BBB Gelar Workshop Dramatisasi Puisi

Denpasar, Bali - Bentara Budaya Bali bekerja sama dengan Udayana Scientific Club (USC) menggelar kegiatan Akademika Bentara berupa workshop dramatisasi puisi yang dijadwalkan dilaksanakan, Minggu (21/8).

"Workshop itu diadakan guna mengawali Lomba Dramatisasi Puisi se-Bali," kata Juwitta Lasut dari Bentara Budaya Bali (BBB) di Denpasar, Sabtu.

Dia mengatakan, sebagai narasumber yang akan mengajak peserta berbincang dan berolah gerak ialah Cok Sawitri dan Putu Satria Kusuma.

"Selain rangkaian dari kompetisi yang diadakan BBB dan USC, workshop itu juga ditujukan guna mengembangkan minat dan potensi generasi muda terhadap seni dramatisasi puisi," ujarnya.

Pada acara tersebut, tambah dia, selain menyimak pemaparan, peserta juga akan diajak untuk berlatih gerak dan praktek-praktek lain yang berkaitan dengan pementasan dramatisasi puisi.

"Seluruh peserta diharapkan hadir 30 menit lebih awal dengan mengenakan pakaian yang memudahkan diri untuk bergerak," katanya.

Cok Sawitri adalah seniman kelahiran Sidemen, Karangasem, Bali 1 September 1968. Pertengahan tahun 2006, ia berkolaborasi dengan Dean Moss dari New York dalam acara Dance Theater.

Karya-karya pertunjukkan Cok sawitri adalah Meditasi Rahim (1991), Pembelaan Dirah dan puisi Ni Garu (1996), Permainan Gelap Terang(1997), Sekuel Pembelaan Dirah ( 1997), Hanya Angin Hanya Waktu (1998), Puitika Melamar Tuhan (2001), Anjing Perempuanku(2003), Aku Bukan Perempuan Lagi (2004) dan Percakapan Sunya Nirvana (2010).

Karya novelnya, antara lain Janda Dari Jirah (2007), Sutasoma (2009), Tantri: Perempuan yang Bercerita (2011). Ia menerima Anugerah Dharmawangsa tahun 2010.

Sementara Putu Satria Kusuma adalah penulis cerpen, naskah drama dan skenario film yang lahir di Singaraja, 28 Maret 1964. Naskah dramanya "Bayangan di Depan Bulan" meraih peringkat ketiga dari Dewan Kesenian Jakarta (1998).

Selain itu, naskah berjudul "Romantika Mesin Cuci" meraih juara harapan I Lomba Skenario Film yang digelar Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI (2005).

Pada era 1980-an, ia aktif berteater di Komunitas Seni Kebun Bayam Berbunga, kemudian mendirikan Komunitas Seni Banyuning yang mengusung estetika teater kampung. Bersama kelompok teaternya inilah, ia seringkali melakukan pementasan antara lain di Bentara Budaya Jakarta, Gedung Kesenian Jakarta, CCL Bandung, ISI Yogyakarta dan IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Atas prestasinya itu, membuat dia sering diundang berbagai festival internasional, antara lain Ubud Writers and Readers Festival. Belakangan sering menyutradarai beberapa film pendek dan sinetron di televisi.

-

Arsip Blog

Recent Posts