Tertunda 36 Tahun, Penobatan Sultan Sumbawa Dihadiri Ribuan Warga

Mataram, NTB - Ribuan warga membanjiri arena penobatan Sultan Sumbawa XVII, Daeng Muhammad Abdurrahman Kaharuddin, di Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa. Penobatan itu sudah tertunda 36 tahun. Ini adalah penobatan sultan dalam 80 tahun terakhir.

Penobatan ditandai dengan prosesi adat yang berlangsung sejak Senin (5/4/2011) pagi. Sultan diarak dari Istana Bala Kuning, bersama permaisuri menggunakan tandu dengan hiasan warna kuning, yang disebut Juli. Sejak pagi hari, lonceng di istana sudah berdentang, menandai mulainya prosesi adat.

Sultan dan permaisuri, Andi Tenri Djadjah Burhanuddin diarak sambil diiringi pasukan bertombak dan hulubalang istana, dengan musik rebana khas Sumbawa. Bersama permaisuri Sultan keluar istana Bala Kuning dengan bacaan Shalawat Nabi Muhammad SAW.

Ribuan warga memadati dua sisi Jl Dr Wahidin dan Jl Sudirman, jalan protokol yang dilalui rombongan sultan. Rombongan bergerak dari Istana Bala Kuning menuju Istana Dalam Loka, istana kayu milik Kesultanan Sumbawa yang dibuat tahun 1885 silam.

Di istana tua itu, Sultan dan Permisuri istirahat sejenak, sebelum menuju Masjid Agung Nurul Huda, tempat penobatan berlangsung.

Selain oleh masyarakat, upacara penobatan dihadiri beberapa raja, diantaranya Raja Denpasar IX, Raja Niki Niki, Timor Tengah Selatan, NTT, Raja Gowa, Sulawesi Selatan, dan juga Gusti Kanjeng Ratu Hemas dari Kesultanan Ngayogyakarta.

Gubernur NTB, M Zainul Majdi bersama pejabat Pemprov dan Pemkab Sumbawa dan Sumbawa Barat juga hadir di arena penobatan. Kesultanan Sumbawa mencakup Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat.

Di Masjid Agung, penobatan sultan tidak dilakukan dengan pengambilan sumpah, melainkan Sultan membacakan sumpahnya sendiri dengan bahasa Arab disaksikan Imam Masjid Agung.

Sultan bersumpah sebagai orang yang ditakdirkan sebagai Sultan. Isinya antara lain kalau Sultan tidak adil maka dirinya akan dilaknati Al Quran 30 Juz. Usai sumpah itu, Sultan selanjutnya melantik pengurus Tana Adat Samawa.

Penobatan Sultan itu adalah yang pertama sejak 80 tahun lalu. Ini adalah penobatan pertama sejak Kesultanan Sumbawa menyatakan bergabung dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Harusnya Sultan naik tahta pada 1975 silam, sesaat setelah ayahnya Sultan Muhammad Kaharuddin III mangkat. Namun penobatan sultan waktu itu diputuskan ditunda.

Sultan banyak menghabiskan waktunya di luar Pulau Sumbawa. Dia berkarir di Bank Bumi Daya, sebelum dimerger menjadi Bank Madiri. Di Bank BUMN itu, Sultan terakhir sebagai Direktur Muda, dan pensiun tahun 1998.

-

Arsip Blog

Recent Posts