Dosen Inalco Bahas Kemolekan Bahasa Melayu

Pekanbaru, Riau - Kemolekan Bahasa Melayu menjadi perbincangan yang menarik di kuliah umum yang ditaja oleh Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unilak bekerja sama dengan HISKI wialyah Riau dan Yayasan Sagang, (9/9) lalu. Kegiatan yang dipusatkan di Ruang Seminar FIB Unilak itu menghadirkan pembicara yang tak asing lagi di Indonesia sebagai kritikus sastra, Prof.Dr. Maman S. Mahayana dari Jakarta dan penerjamah karya sastra Indonesia serta dosen INALCO-Paris Dr. Etienne Naviau.

Maman S Mahayana mengatakan, beruntunglah bahasa Melayu diangkat sebagai Bahasa Indonesia karena jelas dan dapat dipelajari bahwa dari segi tata bahasa, ianya paling mudah dipelajari, memiliki karakteristik bahasa yang mudah dipahami semua pihak. Pelajaran tata bahasa Melayu itulah merupakan rujukan tata bahasa Indonesia termasuklah di dalamnya linugistik dan lain sebagainya.

Hal itu kemudian seharusnya menjadi modal besar, modal kebudayaan yang dimiliki yang tidak semua dimiliki di tempat lain. Namun kemudian pada sekitar tahun 1896 terjadi pemberlakuan huruf latin di Nusantara oleh bangsa Belanda. Maman mengatakan ada sesuatu yang kemudian terasa diberhentikan, atau dikucilkan yaitu kebesaran Melayu itu sendiri. “Dan menjadi tugas masyarakat terutama mahasiswa Melayu-Riau untuk membangkitkan dan mengembalikan semula kejayaan dan kebesaran itu,’’ ujar Maman.

Disebutkan contoh manuskrip seperti Bustanul Katibin karya Raja Ali Haji yang merupakan tata bahasa pertama yang di tulis dalam bahasa Arab Melayu di Indonesia. Benda dan apa yang termaktub di dalamnya patut dikuasai dijaga, karena ia adalah aset kebudayaan Melayu itu sendiri, terutama tata bahasa. Aset lainnya seperti pantang larang, cerita rakyat, puisi, pantun, dan syair. “Yang kita kesalkan adalah pada kurikulum Nasional, puisi, syair, folklor Melayu, pantun dan ssebagainya, tidak termasuk dalam pembelajaran dan pengajaran di Indonesia,” jelas Maman kesal.

Memang diakui Maman, bangsa Indonesia merupakan bangsa terbuka, tidak eksklusif. Dengan begitu terjadilah perkembangan di dalam masyarakat termasuk di dalam bahasa. Hari ini perkembangannya sangat pesat sekali. Mulai dari kosa kata bahasa daerah dan bahasa asing sehingga tata bahasa Indonesia sekarang dalam KBBI tidak lagi sepenuhnya dari bahasa Melayu. Namun, akar bahasa Indonesia tetap bahasa Melayu.

Kemolekan Bahasa Melayu juga diakui oleh Dr. Entine Naviau dari Paris ini. Katanya Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, sehingga kemudian dipilih sebagai bahasa Nasional. Kemolekan bahasa Melayu itu lebih kepada keterbukaan dan kemudahan dalam mempelajarinya. Sehingga suku Jawa yang dominan di Nusantara ini tidak mampu menyaingi kemudahan yang ditemui dalam bahasa Melayu. “Sudah takdir bahasa Indonesia itu berasal dari Bahasa Melayu. Ada kekeliruan para pujangga sekarang yaitu menyebutkan Bahasa Indonesia berbeda dari Bahasa Melayu. Padahal sebagai akar, tidak ada perbedaan sama sekali.” ujar Etienne dengan logatnya.

Lebih jauh dijelaskan Etienne bahwa di Prancis pantun masih hidup karena ada tradisi terjemahan ke dalam bahasa perancis. Sehingga sampai sekarang masih ada penulis perancis yang menulis pantun, dengan bahasa Prancis. Sebagai orang yang mempelajari bahasa, Entine mengakui sangat tertarik dengan gaya soneta. “Dan sebagai pengajar, bagi saya, Indonesia dan Melayu sangat penting karena keduanya berkaitan,” jelasnya.

Dalam hal mencermati semua yang berkaitan dengan kebahasaan, Etienne akhirnya menyoroti berbagai genre seperti novel, cerpen, puisi, pantun, dan hal itu menjadi materi pengajaran di Prancis. Karena melalaui genre itu juga dapat didedahkan persoalan sejarah, politik, arkeologi dan lain sebagainya.

“Ketertarikan saya kepada bahasa Indonesia berawal dari sebuah puisi. Ketertarikan saya itu, berlanjut lebih jauh dan dalam lagi sehingga saya juga memiliki istri orang pribumi Indonesia. Dan saya katakan, bahwa mahasiswa di Prancis sangat suka dengan sastrawan Indonesia,” ujarnya yang disambut dengan tepukan oleh para perserta yang rata-rata para mahasiswa-mahasiswi FIB Unilak tersebut.

Copyright 2009 Simplex Celebs All rights reserved Designed by SimplexDesign