Surabaya Belajar Pengelolaan Bangunan Budaya ke Beijing

Beijing, China - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kini tengah memperlajari cara pengelolaan bangunan cagar budaya ke Beijing, China.

"Tidak ada UU Cagar Budaya di China. Tapi ada ketentuan dan peraturan dari Dewan Negara atau MPR tentang pengelolaan atau penetapan bangunan cagar budaya," kata Sekretaris Bidang Sosial dan Budaya KBRI di Beijing, China, Dyah Retno Andrini usai menemui rombongan dari Pemkot Surabaya, di kantor KBRI setempat, Selasa.

Menurut dia, salah satu bangunan cagar budaya yang mendapat perhatian saat ini adalah "Forbidden City" yaitu sebuah istana kekaisaran terbaik dengan struktur kuno terbesar yang mewah di Beijing.

Istana ini diakui sebagai salah satu istana yang terkenal di dunia, selain Istana Versailles di Perancis, Istana Buckingham di London-Inggris, Gedung Putih di Washington, dan Istana Kremlin di Moskow Rusia.

"Forbidden City" yang terletak di jantung kota Beijing adalah rumah bagi 24 Kaisar di zaman Dinasti Ming dan Dinasti Qing, sebagai dinasti terakhir dalam sejarah Kekaisaran China.

Pengembangan istana ini menjadi besar dimulai pada tahun ke-4 Kaisar Yongie dari Dinasti Ming(1406) dan berakhir pada tahun 1420.

Forbidden City meliputi area seluas sekitar 72 hektare dengan luas bangunan keseluruhan sekitar 150.000 meter persegi dan terdiri dari 90 istana dan halaman, 980 gedung dan 8.704 kamar.

"Pada masa perang saudara, banyak bangunan yang runtuh dan tinggal puing-puingnya. Baru kemudian pada masa Presiden Mao Zedong punya ketertarikan untuk membangun kembali bangunan itu dengan cara melakukan pemugaran," katanya.

Selain itu, lanjut dia, ada sebuah badan khusus bernama Beijing Tourism Departement" yang berada di dinas pariwisata dan bertanggung jawab kepada wali kota.

Bangunan ini tidak hanya mencakup seni dan budaya, melainkan juga industri pariwisata yang ada di China.

"Maka banyak industri pariwisata di China berlomba agar mendapatkan insentif dari pemerintah," ujarnya.

Pemerintah China memberikan keleluasaan untuk melakukan pemugaran bangunan cagar budaya ini agar bisa menjadi jujugan wisatawan.

"Dukungan dari masyarakat China cukup besar termasuk kesadarannya menjaga kebersihan lingkungan. Inilah yang menjadikan China terus diminati wisatawan asing," katanya.

Sementara itu, Kabag Humas Pemkot Surabaya Nanis Chairani mengatakan, melalui kunjungan ke China ini, diharapkan bisa menjadi masukan bagi pemkot untuk mengelola bangunan cagar budaya di Surabaya agar lebih baik.

"Sebetulnya bangunan cagar budaya yang ada di Surabaya cukup menarik. Hanya saja perawatannya sangat kurang," ujarnya.

Menurut dia, Surabaya memiliki ratusan bangunan cagar budaya, tetapi banyak diklaim sebagai milik perseorangan.

"Upaya pemerintah saat ini adalah memberikan diskon pajak bumi bangunan (PBB) kepada pemilik cagar budaya. Diharapkan mereka mampu menjaga dan memeliharanya," katanya.

Adapun yang perlu di contoh dari China, kata dia, banyak warga yang ikut menjaga kelestarian bangunan cagar budaya. Selain itu, pengelolaan semua cagar budaya diserahkan kepada pemerintah.

-

Arsip Blog

Recent Posts