Menikmati Budaya Cirebon dalam Modernitas

Cirebon, Jabar - Mal boleh dibilang salah satu simbol modernitas. Di sana segala yang baru, mulai dari kuliner hingga teknologi, tersaji untuk dikonsumsi. Akan tetapi, mungkinkah soal sejarah, seni, dan budaya yang sudah berabad-abad silam dapat dijumpai di sana?

Kirab Budaya Cirebon, pameran seni budaya yang digelar di Cirebon Super Blok (CSB) Mall di Kota Cirebon, Jawa Barat, dalam dua pekan terakhir, dapat menjadi contoh.

Kegiatan yang diinisiasi Keraton Kasepuhan Cirebon bersama CSB Mall dan didukung Pemerintah Kota Cirebon itu menyajikan berbagai seni budaya khas ”Kota Wali” tersebut.

Ketika memasuki pintu utama mal, replika kereta kencana Singa Barong terpajang megah di atas karpet merah. Kereta Singa Barong merupakan paduan bentuk burung (paksi/burung), naga, dan gajah.

Burung dalam kereta itu mewakili Buraq, naga mewakili pengaruh Tiongkok, dan liman atau gajah simbol Ganesha dalam Hindu. Pengunjung pun antusias bertanya hingga berswafoto.

Sejak dibuka pada 15 Maret, sejumlah seni tradisi mengisi ruang mal yang hanya menjadi ruang lalu lalang dan belanja ini itu. Tari topeng, bunyi gamelan, tarling (gitar suling), sintren, bahkan tarian Angklung Bungko yang nyaris punah dapat disaksikan selama dua pekan.

Stan pameran ciri khas Cirebon, seperti lukisan kaca, gerabah Sitiwinangun, dan rotan, terpajang di lantai 1 mal. Di lantai 2 terdapat kuliner Cirebon, seperti nasi jamblang dan empal gentong.

”Anak muda sekarang lebih memilih pergi ke mal dibandingkan dengan ke keraton. Jadi, kenapa tidak menghadirkan suasana budaya tradisional Cirebon?” ujar General Manager Cirebon Super Blok Mall Gunadi Iksan.

Kirab Budaya Cirebon menjadi informasi awal bagi pengunjung untuk mengenal lebih dalam seni budaya Cirebon. Kirab yang kali pertama digelar itu tak dapat berlangsung tanpa kerja sama dengan pihak keraton.

”Ke depan, kami akan merutinkan acara ini, dua atau tiga kali setahun. Mal bukan untuk buang uang saja, melainkan bisa dimanfaatkan mendapatkan pengetahuan juga,” ujarnya.

Terlebih lagi, sejak beroperasinya Tol Cikopo-Palimanan pertengahan 2015, arus manusia dan barang kian bergeliat.

Pada hari biasa, sekitar 14.000 pengunjung memadati CSB Mall dan meningkat hingga 16.000 pada akhir pekan. Sebelum adanya Tol Cipali, hanya sekitar 8.000 pengunjung.

Meningkat

Jumlah wisatawan, baik Nusantara maupun mancanegara, yang berkunjung ke ”Kota Wali” juga meningkat. Menurut Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, pada tahun 2015 sekitar 580.000 orang mengunjungi Cirebon. Tahun 2013, sekitar 540.000 wisatawan.

”Ini model kolaborasi. Di mal yang menjadi simbol modernitas terdapat gamelan yang merupakan kesenian tradisional,” ujar Sultan Keraton Kasepuhan XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat.

Arief berharap, kegiatan seperti ini terus berlangsung dan berkembang dengan berbagai model.

Pihaknya bersama Kementerian Pariwisata bakal menggelar Festival Pesona Cirebon pada 31 Maret hingga 2 April.

M Rusydi (20), warga Makassar, mengaku baru kali pertama menemukan kebudayaan tradisional dipamerkan di mal. ”Ini sesuatu yang berbeda,” ucapnya.

Di tengah perkembangan zaman yang ditandai oleh ledakan teknologi digital, pelestarian kebudayaan kian mendapat tantangan, terutama karena generasi milenial lebih mencari hiburan modern ketimbang seni tradisional. Termasuk serbuan makanan dari industri modern yang membanjiri pasar-pasar ritel ataupun pusat jajanan.

Namun, bagi Ayu Widianti (30) dan Hanifah (38), perubahan zaman itu justru peluang. Pembuat kue tradisional khas Cirebon—atom kocir atau tomcir—ini memasarkan hasil karyanya lewat daring (online) selain melalui Warung Tomcir di kawasan Jalan Pemuda, Cirebon.

Di Yogyakarta, kue tomcir dikenal sebagai bakpia. Karena itu, dalam bungkus kertas tebal berwarna coklat, terdapat tulisan ”Atom Kocir, Bakpia’e Wong Cerbon, Mbledug Rasae!”

Tomcir, yang juga ikut mengisi stan pameran Kirab Budaya Cirebon, diklaim Hanifah sebagai bakpia pertama di Indonesia dengan isi lumer.

Sejak dibuat oleh Ayu pada 2014, kue itu sudah terjual lebih dari 60.000 pak ke seluruh Nusantara selain ke Singapura, Korea, dan Belanda.

”Kami sudah membuat lebih dari 11 varian rasa, mulai dari orisinal, cokelat, stroberi, hingga durian,” tutur Ayu. Satu pak berisi lima tomcir dijual dengan harga Rp 19.000.

Indonesia mengenal bakpia sekitar abad ke-11 yang dibawa oleh bangsa Tiongkok karena kue itu merupakan salah satu masakan populer orang Tionghoa. Istilah bakpia sendiri berasal dari dialek Hokkian, yaitu bak yang berarti daging dan pia artinya kue.

Hubungan sejarah Tiongkok dan Cirebon sangat erat. Pada abad ke-14, Laksamana Ceng Ho mendarat di Cirebon dengan 350 pasukannya.

Pada abad ke-15, Cirebon menjadi jalur perdagangan sutra dunia dari Persia, India, dan Tiongkok. Salah satu istri Sunan Gunung Jati Cirebon, yaitu Putri Tiongkok Ong Tien, peninggalannya ada di Cirebon.

Copyright 2009 Simplex Celebs All rights reserved Designed by SimplexDesign