Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Wan Syamsinar Mengangkat Marwah Negeri lewat Tenun Songket Riau

SYAMSINAR merintis usaha kerajinan tenun songket Melayu “Wan Syamsinar” sejak tahun 2004. Bersama almarhum suaminya, ia memulai usaha tersebut dengan enam pengrajin dan enam Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Lokasinya di sekitar Kelurahan Bagan Keladi dan Kelurahan Purnama, Kecamatan Dumai Barat, Kota Dumai.

"Sejak masih muda, saya sudah menjadi guru tenun. Bahkan, di kerajinan tenun Putri Tujuh, saya dulu juga menjadi gurunya,’’ ujar Syamsinar. Kerajinan tenun Putri Tujuh merupakan salah satu sentra kerajinan tenun di Dumai.

Sejak belia, Syamsinar sudah belajar menenun. Ibunya seorang penenun di Bengkalis. “Dengan keterampilan yang saya miliki, saya dan almarhum suami kemudian berkeinginan untuk membuka kerajinan tenun sendiri. Waktu itu, kakak saya ikut membantu modal awal usaha tersebut," kenangnya.

Sebagai putri asli kelahiran tanah Melayu, Syamsinar ingin membangkitkan dan menjaga warisan seni dan budaya zaman Kesultanan Siak tersebut. Dia ingin turut menjaga kelestarian kerajinan tenun songket Melayu. “Saya ingin berbagi keterampilan dengan masyarakat sekitar sekaligus membantu peningkatan taraf ekonomi mereka.”

Kelompok Tenun Songket Wan Syamsinar yang dibinanya kini memiliki 10 pengajin dan 10 ATBM. Lokasi usahanya beralamatkan di Jalan Raja Ali Haji, Purnama, Kota Dumai. Para pengrajin di kelompok tersebut berlatarbelakang ibu rumah tangga dan mahasiswi. Setiap bulan, mereka memproduksi rata-rata 30 - 40 helai kain tenun dengan pendapatan sekitar Rp16 juta.

Harga tenun songket Wan Syamsinar bervariasi, mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 600ribu perlembar. Untuk songket yang sepasang, harga dibanderol mulai Rp 900 ribu hingga Rp 1,6 juta. Sementara untuk pesanan khusus, misalnya pengantin, harga dipatok Rp 2 juta hingga Rp 4 juta. "Pelanggan yang memesan tidak hanya orang Dumai, tapi juga dari Pekanbaru, Jakarta dan Kalimantan. Promosi kami dibantu oleh PT. Chevron Pacific Indonesia (PT CPI, Red.),’’ papar Syamsinar, nenek dari empat cucu tersebut.

Dia mengatakan, merintis sebuah usaha tidaklah mudah. Jatuh bangun dalam menjalankan usaha kerajinan ini sudah pernah dilaluinya. Terkadang, diakehabisan bahan dan modal sehingga tidak mampu memenuhi pesanan yang masuk.

PT CPI merupakan Kontraktor Kontrak Kerja Sama dari Pemerintah Indonesia yang mengoperasikan Blok Rokan di Riau. Dalam mengoperasikan blok migas, PT CPI bekerja di bawah pengawasan dan pengendalian Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas, atau disingkat SKK Migas.

Pada April 2015 lalu, Syamsinar memutuskan untuk bergabung dalam Program PRISMA, kependekan dari Promoting Sustainable Integrated Farming, Small Medium Enterprise Cluster and Microfinance Access. Program tersebut merupakan salah satu program investasi social PT CPI di bidang pengembangan ekonomi local di sekitar wilayah operasi perusahaan. PT CPI bekerjasama dengan Yayasan Sahabat Cipta (YSC) sebagai mitra pelaksana Program PRISMA tersebut. YSC merupakan sebuah yayasan nirlaba nasional yang focus pada penyusunan strategi pengembangan dan peningkatan kapasitas Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), dan pengelolaan program pemberdayaan.

"Melalui Program PRISMA, dilakukan upaya peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif kepada kami dengan pelatihan dan motivasi. Para pengrajin kami juga diikutkan pelatihan tentang desain, penentuan pewarnaan dan pembuatan songket Melayu Riau,’’ jelas Syamsinar. Selain itu, program PRISMA memberikan dana bergulir dan pendampingan langsung dalam mengidentifikasi sumber bahan baku, proses produksi, desain, pemasaran, dan perluasan jejaring.

Setelah menjalani pelatihan rencana usaha, Kelompok Tenun Songket Wan Syamsinar kemudian menjalin kerjasama pemasaran dengan Rumah Kreatif Cempaka di Rumbai, Pekanbaru, pada31 Mei 2016. Berkat pelatihan-pelatihan tersebut, lanjut Syamsinar, para anggota kelompoknya memiliki wawasan yang lebih terbuka berkait desain sesuai perkembangan dan kebutuhan pasar. “Kain tenun kita cocok untuk kemeja resmi, kemeja kantor, pakaian pesta pernikahan, kemeja sarimbit couple, pejabat, pengusaha, maupun perwira dengan harga yang terjangkau," kata Syamsinarbangga.

Dia berupaya terus menyajikan motif-motif kreasi baru. “Supaya tenunan songket benar-benar membudaya dan dicintai masyarakat luas Riau," ucapibu tiga anak itu.

Kekuatan Simbol dan Falsafah dalam Motif Songket
Syamsinar mengaku, pembuatan motif songket dengan warna-warna baru memang tidak mudah. Butuh ketelitian dan kesabaran. Kelompok Syamsinar memadukan motif-motif songket Melayu terdahulu dengan warna-warna yang lebih berani dan cerah, tanpa meninggalkan motif aslinya.

"Dengan berani berkreasi, belajar dan terus belajar, pelanggan akan datang kembali memesan. Ketika saya tanya motif dan warna yang diinginkan, pelanggan selalu menjawab terserah saja, yang penting tidak menghilangkan khas Melayu. Alhamdulillah, pelanggan puas," kata Syamsinar sembari mengemas kain tenun songket berpasangan warna biru untuk calon pengantin.

Menurut Syamsinar, seorang pengguna songket bukan hanya menjadikan songket sebagai bahan busana semata. Mereka juga ingin memahami dan menghayati simbol-simbol dan falsafah yang terkandung dalam sebuah desain songket. Kearifan itulah yang menjadikan songket terus hidup dan berkembang.

Beberapa motif yang sangat diminati antara lain motif Siku Keluang, berarti kepribadian yang memiliki sikap dan tanggung jawab yang menjadi idaman setiap orang Melayu Riau. Motif lainnya adalah motif Siku Awan, yang berkaitan dengan budi pekerti, sopan santun dan kelembutan akhlak yang menjadi asas tamadun Melayu, pengayoman terhadap masyarakat dengan budi pekerti yang luhur.

Selain itu, ada juga motif Pucuk Rebung Kaluk Pakis Bertingkat yang melambangkan kemakmuran hidup lahiriah dan batiniah. "Sifat yang penting, sesuai ungkapan tahu diri dengan perintah, tahu duduk dan tegaknya, tahu alur dan patutnya,” kata Syamsinar menjelaskan.

Kemudian motif Pucuk Rebung Bertabur Bunga yang melambangkan nilai kasih sayang, hormat-menghormati, lemah lembut dan bersih hati menjadi acuan dalam budaya Melayu Riau. Juga, motif Siku Tunggal yang mencerminkan sikap atau perilaku orang Melayu yang sangat mengutamakan persebatian iman atau perpaduan umat, baik antar sesama Melayu maupundengan pendatang. Motif yang tak kalah menarik adalah Pucuk Rebung Bertali yang melambangkan nilai budaya Melayu yang sangat dipengaruhi nilai-nilai Islam.


Program PRISMA Jangkau Ribuan Penerima Manfaat
Syamsinar mengatakan, berkat Program PRISMA, kelompoknya mendapatkan suntikan motivasi untuk terus mengembangkan kerajinan tenun songket Melayu. "Program PRISMA dari PT CPI ini membawa semangat baru bagi kami untuk terus maju mengangkat marwah negeri," ujarnya.

Program PRISMA membantu para petani, pelaku usaha mikro, serta kelompok-kelompok swadaya masyarakat yang tersebar di wilayah operasi PT CPI. Sejak diluncurkan pada Januari 2015 hingga Desember 2017, Program PRISMA di Riau telah menjangkau 2.186 petani dan pelaku usaha mikro secara langsung. Para peserta program ituberasaldari 41 kelompok yang tergabung dalam 21 induk kelompok binaan.

Program ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kondisi sumber daya alam dan lingkungan, dan peningkatan sumber daya manusia. Ruang lingkup sektor program meliputi pertanian/perkebunan, peternakan, wirausaha, keuangan mikro, air bersih dan sanitasi berbasis masyarakat, serta pusat pelayanan usaha kecil.

Program PRISMA menerapkan strategi “Membuat pasarbekerja untuk petani dan pelaku usaha kecil”, yang menitik beratkan pada penyediaan fungsi pendukung, yaitu akses keberbagai layanan termasuk akses kepengetahuan, keterampilan, bahanbaku, pasar dan hubungan antar pasar, teknologi, dan lain-lain. Selain pengembangan ekonomi lokal, program-program investasi sosial PT CPI juga focus pada pendidikan, kesehatan, lingkungan, rehabilitasi bencana, dan budaya. (R24/Adv/Chevron)

Sumber: http://www.riau24.com

Jelang Panen Tahunan, Masyarakat Leworahang Gelar "Pare Nuba." Mau Tahu Makna Upacara Ini?

LARANTUKA - Siklus dunia pertanian, tanam dan panen di Flores Timur (Flotim) selalu diwarnai dengan berbagai ritus adat.

Seperti masyarakat petani Leworahang Desa Ilepadung di Pantai Utara Flores Timur, Jumat (20/4/2018). Mereka menggelar upacara Pare Nuba di halaman Korke, rumah adat Leworahang.

Upacara adat tahunan sebelum panen padi, jagung dan berbagai tanaman lainnya ini dihadiri oleh tetua adat masyarakat Leworahang.

Tetua adat Leworahang, Yohanes Ama Koten (90), kepada POS-KUPANG.COM di tempat seremoni adat, Jumat (20/4/2018), mengatakan, Pare Nuba digelar tiap tahun sebelum panen.

Pare Nuba memberi makan nenek moyang digelar sebagai tanda penghormatan dan syukur anak suku atas panenan tahunan yang melimpah.

Syukuran dilakukan dengan memotong hewan kurban sebagai silih atas segala dosa dan kelalaian yang dilakukan oleh anak suku.

Jelas Ama Koten, Pare Nuba wajib dilakukan. Jika tidak digelar seremoni adat maka hasil panenan yang seharusnya melimpah akan berkurang.

Setelah hewan persembahan dipotong, dimasak di sekitar korke. Setelah matang, dicincang untuk dimakan tetua suku yang ikut upacara itu.

Namun sebelum anak suku menyantap daging persembahan terlebih dahulu daging persembahan disertai nasi diberikan kepada nenek moyang suku.

Silvester Bisu Koten (40) menambahkan, setelah upacara di korke, menjelang panen di kebun warga juga akan digelar upacara adat.

"Kita wajib lakukan upacara ini. Kalau tidak panenan akan hilang. Kalau sudah upacara ini, biar banyak orang pergi panen, tidak akan habis-habisnya," kata Bisu Koten. (*)

Sumber: http://kupang.tribunnews.com

Melestarikan Ritual Adat Seba Badui yang Bersahaja Kaya Makna

TAK tergurat keletihan pada wajah Ayah Karmain. Lelaki suku Badui Dalam itu sedang duduk di Gedung Olahraga (GOR) Maulana Yusuf, Serang, Banten, Sabtu (21/4).

Sesekali dia mengipas-ngipaskan tangan untuk mengusir gerah di gedung yang terasa panas itu. Dua kotak berisi nasi dan snack di sampingnya siap untuk santap siang. "Baru sampai jam 10.30 tadi. Setengah jam lalu," kata pria yang tinggal di kampung Cibeo, Badui Dalam.

Dia bersama 46 warga suku Badui Dalam baru saja berjalan kaki dari Pendapa Kabupaten Lebak menuju GOR di alun-alun sebelah timur Serang, Banten, itu. Jaraknya sekitar 33,7 kilometer.

Bila ditempuh jalan kaki tanpa berhenti, perjalanan makan waktu sekitar 7 jam. Di dalam dan luar GOR itu ribuan masyarakat Badui Luar juga sudah tiba. Bedanya, mereka naik kendaraan.

"Berhentinya tidak bisa lama-lama. Karena harus menyesuaikan rangkaian Seba Badui. Beda kalau pergi sendiri," kata pria yang punya nama lahir Sarta itu.

Bersama kelompok tersebut juga ada anak-anak muda yang berumur belasan. Wajah mereka tak memperlihatkan lelah. Tidak ada yang mengeluh capek atau pegal-pegal. Mereka cenderung diam. "Biasa. Tidak capek. Lumayan panas kaki," ujar Haja, 11, yang baru pertama ikut Seba Badui. Dia terlihat malu-malu menjawab pertanyaan Jawa Pos.

Ritual Seba Badui merupakan acara tahunan yang wajib digelar setelah masyarakat yang mendiami kaki Pegunungan Kendeng di Desa Kanekes itu melakukan tradisi Kawalu dan Ngalaksa. Salah satu ritual Kawalu selama tiga bulan itu adalah berpuasa serta berdoa meminta keselamatan bangsa dan negara.

Sedangkan Ngalaksa adalah membuat laksa, sejenis makanan olahan berbentuk seperti mi dari tepung beras. Laksa itu pula yang menjadi salah satu oleh-oleh yang diberikan kepada kepala daerah yang mereka sebut Bapa Gede saat Seba.

Seba yang secara mudah diartikan sebagai silaturahmi atau bertamu sebenarnya bukan hanya bertemu kepala daerah. Tapi, termasuk camat Leuwidamar dan anggota musyawarah pimpinan kecamatan dari unsur TNI dan Polri juga ditemui.

Ketua Pelaksana Seba Badui Ari Kuncoro yang juga menjabat kepala urusan umum Desa Kanekes menuturkan, yang mendatangi camat Leuwidamar memang hanya perwakilan tokoh masyarakat. Mulai Jaro Pamarintah Saija hingga Baris Kolot (tetua adat). "Yang dibawa mulai beras, pisang, gula aren, dan laksa. Kalau durian tidak termasuk karena tidak selalu musim," ujar pria yang berasal dari Gunung Kidul tapi menikah dengan perempuan Badui pada 2008 itu.

Sebagian besar warga Badui yang turut dalam ritual Seba berangkat langsung ke Lebak. Warga Badui Luar memang tidak punya keharusan berjalan kaki menuju kota. Mereka diberangkatkan dengan 80 kendaraan, mulai truk, bus, minibus, pikap, hingga mobil pribadi. Jumlah peserta Seba Badui mencapai 1.388 orang dari 12 ribu total warga Kanekes. Semuanya lelaki. Sebab, perempuan tidak diperkenankan untuk turut dalam ritual adat itu.

"Kami berangkat setelah jumatan supaya tidak mengganggu warga muslim. Untuk saling menghormati," ujar Ari. Pertimbangannya, jumlah kendaraan yang cukup banyak.

Sedangkan warga Badui Dalam yang berjumlah 47 orang memang berangkat Kamis sore untuk bermalam terlebih dahulu di rumah kepala desa. Jumat pagi mereka melanjutkan perjalanan menembus hutan dan kebun menuju Lebak. Merekalah yang membawa laksa. Karena sesuai adat, laksa harus dibawa dengan berjalan kaki. Tidak boleh dinaikkan ke kendaraan. Meski, yang membuat laksa itu adalah orang Badui Luar. "Laksa itu harus dibawa jalan kaki. Amanah leluhurnya begitu," ujar Ayah Karmain.

Jumat malam (20/4) mereka sudah di Pendapa Kabupaten Lebak. Acara itu juga dihadiri mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah dari Lebak, Sabtu malam (21/4) ada Seba di Museum Negeri Banten bersama Gubernur Banten Wahidin Halim yang dihadiri pejabat musyawarah pimpinan daerah. Pagi kemarin (22/4) ada pula Seba dengan Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah.

Ritual utama Seba sebenarnya cukup singkat. Tak sampai sejam. Warga Badui Dalam yang mengenakan baju putih lengan panjang dan lomar (ikat kepala) putih duduk di barisan depan, kecuali Jaro Saija dan Jaro Tanggungan 12 Saidi Putra yang menjadi perwakilan untuk bicara. Ribuan orang Badui Luar duduk di barisan berikutnya. Orang-orang Badui itu duduk berhadap-hadapan dengan Bapa Gede beserta perangkat daerah lainnya.

Ritual Seba dimulai dengan pembukaan yang disampaikan Jaro Tanggungan 12 Saidi Putra. Dia mengucapkan sambutan dalam bahasa Sunda lama. Isinya adalah ucapan rasa syukur atas hasil panen yang baik. Selain itu, disampaikan harapan-harapan agar pemerintah ikut menjaga alam. Selanjutnya, ucapan penerimaan dari kepala daerah yang bisa diucapkan dalam bahasa Indonesia. Serta ungkapan komitmen untuk turut menjaga alam dan menjaga tanah ulayat suku Badui.

Ritual berikutnya adalah penyerahan laksa oleh Jaro Tanggungan 12 kepada kepala daerah. Barang bawaan lain seperti pisang, gula aren, bambu muda, dan beras tidak diserahkan secara simbolis. Sebagai imbal balik, kepala daerah memberikan kadeudeuh (semacam bingkisan) bagi masyarakat Badui.

Acara itu belum sepenuhnya selesai. Jaro Pamarintah atau yang dikenal pula sebagai Kepala Desa Kanekes Saija lantas memberikan sambutan berbahasa Indonesia bercampur Sunda. Sambutan itu diperlukan untuk memperjelas maksud dan tujuan warga Badui melakukan Seba itu. Saat bertemu Gubernur Banten Wahidin Halim itu, dia menyampaikan Desa Kanekes punya tanah di Perda Hak Ulayat Tanah Adat seluas 5.368 hektare. Tiga ribu hektare di antaranya adalah tanah pelindung alam yang harus dijaga dan dilestarikan.

"Gunung tidak boleh dilebur, Lebak tidak boleh dirusak, sesaka (pusaka) tak boleh diubah," kata Jaro Saija. Bila tiga hal itu dilanggar, dikhawatirkan bisa memicu terjadi bencana alam seperti tanah longsor, gempa bumi, topan, dan tsunami. Masyarakat Badui juga sudah melakukan upacara ritual di Gunung Sanghiyang Siaran di Ujung Kulon, Gunung Honje, Gunung Kembang, Gunung Madur, Gunung Gang Panjang, dan Gunung Wongkok. Sedangkan untuk merawat sesaka, mereka sudah memeriksa kondisi pusaka yang tersimpan tak jauh dari Masjid Lama Banten. Itu juga bagian dari ritual Seba.

"Kami ada peringatan dari leluhur dan karuhun pada 2018 itu kekhawatiran ada tsunami di selatan. Keduanya di Anyer. Kami mudah-mudahan, berdoa, supaya jangan sampai terjadi," kata dia. Selama sambutan itu, seluruh warga Badui terlihat duduk diam menyimak. Hampir tak ada kata-kata atau obrolan meski ada yang duduk di bagian belakang.

Wahidin Halim memberikan apresiasinya terhadap ritual Seba Badui sebagai bentuk kearifan lokal yang harus dilestarikan. Dia berjanji tidak akan mengubah kawasan tempat tinggal warga Badui. "Cara Bapak dalam hidup, membangun ekonomi, beradat istiadat, dan mempertahankan tradisi itu suatu yang sangat dihargai oleh pemerintah," ungkap dia. Ritual itu diakhiri dengan doa dan penyerahan gunungan wayang. Malam itu ada hiburan wayang golek semalam suntuk.

Siang harinya, warga Badui yang disambut kedatangannya juga sudah diberi hiburan di Alun-Alun Serang. Mereka disuguhi penampilan dari daerah lain di Banten, mulai Cisadane, Banten Lama, Anyer-Carita, Tanjung Lesung, Sawarna, hingga Taman Nasional Ujung Kulon.

Menjelang petang, orang Badui yang baru pertama mengikuti Seba harus mandi di Sungai Cibanten di belakang Museum Negeri Banten. Minimal mereka harus meneteskan air sungai itu ke pelupuk mata dan membasuh kaki. Anak-anak muda berusia belasan tahun, termasuk Haja, juga mengikuti ritual tersebut. Sungai di selatan museum itu dipisahkan tembok berpintu kecil yang khusus untuk mengakses sungai tersebut.

Ayah Karmain mengungkapkan, selama Seba itu, orang Badui Dalam tetap harus mengikuti aturan-aturan tradisi. Misalnya, tidak boleh naik kendaraan. Menggunakan toilet yang disediakan di sekitar GOR pun dihindari. Selain itu, yang paling penting untuk menjaga tradisi adalah pelibatan anak-anak muda Badui dalam Seba. "Kami utamakan walaupun antara kuat dan tidak kuat. Cuma kami utamakan itu untuk generasi nanti secara ritual Seba itu ada kelangsungan dijaga," ujar Ayah Karmain. (*/c10/oki)

Sumber: https://www.jawapos.com

Perempuan di Pusaran Mitologi Upacara Adat Indramayu

PEREMPUAN ternyata memiliki korelasi keagungan tersendiri dalam mitologi yang tercipta di Indramayu. Mitologi tersebut seakan-akan menjadi sumber adanya ritual adat istiadat di wilayah tersebut selama beratus-ratus tahun. Upacara adat mapag sri, sedekah bumi, nadran, dan ngarot memiliki keterkaitan dengan mitologi tersebut.

Perempuan menjadi ikon yang melegenda akan adanya upacara adat mapag sri, sedekah bumi, dan nadran. Mapag sri dan sedekah bumi merupakan upacara adat para petani di Indramayu yang berkaitan dengan lahan pertanian, tanaman padi, dan ungkapan rasa syukur. Nadran merupakan upacara adat para nelayan di Indramayu yang berkorelasi dalam lingkup pesisir, lautan, ikan, dan ungkapan mulang trima (ungkapan bakti) kepada Sang Pencipta.

Sedekah bumi senantiasa digelar seusai musim panen padi di desa-desa. Bentuk acara adat tersebut adalah warga desa melakukan apresiasi pergelaran wayang kulit purwa di lebu (balaidesa) siang-malam. Di balai desa itu pulalah warga berduyun-duyun membawa nasi tumpeng, lengkap dengan bakakak ayam dan kue-kue tradisional lainnya. Setelah doa bersama, nasi-nasi tumpeng itu dimakan bersama para pengunjung, dan sebagian lainnya dibagikan ke rumah aparat desa dan tokoh masyarakat.

Upacara adat sedekah bumi memiliki narasi tentang cerita wayang ”Bumi Loka”. Oleh karenanya, sering kali pula ada yang menyebut sedekah bumi sebagai upacara adat Bumi Loka. Nama tersebut berkaitan dengan cerita adanya Prabu Natakawaca, ayah Bumi Loka, seorang raja di suatu kerajaan yang terkenal sakti mandraguna.

Pada suatu bagian cerita, Prabu Natakawaca jatuh cinta kepada bidadari di Suralaya bernama Dewi Supraba. Natakawaca naik ke Suralaya untuk melamar Supraba kepada Betara Guru. Sayang, lamarannya ditolak. Akibat penolakan tersebut, Sang Prabu murka besar. Dia mengamuk di Suralaya tersebut. Tak ada satu pun Dewa yang sanggup meladeninya. Akhirnya Betara Guru segera mengutus Betara Narada untuk turun ke bumi menemui Arjuna. Tujuannya satu, minta bantuan Arjuna untuk menghentikan amukan Natakawaca. Arjuna menyanggupi. Benar saja, di Suralaya tersebut Arjuna mampu menghentikan dan menewaskan Natakawaca.

Agaknya cerita tidak berhenti sampai di sini, sebab putra Natakawaca bernama Bumi Loka menuntut balas kematian ayahnya. Di bumi ia menyerang Kerajaan Amarta, negara yang juga didiami Arjuna. Kesaktian Bumi Loka seperti dipertaruhkan dalam melampiaskan dendam pada Arjuna. Kerajaan Amarta dibuat kering kerontang, warga sangat kesulitan mencari air. Kemarau berkepanjangan. Arjuna segera turun tangan. Bumi Loka dikejarnya. Adu tanding terjadi. Akhirnya Bumi Loka dapat ditewaskan Arjuna. Seiring dengan kematian Bumi Loka, hujan pun turun di bumi. Warga bisa mengolah kembali sawah ladangnya.

”Mapag sri”
Secara etimologi basa Dermayu (bahasa Jawa dialek Indramayu), mapag sri berarti menyongsong padi. Songsongan ini dihubungkan dengan musim panen padi yang segera tiba dalam dua atau tiga hari lagi. Masyarakat pun menyambutnya dengan menggelar wayang kulit purwa di balaidesa. Lakonnya adalah tentang Dewi Sri, dewinya padi.

Menurut cerita, Betara Guru memiliki dua putra, yakni Angkarasa dan Angkasari. Suatu hari, Betara Guru memanggil kedua putranya tersebut. Angkasari yang rumahnya dekat diperintahkan agar segera menyampaikan kepada kakaknya, Angkarasa, yang rumahnya memang agak jauh. Ketika Angkasari tiba di rumah kakaknya, ternyata sang kakak sedang sakit panas. Dorongan hawa panasnya bahkan membuat Angkasari jatuh terpelanting.

Hal inilah yang membuat Angkasari merasa sakit hati atas kejadian tersebut. Ia kemudian berbohong ketika melaporkan kepada ayahandanya. Ia mengaku bahwa kakaknya menolak menghadap ayahnya, bahkan menantang adu kesaktian. Atas laporan tersebut, tanpa menyelidiki hal sebenarnya, Betara Guru murka. Kutukan pun terlontar, yakni agar Angkarasa berubah menjadi ular.
Betara Guru kemudian mengutus Betara Narada agar ke tempat Angkarasa. Benarlah, Angkarasa sudah berubah menjadi ular, yang kemudian diberi nama Sang Hyang Antaboga. Akan tetapi, tubuh ular tersebut tetap panas. Betara Narada merasa kasihan memperhatikan hal ini. Ia berusaha mencari pangkal penyakit panas ini. Dengan menggunakan lidi, Narada mengulik-ulik telinga ular tersebut. Tanpa dinyana, dari telinga tersebut keluarlah sebuah telur yang sangat panas.

Ketika telur tersebut dipegang Narada, terasa sangat panas sekali. Ia tak sanggung menyentuh dan memegangnya. Inilah yang membuat telur itu terjatuh. Akan tetapi, jatuhnya telur itu melesat cukup jauh, yakni di Sapta Loka, lapisan bumi ketujuh. Telur panas itu kemudian diketemukan Dewi Pertiwi. Beberapa hari kemudian, telur itu dierami. Setelah cukup waktu, menetaslah telur tersebut. Dari kulitnya menjadi emban dunya, dari cairan putihnya menjadi sejana, dan dari cairan kuningnya menjadi sosok Dewi Sri yang cantik.

Betara Guru yang kemudian mengetahui hal itu, berupaya menjodohkan Dewi Sri dengan Budug Basu, putranya. Namun, Dewi Sri menolaknya. Agaknya Betara Guru merasa sakit hati, sehingga ia mengancam Dewi Sri dengan senjata ani-ani atau ketam pemotong padi. Apa yang dilakukan Dewi Sri ternyata tragis. Ia menerjang alat tersebut, sehingga ia pun tewas. Kematian Dewi Sri itulah yang kemudian menjadi momentum para petani, sebab dari kuburan Dewi Sri tumbuh sebatang tanaman baru yang bernama tanaman padi.

Cerita Dewi Sri dan Budug Basu itu ternyata juga menjadi latar upacara adat para nelayan, yakni Nadran. Seperti halnya sedekah bumi ataupun mapag sri, acara nadran juga menggelar wayang kulit purwa. Ceritanya mengetengahkan Budug Basu sebagai putra dewa yang berkaitan dengan penguasa laut, Dewa Baruna. Ungkapan cinta Budug Basu yang ditolak Dewi Sri membuatnya sakit hati. Rupa Budug Basu memang buruk. Badannya penuh koreng, badannya juga berbau anyir. Ia akhirnya menderita dan meninggal dunia.

Kematian Budug Basu ternyata juga belum selesai. Sebab, tak ada seorang pun yang mau menguburkan jasad tersebut. Hal itu karena baunya sangat menyengat tak sedap. Akhirnya pada dewa memerintahkan dua bersaudara bernama Cukeng dan Wrengkeng untuk melemparkan mayat tersebut ke tengah lautan. Konon, di tengah lautan itu tubuh Budug Basu berubah menjadi ikan-ikan yang banyak.

Upacara adat ngarot memang tidak spesifik memiliki latar cerita. Akan tetapi, di situ tercetus interpretasi akan adanya makna kesuburan, yang tentu saja berkorelasi pula dengan perempuan. Pada upacara adat yang ada di Desa Lelea dan sekitarnya itu, barisan jejaka desa membawa alat-alat pertanian, sedangkan para gadis desa membawa bibit padi. Mereka berkumpul di halaman balai desa dengan pakaian khas, jejaka berbusana komboran dan iket di kepala, sedangkan gadis berbusana kebaya dengan hiasan aneka bunga di kepala.

Mereka kemudian berpawai mengelilingi desa. Ketika kembali lagi ke halaman balai desa, para jejaka dihibur kesenian tari ronggeng ketuk yang dimainkan perempuan. Para gadis dihibur kesenian topeng, yang ditarikan laki-laki. Di situ seperti ada persilangan, yakni jejaka dipertemukan penari perempuan, gadis dipertemukan penari laki-laki. Persilangan itu seperti menandai dimulainya makna kesuburan. (Supali Kasim, aktivis Lembaga Kebudayaan Indramayu)***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com

Nyadran di Makam Sewu Bantul, Tradisi Budaya yang Didasari Tuntunan Agama

BANTUL - Selain masyarakat yang tumpah memadati area sekitar Makam Sewu, Wijirejo, Pandak, pada Senin (7/5/2018) sore, turut hadir pula dalam tradisi nyadran ini sejumlah pejabat dari Pemerintah Kabupaten Bantul.

Terlihat hadir di Pendopo Makam Sewu, Wakil Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih. Ia mengenakan kopiah hitam dan pakaian hijau linmas, Kepala Dinas Kebudayaan, Sunarto dan Camat Pandak, Sri Kayatun.

Dalam sambutan atas nama pemerintah Kabupaten Bantul, Abdul Halim mengutarakan rasa bangga terhadap masyarakat Wijirejo dan sekitarnya yang telah melestarikan kebudayaan yang baik.

Menurutnya, tradisi Nyadran Makam Sewu merupakan kebudayaan yang mengajarkan nilai-nilai agama untuk berbakti kepada orang tua dan para leluhur.

"Para leluhur dan orang tua itu telah banyak memberi kebaikan dan kemanfaatan kepada kita semua dan para anak cucunya. Oleh sebab itu, kebudayaan nyadran Makam Sewu ini baik dan harus tetap dilestarikan," tuturnya dalam bahasa Jawa.

Ia mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten Bantul memiliki cita-cita dan arah tujuan yang mulia membawa masyarakat Bantul menjadi masyarakat yang harmonis.

Guyup rukun dan memiliki kebudayaan adiluhung yang istimewa.

Satu di antara kebudayaan adiluhung, adalah tradisi Nyadran Makam Sewu yang dinilainya merupakan tradisi yang mulia.

Tradisi yang berpegang pada tuntutan agama.


"Pemerintah Kabupaten Bantul syukur dan bangga masyarakat Wijirejo dan sekitarnya terus melestarikan budaya religius nyadran Makam Sewu. Kebudayaan yang didasari oleh tuntutan agama itu tradisi yang baik," ungkapnya.

Diceritakan sebelumnya, Tradisi nyadran makam sewu ini diawali dengan membaca ayat-ayat suci Alquran dan tahlil di Makam Sewu.

Puncak acara tradisi nyadran ini dengan kirab jodhang (berisi uborampe kenduri) yang diarak dari Balai Desa Wijirejo menuju Pendopo Makam Sewu yang dilakukan oleh bregada berpakaian prajurit.

Dalam kirab ini diarak pula enam gunungan yang berisi hasil bumi. Di belakang kirab gunungan, aneka kesenian ditampilkan.

Setiap jalan yang dilalui kirab tampak penuh sesak dipadati oleh masyarakat.

Jodhang yang dikirab oleh prajurit berbentuk kotak dan dipikul oleh empat orang. Di dalam Jodhang ini berisi aneka macam makanan. Ada nasi gurih, lauk pauk, apem, gedang rejo dan ingkung.

Sampai di Pendopo Makam Sewu, Jodhang beserta keenam gunungan itu langsung diserahkan kepada tokoh agama untuk didoakan.

Ketua Panitia Nyadran makam sewu, Hariyadi menjelaskan, tradisi nyadran Makam Sewu merupakan tradisi masyarakat Wijirejo dan sekitarnya sebagai bagian birrul walidain, tanda bakti kepada orang tua dan leluhur.

"Tradisi ini diadakan setiap tahun. Bulannya bulan Ruwah, tanggalnya 20 keatas dan dilakukan setiap hari Senin. Tradisi ini sebagai tanda bakti kepada orang tua (birrul walidain) dan kepada leluhur," tuturnya. (tribunjogja)

Sumber: http://www.tribunnews.com

Sekilas Menyimak Tradisi Tetaken Gunung Limo Pacitan

Bukan hanya larung sesajen ritual tradisi yang biasa digelar masyarakat Pacitan saat memperingati pergantian tahun Islam. Namun ada satu budaya cukup sakral yang mungkin belum begitu dikenal masyarakat, yaitu Tetaken.
Sebagaiman diketahui, Kabupaten Pacitan terletak 524 Km sebelah timur dari Ibu Kota Jakarta dan 209 Km arah barat daya dari kota Surabaya. Kabupaten yang terkenal dengan Gunung Limo ini mempunyai tradisi yang cukup unik. Karena menganut penanggalan Jawa, yaitu tepat pada 1 Syuro, diadakan beberapa kegiatan untuk memperingati bulan baru Hijriyah.
Beberapa di antaranya adalah pengajian, melekan, tirakatan, perajahan, larung sesaji dan napak tilas sejarah. Sedangkan di Gunung Limo sendiri, beberapa orang melakukan teteki atau bertapa di bulan itu. Selanjutnya para pertapa tersebut disambut oleh masyarakat dalam bentuk perayaan Tetaken yang diadakan setiap tanggal 15 bulan Syuro.
Salah seorang pemerhati sejarah di Pacitan Ki Ageng (KA) Jolothundo mengatakan, Tetaken berasal dari kata tetekian. Teteki mendapat imbuhan “an” (tetekian) yang berarti pertapa-an. Yaitu bermakna tempat pertapaan. Karena karakter bahasa setempat untuk mempermudah penyebutan, maka kata tetekian berubah pengucapannya menjadi tetaken tanpa mengurangi makna sesungguhnya.
"Tradisi tersebut diadakan untuk mengingat kembali proses datangnya Eyang Tunggul Wulung dan Mbah Brayut ke Gunung Limo dan menetap di lereng Gunung Limo," ujarnya, Selasa (8/5).
Digambarkan dalam ritual ini, sang juru kunci Gunung Limo turun gunung bersama para cantriknya yang sekaligus murid-muridnya. Mereka baru selesai menjalani tapa di puncak gunung dan akan kembali ke tengah masyarakat. Bersamaan turunnya para pertapa dari puncak gunung, iring-iringan warga muncul menyambut para pertapa memasuki area upacara.
"Masyarakat mengenakan pakaian adat Jawa. Barisan paling depan adalah pembawa panji dan pusaka Tunggul Wulung (Panji Tunggul Wulung, Keris Hanacaraka, Tombak Kyai Slamet, dan Kotang Ontokusumo/Jubah Hitam pertapa)," cerita Jolothundo.
Di Pacitan, lanjut dia, terdapat lokasi pendadaran (pelatihan kanuragan dan kebatinan) yang berpusat di Gunung Limo. Pendadaran prajurit kemudian lazim disebut sebagai wisudan Tunggul Wulung (wisuda yang dilakukan oleh Tunggul Wulung). Prajurit Mataram melakukan pendadaran olah kanuragan dan kebatinan kepada pemuda-pemuda di desa-desa dengan tujuan memperkuat pertahanan kerajaan apabila sewaktu-waktu ada peperangan.
Pembekalan yang dilakukan oleh prajurit Mataram di bawah Panji Tunggul Wulung tidak hanya olah fisik saja kepada generasi muda. Melainkan mengajarkan ilmu kasepuhan kepada masyarakat. Memantabkan ajaran Islam secara esketik dikombinasi dengan penanaman prinsip-prinsip pengabdian kepada negara.
"Mendekatkan hubungan kerajaan dengan masyarakat sekaligus mempereratnya. Kegiatan penanaman mental bela negara, olah kaprajuritan, kepatuhan kepada raja dan kerajaan, nilai nilai-nilai moral, spiritual lahir dan batin oleh prajurit Mataram Tunggul Wulung ini di kemudian hari menjadi sebuah tradisi dari generasi ke generasi yang disebut dengan Tetaken," pungkasnya. (yun/rev)

Sumber: https://kumparan.com

Ngandang Rowot, Ajang Tradisi Budaya di Lombok

MATARAM -- Pulau Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki kekhasan adat istiadat dan budaya yang sangat kuat. Suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok dikenal sangat kuat dalam menjalankan tradisi dan kearifan lokal.

Salah satu yang masih kuat dalam memegang tradisi terdapat di Dusun Ende, Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika pasti akan menemui Dusun Ende yang berada di kanan jalan dari arah Bandara Internasional Lombok. Dusun ini kini menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang ada di Lombok.

Pada Jumat (11/5) mendatang, warga Ende akan menggelar sebuah prosesi budaya tentang peringatan tahun baru masyarakat Sasak, yang dikenal dengan Ngandang Rowot.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ende, Tantowi Surahman, mengatakan Ngandang Rowot merupakan tradisi yang sudah berjalan sejak lama. Beragam atraksi ritual dan budaya akan tersaji di sini.

"Nanti ada arak-arakan budaya sekitar 200 meter dari masjid menuju lokasi acar," ujarnya di Mataram, NTB, Selasa (8/5).

Warga Ende juga menyiapkan 2 ribu Cerorot sebagai welcome snack bagi para wisatawan dan masyarakat sekitar yang datang. Cerorot sendiri merupakan salah satu kue tradisional suku Sasak dengan bentuk seperti terompet mini.

Cerorot merupakan jajanan tradisional dengan bahan baku seperti tepung beras, gula merah, dan santan kelapa. Keunikan jajanan satu ini terletak pada cara memakannya dengan memelintir dan Cerorot akan menyembul secara perlahan kepermukaan, sedangkan kulitnya akan mengerucut ke bawah, sehingga tak berceceran.

Tantowi menyampaikan, meski Ngandang Rowot merupakan ajang tradisi, namun warga Ende mempersilakan para wisatawan datang melihat kegiatan ini. Kata dia, kunjungan wisatawan ke Ende terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

"Kalau hari-hari biasa kunjungan bisa empat sampai lima bus, kalau weekend bisa sampai 2.500 pengunjung," kata Tantowi.

Asal negara wisatawan yang datang pun bervariasi, dengan Belanda, Malaysia, Cina, Korea, dan AS menjadi yang terbanyak dalam kunjungan ke Ende.

Ketua DPD Asita NTB Dewantoro Umbu Joka berujar, ajang-ajang berbau tradisi seperti ini sangat disukai para wisatawan, terutama turis-turis asing. Banyak dari mereka, kata Umbu, yang ingin menyaksikan secara langsung aktivitas adat dan budaya dari Suku Sasak di Lombok ini.

"Kegiatan tradisi ini sangat potensial dalam menarik minat wisatawan, tinggal bagaimana kita mengemasnya dengan baik agar wisatawan tertarik," ungkapnya.

Sumber: http://www.republika.co.id

Ritual yang Harus Dijalani Pencari Pesugihan di Gunung Kemukus, Termasuk Seks 7 Kali

Ritual pesugihan di Gunung Kemukus memang sudah lama dikenal oleh masyarakat.
Namun hebohnya fenomena 'Gunung Seks' di Jawa Tengah berawal dari seorang video jurnalis dari SBS News, Australia, Patrick Abboud.
Patrick melakukan investigasi mendalam ke kawasan ini.
Di dalam video tersebut juga terlihat seorang pria dan wanita yang masuk ke sebuah bilik di sebuah rumah.
Ada pula wanita yang setengah telanjang dan ditutup matanya sedang diwawancara.
Ia mengatakan bahwa setiap 35 hari, peminat kekayaan harus berhubungan seks tujuh kali berturut-turut dalam ritual itu.
Tujuh kali itu harus dilakukan setiap malam Kamis Pon.
Tempat ritual ini berada di Gunung Kemukus tepatnya terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen, 30 km sebelah utara Kota Solo.
Ritualnya dimulai dengan berdoa dan memberikan persembahan.
Lalu mereka membasuh tubuhnya di air suci yang ada di lokasi tersebut.

Setelah itu, saatnya bercinta.
Tapi tak bisa hanya sekali atau dua kali datang.
Peminat pesugihan harus bercinta sebanyak 7 kali berturut-turut, setiap malam Kamis Pon.
Itu pun tak boleh membayar PSK, tapi harus dengan pengunjung lain.
Anehnya, jika orang yang berhubungan seks mengeluarkan uang untuk membayar pasangannya, maka ritual tidak akan bekerja.
Artinya keberuntungan tidak akan datang.
Berikut video dari jurnalis dari SBS News, Patrick Abboud tentang ritual Gunung Kemukus. (*)

Melihat Eksotisme Adat Kwangkay di Kutai Barat

Kubar, Kaltim - Ada yang ramai di Kampung Pentat, Kecamatan Jempang, Kutai Barat (Kubar) Kalimantan Timur (Kaltim) pada pekan lalu. Ya di kampung tersebut, tengah berlangsung acara adat Kwangkay.

Acara adat ini merupakan ritual untuk menghargai keluarga atau leluhur yang telah meninggal dunia. Pada praktiknya, adat Kwangkay menjadi sarana warga setempat untuk membalas budi kepada para leluhur dan keluarga yang telah tiada.

"Kita sedang melaksanakan acara adat Kwangkay. Acara adat ini bertujuan untuk memberi makan kepada orang yang sudah meninggal dengan tujuan untuk membalas budi kepada orang tersebut," kata Tanco, selaku panitia acara adat Kwangkay.

Bentuk acara dari Kwangkay antara lain tari di antara hewan, saung ayam, melepas kerbau. Pada malam hari, seluruh warga adat di Kampung Pentat makan daging kerbau bersama-sama.

"Acaranya menari di sekeliling babi, saung ayam, menari berkeliling kerbau, melepas kerbau lalu nanti malamnya makan kerbau," sahut Tanco, yang juga berprofesi sebagai pengukir patung tersebut.

Acara Kwangkay dilaksanakan selama 49 hari. Adat ini yang pelaksananya adalah 1, 2 atau lebih dari 2 keluarga. Setiap keluarga memberikan balas budi terhadap leluhur atau sanak keluarga yang telah tiada.

"Acaranya berlangsung selama 7 hari 7 minggu. Untuk acara ini, biayanya besar bisa mencapai Rp100 juta. Jadi jika keluarga yang mampu akan melaksanakan sendiri. Jika tidak, maka bisa bergabung dengan keluarga lainnya," ujar Tanco.

Kenduri Pohon, Tradisi untuk Menjaga Mata Air di Tunggularum

Sleman, Yogyakarta - Jika tradisi kenduri umumnya adalah kegiatan masyarakat dengan berkumpul membawa berbagai maknan untuk didoakan sesepuh adat. Tapi ada kenduri unik yang bakal digelar di Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta. Yakni ‘Kenduri Pohon’ yang bakal digelar besok Minggu (23/10/2016). Acara ini bakal digelar mulai pukul 09.00 WIB dan bakal dihadiri Gubernur DIY.

Menurut Tomon Wirosobo, Kepala Desa Wonokerto, kegiatan tersebut merupakan bentuk ekspresi budaya dari komitmen bersama semua pihak baik masyarakat, pemerintah, akademisi dan semua stakeholder yang peduli untuk melestarikan dan menyelamatkan mata air yang terletak di kaki Gunung Merapi agar tetap mengalir.

“Acara kenduri pohon ini sekaligus sebagai penanda peresmian hutan lindung dan penanda tanganan komitmen bersama tentang penyelamatan dan kelestarian mata air oleh Gubernur D.I.Yogyakarta,” ujar Tomon Wirosobo kepada KRjogja.com, Kamis (20/10/2016).

Kegiatan kenduri pohon ini merupakan satu rangkaian acara Gelar Potensi dan Budaya WONOKERTO EXPO TAHUN 2016 yang dibuka 18 Oktober 2016 dengan rangkain kegiatan diantaranya pameran potensi desa seperti kuliner, kerajian dan pariwisata serta penampilan seni pertunjukan kerakyatan yang ada di Desa Wonokerto. Kegiatan akan berakhir pada tanggal 23 Oktober 2016.

Wonokerto adalah desa paling atas diutara Daerah Istimewa Yogyakarta yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah disisi barat dan gunung merapi disisi utara yang merupakan daerah tangakapan air dan menjadi wilayah penyangga ketahanan suplay air ke daerah yang ada dibawahnya yaitu Kota Yogyakarta. Oleh sebab itu penyelamatan dan pelestarian mata air ini diharapkan tetap terjaga.

“Salah satunya program yang dikembangkan untuk menyelamatkan dan melestarikan mata air adalah dengan menanam berbagai jenis tanaman yang mampu menahan dan menyimpan air di sepanjang aliran sungai yang bersumber dari Merapi,” pungkas Tomon.

Ritual Tuturangiana Andala Masyarakat Pulau Makasar untuk Penguasa Laut

Baubau, Sulawesi Tenggara - Panasnya sinar matahari tak menyurutkan langkah beberapa laki-laki paruh baya yang menggunakan jubah panjang adat Buton membawa sesajen di tangannya. Empat buah sesajen yang tersimpan di atas susunan bambu besar yang sudah dipotong dengan ukuran kecil.

Keempat sesajen tersebut dimasukkan ke dalam tenda yang di dalamnya sudah banyak pejabat dan tokoh masyarakat duduk bersila.

Sesajen tersebut merupakan bagian dari adat Tuturangiana Andala, atau memberi sesajen kepada penguasa laut yang dilakukan masyarakat Pulau Makasar, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara.

“Ritual ini merupakan salah satu tradisi masyarakat Puma sebelum melaksanakan aktivitas di laut diawali dengan Tuturangiana Andala. Intinya untuk membuka pintu-pintu rezeki di laut, sekaligus menolak semacam hambatan dan tantangan yang berasal dari kejahatan laut, seperti gelombang tinggi dan sebagainya,” kata Ketua Adat Pulau Makasar, Armuddin, Minggu (16/10/2016).

Isi sesajen tersebut seperti aneka jenis kue tradisional khas Buton, beberapa batang rokok, beberapa lembar daun sirih, satu buah pinang, dan kelapa merah yang masih muda.

Seekor kambing disembelih di sekitar area ritual adat tersebut. Darah kambing yang keluar ditampung dalam sebuah ember kecil dan kambing setelah disembelih langsung dibawa ke rumah penduduk.

Tak berapa lama kemudian, empat orang laki-laki yang mengenakan jubah adat, datang mengambil darah kambing tersebut. Masing-masing mengambil darah kambing dengan gelas dari bambu dan meletak di dekat tempat sesajen tersebut.

Menurut Armudin, ritual adat ini telah lama dilakukan sejak Pulau Makasar mulai dihuni pasukan Gowa dari pasukan Sultan Hasanuddin yang ditawan di pulau ini karena mengalami kekalahan.

“Secara umum, penduduk Puma berprofesi sebagai nelayan. Sebelum turun melaut mereka langsung melakukan ritual adat tersebut. Menurut keyakinan masyarakat setempat, bila tidak melakukan ritual akan mendapatkan hambatan dan gangguan dari penguasa laut,” ujar Armudin.

Empat buah sesajen kemudian dibawa dengan menggunakan kapal kecil di empat penjuru Pulau Makasar yang dianggap keramat.

Keempat penjuru tersebut mempunyai sejarah seperti terjatuhnya stempel Kerajaan Kesultanan Buton yang dianggap keramat, munculnya jangkar putih tanpa berkarat dari lautan, dan terjadinya kecelakaan ketika masyarakat bertentangan dengan nilai agama.

Sementara itu, Wali Kota Baubau, AS Thamrin, mengatakan, ritual adat Tuturangiana Andala merupakan ritual yang dilakukan setiap tahun. Memberi sesaji kepada penguasa laut dengan empat arah angin mengandung hikmah dan makna tersendiri.

“Kita mensyukuri apa-apa rezeki yang diberikan kepada kita semua. Sesaji kita harapkan penguasa memberikan kemudahan kepada para nelayan untuk memudahkan mendapatkan ikan,” ucap Thamrin.

Dari Dusun Gebug, Seni Kuda Lumping Dilestarikan

Ungaran, Jateng - Sejak 1988, Dusun Gebug, Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, memang dikenal sebagai lingkungan yang mempunyai kesenian tradisional kuda lumping. Tidak hanya di Kabupaten Semarang, kesenian rakyat dari salah satu dusun di lereng Gunung Ungaran ini pun kerap pentas ke luar wilayah.

Sesepuh kesenian kuda lumping Rukun Karya Budaya Sakti (RKBS) Kalisidi, Suwarsono (62) mengatakan, hingga saat ini paguyuban kuda lumping tertua di Ungaran Barat tersebut masih aktif berlatih. Selain melibatkan belasan pemain yang sudah sepuh, pihaknya juga mengajak generasi muda atau anak usia sekolah untuk ikut berlatih.

“Masih aktif berlatih, latihan rutin setiap Senin malam. Anak-anak kita libatkan untuk kepentingan regenerasi,” katanya kepada Suara Merdeka, Kamis (13/10) siang.

Seiring berjalannya waktu, disamping seni kuda lumping sekarang juga dikembangkan kesenian pendamping. Diantaranya kesenian reog, gerakan prajuritan, tarian topeng penthul, dan seni barongan. Demikian halnya dengan alat musik yang digunakan, menurut dia, sudah mengaplikasikan musik gabungan tradisional dan moderen.

“Musik tradisional sudah terpadu dengan instrumen drum dan keyboard. Ketika tampil biasanya kita belibatkan 20 hingga 25 orang pemain, termasuk petugas pengiring musik,” ujarnya.

Ditanya cirikhas seni kuda lumping Dusun Gebug, pria yang gemar berkebun ini menjawab, permainannya tergolong kalem atau tidak beringas. Artinya, saat ada pemain yang kerasukan tidak serta-merta mengejar penonton berbaju merah.

“Ciri khasnya jarane kalem, mangane sitik ora kaya jaran liya. Jadi yang nanggap juga tidak repot,” imbuhnya.

Ketika berada di rumah Suwarsono, di RT 1 RW IX Dusun Gebug, Kalisidi, pandangan tamu yang datang pasti tertuju pada instrumen musik kesenian kuda lumping yang tertata rapi. Mulai dari kendang, gong, beberapa gamelan, hingga tratak pentas ada di sana.

Demikian halnya dengan barongan yang ia pesan dan didatangkan langsung dari Purbalingga, serta kelengkapan topi tarian hanoman putih dan hanoman merah. Semuanya ditempatkan di pendapa halaman depan rumah.

Dirinya mengakui, sejak didirikan hingga sekarang seni kuda lumping RKBS tetap direspon baik oleh masyarakat. Tidak jarang, beberapa warga sering bertanya-tanya kapan ada pentas lagi? Menyusul bagaimanapun juga, perekonomian ikut bergerak. Ditandai dengan larisnya jajan khas desa yang dijual warga setempat.

Bila mengacu sejarah dan cerita tutur, kebudayaan dan kesenian tradisional kuda lumping di Dusun Gebug, Desa Kalisidi, Ungaran Barat erat hubungannya dengan sosok dan peran Mbah Kyai Surowono atau Mbah Kyai Ageng Sudrajad. Keterangan yang dihimpun dari masyarakat setempat menyebutkan, bila Mbah Kyai Surowono memang dikenal sebagai panglima perang saat itu.

Kendati terkenal garang saat menghadapi musuh, nama Suro yang berarti pemberani dan Wono yang artinya hutan ini, di sisi lain memang penyuka seni budaya. Itu diperkuat dengan cerita adanya beberapa benda milik Mbah Kyai Surowono yang ditempatkan di beberapa lokasi yang saat ini merupakan sekitar lokasi makam dirinya bersama isterinya di Dusun Gebug RW IX Desa Kalisidi.

Benda yang dimaksud berupa gamelan lengkap, perabotan dapur, beberapa pusaka, dan kuda putih. Ketika Suara Merdeka berusaha menelusuri jejak peninggalan di sekitar lokasi Makam Mbah Kyai Surowono bersama Juma’in (74) sesepuh Dusun Gebug, dan Pamong Budaya setempat, masih terlihat jelas pohon belimbing yang oleh warga disebut pohon belimbing keris.

Warga setempat meyakini, di bawah pohon belimbing berumur ratusan tahun itulah pusaka milik Mbah Kyai Surowono ditempatkan. Begitu pula dengan hamparan sawah yang disebut-sebut sebagai kandang kuda putih.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang, Dewi Pramuningsih melalui Pamong Budaya Kecamatan Ungaran Barat, Bramantyo Agus Saputra menambahkan, pihaknya memang terus berupaya memacu kreatifitas pegiat seni kuda lumping.

“Sebagai pamong budaya saya tetap berkeinginan agar kesenian ini bisa lestari,” terangnya.

Pihaknya tidak memungkiri, untuk berkumpul kemudian berlatih rutin memang sulit. Alasannya lebih dikarenakan adanya rutinitas harian para pemain atau pegiat seni. Mereka ada yang bekerja di pabrik, sekolah, dan berkebun.

“Perlu dukungan dari seluruh lapisan masyarakat untuk membangkitkan atau mengundang wisatawan luar daerah datang ke sini. Apalagi bila dikaitkan dengan paket wisata ke suatu obyek, saya pikir itu akan lebih baik,” tukas Bramantyo.

Warga Bonosari Gelar Tradisi Selamatan Bumi

Kebumen, Jateng - Warga Desa Bonosari, Kecamatan Sempor, Kebumen masih memang teguh adat dan tradisi yang yang diwariskan para leluhur. Salah satunya adalah tradisi selamatan bumi yang digelar setiap bulan Suro pada penanggalan Jawa.

Selamatan bumi diawali dengan babat kuburan yakni bekerja bakti membersihkan makam para leluhur.Setelah itu, acara dilanjutkan dengan kenduren yang digelar secara bersamaan di empat RW di wilayah desa setempat. Doa bersama juga dilaksanakan di lokasi yang disebut panembahan adipati, tempat yang disakralkan warga desa setempat.

Selain kenduren, selamatan bumi dimeriahkan dengan pesta rakyat. Pada siang hari, kesenian kuda kepang menghibur warga desa. Sejumlah tamu undangan pada acara itu tampak antusias. Bahkan sebagian ikut menarik dengan para seniman kudang kepang.

Tidak cukup itu saja, pada malam harinya hiburan dilanjutkan dengan pergelaran wayang kulit semalam suntuk. Pergelaran wayang yang menghadirkan dalang Ki Sunarko Hadi Warsono dari Kutowinangun tersebut membedah lakon Semar Sang Pamomong. Seluruh warga tampak antusias mengikuti rangkaian tradisi yang setiap tahun dilaksanakan tersebut.

Kepala Desa Bonosari Darsono mengatakan, digelarnya selamatan bumi sebagai bentuk wujud rasa syukur kepada Tuhan atas apa yang telah diberikan melalui kesuburan bumi. Selain itu, dengan berdoa bersama warga mengharapkan masyarakat terhindar dari bencana alam.

“Selamatan bumi adalah simbol dari merawat bumi. Selain melalui ritual dan doa juga ditindaklanjuti dengan karya nyata sehingga bumi tetap subur dan masyarakat menjadi makmur,” ujar Darsono kepada suaramerdeka.com, Senin (10/10).

Pattaungeng, Kearifan Lokal Warga Kota Kelelawar Saat Kekeringan

Soppeng, Sulsel - Soppeng, Sulawesi Selatan (Sulsel), tak hanya dikenal sebagai daerah pegunungan yang subur. Kabupaten yang dikenal sebagai daerah sarang kelelawar tersebut memiliki budaya yang masih terjaga kelestariannya.

Satu di antara budaya yang dimaksud adalah pattaungeng. Ritual adat yang terkenal sakral ini digelar saban tahun jika kekeringan melanda wilayah Soppeng.

Seperti yang digelar pada Kamis, 6 Oktober 2016, warga bersama Pemerintah Kabupaten Soppeng melaksanakan ritual adat pattaungeng di sumber mata air Ompo. Satu-satunya sumber air yang dimanfaatkan masyarakat Soppeng untuk memenuhi kebutuhannya.

Namun, mata air Ompo mulai mengering. Lantaran itulah, warga Soppeng menggelar ritual adat pattaungeng yang merupakan kearifan lokal warisan leluhur Kerajaan Soppeng.

Dalam ritual itu, masyarakat akan mempersembahkan kepala sapi yang diletakkan di kotak bambu dan di dalamnya turut diberi sesajen. Tak hanya itu, saat ritual tersebut dihadirkan sejumlah makanan khas masyarakat Bugis Soppeng beserta tiga nasi berbahan pokok ketan, yakni beras ketan hitam, putih, dan merah.

Warga Soppeng, Sulsel, melaksanakan ritual adat pattaungeng saat kekeringan melanda daerah mereka. (Liputan6.com/Eka Hakim)

Kepala Sapi dan beberapa sesajen termasuk tiga warna nasi dari beras ketan itu kemudian dilarung ke Sungai Ompo dengan tujuan sebagai penghormatan kepada roh leluhur. Terlibat dalam prosesi sakral itu tokoh adat yang dikenal sebagai orang pintar di kampung tersebut.

Wakil Bupati Soppeng Supriansyah Mannahawu yang hadir pada kegiatan adat ini pun memberikan apresiasi. Menurut dia, Pattaungeng Ompo merupakan tradisi yang patut dilestarikan.

"Ritual ini sejak dulu memang sudah dilakukan oleh nenek kita, jadi saya harap tidak dikaitkan dengan hal-hal lain. Karena ini murni sebagai upaya melestarikan adat istiadat yang ada di Kabupaten Soppeng," kata dia.

Warga Soppeng, Sulsel, melaksanakan ritual adat pattaungeng saat kekeringan melanda daerah mereka. (Liputan6.com/Eka Hakim)

Adapun berkurangnya debit air di kawasan wisata alam Ompo, menurut Supriansyah, disebabkan banyak faktor. Di antaranya saat ini sumber mata air Ompo bertambah fungsi, yakni dijadikan konsumsi masyarakat melalui pipa Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM). Padahal, sebelumnya, hanya digunakan untuk permandian saja.

"Saat ini air Ompo dialirkan ke masyarakat Soppeng, jadi wajarlah jika debit air Ompo mulai berkurang. Semoga tradisi pattaungeng yang kita laksanakan ini membawa banyak kebaikan dan terjaga sampai generasi selanjutnya," Wakil Bupati Soppeng itu memungkasi.

Seren Tahun Sedekah Bumi, Tradisi Budaya yang Dipertahankan Kampung Girijaya

Girijaya, Jabar - Seren tahun sedekah bumi adalah upacara adat sebagai syukuran masyarakat agraris khas masyarakat Sunda yang dilakukan tiap tahun. Upacara tersebut berlangsung khidmat dan semarak di berbagai desa adat Sunda. Ribuan masyarakat sekitar dan bahkan dari beberapa daerah di Jawa Barat turut dalam kemeriahannya.

Acara sidekah bumi juga digelar di Kampung Girijaya Desa Girijaya Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, berlangsung selama dua hari pada hari Kamis dan Jumat (6-7/10/2016) atau 10 Muharam 1438 Hijriah, yang dihadiri ribuan warga setempat dan dari luar diantaranya Tangerang, Serang Banten, Lebak, Pandeglang, Karawang, Cikarang, Bekasi, Bogor, Sukabumi dan daerah di Jawa Barat lainnya.

Menurut kang Mardi yang saat ini menjadi generasi penerus melestarikan budaya adat yang sebelumnya sudah ada, makna sidekah bumi sendiri adalah syukuran dan wujud dari rasa terima kasih dan menghargai bumi alam agar selalu dalam keberkahan.

“Selain tempat kita berpijak, bumi juga adalah tempat kita pulang. Asal ti bumi balik ka bumi,” kata kang Mardi yang merupakan putra bungsu Bapak RD Neneng Ruyat (alm) ketua sesepuh padepokan Girijaya.

Dalam acara tersebut digelar berbagai kesenian diantaranya pementasan wayang golek, pencak silat, debus, dan kesenian lainnya. Dan acara puncaknya upacara adat budaya, yakni sidekah bumi yaitu membawa gotongan dongdang atau jampana, yang di isi berbagai hasil bumi.

“Saya hanya meneruskan dan melestarikan tradisi budaya, Penerus budaya adat kebiasaan peninggalan karuhun yang sudah ada sebelumnya,” ujarnya.

Warga Putridalem Lakukan Sedekah Bumi Sambut Masa Tanam

Jatitujuh, Jabar - Adat istiadat yang menjadi ciri kebudayaan dan kearifan lokal di Majalengka jumlah dan jenisnya beraneka ragam. Salah satunya dalam hal yang berhubungan dengan mata pencaharian sehari-hari yakni bertani.

Kalau pada masa panen ada yang dinamakan upacara Mapag Sri, maka untuk masa tanam padi biasanya petani menggelar upacara sedekah bumi. Seperti yang dilakukan petani dan pemerintah Desa Putridalem kecamatan Jatitujuh, kemarin.

Kades Putridalem Toto Suharto mengatakan, tujuan upacara sedekah bumi agar keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat menyertai seluruh warga desanya. Tujuan lainnya adalah untuk “menyedekahi” sawah, agar hasil pertanian melimpah dan tidak terkena hama pada musim tanam pertama ini.

“Tradisi yang sudah turun temurun ini wujud rasa syukur sekaligus permohonan kepada tuhan, dengan berdoa bersama mengharapkan yang terbaik untuk hasil tanam dan panen nanti. Upacara digelar di jalan perempatan desa dipimpin tokoh agama dan adat desa, dan semua warga antusias hadir,” ujar Toto kepada Radar, Kamis (6/10).

Upacara tersebut juga mencerminkan sifat gotong-royong masyarakat desa yang masih kuat. Mereka dengan ikhlas menyisihkan rezeki sekadar membuat dan membawa sejumlah hidangan, untuk disantap bersama seusai upacara. Tidak ada jarak yang memisahkan baik miskin, kaya, tua, dan muda. Semua larut dalam kebersamaan.

“Ada yang membawa nasi tumpeng beserta lauk pauknya, nasi kuning, sayuran, buah-buahan dan lainnya. Seusai upacara biasanya kita berkumpul untuk mendiskusikan kembali mengenai pemilihan bibit padi, irigasi maupun obat-obat pertanian. Jadi tak sekadar seremonial, tapi ada unsur diskusi mengenai yang terbaik untuk mereka sendiri,” tuturnya.

Nurhaeni (55) warga desa setempat menambahkan, yang dia tahu upacara tersebut sudah dilaksanakan sejak dulu. Ketika dirinya masih kecil dan diajak kakeknya untuk datang di upacara itu. Bahkan tiap tahun dirinya tidak ketinggalan mengikuti dan mengajak anaknya, agar budaya tersebut bisa diturunkan ke generasi selanjutnya.

“Sebagian besar warga disini kan petani, yang berharap agar lahan pertanian yang kita garap senantiasa subur dan memberikan hasil yang melimpah. Oleh karena itu, dirasa perlu mengadakan upacara adat ini. Bumi tidak lain adalah tanah, tempat mereka melangsungkan hidup dan kehidupannya melalui aktivitas pertanian. Bagaimanapun juga aktivitas pertanian memerlukan tanah yang subur,” tandasnya.

Hal yang sama juga dilakukan puluhan warga di blok Dukuh Maja RW 01 Desa Weragati Kecamatan Palasah, namun di Weragati namanya disebut bongkar bumi. Agenda tersebut digelar di lapangan balai Dusun Dukuh Maja. Warga antusias membawa berbagai jenis makanan lalu disantap bersama di lapangan terbuka dengan alas terpal untuk menjemur padi.

Kepala Desa Weragati, Drs Askari mengatakan acara bongkarar bumi di blok Dukuh Maja merupakan tradisi yang setiap tahun diilaksanakan. “Setiap akan tanam padi, warga blok Dukuh Maja menggelar bongkar bumi yang diisi doa bersama dan makan bersama warga setempat.

“Warga menggelar tradisii bongkar bumi dengan sederhana, cukup membawa makanan dari rumah masing-masing dan dinikmati bersama-sama di lapangan terbuka. Tidak ada pentas hiburan atau apapun dalam tradisi masyarakat, kecuali tahlil dan doa bersama,” kata Askari didampingi Kadus Dukuh Maja, Kalim.

Dirinya mengingatkan tradisi bongkar bumi merupakan budaya masyarakat dan bukan anjuran atau berdasar syariat agama Islam. Harapannya proses tanam hingga panen berjalan lancar dan menghasilkan produksi pertanian yang baik.

“Baik tidakhya hasil pertanian nanti bukan karena tradisi bongkar bumi, tapi bagaimana proses pengolahan pertanian yang baik disertai doa kita kepada Allah,” beber Askari.

Lestarikan Tradisi, Warga Tuban Gelar Sedekah Laut

Tuban, Jatim - Sesuatu yang dipercaya dan sudah menjadi keramat memang sulit ditinggalkan. Pribahasa atau mitos itu nampaknya sudah menjadi salah satu bagian dari adat kebudayaan masyarakat nelayan di Kabupaten Tuban. Kali ini, warga kampung nelayan Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban menggelar sedekah laut, Rabu (28/9). Melalui sedekah laut diyakini akan memberikan berkah untuk nelayan.

Berdasarkan data yang diperoleh suarajatimpost.com, Tradisi sedekah laut yang dilakukan setiap tahun oleh para nelayan tersebut merupakan tradisi warisan leluhur. Sesaji yang disiapkan berupa makanan nasi tumpeng, ayam jantan jawa, kembang ijo boreh, kepala sapi jantan merah, miniatur perahu, kemenyan jati, cabe serta boneka laki-laki dan perempuan.

"Acara ini merupakan warisan Mbah Kyai Mancung sesepuh adat sini terdahulu yang sampai saat ini masih eksis. Tujuannya untuk tolak balak kelancaran dalam bekerja dan menghormati leluhur, dan kita berharap acara seperti ini bisa digelar setiap tahun," ungkap Widodo, koordinator acara.

Menurut dia, berlangsungnya acara ini juga didukung penuh oleh Klentheng Kwan Sing Bio (KSB) Tuban yang ikut meramaikan dengan atraksi barongsai. Sehingga pastinya akan menarik perhatian warga setempat maupun pengguna jalan yang melewati jalur ini.

"Tak hanya itu, dalam acara ini masyarakat karangsari akan melakukan kirab dengan berjalan kaki diiringi atraksi barongsainya," papar Widodo.

Terpisah, Kabid Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tuban, Sunaryo menyampaikan tradisi yang dilakukan masyarakat Karangsari dan sekitarnya ini merupakan upacara tahunan yang diyakini bisa mendatangkan berkah bagi masyarakat setempat yang mayoritas nelayan. Menurutnya hal demikian ini tak hanya dilakukan di Tuban saja, di daerah lain yang cara hidupnya menggantungkan dari hasil laut tentunya juga meyakini tradisi sedekah laut seperti ini.

"Mayoritas para nelayan meyakini bahwa tradisi sedekah laut ini harus dilakukan setiap tahun, dan menjadi harapan agar nelayan memperoleh rezeki yang lancar dalam mencari ikan. Selain itu, acara ini menjadi salah satu doa nelayan kepada Tuhan agar dihindarkan dari musibah," jelasnya.

Seharusnya, lanjut Sunaryo, pemandangan seperti ini bisa dijadikan cara untuk menarik perhatian wisatawan lokal maupun asing, tinggal bagaimana mengkonsep dan mempromosikannya.

"Harapan kita Tuban ini memiliki destinasi wisata budaya yang terkenal, melalui acara tahunan seperti inilah tentunya harus mampu," harapnya.

Seren Taun Kasepuhan Banten Kidul Resmi Ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda

Serang, Banten - Pemerintah propinsi Banten berhasil menggoalkan penetapan Seren Taun Kasepuhan Banten Kidul sebagai warisan budaya tak benda sebagai salah satu kekayaan budaya nusantara.

Menurut kepala dinas kebudayaan dan pariwisata pemerintah propinsi Banten Opar Sochari, dinasnya mewakili pemerintah propinsi Banten berupaya untuk mengajukan argumen-argumen dan bukti-bukti otentik agar pihak kementerian dan kebudayaan RI menerima ritual masyarakat adat di selatan Banten tersebut sebagai salah satu warisan budaya tak benda.

"Para ahli yang diantara terdiri dari antropolog dan arkeolog menyatakan sepakat, sehingga dengan resminya Seren Taun sebagai warisan budaya tak benda, layak dijadikan even berskala nasional," terangnya, Senin (19/9).

Sementara itu, kepala seksi kesenian dinas kebudayaan dan pariwisata pemerintah propinsi Banten Rohaendi yang mengawal sidang penetapan warisan budaya tersebut mengatakan, penetapan tersebut ditandatangani pada tanggal 14 September 2016.

"Pemprop berupaya dalam sidang untuk mempertahankan di hadapan para penguji dari kementerian pendidikan dan kebudayaan, dan sampel yang digunakan adalah upacara adat Seren Taun Kasepuhan Cisungsang yang merupakan bagian dari Kasepuhan Banten Kidul," terangnya.

Ia juga mengatakan, selain Seren Taun yang merupakan Ritual Masyarakat, ada warisan budaya tak benda lainnya yang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dari Banten, jenisnya adalah kuliner.

Jaran Kencak Lumajang Diakui Warisan Budaya

Lumajang, Jatim - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lumajang menyambut baik dengan dijadikannya Kesenian Jaran Kencak sebagai warisan budaya tak benda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan (Menbud) Indonesia.

"Kabar ini disamaikan oleh Bu Hartini, Kabid Kebudadayan Disbudpar Jawa Timur," kata Indrijanto, Kabid Budaya Disbudpar pada beritajatim.com, Senin(19/9/2016).

Lanjut dia, kabar ini adalah hadiah yang luar biasa bagi para pelaku kesenian jaran kencak di Lumajang. Pasanya, pelestarian kebudayaan secara turun temurun mampu diakui oleh Negara.

"Jaran kencak sejajar dengan Reog Ponorogo, Wayang kulit," jelasnya.

Disbudpar Lumajang mengajukan kesenian jaran kencak sebagai warisa budaya Indonesia tak benda ke Disbudpar Jawa Timur untuk ditetapkan. Kemudian oleh Disbudpar Jatim di daftarkan ke Kementerian Kebudayaan untuk diakui menjadi budaya khas Indonesia.

"Alhamdulillah, kabarbaik itu datang," Terang Indri.

Jumlah pelaku kesenian para kencak di Lumajang mencapai ratusan orang, sedangkan paguyuban kesenian ada 65 kelompok. Sedangkan untuk jaran kencak ada sekitar 200-an ekor yang siap ditampilkan.

"Kalau ingin tahu parade jaran kencak, silakan hadir di Hari Jadi Lumajang awal Desember," paparnya.

Ratusan Warga Berebut Gunungan Grebeg Besar Keraton

Yogyakarta - Ratusan warga dari berbagai daerah berebut Lima Gunungan "Grebeg Besar" dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di halaman Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Selasa.

Dalam acara "Grebeg Besar" itu, tujuh gunungan hasil bumi yang terdiri atas gunungan kakung, puteri, gepak, darat, pawuhan dan dua gunungan jaler diarak ratusan prajurit dari Siti Hinggil Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Lima di antaranya diarak menuju Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, sedangkan dua gunungan lainnya menuju Kantor Kepatihan dan Puro Pakualaman.

Beberapa waktu setelah selesai didoakan oleh penghulu Keraton Ngayogyakarta di serambi masjid itu, ratusan warga yang sudah menunggu langsung berlari memperebutkan isi gunungan itu tidak terkecuali wisatawan mancanegara.

Kelima gunungan itu habis dalam sekejap.

Wasinem (63) warga Kota Yogyakarta yang berhasil mendapatkan bagian dari gunungan berupa dua tusuk kue tradisional dari ketan, mengaku akan menyimpan di rumahnya sebagai sarana tolak bala dan meyakininya dapat membawa keberkahan hidup.

"Saya simpan di rumah, semoga bisa membawa keberkahan dan kesehatan," katanya yang datang bersama cucunya.

Berbeda dengan Zaidun (45) warga Wonokromo, Kabupaten Bantul yang berhasil mendapatkan empat lonjor kacang panjang.

Bagi Zaidun kacang panjang itu dipercaya dapat digunakan untuk penyubur tanaman.

Tepas Keprajuritan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Enggar Pikantoko menjelaskan Grebeg Besar merupakan perayaan untuk memperingati Hari Raya Kurban (Idul Adha).

Keraton Yogyakarta baru menyelenggarakannya hari Selasa (13/9) karena disesuaikan dengan penanggalan Keraton yang di tahun 2016 kebetulan berbeda dengan penanggalan Hijriyah.

Secara historis, menurut dia, gunungan berisi hasil bumi itu merupakan simbol sedekah raja kepada rakyatnya sekaligus wujud rasa syukur raja kepada Allah SWT.

"Grebeg selalu diselenggarakan bersamaan memperingati hari-hari besar Islam. Selain saat Idul Adha, grebeg juga diadakan saat Idul Fitri serta Maulud Nabi," kata Enggar.

-

Arsip Blog

Recent Posts