Kaimana, Eksotisme Alam Bahari

Oleh A Ponco Anggoro

Kan ku ingat selalu/ Kan kukenang selalu/ Senja indah/ Senja di Kaimana/Seiring surya/ Meredupkan sinar/ Dikau datang/ Ke hati berdebar….

Bukan tanpa alasan jika tahun 1960-an Alfian meromantiskan panorama Kaimana seperti penggalan lagu di atas. Keindahan alam bahari di bagian selatan Provinsi Papua Barat itu memang tak terbantahkan.

Keeksotisan Kaimana terbentang dari Pulau Venu di barat daya Kaimana hingga Teluk Triton di tenggara Kaimana.

Kaimana didiami komunitas yang beragam. Pendatang asal Pulau Jawa, Buton, Seram, dan peranakan China hidup rukun dengan warga asli yang terdiri atas delapan suku, yakni Mairasi, Koiwai, Irarutu, Madewana, Miereh, Kuripasai, Oboran, dan Kuri.

Kaimana yang luasnya 18.500 kilometer persegi dan didiami 42.488 jiwa penduduk menjanjikan beragam obyek wisata, yakni wisata alam, budaya, dan sejarah.

Bagi yang gemar menyelam, Selat Namatota dan Selat Iris di selatan Teluk Triton siap menyambut dengan segala pesona keindahan alam bawah laut. Di kedalaman 30 meter dari permukaan laut, Anda bisa menjelajah keasrian terumbu karang dan bercengkerama dengan aneka jenis satwa laut.

Conservation International Indonesia (CII) mencatat populasi ikan di daerah ini mencapai 228 ton per kilometer persegi, tertinggi di Asia Tenggara.

”Keindahan ikan flasher (Paracellinus nursalim), yang berukuran mungil dan berwarna-warni, bisa dilihat saat menyelam di Kaimana,” kata Andi Yasser Fauzan, Marine Conservation and Science Specialist CII di Kaimana.

Bagi yang tak menyelam, pantai berpasir putih, yang dinaungi pohon kelapa di sela tebing-tebing cadas di Selat Namatota, bisa meneduhkan pikiran.

Di daerah Faranggara dan Miwara di Teluk Triton, kita disuguhi pemandangan berupa hamparan laut dihiasi pulau-pulau kecil bertebing pipih tertutup pepohonan lebat. Burung endemik, seperti masariku berwarna putih dan burung rangkong warna-warni yang terbang bebas, menyuguhkan hiburan tersendiri.

Saat cuaca baik dan laut tenang, paus bryde dan lumba-lumba akan muncul di Selat Namatota. Jika beruntung, bisa terlihat ikan mangiwang (Hemiscyllium henryi) yang bernama lokal hiu bodoh karena berjalan dengan sirip. Ikan itu tidak diburu sehingga kerap ditemui berenang dekat perahu nelayan.

Bagi peminat sejarah, ada aneka ragam lukisan manusia prasejarah di tebing-tebing cadas di Selat Namatota. Gambar wajah, matahari, dan cap telapak tangan merupakan bagian dari ribuan lukisan yang terukir di ceruk-ceruk cadas sepanjang 1 kilometer.

Gambar-gambar itu diperkirakan dibuat oleh manusia Austronesia sekitar 3.500 tahun silam saat mereka bermigrasi dari Taiwan ke Filipina, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Di Desa Lobo, Teluk Triton, Distrik Kaimana, ada tugu ”Fort du Bus” yang menandai benteng dan pos administrasi Hindia Belanda yang bernama Fort du Bus yang dibangun pada 1828.

Benteng ini ditinggalkan tahun 1835 saat wabah malaria membunuh sebagian besar tentara Belanda.

Adapun Pulau Venu menjadi tempat penyu bertelur, baik itu jenis penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), maupun penyu belimbing (Dermochelys coriacea).

Hukum adat

Masyarakat pesisir Kaimana menjaga kelestarian alam secara turun-temurun, antara lain lewat penerapan sasi.

Sasi adalah hukum adat yang melarang penangkapan ikan atau hewan laut lain, seperti kerang, siput batulaga, dan teripang, di area tempat mereka berkembang biak. Sasi diterapkan dalam jangka waktu tertentu, setiap enam bulan, satu tahun, atau dua tahun.

Sasi diawali dengan upacara adat. Pengikatan anyaman daun muda kelapa di sebatang kayu dan ditaruh di lokasi menjadi tanda sasi diberlakukan.

”Dengan cara itu, penangkapan sejumlah jenis ikan bisa dibatasi. Ikan punya waktu untuk berkembang biak,” kata La Aga Samay (72), warga Desa Namatota di Pulau Namatota.

Jika melanggar sasi, orang harus membayar denda. Besarnya bisa sampai Rp 50 juta. Jika tidak, warga percaya si pelanggar bakal menderita penyakit yang sulit disembuhkan.

Selain sasi, ada sejumlah aturan untuk menjaga keanekaragaman hayati laut, misalnya nelayan harus memutus jaring yang tersangkut di terumbu karang. Warga paham terumbu karang merupakan tempat ikan berkembang biak. Merusak terumbu karang sama dengan menghancurkan sumber nafkah.

Saat menyelam guna menangkap lola (kerang) atau siput batulaga, nelayan biasa membawa kaleng bekas wadah susu untuk mengukur badan kedua jenis hewan laut itu. Jika ukurannya kurang dari lebar kaleng susu, mereka tidak akan mengambilnya.

Pemerintah Kabupaten Kaimana berupaya menjaga kelestarian alam dengan rencana penetapan kawasan konservasi laut dan daerah (KKLD). Tahun 2008, bupati mengeluarkan peraturan yang mencadangkan wilayah perairan Kaimana 4 mil dari garis pantai, seluas 597.747 hektar, sebagai langkah awal sebelum penetapan KKLD.

”Nantinya, daerah pencadangan KKLD akan dibagi minimal jadi tiga zona, yakni zona inti tempat ikan berpijah yang tidak boleh dieksploitasi, zona pemanfaatan terbatas, dan zona pemanfaatan bebas untuk eksploitasi,” kata Manajer Program CII Kaimana Thamrin Lamuasa.

Sayangnya, untuk menikmati Kaimana perlu dana tak sedikit. Untuk menjelajah Teluk Triton yang bisa ditempuh sekitar 1,5 jam dari Pelabuhan Kaimana, wisatawan harus menyewa long boat milik nelayan dengan biaya minimal Rp 2,5 juta. Dana lebih besar dibutuhkan untuk ke Pulau Venu yang waktu tempuhnya lima jam.

Harga tiket dari Ambon ke Kaimana Rp 1,6 juta. Kalau dari Makassar, tiketnya Rp 2,5 juta.

Sarana pendukung wisata juga masih minim. Penginapan hanya ada empat buah dan peralatan selam harus bawa sendiri.

”Kami masih memetakan obyek wisata serta sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Kantor pariwisata baru tiga bulan berdiri,” kata Kepala Kantor Kebudayaan dan Pariwisata Kaimana, Donesius Murmana.

Namun, turis-turis asing telah berdatangan. ”Umumnya, pada September sampai Maret saat lautan teduh,” kata Pelaksana Harian Kantor Pelabuhan Kaimana, Thimus M Solossa.

Pemerintah perlu bahu-membahu dengan investor swasta untuk segera membenahi sarana dan prasarana wisata sebelum pesona Kaimana dan minat wisatawan keburu pudar.