"Siupan", Simbol Penghormatan Kepada Leluhur

Pertengahan Januari lalu, seorang anggota jejaring sosial "budaya_tionghua" mengungkapkan keherannya ketika mendapat informasi dari ibunya bahwa peti mati atau siupan yang digunakan neneknya harganya sampai Rp 140 juta.

Satu hal yang membuatnya makin heran adalah ketika diberi tahu ada siupan yang lebih mahal yang mencapai Rp 200 juta. "Wah... itu sudah bisa dibuat beli rumah secara tunai. Enggak perlu pakai kredit pembelian rumah." Begitu ditulisnya dalam status jejaring sosial tersebut.

Dia juga menulis bahwa menurut kepercayaan Tionghoa, siupan yang dipilih idealnya yang tahan lama yang terbuat dari kayu yang kuat, tak mudah lapuk dan bocor. Jika siupan bocor, pada saat hujan jenazah di dalam peti akan basah. Berarti pula, roh sejatinya yang telah berada di alam baka akan basah juga. Jika hal itu terjadi, itu berarti kurang menghargai leluhur yang telah meninggal.

Mengenai siupan ini, pembuat siupan asal Lasem, Kabupaten Rembang, Tjioe Kiem Tiek atau Ruslan Soetjipto (39), saat ditemui di Lasem, Sabtu (6/2), menuturkan lebih jauh. Siupan, kata Ruslan, merupakan peti jenazah Tiongkok berbahan baku kayu jati. Siupan mempunyai kekhasan dibandingkan jenis peti-peti jenazah lain.

Dinilai memiliki kekhasan karena siupan terdiri dari tiga bagian, yakni tutup, lambung, dan dasar. Tutup berbentuk mirip kapal yang berfungsi sebagai penutup peti, sedangkan lambung dan dasar merupakan tempat meletakkan jenazah.

Kekhasan lain yang lebih utama adalah bentuk siupan yang mirip teratai, terutama pada bagian depan dan belakang. Hal itu merupakan simbol sebuah harapan bahwa saat kematian tiba mendiang bisa terlahir di alam bahagia atau sukhavati. "Alam tersebut dipenuhi dengan teratai tempat Sang Buddha bersemayam," papar Ruslan.

Ada dua jenis siupan, yaitu koden dan teng siang (TS atau berkualitas baik). Siupan koden terbuat dari rakitan atau penggabungan kayu-kayu jati, sedang TS berbahan baku kayu jati utuh atau gelondongan.

Jiuk
Berdasarkan tradisi Tiongkok, pembuat dan pemesan siupan kerap menyebut ukuran besar atau kecil sebuah siupan dengan istilah jiuk. Misal, jiuk jit (tujuh), jiuk cap (10), dan no jiuk (11). Berdasarkan jiuk pula, seorang pembuat siupan menentukan harga siupan.

Biasanya masyarakat Tionghoa membeli siupan tidak berdasarkan ukuran tubuh mendiang, tetapi berdasarkan jiuk. "Semakin besar jiuk-nya, semakin tinggi status dan kedudukan mendiang dan keluarganya," ungkap Ruslan.

Status atau kedudukan mendiang dan keluarganya, Ruslan menambahkan, akan terlihat dari bentuk ukiran siupan. Mereka yang mempunyai status dan kedudukan tinggi, biasanya akan meminta siupan yang berukir naga, burung hong, atau delapan dewa.

Mengenai tradisi menggunakan siupan ini, sejarawan Lasem Slamet Widjaja mengatakan, tradisi penghormatan leluhur tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Tionghoa di Lasem. Di setiap rumah mereka selalu terdapat meja abu para leluhur mereka.

Sebagai bentuk penghormatan masyarakat Tionghoa kepada keluarga yang meninggal, mereka wujudkan dengan memberikan yang terbaik, misal dengan membelikan siupan yang harganya puluhan hingga ratusan juta.

"Sayang di Lasem yang semula ada dua perajin siupan, kini tinggal satu perajin. Padahal, siupan merupakan salah satu warisan budaya Tiongkok yang selalu dibutuhkan. Perlu ada regenerasi perajin siupan," kata Slamet.

HENDRIYO WIDI

-

Arsip Blog

Recent Posts