Tampilkan postingan dengan label Bugis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bugis. Tampilkan semua postingan

Ini Mappanretasi, Ritual Nelayan Bugis di Tanah Kalimantan

Batulicin, Kalsel - Aneka macam warna hiasan dan umbul-umbul terpampang pada puluhan badan kapal kayu jenis porsen. Menjelang siang, mendung masih menggelayut ketika kapal milik nelayan Pantai Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, itu sedang melarung sesaji di lepas pantai, Minggu 25 April 2016.

Sepuluh pria berpakaian serba kuning menggotong sajian semacam ayam panggang, buah-buahan, dan ketan menuju kapal Tunas Muda 02. Di ujung dermaga mini, ratusan orang antre berebut naik palka kapal. Inka Mina 423, Tunas Muda 02, dan Warna Muda 03 merupakan tiga dari delapan belas kapal porsen yang turut meramaikan upacara adat nelayan Bugis: Mappanretasi.

Dalam bahasa suku Bugis, Mappanretasi bermakna memberikan sesaji kepada laut. Upacara ini bentuk syukur atas hasil perikanan tangkap yang diperoleh para nelayan keturunan Bugis di Kabupaten Tanah Bumbu. Namun, ritual yang berlangsung sejak puluhan tahun silam itu, tak menjamin nelayan bakal mendapat hasil yang berlimpah saban tahun.

Prosesi dipimpin oleh seorang tetua adat Bugis alias sandro. “Tahun ini akan mengalami penurunan hasil perikanan tangkap sedikit, karena faktor cuaca angin sering berubah arah,” tutur Muhammad Kasim, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kabupaten Tanah Bumbu disela kegiatan Mappenretasi.

Sayangnya, kata Kasim, ritual tahun ini tidak semarak seperti tahun-tahun sebelumnya, yang diikuti peserta lebih banyak. Kata dia, pemerintah daerah tidak mengalokasikan dana bantuan perayaan Mappenretasi di tahun 2016. Pada ritual 2016, nelayan cuma menerima bantuan sponsor sebesar Rp 75 juta.

“Tahun ini hanya diikuti 18 kapal porsen, kalau upacara tahun 2015 diikuti 22 kapal porsen,” ujar Kasim.

Padahal bila digarap serius, Kasim meyakini ritual suku Bugis ini bisa menarik minat turis berkunjung ke Kabupaten Tanah Bumbu. Ia berharap, kegiatan Mappenretasi berdampak positif terhadap kesejahteraan nelayan di Pantai Pagatan.

Bupati Kabupaten Tanah Bumbu, Mardani H. Maming, mengatakan ritual Mappanretasi telah dijadikan even pariwisata tahunan. Ritual ini biasanya digandeng dengan bazar dan pameran produk unggulan. Tapi di perhelatan tahun ini, Mardani mengakui even pasar pameran kurang mendapat respons dari peserta karena panitia terlambat menangkap peluang.

Melalui penggarapan even pariwisata tradisional dan petualangan, Mardani berharap mampu menarik minat wisatawan melancong ke Tanah Bumbu. Namun, ia belum mau membuka target pelancong yang dibidik lewat beragam even pariwisata itu.

“Kalau peserta Mappanretasi tetap banyak. Tahun 2016 baru perencanaannya, 2017 target wisatawan akan dievaluasi,” ujarnya.

Adapun Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor, larut dalam ritual Mappanretasi di lepas pantai Pagatan. Sahbirin ikut menceburkan diri selepas tumpukan sesajen dilepas di lautan. Di tengah guyuran hujan dan hempasan gelombang, Sahbirin ikut memperebutkan ayam panggang.

Karakteristik Aksara Bugis/Makassar

Oleh Ahmad Maulana

Kebudayaan diciptakan karena adanya kebutuhan (needs) manusia untuk mengatasi berbagai problem yang ada dalam kehidupan mereka. Melalui suatu proses berfikir yang diekspresikan kedalam berbagai wujud. Salah satu wujud kebudayaan manusia adalah tulisan.

Seperti halnya dengan wujud-wujud kebudayaan lainnya. Penciptaan tulisan pun diciptakan karena adanya kebutuhan manusia untuk mengabdikan hasil-hasil pemikiran mereka.

Menurut Coulmas, pada awalnya tulisan diciptakan untuk mencatatkan firman-firman tuhan, karena itu tulisan disakralkan dan dirahasiakan. Namun dalam perjalanan waktu dengan berbagai kompleksitas kehidupan yang dihadapi oleh manusia, maka pemikiran manusia pun mengalami perkembangan demikian pula dengan tulisan yang dijadikan salah satu jalan keluar untuk memecahkan problem manusia secara umumnya. Seperti yang dikatakan oleh Coulmas “a king of social problem solving, and any writing system as the comman solution of a number of related problem” (1989:15)
1. Alat Untuk Pengingat
2. Memperluas jarak komunikasi
3. Sarana Untuk memindahkan Pesan Untuk Masa Yang akan dating
4. Sebagai Sistem Sosial Kontrol
5. Sebagai Media Interaksi
6. Sebagai Fungsi estetik

Begitu pula yang terjadi pada kebudayaan di Indonesia. Ada beberapa suku bangsa yang memiliki huruf antara lain. Budaya Jawa, Budaya Sunda, Budaya Bali, Budaya Batak, Budaya Rejang, Budaya Melayu, Budaya Bugis dan Budaya Makassar.

Disulawesi selatan ada 3 betuk macam huruf yang pernah dipakai secara bersamaan.
1. Huruf Lontaraq
2. Huruf Jangang-Jangang
3. Huruf Serang

Sementara bila ditempatkan dalam kebudayaan bugis, Lontaraq mempunyai dua pngertian yang terkandung didalamnya
a. Lontaraq sebagai sejarah dan ilmu pengetahuan
b. Lontaraq sebagai tulisan

Kata lontaraq berasal dari Bahasa Bugis/Makassar yang berarti daun lontar. Kenapa disebuat sebagai lontaraq ? karena pada awalnya tulisan tersebut di tuliskan diatas daun lontar. Daun lontar ini kira-kira memiliki lebar 1 cm sedangkan panjangnya tergantung dari cerita yang dituliskan. Tiap-tiap daun lontar disambungkan dengan memakai benang lalu digulung pada jepitan kayu, yang bentuknya mirip gulungan pita kaset. Cara membacanya dari kiri kekanan. Aksara lontara biasa juga disebut dengan aksara sulapaq eppaq.

Karakter huruf bugis ini diambil dari Aksara Pallawa
(Rekonstruksi aksara dunia yang dibuat oleh Kridalaksana)

Memang terdapat bebrapa varian bantuk huruf bugis di sulawesi selatan, tetapi itu tidaklah berarti bahwa esensi dasar dari huruf bugis ini hilang, dan itu biasa dalam setiap aksara didunia ini. Hanya ada perubahan dan penambahan sedikit yang sama sekali tidak menyimpang dari bentuk dasar dari aksara tersebut. Varian itu disebabkan antara lain:
1. Penyesuaian antara bahasa dan bunyian yang diwakilinya.
2. Penyesuaian antara bentuk huruf dan sarana yang digunakan.

Sumber tulisan:
http://www.ahmadmaulana.com/2008/09/29/budaya-bugis-karakteristik-aksara-bugismakassar/

Pedagang Bugis dan Kuasa Eropah di Selat Melaka, 1500-1800

Oleh Nordin Hussin

Sejarah dan Perubahan: Kuasa Eropah dan Dunia Melayu
Perubahan adalah fenomena yang berlaku selalu dalam sejarah di semua tempat. Asia Tenggara pada awal sejarah modernnya telah mengalami perubahan yang amat lain sifatnya. Perkembangan itu telah meninggalkan banyak akibat yang turut mencorakkan perubahan sejarah lokal dan nasional di Asia Tenggara khususnya dan Asia lainnya. Yang dimaksudkan itu adalah kedatangan orang Eropah yang membawa agenda untuk menguasai perdagangan dan pusat perdagangan di Dunia Melayu (Gunn, 2003:169-275). Sejak itu, suasana dan aktiviti perdagangan di Dunia Melayu mulai berubah. Walaupun Dunia Melayu senantiasa didatangi pedagang Arab, Cina, Parsi dan India, namun aktiviti perdagangan berjalan lancar (Risso, 1995), sekalipun kedatangan pedagang asing itu memang berasaskan kepentingan pedagangan dan keuntungan.

Pertembungan Dunia Melayu dengan orang asing telah mencetuskan perubahan sosial besar di Nusantara (Reid, 2000). Perubahan sosio-budaya yang berlaku di banyak pelabuhan di Nusantara telah berjalan dengan baik dan aman sehingga kedatangan orang Eropah, khasnya Portugis, Sepanyol, Belanda dan Inggeris kerana telah mendatangkan kejutan yang negaitf sifatnya (Van Veen, 2005). Mereka datang dengan niat dan agenda yang tidak pernah diduga pedagang dari Asia dan kerajaan Melayu di Nusantara. Niat dan motif pedagang Eropah itu menyebabkan rasa benci, marah dan dendam yang tidak berkesudahan di kalangan penduduk peribumi Nusantara. Mereka telah juga menyebabkan berlakunya perpecahan masyarakat dan kejatuhan kerajaan Melayu. Selain itu, adat, tradisi, dan budaya Melayu juga terancam dan terhakis sedikit demi sedikit. Walaupun orang Eropah telah menguasai kebanyakan pusat perdagangan, tetapi usaha mereka itu tidaklah semudah seperti yang mereka andaikan. Ini disebabkan pedagang Bugis dan Melayu tidak mudah mengalah setelah mereka menguasai perdagangan dan jaringannya di Selat Melaka, Laut Jawa dan Laut Sulu. Kehidupan mereka yang berteraskan tanah dan air telah membuat sebahagian besar pedagang Melayu gigih mempertahankan tanah air. Kegigihan mereka bukan setakat merebut kembali kawasan yang ditawan orang barat, tetapi juga membina pusat perdagangan baru di tempat lain di Nusantara. Usaha mereka ternyata turut mendapat respon dari pedagang Asia yang juga telah memahami pemikiran pedagang dari barat.

Berlatarbelakangkan kisah tersebut, sejarah awal modern di Asia Tenggara telah menyaksikan banyak perubahan. Kemasukan kuasa Eropah serta campur tangan mereka dalam hal ehwal politik serta kerajaan Melayu telah mengubah segalanya. Dunia Melayu yang terletak di persimpangan jalan antara benua kecil India dan tanah besar China dan seringkali menerima segala macam perubahan itu terpaksa berdepan dengan cabaran serta tekanan yang sebelum ini belum pernah dirasai. Jika kedatangan pedagang Arab, India, dan Cina hanya membawa perubahan dari segi budaya serta bentuk kepercayaan serta amalan dan anutan, tetapi kedatangan kuasa Portugis, Belanda dan Inggeris telah mengakibatkan perpecahan serta kemusnahan kerajaan Melayu. Pusat perdagangan utama telah bertukar tangan setelah dikuasai orang Eropah, sementara pusat perdagangan Melayu telah diancam, maka menerima tempiasnya serta ada yang semakin bertambah berjaya serta berkembang pesat. Sementara itu, pedagang tempatan ada yang bertebaran mencari arah serta tujuan yang baru setelah pusat perdagangannya dimusnahkan kuasa barat. Namun, ada juga yang berusaha untuk menyatukan semula di tempat baru yang mereka telah bina. Demikianlah halnya dengan apa yang berlaku kepada pedagang Bugis dari Makassar.

Kuasa Eropah dan Pedagang Bugis
Antara pedagang Melayu yang gigih dan tabah mempertahankan kedudukan ketuanan Melayu di Nusantara adalah pedagang Bugis. Sehubungan itu, rencana ini cuba mengupas peranan pedagang Bugis serta sifat mereka yang disanjung pedagang Eropah dan membuat mereka sentiasa dihormati sebagai pedagang Melayu Nusantara yang bukan sahaja bijak berniaga, tetapi juga jujur dalam perniagaan. Setelah pusat perdagangan Bugis di Makassar ditawan Belanda, kebanyakan mereka telah berpindah ke sebelah barat Dunia Melayu dan membina pusat perdagangan yang baru untuk menyambung semula kekuatan mereka berdagang. Antara pelabuhan itu adalah di utara pantai Jawa, pulau Borneo, kerajaan Thai di Ayuthaya dan tempat lain di Selat Melaka. Di Selat Melaka mereka telah berjaya membina semula jaringan perdagangan serta kekuatan baru yang akhirnya membawa kepada perubahan besar kepada sejarah kerajaan Melayu Johor di Riau. Catatan, rekod dan dokumen Malayu, Bugis dan Belanda pada tahun 1722 menunjukkan bagaimana anak bangsawan Bugis lima bersaudara itu telah mengubah struktur pemerintahan kerajaan Melayu Johor, selain dapat mentadbir pelabuhan Riau sehingga menjadi pelabuhan utama di Asia Tenggara (Raja Ali Haji, 1982; Andaya, 1975).

Kekuatan yang ada pada pedagang Bugis adalah pemikiran yang tertanam di jiwa mereka seperti yang tercatat dalam hikayat lama dan kisah pelayaran mereka. Ketokohan dan kepahlawanan mereka telah ditunjukkan pada tokoh tempatan Bugis, Sawerigading, yang ternukil dalam sastera sejarah La Galigo (Kern 1993). Karya sastera sejarah itu menunjukkan kekuatan, selain memberi panduan kepada orang Bugis untuk membina kehidupan di perantauan. Cerita Bugis kuno itu juga mempunyai tradisi lisan. Cerita kepahlawanan serta pelayaran Sawerigading ini telah memberi kekuatan kepada pedagang Bugis untuk muncul sebagai bangsa yang berhemah tinggi, justru tekun dan tahan menghadapi dugaan dalam hidup. Pengembaraan dan kekuatan Sawerigading di merata tempat telah menjadi lambang jati diri pedagang Bugis. Ketokohan watak itu telah sebati dalam pemikiran orang Bugis yang mementingkan jati diri dan kekuatan moral. Sifat serta ketokohan Sawerigading itu telah menjadi asas kepada daya usaha serta keperibadian yang tinggi seperti yang ditunjukkan pedagang Bugis yang telah melayari perairan Nusantara untuk berdagang.

Selain itu, satu lagi konsep yang telah memberi kekuatan kepada pelayar serta pedagang Bugis ialah siri dan pesse (Andaya, 1981; Moh Yahaya Mustafa, 2003). Siri adalah konsep dalam budaya orang Bugis. Ia berkaitan idea dan falsafah tentang kekuatan jati diri dan unsur malu. Konsep malu itu juga berkaitan maruah dan harga diri. Orang Bugis yang tidak mempunyai siri boleh membuatnya membunuh diri demi menyucikan diri dan menebus martabat dirinya. Perbidalan Bugis sering memberi ingatan tentang kekuatan harga diri yang boleh dikukuhkan dengan kata-kata seperti “lebih baik mati demi mempertahankan siri dibandingkan dengan sebuah kehidupan yang tidak memiliki siri”. Berbekalkan konsep inilah pedagang Bugis telah menjadi pedagang yang disegani serta dipandang tinggi di Dunia Melayu. Konsep harga diri ini telah menjadikan siri sebagai pedoman dalam hidup mereka sekaligus membentuk mereka menjadi pedagang yang dikagumi kerana mempunyai kekuatan serta harga diri yang tinggi dan jujur dalam segala tindak tanduk.

Pesse pula adalah kepercayaan yang berteraskan kesatuan rohani pada individu (Moh. Yahaya Mustafa, 2003). Asal usul dan kekuatan yang ada dalam konsep ini berteraskan persaudaran yang ada. Kekuatan ikatan persaudaraan itu dianggap sangat penting demi membela dan memperkukuhkan komuniti mereka. Bila teman menghadapi kesulitan dan sakit, kesusahan itu ditanggung bersama. Unsur ini telah memberi kekuatan padu kepada orang Bugis untuk mengingati mereka tentang asal usul mereka, selain memberi ikatan kesatuan kepada mereka. Sehubungan itu, unsur pesse juga telah memberi kekuatan kepada pedagang Bugis untuk bersatu padu dan memberi kekuatan untuk mereka membina kehidupan. Konsep pesse ini sebenarnya adalah tradisi tentang pentingnya semangat gotong royong dalam budaya Melayu (Moh. Yahya Mustafa, 2003). Kekuatan inilah yang meniupkan semangat kental kepada pedagang Bugis untuk menguasai dan membina jalinan perdagangan dari timur ke barat di Kepulauan Melayu.

Penguasaan pedagang Bugis ke atas jaringan perdagangan di gugusan Kepulauan Melayu-Indonesia telah tercatat dalam dokumen Portugis, Belanda serta Inggeris (Nordin Hussin, 2006; Lewis, 1977). Ia terbukti dari lapuran yang menyatakan bahawa merekalah pedagang yang melayari Laut Jawa, kepulauan Borneo, kepulauan Rempah serta Selat Melaka. Selain perdagangan, mereka juga membuat banyak penempatan di banyak tempat serta pelabuhan, antaranya di Java, Riau, Borneo, Melaka, Siak, Trantan, Pulau Pinang, negeri-negeri Melayu serta Siam (Nordin Hussin, 2006; Knaap, 1996). Sementara itu, kekuatan lain orang Bugis adalah tenaga fizikal dan kepandaian mereka mengurus serta berniaga dan telah membuat mereka peniaga yang dihormati di kalangan pedagang Eropah (Cortesao, 1944).

Sejak dahulu lagi, di sepanjang Selat Melaka telah didirikan kerajaan yang telah menguasai perdagangan samudera (Wolters 1970; Kathirithamby-Wells & Villiers 1990). Selain Srivijaya yang berpusat di Palembang yang telah menguasai perdagangan di selat itu, telah muncul banyak kerajaan lain yang lebih awal. Antaranya adalah Kedah Tua, Kerajaan Beruas dan disusuli Melaka, Pasai, Perlak dan Aceh. Kesemua kerajaan itu bergantung pada perdagangan yang melibatkan pelabuhan yang dikunjungi pedagang dari dekat dan jauh. Namun, kajian yang jelas tentang pedagang Bugis serta orang Bugis yang datang serta menetap ke wilayah ini hanya jelas terlihat selepas tahun 1720-an (Raja Ali Haji, 1982; Vos, 1993).

Sebelum tahun 1720-an, kedatangan pedagang Bugis ke Melaka, Aceh dan pelabuhan lain di Selat Melaka tidak banyak mendapat perhatian pengkaji sejarah. Kekurangan kajian tentang kehadiran mereka ini tidaklah bererti mereka tidak mengetahui adanya pusat-pusat perdagangan yang penting di wilayah ini. Semangat serta keperwiraan orang Bugis sangat terserlah. Mereka telah melayari Selat Melaka untuk berdagang di pelabuhan di sebelah barat kepulauan Melayu. Catatan tentang mereka yang menjalankan pedagangan di Melaka telah dicatat pertama kali oleh Pires yang tiba di Melaka pada abad ke enam belas. Dalam catatannya, Pires mengkagumi kepandaian serta kejujuran pedagang Bugis yang membawa pelbagai barangan seperti beras dan emas dari sebelah timur Kepulauan Melayu. Dari Melaka mereka membawa pulang kain dari Gujerat, Bengal dan Koromandel dan barang lain, termasuk benzin dan kemenyan. Kehebatan mereka telah dinyatakan Pires sebagai mereka belayar dengan menggunakan kapal ringan tetapi diperbuat dengan rapi. Lihat catatan Pires di bawah ini:

The island of Macassar are four or five day`s journey beyond the islands we have described, on the way to Moluccas. The islands are numerous. It is a large country. One side goes up to Buton and Madura and the other extends far up north. They are all heathens. They say that these islands have more than fifty kings. These islands trade with Malacca and with Java and with Borneo and with Siam and with all the places between Pahang and Siam. They are men more like the Siamese than other races. Their language is on its own, different from the others. They are all heathens, roboust, great warriors. They have many foodstuffs (Cortesao, 1944).

Pires juga mencatatkan orang Bugis mempunyai susuk tubuh yang tegap dan bersifat pahlawan kerana gagah, kuat, tampan dan menuturkan bahasa Bugis. Penulis dan pencatat Eropah masa itu kurang mengetahui wilayah asal usul orang Bugis. Oleh itu, mereka sering dikaitkan dengan wilayah yang dikuasai kegiatan lanun. Namun, kepintaran dan kehebatan pedagang Bugis sering dilihat pedagang Eropah di pelabuhan seperti Pegu di Burma, Junk Ceylon di Siam, pelabuhan di pantai utara Pulau Jawa, pelabuhan di sepanjang pantai di Sumatra dan Semenanjung Tanah Melayu. Oleh kerana kegiatan pedagang Bugis amat tertonjol berbanding dengan pedagang lain, maka gerak-gerik mereka telah diawasi lalu dicatatkan. Kegiatan dan tabiat pedagang Bugis seperti yang dicatatkan Pires semasa beliau berada di Melaka adalah:

These men in these islands are greater thieves than any in the world, and they are powerful and have many paraos. They sail about plundering, from their country up to Pegu, to the Moluccas and Banda, and among all the islands around Java; and they take women to sea (Cortesao, 1944).
Catatan Pires di atas menunjukkan orang Bugis pandai membina kapal dagang yang dapat melayari kepulauan Rempah ke Burma. Tetapi kenyataan Pires juga janggal bila beliau menyatakan pedagang Bugis berlagak sebagai “pencuri”. Ini mungkin disebabkan kepintaran mereka berniaga sehingga berjaya dalam semua urusan jual beli, lebih-lebih lagi kepintaran itu tidak dapat ditandingi pedagang Eropah. Selain itu, kekuatan pedagang Bugis juga terletak pada kekuatan armada perkapalan mereka yang dapat melayari segenap pelabuhan di Dunia Melayu. Catatan lain dalam lapuran Eropah tentang pedagang Bugis ialah mereka sering membawa isteri dalam pelayaran, sedangkan ini jarang dilakukan. Hal ini besar kemungkinannya disebabkan mereka sering belayar dan berdagang ke merata tempat selama berbulan-bulan.

Keadaan ini berlainan sekali dengan pedagang Eropah yang tidak membawa wanita dalam pelayaran. Pires mendapati ini amat janggal lagipun tidak dilakukan pedagang Eropah dan telah mencatatkan kelainan yang menjadi pemerhatiannya. Begitu juga dengan kenyatan Pires di bawah ini yang amat janggal dengan kenyatannya:

They have fairs where they dispose of the merchandise they steal and sell the slaves they capture. They run all round the island of Sumatra. They are mainly corsairs. The Javanese call them Bugis and the Malays call them this and Celates. They take their spoils to Jumaia(?) which is near Pahang, where they sell and have a fair continually (Cortesao, 1944).

Laporan Pires yang menyatakan mereka sebagai lanun yang mencuri dan menangkap orang untuk dijual serta dijadikan hamba itu amat janggal. Lebih hairan lagi ialah Pires menyatakan mereka telah membawa barangan rampasan untuk dijual di Jumaia, dekat Pahang. Lapuran Pires juga amat kabur bila menyebut orang Bugis mewujudkan pusat penjualan seperti pasar untuk menjual hasil rampasan mereka. Di mana letaknya pasar itu tidak dinyatakan. Jumaia yang disebut dalam lapuran Pires itu bukan sahaja kabur, tetapi juga tidak ada catatan di mana-mana. Ada kemungkinan orang yang diperhatian Pires itu bukan orang Bugis dan dia tersilap. Pemerhatiannya itu bertentangan sekali dengan kenyatannya tentang orang Bugis serta laporan pengembara lain tentang orang Bugis. Sehubungan itu, adakah terdapat dua kategori pedagang Bugis dalam pemerhatian Pires: orang Bugis yang melanun dan merompak dan orang Bugis yang beradab serta mempunyai jati diri yang unggul.

Laporan orang Eropah lain tidak banyak menyebut orang Bugis yang hidup melanun dan merompak. Kebanyakan mereka yang melakukan itu terdiri dari orang Bugis yang mendiami tempat di Selat Melaka dan bukan yang tinggal serta menetap di Celebes. Perkara ini masih diperdebatkan, maka menunut penyelidikan lebih lanjut. Namun, yang pasti dari laporan Pires adalah orang Bugis yang tidak merompak serta melanun. Kebanyakan mereka menggunakan kapal penjajap untuk membawa hasil dagangan. Pires juga menyatakan lanun dan perompak laut tidak berani mencabar kapal mereka kerana kekuatan yang dimiliki pedagang Bugis. Oleh itu, amat janggal bila Pires menyebut terdapat lanun di kalangan mereka ini:

Those who do not carry on this kind of robbery come in their large well-built pangajavas with merchandise. They bring many foodstuffs: very white rice; they bring some gold. They take bretangis and cloths from Cambay and a little from Bengal and from the Klings; they take black benzoin in large quantities, and incense. These islands have many inhabitants and a great deal of meat, and it is a rich country. They all wear krises. They are well-built men. They go about the world and everyone fears them, because no doubt all the robbers obey these with good reason. They carry a great deal of poison [ed weapons] and shoot with them. They have no power against thye junks which can all defend themselves, but every other ship in the country they have in their hands (Cortesao, 1944).

Dari petikan di atas, ternyata sifat utama yang ditonjolkan Pires tentang pedagang Bugis adalah kepahlawanan, keberanian, kegagahan dan kepintaran mereka berniaga dan juga berniaga dengan jujur. Inilah nilai yang tinggi kepada dunia perdagangan ketika itu. Kejujuran adalah sifat yang amat disenangi semua peniaga dan pedagang. Selain itu, kepahlawanan serta kegagahan adalah sifat amat diperlukan kerana laut penuh dengan lanun dengan rampasan kapal dan barang dagangan sering berlaku. Kesemua sifat itu dipuji tinggi, malah menjadi aset kepada pedagang Bugis. Selain itu, kepandaian orang Bugis belayar dan membina kapal yang kukuh yang dapat belayar hingga ke Pegu dan Siam amat mengkagumkan. Hanya kapal yang kuat dan kukuh mengharungi lautan yang bergelora dan menempuhi perjalanan yang jauh. Pendek kata, pembuatan kapal di Makasar telah membuat orang Bugis pedagang yang dapat menguasai pelayaran di Nusantara, timur dan barat. Barangan yang dibawa pedagang Bugis ditunggu pedagang lain di sebelah barat Nusantara. Hasil mahsul hutan dan laut dan juga bahan galian serta makanan yang dibawa ke Melaka dan pelabuhan lain di Selat Melaka sering ditunggu pedagang dari Eropah, India dan China. Hasil galian, termasuk emas yang dibawa dari Borneo, rempah ratus dari Kepulauan Rempah, hasil laut seperti gamat/tripang dan bahan ubatan amat diperlukan pedagang dari China.

Peranan yang dimainkan pedagang Bugis amat luas: mereka mengumpul barangan dari bahagian timur Nusantara untuk dibawa ke Selat Melaka serta mengedar barangan dari Selat Melaka ke wilayah lain di seluruh Nusantara. Peranan itu bukan sahaja penting, tetapi juga menjadi tunggak kepada aliran pemasaran barangan serta pengumpulan barangan. Sehubungan itu, pedagang Bugis dengan sifat serta keperbadian mereka yang baik seperti yang diperhatikan Pires itu telah menarik hati banyak pedagang yang berurusan dengan mereka. Penawanan Portugis ke atas Melaka pada tahun 1511 tidak bererti pedagang Bugis telah habis. Mereka telah memindahkan pusat persinggahan ke tempat lain di Selat Melaka. Aceh yang berkembang menjadi kerajaan yang penting dan pusat pedagangan utama di utara Sumatra itu telah menjadi pusat rangkaian perdagangan Bugis, selain pelabuhan kecil seperti Pasai, Pedir dan Indragiri.

Kejatuhan Melaka telah membawa kepada penubuhan pusat pemerintahan serta pelabuhan baru yang dibina jurai kesultanan Melaka. Akhirnya telah dibuka pelabuhan Riau dan pusat pemerintahan yang baru bagi kerajaan Johor-Riau. Tahun 1699 juga membawa erti besar kepada kerajaan Johor-Riau dengan berlakunya peralihan takhta dan jurai keturunan kerajaan Johor-Riau. Perlantikan Bendahara menggantikan Sultan yang dibunuh telah membawa pelbagai masalah takhta. Keadaan ini telah mengakibatkan kekacauan yang membawa perubahan besar kepada kerajaan Johor-Riau. Ini termasuk penawanan Makassar dan pengusiran kerajaan Bugis oleh Belanda yang memaksa mereka mencari tempat lain untuk membentuk kerajaan baru. Di tengah-tengah kekacauan itu, keturunan diraja Bugis telah masuk secara formal ke dalam keluarga di raja Melayu. Tahun 1720an menjadi titik peralihan yang penting kerana berlakunya percampuran antara keluarga di raja Melayu dan Bugis dalam kerajaan Johor-Riau (Raja Ali Haji, 1982; Vos, 1993).

Kehadiran orang Bugis telah mengubah corak dan keadaan di Riau. Kepintaran mereka mentadbir dan berdagang telah membawa kemunculan Riau sebagai pusat pelabuhan utama dan penting menggantikan Melaka. Kecakapan pentadbir Bugis telah meletakkan Riau menjadi pusat persinggahan kapal dari barat, timur dan kepulauan Melayu. Keunggulan perdagangan Melayu di kerajaan Johor yang dahulunya dimajukan Laksamana Paduka Raja telah diambil YamTuan Muda Daeng Kemboja. Riau telah menjadi pelabuhan penting di Selat Melaka dan Dunia Melayu. Kapal dari timur, barat dan Nusantara telah singgah di pelabuhan tersebut. Ia juga telah menjadi pelabuhan singgahan utama bagi kapal Inggeris yang berulang alik antara India dan China. Kebanyakan barang yang diperlukan pedagang Eropah, India, Cina dan Melayu mudah diperolehi di pelabuhan Riau. Petikan di bawah ini menggambarkan Riau di bawah pentadbiran Bugis setelah ia menjadi pusat perdagangan yang unggul di Asia Tenggara:

To continue the story of the Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja in Riau. He devoted himself solely to extending Riau`s trade. Several trading perahu came from distant places, and scores of keci came from Bengal, bringing goods from there; scores of wangkang arrived from China with green or red bows; scores of tob came from Siam bringing Siamese goods; and as well as these, perahu from Java. There were scores of selub, senat, tiang sambung, and pencalang from the Bugis lands, pedewakan as well as perahu from the outlying territories, crammed like sardines in the Riau River from the estuary to Kampung China. Goods from China competed with those from Java, and Javanese goods competed with those from Riau, such as gambier, and there were numerous Chinese merchants as well as locally born Bugis merchants. During this period there were many wealthy people in the country (Raja Ali Haji, 1982).

Kehadiran orang Bugis dalam urusan kerajaan Johor-Riau telah merancakkan perkembangan ekonomi, selain mengukuhkan pengaruh Bugis dalam kerajaan Melayu. Perkembangan itu boleh dilihat pada pembentukan kesultanan Bugis di Selangor selain aktiviti mereka di Perak, Kedah dan sepanjang pantai timur Sumatera, terutamanya di Indragiri, Siak dan Minangkabau. Kegiatan mereka berteraskan perdagangan dan pentadbiran kerajaan. Pedagang Bugis juga penting kepada Melaka semasa dikuasai Belanda. Dari tahun 1780 hingga 1783, sebanyak 178 buah kapal Bugis telah singgah di Melaka (Nordin Hussin, 2001). Kemajuan Riau semasa diperintah keluarga Daeng lima bersaudara juga menjelaskan sifat serta jati diri orang Bugis. Sifat kepahlawanan, kejujuran dan displin orang Bugis telah diterap sebagai nilai pentadbiran kerajaan Johor-Riau. Kemajuan pelabuhan Riau di era pentadbiran Yang Dipertuan Muda Daeng Kemboja itu disambung Yang Dipertuan Muda Raja Haji sehingga ditawan Belanda pada tahun 1784 (Vos, 1993). Riau bukan sahaja maju dari segi perdagangan, tetapi juga telah berkembang menjadi pusat pemikiran Melayu.

Peranan pedagang Bugis di Melaka zaman Belanda dan Inggeris kelihatan dalam banyak laporan (Nordin Hussin, 2001). Melaka bukan sahaja pusat pengeluaran barangan untuk diperdagangkan, tetapi juga pusat pengedaran barangan yang dibawa dari tempat lain di Nusantara. Pedagang Bugis telah membawa barangan dari tempat lain ke Melaka. Setelah pelabuhan di Riau ditawan Belanda, pedagang Bugis telah membina jaringan perdagangan mereka di banyak pelabuhan di Selat Melaka dan Nusantara. Antaranya adalah di Siak, Selangor, Pahang, Asahan, Indragiri, Aceh, dan Pulau Pinang (Nordin Hussin, 2006).

Sebelum Riau jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1874, banyak pedagang Bugis yang aktif berdagang di Melaka itu datang dari Riau dan Selangor (Nordin Hussin, 2006). Mereka sering membawa kapal jenis padowakang dan pantjallang (Nordin Hussin, 2006). Dari laporan tentang kapal yang keluar masuk di pelabuhan Melaka, kapal dagang yang paling kerap bersinggah di Melaka adalah kepunyaan pedagang Melayu dan Eropah dengan diikuti pedagang Bugis, Cina, Melayu-Melaka dan Cina-Melaka (Nordin Hussin, 2006). Pedagang Eropah yang ramai sekali adalah orang Inggeris dari Syarikat India Timur Inggeris dan syarikat swasta Inggeris. Sementara itu, pedagang Melayu yang datang ke Melaka telahmencatatkan peratus yang tertinggi: 42% daripada jumlah keseluruhan pedagang yang mendatangi Melaka pada tahun 1780/82, walaupun angka itu jatuh kepada 37% pada tahun 1791/93. Selain itu, pedagang Bugis yang telah mencatatkedatangan sebanyak 15% dalam tahun 1780/82 itu merosot kepada 10% dalam tahun 1791/93. Pedagang Bugis itu dari Riau. Selepas perang antara Belanda dan Bugis di Riau pada tahun 1784, pedagang Bugis telah berpindah ke pelabuhan di Selangor, Trengganu, Trantan, dan Tembelan. Selepas tahun 1790-an, banyak daripada mereka datang dari Selangor, Trengganu, dan Trantan. Laluan perdagangan yang sering mereka gunakan adalah Riau, Melaka dan Selangor. Mereka membawa kain Bugis, sarang burung, emas, hamba dan hasil laut yang kebanyakannya dari Borneo. Kadang kala mereka datang tanpa membawa barang, tetapi telah membawa pulang kain dari India yang dibeli di Melaka untuk dipasarkan di merata pelabuhan di Dunia Melayu.

Setelah Pulau Pinang dibuka Inggeris pada tahun 1786, kemajuannya di peringkat awal bergantung sepenuhnya pada pedagang Melayu dan Bugis (Nordin Hussin, 2001 & 2005). Oleh sebab Pulau Pinang tidak mempunyai bahan mentah untuk dijual, orang Inggeris terpaksa bergantung sepenuhnya pada pedagang Melayu dan Bugis untuk membawa hasil pertanian seperti rempah, lada hitam, hasil hutan, hasil laut dan galian, termasuk bijih timah dan emas. Sehubungan itu, pedagang Melayu dan Bugis telah menarik pedagang dari India dan China untuk ditukarkan barang mereka. Peningkatan perdagangan itu telah membawa kepada peningkatan kapal dagang dari India dan China ke Pulau Pinang.

Oleh sebab penguasaan Inggeris di Melaka serentak dengan peperangan Napoleon di Eropah, pihak Inggeris telah memaksa pedagang Bugis yang singgah di Melaka pergi ke Pulau Pinang (Nordin Hussin, 2001). Taktik itu telah berjaya menarik ramai pedagang Bugis yang mempunyai rangkaian perdagangan ke Pulau Pinang. Hasilnya, jumlah kapal yang singgah di Pulau Pinang telah bertambah. Peningkatan perdagangan itu telah menolong Pulau Pinang menjadi maju dan makmur. Perkembangan itu telah membuat orang Bugis membuka perkampungan Bugis di selatan pulau itu. Perkampungan itu telah berkembang sejajar dengan perkembangan perdagangan di pelabuhan. Kesemua itu membuat Inggeris sangat menghargai pedagang Bugis. Sehubungan itu, banyak laporan mengenai pedagang Bugis telah dibuat Inggeris. Catatan daripada orang Inggeris itu selari dengan yang telah ditulis Tome Pires yang telah singgah di Melaka pada awal abad ke enam belas. Berikut adalah pandangan daripada seorang penulis Inggeris mengenai orang Bugis yang telah berdagang dan menetap di Pulau Pinang semasa ia dibuka oleh Inggeris:

The Buggesses, though few inhabit here at present, yet as they come annually to trade and remain two or three months on shore to the number of one or two thousand, they are during their residence a part of our society. They are Mahomedans, a proud, warlike, independent people, easily irritated and prone to revenge, their vessels are always well provided with arms which they use with dexterity and vigor; they are the best merchants among the Eastern Islands. They are better governed by patient and mild exhortation than by force, if they commit a trespass they are easily made sensible and may berita persuaded to render satisfaction, but they reluctantly yield to stern authority, they required to be carefully watched and cautiously ruled. The great value of their cargoes either in bullion or goods, with the quantity of opium and piece goods they export, make their arrival much wished for by all mercantile people (Logan, 1851: 10).

Laporan Inggeris itu menggambarkan sifat dan nilai yang dipunyai pedagang Bugis untuk sekian lamanya. Nilai, sifat dan semangat kepahlawanan yang diceritakan Pires pada tahun 1512 semasa bertemu dengan pedagang Bugis di Melaka itu masih diamalkan orang Bugis yang juga telah ditemui Logan pada tahun 1830-an. Nilai itu telah menjadi identiti melambangkan semangat waja orang Bugis, selain mereka itu berhemah tinggi, jujur dan berdikari. Kesemua sifat itu telah membuat mereka menjadi pedagang yang dihormati dan disanjung tinggi orang Eropah. Dalam laporannya mengenai perkembangan pelabuhan Pulau Pinang, George Leith juga telah mencatatkan sifat, perwatakan dan perawakan pedagang Bugis. Lihat pandangannya di bawah ini:

… bold, independent and enterprising make good soldiers have a small town on the Penang River (Leith, 1805).

Kenyataan George Leith itu menunjukkan orang Bugis mempunyai keperibadian, jati diri dan daya usaha untuk berniaga yang tinggi. Disebabkan kekuatan itu, mereka adalah calun yang terbaik untuk dijadikan anggota pasukan tentera tempatan kepada kuasa barat. Tidaklah hairan jika dalam tentera Belanda ada banyak orang tempatan, terutamanya orang Bugis.

Kesimpulan
Pedagang Bugis telah berjaya menguasai segala pelosok Nusantara. Kejayaan itu disebabkan sifat dan peribadi orang Bugis: kepahlawanan, kejujuran, kegagahan, kebijaksanaan dan keberanian. Kesemua sifat itu terkandung dalam konsep siri serta pesse mereka. Kekuatan ini telah diperkukuhkan dengan cerita sejarah I La Galigo dan pengembaraan tokoh Sawerigading. Semangat dan jiwa kepahlawanan itu telah membuat mereka berdaya saing untuk maju sehingga telah menguasai dunia perdagangan serta lautan yang tanpa sempadan. Kejujuran pedagang Bugis menjadi terkenal dan disanjung tinggi di mana sahaja mereka pergi, berjual serta berdagang. Tanggapan seperti itu telah membuat mereka berada jauh ke depan dan sering muncul dalam laporan Inggeris di Pulau Pinang. Susuk badan mereka yang gagah telah membuat mereka bertahan dalam pelayaran laut yang jauh. Keberanian dan kegagahan mereka telah membuat mereka tahan mengharungi laut yang bergelora serta cuaca yang tidak tentu arah. Mereka juga bijak dan pandai berniaga sehinggakan telah menguasai jaringan pedagangan yang luas di Nusantara. Kesemua sifat itu adalah lambang keperibadian yang membuat mereka berjaya di semua pelabuhan di Nusantara. Berbekalkan jaringan yang luas, mereka memainkan peranan penting dalam menyebarkan barang-barang Nusantara. Peranan pedagang Bugis itu dilengkapkan kebolehan Daeng lima bersaudara telah menambah warna baru kepada kerajaan Melayu yang berteraskan perdagangan samudera di Selat Melaka.

Rujukan:
Andaya, Barbara Watson. 1979. Perak, The Abode of Grace A Study of an Eighteenth Century Malay State. Kuala Lumpur: Oxford University Press.
Andaya, L.Y. 1975. The Kingdom of Johor, 1641-1728. Kuala Lumpur: Oxford University Press.
_______. 1981. The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the 17th Century. The Hague: Martinus Nijhoff.
_______. 1995. “The Bugis-Makassar Diasporas”, in JMBRAS 68 (1): 119-138.
Barbosa. 1918. The Book of Duarte Barbosa, An Account of the Countries Bordering on the Indian Ocean and Their Inhabitants A.D. 1518. Translated by Mansel LongworthDames, Part II, London: The Hakluyt Society.
Cortesao, Armando. 1944. The Suma Oriental of Tome Pires and the Book of Francisco Rodrigues. London: Haklyut Society.
Gunn, Geoffrey C. 2003. First Globalization: The Eurasian Exchange 1500-1800. Oxford: Rowman.
Kathirithamby-Wells, J. & Villiers, John. 1990. The Southeast Asian Port and Polity Rise and Demise. Singapore: Singapore University Press.
Kern, R.A. 1993. I La Galigo.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Knaap, G. 1996. Shallow Waters Rising Tide. Leiden: KITLV Press.
_______. & Sutherland, Heather. 2004. Monsoon Traders: Ships, Skippers and Commodities in 18th Century Makassar. Leiden: KITLV Press.
Laica Marzuki. 1995. Siri: Bagian Kesadaran Hukum Rakyat Bugis-Makassar. Ujung Padang: Hasanuddin University Press.
Leith, George. 1805. A Short Account of the Settlement, Produce and Commerce of Prince of Wales Islands in the Straits of Melaka. London: J. Booth.
Lewis, Dianne. 1977. “British Policy in the Straits of Malacca to 1819 and the Collapse of the Traditional Malay States Structure: 17-33”, in Brook Barrington, (ed.), Empires, Imperialism and Southeast Asia. Monash: Asia Institute.
Logan, J.R. 1851. “Notices of Penang”, in Journal of Indian Archipelago. 5: 1-14, 53-65,
93-119, 155-73, 189-210, 292-305, 354-366, 400-429.
Meilink-Roelofsz. 1990. Asian Trade and European Influence in the Indonesian Archipelago Between 1500 and About 1630. The Hague: Martinus Nijhoff, 1962.
Moh. Yahaya Mustafa (et.al). 2003. Siri dan Pesse Harga Diri Orang Bugis, Makassar, Mandar, Toraja. Makassar: Pustaka Refleksi.
Nordin Hussin. 2001. Melaka and Penang 1780-1830: A Study of Two Port Towns in the Straits of Melaka. Amsterdam: Vrije Universiteit Amsterdam. (Ph. D. Thesis).
_______. 2005. “Networks of Malay Merchants and the Rise of Penang as a Regional Trading Centre,” in JSEAS .43 (3):215-237.
_______. 2006. Trade and Society in the Straits of Melaka, Dutch Melaka and English Penang 1780-1830. Copenhagen: Nias Press.
Pires, Tome.1944. The Suma Oriental of Tome Pires: An account of the east, from the Red Sea to Japan, Written in Malacca and India in 1512-1515. London: HakluytSociety.
Raja Ali Haji. 1982. Thufat Al-Nafis: The Precious Gift. Kuala Lumpur: Oxford University Press.
__________

Melayu-Bugis-Melayu dalam Arus Balik Sejarah

Oleh: Mukhlis PaEni

Absctract
Since Raja Ali Haji wrote Tuhfat-al Nafis which tells about the history and Malay-Bugis genealogy, there have been a lot of books written about Bugis and their roles in Malay World. However, there are still limited number of books and articles written on the roles of Malay people in the land of Bugis-Makassar. The knowledge about Malay people in this eastern part of Indonesia is paramount to understand and identify new South East Asian man who played important role in the historical dynamics of western part of Indonesia since the last half of 17th century, and its golden age from the 18th to the early 19th century.

Abstrak
Sejak Tuhfat-al Nafis yang ditulis Raja Ali Haji yang berkisah tentang sejarah dan silsilah Melayu Bugis, hingga saat ini sudah tak terhitung berapa banyak buku yang menceritakan ikhwal dan peran Bugis di Alam Melayu. Sebaliknya, tidak banyak informasi tulisan, apatah lagi buku, yang mengulas tentang peran orang-orang Melayu di negeri-negeri orang Bugis-Makassar. Pengetahuan tentang orang Melayu di belahan timur bumi Nusantara ini sangat penting artinya bagi upaya mengenal dan mengidentifikasi manusia Asia Tenggara baru yang berperan dalam dinamika sejarah di belahan barat Nusantara sejak akhir abad ke-17 dan mencapai puncaknya di abad ke-18 hingga awal abad ke-19.

Arus balik sejarah adalah sebuah fenomena penting dalam sejarah sosial yang melibatkan orang-orang Melayu-Bugis-Makassar dan juga orang-orang Bajau sebagai pemeran utama dalam dinamika masyarakat Asia Tenggara sejak abad ke-15. Dinamika sejarah dalam arus balik ini sangat penting untuk diketahui sebagai sebuah dasar pemahaman bagi peran timbal balik orang-orang Melayu di negeri-negeri Bugis-Makassar dan peran orang-orang Bugis-Makassar di negeri-negeri orang Melayu.

Tak terhitung jumlah literatur, termasuk berbagai hikayat, yang menceritakan tentang peran silsilah dan petualangan orang-orang Bugis-Makassar di negeri-negeri Melayu.[1] Berawal dari pengembaraan KaraEng Samarluka anak raja dari Tanah Mengkasar ke Ujung Tanah (Semenanjung Malaka) dan peran aktif Opu Tenri Borong Daeng Rilekke bersama kelima putra dan keturunannya. Sebaliknya, peran orang-orang Melayu di negeri-negeri Bugis-Makassar tidak banyak dibicarakan bahkan kurang mendapat perhatian. Akibatnya, benang merah dari sebuah penjelasan sejarah yang amat penting menjadi terabaikan dan kita pun memperoleh ulasan sejarah tentang Melayu-Bugis/Makassar tidak berimbang.

Pada tahun 1542, seorang Portugis bernama Antonio de Paiva mendarat di Siang, sebuah kerajaan tua di pesisir selatan Makassar. De Paiva adalah orang Eropa pertama yang tinggal di Sulawesi. Dalam laporannya yang tertulis dalam Couto Decades p. 78, dc Paiva menyebutkan bahwa ketika ia mendarat di Pulau Celebes (Sulawesi), ia telah bertemu dengan orang-orang Melayu di Siang. Mereka mendiami perkampungan Melayu dengan susuanan masyarakat yang teratur dan sudah berdiri Siang sejak tahun 1490.[2] Sementara Manoel Pinto, juga seorang Portugis yang mengunjungi Siang pada tahun 1545 mengatakan bahwa ketika itu orang Melayu di Siang berjumlah sekitar 40.000 jiwa, jumlah yang sangat banyak untuk ukuran ketika itu.

Tidak dapat diketahui secara pasti kapan orang orang Melayu melakukan kontak yang pertama dengan negeri-negeri di Indonesia bagian timur. Namun demikian, laporan de Paiva dan Pinto dapat dianggap sebagai informasi Eropa yang tertua tentang kegiatan orang-orang Melayu di bagian timur Indonesia khususnya di Pulau Sulawesi.[3]

Paola zaman Raja Gowa IX, I Mangnguntungi Daeng Matanre Karaeng Tumaparisi Kallonna (1500-1545), orang-orang Melayu sudah mendirikan permukiman di Mangallekana, sebuah kawasan di muara Sungai Jeniberang, di sebelah utara Somba Opu, ibu kota Kerajaan Gowa. Namun demikian, baru pada zaman Raja Gowa X, Mariongau Daeng Bonto Karaeng Tunipallangga (1546-1565), orang-orang Melayu mengutus Datuk Nakhoda Bonang menghadap kepada Raja Gowa agar Mangallekana diberi hak otonomi. Dalam sejarah Gowa dikisahkan:

la tommi napappalakki empoang Jawa nikanaya Anakoda Bonang

Pada dialah juga datang meminta tempat kediaman Orang Jawa, Anakoda Bonang.

Naia erang-eranga ri Karaenga, nappala‘na empoang, kontua anne: Kamelei sibatu, belo sangantuju pulona sowonganna, sakkalla, sikayu, bilu‘lu sikayuy cindeilau sintangnga kodi.

Adapun persembahannya kepada Raja ketika ia meminta tempat kediaman, ialah: sepucuk senapan (kamaleti), delapan puluh junjungan “be;o”, sekayu Sakelat, sekayu beledu, dan setengah kodi “cind ilau”.

Nakana Anakoda ri Karanga tunipallangga; “appaki” rupanna kupala-pala ri katte karaeng; nakanamo karaenga; “apa”? Nakanamo: “kipalaki, tanipantamaia embammang, tanipanaikia ballammang, tanigajanga npuanna nnia‘ anammang, ntani rappung punna nia‘ salammang”, kesalahan”.

Kata Ananda Bonang kepada Raja Tunipallangga; “Empat macam kami harap-harapkan dari Tuanku,” maka menyambutlah Raja itu, “Apa?” Menjawablah ia: “Kami minta supaya jangan dimasuki pekarangan kami (dengan begitu saja), janganlah kami dikenakan pengaturan “nigayang” bila ada anak kami dan janganlah kami dikenakan peraturan “nirappung” bila ada.

Naniioi Karaeng, nakana karaenga: tedongkujanjo maposo nakuparamme, mabattala‘na kutaroi, alaikaupaseng parangku saya tau, naiadai tamammunoako ributtaku punna manusia, takuassenga.

Maka diperkenankanlah (permintaan itu) oleh Raja, dan berkatalah Raja: “Sedangkan kerbauku bila lelah kuturunkan (ia) ke dalam air, bila bebannya berat turunkan sebagian, apabila engkau sesamaku, akan tetapi janganlah engkau melakukan pembunuhan dalam kerajaanku di luar pengetahuan.”

Namakanatodong “siapa rupana nupailalang”?

Berkatalah pula Raja: “Berapa jenis (orang) yang kau masukkan ke dalam permintaanmu itu?”

Nakanamo Anakoda Bonang: Sikontukang ikambe ma, lipa‘ baraya kontui pahanga, Patania, Campaya, Manangkabao, Jahorpka.

Berkatalah Anakoda Bonang: “semua kami bersarung ikat ialah (orang), Pahang, Patani, Campa, Minangkabau, dan Johor”.[4]

Sejak kedatangan orang-orang Melayu ke Kerajaan Gowa (Makassar), peranannya tidak hanya dalam perdagangan dan penyebaran agama, tetapi juga dalam kegiatan Sosial-Budaya dan bahkan dalam birokrasi. Besarnya jumlah dan peranan orang-orang Melayu di Kerajaan Gowa menyebabkan Raja Gowa XII, I Mangarai Daeng Mammeta Karaeng Tunijallo (1565-1590), membangun sebuah masjid di Mangallekana untuk kepentingan orang-orang Melayu agar mereka betah tinggal di Makassar, sekalipun ia sendiri belum beragama Islam. [5]

Dalam struktur kekuasaan Kerajaan Gowa (Makassar), banyak orang Melayu memegang peranan penting di Istana Kerajaan Gowa.

"Kamilah orang-orang Melayu yang mengajar anak negeri duduk berhadap-hadapan dalam persidangan adat, mengajar menggunakan keris panjang yang disebut tararapang, tata cara berpakaian dan berbagai hiasan untuk para anak bangsawan.”[6]
Di zaman Raja Gowa X (1546-1565), seorang keturunan Melayu-Makassar berdarah campuran Bajou yang amat terkemuka bernama I Mangambari Kare Mangaweang yang juga dikenal dengan nama I Daeng Ri Mangallekana diangkat sebagai Syahbandar Kerajaan Gowa Ke-2. Sejak saat itu, secara turun-temurun jabatan syahbandar berturut-turut dipegang oleh orang Melayu sampai dengan Syahbandar Ince Husa Syahbandar Kerajaan Gowa (1669) ketika Kerajaan Gowa mengalami kekalahan perang melawan VOC. Jabatan penting lainnya ialah juru tulis istana, jabatan ini diduduki oleh seorang bernama Melayu, Incik Amin. Juru tulis istana di zaman Sultan Hasanuddin, Raja Gowa XVI (1653-1669), ini sangat terkenal melalui syair yang sebuah karya tulis yang amat indah berjudul Shair Perang Mangkasar yang mengisahkan saat-saat terakhir Kerajaan Gowa tahun 1669,[7] dikisahkan dalam bahasa Melayu berabdjad serang (Jawi) Arab-Melayu.

Sumbangan utama orang-orang Melayu di Indonesia timur, khususnya di Sulawesi Selatan, tidak hanya di bidang perdagangan, tetapi juga dalam bidang pendidikan, penyebaran agama Islam dan kebudayaan Melayu.

Berbagai naskah keagamaan dan karya-karya sastra diterjemahkan dari bahasa Melayu kebahasa Bugis/Makassar. Seperti Hikayat Rabiatul Adawiah, Hikayat Isma Yatim, Hikayat Muhammad Hanafiah, Hikayat Shahi Mardan Ali Al Murtada, Hikayat Nabi Bercukur, Hikayat Nabi ber Mi‘raj, Laila Ma‘jannung, Hikayat Marakarma, Hikayat Amir Hamzah, Budi Istiharat, Hikayat Cekal Weneng Pati, Hikayat Indra Putera, Hikayat Darma Ta‘siah, Hikayat Puteri Jauhar Manikam, dan banyak lagi.

Tradisi intelektual ini berlanjut hingga abad ke 19. Salah satu yang dapat disebutkan di sini adalah penulisan ulang Sureg I Lagaligo, karya sastra Bugis yang disebut sebagai sebuah karya sastra terbesar dari khazanah kesusastraan Indonesia tahun 1860 oleh seorang bangsawan Bugis dari Tanate bernama Collipujie Arung Pancana Toa Datu Tanate. Namun siapa sebenarnya tokoh yang disebut bangsawan Bugis ini? Nama dirinya adalah Ratna Kencana, ibunya bernama Siti Jauhar Manikan, putri Inche Ali Abdullah Datu Pabean, Syahhandar Makassar di abad ke-19, orang keturunan Melayu-Johor berdarah campuran Makassar/Bugis.

Dari beberapa sumber dapat diketahui bahwa sampai tahun 1615 roda perekonomian, khususnya perdagangan antarpulau yang melalui pelabuhan Makassar dikuasai oleh orang Melayu dari Johor, dan Patani. Karena, sekalipun orang-orang Melayu itu sudah menetap di Makassar hampir satu abad lamanya, mereka tetap mempunyai hubungan baik dengan negeri asalnya di Tanah Semenanjung dan pulau-pulau sekitarnya. Oleh karena itu, setiap tahun kapal-kapal orang Melayu membawa secara rutin barang dagangan dari Makassar dan pulau sekitarnya. Dari beberapa sumber diperoleh keterangan bahwa sampai awal abad ke-17 rempah-rempah yang dibawa dari Banda ke Makassar diantarpulaukan oleh orang Jawa dan Melayu. Demikian pula komoditas beras yang merupakan hasil utama Sulawesi yang diekspor ke Malaka sejak tahun 1511, kemungkinan besar tidak dilakukan sendiri oleh orang-orang Bugis/Makassar, tetapi orang Bajau dan orang Melayu yang sudah di Makassar. Barulah pada tahun 1621 orang Makassar mulai turut mengambil bagian yang panting dunia perdagangan dan pelayaran di Nusantara. Ketika itu Kerajaan Gowa (Makassar) mulai memegang peranan penting sebagai kerajaan maritim di kawasan timur Nusantara. Di bawah kekuasaan Raja Gowa XIV, I Mangarrangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin 1598-1639.[8]

Tidak dapat diketahui secara pasti orang-orang Melayu Patani dan Minangkabau mulai bermukim di Salajo, daerah pesisiran negeri Makassar di Sanrobone. Dari beberapa sumber lokal menyebutkan bahwa orang Melayu mulai bermukim di Salajo tak lama setelah keruntuhan Melaka tahun 1511 oleh Portugis.

Datuk Leang Abdul Kadir bersama istrinya, Tuan Fatimah, dikenal sebagai cikal bakal keluarga Melayu asal Patani. Adapun Datuk Makotta bersama istrinya, Tuan Sitti, adalah cikal bakal keluarga Melayu Minangkabau dari Pagaruyung (di Salajo). Merekalah generasi pertama pendatang Melayu di Salajo, sebuah perkampungan di Sanrobone, daerah kawasan Kerajaan Gowa.

Di Salajo terjadi perkawinan antara orang-orang Melayu-Patani dengan orang-orang Melayu dari Minangkabau. lkatan ini ditandai dengan perkawinan Tuan Aminah, Putri Datuk Leang Abdul Kadir, dengan Tuan Rajja Putra Datuk Makotta. Dalam sistem kemasyarakatan orang-orang Melayu, orang-orang terpandang Melayu menggunakan titulatur Incek di depan nama diri, seperti Incek Ali, Incek Talli, Incek Hasan. Kemudian terjadi perkawinan campuran antara orang-orang Melayu dengan orang Bajou (Turijene, Bahasa Makassar) yang ditandai perkawinan Incek Tija, Putri Incek Ali, cucu Tuan Rajja/Tuan Aminah dengan seorang tokoh rnasyarakat Bajau di Sanrohone yang dikenal dengan nama Lolo Bajo. Perkawinan ini melahirkan generasi masyarakat Melayu campuran Bajou dan Sandrobone (Makassar). Generasi yang lahir dari campuran daerah Melayu-Bajou-Makassar di Salajo yang dikenal dengan penggunaan titulatur Kare di di depan nama diri, seperti Kare Bali, Kare Tongngi, Kare Ponto, Kare Muntu, dst. Seseorang yang memilki titulatur Kare menempati tempat yang sangat terhormat dalam sistem kemasyarakatan Makassar.

Pada generasi selanjutnya ketika terjadi perkawinan campuran antara keturunan Incek dan Kare dengan orang Bugis-Makassar, lahirlah sebuah generasi baru Bugis-Makassar keturunan Melayu atau Generasi baru Melayu keturunan Bugis-Melayu di Nusantara bagian karat, yang secara umum dikenal sebagai golongan masyarakat tubaji (bahasa Makassar) atau tudeceng (bahasa Bugis). Mereka menggunakan titulatur Pa‘Daengang seperti I Minallang Daeng Kenna, I Nali Daeng Tonji, I Yoho Daeng Siang dst.

Generasi baru yang lahir dari percampuran darah Melayu-Bugis-Makassar dan Bajou ini menduduki tempat dalam struktur masyarakat, dari strata bangsawan hingga ke golongan masyarakat orang terhormat atau orang baik-baik. Kelompok inilah yang banyak meninggalkan Sulawesi Selatan selepas keruntuhan Gowa pada 1667-1669.

Di samping Salajo terdapat sebuah pemakaman yang ramai dikunjungi peziarah, dipercaya sebagai kuburan Tuan Rajja. Masyarakat sekitarnya menyebut kuburan Jawa Patani. Tak begitu jauh dari Salajo, di hampung Balaparang terdapat kompleks pemakaman orang Melayu di mana Datuk Mahkota dan Leang Abdul Kadir dimakamkan. Datuk Rajja (Abdul Rajad) dikenal sebagai orang ulama tassauf pengajar Islam yang amat terkenal dari Sandrobane. Dalam naskah Silsilah Asal Keturunan Pertama Ulama Melayu di Negeri Sandrobone milik Ince Abdul Rajak Daeng Ngago, disebut bahwa pada bulan Rabiul Awal 1020 Hijriyah (tahun 1599 M) Datuk Rajja (Tuan Rajah) mengirim Surat ke Patani mengabarkan tentang dirinya yang sudah bermukim di Negeri Salajo dan menjadi Guru Mangkasara dan pada Melayu serta sekalian hamba Allah. Berdasarkan atas sumber tersebut dapat diduga bahwa Datuk Rajja atau Tuan Rajab adalah nama diri Al Makassari Assadrobone, seorang ulama tasawuf keturunan Melayu yang sudah menulis berbagai buku tasawuf dan fikih sejak tahun 1540. Salah satu manuskrip tasawuf hasil karyanya ditemukan di Bira, ditulis di atas kertas ‘lokal‘ abad ke-16. Mikrofilm naskah asli tersimpan di Koleksi Proyek Naskah Universitas Hasanuddin (Unhas), Rol 74 dan No 5. (Microfilm Khazanah Arsip Nasional RI).

Migrasi Melayu yang datang berikutnya ialah rombongan besar Datuk Maharajalela tiba di Kerajaan Gowa (Makassar), tahun 1635, disertai kemenakannya suami-istri yang bergelar Datuk Paduka Raja bersama istri yang bergelar Putri Senopati.

Raja Gowa Sultan Alaudin memberi tempat tinggal di Salajo di sebelah selatan Somba Opu, ibu kota Kerajaan Gowa. Salajo kemudian berganti nama menjadi Kampung Patani hingga sekarang.[9] Selain itu, bersamanya terbawa sebuah Regalia Patani berbentuk Bendera Cindai yang bernama ‘Buluh Perindu”. Datuk Maharajalela kemudian diangkat oleh orang-orang Melayu atas pertujuan dan izin Raja Gowa menjadi ketua bagi segenap orang Melayu. Tidak hanya di Kerajaan Gowa, tetapi di Indonesia Timur dengan sebutan Datuk Ponggawa.[10] "Buluh Perindu" (Bendera Cindai) yang sakral itu menjadi simbol ikatan masyarakat Melayu di Indonesia timur. Hingga kini ‘Bulu Perindu” masih tersimpan di Kampung Melayu di Makassar, di tangan salah seorang keluarga masyarakat Melayu di Makassar.

Seiring dengan tumbuhnya perkampungan Melayu di Mangallekana dan Patani, berbagai jenis pekerjaan baru berkembang di Indonesia timur, khususnya di Makassar. Pekerjaan-pekerjaan ini membuktikan tenaga-tenaga terdidik dan terampil, terutama untuk kegiatan perdagangan, dan lalu lintas ekonomi di Makassar.

Hal ini sangat penting mengingat jabatan-jabatan tradisional dalam birokrasi Kerajaan Gowa tidak dapat menampung orang Melayu terdidik dan terampil dalam berbagai jabatan. Demikianlah, lowongan lowongan kerja dari berbagai kantor-kantor dagang dan perusahaan-perusahaan dagang asing Makassar menjadi sasaran utama orang-orang Melayu dan orang-orang Jawa. Hampir semua kantor dagang asing yang berada di Somba Opu, ibu kota Kerajaan Gowa (Makassar), seperti kantor dagang Inggris, Belanda, Spanyol, Denmark, Portugis, [11] menggunakan tenaga-tenaga kerja Jawa dan Melayu sebagai pegawai atau tenaga kerja terampil. Merekalah yang menjadi motor penggerak dunia perdagangan di Indonesia Timur, terutama di era kejayaan pertengahan abad ke 17 hingga zaman keruntuhan Kerajaan Gowa.

Ketika terjadi ketegangan antara Kerajaan Gowa (Makassar) dengan VOC (Belanda) dalam memperebutkan dominasi ekonomi di Indonesia timur yang sudah tampak gejalanya di awal abad ke 17, orang-orang Melayu dan Jawa yang bekerja pada kantor-kantor dagang asing, khususnya Belanda, mendapat pukulan yang berat. Kerajaan Gowa (Makassar) menjadi sangat curiga pada orang-orang Melayu yang berkarya untuk kegiatan perdagangan Belanda di Makassar.[12] Kecurigaan ini mencapai puncaknya ketika Kerajaan Gowa kalah dalam perang melawan Belanda pada Perang Makassar (1667- 1669). Akibatnya Mangkubumi Kerajaan Gowa, Karaeng Karungrung, memindahkan (mengusir) mereka ke luar dari Makassar/daratan Sulawesi dan menempatkannya di pulau-pulau lepas pantai Makassar yang secara khusus pada pulau-pulau yang berawalan depan Sa: Salembo, Sabaru, Sabutung, Satangga, Satando, Sabalanga. Pulau-pulau ini kemudian tumbuh menjadi permukiman Melayu dan menjadi pusat pendidikan agama Islam dan di abad ke-19. Mereka yang masih tinggal di Makassar (di daratan Sulawesi) hanya orang-orang Melayu-Makassar petinggi-petinggi kerajaan seperti syahbandar, kadhi, pejabat-pejabat agama, juru tulis dan keluarganya serta anggota masyarakat dengan VOC.

Perang Makassar yang berakhir tahun 1667 memaksa Sultan Hasanuddin, Raja Gowa XVI, menandatangani Perjanjian Bongaya. Dalam perjanjian itu ada dua bahasa resmi yang digunakan oleh para pembesar Kerajaan Gowa (Makassar) dalam perundingannya dengan Belanda, yaitu bahasa Portugis dan Melayu. Perjanjian yang sangat monumental itu tidak hanya terkenal karena menjadi titik berakhirnya dari satu perang yang sangat dahsyat sepanjang sejarah VOC di Indonesia, tetapi karena perjanjian ini menjadi awal dari satu periode sejarah yang sangat penting bagi dinamika masyarakat Melayu di Nusantara.

Arus Balik Sejarah
Akibat dari perjanjian ini terjadilah aru balik pengaruh Melayu di Nusantara. Pada saat itulah orang-orang Melayu-Bugis/Makassar yang menduduki jabatan-jataban penting di Kerajaan Gowa bersama para bangsawan tinggi kerajaan yang tidak menyetujui Perjanjian Bongaya meninggalkan Kerajaan Gowa, Sulawesi Selatan, secara besar-besaran. Peristiwa ini saya sebut sangat penting karena arus balik ini terjadi setelah hampir 177 tahun sejak berdirinya permukiman Melayu di Siang kurang lebih 1490 atau sekitar 146 tahun sejak kedatangan orang-orang Melayu dan bermukim di Mangallekana, tahun 1521. Dalam arus balik itu tidak hanya orang-orang Melayu-Bugis-Makassar yang duduk dalam birokrasi kekuasaan yang meninggalkan Gowa (Makassar). Secara umum mereka tidak menyetujui kekuasaan Belanda (VOC) di Makassar (Gowa) turut meninggalkan Sulawesi. Migrasi besar-besaran ini secara umum melibatkan daerah-daerah yang berada di bawah persekutuan Kerajaan Gowa, seperti Wajo, Balanipa, Luwu, dan Bima. Datuk Maharajelala yang telah menjabat jabatan Datuk Punggawa, ketua orang Melayu dalam struktur birokrasi tradisional Kerajaan Gowa selama lebih 30 tahun mengundurkan diri dan berhenti menjadi Datuk Punggawa. Dialah Datuk Punggawa yang pertama dan terakhir. 37 tahun kemudian setelah Belanda (VOC) menguasai sepenuhnya Makassar (Gowa) barulah Belada mengangkat seorang pejabat baru dalam struktur kekuasaan VOC selaku ketua orang-orang Melayu dengan nama Kapitan Melayu, yakni pada tanggal 28 Mei 1706, diawali pengangkata Ince Tjuka Abdul Rasul sebagai Kapitan Melayu pertama hingga ke Kapitan Melayu terakhir pada tahun 1918 dijabat oleh Kapitan Incek Qaimuddin Daeng Parani.

Satu hal yang menarik dalam kajian sejarah sosial Indonesia ialah studi tentang perkawinan campuran antara orang-orang Melayu Bugis-Makassar dan Bajau di Sulawesi Selatan, yang kemudian melahirkan masyarakat baru Nusantara. Masyarakat baru Nusantara yang disebut tubaji dan tudeceng inilah yang memegang berbagai jabatan dan peranan penting dalam masyarakat. Hampir semua jenis okupasi yang menjadi kekuatan dinamika sosial-budaya-politik dan ekonomi sepanjang tiga abad dipegang oleh para tubaji/tudeceng.

Manusia Bugis-Makassar campuran Melayu ini, (tubaji), adalah manusia baru Nusantara di abad ke-17 yang sangat penting peranannya. Dalam diri tubaji/tudeceng mengalir darah intelektual Melayu, yang kemudian bercampur dengan heroisme Bugis-Makassar dan kearifan Bajau. Percampuran ini melahirkan orang Melayu baru, dalam arti yang luas. Para tubaji atau tudeceng inilah yang kemudian memegang peranan penting dalam sejarah Nusantara di abad ke-18 sampai ke-19 di Tanah Semenanjung dan Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan daerah-daerah di pantai utara Jawa, termasuk di Sulawesi Selatan sendiri. Peran mereka masih berlangsung hingga memasuki abad ke-20.

Dengan demikian, jika dikenal dalam sejarah Nusantara adanya pengaruh Bugis-Makassar di Nusantara, khususnya di Tanah Semenanjung dan di Kepulauan Riau pada abad ke-18 dan ahad ke-19, sesungguhnva tidaklah dapat disebut sebagai peranan Bugis-Makassar secara harfiah seperti yang yang umum dikenal dalam sejarah Melayu. Sebab, dalam diri para bangsawan dan tubaji di antara para Daeng, para Opu dan para Karaeng itu telah mengalir darah campuran Melayu-Bugis-Makassar. Mereka adalah produk pluralistik yang lahir dari sebuah dinamika sejarah masyarakat kita.

Masalah tubaji atau tudeceng sangat penting dibicarakan karena seringkali banyak tokoh terkemuka atau petinggi dari Ujung Tanah (baca: Malaysia) atau Riau yang merasa berdarah keturunan Bugis atau Makassar datang mencari silsilah "Datuk", leluhurnya ke Sulawesi, di tanah Bugis-Makassar. Beberapa di antaranya tidak puas, bahkan ada yang kecewa karena tidak dapat menemukan kepastian siapa sebenarnya leluhur atau "Datuk"-nya itu. Kekecewaan itu akan bertambah jika ia berusaha mencari nama "Datuk"-nya dalam urutan silsilah raja-raja Bugis-Makassar seperti juga silsilah para Daeng, Opu dan Karaeng yang ada dalam sejarah Melayu-Bugis. Umumnya kita mendapat kesulitan untuk memastikan kebenaran hubungan garis silsilah dalam geneologi itu secara akurat, sekalipun tempatnya dalam struktur sosial jelas dengan titulatur yang dimiliki bangsawan tubaji/tudeceng dan berasal dari tradisi besar Bugis-Makassar.

Sepanjang kurang lebih 150 tahun telah terjadi perkawinan campuran di antara para bangsawan Bugis-Makassar dengan orang-orang Melayu. Keturunannya tidak lagi menyebut diri sebagai orang Melayu melainkan menyebut diri orang Bugis atau orang Makassar. Identitas yang menandakan bahwa seseorang masih berdarah Melayu hanya terlihat pada titulatur nama diri dan sebutan-sebutan dalam kekerabatan. Penggunaan sebutan Incek di depan nama diri menunjukan bahwa ia masih berdarah Melayu digunakan secara terbatas, sementara penggunaan nama panggilan Pa‘Daengan yang menunjukkan predikat kebangsawanan atau tubaji oleh seorang tubaji/tudeceng lebih popular digunakan.

Contohnya :

Incek Muh. Ali Daeng Rowa.

Incek = titulatu nama diri bagi orang Melayu
Muhammad Ali = nama diri
Daeng Rowa = nama Pa‘Daengan, titulatur Makassar
Sehari-hari disapa dengan Daeng Kowa:

Incek Abdul Kadir Daeng Mamangung Datuk Sabandar

Incek = nama identitas bangsawan Melayu
Abdul Kadir = nama diri
Daeng Mamangung = titular Makassar (tubaji)
Datuk Sabandar = nama jabatan
Lebih popular disapa dengan Daeng Manangung.

Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari seseorang yang memiliki 4 (empat), 3 (tiga), atau 2 (dua) nama termasuk orang terpandang (tubaji) dan seseorang umumnya tidak dikenal/dipanggil dengan nama dirinya tetapi nama Pa‘Daengang-nya. Karena dalam struktur sosial masyarakat Bugis/Makassar tidak semua orang memiliki nama Pa‘Daengang. Pa‘Daengang hanyalah untuk para bangsawan dan masyarakat golongan tubaji/tudeceng saja. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam sejarah Melayu tokoh sejarah Melayu-Bugis-Makassar dikenal dengan nama Pa‘Daengang-nya saja.

Dengan menggunakan terminologi Pa‘Daengang sudah cukup untuk menempatkan Sang Daeng dalam struktur masyarakat. Merekalah para tubaji/tudeceng sebagai generasi baru Nusantara dalam arus balik sejarah yang berperan penting menegakkan marwah dan tamaddun Melayu, menjadi penggerak dinamika Kesultanan Melayu di abad ke-18 hingga abad ke-19, dan di berbagai daerah di Indonesia bagian barat, termasuk di Riau. Dalam konteks inilah Mukaddimah Sulalatus Salatin menjadi sangat penting artinya.

"Pada suatu masa... dst bahwa fakir duduk pada suatu Majlis dengan orang besar-besar bersenda gurau. Pada antara itu ada seorang besar, terlebih mulianya dan lebih besar martabatnya daripada yang lain. Maka berkata ia kepada fakir, “Hamba dengar ada hikayat Melayu dibawa oleh orang dari Gowa barang kita perbaiki kiranya dengan istiadatnya, supaya diketahui oleh segala anak cucu kita yang kemudian daripada kita, dan boleh digantikan oleh segala mereka itu dan adalah beroleh faedah ia daripadanya”.
___________________________________________________________________________

Tulisan ini diambil dari Jurnal ATL (Jurnal Pengetahuan dan Komunikasi Peneliti dan Pemerhati Tradisi Lisan), No. 1, Vol.1, Edisi IV, November 2008.
Mukhlis PaEni, adalah Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film (NBSF) Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) Repubulik Indonesia.
Daftar Pustaka

Adatrcehtbundels XXXI: Celebes ‘s-Gravenhage: Maritunus Nijhoff, 1929.
Ahmad, Samad, A, Sulalatus Salatun (Sejarah Melayu). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pelajaran Malaysia, 1986.
Amin, Enci, Microfilm School of Orientarl & African Studies, SOAS. MS 403224.
Ch. Pelras, “Sulawesi Selatan sebelum Datangnya Islam Berdasarkan Kesaksian Bangsa Asing”, dalam Citra Masyarakat Indonesia, Jakarta: Sinar Harapan. 1983.
J. Noorduyn, Sejarah Islam di Sulawesi Selatan. Kristen Indonesia, 1964.
Mattulada, Menyusuri Jejak Kehadiran Tabir Sejarah dan Budaya di Sulawesi Selatan. Jakarta: Yayasan Bhineka Tunggal Ika, 1988.
Mengemba, H. D, Kenalilah Sulawesi Selatan, Jakarta: Timur Mas, 1954,1956.
PaEni, Mukhlis, Struktur Birokrasi Kerajaan Gowa Jaman Pemerintahaan Sultan Hasanuddin (1653-1669), Yogyakarta: UGM, 1975.
YIIS, Citra Masyarakat Indonesia, Jakarta; Sinar Harapan. 1985, Cet. I.
Rogoyah A. Hamid, Hikayat Opu DaEng Manambun. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1900.
Microfilm, Proyek Naskah Universitas Hasanuddin Rol 9. No: 12, Ro 10, No: 7, Rol: 62, No: 33, Rol: 77, No: 16, No: 80:, No: 44, 60, Rol: 81, No: 37.
Mukhtasar Tawarikh Al Wusta, A Shart chronicle of the Rionregion, introduction Roger Tol, Jam Just Witkam, Leiden 1993.
Abdul Razak daEng Pa‘tunru, Sejarah Gowa. YKKS, 1993.
L. Andaya, The Kingdom of Johar 1641-1728, Kuala Lumpur: Oxforg Unversiti Press, 1975.
Edward Poelenggomang, Makassar Abad XIX, KPG, 2002.
Zainal, Abidin, “How for is Makassar from Ujung Pandang”, Makalah hari lahirnya Makassar, 1995.
Microfilm Proyek Naskah Universitas Hasanuddin Rol 9, NO: 12. Rol 10 No 7, Rol 62 No. 33, Rol 77 No. 16, Rol 80 No. 10, Rol 80 No. 44, Rol 80 No. 60, Rol 81 N. 37.
___________________________________________________________________________
[1] Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-rajanya, Tuhfat al-Nafis, Aturan Setia Bugis dan Melayu, Sejarah Riau Lingga dan Daerah Takluknya. Tawariik al-Wusta, Hikayat Negeri Johor, Hikayat Opu Daeng Menambun, Hikayat Raja-raja Riau, Sejarah Raja-raja Riau, Silsilah Raja Bugis, Hikayat Negeri Riau, and Sejarah Johor. Mukhtasar Tawarikh Al-Wusta A short chronicle of the Riau region.
[2] Ch. Pelras: “Sulawesi Selatan sebelum datangnya Islam berdasarkan kesaksian bangsa Portugis” dalam Citra Masyarakat Indonesia, Jakarta: YRS, 1983. Di beberapa sumber Portugis disebutkan bahwa pedagang-pedagang Melayu Islam sudah berada di Siang sejak 1485, 120 tahun sebelum Raja Gowa I Mangarangi DaEng Manrabia Sultan Alauddin 1593-1639 memeluk Agama Islam.
[3] Lihat juga Leonard Andaya: The Kingdom of Jogor, 1641-1728, Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1975.
[4] Abdul Razak DaEng Pa‘tunru, Sejarah Gowa. Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, Makassar, 1995. P 15, lihat juga Mattulada, 1988.
[5] Abdul Razak Daeng Patunru, op cit.
[6] Ince Manambai Ibrahim, "Sejarah Keturunan di Melayu Selatan" tanpa angka tahun, tidak diterbitkan.
[7] Enci; Emin; microfilm School of Orientasi dan African Studies, SOAS, MS 40324. Di zaman Kerajaan Gowa XV Sultan Malikusaid (1639-1663) sekretaris istana dijabat oleh seorang Portugis bernama Francisco Mendes (lihat Zainal Abidin, 1995).
[8] Edward Paelanggomang, Makassar Abdullah XIX, 2002.
[9] Abdurrahman: Kedatangan orang Melayu di Makassar dalam H.D. Magemba, Kenallah Sulawesi Selatan, Jakarta Timur Mas, 1956.
[10] Adatrechtbundels, XXXI : Selebes, 1929. p.110
[11] Adatrechtbundels, XXXI : Selebes, 1929. p. 111
[12] Ibid, P. 112.

Arung Palakka: Sebuah Renungan tentang Filsafat Sejarah Bugis Abad ke-17

Oleh: Mukhlis Paeni

Pada tahun 10 Pebruari 1899, Jenderal Van Heutz menyerang Meulaboh. Pertempuran sengit tak terhindar lagi, Teuku Umar tertembak dan mati sahid di medan perang. Arwahnya dijemput oleh tujuh bidadari. Di alam sana tempatnya yang abadi, ia dikawinkan dengan Ainal Mardiah bidadari yang amat sempuma, itulah pemberian Allah sebagai hadiah perang sabil. "Nyawa tubuh dengan harta, belanjakan untuk perang sabil. Sungai-sungai Kalkautsar sangat indah, pembagian Muhammad karunia Rabbi. Penghulu kita memberi pada ummat, yang berkhidmat berperang sabil. Minum seteguk rasa lain, semakin lesat tak terperi. Dijadikan isteri bintang kejora. Cantik jelita sang Bidadari"[1] <#_ftn1> Teuku Umar (1854-1899), Sayidi yang legendaris ini dikenal sangat kontroversial dalam berbagai tindakan, jalan hidup dan taktik bertempurnya selama perang Aceh. Berkali-kali ia berperang di pihak Sang Kafir. Kemudian lari lagi ke pihak Aceh, menyeberang lagi dan lari lagi. Ia juga diangkat sebagai penasehat dan orang kepercayaan Belanda dalam Perang Aceh. Ia menyerang patriot-patriot Aceh dan korban pun berjatuhan akibat ulahnya. Karena sepak terjangnya itu ia dicap sebagi anjing penghianat yang amat laknat, ketika ia gugur di medan perang berakhirlah petualangannya yang kontroversial itu. Peluru /Beulanda Kaphe/ (Belanda Kafir) merenggut jiwanya. Ia gugur sebagai panglima perang Aceh yang sejati, dan ketika jasadnya dikebumikan di samping masjid di Kampung Mugo, orang-orang Aceh menyebutnya Teuku Johan Pahlawan. Tuanku Pahlawan yang perkasa. Jika kita menyimak alur perjuangan Teuku Umar dan menghubungkannya dengan hikayat perang sabil yang menjadi /spirit/ perang Aceh, maka akan tampak bahwa ide yang mendasari keterlibatan Teuku Umar dalam perang Aceh adalah perang melawan Kaphi /"Sabilillah"/ dan tujuan akhirnya adalah /"Sahid"/. Oleh Karena itu, bagi masyarakat Aceh hanya ada satu penilaian yang primer, /Sahid/ dan jalan menuju /Sahid/ adalah /Jihad Fi Sabilillah./

Dalam keadaan yang demikian, faktor-faktor sosial, ekonomi, politik dan lain-lain menjadi faktor sekunder. Keadaan perang yang berkobar ketika itu melahirkan kegiatan berpikir mengenai Hukum Islam yang berkaitan dengan pokok hubungan antara kaum muslim dan yang bukan muslim. Seorang Islam wajib merebut negerinya dari kekuasaan musuh apalagi musuh itu adalah /Beulanda Kaphe/ (Belanda Kafir), jadikanlah pekerjaan mengusir musuh itu sebagi /fardhu ain/, begitulah fatwah ulama. Dari kisah Teuku Umar sang Johan Pahlawan, kita dapat mengetahui bahwa, bagi orang Aceh, perjalanan sejarah tak lain adalah kisah tentang jatuh bangunnya anak manusia yang senantiasa berubah dan dalam fluktuasi itu pintu taubat dan maaf selalu terbuka, karena itu yang terpenting dan di atas segala-galanya adalah realitas dari akhir perjalanan itu, /sahid/. Kalaulah kisah Teuku Umar dalam Perang Aceh digunakan sebagai /imsal/ bagi pijakan imajinasi kita untuk menyingkap nuansa keterlibatan Arung Palakka dalam Perang Makassar 1660-1669, maka kitapun akan mencoba memahami apa sesungguhnya yang terjadi ketika itu dan dari kejadian itu melahirkan kegiatan berfikir apa. Kegiatan berpikir itulah yang paling penting diketahui sebagai suatu upaya akademis untuk menempatkan suatu kejadian pada tempat yang sesungguhnya. Pemahaman terhadap hal tersebut sangat penting artinya dalam memahami dasar filsafat dan etika Bugis yang menguasai jalannya sejarah ketika itu, itulah yang disebut "jiwa jaman" /(zeitgeist)/. Bagi orang Bugis hidup ini adalah harga diri (/siri?/) yang harus selalu dipelihara dan dipertaruhkan agar keseimbangannya dengan yang lain senantiasa terjaga. Apabila seseorang dibuat /siri?/ (/masiri?/) yang menyebabkan harga dirinya terganggu atau hilang, maka oleh masyarakat sekitarnya ia dituntut untuk mengambil langkah menebus diri dengan menyingkirkan penyebab /siri?/ yang merusak keseimbangannya sebagai manusia, karena itu ia wajib menyingkirkan penyebab /siri?/ di matanya sendiri dan di mata masyarakatnya. Masyarakat mengharapkan seseorang yang telah dibuat /siri?/ (/masiri?/) mengambil tindakan karena dirasakan lebih baik mati mempertahankan harga diri (/mate ri siri? na/) daripada hidup tanpa harga diri (/mate siri?/). Mati mempertahankan /siri?/ adalah /mate rigolai, mate ri sangtangi/ atau menjalani kematian yang manis. Ketika seseorang telah melangkah mengambil tindakan untuk mempertahankan dan merebut harga diri (/siri?/ /na/), maka proses awal memasuki dunia sejarah dari seseorang telah dimulai. Bagi orang Bugis masa menyejarah inilah yang sangat penting. Jika Teuku Umar memasuki dunia sejarah melalui Perang Aceh dan berhasil menjangkau tujuan akhir perjalanan sejarah (dalam pandangan masyarakatnya dan pandangan filsafat sejarah Aceh, /Sahid/), maka Arung Palakka telah mengawali keterlibatannya dalam menyejarah, melalui perang Makassar dengan memasuki pintu sejarah melalui pintu yang paling hakiki menurut filsafat sejarah Bugis, yakni menegakkan /siri?/ (harga diri). Hal ini sangat penting karena /siri? /adalah awal segala-galanya. Pemulihan dan penjagaan /siri?/ adalah pula akhir dari perjalanan sejarah bagi orang Bugis. Beberapa saat setelah bobolnya benteng Somba Opu 21 Juni 1669 yang menandai runtuhnya Kerajaan Gowa, Arung Palakka bertanya kepada orang-orang Bone (Bugis): "Wahai orang Bone, kita telah diberi oleh Tuhan yang kita minta, dan sekarang apa gerangan yang ada dalam pemikiranmu. Orang Bone mengatakan, kami ingin membalas perlakuan orang-orang Gowa (Makassar) terhadap orang Bone (Bugis)". Bertanya pula Arung Palakka kepada orang-orang Bone: Sewaktu kalian berperang, apa yang kalian inginkan dalam hati, yang kami inginkan kata orang Bone ialah mengalahkan dan akan membalas tindakan dan perbuatan orang-orang Gowa terhadap kami. Arung Palakka berkata yang mana lebih baik jika kalian yang membalas atau Tuhan Yang Maha Kuasa, dan orang Bone pun menyerahkan pembalasan itu kepada Tuhan" Melalui pernyataan yang luhur ini tak dapat diragukan lagi, bahwa keterlibatan Arung Palakka dan orang-orang Bone dalam perang adalah pemulihan harga diri, Keduanya diikat oleh satu hubungan emosional yang amat dalam, /pésse/. Apakah yang terjadi kemudian setelah itu, satu periode/babak sejarah Sul-Sel berakhir, dan babak baru dalam kronologi sejarah Sulawesi Selatan siap memasuki sebuah era yang baru, era kekuasaan asing (VOC). Satu era sejarah yang ditandai dengan kisah tentang jatuh bangunnya kerajaan-kerajaan besar di Nusantara termasuk Gowa. Kehadiran Arung Palakka adalah realitas sejarah yang dianggap sebagai awal bagi satu babak baru dalam percaturan politik dan kepemimpinan di Sulawesi Selatan yang sudah berjalan cukup lama, sesuatu yang biasa dan akan terus berlangsung dalam sejarah. Setelah kita menutup satu era periode sejarah dalam kenangan waktu, maka kitapun memasuki era Arung Palakka. Era ini sangat penting, tidak hanya bagi orang-orang Bone (Bugis), tetapi bagi seluruh masyarakat Sulawesi Selatan. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan era Arung Palakka adalah era penataan kembali tatanan kehidupan masyarakat setelah melalui periode perang yang panjang. Pertanyaan-pertanyaan sejarah yang riil. Bagaimana struktur masyarakat dan kekuasaan ketika itu, kemajuan sosial yang dicapai ketika itu, bagaimana perkembangan budaya dan pengembangan keagamaan ketika itu. Sampai di mana tingkat perkembangan ilmu pengetahuan ketika itu, bagaimana hubungan internasional yang berlangsung. Bagaimana dengan kekuatan basis ekonomi masyarakat, bagaimana pandangan dunia intemasional ketika itu, bagaimana hak-hak asasi manusia dijalankan dan lain-lain. Persoalan-persoalan ini perlu diketahui, perlu dibicarakan, karena jawabannya adalah bagian yang paling penting untuk mengetahui apakah masyarakat Sulawesi Selatan (Bugis-Makassar) mampu menjaga /siri?-/nya dalam era sejarah yang baru itu atau sebaliknya bahwa di era yang baru itu masyarakat Sulawesi Selatan sudah kehilangan /siri? /seiring dengan kekalahan Gowa dalam perang Makassar. Sejarah pada dasarnya bukanlah hanya hikayat seseorang, melainkan riwayat masyarakat yang penuh dengan berbagai rona dalam dimensi-dimensi; sosial, budaya, agama, ekonomi, sastra, filsafat, politik, birokrasi, seni, undang-undang, adat istiadat, mistik, ritual, simbol-simbol, hak-hak asasi dan banyak lagi. Semua itulah yang memberi nuansa bagi harga diri orang-orang Bugis-Makassar ketika itu. Arung Palakka telah mengantar masyarakat Sulawesi Selatan memasuki suatu era baru dalam babakan sejarah dengan penuh perjuangan, dan generasi sesudah itu seringkali hanya asyik bercerita dan menjelaskan secara rinci dan terkadang emosional tentang keterlibatan Arung Palakka di awal sejarah dalam Perang Makassar. Sementara uraian tentang apa yang dilakukan dan yang dicapai oleh masyarakat sesudah itu tidak banyak dibicarakan. Dewasa ini orang-orang Bugis-Makassar diperhadapkan untuk menjelaskan semua itu dengan jujur. Hal ini sangat penting, karena dari sini dapat diketahui bagaimana upaya yang dilakukan oleh orang-orang Bugis-Makassar mempertahankan /siri?/. Melalui suatu upaya yang cermat dalam memasuki pergantian zaman dengan baik sehingga sekalipun Gowa hancur, Tosara ibu negeri Wajo di bumi hangus dll, orang Makassar-Bugis yang terlibat dalam perang merasa tidak kehilangan /siri?/ (/mate/ /siri?/). Lihatlah misalnya bagaimana kisah keterlibatan Arung Palakka dalam kancah Perang Makassar, dituturkan dalam /Sinrilik Kappala Tallumbatua/. Satu penjelasan yang sengaja direkayasa untuk konsumsi masyarakat desa, dan orang-orang Makassar pedalaman. Bagaimana persepsi masyarakat desa (mayoritas) tentang Perang Makassar, tentang Kerajaan Gowa dan tentang Arung Palakka, sangat berbeda dan bahkan bertentangan dengan persepsi istana, raja-raja, para bangsawan dan kalangan atas tentang Perang Makassar dan Arung Palakka. Persepsi ini juga berbeda dengan yang digunakan oleh sejarawan-sejarawan Barat atau didikan Barat yang hanya melihat abad ke-17 hanya berisi pertentangan antara Kompeni (VOC) dengan raja-raja lokal, dalam rangka persaingan politik ekonomi, dan penguasaan kontrol terhadap jalur perdagangan. Jika kita mau mencoba meninggalkan cara pandang sarjana Barat tentang ide perang Makassar yang bertemakan persaingan ekonomi itu dan mengamati satu persoalan micro historis yang terletak jauh di bawah permukaan sejarah, di sana akan menemukan banyak tema, yang non ekonomis sifatnya, yang justru menentukan jalannya sejarah, tema-tema itu adalah tumpukan kegelisahan masyarakat di satu zaman. Ia bisa saja berwujud kebobrokan kontrol birokrasi, pelanggaran hak-hak azasi manusia, rendahnya kualitas manusia, lemahnya perekonomian negara, korupsi di antara para pejabat, penyalahgunaan wewenang dan tanggung jawab dan banyak lagi. Persoalan-persoalan semacam ini terbenam di bawah arus sejarah politik yang ketika itu di abad ke -17 didominasi oleh persaingan ekonomi antara Gowa dengan VOC. Kalau kita mau mencoba meninggalkan peristiwa macro, dan membicarakan berbagai tema yang berada di bawah permukaan sejarah politik dan ekonomi, maka akan tampak betapa berbagai ragam dan nuansa kesejarahan yang kita temukan. Jika kita membaca sejarah Indonesia seperti apa yang kita ketahui sekarang bahwa Belanda (VOC) adalah satu imperium dagang yang sangat besar di dunia abad ke-17 dan kedatangannya di Nusantara ini tak terlepas dari nafsu ekonomi dagang dan kekuasaan ekonomi, tetapi bagaimana masyarakat desa, rakyat kecil melihat/memahami kedatangan Belanda, sangat berbeda. Mereka memiliki persepsi yang berbeda. Mereka tidak mengenal percaturan politik, persaingan ekonomi, jalur dagang, dll. Yang mereka tahu Belanda datang dan mereka merasakan tatanan tradisionalnya terusik. Ada yang berusaha melawannya secara fisik, ada yang hanya melawannya dengan prinsip, ada yang terpaksa menerimanya dengan pasrah dan ada pula yang menerimanya sebagai suatu kewajaran. Sebagai contoh dikisahkan dalam /Serat Baron Sahendher/ sebuah /pseudo History/ (Jawa) "sejarah semu" yang juga biasa disebut sebagai /legendariry history/ atau legenda sejarah. Dalam /Serat Baron Sahendher/ diceritakan bahwa sesungguhnya kedatangan Belanda ke Jawa adalah sebuah kewajaran yang harus diterima : Tersebutlah dalam /Serat Baron Sahendher/ seorang wanita cantik bernama Dewi Anuranggang. Karena kecantikannya, ia diperistrikan Sultan Jakarta, akan tetapi Sultan Jakarta tak kuasa menghadapi istrinya, karena setiap kali akan ditiduri memancar api dari tubuhnya. Anuranggang dibuangnya dan kemudian ia dipungut oleh Sultan dan mengalami nasib yang sama dengan Sultan Jakarta. Anuranggang dikembalikan pada Sultan Jakarta dan kemudian ia dijual kepada Baron Sukmul seorang anak pedagang kaya dari Gunung Kurbin di Spanyol[2] <#_ftn2> dengan tiga buah meriam, dua di antaranya ialah Ki Gunturgeni, Ki Pamuk. Baron Sukmui kemudian menjadikan Dewi Anuranggang sebagai istri tercinta dan membawanya pulang ke Eropa. Di sanalah Anuranggang melahirkan seorang anak yang diberi nama Murjangkung. Murjangkung kemudian setelah dewasa merasa dirinya berbeda dengan masyarakat di sekelilingnya di Eropa dan ketika ia tahu bahwa ibunya adalah orang Jawa yang dulu disia-siakan oleh Sultan Jakarta dan Sultan Cirebon, Murjangkung kemudian berangkat ke Jakarta untuk membalas dendam sakit hati ibunya kepada Sultan Jakarta dan Sultan Cirebon.[3] <#_ftn3> Karena itulah ketika Belanda mulai menanamkan kekuasaannya di Batavia, rakyat menerimanya sebagai sesuatu yang wajar sebagai hukuman Sultan Jakarta atas perlakuannya kepada Dewi Anuranggang karena bagi orang Jawa Murjangkung tak lain adalah Jan Pietersz Coen: Gubemur Jenderal VOC yang pertama di Batavia. /Serat Baron Sakender/ memang sengaja diciptakan mengikuti alam pikiran orang Jawa pedesaan. Agar mereka ikhlas menerima kehadiran Belanda sebagai /takdir/, sebagai balasan atas kesewenang-wenangan rajanya yang menginjak-injak hak azasi manusia. Kalau kita melihat bagaimana /Sinrilik Kappala Tallumbatua/ diciptakan sebagai /Serat Baron Sakender/ yang dikarang untuk memberi pemahaman kepada rakyat pedesaan tentang kehadiran Belanda sebagai suatu kewajaran. Maka /Sinrilik Kappala Tallumbatua/ pun digubah sebagai suatu penjelasan moral kesejarahan kepada orang-orang Makassar agar mereka menerima kekalahan Kerajaan Gowa sebagai suatu kewajaran sejarah sebagai takdir (/taka dere/) atas kesewenangan-wenangan raja pada hak azasi manusia, sedang perbuatan Arung Palakka digambarkan sebagai seseorang yang tertimpa duka yang amat dalam, dan itu adalah /sare/ atau /were /(takdir). Namun demikian /sare/ atau /were/ masih bisa diperbaiki melalui upaya, usaha dan kerja keras. Karena itulah apapun yang dilakukan oleh Arung Palakka dalam menyejarah adalah bagian dan upayanya memperbaiki /were/ yang diterimanya, dan dijalaninya dengan tabah dan penuh kegigihan melalui apa yang disebut /Mattunru toto/. Bagi orang Aceh, persoalan yang dihadapi Teuku Umar dan masyarakat Aceh yang religius, dan fanatik dalam perang Aceh tidak dianggap sebagai perang karena persaingan ekonomi dan kontra kekuasaan antara Aceh dan Kolonial Belanda, melainkan /Sabilillah/ melawan Kafir. Bagaimanapun juga Belanda adalah Kaphe. Pertentangan ekonomi dan kontra kekuasaan serta berbagai faktor lainnya, adalah tema-tema yang larut dalam /Sabilillah/. Oleh karena itu, apapun yang dilakukan dalam proses sejarah tidak terlalu penting, sebab bagi masyarakat Aceh yang fanatik itu penilaian terakhirlah yang menentukan, /sahid/. Menghadapi perang expedisi penaklukan di berbagai pelosok negeri kita, expedisi kolonial ini melarutkan semua tema yang ada di seputar kedatangan Belanda dalam /siri?/ dan /sahid/ secara bersama. Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya perlawanan yang dilakukan di awal abad ke-20 di Sulawesi Selatan. Keperkasaan dan kegigihan itu disenandungkan dalam berbagai nyayian perang, /(elong osong)./

/Elong osong besse tangelo/,
/mata essona Bulo-bulo/,
/osonna I Mandavini Petta Mapute Isie, osonna I Patimbani Dg Maketti Arung Patimpeng/.
/Osong lai-lainna Sidenreng,/
/osong Bawi Mabbosanna Maniampajo,/ dll.

/Iya bela, iya pakkanna/
/e lakallolo, magi muonro/
/aga dega muissenngi makkedae/
/pitu anak dara mabaju eja tajekko ri pammasareng/
/Lesseko keloe ri tenggana jekangnge/ /natoliangao gajang /
/labetta massola-solae /
/Sola-sola mate/
/temmasola-sola mate /
/lebbini mate massola-solae/

Artinya :
Wahai sekalian,
seluruh pasukan perang hai anak muda,
mengapa tersendat maju apakah engkau tak tahu bahwa tujuh orang bidadari berbaju merah menunggumu di pusara
menghindarlah kalian dari tengah jalan
nanti tersenggol senjata si pemberani yang tak takut mati pemberani akan mati yang tidak beranipun juga akan mati
lebih baik mati sebagai pemberani

/He pakkannea/
/idina jowana La Jalante/
/teppallaisenngi lino pammasareng /
/Kegapi muelo mate /
/Jowa engkatona/
/ajjowareng angkatona /
/Temmate tuwoe /
/teilete ri manipi /
/tania kadona /
/He bela/ /sola-sola mate, temmasole-sole mate/
/lebbi I sia mate massola-solae /
/pitu gare wawinnena ri maje/ /mate massola-solae/
/Idi?na wijanna warani pitue /
/bawi mabbosanna Maniampajo /
/tedong tenrilasekna Anabbanua /
/assangirenna malelae/
/attabutturenna picunannge /

Artinya :
He prajurit pasukan perang kami inilah pasukan La Jalante yang tidak membedakan mati atau hidup Kapan lagi kita mau berkorban pengikut telah siap pemimpinpun telah siap Tak mati yang hidup tidak masuk hang lahat yang bukan suratannya He beta pemberani akan mati, yang tidak beranipun akan mati lebih terhormat mati sebagai pemberani Konon kelak disediakan tujuh istri bagi mereka yang mad sebagai pemberani Kitalah ini turunan pemberani yang tujuh Si Babi Gonrong dari Maniampajo Kerbau tak dikebiri dari Anakbanua tempat mengasah keris tempat tertumbuknya peluru[4] <#_ftn4> Senandung nyanyian-nyanyian perang /(Elong Asong)/ ini alunannya melampaui batas-batas wilayah, daerah atau kawasan etnik tertentu. Ketika nyanyian perang semacam ini disenandungkan pula pada tempat lain dan alunannyapun melampui batas wilayah, daerah dan kawasannya, bertautlah untaian liriknya mempersatukan irama zaman. Keadaan semacam inilah yang menautkan "memori kolektif" mereka. Memori kolektif inilah yang menjadi benih tumbuhnya satu kesadaran bersama yang melahirkan suatu tingkah laku kolektif yang ditemukan di mana-mana. Faktor-faktor inilah yang menjadi embrio bagi lahirnya satu /nation/ kelak di kemudian hari. Memperhatikan perjuangan Arung Palakka dalam menegakkan hak azasi manusia yang terinjak-injak ketika itu akibat diperlakukan sebagai budak di luar batas kemanusiaan /(ripoata pupu)/ dan memperoleh kesengsaraan dan perlakuan kasar sebagai pekerja paksa /(anrasarasangnge ri kaee)/ sebagai faktor utama keterlibatannya menyejarah. Tak dapat diragukan lagi tujuan perjuangan itu. Sebagai upaya mencari keseimbangan, dan merebut harga dirinya yang hilang. Persoalannya sekarang adalah sejauh mana perjuangan kemanusiaan yang dikorbankan Arung Palakka ketika itu mampu melampaui batas-batas wilayah, daerah dan kawasannya. Kemudian apakah tema perjuangan kemanusiaan Arung Palakka ketika itu mampu mengalahkan tema yang aktual di abad ke-17 sehingga tema perjuangan kemanusiaan itu dapat diterima secara universal oleh zamannya. Dengan demikian akan tampak bahwa masalah yang perlu mendapat perhatian bukan peristiwa atau kejadiannya, melainkan filsafat sejarahnya, yakni ide keterlibatan Arung Palakka dalam perang, bukan jalannya peperangan.

*Daftar Pustaka* *
Alfian, Ibrahim, Prof. Dr., 1987. / Perang di Jalan Allah 1873-1912. /Jakarta: Pustaka Sinar Harapan *
-------, 1992. /Sebuah Pembicaraan Mengenai Hikayat Perang Sabil/. Jakarta: Balai Pustaka. *
Daeng Patunru, Abdulrrazak dkk., 1981. /Sejarah Bone/. Ujung Pandang: Yayasan Kebudayaati Sulawesi Selatan. *
Duveger, Manrice, 1981. /Sosiologi Politik/. Jakarta: CV. Rajawali. *
Frederick, William H., 1984./ Pemahaman Sejarah Indonesia Sebelum dan Sesudah Revolusi./ Jakarta: LP3ES. *
Kartodirdjo, Sartono, 1983. /Elite Dalam Perpektif Sejarah/. Jakarta: LP3ES. *
-------, 1984. /Kepemimpinan Dalam Dimensi Sosial/. Jakarta: LP3ES. *
Keller, Susanne, 1989. /Penguasa dan Kelompok Elite. Peranan Elite Penentu Dalam Masyarakat Modern/. Jakarta: Rajawali. *
Nugroho, Ahmad, 1987. /Lahirnya Mutjangkung: Tinjauan Pupuh-Pupuh Awal/ /Serat Sekaber/. Yogyakarta, Fakultas Sastra UGM. *
Lontaraq Akkarungeng (Bone), 1985. Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan. *
Punagi, H. Andi Abubakar, 1986. /Transliterasi dan terjemahan Elong Ogi Hasil Sastra Tulisan Bugis/. Ujung Pandang: Proyek Penelitian dan pengkajian Kebudyaan Sulawesi Selatan. Lagaligo.
____________________________ Tulisan ini diambil dari buku yang berjudul /Dari Samudera Pasai ke Yogyakarta: Persembahan kepada Teuku Ibrahim Alfian. /Jakarta:/ /Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia, 1992.

*Mukhlis PaEni*, adalah Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film (NBSF) Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) Repubulik Indonesia.
------------------------------------------------------------------------
[1] Hikayat Perang Sabil/, Sastra Perang, T, Ibrahim Alfian, Balai Pustaka 1992. [2] <#_ftnref2> Spanyol di sini diartikan sebagai Eropa, tetapi yang dimaksud adalah Belanda. [3] <#_ftnref3> Ahmad Nugroho: /Lahirnya Murjangkung,/ Fakultas Sastra 1982. [4] <#_ftnref4> /Elong Ugi,/ Hasil Sastra Tulisan Bugis, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan, /Lagaligo/. 1986/1987.

-

Arsip Blog

Recent Posts