Jejak Pendukung Budaya Obsidian di Sekitar Danau Bandung

Oleh : Nurul Laili

Pendahuluan
Sari
Danau Bandung purba berada di sekitar Kota Bandung sekarang. Indikasi adanya aktivitas manusia banyak diperoleh di daerah-daerah yang diyakini sebagai tepian danau. Temuan artefak antara lain berupa beliung, alat obsidian, gerabah, keramik asing, batu asah, dan beberapa logam. Fokus tulisan ini adalah sebaran obsidian dan faktor yang melatarbelakanginya. Aktivitas manusia pendukung obsidian sangat dipengaruhi oleh muka pantai Danau Bandung. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya air dalam kehidupan manusia.

Abstract
Artifacts as a indication of human activities had been discovered around the Bandung Basin area. The artifacts were obtained around lake, consist of obsidian tools, stone adzes (polished stone tools), fragment of earthenware as well as axes cast forms bronze or iron. This paper focused in the distribution of obsidian and its background. The human activity that supported obsidians culture are heavily influences by water level of the lake. Considering it, obsidians are interesting to be analysis as a partial study about water and its roles in the human living in Bandung basin area.

Latar Belakang
Tinggalan obsidian merupakan temuan yang paling banyak diperoleh di sekitar Danau Bandung (Koesoemadinata, 2001). Oleh karena itu, artefak obisidian paling banyak menyita perhatian beberapa peneliti. Penemuan artefak dan penelitian di sekitar Danau Bandung, pertama-tama oleh A.C de Jong (1930), yang kemudian ditindaklanjuti dengan penelitian oleh von Koeningswald dan dipublikasikan tahun 1935. Penelitian Koeningswald memeroleh artefak alat obsidian, beliung dari bahan kwarsit dan kalsedon, pisau penyerut, dan anak panah (Koeningswald, 1935: 393-419). Masih dalam tahun penelitian yang sama, Koeningswald juga telah berhasil memetakan sebaran situs obsidian yang keseluruhannya berada pada ketinggian 725 meter di atas permukaan air laut. Pemerhati budaya Danau Bandung purba yang lain adalah J. Krebs (1932-1933), W. Mohler (1942-1945), dan Rothpletz (Heekeren, 1972).

Rothpletz (1951) mencoba untuk menguak budaya Danau Bandung purba dengan berkonsentrasi pada daerah timur laut Bandung yang disebut dengan Blok Pulasari. Artefak yang diperoleh beragam bahan dan teknologi, antara lain berupa beliung, obsidian, keramik, dan cetakan untuk pengecoran perunggu dan besi. Secara umum, artefak yang diperoleh berupa obsidian, beliung, batu asah, gerabah, keramik asing, dan beberapa logam.

Beberapa tahun belakangan (70-an), penelitian di daerah sekitar Danau Bandung telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Pada tahun 1978, tim penelitian Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional (P4N) sekarang Pusat Penelitian Arkeologi Jakarta melakukan survei di daerah Sindangkerta, Kabupaten Bandung. Lokasi yang diteliti adalah Pasir (Bukit) Tampian, Pasir Suje, Pasir Monggor, Pasir Kawung, Pasir Suramenggala, Pasir Asep Roke, dan Pasir Kadut. Artefak yang diperoleh berupa alat serpih, batu berupa serut, pecahan keramik asing, pahat batu, dan beliung persegi (Anggraeni, et al, 1986).

Selanjutnya, pada 1992, tim dari Bidang Arkeometri, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melakukan penelitian di wilayah sekitar Saguling, Desa Baranangsiang, Cipongkor, Kabupaten Bandung. Situs yang diteliti adalah Pasir Asep Roke, Pasir Citiis dan Jajawei, Pasir Kadut, Pasir Kawung, Pasir Lengo, Pasir Monggor, Pasir Suje, Pasir Suramenggala, dan Pasir Tampian. Temuan yang diperoleh adalah tembikar, terak besi, cangkang kerang, serut, dan beliung persegi (Tim Peneliti, 1992).

Pada 2001 tim penelitian dari Balai Arkeologi Bandung melakukan penelitian yang berupa survei di daerah Cililin dan Cipongkor. Hasil penelitian adalah makam Rangga Malela, makam K.H Syafei, makam Syeh Abdul Manaf, makam Sangga Wadana, beliung persegi, mata tombak, dan fosil fragmen tulang (Boedi, 2001).

Beberapa telaah mengenai temuan di Danau Bandung telah dilakukan oleh para ahli terdahulu. Telaah temuan khususnya obsidian, para ahli saling berbeda pendapat. Ketiga ahli van Stein Callenfels, von Koeningswald dan van der Hoop, dalam tulisan yang berbeda, berkesimpulan sama, yaitu menggolongkan alat obsidian yang disebut sebagai alat mikrolit berasal dari masa bercocok tanam. Hal tersebut didasarkan dari temuan sertanya, yaitu pecahan gerabah, fragmen beliung persegi, dan cetakan-cetakan logam (Callenfels, 1934, Koeningswald, 1935, Hoop, 1940, vide Soejono, 1984).

Hal lain dikemukaan oleh Geldern (Soejono, 1984), alat obsidian Bandung digolongkan dari tradisi yang lebih tua. Pendapat senada dikeluarkan oleh Bandi dan Rothpletz, yaitu alat obsidian Bandung merupakan alat masa berburu dan mengumpulkan makanan. Alasan yang mengemuka adalah unsur bercocok tanam berasal dari masa-masa kemudian dan temuan obsidian tumpang tindih dengan tradisi yang menghasilkan beliung persegi. Soejono dengan menggunakan anologi temuan di Jambi dan Leles menduga alat obsidian merupakan alat yang berkembang secara lokal pada masa bercocok tanam (Soejono, 1984).

Permasalahan, Tujuan, dan Sasaran
Penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu, menunjukkan bahwa secara kuantitas merupakan perkakas terbanyak dipergunakan oleh manusia pendukung Danau Bandung. Sebagai artefak yang menonjol, tentunya artefak obsidian memunyai wilayah sebaran yang cukup luas.

Keberadaan situs obsidian menurut penelitian Koenigswald dan Rothpletz adalah di atas 725 meter dpal. Penelitian geologi menunjukkan bahwa surutnya muka air danau tidaklah sekaligus. Demikian juga dengan sedimentasi yang terjadi di Danau Bandung, tidak sama. Berdasarkan hal tersebut maka terdapat permasalahan yang dapat dirumuskan, yaitu:

1. Apakah aktivitas pendukung obsidian Danau Bandung hanya dilakukan pada lokasi di atas 725 m dpal?

2. Faktor-faktor apa yang memengaruhi pemilihan lokasi oleh manusia pendukung obsidian?
Penelitian ini akan dapat memberi petunjuk tentang perilaku manusia dalam memanfaatkan alam lingkungan bagi kegiatannya. Ada pun sasaran yang akan dicapai adalah memberikan gambaran mengenai penghunian oleh manusia masa lampau dalam kaitannya dengan eksploitasi bumi.

Kerangka Pikir dan Metode
Permukiman menetap mulai muncul ketika masa tradisi bercocok tanam berkembang. Masyarakat pada masa itu untuk memenuhi kebutuhannya, sudah tidak lagi hidup secara mengembara tetapi bermukim menetap di suatu tempat. Mereka bermukim secara mengelompok di tempat-tempat yang keadaannya alamnya dapat memenuhi kehidupan, misalnya di gua-gua yang dekat dengan sumber makanan atau tempat-tempat terbuka di pinggir sungai. Kehidupan manusia tidak terlepas dari lingkungan sekitar. Manusia akan berusaha memilih lingkungan yang sesuai untuk aktivitasnya dengan memanfaatkan sumber daya alam secara optimal (Herkovits, 1952: 3-8).

Perilaku manusia dalam menentukan lokasi tinggalnya tidak akan berperilaku acak tetapi akan mengikuti zona-zona tertentu (Parson, 1972; Hodder, 1976). Demikian halnya dalam pembagian ruang untuk hunian pun tidak acak dan teratur. Keteraturan itu juga mencerminkan pola pembagian ruang, sehingga hubungan antara manusia dengan ruang di mana mereka berinteraksi, dapat terungkapkan (Watson et. al, 1971; Fagan, 1981; Eriawati, 1997).

Beberapa telaah mengenai temuan di Danau Bandung telah dilakukan oleh para ahli terdahulu. Telaah temuan khususnya obsidian, para ahli saling berbeda pendapat. Ketiga ahli van Stein Callenfels, von Koenigswald dan van der Hoop, dalam tulisan yang berbeda, berkesimpulan sama, yaitu menggolongkan alat obsidian yang disebut sebagai alat mikrolit berasal dari masa bercocok tanam. Hal tersebut didasarkan dari temuan sertanya, yaitu pecahan gerabah, fragmen beliung persegi, dan cetakan-cetakan logam (Callenfels, 1934; Koenigswald, 1935; Hoop, 1940, vide Soejono, 1984).

Hal lain dikemukaan oleh Geldern (Soejono, 1984), alat obsidian Bandung digolongkan dari tradisi yang lebih tua. Pendapat senada dikeluarkan oleh Bandi dan Rothpletz, yaitu alat obsidian Bandung merupakan alat masa berburu dan mengumpulkan makanan. Alasan yang mengemuka adalah unsur bercocok tanam berasal dari masa-masa kemudian, dan temuan obsidian tumpang tindih dengan tradisi yang menghasilkan beliung persegi. Soejono dengan menggunakan anologi temuan di Jambi dan Leles menduga alat obsidian merupakan alat yang berkembang secara lokal pada masa bercocok tanam (Soejono, 1984).

Penelitian ini menerapkan tipe penelitian eksploratif dan deskriptif. Metode eksploratif dilakukan berlandaskan kepada seluruh data guna mempertajam permasalahan. Setelah permasalahan muncul secara jelas diterapkan metode deskriptif. Pelaksanaan penelitian tidak hanya terbatas pada pengumpulan data melainkan meliputi analisis dan interpretasi data (Gibbon, 1984: 80; Sharer dan Ashmore, 1979: 486).

Pola penalaran yang digunakan adalah pola induktif. Dengan demikian analisis melalui pendeskripsian yang sistematis dan terklasifikasinya data yang diperoleh maka jawaban permasalahan akan diperoleh dalam bentuk kesimpulan atau generalisasi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui survei. Penentuan lokasi ditentukan berdasarkan studi pustaka dan peta topografi.

Sesuai dengan permasalahan yang diajukan maka akan dilakukan pencuplikan sampel, mengingat luasnya wilayah. Untuk itu akan dicuplik lokasi situs yang berada pada ketinggian di atas 725 m dpal dan yang di bawah 725 m dpal. Pencuplikan tersebut juga mempertimbangkan wilayah yang dibagi sesuai dengan arah mata angin. Hal ini dilakukan untuk terwakilkan semua lokasi, yaitu wilayah utara, timur, selatan, dan barat. Untuk wilayah barat,dalam tulisan ini mencuplik data dari hasil penelitian Gua Pawon (Yondri, 2005).

Sejarah Danau Bandung
Bandung kota dan sekitarnya, pada masa lampau merupakan danau yang dikenal dengan Danau Bandung. Keadaan yang sekarang terlihat merupakan pedataran yang biasa disebut dengan istilah “Cekungan Bandung” (Bandung Basin). Daerah sekitar cekungan tersebut, diperkirakan dahulu merupakan tepian danau sehingga banyak diperoleh sisa-sisa aktivitas manusia masa lampau (Koesoemadinata, 2001).

Van Bemmelen, 1935, meneliti sejarah geologi Bandung. Pengamatan dilakukan terhadap singkapan batuan dan bentuk morfologi dari gunung api-gunung api di sekitar Bandung. Penelitian yang dilakukan berhasil mengetahui bahwa danau Bandung terbentuk karena pembendungan Sungai Citarum purba. Pembendungan ini disebabkan oleh pengaliran debu gunung api massal dari letusan dahsyat Gunung Tangkuban Parahu yang didahului oleh runtuhnya Gunung Sunda Purba di sebelah baratlaut Bandung dan pembentukan kaldera di mana di dalamnya Gunung Tangkuban Parahu tumbuh.

Van Bemmelen secara rinci menjelaskan, sejarah geologi Bandung dimulai pada zaman Miosen (sekitar 20 juta tahun yang lalu). Saat itu daerah Bandung utara merupakan laut, terbukti dengan banyaknya fosil koral yang membentuk terumbu karang sepanjang punggungan bukit Rajamandala. Kondisi sekarang, terumbu tersebut menjadi batukapur dan ditambang sebagai marmer yang berpolakan fauna purba.

Bukit pegunungan api diyakini masih berada di daerah sekitar Pegunungan Selatan Jawa. Sekitar 14 juta sampai 2 juta tahun yang lalu, laut diangkat secara tektonik dan menjadi daerah pegunungan yang kemudian 4 juta tahun yang lalu dilanda dengan aktivitas gunung api yang menghasilkan bukit-bukit yang menjurus utara selatan antara Bandung dan Cimahi, antara lain Pasir Selacau. Pada 2 juta tahun yang lalu aktivitas volkanik ini bergeser ke utara dan membentuk gunung api purba yang dinamai Gunung Sunda, yang diperkirakan mencapai ketinggian sekitar 3.000 m di atas permukaaan air laut. Sisa gunung purba raksasa ini sekarang adalah punggung bukit.

Sekitar Situ Lembang (salah satu kerucut sampingan sekarang disebut Gunung Sunda) dan Gunung Burangrang diyakini sebagai salah satu kerucut sampingan dari Gunung Sunda Purba ini. Sisa lain dari lereng Gunung Sunda Purba ini terdapat di sebelah utara Bandung, khususnya sebelah timur Sungai Cikapundung sampai Gunung Malangyang, yang oleh van Bemmelen (1935, 1949) disebut sebagai Blok Pulasari. Pada lereng ini terutama ditemukan situs-situs artefak ini, yang diteliti lebih lanjut oleh Rothpletz pada zaman Jepang dan pendudukan Belanda di Masa Perang Kemerdekaaan. Sisa lain dari Gunung Sunda Purba ini adalah Bukit Putri di sebelah timurlaut Lembang (Koesoemadinata, 2001).

Gunung Sunda Purba itu kemudian runtuh, dan membentuk suatu kaldera (kawah besar yang berukuran 5-10 km) yang ditengahnya lahir Gunung Tangkuban Parahu, yang disebutnya dari Erupsi A dari Tangkuban Parahu, bersamaan pula dengan terjadinya patahan Lembang sampai Gunung Malangyang, dan memisahkan dataran tinggi Lembang dari dataran tinggi Bandung. Kejadian ini diperkirakan van Bemmelen (1949) terjadi sekitar 11.000 tahun yang lalu.

Suatu erupsi cataclysmic kedua terjadi sekitar 6.000 tahun yang lalu berupa suatu banjir abu panas yang melanda bagian utara Bandung (lereng Gunung Sunda Purba) sebelah barat Sungai Cikapundung sampai sekitar Padalarang di mana Sungai Citarum Purba mengalir ke luar dataran tinggi Bandung. Banjir abu vulkanik ini menyebabkan terbendungnya Sungai Citarum Purba, dan terbentuklah Danau Bandung.

Tahun 90-an, Dam dan Suparan (1992) dari Direktorat Tata Lingkungan Departemen Pertambangan mengungkapkan sejarah geologi dataran tinggi Bandung. Penelitian ini menggunakan teknologi canggih seperti metoda penanggalan pentarikhan radiometri dengan isotop C-14 dan metode U/Th disequilibirum. Dam melakukan pengamatan terhadap perlapisan endapan sedimen Danau Bandung dari 2 lubang bor masing-masing sedalam 60 m di Bojongsoang dan sedalam 104 m di Sukamanah; melakukan pentarikhan dengan metoda isotop C-14 dan 1 metoda U/Th disequilibirum; dan pengamatan singkap dan bentuk morfologi di sekitar Bandung. Berbeda dengan Sunardi (1997) yang mendasarkan penelitiannnya atas pengamatan paleomagnetisme dan pentarikhan radiometri dengan metode K-Ar.

Simpulan penting adalah bahwa pentarikhan kejadian-kejadian ini jauh lebih tua daripada diperkirakan oleh van Bemmelen (1949), kecuali periode pembentukan Gunung Sunda Purba serta kejadian-kejadian sebelumnya. Keberadaan danau purba Bandung dapat dipastikan, bahkan turun naiknya muka air danau, pergantian iklim serta jenis floranya dapat direkam lebih baik (van der Krass dan Dam, 1994).

Hasil yang diperoleh, pembentukan Danau Bandung bukan disebabkan oleh suatu peristiwa ledakan Gunung Sunda atau Tangkuban Parahu, tetapi mungkin karena penurunan tektonik dan peristiwa denudasi dan terjadi pada 125 KA (kilo-annum/ribu tahun) yang lalu (Dam et al, 1996).

Keberadaan Gunung Sunda Purba dipastikan antara 2 juta sampai 100 juta tahun yang lalu berdasarkan pentarikhan batuan beku aliran lava, antara lain di Batunyusun timurlaut Dago Pakar di Pulasari Schol (1.200 juta tahun), Batugantung Lembang 506 kA (ribu tahun), dan di Maribaya (182 dan 222 kA). Memang suatu erupsi besar kataklismik (cataclysmic) terjadi pada 105 ribu tahun yang lalu, berupa erupsi Plinian yang menghasilkan aliran besar dari debu panas yang melanda bagian baratlaut Bandung dan membentuk penghalang topografi yang baru di Padalarang, yang mempertajam pembentukan Danau Bandung. Erupsi besar ini diikuti dengan pembentukan kaldera atau runtuhnya Gunung Sunda yang diikuti lahirnya Gunung Tangkuban Parahu beberapa ratus atau ribu kemudian, yang menghasilkan aliran lava di Curug Panganten 62 ribu tahun yang lalu, sedangkan sedimentasi di Danau Bandung berjalan terus.

Suatu ledakan gunung api cataclysmic kedua terjadi anatara 55 dan 50 ribu tahun yang lalu, juga berupa erupsi Plinian dan melanda Bandung barat laut, sedangkan aliran-aliran lava di Curug Dago dan Kasomalang (Subang), terjadi masing-masing 41 dan 39 ribu tahun yang lalu. Sementara itu, sedimentasi di Danau Bandung berjalan terus, antara lain pembentukan suatu kipas delta purba yang kini ditempati oleh Kota Bandung pada permukaan danau tertinggi. Akhir dari Danau Bandung pun dapat ditentukan pentarikhannya yaitu 16 ribu tahun yang lalu.

Situs-situs Obsidian Danau Bandung
Penelitian yang dilakukan berhasil mengungkap kembali jejak budaya pendukung obsidian Danau Bandung. Sesuai dengan permasalahan, maka situs-situs yang dicuplik, adalah.

Kawasan Sisi Utara Danau Bandung
Punclut
Secara geografis lokasi ini berada di Dusun Cihanja, Desa Cidadap, Kabupaten Bandung. Menurut GPS Garmin V lokasi Punclut berada pada titik ordinat 06° 51’ 0.72” LS dan 107° 36’ 8.49”BT. Pada umumnya lahan di lokasi ini merupakan kebun, ladang, dan rumah penduduk yang sebagian diperuntukkan untuk warung makan.

Temuan obsidian diperoleh di lahan kosong sebelah selatan pemancar RRI. Lahan ini banyak ditumbuhi oleh semak-semak. Saat ini, lahan digarap untuk diambil pasirnya oleh penduduk sekitar. Akibat pengambilan pasir inilah, temuan obdisian banyak tersingkap. Temuan yang diperoleh dapat dirinci sebagai berikut: a). keramik 1 buah, b). serpih 4 buah

Pakar
Situs ini menurut informasi dari beberapa penelitian terdahulu merupakan situs yang potensial. Lokasi yang dimaksud sekarang lebih dikenal sebagai Bukit Kordon. Secara administratif daerah Bukit Kordon termasuk wilayah Kampung Sekepicung, Desa Ciburial , Kecamatan Cimenyan. Ordinat situs ini berada pada 06° 51’ 8.21” LS dan 107° 37’ 6.98” BT (menurut pembacaan dari pesawat GPS Garmin V). Ketinggian lokasi Pakar berada pada 800 meter dpal.

Lahan yang ada di Kampung Sekepicung terdiri atas lahan tegalan, sawah, sekolah, dan bangunan rumah tinggal. Sebagian besar dari lahan yang ada merupakan lahan rumah tinggal. Lokasi yang diinventaris oleh peneliti pendahulu, saat ini sudah banyak berdiri bangunan rumah tinggal dan sekolah. Menurut keterangan penduduk sekitar, temuan obsidian sering diperoleh, sebelum lahan banyak diubah sebagai rumah tinggal.

Jejak-jejak tinggalan diperoleh pada sebuah lahan yang berada di sisi Barat daya dari SD Inpres Pakar I, II, dan III. Lahan tersebut merupakan lahan yang akan dibangun menjadi rumah tinggal. Lahan ini merupakan lahan milik Pak Alek. Adapun jejak-jejak lain disurvei dengan melakukan penyisiran di ladang-ladang yang baru digarap atau pun ditanami. Beberapa jejak arkeologi berhasil diperoleh di ladang milik Pak Arifin. Ladang tersebut ditanami singkong. Koleksi survei dari Situs Pakar seluruhnya berjumlah 33 dengan perincian sebagai berikut: a). tembikar bagian badan 1 buah, b). serpih beretus 4 buah, c). alat serpih 12 buah, d). Serpih 16 buah.

Kawasan Sisi Timur Danau Bandung
Jadaria
Situs ini berhasil diperoleh ketika tim penelitian melakukan survei di kawasan kaki Gunung Manglayang. Secara administratif, situs ini berada di Kampung Jadaria, Desa Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung. Menurut pembacaan GPS Garmin V lokasi ini berada pada titik ordinat 06° 54’ 9.91” LS dan 107° 43’ 7.32” BT. Ketinggian lokasi situs ini adalah sekitar 800 meter dpal.

Temuan berada di lokasi tegalan yang sedang digarap untuk ditanami. Pemilik lahan tidak diketahui, tetapi ladang ini merupakan tanah garapan Bapak Undang, penduduk setempat. Lokasi ini berada sektar 250 m ke arah baratlaut dari jalan desa. Tanaman yang ada berupa nangka, albasia, pisang dan apokat. Jejak arkeologi yang diperoleh berupa: a). fragmen beliung 1 buah, b). tembikar bagian tepian 4 buah, c). tembikar bagian badan 3 buah, d). keramik bagian badan 2 buah, e). Serpih 72 buah, f). serpih beretus 11 buah, g). alat serpih 51 buah.

Panyawungan
Keberadaan situs ini telah terdata oleh peneliti terdahulu. Beberapa artefak telah diinventaris oleh Museum Geologi Bandung. Secara administratif termasuk wilayah Kampung Panyawungan, Desa Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung. Pembacaan GPS Garmin V, lokasi ini berada pada titik 06° 57’0.92” LS dan 107° 44’ 8.51”BT. Ketinggian lokasi Situs Panyawungan berada pada 663 meter dpal.

Jejak arkeologi diperoleh di sekitar SD Muslimim Panyawungan I dan II. Temuan terbanyak diperoleh di makam dan lahan tegalan singkong belakang SD. Tegalan tersebut milik Pak Endang. Tepatnya, 50 meter belakang SD. Secara rinci temuan tersebut berupa: a). bungkal batu obsidian 1 buah, b). serpih beretus 8 buah, c). alat serpih 108 buah, d). serpih 16 buah.

Bumi Panyawangan
Lokasi temuan obsidian diperoleh di situs ini secara tidak sengaja. Penemuan obsidian diperoleh ketika dilakukan pengerukan ketika perluasan pembangunan perumahan. Secara administratif lokasi ini berada di Perumahan Bumi Panyawangan Cluster Kamper yang termasuk wilayah Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Titik ordinat lokasi ini adalah 06° 56’ 6.10” LS dan 107° 44’ 3.72” BT. Lokasi ini berada pada ketinggian sekitar 671 meter dpal. Secara rinci temuan di Bumi Panyawangan adalah: a). Serpih 33 buah, b). serpih beretus 3 buah, c). alat serpih 9 buah.

Kawasan Sisi Selatan Danau Bandung
Pasir Bongkor
Penelusuran situs di sisi selatan Danau Bandung dilakukan pada bentang lahan yang sama dengan situs lain yang telah diperoleh temuan obsdian. Secara administratif, lokasi ini berada di Desa Cihelang, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung.Titik ordinat situs ini adalah 107°40’ BT dan 07° 12’ LS. Ketinggian lokasi Pasir Bongkor berada pada 827 meter dpal.

Situs Pasir Bongkor berada lokasi yang banyak ditumbuhi pohon bambu. Lahan situs cenderung menurun ke arah utara dan barat. Di sisi utara situs merupakan areal perumahan Cikahuripan. Temuan yang diperoleh dapat dirinci sebagai berikut: a). serpih beretus 9 buah, b). alat serpih 35 buah, c). serpih 78 buah.

Kawasan Sisi Barat Danau Bandung
Keberadaan tinggalan obsidian di sisi barat Danau Bandung, salah satunya diperoleh di Situs Gua Pawon. Keseluruhan temuan diperoleh dari hasil penggalian dari tahun 2003-2004 (Yondri, 2005). Situs Gua Pawon berada di wilayah Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung. Gua tersebut berada pada ketinggian sekitar 716 meter di atas permukaan air laut.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lutfi Yondri dari tahun 2003-2004 menunjukkan temuan obsidian yang ditemukan umumnya lebih banyak berukuran kecil yang lebih cenderung memperlihatkan pada sisa pembuatan (Yondri, 2005: 71-72). Secara kuantitas alat obsidian yang diperoleh di Situs Gua Pawon berjumlah 124 buah.

Pembahasan
Temuan yang diperoleh dari keseluruhan situs yang dicuplik, terdiri atas serpih beretus, serpih, dan alat serpih. Penelitian yang dilakukan pada sisi utara-timur laut Danau Bandung memperoleh berbagai temuan obdisian dan beberapa lainnya. Temuan-temuan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Bungkal batu obsidian
Temuan ini termasuk jarang diperoleh di situs-situs yang diteliti. Situs-situs yang terdapat temuan bungkal batu obdisian adalah Tugu dan Panyawungan. Keseluruhan permukaan batu masih tertutup korteks. Warna batuan obsidian adalah hitam

2. Serpih
Temuan serpih diperoleh hampir di keseluruhan situs. Ukuran serpih yang tertipis adalah >1,5 mm, sedangkan yang tertebal adalah <>

3. Serpih beretus
Istilah serpih beretus ini diarahkan pada temuan yang tidak sengaja dibuat tapi cenderung dipergunakan oleh pendukung budayanya.Beberapa temuan menunjukkan adanya penggunaan pada lateral kiri, lateral kanan, distal, bahkan ketiganya.

4. Alat Serpih
Istilah alat serpih mengacu pada temuan yang sengaja dibuat oleh manusia pendukungnya. Dengan demikian temuan yang diperoleh di situs-situs yang diteliti merupakan alat yang terdapat dataran pukul dan bulbus. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan adanya sebaran jejak tinggalan obsidian yang luas. Hampir di keseluruhan wilayah yang termasuk pinggiran Danau Bandung diperoleh jejak tinggalan manusia pendukung obsidian. Sebaran temuan obsidian dapat dipetakan sebagai berikut.

1. wilayah timur meliputi Situs Jadaria, Paratag, Panyaungan, dan Panyawangan;
2. wilayah utara meliputi Situs Pakar, Punclut;
3. wilayah barat meliputi Gua Pawon;
4. wilayah selatan meliputi Pasir Bongkor.

Lokasi situs-situs obsidian tersebut berada pada ketinggian yang bervariasi, antara 823-663 meter dpal. Dari delapan situs yang dicuplik, maka dua situs yang berlokasi di Panyawungan dan Panyawangan berada pada lokasi yang rendah. Titik ketinggian adalah 663 meter dpal untuk Situs Panyawungan dan 671 m dpal untuk Situs Panyawangan. Ada pun lima situs lainnya berada di atas 700 m dpal.

Penelitian Koenigswald (1935) menunjukkan bahwa situs-situs obsidian terletak pada ketinggian 725 m dpal. Oleh beberapa ahli, data Koenigswald dapat disimpulkan bahwa permukaan atau pantai Danau Bandung memunyai ketinggian di atas 725 m dpal (Koesumadinata, 2001). Data yang menunjukkan adanya jejak obsidian di Situs Panyawangan (671 m dpal) dan Panyawungan (663 m dpal), maka manusia pendukung obsidian Danau Bandung tidak hanya beraktivitas pada daerah yang tinggi, akan tetapi lokasi yang merupakan dasar Danau Bandung juga dijadikan tempat beraktivitas. Penelitian geologi (Koesoemadinata, 2001) telah menjelaskan bahwa surutnya muka Danau Dandung tidak sekaligus, sedimentasi di Danau Bandung berjalan beransur-angsur.

Bukti geologis tersebut dapat menjelaskan bahwa aktivitas manusia pendukung obsidian antara situs yang berlokasi di atas 725 m dpal dengan lokasi yang lebih rendah berbeda waktu. Pasang-surutnya muka air danau bandung menjadi pertimbangan tersendiri bagi pendukung budaya obsidian dalam pemilihan lahan untuk beraktivitas. Kehidupan manusia tidak terlepas dari lingkungan sekitar. Manusia akan berusaha memilih lingkungan yang sesuai untuk aktivitasnya dengan memanfaatkan sumber daya alam secara optimal. (Herkovits, 1952).

Sejalan dengan Butzer (1964) berpendapat bahwa lingkungan dianggap penentu dalam pemilihan lokasi situs, antar lain:
• tersedianya kebutuhan air, adanya tempat berteduh, dan kondisi tanah yang tidak terlalu lembab;
• tersedianya fasilitas-fasilitas yang diperlukan untuk bergerak lebih mudah (pantai, sungai, rawa, lereng);
• tersedianya sumber makanan baik flora dan fauna serta faktor-faktor yang memberi kemudahan di dalam cara-cara perolehannya (tempat untuk minum binatang, batas-batas topografi, pola vegetasi, dsb.); dan
• faktor-faktor yang memberi elemen tambahan binatang laut atau binatang air (dekat pantai, danau, rawa, dsb)

Simpulan
Penelitian yang dilakukan di beberapa situs di kawasan lain juga menunjukkan adanya jejak aktivitas manusia pendukung pengguna obsidian, baik di sisi barat, timur, selatan, dan utara. Data penelitian menunjukkan situs-situs pendukung obsidian berada pada ketinggian 663 hingga 863 meter di atas permukaan air laut. Pergerakan aktivitas manusia pendukung obsidian sangat dipengaruhi oleh muka pantai danau Bandung. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya air dalam kehidupan manusia pendukung.

Penghargaan:
Terima kasih diucapkan kepada Bapak Dr. Truman Simanjuntak yang telah mengizinkan untuk mengambil beberapa hasil penelitian untuk diolah. Juga disampaikan penghargaan kepada Bapak Adman (staf Balai Arkeologi Bandung) yang telah bersusah payah membantu survei ke beberapa situs obsidian di Danau Bandung.

Kepustakaan
Anggraeni, Nies et al. 1986. “Survei di Daerah Cililin, Bandung 1978”, dalam BPA No. 36: Laporan Penelitian Arkeologi dan Geology di Jawa Barat. Jakarta: Departeman Pendidikan dan Kebudayaan.

Bemmelen, R.W. van. 1949. Geology of Indonesia; vol. I A. General Geology: The Bandung Zone.

Boedi, Oerip Bramantyo. 2001. “Laporan Hasil Penelitian Arkeologi: Penelitian Arkeologi di Kecamatan Cililin dan Sekitarnya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat”. Bandung: Balai Arkeologi Bandung (tidak diterbitkan).

Heekeren, HR. Van. 1972. The Stone Age of Indonesia. Rev. 2nd. The Hague: Martinus Nijhoff.

Herkovits, Melville J. 1952. “Anthropology and Economics”, dalam The Economic Life of Primitive Peoples. New York: Knopf. Hlm. 3-8.

Koesoemadinata, R.P. 2001. “Asal-Usul dan Prasejarah Ki Sunda”, dalam Makalah KIBS. Bandung, 22-25 Agustus 2001.

Koeningswald, G.H.R. von. 1935. "Das Neolithicum der Umgebung von Bandung" dalam Tidjschrift voor Indiesche Taal-Land, on Volkenkunde, Deel LXXV, Afl.3. Hlm. 394-417.

Rothpletz, W. 1952. Alte siedlungsplatze beim Bandung (Java) und die Entdeckung. Bronzezeitlicher Gussformen: Sudsee Studien, Basel 1951.

Soejono, R.P. 1984. “Jaman Prasejarah di Indonesia”, dalam Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka.

Tim Peneliti. 1994. "Laporan Penelitian Sumber Bahan Baku Artefak Obsidian di Nagrek, Jawa Barat". Bandung: Balai Arkeologi Bandung-Puslit Arkenas.

Yondri, Lutfi. 2005. “Kubur Prasejarah Temuan dari Gua Pawon Desa Gunung Masigit, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Sumbangan Data Bagi Kehidupan Prasejarah di Sekitar Tepian Danau Bandung Purba”. Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia.

Catatan:
Tulisan ini dimuat di buku Arkeologi dari Lapangan ke Permasalahan, hlm. 18 – 29. Editor: Prof. Dr. Edi Sedyawati. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat – Banten.

Sumber: http://arkeologisunda.blogspot.com/
-

Arsip Blog

Recent Posts