Batik Motif Jambu Mete Belum Membumi di Daerah Sendiri, Ini Penyebabnya

Wonogiri, Jateng - Batik wonogiren atau batik khas Wonogiri dinilai belum membumi di daerah sendiri. Perlu ada upaya lebih untuk mengenalkannya agar masyarakat mencintai dan akhirnya merasa memiliki produk budaya Wonogiri itu.

Kasi Seni Budaya Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Wonogiri, Eko Sunarsono, Kamis (18/8/2016), mengatakan batik wonogiren belum memasyarakat di Wonogiri. Indikatornya belum banyak warga yang merasa memiliki produk budaya asli Wonogiri itu. Alhasil, mereka enggan mengenakannya.

Ada beberapa faktor penyebabnya. Faktor utama yakni rendahnya apresiasi atau penghargaan masyarakat terhadap nilai budaya yang terkandung dalam batik wonogiren. Eko meyakini jika apresiasi tinggi dengan sendirinya masyarakat Wonogiri senang hati membelinya.

“Sudah ada yang kenal [batik wonogiren] tapi belum banyak. Apresiasi masyarakat masih sangat kurang. Selain itu, harga yang relatif tinggi berkontribusi membuat batik wonogiren kurang diminati. Harga terendahnya Rp200.000-an. Akibatnya batik wonogiren hanya bisa dijangkau kalangan menengah ke atas. Harganya tinggi karena produksinya masih tradisional,” ucap Eko.

Dia menjelaskan semula batik wonogiren berkiblat pada batik Keraton Solo. Motifnya tak jauh beda dengan motif batik Solo. Seiring berjalannya waktu batik yang dibuat pembatik asal Wonogiri mempunyai khas Wonogiri. Pembedanya yakni motif pecahan yang sangat banyak. Namun, sejatinya motif pecahan tersebut terbentuk tanpa sengaja.

“Dahulu pembatik dari Wonogiri kalau mau nyoga [mewarnai] ke Solo menggunakan sarana sepeda onthel. Di jalan, batik yang dibawa pakai sepeda itu selalu bergerak-gerak hingga akhirnya lilin di kain pecah dan membekas di area sekitarnya. Setelah diproduksi kain ada motif pecahan yang sangat banyak,” terang Eko.

Sejak 2000an pegiat batik di Wonogiri mulai mengembangkannya. Sejak saat itu batik wonogiren berciri motif daun singkong, jambu mete, air, gajah, dan sebagainya. Motif itu aplikasi dari benda-benda berciri Wonogiri yang dianggap bisa merepresentasikan Wonogiri.

Marketing Galeri Batik Parnaraya Sidoharjo, Wonogiri, Devi Aryanti, sependapat. Menurut dia batik wonogiren belum bisa membumi di daerah sendiri karena masyarakat belum mengenalnya. Perlu ada upaya lebih yang berkelanjutan agar batik wonogiren dikenal masyarakat Wonogiri secara luas. Setelah mengenal masyarakat akan mencintai dan merasa memiliki. Sampai akhirnya masyarakat akan bangga mengenakan batik yang 100 persen Wonogiri.

“Pemkab, pengusaha, dan masyarakat harus sama-sama mengangkat. Batik wonogiren juga diminati warga daerah lain. Banyak yang tanya tentangnya. Mereka minat kok. Sementara ini orang yang tertarik hanya kalangan menengah-atas, karena harganya memang mahal, Rp150.000 lebih,” ulas Devi.

Copyright 2009 Simplex Celebs All rights reserved Designed by SimplexDesign