung” dan “seri pantai” yang juga diterangkan sebagai “beaut’e vue de loint et beaute vue de pres.” (Chambert-Loir, 1980:332).

Paduan antara seri gunung dan seri pantai atau kecantikan yang terlihat dari jauh dan kecantikan yang terlihat dari dekat itulah yang dinamakan oleh pengarang Melayu Lama, Ahmad Rijaluddin, sebagai “sadu perdana” dan bernilai “tujuh laksana,” (C. Skinner, 1982:96). Sosok idealnya menjelma dalam diri bidadari Sakerba sebagaimana dikisahkan dalam salah satu karya sastra Melayu Lama yang piawai Syair Ken Tambuhan sampai menghidupkan kembali pasangan pecinta yang sudah mati. Dalam Hikayat Hang Tuah salah seorang tokoh yang terus memesona karena diabadikan penulis karya itu ialah Tun Teja yang dalam sejarah Melayu dikisahkan sebagai ,Tun Teja Ratna Benggala, pandai membelah lada sulah jikalau tuan kurang percaya mari bersumpah kalamullah (Shellebear, 1903:267).

Lalu apakah “cantik” itu? Kamus monolingual Melayu yang pertama Kitab Pengetahuan Bahasa (1858) mengartikan kata itu sebagai ‘sesuatu sifat sama-ada pada manusia atau lainnya yang memberi indah kepada mata yang tiada cacat pada pemandangan manusia’ (Raja Ali Haji, 1986:325).

Takrif (definisi) tentang molek, cantik, indah, dan elok sebagai lawan dari kata (b)odoh dapat dirujuk sebagai ‘sifat yang indah pada pemandangan mata atau pada tilik hati yang memberi indah pada pemandangan keduanya itu’ dan ‘memberi indah pada pemandangan mata atau kepada hati’.

Tarian baru mencapai derajat keindahan apabila sasaran takrifnya sampai, yaitu ‘pekerjaan seseorang dengan kesukaan maka menggerakkan tangannya atau kakinya dengan bertimbang dan beratur yang menjadi indah pada pemandangan adanya’. Tari yang sadu perdana dan bernilai tujuh laksana sebagaimana disebut–sebut orang Melayu ialah yang “kakinya tak jejak di lantai”.

Demikian pula dengan takrif nyanyi yaitu ‘mengeluarkan suara serta huruf dan serta dengan lagunya dengan had timbangannya’ (ibid.:292). Dan, nyanyian yang sadu perdana dan bernilai tujuh laksana sebagaimana disebut orang Melayu ialah yang seperti “buluh perindu”.

Jadi, suatu karya seni menurut konsep keindahan Melayu yang sadu perdana dan tujuh laksana atau yang kelas satu dan tujuh bintangnya hendaklah bersifat seri gunung dan seri pantai yaitu molek dilihat dari jauh dan molek pula dilihat dari dekat serta elok pada pemandangan mata dan elok pula pada hati.

Konsep ini padan agaknya apabila disanding de- ngan pendapat Benaventura yang menilai keindahan lukisan dengan mengatakan bahwa suatu karya seni disebut indah apa-bila pertama dibuat dengan baik dan kedua mempunyai makna ( Sedlmayr, 1959:128).

Sebagai suatu hasil kebudayaan, baju Melayu Kepulauan Riau idealnya hendaklah molek dilihat dari jauh dan molek pula dipandang dari dekat, indah menurut pemandangan mata dan hati, dibuat dengan baik dan mempunyai makna-makna yang terkandung dalam lambang-lambang. Dengan demikian, pakaian tersebut dapat mencapai peringkat keindahan kelas satu dan diberikan tujuh bintang.

3. Baju atau Pakaian
Di dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah cukup banyak gambaran yang menyatakan bahwa seseorang yang berhasil melaksanakan perintah raja lalu ”diberi persalinan dengan selengkap pakaian” (Shellabear, 1903:198) dan “memakailah pakaian yang indah-indah” (Kassim Ahmad, 1975:234). Akan tetapi, sulit mencari keterangan seperti apakah agaknya segala macam pakaian indah-indah yang dianugerahkan itu. Namun, Undang-Undang Melaka pasal yang pertama ada me-nyatakan tentang pakaian raja-raja, dengan warna Diraja (Royal Ccolour) yaitu warna kuning, dan larang-an memakai kain tipis yang berbayang-bayang seperti kasa (Liauw Yock Fang, 1976:64). Lebih-lebih dalam Adat Raja-Raja Melayu diperoleh keterangan cukup ba-nyak tentang pakaian majelis (dalam arti pertamanya mengacu pada keindahan) dan patut dibawa ke dalam majelis (dalam arti kedua yang mengacu kepada makna perkumpulan orang ramai), sopan, dan merendahkan diri (Sudjiman, 1983).

Karya rujukan yang berasal dari Kepulauan Riau ialah Tsamarat al-Mathlub fi Anuar al-Qulub karangan Hitam Khalid pada bagian tentang adat-istiadat dan bekerja besar. (Samad Ahmad, 1985:41:50). Akan tetapi, penjelasan yang menggambarkan secara jelas tentang pakaian Melayu pada masa itu tak terperinci. Sebuah karya dari Siak Sri Indrapura Bab al-Qawaid pun tak banyak memberikan keterangan tentang pakaian di daerah itu kecuali sutu larangan datang ke balai tanpa baju kot, seluar pantalon, dan berkopiah.

Keterangan yang cukup memadai kembali terdapat dalam Kitab Pengetahuan Bahasa pada kata-kepala (entri) baju. Pengarang kamus enskilopedias monolingual itu menerangkan baju sebagai “masyhur dipakai orang menutup badannya, serta jadi perhiasan, akan tetapi banyak macamnya dan masing-masing kesukaan orangnya dan masing-masing bangsanya.” Dari keterangan itu dapat ditarik simpulan bahwa pakaian setidak-tidaknya mempunyai dua fungsi. Pertama, untuk menutup badan dan kedua, untuk perhiasan. Dalam fungsi yang pertama terkandung arti pakaian sebagai alat untuk melindungi diri dari cuaca dan sebagainya, sedangkan pada fungsi yang kedua meng andung arti keindahan dan posisi si pemakainya. Tak terlalu jauh dari itu pulalah keterangan yang terdapat dalam The Encyclopedia American (1970) yang menerangkan tentang clothing sebagai benda untu“melindungi dari cuaca, mencapai standar kesopanan, perhiasan pada tubuh, dan menjelaskan tentang kedudukan seseorang dalam masyarakat.”

Selanjutnya pula, kita dapat merujuk Kitab Pengetahuan Bahasa yang menyatakan pula sebagai berikut.

“Adapun pakaian orang Melayu daripada dahulu, sehelai seluar dipakai di dalam, kemudian barulah memakai kain bugiskah atau sutera, labuhnya hingga lepas lutut kira-kira sepelempap. Kemudian, baharulah memakai ikat pinggang, terkadang diluar kain terkadang di dalam kain. Kemudian barulah memakai baju, ‘belah dada’ namanya atau ‘baju kurung’, kemudian disisipkan keris, sebelah keris kepalanya keluar tiada meniarap, dan sapu tangan, bertanjak. Adapun seluarnya terkadang seluar ketat berkancing kakinya. Syahdan pada penglihatan mataku sangatlah tampan orang-orang Melayu memakai cara Melayu yang dahulu-dahulu, tiada bengis rupanya. Adapun sekarang ini, yakni masa aku mengarang kitab ini, maka tiadalah aku lihat lagi pakaian orang Melayu seperti pakaian adat-istiadat lama, bercampur baur dengan kaidah pakaian orang Inggris dan Holanda.”

Pada masa ketika Raja Ali Haji menyiapkan Kitab Pengetahuan Bahasa sekitar tahun 1858 ternyata sudah banyak bentuk pakaian Melayu yang terlupakan atau tak dipakai orang lagi. Hal itu disebabkan deraskan pengaruh kebudayaan Barat pada masa itu. Pada penjelasan kata-kepala janggal (ibid.:312) dinyatakan contoh perbuatan janggal dalam berpakaian sebagai berikut: “Memakai seluar pantalon dan berbaju kemeja sebelah dalamnya, dan berkain singkat di batas lutut, dan bersongkok.”

Tentu saja sesuatu yang dipandang indah oleh suatu kelompok etnis kadang-kadang tidak dipandang demikian oleh kelompok etnis lainnya. Akan tetapi, kelompok yang memilikinya senantiasa berbagga dengan miliknya. Kebanggan itu akan lebih tinggi terasa apabila orang-orang dari kebudayaan lain memakai miliknya. Sebagai contoh, semacam skirt yang dipakai oleh lelaki Skotlandia, atau kain sarung yang dipakai kebanyakan lelaki di Burma (Myanmar) mungkin tak bersetuju dengan pemandangan mata dan tilik hati orang-orang dari kebudayaan lain. Akan tetapi, bagi orang Skotlandia dan Burma pakaian itu merupakan kebanggaannya. Berbeda dengan pakaian Barat (Ero-Amerika) yang diserap oleh orang-orang yang berasal dari luar kebudayaan tersebut diterima secara luas.

Pakaian Melayu, baik di daerah Kepulauan Riau maupun di daerah lain, kelihatannya diterima juga oleh orang-orang yang berasal bukan dari kelompok etnis Melayu, antara lain, karena bertempat tinggal dan akrab bergaul dengan pendukung kebudayaan Melayu.

4. Lambang dalam Pakaian Melayu
Bagi orang Melayu, pakaian selain berfungsi sebagai penutup aurat dan pelindung tubuh dari panas dan dingin, juga menyerlahkan lambang-lambang. Lambang-lambang itu mewujudkan nilai-nilai terala (luhur) yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya.

Pakaian wajib menutup aurat
Pakaian terletak pada tempatnya
Pakaian melekat pada patutnya
Pakaian beragam pada maknanya
Mengandung adat dengan lembaga
Mengandung tunjuk dengan ajar
Mengandung sifat dengan tabiat
Mengandung tuah dengan marwah

Dengan bersebatinya lambang-lambang budaya dengan pakaian, kedudukan dan peran pakaian menjadi sangat mustahak dalam kegidupan orang Melayu. Pelbagai ketentuan adat mengatur tentang bentuk, corak (motif), warna, pemakaian, dan penggunaan pakaian. Ketentuan-ketentuan adat itu diberlakukan untuk mendidik dan meningkatkan akhlak orang yang memakainya.

Elok pakaian menutup malu
Molek pakaian menjemput budi
Sanggam pakaian menjunjung adat
Mulia pakaian makna bermakna
Kaya pakaian ragam beragam

Di dalam ungkapan disebutkan bahwa “pakaian Melayu dari ujung kaki sampai ke ujung rambut ada makna dan gunanya. ”Semuanya dikaitkan dengan norma sosial, agama, dan adat-istiadat sehingga pakaian berkembang dengan makna yang beraneka ragam.

Setiap lambang mengandung makna tertentu. “Ada benda ada maknanya, ada cara ada artinya, ada letak ada sifatnya.”

Lambang yang diwujudkan dengan corak (motif) mewujudkan makna tertentu. Corak semut dikaitkan dengan makna yang mengacu kepada sifat kerukunan dan kegotongroyongan. Coraknya disebut semut beriring. Begitu pula corak itik pulang petang yang dikaitkan dengan kerukunan dan persatuan, tak berpecah belah. Corak naga berjuang dihubungkan dengan legenda tentang naga sebagai penguasa lautan, gagah berani, dan berani berjuang. Corak yang bersumber dari bunga-bungaan dihubungkan dengan keindahan, kecantikan, dan kesucian.

Lambang dalam bentuk warna mengatur hal-hal berikut. Kuning untuk raja-raja dan bangsawan sebagai lambang kekuasaan. Merah untuk umum sebagai lambang rakyat sekaliannya. Hijau dan putih untuk alim ulama sebagai lambang agama yang dipeluk masyarakat yaitu Islam. Biru untuk orang besar kerajaan sebagai lambang orang patut-patut, hitam untuk pemangku dan pemuka adat sebagai lambang “hidup dikandung adat, mati dikandung tanah”. Hitam biasa juga dipakai sebagai warna kebesaran hulubalang atau panglima.

Lambang ada juga ditempatkan pada cara memakai pakaian. Untuk kaum perempuan, diatur cara memakai berikut ini. Anak gadis harus memakai kepala kain di depan. Orang perempuan tua-tua kepala kainnya di samping kanan. Perempuan yang bersuami, tetapi belum tua kepala kainnya di belakang. Para janda kepala kainnya di sebelah kiri.

Pengaturan untuk kaum laki-laki berbeda pula. Bagi kaum bangsawan, kepala kainnya sebelah belakang berat ke kanan. Bagi orang besar kerajaan, kepala kainnya sebelah belakang berat ke kiri. Bagi putra mah- kota atau putra raja, kepala kainnya sebelah kanan berat ke depan. Bagi datuk-datuk, kepala kainnya sebelah kiri berat ke depan. Bagi orang awam, kepala kainnya di belakang penuh. Untuk raja, kepala kainnya boleh ditempatkan di sebelah mana saja (bebas), tetapi lazimnya sebelah belakang berat ke depan atau sebelah kanan berat ke depan.

Ada pula pengaturan cara menempatkan kedalaman kain sampin. Bagi orang patut-patut kedalaman kainnya sedikit di bawah lutut. Bagi orang muda-muda dan hulubalang kedalaman kainnya sedikit di atas lutut. Bagi orang awam kedalaman kainnya labuh ke bawah. Jika pakaian dilengkapi selempang, pemakaiannya juga haruslah benar. Dalam hal ini, selempang dipakai di sebelah kanan.

Makna lambang pakaian Melayu juga terdapat pada jumlah alat atau kelengkapan pakaian. Umumnya hal itu diatur berdasarkan status sosial pemakainya. Serba satu dan serba dua untuk orang awam. Serba tiga untuk golongan encik-encik dan orang patut-patut. Serba lima untuk kalangan bangsawan dan orang besar kerajaan. Serba tujuh untuk keluarga dekat sultan. Dan, serba sembilan untuk sultan.

Makna pakaian Melayu juga dikaitkan dengan fungsinya. Pemaknaan itu disebutkan dengan ungkapan berikut ini.

Pakaian menutup malu, yang berarti pakaian berfungsi sebagai alat menutup aurat, menutup aib dan malu dalam arti yang luas. Kalau salah memakai, menimbulkan malu; kalau salah letak, menimbulkan malu; kalau salah corak, juga menimbulkan malu, dan sebagainya. Oleh sebab itu, pakaian harus dibuat, ditata, dan dikenakan sesuai dengan ketentuan adat yang berlaku di dalam masyarakat.

Pakaian menjemput budi, yang bermakna pakaian berfungsi untuk membentuk budi pekerti, membentuk kepribadian, membentuk watak sehingga si pemakai tahu diri dan berakhlak mulia.

Pakaian menjunjung adat, yang berarti pakaian harus mencerminkan nilai-nilai terala (luhur) yang terdapat di dalam adat dan tradisi yang hidup dalam masyarakat.

Pakaian menolak bala, yang bermakna berpakaian dengan cara yang benar dan patut akan menghindarkan pemakainya dari mendapat mara bahaya atau mala petaka.

Pakaian menjunjung bangsa, yang berarti dengan bersepadunya lambang-lambang dan nilai-nilai terala pada pakaian, terjelmalah kepribadian bangsa atau masyarakat pemakainya. Pakaian dalam budaya Melayu harus mampu menunjukkan jatidiri pemakainya.

5. Pakaian Kaum Lelaki
Dalam budaya Melayu terdapat tiga jenis pakaian untuk kaum lelaki. Berikut ini perian ketiga jenis pakaian itu.

a. Baju Gunting Cina
“Baju gunting Cina” merupakan pakaian lelaki untuk dikenakan sehari-hari, bersifat santai, atau pakaian biasa. Biasanya dipakai di rumah dan boleh dikenakan untuk menerima tamu sehari-hari di rumah. Pakaian ini pun boleh dipakai waktu bertamu ke rumah kerabat terdekat, juga dapat dikenakan untuk pertemuan yang tak resmi. Biasanya baju ini juga dilengkapi dengan celana dan songkok.

b. Baju Cekak Musang
“Baju cekak musang” terdiri atas baju, celana, kain, dan songkok atau tanjak. Bentuk baju hampir sama dengan “baju teluk belanga”, tetapi leher tak berkerah dan berkancing hanya sebuah serta bagian depan dari leher baju berbelah ke bawah sepanjang lebih kurang lima jari supaya mudah dimasukkan dari atas melalui kepala, berlengan lebar, serta berkocek sebuah di bagian atas kiri dan dua buah di bagian bawah kiri dan kanan.

Kain dapat dipakai sebagai sampan dengan ukuran sedikit di bawah lutut. Orang yang sudah berumur dapat mengenakan kain tanpa celana panjang, kemudian memakai baju di luar kain.

Jenis pakaian ini selalu digunakan dalam pertemuan setengah resmi atau acara keluarga seperti kenduri. Warna sesuai dengan pilihan pemakai asal tak ber- bunga-bunga atau berwarna yang mencolok bagi orang tua-tua. Warna dan jenis kain untuk baju dan celana harus sama.

c. Baju Teluk Belanga
Baju teluk belanga terdiri atas baju, kain sampan, dan penutup kepala. Bentuk baju ialah leher berkerah dan berkancing (kancing tap (tep), kancing emas atau permata, dan lain-lain bergantung kepada tingkat sosial dan kemampuan pemakai). Jumlah kancing yang lazim empat buah yang melambangkan ‘sahabat Nabi Muhammad saw.’ atau lima buah yang melambangkan ‘rukun Islam.’

Baju juga berkocek tiga buah. Sebuah kocek ditempatkan di sebelah kiri atas dan dua buah kocek lagi ditempatkan di kiri-kanan bawah baju. Kocek atas lebih kecil daripada kocek bawah.

Lengan baju panjang agak menutup pergelangan tangan. Leher baju berkerah dan agak longgar.

Sampin juga bervariasi dari kain songket, kain bertabur, dan lain-lain. Pemasangan samping juga bervariasi ada seperti pe makaian kain biasa, ada yang dipunjut ke samping, ada pula yang ditarik selapis ke samping kiri pinggang. Tinggi atau ke dalaman ukuran pelipatan kain sampin juga bervariasi:ada yang agak di bawah lutut, ada yang di atas lutut, dan ada pula yang diserongkan, sesuai dengan adat memakai kain sampin yang sudah diperikan di atas.

Penutup kepala juga bervariasi seperti songkok, ikatan kepala, atau tanjak. Tanjak dibuat sesuai dengan kain baju (sama dengan pasangannya). Ikat kepala dipakai oleh pesilat, nelayan, petani yang sedang bekerja di kebun, dan lain-lain. Songkok dikenakan untuk sehari-hari.

Bahan pakaian dan kelengkapannya bergantung kepada kemampuan ekonomi si pemakai. Oleh sebab itu, baju Melayu dapat dikenakan oleh setiap orang dari pelbagai tingkat sosial-ekonomi.

6. Pakaian Kaum Perempuan
Kaum perempuan Melayu memiliki dua jenis pakaian. Pertama, baju kurung dan kedua, baju belah labuh (kebaya panjang).

a. Baju Kurung
Kelengkapan baju kurung terdiri atas kain, baju, dan selendang. Panjang atau kedalaman baju agak di atas lutut. Ada juga baju kurung untuk sehari-hari di rumah yang kedalamannya sepinggang atau sedikit di bawah pinggang.

Bentuk baju berlengan panjang dan ukuran badan longgar, tak boleh ketat (tak boleh menampakkan lekuk-lekuk tubuh pemakai). Bahannya bervariasi: polos, berbunga-bunga, dan sebagainya, tetapi tak boleh tembus pandang.

Warna baju dan kain disesuaikan dengan selera pemakai. Orang perempuan yang sudah berumur tak boleh memakai baju yang berwarna mencolok.

Selendang dipakai dengan lepas di bahu dan biasanya tak melingkar di leher pemakai.

b. Baju Kebaya Labuh
Baju kebaya labuh, kebaya panjang, belah labuh, atau belah dada terdiri atas baju, kain, dan selendang. Panjang lengan baju kira-kira dua jari dari pergelang an tangan sehingga gelang yang dikenakan kaum perempuan kelihatan. Lebar lengan baju kira-kira tiga jari dari permukaan lengan. Kedalaman baju bervariasi dari sampai batas betis atau sedikit ke atas.

Bentuk baju agak longgar, tetapi tak boleh diraut (dikecilkan) di bagian yang dapat menunjukkan ukuran dan bentuk pinggang serta gaya pinggul.

Bahan baju dan kain disesuaikan dengan kemampuan dan peringkat keperluan. Bahan bagi baju kebaya panjang sepasang warna, jenis kain, dan coraknya sama untuk baju dan kain.

Kelengkapan lainnya berupa selendang, aksesori, dan hiasan kepala disesuaikan menurut peringkat keperluan dan kemampuan. Biasa pula pakaian perempuan ini dilengkapi dengan cincin, gelang ta- ngan, dan atau gelang kaki.

c. Kelengkapan Pakaian Perempuan
Pakaian kaum Pakaian kaum perempuan biasanya dilengkapi dengan sanggul dan tudung. Berikut ini disajikan keduanya itu.
(1) Siput
Siput (sanggul) perempuan Melayu dibedakan atas tiga macam sebagai berikut ini. Pertama, “siput tegang” yang biasa digunakan untuk pengantin dan dikerjakan oleh Mak Andam. Kedua, “siput cekak” yaitu siput yang digunakan sehari-hari. Ketiga, “siput lintang” yakni siput yang di reka untuk perempuan yang berambut panjang, lebat, dan berjurai.

(2) Tudung
Tudung atau penutup kepala dipakai dengan dua cara sebagai berikut ini. Pertama, tudung dikenakan untuk menutupi kepala dengan bagian yang agak terjurai dan terjuntai ke samping pipi kiri dan kanan. Kedua, tudung dikenakan dengan menutupi wajah yang biasanya disebut “tudung lingkup”. Pemakaian ini mirip dengan cadar pada wanita Arab, yakni yang kelihatan hanyalah mata atau sekurang-kurangnya hanyalah wajah seperti pemkaian tudung mantur pada kaum perempuan di Daik, Lingga.

Tentang Penulis
*Drs. H. Abdul Malik, M.Pd. adalah Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang. Juga Setia Usaha Besar (Sekretaris Jenderal) Rumpun Melayu Bersatu (RMB) Kepulauan Riau. Juga penulis tetap Kolom Budaya, Batam Pos Minggu.

Copyright 2009 Simplex Celebs All rights reserved Designed by SimplexDesign