Seminar tentang Saprahan: Menggali Etika Lestarikan Budaya

Pontianak, Kalbar - Tradisi makan bersama keluarga mulai memudar. Makan bersama antara orang tua dengan anak jarang dilakukan akibat kesibukan masing-masing.

Padahal makan bersama dalam sebuah keluarga itu sangat penting. Paling tidak sekali dalam sehari duduk makan bersama-sama sehingga bisa terjalin komunikasi yang baik dengan anak-anak sekaligus mengontrol aktivitas mereka selama sehari.

Latar belakang itulah anak-anak juga harus dikenalkan dengan adat budaya yang ada di Kota Pontianak, salah satunya budaya saprahan.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pontianak menggelar Seminar Saprahan dengan tema ‘Menggali Etika Saprahan Budaya Dipertahankan’ di Aula rumah Dinas Wakil Wali Kota Pontianak, Selasa (03/05/2016).

Seminar ini diikuti 100 peserta dari berbagai sekolah negeri maupun swasta setingkat SMA/SMK. Kepala Disbudpar Kota Pontianak, Hilfira Hamid menjelaskan, banyak filosofi yang terkandung dalam budaya makan saprahan.

Dari sisi etika yakni menghormati orang yang lebih tua, menghargai pimpinan atau orang yang dihormati. Selain itu juga adanya rasa kekeluargaan dan kebersamaan menyatu dalam tradisi saprahan.

“Makanan yang sama-sama dinikmati. Artinya, dengan makan saprahan ini istilahnya duduk sama-sama rendah, berdiri sama-sama tinggi,” ujarnya.

Generasi kini sudah mulai sedikit yang mengetahui budaya yang dimiliki Kota Pontianak. Bahkan, adat etika di meja makan atau table mannersaja sudah banyak ditinggalkan.

Dalam saprahan, terkandung bagaimana bersikap sopan saat menikmati sajian atau hidangan makanan dalam sebuah acara.

“Saprahan itu diajarkan bagaimana sikap duduk yang baik, di mana kaum pria duduk bersila sedangkan kaum wanita duduk berselimpuh,” jelasnya.

Untuk melestarikan budaya saprahan di kalangan masyarakat serta memperkenalkan ke dunia luar sebagai aset kekayaan budaya yang dimiliki Pontianak, pihaknya rutin menggelar Festival Saprahan dalam peringatan Hari Jadi Kota Pontianak setiap tahunnya.

Pesertanya kader-kader PKK di kelurahan dan kecamatan se-Kota Pontianak. Selain itu, mulai tahun ini, pihaknya juga akan menggelar festival serupa tingkat pelajar SMA/SMK bulan Agustus mendatang.

Para guru atau tenaga pendidik muatan lokal (mulok) yang diundang dalam seminar ini, juga akan diberikan technical meeting sebagai persiapan menjelang lomba atau festival saprahan mendatang.

“Kita mengundang guru-guru mulok supaya mereka menyampaikan kepada siswa-siswanya. Mudah-mudahan melalui seminar ini, anak-anak kita mengetahui etika makan dan akan lebih tertib serta lebih mengenal budaya kita,” tukasnya.

-

Arsip Blog

Recent Posts