Peninggalan Bercorak Hindu-Buddha di Ciamis

Oleh Endang Widyastuti

Perlakuan terhadap Tinggalan Bercorak Hindu-Buddha dan Kaitannya dengan Proses Islamisasi

Sari
Dalam penelitian yang pernah dilakukan oleh Balai Arkeologi Bandung di daerah Ciamis, tercatat adanya sejumlah tinggalan arkeologis dari masa Hindu-Buddha yang telah mengalami perubahan bentuk, fungsi, dan lokasi. Perubahan tersebut kemungkinan berkaitan dengan proses islamisasi yang berlangsung di daerah tersebut.

Abstract
In research that had been done by Bandung Archaeological Research Bureau noted that in the Ciamis area the existence of some archaeological remain from Hindu-Buddha period which have experienced form, function and location. The transformation possibly relate to the islamisation process that happened in the area.

Kata kunci: perlakuan arca, Islamisasi

Pendahuluan
Manusia dalam kehidupannya selalu mengalami perubahan. Perubahan tersebut dapat terjadi secara cepat atau pun secara lambat. Arkeologi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari proses perubahan budaya menusia berdasarkan tinggalan-tinggalan budayanya. Beberapa paradigma yang berkembang dalam disiplin arkeologi di antaranya adalah merekonstruksi kehidupan manusia masa lampau, menyusun sejarah kebudayaan, dan menggambarkan proses perubahan kebudayaan (Binford, 1972: 80). Dalam upaya untuk memahami manusia dan budaya masa lalu dilakukan dengan mempelajari segala sesuatu yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan aktivitas manusia masa lalu.

Dalam beberapa penelitian yang pernah dilakukan oleh Balai Arkeologi Bandung tercatat adanya sejumlah tinggalan arkeologis bercorak Hindu-Buddha yang sudah mengalami transformasi bentuk dan lokasi. Transformasi bentuk yang dilakukan terhadap tinggalan arkeologis tersebut berupa dirusak, dibalik, dan diubah fungsinya. Sedang transformasi lokasi berupa pengumpulan tinggalan-tinggalan arkeologis tersebut pada satu tempat.

Sehubungan dengan kondisi temuan dan latar belakang sejarah, maka akan dilihat bagaimana proses Islamisasi yang berlangsung di kawasan Ciamis dalam kaitannya dengan perlakuan terhadap tinggalan arkeologis tersebut.

Kondisi Tinggalan Arkeologi di Ciamis
Penelitian di daerah Ciamis telah sering dilakukan. Berdasarkan beberapa penelitian tersebut diketahui bahwa Ciamis menyimpan potensi arkeologis dengan rentang waktu yang panjang. Tinggalan arkeologis di Ciamis berasal dari masa prasejarah sampai dengan masa kolonial. Tinggalan-tinggalan arkeologis dari masa Hindu-Buddha yang terdapat di kawasan Ciamis tersebar di beberapa situs, di antaranya situs Karangkamulyan, Jambansari, Lakbok, Mangunjaya, dan Rajegwesi.

Karangkamulyan
Kompleks Karangkamulyan secara administratif berada di Kampung Karangkamulyan, Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing. Keadaan situs berupa hutan seluas sekitar 25,5 hektar pada pertemuan antara Sungai Cimuntur dengan Citanduy. Kompleks Karangkamulyan merupakan kompleks situs yang sekarang sudah dijadikan objek wisata budaya. Situs-situs yang terdapat di kompleks ini adalah: Pangcalikan, Sipatahunan, Sanghyang Bedil, Panyabungan Hayam, Lambang Peribadatan, Cikahuripan, Panyandaan, Makam Sri Bhagawat Pohaci, Pamangkonan, Makam Adipati Panaekan, fitur parit dan benteng. Dari sejumlah situs di kompleks Karangkamulyan tinggalan arkeologis ditemukan di situs Pangcalikan. Di situs Pangcalikan terdapat sebongkah batu datar berdenah bujur sangkar. Pada bagian samping batu tersebut terdapat pelipit. Batu dengan bentuk demikian kemungkinan merupakan bagian dasar yoni yang diletakkan secara terbalik (Widyastuti, 2006: 67-68). Selain itu di lokasi yang sekarang digunakan sebagai lahan parkir, pernah ditemukan sebuah arca Ganesa. Arca tersebut sekarang disimpan di Museum Sri Baduga, Bandung.

Yoni dalam keadaan terbalik di situs Pangcalikan, kompleks Karangkamulyan
(Dok. Balai Arkeologi Bandung)

Jambansari
Situs Jambansari secara administratif termasuk lingkungan Rancapetir, Kelurahan Linggasari. Situs ini merupakan kompleks makam Raden Adipati Aria Kusumadiningrat, Bupati Ciamis ke-16, yang berkuasa dari tahun 1839-1886. Situs berada di sebuah lahan seluas 4 hektar. Lokasi ini pada masa lalu merupakan kompleks rumah tinggal pribadi Bupati Ciamis tersebut (Sukardja, 2004: 155). Pada lahan tersebut selain terdapat kompleks makam, juga terdapat lahan persawahan.

Di salah satu bangunan di kompleks makam ini tersimpan 13 arca. Arca-arca yang terdapat di lokasi ini di antaranya berbentuk arca megalitik, arca tipe Pajajaran, Nandi, Ganesa, dan lingga. Selain itu di lokasi ini juga terdapat lumpang batu dan lapik arca (Widyastuti, 2006: 58-62). Arca-arca yang terdapat di lokasi ini dikumpulkan oleh R.A.A Kusumadiningrat. Pengumpulan ini dilakukan dalam rangka dakwah agama Islam, sehingga bagi yang memunyai arca atau berhala diharuskan untuk dikumpulkan di lokasi tersebut (Sukardja, 2004: 155).

Sejumlah arca yang terkumpul di kompleks makam Raden Adipati Aria Kusumadiningrat, Jambansari
(Dok. Balai Arkeologi Bandung)

Lakbok
Situs Lakbok secara administratif berada di dusun Kelapa Kuning, Desa Sukanegara. Secara geografis wilayah ini berada di daerah dataran rendah dengan ketinggian 26 m di atas permukaan laut. Situs berada di kebun milik penduduk. Di lokasi ini terdapat tinggalan arkeologis yang berbentuk lingga, yoni, arca, dan Nandi (Widyastuti, 2006: 62-64). Tinggalan arkeologis tersebut dalam keadaan rusak. Bagian ujung lingga telah patah menjadi tiga bagian. Bagian atas dan bawah yoni telah terpisah. Sedang bagian kepala arca telah hilang. Tinggalan-tinggalan arkeologis tersebut ditemukan terkumpul di tanah lapang. Menurut keterangan Marjono (juru pelihara) pengrusakan arca-arca tersebut terjadi pada tahun 1965. Sekarang arca-arca tersebut disimpan di sebuah bangunan.

Lingga yoni di situs Lakbok (Dok. Balai Arkeologi Bandung)

Arca tokoh dengan bagian kepala hilang, di situs Lakbok
(Dok. Balai Arkeologi Bandung)

Mangunjaya
Situs Mangunjaya secara administratif berada di Dusun Pasirlaya, Desa Mangunjaya. Lokasi temuan tepat berada di depan kantor Kecamatan Mangunjaya. Lokasi temuan berada di puncak sebuah bukit. Sisi timur bukit sekarang sudah dipangkas untuk dibangun masjid. Pada sisi barat masih tampak adanya teras berundak yang dibentuk dengan batu pasir tufaan. Di sebelah utara situs terdapat Sungai Ciputrahaji, sedangkan di sebelah selatan terdapat Sungai Ciseel. Di lokasi tersebut terdapat dua buah batu bulat dan sebuah yoni. Pada waktu ditemukan yoni dalam keadaan terbalik. Lubang yoni berbentuk bulat. Cerat yoni sebagian telah patah. Bagian badan terdapat pelipit yang dibuat secara simetris antara bagian atas dan bagian bawah, yaitu pelipit lebar dan pelipit tipis yang diseling dengan sisi genta (Widyastuti, 2006: 64).

Yoni dalam keadaan terbalik di situs Mangunjaya (Dok. Balai Arkeologi Bandung)

Rajegwesi
Situs Rajegwesi secara administratif termasuk di dalam wilayah Dusun Pananjung, Desa Mulyasari, Kec. Pataruman, Kotif Banjar. Lokasi situs berada pada areal perkebunan milik PTP Nusantara VIII, Kebun Batulawang, Afdeeling Mandalareh. Di situs ini tinggalan yang ditemukan berupa bekas bangunan candi dan sebuah yoni yang sudah pecah (Saptono, 2000: 50-52).

Bekas bangunan candi berada di sebuah gundukan tanah pada kelokan sungai sebelah selatan Citanduy. Bekas bangunan candi berupa sebaran bata yang sudah tidak terstruktur karena terangkat akar pohon. Bata tersebut terpusat pada puncak bukit dengan radius 8 m. Hampir semua bata dalam keadaan tidak utuh. Satu-satunya bata utuh yang ditemukan berukuran panjang 30 cm, lebar 20 cm, dan tebal 7 cm. Selain bata juga terdapat batu andesitik dan tufa. Di tengah sebaran bata terdapat kumpulan batu dan bata yang bentuknya seperti jirat makam dengan orientasi utara-selatan. Di sebelah timur makam pada sisi talud terdapat dua buah batu datar yang disusun seperti altar.

Pada kompleks makam di dekat pemukiman peduduk terdapat fragmen yoni.Fragmen yoni terbuat dari bahan batu tufa bewarna putih. Fragmen yang ada terdiri dari tiga bagian, yaitu dua bagian merupakan bagian atas dan satu bagian kemungkinan merupakan bagian tubuh yoni.

Proses Islamisasi di Ciamis
Berdasarkan uraian terdahulu diketahui bahwa tinggalan-tinggalan arkeologis yang bercorak Hindu-Buddha di Ciamis ditemukan dalam keadaan terbalik, tidak lengkap, dan terkumpul di suatu tempat. Keadaan demikian merupakan akibat dari kesengajaan yang berkaitan dengan proses islamisasi.

Pada umumnya islamisasi di Nusantara berlangsung melalui tiga fase, yaitu kontak dengan Islam, tumbuhnya komunitas Islam sehingga terbentuk kekuasaan politik Islam, dan pelembagaan Islam (Ambary, 1998: 55-60). Mengenai cara-cara penyebaran agama Islam, Suwedi Montana (1996: 19) mengemukakan pendapat bahwa terdapat dua cara, yaitu secara perorangan dan secara politis. Penyebaran Islam secara perorangan cenderung dilakukan dengan cara damai, sedangkan secara politis cenderung dilakukan dengan cara kekerasan.

Daerah Ciamis pada masa lalu termasuk wilayah Galuh. Di dalam Carita Purwaka Caruban Nagari penyebaran Islam di daerah Galuh dilakukan pada masa Susuhunan Jati dari Cirebon. Pada waktu itu Galuh berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Ketika pusat kekuasaan dipindah ke Bogor, daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Galuh menjadi terpecah-pecah. Keadaan tersebut berlangsung hingga Susuhunan Jati mempersatukan kembali dengan agama Islam sebagai alat pemersatunya (Ekadjati, 1975: 99-100).

Dalam Carita Purwaka Caruban Nagari tergambar bahwa tahap kontak dengan Islam di daerah Ciamis adalah kontak dengan Cirebon. Kontak tersebut dilakukan dengan secara perorangan, yaitu oleh Susuhunan Jati. Kondisi masyarakat yang terpecah-pecah akibat pindahnya pusat kekuasaan, tersusun lagi menjadi komunitas Muslim. Komunitas tersebut berkembang hingga tersusun kekuatan politik dalam bentuk kabupaten. Pada waktu itu proses islamisasi berlangsung terus sehingga terjadi pelembagaan Islam. Hal itu terlihat pada perekayasaan candi menjadi makam Islam sebagaimana terlihat di situs Rajegwesi. Hal-hal yang menunjukkan simbol-simbol religi pra-Islam dihilangkan dengan cara dibalik atau dirusak. Sedang untuk menghindari terjadinya kemusyrikan pada masyarakat, simbol-simbol religi pra-Islam tersebut dikumpulkan di suatu tempat.

Penutup
Proses islamisasi di daerah Ciamis berlangsung dalam beberapa fase. Pada fase persentuhan dengan Islam terjadi dengan Cirebon. Perkembangan dari fase ini menjadikan tumbuhnya komunitas Muslim sehingga terbentuknya kekuatan politis dalam bentuk kabupaten. Pada masa ini terjadi pelembagaan Islam dalam bentuk perekayasaan simbol Islam dan penghapusan simbol-simbol religi pra-Islam. Keadaan tersebut tecermin pada kondisi tinggalan arkeologis bercorak Hindu-Buddha yang sudah mengalami perubahan bentuk, pengalihfungsian, dan pemindahan lokasi.

Kepustakaan
Ambary, Hasan Muarif. 1998. Menemukan Peradaban: Arkeologi dan Islam di Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Binford, Lewis R. 1972. An Archaeological Perspective. New York: Seminar Press.

Ekadjati, Edi S. 1975. “Penyebaran Agama Islam di Jawa Barat”. Dalam Teguh Asmara, et all. Sejarah Jawa Barat dari Masa Pra-Sejarah Hingga Masa Penyebaran Agama Islam, hlm. 82-107. Bandung: Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Nasional Propinsi Jawa Barat.

Montana, Suwedi. 1996. “Perbedaan Dalam Cara Penyebaran Agama Islam di Jawa pada Abad ke-15 – 17 (Kajian Atas Historiografi Lokal dan Asimilasi Tinggalan Arkeologi)”. Dalam Forum Arkeologi No. 2, hlm. 12-37. Denpasar: Balai Arkeologi Denpasar.

Saptono, Nanang. 2000. “Penelitian Candi Rajegwesi di Kabupaten Ciamis, Rekonstruksi Bentuk dan Hubungannya dengan Tinggalan Arkeologis di Sekitarnya”. Dalam Fachroel Aziz dan Etty Saringendyanti (ed.) Cakrawala Arkeologi, hlm. 46-61. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Sukardja, Djadja. 2004. "Inventarisasi dan Dokumentasi Sumber Sejarah Galuh Ciamis". Dalam Naratas 15 No. 426/Juli/2004.

Widyastuti, Endang. 2006. “Penelitian Arca-arca di Ciamis, Kaitannya Dengan Teknik Pengarcaan”. Dalam Edi Sedyawati (ed.) Arkeologi dari Lapangan ke Permasalahan, hlm. 55-72. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Catatan:
Tulisan ini diterbitkan di buku Widyasaparuna, hlm. 17-23. Editor Prof. Dr. Timbul Haryono. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat – Banten, 2007.

-

Arsip Blog

Recent Posts