Tampilkan postingan dengan label Banda Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banda Aceh. Tampilkan semua postingan

Tangloeng Dance Festival III Dibuka

Banda Aceh, NAD - Lembaga Seulanga Aceh bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, akan melaksanakan Tangloeng Dance Festival (TDF) III sejak 21-22 Oktober.

Tangloeng Dance Festival III adalah sebuah event yang diperuntukkan bagi para seniman yang ada di seluruh Aceh, untuk berekspresi melalui musik, tari, dan vokal.

Event rutin Lembaga Seulanga tersebut akan dibuka malam nanti, Jumat (21/10/2016) bertempat di Taman Seni Budaya Aceh sekira pukul 20.30 WIB.

Ketua Pelaksana Tangloeng Dance Festival III, Zulkifli, kepada Serambinews.com mengatakan, kegiatan ini akan melibatkan sepenuhnya sanggar/komunitas tari dan musik seluruh Aceh. "Tujuannya untuk pengembangan kreatifitas seniman muda Aceh, agar percaya diri dan cinta kepada kesenian tradisi Aceh," kata Zulkifli.

Selain itu katanya, juga untuk meningkatkan pemahaman filosofi dari seni dan budaya Aceh bagi kalangan generasi muda dan masyarakat Aceh pada umumnya.

"Semoga dengan Tangloeng Dance Festival III ini akan lahirnya karya-karya baru (musik dan tari) yang baru dan berkualitas. Ada banyak sanggar dan komunitas tari yang akan perfom nanti, silakan hadir, kegiatan ini terbuka untuk umum," pungkas Zulkifli.

KPK Terima 14 Kasus Korupsi di Aceh

Banda Aceh - Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) pada tahun 2007 sudah menerima sebanyak 14 kasus korupsi di sejumlah pejabat di instansi Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah kabupaten/kota, yang dilaporkan masyarakat.

Penasihat KPK, Suryohadi Djulianto, dalam acara diskusi dengan LSM pemerhati korupsi Aceh di Kantor SoRAK Banda Aceh, Selasa, mengatakan, ke-14 kasus korupsi itu merupakan hasil temuan LSM di lapangan yang dilaporkan ke Kantor KPK Perwakilan Aceh.

"Kita menerima setiap laporan masyarakat maupun LSM pemerhati korupsi. Setelah itu baru kita melakukan penyelidikan, apa benar yang dilaporkan masyarakat," jelas Suryohadi.

Ia mengatakan, kasus yang telah diterima itu sekarang masih dalam proses penyelidikan oleh pihak KPK, tapi karena terbatas tenaga penyelidikan dan tenaga penyidik menjadi suatu hambatan untuk menyelesaikan kasus tersebut.

"Tenaga di KPK belum mencukupi, seperti tenaga penyelidikan dan tenaga penyidik serta masih terbatasnya tenaga yang berkualitas," ujarnya.

Ia mengatakan, dengan terbatasnya tenaga ahli, banyak kasus korupsi yang seharusnya selesai cepat menjadi lama. "Bahkan sampai tiga tahun lebih," jelasnya.

Ketika ditanya unsur mana saja dari 14 kasus korupsi itu, Suryohadi mengatakan tidak berwenang untuk menginformasikan kasus korupsi itu, karena masih dalam penyelidikan.

Namun, saat berdiskusi, Suryohadi sempat mengatakan ke-14 kasus korupsi itu terlibat berbagai instansi, dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh-Nias yang menyalahgunakan anggaran APBD dan APBN.

Sementara itu, Miswar Fuadi, Koordinator SoRAK (Solidaritas Rakyat Anti Korupsi) Aceh, mengatakan, KPK Perwakilan Aceh belum memberikan tampak yang jelas terhadap kasus korupsi di Aceh.

"Eksen KPK Perwakilan Aceh yang ada hanya sosialisasi korupsi dan pendidikan pencegahan," ujarnya.

Menurutnya, KPK Perwakilan Aceh juga mempunyai hak untuk menyelidiki dan menindaklanjuti kasus korupsi yang ditemukan oleh berbagai elemen di Aceh.

Ia menambahkan, keberadaan KPK di Aceh perlu ditinjau ulang atau dibubarkan saja, karena keberadaannya di sini hanya sebagai pencitraan terhadap BRR Aceh-Nias.

Ia menjelaskan, dengan adanya KPK di Aceh seolah-olah tidak akan terjadi korupsi di tubuh BRR. "Namun kenyataannya tidak demikian," tutur Miswar.(*)

Sumber : http://www.antara.co.id/ Sabtu, 7 Juli 2007

Mau Lihat Koleksi Naskah Kuno? Yuk ke Pameran Museum Aceh

Banda Aceh, NAD - Museum Aceh di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) menggelar pameran temporer bertajuk ‘Naskah Kuno Warisan Intelektual, Tempo Dulu Orang Aceh Pintar’.

Pameran diselenggarakan selama tiga bulan dan memamerkan koleksi naskah kuno abad ke-16 dan 17.

“Ada paradigma baru yang memandang bahwa museum tidak lagi hanya menjadi tempat barang antik, seperti anggapan masyarakat umumnya. Tetapi museum harus terus berusaha untuk menjadi tempat di mana pengunjung dapat merasakan sesuatu suasana berbeda yang dapat dijumpai jika mereka berkunjung ke museum,” papar Kadisbuspar Aceh, Reza Fahlevi dalam kata sambutannya di Museum Aceh, Banda Aceh, Kamis (22/9/2016).

Menurut Reza, perkembangan inilah yang membuat museum berkembang menjadi tempat penelitian, komunikasi, dan rekreasi.

Pameran rutin kali ini membentangkan bukti sejarah kegemilangan Aceh tempo dulu.

Kerajaan Samudera Pase dan Kerajaan Aceh Darussalam adalah dua kerajaan Aceh yang mencapai kejayaannya dalam segala aspek.

Jejak cahaya Islam dua kerajaan memenuhi catatan intelektual yang lahir maupun yang singgah di Bumi Serambi Mekkah.

Kejayaan masa lalu mencapai puncaknya dalam rentang abad ke- 16 dan 17, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636).

Kepala Museum Aceh, Junaidah Hasnawati menjelaskan koleksi yang dipamerkan berupa naskah kuno dan lukisan kalirafi.

Adapun materi yanng dipamerkan berjumlah 63 koleksi yang terdiri atas 48 naskah dan 15 kaligrafi.

Sementara koleksi yang dipamerkan merupakan karya –karya besar milik Hamzah Fansury, Syamsuddin As-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniry atau Abdulrauf As-Singkili.

“Tempo dulu Aceh pernah berjaya. Hal ini bisa dilihat dari karya-karya ulama yang merupakan ahli filsafat dan agama. Ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu di atas kertas buatan Eropa. Pameran seperti ini penting agar generasi muda tahu sejarah dan penguatan identitas sebagai orang Aceh,” terang kolektor naskah kuno, Cek Midi.

Pameran temporer tersebut berlangsung mulai September – November mendatang. Pengunjung bisa datang setiap hari kerja, mulai pukul 8.30-16.00 WIB, kecuali Hari Senin tutup.

Beralamat di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah, Peuniti, Banda Aceh pameran ini terbuka untuk umum.

Nah! Bagi anda pegiat sejarah dan budaya atau penikmat wisata heritage, tidak salah lagi memasukkan pameran ini dalam daftar agenda.

Senandung Aceh Festival Rapai

Banda Aceh, NAD - Pertama kalinya, Festival Rapai Aceh Internasional digelar di Aceh. Acara berlangsung 26 – 30 Agutus 2016 ini mengambil tiga lokasi strategis di Banda Aceh, yaitu Taman Ratu Safiatuddin, Museum Tsunami, dan Taman Budaya.

Warga Banda Aceh yang haus hiburan, memenuhi halaman panggung utama Aceh International Rapai Festival 2016 di arena Pekan Kebudayaan Aceh (PKA), Taman Ratu Safiatuddin. Meski di musim penghujan, penonton tetap membludak.

Pertunjukan kolaborasi rapai yang melibatkan 150 seniman lokal memukau pengunjung dan tamu. Kemeriahan semakin menggema saat tampilnya bintang tamu dari Sumatera Barat, Palito Nyalo, yang membawakan musik tradisional Tambua.

Para penonton dibuat tertawa oleh penampilan berikutnya dari tim Absolutely Thai asal Thailand. Sekelompok pemusik dari negeri rumpun Melayu ini memperkenalkan musik tradisional mereka, pong lang, yang menggunakan alat musik tempurung kelapa.

Aceh International Rapai Festival 2016 di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh berlangsung pada 26 – 30 Agutus 2016. (Photo Pikiran Merdeka/Oviyandi Emnur)

Aceh Rapai Festival menampilkan pemusik lokal, nusantara, dan mancanegara. Festival ini juga dirangkai dalam ragam kegiatan seperti konser perkusi, pameran seni, budaya, dan kuliner, seminar dan coaching clinic rapai, dan city tour.

Aceh International Rapai Festival 2016 Banda Aceh (Photo Pikiran

Aceh International Rapai Festival 2016 di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh berlangsung pada 26 – 30 Agutus 2016. (Photo Pikiran Merdeka/Oviyandi Emnur)

Dinas Kebudayaan dan Pariwasata Aceh yang menyelenggarakan even tersebut menargetkan Aceh layak mendapat predikat destinasi wisata budaya ramah wisatawan terbaik dunia. Even itu diharapkan dapat menarik minat wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung ke Aceh.[

Penyelesaian Korupsi Rehab Dan Rekon Belum Jelas

Banda Aceh - Gerakan Anti Korupsi (Gerak) Aceh menilai masih banyak proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang diduga sarat korupsi dan telah dilaporkan kepada aparat penegak hukum namun hingga kini belum jelas penyelesaiannya.

“Masih banyak indikasi korupsi dalam proses rehab/rekon belum diselesaikan meskipun kasusnya telah ditangani oleh aparat hukum,” kata Bambang Antariksa dari Gerak di Banda Aceh, Selasa (30/01).

Pernyataan tersebut diungkapkan pada bedah kasus tetang menguak isu-isu korupsi di Aceh yang diselenggarakan Aceh Recovery Forum (ARF) di Banda Aceh.

Dia mengatakan, hingga saat ini pertanggungjawaban pengelolaan dana tanggap darurat pasca musibah gempa bumi dan tsunami 2004 belum jelas karena rendahnya transparansi dan akuntabilitas pengelola dana.

Pada masa rehab/rekon di bawah Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias kasus korupsi disinyalir semakin marak dan menurut dia di sinilah Satuan Anti Korupsi (SAK) BRR harus menjadi unit anti korupsi yang independen.

“SAK BRR harus independen, mempunyai kewenangn luas dan tidak berada di bawah BRR namun berada pada komando Badan Pengawas BRR,” katanya.

Beberapa kasus yang telah dilaporkan Gerak kepada aparat hukum di antaranya pengadaan kapal ikan fiktif untuk nelayan di Sabang, mark up pembangunan barak pengungsi tsunami di Aceh.

Kasus lain yang hingga saat ini penyelesaiannya dilaporkan belum jelas yaitu penyimpangan penggunaan anggaran APBD Kabupaten Aceh besar 2004, penyimpangan pengelolaan keuangan pemkab Aceh Barat.

Penyimpangan dana pengembangan rawa dan saluran pembangunan Lhok Geulumpang Kabupaten Nagan Raya, penggunaan dana children center pada Menteri Pemberdayaan perempuan dan penyelewengan keuangan daerah pada pos belanja tak terduga di Kabupaten Pidie.

Kasus kas bon Pemkab Pidie, kasus penyimpangan penyaluran jatah hidup dan mark up jumlah pengungsi di Kabupaten Simeulue serta mark up pencetakan buku BRR NAD-Nias juga hingga saat ini penyelesaiannya belum jelas.

Menurut dia, timbulnya permasalahan dalam pengelolaan dana tanggap darurat disebabkan penanganan yang tidak profesional, lemahnya korodinasi, tidak ada standar minimum dan rendahnya transparansi serta akuntabilitas.

Sementara data dari SAK BRR menyebutkan terdapat 1.076 pengaduan denghan jumlah lebih dari 500 kasus sejak 13 September 2005 sampai 31 Desember 2006.

Sebanyak 62 kasus berdasarkan laporan masyarakat, 19 kasus melalui penelitian mendalam dan 44 kasus lainnya dari audit investigasi telah dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (Ant)

Sumber: Nias Online: 31 Januari 2007

Utusan 5 Negara Meriahkan "Aceh International Rapa’i Festival 2016"

Banda Aceh, NAD - Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh‎ akan menggelar even internasional bertema "Aceh International Rapa'i Festival 2016". Kegiatan ini akan dibukan besok di Taman Sulthanah Safiatuddin, Lampriet, Kuta Alam, Banda Aceh, Jumat (26/8/2016), dan akan berlangsung lima hari di tiga lokasi.

Kepala Disbudpar Provinsi Aceh, Drs Reza Fahlevi, M.Si mengatakan, even ini memiliki serangkaian‎ kegiatan menarik dari dalam maupun luar negeri.

"Kegiatan menarik dan antraktif dari penyelenggaraan even ini adalah kehadiran peserta dari beberapa provinsi di Tanah Air yang memiliki jenis musik yang serupa, seperti dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Makassar (Sulawesi Selatan) dan Surabaya (Jawa Timur)," ujar Reza Pahlevi.

Tak hayanya itu tambah Reza Pahlevi, artis nasional dan internasional juga akan memeriahkan festival bergengsi ini, seperti Daood Debu, Rafli Kande, Gilang Ramadhan, Tompi, Moritza Taher dan Steve Thornton.

"Even berskala internasional ini juga menampilkan kontingen dari lima negara seperti Ogawa Daisuke (Jepang), Absolutely Thai (Thailand), Miladomus (China), Jahanara (Iran) dan Fieldflyer (Malaysia). Mereka akan menunjukkan talentanya di Aceh sebagai wakil perkusi dunia," tambah Reza.

Sementara itu penampilan dari Aceh akan menampilkan Rapai Pasee (Raja Buwah), Rapai Uroh Duek (Lhokseumawe), Rapai Pulot Grimpheng Bireuen (Baloh Nanggroe), Garapan Seni Kolosal Rapai Aceh, Rapai Dabus (B'Jal), Rapai Hadrah (Cut Nyak Dhien), Rapai Geleng (Bujang Juara).

Kemudian, Komunitas Musik Aceh, Rapai Tuha, Rapai Meseuniya-Bur'am Banda Aceh, Musik Gambus, Aceh Music Performance, Islamic Art Performing, Music Performing (Indonesian Drummer Aceh feat Gilang Ramadhan), Aceh Art Performing, Seni Tutur Aceh, Gendang Melayu, Sanggar Aneuk Nanggroe dan banyak lainnya.

"Even ini juga dimeriahkan dengan kegiatan pendukung menarik lainnya, seperti seminar dan music clinic yang dipandu oleh talenta artis nasional dan luar negeri serta talenta lokal, seperti Syamsuddin Djalil, Tgk Usman Kandang dan Irwansyah Harahap," jelasnya.

- See more at: http://www.gosumbar.com/berita/baca/2016/08/25/utusan-5-negara-meriahkan-aceh-international-rapai-festival-2016#sthash.Eo4NIRId.jVkqzjwQ.dpuf

Ribuan Siswa Ikut Lomba Karnaval di Banda Aceh

Banda Aceh, NAD - Ribuan peserta yang terdiri atas pelajar, pegawai pemerintahan, dan perwakilan instansi swasta, Kamis (18/8) mengikuti lomba pawai budaya dan karnaval mobil hias, dengan mengambil garis start dan finish di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh.

Para peserta pawai itu dilepas Wali Kota Banda Aceh, Hj Illiza Sa’aduddin Djamal. Sedangkan rute yang ditempuh pseerta yaitu, dari Blangpadang ke Pendapa Gubernur, Masjid Raya Baiturrahman, ke Simpang Lima, Peunayong, Keudah, Pasar Aceh dan kembali ke Blangpadang. Sedangkan karnaval mobil hias melewati rute Pendapa Gubernur, Masjid Raya Baiturahman, Simpang Lima, Simpang Jambo Tape, Simpang Mesra dan kembali lagi ke Blangpadang dengan rute yang sama.

Menurut panitia, sebanyak 4.700 peserta berpartisipasi dalam pawai budaya. Mereka merupakan pelajar mulai tingkat SD/MI hingga SMA/MA, serta instansi pemerintah, TNI, Polri, dan sejumlah komunitas yang ada di Banda Aceh. Selain itu, karnaval mobil hias diikuti oleh 80 kendaraan, sebagian kendaraan dihiasi berbentuk rumah adat yang ada di Indonesia.

Sementara di Kota Sabang pawai memperingati HUT ke-71 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kamis kemarin juga diikuti ribuan siswa dari berbagai jenjang pendidikan di Sabang. Pawai itu dilepas oleh Wali Kota Sabang, Zulkifli H Adam di depan pendapa di Jalan Ponegoro.

Bersamaan dengan penglepasan peserta pawai itu Forkopimda Sabang juga melepas lebih kurang 1.000 ekor burung dalam rangka pelestarian alam. Dalam acara itu dihadiri Sekdako Sofyan Adam SH, Ketua Pengadilan Negeri Sabang, Noor Ichwan Iclas Ria Adha SH, Dandim 0112 Letkol Inf Parsaoran Sirait, Kepala Rutan kelas II B Sabang, Tri Budi H, serta sejumlah unsur Forkopimda lainnya.

Pawai budaya itu mengambil rute dengan mengitari Jalan Tektok-Jalan Perdagangan-Jalan Teuku Umar, Rumah Sakit Umum dan finish Sabang Fair. Selain mengenakan pakaian adat dan beragam lainnya. Sejumlah siswa lainnya juga terlihat mengenakan pakaian ala pejuang kemerdekaan, loreng tentara, polisi, dan dokter.

Ada Pacuan Kuda Tradisional dari Tanah Gayo

Banda Aceh - Semarak Hari Kemerdekaan ke-71 RI dimeriahkan dengan berbagai cara.
Dari dataran tinggi Gayo, atraksi pacuan kuda tradisional menjadi perhelatan 'wajib' yang banyak dinanti-nanti.
Diikuti oleh peserta dari tiga kabupaten yaitu Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.
Daerah yang dikenal sebagai 'tiga bersaudara' karena memiliki kesamaan adat, suku, budaya, dan alam.
Atraksi pacuan kuda tanpa pelana itu sudah masuk dalam kalender event wisata provinsi paling barat Indonesia itu.
Antusiasme warga terlihat dari membludaknya penonton yang menjubeli dua tribun di lapangan dan Stadion Buntul Nege Blangsere, Kabupaten Gayo Lues (Galus), Minggu (14/8/2016).
Pada hari penutupan, seribuan pengunjung memadati lapangan Buntul Nege Blangsere yang dijadikan sebagai arena pacuan.

Hal itu berbanding terbalik dengan hari pertama sampai ke empat, dimana pengunjung sepi, kecuali puluhan pengunjung bersama para pejoki dan ofisial, selain kuda pacu dari masing-masing tim.
"Penonton pacuan kuda di Galus sesak pada hari terakhir dan penutupan itu. Bahkan warga berduyun duyun menyaksikan event tersebut mulai dari pelosok desa, baik itu anak anak hingga orang tua," kata Burnudin dibenarkan pengunjung lainnya.
Pacuan kuda ini melibatkan 132 ekor kuda dari tiga kabupaten.
Dari Gayo Lues ada 73 ekor kuda, dari Bener Meriah 41 ekor kuda, dan dari Aceh Tengah 18
ekor kuda.
Para joki yang menunggangi kuda tanpa pelana itu memperebutkan hadiah Rp 216 juta.
Tidak seperti perhelatan serupa sebelumnya yang yang menempatkan Aceh Tengah sebagai juru kunci, kali ini tuan rumah Gayo Lues tampil sebagai pemenang.
Pada hari penutupan, seribuan pengunjung memadati lapangan Buntul Nege Blangsere yang dijadikan sebagai arena pacuan.

Hal itu berbanding terbalik dengan hari pertama sampai ke empat, dimana pengunjung sepi, kecuali puluhan pengunjung bersama para pejoki dan ofisial, selain kuda pacu dari masing-masing tim.
Bupati Galus, Ibnu Hasim saat menutup pacuan kuda menyatakan even ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada masyarakat Galus, termasuk peningkatan perekonomian.
Tetapi yang paling penting mempererat hubungan silaturrahmi masyarakat tiga kabupaten ini yang memiliki seni dan budaya pacuan kuda.
Menurut Bupati, pacuan kuda ini juga sebagai sarana hiburan rakyat, selain memacu semangat peternak untuk terus mengembangbiakkan kuda, termasuk bantuan dari pemerintah.
"Pacuan kuda tradisional ini yang digelar setahun sekali harus dapat mengundang para wisatawan lokal, nasional dan juga mancanegara untuk datang ke daerah ini," jelas Ibnu Hasim.
Ibnu Hasim juga menyinggung tentang pengadaan bibit induk kuda sebanyak 20 ekor pada tahun ini dan tahun depan atau 2017 akan ditambah lagi menjadi 40 ekor kuda pacu yang tangguh.
Disebutkan, dengan adanya kuda pacu tangguh, maka minat masyarakat menyaksikan pacuan kuda akan meningkat dan pelaksanaan lebih meriah lagi.

Sementara itu, Ketua panitia, Abdul Wahab SPdi mengatakan dari 132 ekor kuda yang berpacu sejak babak penyisihan, maka 48 ekor kuda yang berhak mendapatkan hadiah dan piala.
Disebutkan, Galus 25 ekor, Bener Meriah 18 ekor dan Aceh Tengah hanya 5 ekor kuda, karena jumlah kuda yang dikirim juga minim.
Dia menjelaskan setelah panitia melakukan musyawarah, juara umum pacuan kuda di Buntul Nege Blangsere tahun ini yakni Galus ditetapkan sebagai juara umum, juara kedua Bener Meriah dan Aceh Tengah juara tiga.
Acara juga ditutup oleh Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah, diwakili Sekda Aceh, Drs Dermawan MM.
Gubernur sempat menyatakan lomba pacuan kuda tradisional Gayo sebagai aset budaya yang dapat meningkatkan sektor pariwisata.
Pemerintah Aceh akan mengupayakan ke Pemerintah Pusat agar olahraga rakyat yang menjadi ciri khas tanah Gayo itu masuk dalam kalender tetap pariwisata nasional.
Dengan demikian, Gayo tidak hanya terkenal di dunia dengan tarian Saman dan kopinya yang telah mendunia, tapi juga terkenal dengan pacuan kuda tradisionalnya. (*)

Aceh Gelar Festival Rapai Internasional

Banda Aceh, NAD - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh akan menggelar Festival Rapai Internasional pada tanggal 26 hingga 30 Agustus ini. Festival ini merupakan bagian dari upaya pemerintah mempromosikan budaya dan wisata Aceh kepada dunia.

Festival Rapai Internasional akan diluncurkan secara resmi pada 4 Agustus nanti di Kantor Kementerian Pariwisata RI di Jakarta. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Reza Fahlevi menyebutkan, Aceh memiliki kekayaan alam, pesona budaya, dan keunikan sejarah yang bisa dipromosikan sebagai potensi wisata.

“Kegiatan ini diharapkan mendukung Aceh sebagai salah satu daerah unggulan tujuan wisata di kawasan paling barat Republik Indonesia,” kata Reza Fahlevi kepada acehkita.com, Selasa (2/8/2016).

Festival Rapai akan diisi dengan pementasan rapai, seperti rapai Pase, rapai daboh, rapai geurimpheng, rapai pulot, dan rapai geleng. Selain nuansa Aceh, Festival ini juga akan menampilkan pesona Melayu Tamiang, nandong Simeulue, dan subetnis lainnya di Aceh.

“Peserta dari negara lain yang sudah memastikan hadir berasal dari Tiongkok, Thailand, Malaysia, Jepang, dan Iran,” ujar Reza. “Ada juga dari sejumlah provinsi lain di nusantara.”

Tarian Aceh Pukau Peserta Indonesia City Expo 2016

Banda Aceh, NAD - Tim kesenian dari Kota Banda Aceh tampil meyakinkan dan mampu memukau penonton dalam pertunjukan Seni Budaya Nusantara pada Pameran Indonesia City Expo (ICE) Ke-14 Tahun 2016. Pameran yang diselenggarakan di Gedung Olah Raga (GOR) Kotabaru, Jambi, berlangsung dari tanggal 27 - 31 Juli 2016.

Dalam pertunjukan itu tim kesenian Kota Banda Aceh yang dipimpin langsungh oleh Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal menampilkan empat tarian yaitu Tari Saman, Ratoh Jaroe, Tarek Pukat dan Rapai Geleng.

Penonton yang hadir terlihat sangat antusias dan tak henti hentinya memberikan aplaus untuk penampilan putra-putri Aceh.

Dalam rangka meningkatkan Kesenian dan Budaya Nusantara, Panitia Pameran Indonesia City Expo (ICE) Ke-14 Tahun 2016 menyediakan panggung pertunjukan Seni Budaya Nusantara di area Pameran untuk menampilkan pertunjukan kesenian dari kota anggota APEKSI. Sekitar 70 kota di seluruh Indonesia ikut berpartisipasi dalam pameran ini.

Pemerintah Aceh Diminta Budidayakan Bungong Jeumpa

Banda Aceh, NAD - Pemerintah Aceh diminta untuk membudidayakan bungong jeumpa yang kini pertumbuhannya mulai langka sehingga sulit ditemukan.

Padahal, bungong jeumpa merupakan lambang kearifan lokal dan identitas masyarakat Aceh. Tapi bukan berarti di daerah lain tidak tumbuh bunga ini," sebut Wakil Ketua Asosiasi Dosen Aceh (ADA), Yustizar kepada GoAceh, via telepon seluler, Kamis (28/7/2016).

Keunikan dan khas bunga ini, kata Yustizar, mencirikan kekhasan tradisi di Aceh, keharuman bunga ini mencerminkan sejarah yang tercatat dalam catatan sejarah yang selalu dikenang sepanjang zaman.

Bentuk dan corak warnanya yang berbeda menjadi lambang adat istiadat yang saat ini disematkan pada tradisi-tradisi lokal seperti pada kerudung para wanita dengan pakaian adat Aceh, serta pada rencong sebagai senjata khas Aceh begitu juga pada hiasan-hiasan lain.

Sambung Yustizar, mengingat pentingnya lambang kearifan dan identitas masyarakat Aceh ini. Maka, dalam hal ini dibutuhkan peran Pemerintah Aceh dalam melestarikan kembali bungong jeumpa melalui “gerakan sejuta bungong jumpa” untuk dibudidayakan.

Sehingga dapat mengembalikan dan melestarikan bungong jeumpa kembali menjadi ikon kedaerahan Aceh, sebagai upaya mengangkat kembali nilai-nilai keluhuran di daerah Aceh.

"Bungong Jeumpa merupakan potensi daerah yang perlu dibudidayakan agar tidak punah dan harus terus berkembang di Aceh. Tidak hanya megah di lagu-lagu saja, tapi menjadi tanaman yang indah dan menjadi khas Aceh," ucapnya.

Ia menambahkan, jika dalam setiap penataan tata ruang kota di tanam bungong jeumpa, maka kekhasan Aceh lebih terlihat dan nyata. Nantinya, Aceh akan menjadi salah satu wilayah destinasi wisata dengan simbol bungong jeumpa.

"Alangkah indah jika saja bungong jeumpa ini dibudidayakan kembali di setiap kabupaten/kota dalam penataan tata ruang daerah yang ada di wilayah Aceh," tandasnya.

80 Penyair Dunia akan Bertemu di Banda Aceh

Banda Aceh, NAD - Sekitar 80-an penyair dari delapan negara direncanakan bertemu di Kota Banda Aceh pada 15-18 Juli 2016. Acara bertaraf internasional itu, dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan & Pariwisata Aceh bekerjasama dengan Lapena (Intitut Kebudayaan & Masyarakat) Aceh.

Sedikitnya ada delapan negara yang akan mendatangkan penyairnya ke Banda Aceh, masing-masing utusan dari Republik Iran, Korea Selatan, Mexico, Jepang, Thailand, Singapura, Malaysia, Burnai Darussalam dan tuan rumah Indonesia.

Rangkaian acara dalam pertemuan meliputi, seminar internasional, peluncuran buku antologi puisi tunggal karya peserta, temu penyair, bedah buku, apresiasi dan ekspresi karya, cit ytour serta ziarah budaya di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Kadis Kebudayaan & Pariwisata Aceh, Drs Reza Fahlevi, M.Si mengatakan, Temu Penyair Internasional ini merupakan ajang silahturrahmi penyair 8 negara dengan maksud mereka datang untuk merekam suasana kedamaian Aceh pascakonflik, situs kebudayaan, jejak tsunami dan keindahan alam.

”Temu Penyair 8 negara ini, penting dalam usaha membangun semangat sastra bagi penyair Aceh dan nusantara yang sudah pernah hadir dan menghiasi lembaran peradaban dunia,” katanya.

Lebih lanjut, Reza menjelaskan bahwa Temu Penyair ini juga sebagai usaha merekonstruksi peradaban di bidang seni budaya. Khususnya dunia kepenyairan dalam rangka memberikan kontribusi bagi pembangunan peradaban dunia.

Menurut koordinator acara, Helmi Hass, Temu Penyair 8 Negara yang sudah dipersiapkan sejak awal April 2016 lalu, hampir rampung. Saat ini panitia sedang mengatur keikutsertaan peserta, pemateri dan pengisi acara.

“Untuk peserta dari luar sudah kami finalkan. Kini hanya tinggal mengundang peserta dari Aceh. Dananya terbatas, mungkin pesertanya antara 80 sampai 100 orang saja” sebut Helmi Hass yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Lapena.

Lagi, Aceh Gelar Festival Sabang Fair 2016

Banda Aceh, NAD - Kota Aceh kembali punya gawean besar. Setelah sukses menggelar perhelatan Culinary Festival dan Banda Aceh Coffe Festival 2016, Kota Serambi Mekkah itu akan kembali menarik wisatawan dengan perhelatan Festival Sabang Fair (FSF) 2016. Kegiatan ini akan dilaksanakan, 22-27 Mei 2016.

”Event ini akan digulirkan di Gampong Kuta Timu, Kecamatan Sukakarya, Sabang, Aceh,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Aceh, Reza Pahlevi. Perhelatan tersebut dipastikan akan bertambah spesial dengan kehadiran negara-negara tetangga. Hampir semua negara ASEAN dipastikan ikut berpartisipasi.

”Semua sudah confirm mengirimkan perwakilannya. Ini karena lokasi Sabang berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga. Oleh karena itu, pelaksanaan Sabang Fair 2016 akan terasa istimewa dengan kehadiran perwakilan dari negara tetangga ASEAN,” ujar Reza.

Bukan itu saja, Reza juga memastikan mengundang provinsi tetangga seperti Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang akan menampilkan kesenian dan budaya masing-masing. ”Even ini digelar sebelum bulan puasa dan dipastikan akan meriah, karena ini adalah pentas seni kebudayaan yang kami adakan menjadi bagian agenda mempersiapkan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang akan diselenggarakan tahun 2017 nanti,” ujar Reza.

Sekadar informasi, kota Sabang terletak di Pulau Weh di ujung barat Indonesia. Sabang terkenal memiliki keindahan alam yang memukau serta atraksi budaya yang menarik. Reza juga menambahkan, dalam acara nanti juga akan digelar perlombaan yang nantinya memantik wisatawan untuk menikmati keindahan tarian Indonesia.

”Akan ada beberapa lomba, yang justru bisa menambah meriah kegiatan ini,”katanya. Lomba-lomba tersebut adalah, adalah: Lomba Tari Kreasi Baru Aceh Garapan, Lomba Musik Etnik Kolaborasi Aceh Modern, Lomba Cagok/Lawak Aceh, Lomba Pawai Budaya, Lomba Anjungan Pameran Kreatif Daerah dan Pertunjukan Seni atau Penampilan Sanggar Seni Se-Aceh.

FSF merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang, Aceh. Acara ini telah sukses terselenggara sejak tahun 2014 yang dimeriahkan dengan berbagai lomba dan penampilan eksebisi seni dari berbagai daerah di Aceh.

Tahun 2016 ini, Festival Sabang Fair ke-III akan kembali digelar mengusung tema “Menggenggam Senangat Tradisi” ini diikuti dan dimeriahkan oleh 23 Kabupaten/Kota se-Aceh serta Provinsi Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Negara-negara ASEAN.

”Segala informasi mengenai penyelenggaraan Festival Sabang Fair 2016 termuat dalam situs officialhttp://www.sabangfairfestival.com yang terdiri dari informasi Petunjuk Teknis, Pengumuman, serta informasi jadwal masing-masing agenda acara yang akan dilaksanakan pada FSF 2016,” bebernya.

Apa kata Menpar Arief Yahya? “Bagus! Teruskan, tingkatkan kreativitasnya, perluas jaringannya, gunakan teknologi, dan pastikan dipromosikan dengan baik. Melalui POSE, paid media, own media, social media dan endorser, agar gebyar kegiatan ini teramplifier ke seluruh penjuru dunia. Ingat, sebuah event itu sukses jika promosinya bagus, diketahui lebih banyak orang, diapresiasi lebih banyak orang,” jelas Menpar Arief Yahya.

Aceh punya potensi besar, sumber daya bagus, budaya kuat dan alam yang indah. Itu sudah lengkap untuk sebuah potensi pariwisata. Tinggal pastikan 3A-nya, atraksi, akses dan amenitasnya. “Pengembangan destinasi selalu menggunakan pola itu, 3A,” ingatnya.

Aceh Gelar Festival Kuliner dan Festival Kopi

Banda Aceh, NAD - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh bersama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh kembali menggelar acara tahunan Aceh Culinary Festival dan Banda Aceh Coffee Festival pada 10 hingga 12 Mei 2016.

Acara yang berlangsung di lapangan Blang Padang, Banda Aceh itu mengusung tema “Melestarikan Budaya dan Tradisi Legenda Kuliner Aceh”. Menurut Kadisbudspar Aceh Reza Pahlevi, festival kuliner ini menawarkan berbagai agenda menarik bagi pengunjung pameran berupa resep dan tester 1.000 Legenda Kuliner Aceh serta Cook off Competition.

”Ini lomba memasak masakan khas Aceh ajang pencarian Koki Aceh Indonesia yang menghadirkan Chef terkenal ibu kota sebagai juri yaitu Chef Haryo Pramoe dengan total hadiah 20 juta rupiah,” ujar Reza dalam keterangan tertulisnya, Selasa (10/5).

Reza menambahkan, lomba ini terbuka untuk umum dan formulir pendaftaran bisa didapatkan di kantor Disbudpar Provinsi Aceh dan Oz Radio Banda Aceh. ”Kami juga akan berusaha memecahkan rekor Muri Indonesia melalui “Teot Apam” yakni membakar surabi dengan 1.000 tungku juga menjadi salah satu agenda yang layak ditunggu,” kata kepala dinas yang baru saja memecahkan rekor Muri tarian Aceh di Taman Mini Indonesia Indah itu.

Partisipasi dari masyarakat, kelompok, komunitas, imbuh Reza, terutama generasi muda sangat diharapkan dalam menyukseskan pencatatan rekor ini. Acara Teot Apam dijadikan suguhan yang menarik karena diikuti massa yang begitu banyak dan bertepatan dengan bulan Rajab yang dalam adat istiadat masyarakat Aceh dipercayai sebagai “buleun Teot Apam”.

”Selain itu Khanduri kuah beulangong juga akan menjadi agenda acara ini, yang menghidangkan kari khas Aceh bagi 32 wali kota Provinsi dari seluruh Indonesia yang juga hadir untuk acara JKPI (Jaringan Kota Pusaka Indonesia) yang juga akan digelar bertepatan dengan acara ini,” paparnya.

Reza berharap, acara Aceh Culinary Festival ini bukan hanya menjadi event pameran biasa namun juga ajang nostalgia bagi masyarakat yang telah jarang menemui beberapa masakan khas Aceh resep nenek moyang tempo dulu, dan mengajak berbagai komunitas pemuda agar lebih melestarikan berbagai kuliner menarik yang dimiliki Aceh.

”Kuliner Aceh sangat erat kaitan nya dengan adat budaya. Karena di tiap hari besar ataupun peringatan acara akan selalu ada makanan khusus yang menjadi ciri khas nya. Kekayaan kuliner ini tentunya dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal, nasional serta mancanegara untuk berkunjung ke Aceh. Apalagi amanat pak Menteri yang meminta kalau Aceh merupakan salah satu wisata halal nasional,” cetusnya.

Reza menambahkan, secara bersamaan pada 10-12 Mei, pihaknya juga menggelar perhelatan Banda Aceh Coffee Festival. ”Ini acara tahunan yang mencoba kami naikan kelasnya memenuhi skala internasional,” katanya. Menurutdia,, acara tersebut menargetkan penguatan kapasitas pelaku usaha kopi dengan mengundang exportir kopi dari lokal, nasional serta mancanegara.

Aceh adalah salah satu daerah penghasil kopi terbaik di dunia. ”Pihak penyelenggara menawarkan pameran yang menghadirkan 25 stand yang akan disi oleh warung kopi tradisional, pabrik roasting kopi, distributor produk kopi, para ahli dan komunitas pecinta kopi. Sangat lengkap,” tegasnya.

Kapala Bidang Pemasaran Pariwisata Aceh Rahmadani menambahkan, kompetisi kopi yang akan dihadirkan tahun ini pun berbeda dari tahun sebelumnya. Para barista ditantang untuk menunjukkan skill manual brew menggunakan hanya satu tangan saja, Single Hand Manual Brew Challenge ini terbuka untuk umum dan tentunya kompetissi ini akan sangat menarik untuk ditonton.

”Kelas Kopi merupakan salah satu konten acara yang sayang untuk dilewatkan, berbagai kelas yang syarat edukasi ikut digelar seperti cupping session, basic barista skill, latte art class, Roasting session,” tandasnya.

Menpar Arief Yahya menuturkan, Aceh itu kaya dengan budaya, termasuk kuliner yang menjadi bagian dari karya kebudayaaan. Karena itu kegiatan seperti ini bisa menjadi atraksi yang menarik bagi wisman maupun wisnus. "Tinggal promosikan jauh-jauh hari, masukkan dalam kalender event tahunan, yang membuat orang tertarik untuk datang ke Aceh," tegas Menpar.

Ubudiyah Heritage Gelar Festival Gampong Budaya

Banda Aceh, NAD - Memperingati hari ulang tahun (HUT)-nya yang pertama, Sanggar Tari Ubudiyah Indonesia Heritage akan menggelar even yang mereka namakan Ubudiyah Gampong Budaya Festival 2016. Kegiatan ini berlangsung lima hari (24-27 Februari 2016) di Kampus Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI), kawasan Tibang, Banda Aceh.

Even ini nantinya akan memperlombakan tari tradisional, vokal solo daerah, dan Fashion Show Muslim Trendy. Ketua Panitia Festival, Arismunandar SPdI, kepada Serambi di Banda Aceh, Senin (22/2) mengatakan, even ini bertujuan untuk menggiatkan kegiatan berkesenian di kalangan remaja, khususnya pelajar di Aceh. “Melalui even ini kreativitas dan kecintaan remaja Aceh terhadap budaya dan seni kita harapkan meningkat,” ujarnya.

Menurutnya, Sanggar Ubudiyah Heritage ingin memotivasi remaja yang selama ini gemar berkesenian. “Selain itu, even ini juga kita harapkan menjadi ajang pertemuan antara para pelaku budaya dan seni, khususnya kalangan pelajar. Juga untuk menambah pengalaman tampil mereka,” kata Arismunandar yang akrab dipanggil Syeh Muda Aris sesuai beraudiensi dengan Rektor UUI.

Sementara itu, Rektor UUI, Prof Adjunct Marniati MKes memberi dukungan penuh terhadap penyelenggaraan even ini. Rektor meminta panitia untuk dapat berkoordinasi dengan berbagai pihak dalam rangka menyukseskan kegiatan tersebut.

“Festival yang digagas Sanggar Ubudiyah Heritage ini nantinya akan kita jadikan kelender even tahunan di Ubudiyah dan berpeluang untuk dikembangkan menjadi even internasional,” kata Rektor Marniati.

Menjaga Songket Aceh Tak Mati di Kampung Sendiri

Banda Aceh, NAD - Kain tenun songket merupakan salah satu jenis kain yang memiliki nuansa mewah. Selain membutuhkan waktu untuk menghasilkan sehelai kain, harganya pun tergolong mahal.

Di Aceh, tak banyak perajin memiliki keahlian menenun songket. Namun, peminat terhadap kain songket aceh cukup banyak karena kesakralan nilainya. Setiap motif songket aceh menggambarkan falsafah hidup masyarakat di Aceh.

Adalah Jasmani, seorang perempuan berusia 50 tahun, dan dia adalah salah satu perajin tenun songket yang bisa ditemui di Desa Siem, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Hingga kini dia masih eksis menenun songket.

Sejak pagi hari ia sudah memulai aktifitas menenun. Kain hasil tenunannya tak bertahan lama di rumah, karena langsung dibeli oleh konsumen. Belum lagi jika ia harus mengerjakan pesanan para pelanggan dan konsumen.

“Kalau pesanan ada banyak, tapi orang yang mengerjakannya terbatas, karena tidak banyak orang yang bisa menenun,” jelas Jasmani, Sabtu (23/1/2016).

Meski memiliki 10 pekerja, Jasmani masih belum bisa memenuhi permintaan pasar dalam jumlah besar. Selain terbatasnya modal untuk pengadaan mesin tenun, jasmani pun tak punya banyak perajin.

“Perajin saya adalah warga desa biasa, jika tak ada pesanan, mereka tak bisa memproduksi karena tak ada modal, jadi mereka melakukan pekerjaan lain seperti bersawah untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Jika ada orderan bersamaan dengan musim tanam atau panen, maka mereka lebih memilih ke sawah,” ungkap Jasmani tersenyum.

Jasmani mengaku belajar menenun kepada Nyak Salamu, seorang perajin tenun yang tak jauh dari rumahnya. Nyak Salamu alias Nyak Mu sendiri kini sudah meninggal dunia. Ironisnya, tidak ada turunan Nyak Mu yang meneruskan usaha tenun miliknya.

Sejumlah peralatan tenun milik Nyak Mu teronggok tanpa ada yang menggunakan. Selain terbatasnya modal usaha, bahan baku untuk menenun, sebut Jasmani, menjadi penyebab mundurnya usaha tenun di kawasan tersebut.

“Saya pun juga terkendala modal dan bahan baku, sehingga saya tidak mampu memproduksi dalam jumlah besar, padahal saya ingin memproduksi banyak,” jelas Jasmani.

Satu peralatan tenun di kediaman Jasmani pun tak berfungsi. Menurut Jasmani itu adalah alat tenun ikat belum difungsikan karena terbatasnya bahan baku dan kelengkapan peralatan. Jasmani telah menggeluti dunia tenun songket selama 30 tahun. Lewat tangan ibu satu anak ini tradisi kebanggaan masyarakat Aceh ini masih terjaga.

Perempuan ini terus menjaga dan mewarisi tradisi penciptaan songket aceh kepada masyarakat, di tengah sejumlah keterbatasan yang menderanya. Sementara satu helai kain tenun dengan motif sederhana, bisa dihasilkan dalam waktu dua minggu hingga satu bulan.

Jasmani berharap pemerintah lebih peduli kepada perkembangan songket aceh, sebab songket aceh menjadi alat penyampai pesan falsafah hidup masyarakat aceh yang terkandung dalam setiap motifnya. Memiliki kain songket tenun aceh bagi masyarakat di aceh adalah sebuah kebanggaan.

Dalam kesehariannya songket tenun aceh dijadikan bahan utama sebagai antaran untuk pengantin, atau digunakan dalam acara-acara formal kedaerahan atau bahkan acara-acara bernuansa adat dan budaya.

“Saya suka songket tenun Aceh. Bagi kami dikeluarga, setiap keluarga harus memiliki minimal satu kain songket,” sebut Maryamah, saat ditemui tengah membeli kain tenun songket di kediaman Jasmani.

Menurut Maryamah, menggunakan songket tenun aceh dalam berbagai acara merupakan identitas dan kebanggaan masyarakat. Usaha tenun songket aceh memang masih minim, walau budaya tenun ini sudah mendarah daging dalam budaya dan kehidupan masyarakat di Aceh.

Para perajin berharap pemerintah bisa memberi dukungan penuh terhadap usaha tenun songket ini agar budaya bisa terus dilestarikan dan tidak punah di kampung sendiri.

Semua Elemen Masyarakat Wajib Menjaga Budaya Aceh

Banda Aceh, NAD - Gubernur Aceh melalui Sekretaris Daerah (Sekda), Dermawan menuturkan semua elemen masyarakat Aceh wajib menjaga nilai dan budaya Aceh. Hal ini dikatakan pada Malam Anugerah Wali Nanggroe pada Rabu (16/12/2015) di AAC Dayan Dawood, Banda Aceh.

Menurut Dermawan, arus globalisasi dan kecanggihan teknologi informasi yang menyentuh semua aspek kehidupan masyarakat telah membuat sekat-sekat antar negara seakan tidak ada lagi.

"Pengaruh gaya hidup modern telah memudarkan identitas kedaerahan kita sehingga perlahan-lahan kita dipaksa berbaur dalam sebuah komunitas masyarakat dunia dengan budaya dan perilaku budaya berbeda," ungkap Dermawan didepan ratusan undangan yang hadir.

Masih Dermawan, ia menuturkan banyak permasalahan yang terjadi di Aceh. Bahkan banyak para kaum muda yang lebih menyukai budaya orang lain daripada budayanya sendiri.

"Kita melihat peredaran narkoba yang begitu mengkhawatirkan generasi muda kita. Gaya hidup liar anak punk yang tidak pernah ada di Aceh kini dengan mudah dapat kita temukan di kota Banda Aceh. Terkadang seni dan budaya luar lebih disukai daripada seni dan budaya sendiri, semua ini merupakan dampak arus global yang tidak terkontrol," ceritanya.

Sekda mengajak semua elemen masyarakat Aceh yang cinta budaya harus bergerak mengatasinya, lembaga-lembaga adat seperti majelis Adat Aceh, mukim, keuchik, para ulama harus berperan aktif mengahadirkan filter bagi penyaringan budaya luar yang tidak sesuai dengan budaya Aceh.

12 Karya Seni Aceh Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Nonbenda

Banda Aceh, NAD - Belasan karya seni Aceh ditetapkan sebagai Warisan Budaya Nonbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Sebanyak 12 Sertifikat Warisan Budaya tersebut diserahkan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, kepada sejumlah daerah yang diwakili Asisten III Setda Aceh, Syahrul, di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Sabtu (28/11/2015) malam.

"Penetapan warisan budaya nonbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merupakan penegasan bahwa seni budaya tersebut merupakan budaya asli dari berbagai wilayah di Aceh," kata Gubernur Aceh Zaini Abdullah.

Ada pun 12 seni budaya lokal Aceh yang mendapat sertifikat sebagai warisan budaya nonbenda adalah Tari Saman dari Gayo pada tahun 2011, kerajinan Rencong dari Aceh Besar pada 2013, Seni Didong dari Aceh Tengah, Karawang Gayo dari Aceh Tengah dan Kupiah Riman (dari Pidie).

Selanjutnya Tari Seudati dari Pidie, Rumoeh Aceh dari Aceh Besar pada tahun 2014 dan Pintoe Aceh dari Kota Banda Aceh, Tari Rabbani Wahid dari Bireuen, Tari Binnes dari Gayo Lues, Tari Dampeng dari Singkil dan Rapai Geleng dari Aceh Barat Daya pada 2015.

Ia mengatakan dari 12 budaya tersebut, Tari Saman dari Gayo bahkan telah terlebih dahulu pengakuan dan ditetapkan sebagai warisan budaya dunia tak benda dari UNESCO pada tahun 2011.

"Pemberian sertifikat ini juga menjadi pendorong bagi kita untuk lebih termotivasi, mencintai, dan peduli dalam melestarikan budaya asli daerah kita," katanya.

Abdullah berharap 11 warisan tak benda lainnya nantinya juga mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai warisan budaya dunia.

Dia juga berpesan kepada kepala daerah yang menerima penghargaan agar menyampaikan kabar gembira tersebut kepada masyarakat di daerah masing-masing supaya semarak pelestarian budaya menjadi spirit yang melekat di hati masyarakat Aceh.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Pahlevi, mengatakan, saat ini sedang bekerja sama dengan Badan Arsip Nasional Indonesia untuk mengusulkan kepada UNESCO agar menjadikan Arsip Tsunami Aceh sebagai warisan dunia.

Jika hal tersebut berhasil, data-data kejadian Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 sebagai bencana terbesar yang pernah terjadi akan menjadi salah satu warisan dunia.

Kerajaan Islam Pertama di Asia Tenggara Ada di Aceh Besar

Banda Aceh, NAD - Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh, bekerja sama dengan Pusat Penyelidikan Arkeologi Global Universitas Sain Malaysia Pulau Pinang serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, membuat satu seminar.

Direktur Pusat Penyelidikan Arkeologi Global USM Pulau Pinang, Prof Datok Dr Mochtar Saidin dalam keterangan tertulisnya kepada Waspada Online, Sabtu (14/11), menyimpulkan dari hasil seminar arkeologi ini, bahwa berdasarkan temuan askavasi terhadap sejumlah benda kuno, terbukti pusat Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara didirikan di desa Lamreh Aceh Besar yang lebih dikenal dengan situs Kerajaan Lamuri, yakni berdiri pada awal abad ke-11 Masehi.

“Pernyataan ini berdasarkan hasil penelitian saya sejak tahun 2012 hingga 2015, dari ratusan nisan kuno, pecahan keramik kuno dan serpihan peralatan dapur dan wadah upacara ritual Hindu kuno, berkisar antara tahun l003 Masehi hingga tahun 1386 Masehi,” jelas Prof Datok Dr Mochtar Saidin, di hadapan sekitar 400 peserta, Kampus Unsyiah, Kamis (12/11).

Penelitian dan penyelidikan serupa pernah dilakukan USM Pulau Pinang di Birma (Siam), Kamboja, Malaysia Thailand, Philipina dan Brunei Darusalam.

“Situs artifak yang ditemukan di masing-masing negara tadi jauh lebih muda. Bahkan lebih muda dari situs yang ada di Samudra Pasai,” ungkap Prof Arkeologi lulusan Harvard University AS itu, membenarkan hasil kajiannya selama tiga tahun.

Meskipun cukup melelahkan menyesar seluas 200 hektar areal sebaran situs, di atas punggung perbukitan hingga di kedalaman laut 15 meter untuk mendapatkan batu nisan dan artifak lainnya tergerus oleh hantaman tsunami di Aceh pada akhir tahun 2004.

Datok Mochtar dalam kesempatan itu menyarankan hasil penyelidikan bersama tim Arkeologi Universitas Syiah Kuala dan relawan dari Masyarakat Pencinta Sejarah Aceh (MAPESA), supaya dilaporkan kepada Pemerintah RI dan Pemerintah Aceh agar dilakukan pembebasan lahan.

Langkah selanjutnya disiapkan sebuah Pusat Riset Sejarah Islam Asia Tenggara dan sarana pendidikan sejarah Islam bagi generasi akan datang. Menurutnya ada tiga sentra situs besar berdiri di Desa Lamreh kelak mampu dipersatukan menjadi sebuah pusat kajian arkeologi nusantara terpenting di Aceh. Yakni situs Kerajaan Lamuri, situs Benteng Pasukan Armada Laut Perempuan Aceh ketika mengusir Portugis pada abad ke 15, Benteng Inong Balee dan situs Makam Laksamana Laut Keumala Hayati.

Didampingi Kepala Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya Unsyiah, Dr Husaini Ibrahim, Datok Mochtar, merasa optimis bahwa hasil temuan tim arkeologi yang dipimpinnya akan menjadi salah satu sumbangan besar bagi sejarah kebudayaan islam nusantara di Asia Tenggara. Maka kelak ia menyarankan supaya perlu diselenggarakan seminar tingkat internasional, terutama dari negara asean dan rumpun Melayu, agar lebih jelas diketahui oleh masyarakat luas, terutama generasi muda dan para akademisi untuk dikembangkan ke arah penyelidikan selanjutnya.

Hasil temuan situs batu nisan di desa Lamreh Kecamatan Mesjid Raya itu, tidak kurang dari 11 Raja (Malik) pernah memerintah Kerajaan Lamuri dari abad ke 10 hingga abad ke-13, sebelum diperangi oleh Kerajaan Mojopahit dan Sri Wijaya.

Dalam catatan perjalanan Laksamana Cheng Hoo (1371 – 1433), Kerajaan Lamuri dalam abad ke 11 hingga abad ke 13 M sudah ramai didatangi pedagang dari negeri luar, terutama bangsa Tamil India, Siam dan Arab. Karena di Lamuri waktu itu merupakan salah satu pusat niaga rempah-rempah dan emas dari kepulauan nusantara zaman pra Islam.

“Situs benteng Indra Patra berupa bekas candi Hindu Budha kuno zaman pra Islam di Aceh yang lokasinya sekitar 800 meter dari desa Lamreh. Satu bukti umat Hindu pernah menetap dan Berjaya di Aceh,” tambah Guru Besar Arkeologi USM Pulau Pinang itu.

Sementara itu menyemarakkan seminar, pihak Panitia menyelenggarakan pameran History Expo yang menampilkan sejumlah stand UKM, berbagai hasil temuan askavasi arkeologi di lokasi bekas Kerajaan Lamuri, pemutaran video penyelamatan bawah air, menggali situs di teluk Lamreh dan cendramata Bukit Lamreh.

Sanggar Seni Seulaweuet Tampil di Singapura

Banda Aceh, NAD - Sanggar Seni Seulaweuet Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, dijadwalkan akan tampil dalam acara Malay Heritage Festival di Malay Heritage Center, Singapura pada 13-15 November. Para anggota sanggar yang akan tampil di sana telah berangkat ke Singapura melalui Bandara Kualanamu, Medan, Sumatera Utara, Minggu (8/11).

Syahi Sanggar Seni Seulaweuet, Fahrul Razi, kepada Serambi sebelum berangkat kemarin mengatakan, acara yang diikuti mereka tersebut merupakan acara tahunan yang diadakan oleh Pemerintah Singapura. “Menurut panitia, Malay Heritage Festival itu digelar untuk menampilkan budaya mereka ke turis-turis asing yang datang, terutama budaya Melayu,” kata Fahrul.

Ia menjelaskan, Sanggar Seni Seulaweuet diundang karena panitia menginginkan ada penampilan dari guide star (bintang tamu) dari luar negara mereka. Selain mempersembahkan kesenian Aceh, Sanggar Seni Seulaweuet juga akan berkolaborasi dengan Komonitas Khaizhaen Singapura, salah satu komunitas tari kontemporer di sana.

“Koreografernya Murah Mansyah, beliau kebetulan warga Indonesia yang sudah menetap di sana, jadi kita nanti akan disatukan dengan penari di sana,” kata Fahrul.

Fahrul mengatakan, Sanggar Seni Seulaweuet memberangkatkan satu tim tarian yang terdiri penari wanita, laki-laki, pemusik, dan syahi. Materi yang dipersiapkan kata Fahrul antara lain, likok pulo, taboh (tari kreasi), dan tari kolaborasi. “Kami meminta doa dari semuanya, semoga penampilan ini sukses, karena kegiatan ini juga salah satu kegiatan pertunjukan bergengsi di Singapura,” pungkas Fahrul.

Sementara sejak Jumat hingga Minggu (8/11), Sanggar Seni Seulaweuet baru saja melaksanakan kegiatan Silaturahmi Aneuk Galak Meuseni (Si-AGaM) ke-18, yaitu kegiatan tahunan merekrut mahasiswa UIN Ar-Raniry untuk bergabung dalam Sanggar Seni Seulaweuet. Sebanyak 431 mahasiswa mendaftar dalam Si-AGaM kali ini, namun panitia hanya meluluskan 257 calon anggota.

-

Arsip Blog

Recent Posts