Budaya Islam Indonesia Diperkenalkan di Turki

Pamekasan, Jatim - Warga ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) Indonesia yang tinggal di Turki, memperkenal budaya Islam ke masyarakat di negara itu, pada rangkaian peringatan hari lahir (Harlah) yang digelar oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama (PCI-NU) Turki.

"Budaya Islam Indonesia yang diperkenal meliputi pakaian dan musik tradisional, tari saman dan musik rebana," kata Humas Harlah NU di Turki, Bernando J. Sujibto dalam rilis yang disampaikan melalui surat elektronik kepada Antara, Senin.

Mahasiswa S2 asal Indonesia pada fakultas Sosiologi di Selcuk University, Turki itu lebih lanjut menjelaskan, peringatan Harlah Ke-89 NU itu digelar di Kota Kayseri, bekerjasama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Kayseri dan didukung oleh KBRI di Ankara, Kuder dan Pemerintah Kota Kayseri.

Serangkaian acara digelar untuk memperkenalkan kebudayaan Islam Indonesia di negeri itu, seperti pementasan dan pertunjukan tradisi-tradisi Islam Indonesia.

Tari Saman dan musik rebana (dibaan) dan Tari Indang ikut menyemarakkan kegiatan Harlah NU yang berlangsung selama empat hari itu. Panitia juga menggelar diskusi hal ihwal Tari Saman dengan menghadirkan pembicara cendekiawan muda NU asal Aceh, Azman, M.I.Kom.

Diskusi tersebut mengangkat tema "Tari Saman: Representasi Seni Islam dalam Penyebaran Pesan-Pesan Dakwah".

Azman menjelaskan, banyak informasi dan pengetahuan baru tentang Tari Saman yang jarang sekali dihadirkan ke publik Indonesia selama ini. Misalnya tentang sejarah tarian, bentuk gerakan, aturan-aturan dalam tarian dan pesan-pesan dakwah yang ingin disampaikan.

Ia mengemukakan, pada Tari Saman, penari menyampaikan pesan kalimat tauhid "Laiilahaillah". Tari ini, kata dia, tidak sebatas gerak serempak dan cepat yang mampu menarik perhatian, namun juga menjadi media (menyampaikan) kritik tentang sosial budaya, pemerintahan dan sekaligus ajakan untuk melaksanakan syariat Islam.

Azman bahkan membahas secara detail tentang jenis tari itu, mulai dari sejarah terbentuknya tari, hingga dalam perkembangan modern.

Dosen Ilmu Komunikasi pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh itu juga menampilkan video Tari Saman dari berbagai acara dan bahkan dari luar negeri. Peserta banyak yang terpukau dengan informasi dan pengetahuan baru tentang Tari Saman yang dipaparkan langsung oleh cendekiawan muda asal Indonesia itu.

Menurut Bernando, acara Harlah NU di Turki itu sengaja mengeksplorasi aspek-aspek kultural agama Islam di Indonesia dengan tujuan untuk memperkenal bahwa Islam Indonesia juga kaya akan hazanah budaya.

Semua jenis peraga dan identitas tradisional keagamaan, khususnya yang dipraktikkan oleh warga NU ditampilkan dalam rangkaian acara Harlah NU itu, seperti seperangkat pakaian shalat yang meliputi mukena, baju koko, sarung, songkok/peci dan pakaian tradisional Riau dan Betawi yang dipakai ketika acara pernikahan dan perayaan hari-hari besar Islam lainnya.

"Sebagai negara yang berpenduduk Islam antara Turki dan Indonesia, kegiatan yang menampilkan kebudayaan dan tradisi keagamaan seperti ini sangat perlu didukung dan disemarakkan," kata Yuksel Kahraman, perwakilan dari Pemerintah Kota Kayseri, dalam kata sambutannya dalam acara itu.

Disebutkan, warga lokal Turki yang hardir sangat antusias ketika peragaan pakaian tradisional keagamaan seperti pakaian adat dari Riau, baju koko, peci, mukena dan sarung dipentaskan. Mereka sangat memperhatikan bentuk dan gaya pakaian yang dikenakan oleh para pelajar Indonesia di Turki itu.

Selain acara pementasan seni dan budaya Islami Indonesia, rangkaian kegiatan Harlah NU oleh pelajar, mahasiswa dan PCI-NU Turki itu, juga dilanjutkan dengan acara napak tilas ke situs-situs Islam di Kota Kayseri di negara itu.

Kota yang sudah dihuni sejak 3.000 tahun sebelum masehi ini menyimpan banyak situs sejarah. Masa imperator Saljuk tercatat sebagai tanda masuknya Islam pertama di tanah Anatolia. Situs-situs sejarah sisa Bani Saljuk abad 12 masih tersisa hingga saat ini, seperti komplek Masjid Hunat Hatun yang di dalamnya terdapat madrasah, hamam (tempat mandi bagi hurem raja), dan museum imperator Saljuk.

Selanjutnya ziarah dilanjutkan ke makam ulama besar dan sekaligus guru dari Maulana Jalaluddin Rumi, penyair sufi berpengaruh, yaitu Sayyyid Burhaneddin Tirmizi. Peserta napak tilas membacakan tahlil di komplek makam itu.

-

Arsip Blog

Recent Posts