Pertahankan Khazanah Budaya, Pakemkan Langkah Tari Jepin Khas Kalbar

Pontianak, Kalbar - Masih dalam rangka Peringatan Hari Jadi (Harjad) Kota Pontianak yang ke 243. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pontianak bekerjasama dengan Sanggar Bougenvile dan IAIN mengadakan seminar sehari membahas tentang Tari Japin Melayu Pontianak, Langkah Empat-empat Tahun 2014 di gedung UPT IAIN, Jumat (17/10) kemarin.

Materi seminar diisi Juhermi Thahir sebagai pelaku seni, yang membahas mengenai sejarah Langkah Empat-Empat. Kemudian Yuza Yanis Chaniago, pemilik sanggar Bougenvile yang juga putra Alm H Muhammad Yanis Chaniago, pencipta Langkah Tari Jepin Empat-empat yang karyanya dijadikan pakem langkah Tari Jepin khas Kalbar, memberikan materi tentang penerapan dan perkembangan langkah Tari Jepin Empat-empat.

Kegiatan dibuka Kepala Disbudpar Kota Pontianak, Hilfira Hamid mewakili Wakil Walikota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono karena berhalangan hadir. Untuk peserta sendiri melibatkan siswa SMA sederajat, mahasiswa, pelaku seni budaya, dan masyarakat umum.

Menyampaikan sambutan wakil walikota, Hilfira mengungkapkan, kesenian merupakan bagian dari kebudyaan sesungguhnya bersifat dinamis. Perkembangan kesenian saat ini memunculkan persoalan, dimana nilai-nilai leluhur yang terkandung pada kesenian tradisional mulai punah terlindas budaya luar. Karena itu kegiatan seminar ini dirasa sangat penting, terutama bagi generasi muda penerus seniman-seniman terdahulu.

Dengan diadakannya kegiatan ini diharapkan kesenian tari Jepin Melayu Pontianak, Langkah Empat-empat yang didalamnya terdapat nilai moralitas bisa membantu generasi muda membentuk karakter diri sebagai generasi muda yang berbudaya dan bermoral.

Hilfira menambahkan, kegiatan ini sangat positif sebab pakem-pakem tari melayu, salah satunya langkah empat-empat belum diketahui secara meluas. Banyak pencipta tari yang tak paham, sehingga dalam berkreasi tidak sesuai dengan pakem yang ada.

“Dalam festival tari melayu yang akan kita adakan besok jangan sampai ada peserta yang menampilkan tari tidak sesuai dengan kriteria nilai-nilia tradisi yang ada. Karena pakem tari melayu tidak bisa disamakan dengan tari kontemporer,” tambahnya.

Yuza Yanis Chaniago mengatakan kegiatan ini sangat peting mengingat metode langkah tari jepin empat-empat merupakan jati diri seniman maupun pelaku seni tari di Pontianak dan Kalbar. “Ini merupakan salah satu khazanah budaya, jangan sampai hilang ditelan zaman. Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya termasuk seniman terdahulu,” ungkapnya.

Karya seniman terdahulu, menurut dia tentu memiliki nilai moral dan filosofi yang tinggi. Karena itu jika tidak disampaikan pada generasi muda tentu akan hilang begitu saja. Harapannya seluruh seniman yang ada di Pontianak atau Kalbar pada umumnya bisa menyatukan visi untuk pengembangan metode tari jepin langkah empat-empat.

“Selain itu sebagai seniman saya berharap awak media juga bisa membantu mengembangkan lagi khazanah budaya kita, karena jika budaya hilang jati diri kita akan hilang. Dalam hal ini media juga harus mampu mengontrol pergeseran nilai-nilai budaya yang ada di tempat tinggal kita,” pungkasnya.

-

Arsip Blog

Recent Posts