Gelar Batik Nusantara 2015: Ajang Promosi dan Pelestarian Warisan Nasional

Jakarta - Gelaran batik terbesar di Iindonesia, Gelar Batik Nusantara (GBN) yang dimulai Rabu (24/6) hingga Minggu (28/6) di Jjakarta Convention Center (JjCC), Jakarta, menampilkan lebih dari 350 perajin, pengusaha dan kolektor batik terbaik nusantara.

Terdapat 14 desainer ternama yang akan turut memeriahkan ajang promosi batik terbesar dan terlengkap tersebut. Di antaranya Danar Hadi, Parang Kencana, Carmanita, Ghea Pangabean, Lenny Agustin, Barli Asmara, Didiet Maulana.

Pameran dari Yayasan Batik Indonesia (YBI) ini menampilkan beragam batik, termasuk batik Pakualaman, Cirebon, hingga batik-batik dari kawasan timur Indonesia, yakni Papua. GBN 2015 juga diisi simposium. Tema yang diangkat antara lain menyangkut perlindungan batik Nusantara serta batik di kalangan generasi muda.

GBN adalah suatu kegiatan pameran batik tingkat nasional yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali oleh YBI sejak 1996. Ketua Panitia Penyelenggara, Ratna Djoko Suyanto, memaparkan bahwa GBN tahun ini bertema “Batik Pemersatu Nusantara” karena dikenakan oleh masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Batik, selain sebagai warisan budaya, juga merupakan alternatif mata pencarian sehingga kesejahteraan para pebatik bisa meningkat apabila ada kepedulian masyarakat untuk mengenakan batik, bukan tekstil cetak bermotif batik.

“GBN 2015 bertujuan memperluas promosi produksi batik hasil karya pembatik di Indonesia. Acara ini diharapkan dapat lebih memperkenalkan batik sebagai ikon nasional yang bisa mewakili Indonesia, baik dalam ataupun luar negeri,” kata Ratna Djoko Suyanto.

Sementara Putri Indonesia 2015, Anindya Kusuma Putri yang turut hadir dalam jumpa pers merasa bangga menjadi duta dalam mengajak kalangan generasi muda untuk melestarikan batik, karena batik merupakan warisan nusantara Indonesia.

“Batik bisa dipakai kapan pun dan di mana pun,” ujar Anin. Karena itu, wanita yang akrab disapa Anin ini ingin mengajak seluruh generasi muda Indonesia untuk melestarikan dan mau memakai batik.

Untuk menunjukkan komitmen menghargai para pebatik, GBN juga telah memberi penghargaan dan hadiah uang tunai kepada enam pebatik yang telah membaktikan diri selama lebih dari 40 tahun.

Penerima penghargaan tersebut adalah Zubaidah, Siti Zainab, dan Saodah dari Pekalongan, Jawa Tengah; Sukanta dari Cirebon, Jawa Barat; serta Suryati dan Surajiem dari Yogyakarta. Selain itu, terdapat pula penghargaan untuk pebatik muda berprestasi, yaitu Afif Syakur, generasi keempat dari pebatik Pekalongan.

Sementara anugerah tertinggi, yakni Kriya Pusaka, diberikan kepada Larasanti Suliantoro Sulaiman. Salah satu jasa Larasanti ialah membangun paguyuban batik di Kebumen, Yogyakarta, Tegalrejo, dan Pekalongan.

Wapres Jusuf Kalla dalam pidato sambutannya menuturkan bahwa batik tidak lagi eksklusif milik masyarakat Jawa, tetapi harta nasional. “Batik telah merambah ke tingkat internasional dan telah menjadi hal yang lebih luas dari yang kita kenal sebelumnya. Kini perkembangan seni membatik ada di seluruh daerah di Nusantara. Buktinya tiap daerah kini memiliki ciri khas batiknya sendiri,” tuturnya.

Menurutnya, popularitas batik saat ini tidak lepas dari peran para tokoh bangsa dan tokoh internasional dalam memperkenalkan batik. Ada Pak Harto yang mengenakannya di APEC hingga Ali Sadikin yang juga ingin batik jadi pakaian resmi.

“Tokoh internasional yang juga turut memperkenalkan batik ke dunia internasional adalah Nelson Mandela. Ia menggunakan batik pertama kali di sidang PBB. Kita hormati Mandela yang memakai batik dalam forum internasional,” ujar Kalla.

Lebih jauh Wapres menjelaskan bahwa batik adalah pakaian yang memiliki variasi harga dari yang termurah mulai dari 25 ribu hingga yang termahal hingga 25 juta rupiah. Tetapi Wapres mengingatkan bahwa pakaian batik memerlukan kreativitas, karena anak-anak muda ingin batik yang lebih modern, mereka tidak mau yang bergaya klasik. “Jadi kita harus kreatif, kalau kita tidak bisa penuhi ini, kita bisa kalah dari Tiongkok,” ucap Wapres.

Menteri Perindustrian Saleh Husin yang turut hadir juga menerangkan bahwa di Indonesia terdapat 39.000 industri kecil-menengah yang bergerak di bidang batik dengan serapan tenaga kerja sebanyak 900.000 orang.

“Kendala yang dihadapi industri batik adalah jumlah produksi damar (getah pinus) menurun. Padahal, damar dibutuhkan sebagai salah satu agen pewarna. Meski begitu, sekarang sudah diciptakan mesin yang bisa mengolah sisa-sisa damar yang sudah digunakan agar bisa dimanfaatkan kembali,” ujarnya.

Lestarikan Keaslian

Batik merupakan salah satu karya seni kerajinan tradisional yang mengandung nilai-nilai kultural dan estetika yang tinggi serta memuat hal-hal yang merepresentasikan nilai-nilai simbolis dan filosofis masyarakat pemiliknya.

Di Indonesia, batik mempunyai sejarah yang panjang dan telah berakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Di samping menjadi kekayaan budaya dan kebanggaan masyarakat, batik juga telah menjadi identitas nasional.

Kini, batik juga sudah dianugerahkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) kepada Indonesia.

Namun sayangnya sebagian masyarakat belum sepenuhnya mendukung keaslian batik itu sendiri, hal itu terlihat dari membanjirnya tekstil cetak bercorak di pasaran yang dijual dengan nama batik. Padahal, tanpa ada pelestarian dan perlindungan, anugerah tersebut bisa dicabut.

Penilaian itu disampaikan Dekan Fakultas Batik Universitas Pekalongan, Jawa Tengah, Zahir Widadi.

“Ada transmisi nilai budaya dalam proses pembuatan batik. Kain pabrikan yang tidak memiliki pendekatan filsafat seperti ini praktis tidak bisa dikategorikan sebagai batik,” katanya.

Batik merupakan tradisi lisan karena diturunkan melalui budaya verbal kepada generasi muda. Tradisi ini juga merupakan bagian dari kebiasaan sosial karena setiap kegiatan menggunakan batik dengan corak-corak tertentu. Batik juga karya kerajinan tangan.

Larasati Suliantoro Sulaiman, pendiri paguyuban batik Sekar Jagad, juga mencemaskan mayoritas pebatik yang berumur di atas 40 tahun. Generasi muda jarang yang mau berkecimpung di dunia tersebut.

“Kalau tidak ada jaminan pelestarian batik untuk masa depan, bisa-bisa anugerah UNESCO dicabut,” lanjutnya.

Jika ingin melestarikan batik, masyarakat bisa membeli batik, bukan tekstil bercorak produk pabrik.

“Bahan baku, bentuk, dan variasi corak batik jauh lebih berkualitas. Nilai-nilai filosofisnya diturunkan dalam sehelai batik,” kata Handy Hartono, perancang busana batik.

Wakil Ketua Panitia GBN 2015 Titiek Djoko menuturkan, upaya pengembangan batik akan berhasil apabila generasi muda pun berminat memakai dan bahkan memproduksi batik.

“YBI terus berupaya mengedukasi pembatik dan juga masyarakat soal batik. Hal ini antara lain diperlukan agar mereka mengenal batik dan tidak terkecoh dengan tekstil bercorak batik,” tuturnya.

Copyright 2009 Simplex Celebs All rights reserved Designed by SimplexDesign