Festival Gunungan 2016, Kolaborasi Budaya Tradisional dan Kekinian

Parahyangan, Jabar - Sebagian besar dari kita mengenal wayang secara tradisional saja, padahal ada ratusan bahkan mungkin ribuan jenis wayang di Indonesia yang muncul sejak lama dan sudah diperbarui menyesuaikan kondisi zaman terkini.

Upaya mengangkat wayang banyak dilakukan, baik oleh seniman sendiri, hingga melalui program rutin yang dilakukan pemerintah atau perusahaan swasta yang peduli dengan keagungan budaya bangsa. Seperti halnya dengan event tahunan yang selalu berlangsung di areal Kota Baru Parahyangan Bandung Barat, Jawa Barat (Jabar). Komplek perumahan elit ini setiap tahun menyelenggarakan sebuah festival wayang berkelas internasional.

Seperti tahun ini, pekan lalu, Sabtu dan Minggu (7 – 8 Mei) berlangsung Gunungan International Mask and Puppets Festival 2016, yang notabene event ke lima tahun ini.

Memang diperlukan energi besar bagi para pelaku seni wayang ini untuk tetap rutin menyelenggarakan festival tersebut. Apalagi acara ini melibatkan puluhan bahkan ratusan talent, dalang dan artis di beberapa kota di Indonesia, plus pelaku wayang internasional atau sering disebut puppet. Tahun ini yang datang berasal dari Prancis.

Direktur Festival Gunungan Iman Nur Adi mengatakan festival ini adalah arena silaturahim sekaligus pesta bagi para penggiat, peminat dan penikmat kesenian topeng dan wayang.

“Event ini kegiatan tahunan. Sebuah kolaborasi Kota Baru Parahyangan, King Entertainment dan Tatali News Cooperation. Pengikatnya adalah langkah untuk melestarikan kebudayaan topeng dan wayang. Kedua hal ini menjadi kekayaan Indonesia yang sangat tinggi nilainya,” ujarnya.

Setiap tahun tema acara berbeda. Tahun ini Festival Gunungan menghadirkan sosok Pak Raden dengan para bonekanya, si Unyil dan kawan-kawan. Tribut to Pak Raden, menjadi tema event besar ini.

Sesuai tema, penampilan boneka si Unyil dan kawan-kawan menjadi hiburan khusus yang disuguhkan bagi anak-anak. Namun dalam perjalanan acara, bukan hanya anak-anak yang mengapresiasi lakon si Unyil, orang tua dan rombongan keluarga ikut menikmati sajian langsung cerita si Unyil.

Mendapatkan tempat pentas di Exhibition Hall, lakon si Unyil memainkan empat cerita yang akrab dengan kehidupan keseharian plus cerita dongeng rakyat. Misalnya saat menampilkan cerita Putri Buruk Perangai, cerita dongeng rakyat ini secara langsung memberikan pelajaran, khususnya anak-anak untuk menjadi anak yang baik dan menghormati orang yang lebih tua.

Selain si Unyil, menyesuaikan tema tahun ini, hadir pula boneka Susan. Ria Enes yang bernama asli Wiwik Suryaningsih menjadi magnet lain dari pagelaran tersebut. Ria Enes dan Susan tampil centil dua kali pada Minggu. Banyolan saling bersahutan antara Ria Enes dan Susan sering mengundang tawa dari anak-anak yang mengerubungi panggung kecil, tempat mereka tampil.

Berlangsung di ruang pameran, Ria menyajikan dongeng sarat pesan moral di depan puluhan anak dan orang dewasa yang datang.

Pada penampilan pertama, Minggu siang, Ria dan Susan yang kocak mendongengkan kisah tentang sapi yang hendak dimakan harimau, padahal sapi sudah menolong harimau dari impitan batang pohon. Tetapi sapi kemudian selamat karena kancil menolongnya. Harimau mengikuti rekonstruksi yang disarankan kancil sehingga dia terimpit pohon kembali.

“Pesan dari dongeng ini adalah kancil bukan hewan yang culas dan curang seperti yang suka disebut si Kancil anak nakal. Dengan menolong sapi, kancil juga adil, cerdik, dan bijaksana,” kata Ria. tgh/R-1

Penonton Berpindah-pindah

Ada dua panggung outdoor yang menjadi lokasi seniman wayang tampil di event Festival Gunungan tersebut. Panggung Bale dan Panggung Pare. Lokasinya berdekatan, agar memudahkan penonton untuk berpindah dari panggung satu ke panggung lainnya. Di sini, talent tampil dengan jadwal yang beriringan antara panggung satu dengan lainnya.

Jadi, penampilan wayang di Panggung Bale baru akan dimulai setelah penampilan wayang di Panggung Pare selesai. Penonton secara sukarela “digiring” untuk menonton berpindah-pindah.

Di Panggung Bale , pada hari pertama, tampil Wayang Dusun, Topeng Malangan dan Ronggeng Gunung BI Raspi. Sementara di Panggung lainnya , menampilkan Wayang Urban Pewarta Bandung dan Raja-Kelod, wayang dari Bali. Usai penampilan Wayang Dusun, penonton yang semakin malam semakin ramai, mulai memenuhi panggung Wayang Urban Pewarta Bandung. Mengambil tema Cepot Superhero, para wartawan yang sama sekali belum pernah tampil dalam drama atau wayang orang “nekat” unjuk gigi bersama penampilan Dalang Asep yang mengkolaborasikannya dengan wayang golek.

Dilanjutkan dengan penampilan artis wayang dari Malang, Jawa Timur yang membawakan Topeng Malangan atau Malang Dance. Penampilan puncak hari pertama ditutup dengan penampilan Ronggeng Gunung Bi Raspi dari Banjar. Ronggeng gunung ini menjadi penampilan langka, sebab hanya di acara khusus saja bisa ditampilkan. Selain itu pelaku seni ronggeng ini pun sudah terancam punah. tgh/R-1

Seniman Prancis Ambil Bagian

Ada dua penampil dari Prancis yang menarik perhatian penonton. Pada hari pertama, seniman Prancis Les Remouleurs membawakan Wayang Layang (L’ Oiseu /The Bird). Kelompok teater kontemporer ternama asal Prancis kembali ke Indonesia dan berkolaborasi dengan sejumlah seniman Indonesia menampilkan pertunjukan unik. Melalui burung layanglayang besar dengan lebar 8 meter yang diterbangkan belasan balon gas, kelompok teater ini berhasil mewarnai langit malam di acara Festival Gunungan itu.

Layang-layang itu menjadi layar besar yang ditembak dengan proyeksi gambar hasil karya seniman Prancis tersebut. Tarian sayapnya lemah gemulai diiringi alunan musik dari grup Senyawa, menjadi tontonan menarik bagi pengunjung.

Penampil Prancis lainnya adalah kelompok Compagnie par Terre dengan tarian hip hop yang menutup Festival Gunungan 2016.

Hentakan suara rancak perkusi yang ritmis mengiringi tarian yang dibawakan Sonia Bel Hadj Brahim, Magali Duclos, Linda Hayford, dan Valentine Nagara-Ramos. Selama hampir 60 menit, ratusan penonton dibuat kagum dengan kelincahan serta teknik menari patah-patah. Kemampuan individu para penari berkolaborasi harmonis dengan memanfaatkan ruang dan teknik.

Tarian yang disajikan terkesan liar dan tak terikat pakem gerakan yang disajikan koreografer Anne Nguyen mencoba membenturkan dua cabang tarian yaitu gerakan breaking yang frontal dan patahan popping yang bebas. Hasilnya, performa tari hip hop yang bisa diinterpretasikan dengan berbagai makna.

Copyright 2009 Simplex Celebs All rights reserved Designed by SimplexDesign