Sastra Etnik Terancam Punah

Sukabumi, Jabar - Keberadaaan budaya dalam bentuk bahasa atau sastra etnik di Indonesia sangat memperihatinkan. Betapa tidak, dari sekitar 746 sastra etnik diperkirakan hanya sekitar 30 persen yang masih eksis keberadaannya. Penyebabnya, sastra etnik tersebut terlindas oleh sastra global.

“Nasib sastra etnik di kita memang terancam punah karena kian tersisih, terjepit, terabaikan, dan kian tidak dimintai masyarakat luas, khususnya generasi muda,” kata Pendiri Komunitas Sastra Etnik (KSE), Arieyoko kepada Pos Kota, Minggu (26/6).

Di samping itu, ancaman kepunahan sastra etnik, kata Arieyoko, kian terasa lantaran minimnya perhatian pemerintah terhadap sastra etnik. Padahal, keberadaan sastra etnik merupakan sebuah bahasa ibu jadi tradisi tersebut jangan sampai tercabut dari akar budaya.

“Kalau pemerintah tidak serius, bagaimanan nantinya nasib keberadaan sastra etnik. Jadi perlu adanya kesadaran untuk memelihara sastra etnik ini,” pintanya.

Untuk melesatarikan sastra etnik, kata Arieyoko, KSE terus melakukan pegelaran sastra etnik di berbagai daerah. Rencananya, di Sukabumi Jawa Barat juga akan diselenggarakan Pagelaran Sastra Etnik Sukabumi 2011.

“Sastra etnik adalah sastra dwi bahasa yang menggunakan Bahasa Indonesia dan disisipi bahasa etnik setempak. Sastra model anyal ini merupakan upaya terobosan KSE untuk menjaga dan melestarikan sasrta etnik,” terangnya.

Dalam kegiatan bertema “membangkitkan sastra etnik Sukabumi” itu akan diisi oleh penyair dari berbagai daerah. Di antaranya, Anisa Afzal, Ratu Ayu Neni Saputra, Susy Ayu, Ade Laksana, Alfianan Latief, Martha Sinaga, Hamzah Mohammad Al-Ghozi, Kurniawan Juanedhie, Kyai Matdon, Eko Tunas, dan Arieyoko.

-

Arsip Blog

Recent Posts