Kongres Kebudayaan Digelar, Gubernur Seru Rekonstruksi Budaya Maluku

Ambon, Maluku - Pembentukan kebudayaan dan peradaban di Maluku telah dimulai dimulai sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Jejak asimilasi kebudayaan itu bukan saja tampak pada berbagai produk kebudayaan dan peradaban yang berkembang di Maluku tetapi juga meliputi asimilasi ras yang cukup kuat.

Namun menjadi salah satu dari 8 provinsi Maluku yang membentuk negara Indonesia membuat Maluku terseret masuk pada proses kebu­dayaan yang dikonstruksi secara politis dan otoritatif dari Jakarta.

Akibatnya, Gubernur Maluku Said Assagaff mengajak semua pihak untuk ‘baku gandeng tangan’ merekonstruksi kebudayaan Maluku.

Ajakan tersebut disampaikan Gubernur saat membuka Kongres Kebudayaan I Provinsi Maluku yang digelar di Lapangan Merdeka, Ambon, Senin (3/11).

“Kongres Kebudayaan Provinsi Maluku yang sedang digelar ini merupakan wadah yang signifikan untuk memulai sebuah upaya rekonstruksi kebudayaan yang akan memungkinkan Maluku memperoleh kedigdayaan kembali di tengah situasi asimilasi kebudayaan lintas bangsa yang semakin mengglobal,” ungkapnya.

Gubernur dalam pidato kebuda­yaan bertajuk “Bentangan Kebu­dayaan Maluku Dalam Tantangan Asimilasi Kebudayaan” juga mengaku rekaman historis asimilasi kebudayaan di Maluku mengha­dirkan daerah ini sebagai sebuah wilayah multi identitas.

“Sulit bagi kita untuk menemukan adanya unsur budaya dominan atau narasi tunggal dalam mozaik kebu­dayaan Maluku,” ujarnya.

Dikatakan, budaya Maluku juga diperhadapkan pada tantangan untuk tercerabut dari berbagai aspek konvensionalnya. Budaya Maluku berada dalam interaksi hiper-kultural dengan berbagai produk kebuda­yaan lintas teritorial. Budaya Maluku tidak lagi diklaim sebagai milik semata-mata orang Maluku didalam model interaksi tanpa batas seperti ini.

“Hibridisasi budaya global pada gilirannya meperhadapkan kebuda­yaan Maluku dengan tantangan intervensi kebudayaan luar yang bersifat massif dan bergerak dengan kecepatan tak terbatas. Meskipun demikian dinamikan hibridisasi kebudayaan sekaligus menjadi peluang bagi Maluku untuk menawarkan berbagai kearifan lokal yang dimilikinya pada bursa global kebudayaan dan peradaban yang berkembang,” katanya.

Pada kesempatan itu Gubernur juga menyerahkan penghargaan kepada mantan Ketua Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku (LKDM) I, Abdullah Soulisa yang diterima putrinya Hj Hanny Latuconsina.

Pembukaan Kongres Kebuda­yaan I Provinsi Maluku juga juga dihadiri oleh Ketua DPRD Maluku Edwin Huwae serta sejumlah bupati/walikota.

-

Arsip Blog

Recent Posts