Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan

Satpol PP Sumedang Ciduk Lima Pasangan Mesum di Hotel Melati

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat menjaring lima pasangan bukan suami istri.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Notif, kelima pasangan mesum itu diamankan petugas saat sedang asyik bermesraan dan diduga sedang berbuat mesum di dalam kamar penginapan yang berlokasi di Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang pada Jumat, 20 November 2020 malam.

Selain itu, petugas Satpol PP pun menyita sebanyak 51 botol minumas keras berbagai merek yang didapati di empat warung yang berlokasi di kawasan Desa Ciherang, Kecamatan Sumedang Selatan, dan Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan.

Fungsional Satpol PP Sumedang, Winny Yusharrini mengatakan, lima pasangan ini tidak bisa menunjukan surat nikah dan didapati tengah asyik bermesraan di dalam kamar hotel.

“Kelima pasangan mesum ini diciduk di dua hotel melati yang berbeda. Mereka kedapatan berduaan di dalam kamar,” kata Yusharrini, kepada Notif via pesan digital, pada Sabtu, 21 November 2020.

Menurutnya, kelima pasangan bukan suami istri itu telah melanggar Perda Nomor 7 Tahun 2014 tentang penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat

“Mereka diamankan ke Kantor Satpol PP Sumedang. Setelah didata dan dimintai keterangan, dan dilakukan pembinaan, pelaku juga menandatangani surat pernyataan untuk tidak melakukan hal yang serupa,” tuturnya.
Ditambahkan dia, razia penyakit masyarakat akan terus digelar secara rutin guna menciptakan suasana aman dan kondusif di Kabupaten Sumedang.

“Razia yang sama akan rutin digelar guna menciptakan keamanan, ketertiban, serta menciptakan Sumedang terbebas dari maksiat dan peredaran barang haram,” kata dia.

Sumber: https://notif.id/2020/19435/news/kriminal/satpol-pp-sumedang-ciduk-lima-pasangan-mesum-di-hotel-melati/

Imaamul Muslimin Launching Buku Muslim Melayu Penemu Benua Autralia

Cileungsi, Jabar - Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur melaunching buku berjudul “Muslim Melayu Penemu Benua Australia: Potret Muslim Indonesia di Benua Kangguru” yang diterbitkan oleh MINA Publishing House, pada rangkaian acara Ta’lim Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah) di Masjid At-Taqwa, Pondok Pesantren Al-Fatah, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jum’at (19/5).

Imaam Yakhsyallah dalam sambutannya mengatakan bahwa buku Muslim Melayu Penemu Benua Australia sangat penting dan menarik untuk menambah khazanah keislaman. Imaam Yakhsyallah mengimbau umat Islam untuk membaca buku tersebut. “Ini buku sangat bagus untuk dibaca. Untuk itu, Imaam anjurkan umat Islam untuk membaca buku ini,” katanya.

Sementara itu, Dr. Chalidin Yacob, penulis buku mengatakan bahwa buku tersebut adalah hasil tesisnya. Ia mengaku bahwa buku tersebut ditulis bermula saat dirinya datang ke Australia pada tahun 1993 M. Saat itu, ia merasa ada yang hilang dari negeri Kangguru tersebut, yaitu tentang siapa penemu benua tersebut.

“Saya pertama kali datang ke Australia pada tahun 1993. Saat itu saya merasa ada yang hilang, yaitu siapa penemu benua ini. Kemudian barulah saya memulai meneliti hingga akhirnya menjadi sebuah buku ini,” kata Dr. Chalidin.

Dr. Chalidin menjelaskan bahwa muslim Melayu telah berada di negara Kangguru tersebut jauh sebelum kedatangan orang kulit putih dari Eropa yang dipimpin oleh Kapten James Cook pada tahun 1788 M.

“Pelaut dari Bugis – Makassar sudah datang ke Australia pada abad ke-16 dalam misi perdagangan mencari Teripang,” kata ulama asal Aceh ini yang telah menetap di Australia sudah lebih dari 23 tahun.

Lebih lanjut Dr. Chalidin mengatakan, dalam proses pencarian Teripang yang dijadikan sebagai obat, dibutuhkan waktu yang lama bisa sampai berbulan – bulan. “Pada masa inilah terjadi pernikahan antara pelaut (Muslim Melayu) dengan suku Aborogin,” kata anggota Dewan Imam Nasional Australia (ANIC) itu.

Dr. Chalidin mengungkapkan bahwa ketika muslim datang ke Australia, tidak ada satupun pertumpahan darah. Muslim, kata Dr. Chalidin, datang ke Australia adalah untuk perdagangan teripang.

“Kondisi ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang kulit putih, mereka melakukan kekerasan, mereka menumpahkan darah ketika mendarat di suatu pulau,” katanya.

Dr. Chalidin menjelaskan bahwa dari dua perbedaan itu, bisa diketahui dari respon masyarakat Australia sendiri. Menurut Dr. Chalidin, suku Aborigin yang merupakan warga asli Australia lebih percaya kepada muslim ketimbang orang kulit putih.

Rencananya, buku “Muslim Melayu Penemu Australia: Potret Muslim Indonesia di Benua Kangguru” yang diterbitkan dari karya ilmiah yang dipertahankan penulis dalam bidang pendidikan dan pemikiran Islam untuk meraih doktor di Universitas Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia pada 2009 lalu juga akan diterbitkan dalam Bahasa Inggris.

Buku itu sudah dibedah di berbagai universitas di Indonesia, seperti di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, UIN Mataram, Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), UIN Arraniry, Sekolah KB PII Insan Cendekia.

Selain menerbitkan buku tentang penemuan benua Australia, MINA Publishing House juga akan menerbitkan buku yang lainnya, yaitu Biografi Imaamul Muslimin Muhyiddin Hamidy yang juga akan dilaunching pada acara Talim Pusat Jamaah Muslimin (Hizbullah).

Satpol PP Ciamis Pergoki Siswi SD Kelas VI yang Sudah Jadi Pelacur

Ciamis – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Ciamis merazia ke beberapa hotel di wilayah Ciamis. Hasilnya pun sungguh mengagetkan. Ada siswi kelas VI salah satu SD di Ciamis didapati sedang berbuat asusila. Di dalam kamar itu, SA, 14, sendang bersama pria beinisial AP, 18.

Kasatpol PP Kabupaten Ciamis Zaenal Abidin menjelaskan, pihaknya menangkap tiga pasangan, termasuk SA. ”SA ditangkap di Hotel Sodara saat sedang bersama seorang lelaki berinisial AP. Dari tangan AP, kami sita juga diamankan botol miras,” terang Zaenal pada Rabu (27/4/2016).

Saat diperiksa di kantor Satpol PP Kabupaten Ciamis, pengakuan SA membuat petugas kaget. Dia menjelaskan bahwa dirinya terjun ke dunia prostitusi untuk memuaskan lelaki hidung belang.

SA mengungkapkan, dirinya sebeumnya tinggal bersama sang nenek di Pabuaran Ciamis. Namun, dia karena dicibir tetangga. Dia kerap diolok-olok sebagai anak jalanan.

Lalu, dia mengontrak di daerah Sukajadi, Sadananya, Ciamis, dengan anak jalanan lainnya. ”Kalau malam hari saya ikut ngamen di Ciamis kota sama teman-teman anak jalanan,” ucapnya.

Awalnya, dia dijual temannya kepada anak jalan lainnya. Untuk sekali kencan saat itu, dia mendapat Rp 50 ribu. ”Saya digilir tiga orang anak jalanan,” katanya.

Kini SA menyesal karena kabur dari rumah neneknya dan menjadi anak jalanan serta pelacur. Dia saat ini harus berurusan dengan aparat tengah. (Tita Yanuantari – harianindo.com)

Korupsi di Jabar, Potensi Kerugian Rp 230 Miliar

Bandung - Selama tahun 2007 di wilayah Jabar ditemukan 67 kasus dugaan korupsi. Kasus-kasus tersebut terjadi di 22 daerah di Jabar yang mengakibatkan potensi kerugian hingga lebih dari Rp 230 miliar.

Ke-67 kasus dugaan korupsi yang terjadi di Jabar selama tahun 2007 ini diungkapkan oleh West Java Corruption Watch (WJCW). Jumlah kasus dugaan korupsi yang belum diungkap diperkirakan lebih banyak lagi.

Koordinator WJCW, M Syafrudin, mengatakan kasus korupsi yang terjadi di Jabar ibarat fenomena gunung es. ”Yang dapat dipantau hanya puncaknya saja,” ujar Syafrudin di Bandung, Kamis (6/12).

Kasus dugaan korupsi yang belum terungkap atau terpantau diperkirakan masih cukup banyak. Disebutkan oleh Syafrudin, untuk mengungkap kasus-kasus dugaan korupsi ini bukan hal yang mudah. Penanganan kasus korupsi yang lamban dan setengah hati menjadi salah satu kendalanya. Padahal, kasus korupsi yang terjadi pola dan modusnya tidak pernah berubah dari tahun ke tahun.

Di antara kasus dugaan korupsi yang terpantau oleh WJCW, enam kasus di antaranya terjadi di Kabupaten Karawang dengan nilai kerugian sekitar Rp 1,6 miliar. Sedangkan dari potensi kerugian tertinggi adalah kasus yang terjadi di Kabupaten Cianjur sebanyak tiga kasus senilai Rp 24 miliar. Kasus korupsi lainnya yang berhasil dipantau terjadi di Bandung, Ciamis, Garut, Indramayu, Majalengka, Subang, Sukabumi hingga kasus korupsi di lingkungan Pemprov Jabar.

Yang menarik kasus korupsi yang terpantau itu beberapa pelakunya adalah pemegang kekuasaan politik setingkat kepala daerah. ”Adalah sebuah ironi di tengah-tengah era otonomi daerah,” timpal Syafrudin.

Menurut Syafrudin, dari berbagai kasus korupsi yang dilakukan elite politik, ternyata sulit untuk dituntaskan. Kalaupun dilakukan proses hukum, biasanya terkesan lamban. WJCW mendesak supaya KPK mengambil alih penuntasan kasus dugaan korupsi yang penanganannya terkesan lamban. Syafrudin khawatir jika kasus korupsi tak diselesaikan dengan serius, masyarakat menjadi semakin apatis dalam menyikapi kasus korupsi di daerah. (didit ernanto)

Sumber : SinarHarapan.com : 07 Desember 2007

Wali Kota Tasikmalaya Digugat Perdata oleh Terpidana

Tasikmalaya, Kompas - Wali Kota Tasikmalaya Bubun Bunyamin digugat secara perdata oleh terpidana kasus korupsi, Direktur Utama PT Mares Jaya Utama, Maman Abdurrochman, di Pengadilan Negeri Tasikmalaya, Kamis (8/11). Gugatan itu terkait dengan kontrak pembangunan Gedung DPRD Kota Tasikmalaya.

Perkara ini berhubungan erat dengan tindak pidana korupsi pembangunan Gedung DPRD yang didakwakan kepada Maman.

Di Pengadilan Negeri Tasikmalaya, Maman telah divonis bersalah dan dijatuhi hukuman empat tahun pada Agustus 2006. Saat ini kasusnya sedang dalam tahap kasasi.

Yang menjadi materi gugatan ialah sisa dana proyek yang belum dibayarkan dan perubahan bentuk kontrak. Maman sebagai penggugat menuntut agar kontrak awal dengan sistem lumsum disahkan dan menganulir harga unit (unit price) yang justru dipakai sebagai dasar dalam perkara pidana korupsi dan penghitungan kerugian negara.

Upaya mediasi yang ditawarkan hakim Rakhman Rajagukguk kepada pengugat yang diwakili Ahdar selaku pengacara dan tergugat yang diwakili Hery Sunaryo dari Kejaksaan Negeri Tasikmalaya sebagai pengacara negara, kemarin, tidak terwujud.

Rp 8,2 miliar

Ahdar mengatakan, PT Mares menandatangani kontrak pembangunan Gedung DPRD dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya pada 18 November 2003 dengan nilai proyek Rp 7,8 miliar. Pada 4 Februari 2004 ada perjanjian tambahan (addendum) sehingga nilai proyek menjadi Rp 8,2 miliar. Hasil pekerjaan yang sudah selesai kemudian diserahterimakan kepada pemerintah kota pada 15 Mei 2004.

Sementara pembayaran proyek, lanjut Ahdar, belum seluruhnya dilakukan. Pada 20 November 2003, pemerintah kota memberikan Rp 1,2 miliar kepada PT Mares sebagai uang muka. Kemudian, pada 18 Mei 2004 kembali dicairkan Rp 3 miliar dan pada 20 September 2004 dicairkan lagi Rp 325.500.000.

"Ketika mengajukan pencairan sisa dana yang belum dibayarkan, justru ditolak. Alasannya, perkara ini sedang dalam penyidikan polisi. Namun, belakangan polisi justru mendorong agar Maman mengajukan kembali pencairan dan berhasil. Akan tetapi, dari total uang yang diterima, Maman hanya menerima Rp 1,1 miliar. Sisanya sebanyak Rp 2,4 miliar justru disita dengan alasan merupakan kerugian negara akibat korupsi yang dilakukan oleh Maman," kata Ahdar.

Menurut Ahdar, anehnya nilai kerugian tersebut dihitung atas dasar kontrak pembangunan dalam bentuk harga unit, padahal sejak awal kontrak proyek ini dilakukan dengan sistem lumsum. "Pada September 2005, kontrak diganti dari lumsum menjadi unit price. Ini dilakukan jauh setelah hasil proyek diserahterimakan," tutur Ahdar. (adh)

Sumber : Kompas : 09 November 2007

Demi Membela Diri, Bupati Cirebon Kerahkan Ribuan Pegawai

TEMPO Interaktif, Cirebon:Ribuan pegawai negeri sipil (PNS), warga dan pengurus desa dikumpulkan Bupati Cirebon di Stadion Ranggajati, Sumber, Kabupaten Cirebon. Bupati bermaksud menjelaskan bahwa dirinya tidak bersalah dan tidak pernah melakukan korupsi.

Berdasarkan pantauan, ribuan massa tersebut sudah berkumpul sejak pukul 08.00 WIB di Stadion Ranggajati. Sekitar pukul 09.00 WIB, Bupati Cirebon, Dedi Supardi, pun berpidato dan menjelaskan bahwa dirinya difitnah.

"Saya difitnah dengan adanya laporan ke KPK dari lembaga swadaya masyarakat yang ada di Cirebon," tegasnya. Menurut Dedi, apa yang diungkapkan oleh LSM tersebut tidak benar, dan ia pun telah melaporkannya ke Polres Cirebon dengan alasan pencemaran nama baik.

Dedi mengungkapkan beberapa yang dituduhkan tersebut seperti penyimpangan pengadaan KTP gratis sebesar Rp 4,5 miliar adalah tidak benar. "Dari APBD Kabupaten Cirebon KTP gratis yang dianggarkan hanya sebesar Rp 400 juta," jelasnya.

Mengenai adanya 313 PNS yang meminjam dana dari dua bank dengan membuat dua SK (surat keputusan), menurut Dedi, mereka pun sudah mengusutnya dan 3 koordinatornya sudah dipecat dengan tidak hormat dari status PNS.

Selain itu, terkait penyimpangan rehabilitasi kantor Bupati sebesar Rp 5 miliar di tahun 2004 dan juga penyalahgunaan dana bencana alam sebesar Rp 5 miliar di tahun 2005, Dedi mengungkapkan bahwa semuanya sudah diaudit oleh badan terkait, termasuk BPK.

Kepala BKD (Badan Kepegawaian Daerah) Kabupaten Cirebon, Nur Riyaman Novianto, membenarkan jika BKD mengerahkan sekitar 12 ribu PNS yang ada di lingkungan Pemkab Cirebon untuk mengikuti dan mendengarkan pidato Bupati Cirebon di Stadion Ranggajati itu.

Menurut Riyaman, apa yang dilakukan Dedi Supardi merupakan antiklimaks sikapnya terhadap beredarnya isu-isu miring mengenai dirinya. "Ini merupakan antiklimaks. Sikap dari Bupati terhadap berbagai isu korupsi yang menimpa dirinya".

Berdasarkan pantauan, akibat aksi pengerahan PNS yang dilakukan Bupati, beberapa kantor terlihat lengang, seperti terlihat di Kantor Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon.

Iman, seorang staf di Kantor Kecamatan Talun membenarkan jika pegawai di lingkungan kecamatan diharuskan untuk mengikuti dan mendengarkan pidato Bupati Cirebon di Stadion Ranggajati. "Kami pun harus menurutinya. Hanya ada beberapa orang yang berjaga-jaga di sini," jelasnya.

Ketua GNPK, Dwi Sigit Arianto, membenarkan jika mereka sudah melaporkan dugaan tindak pidana korupsi yang dilakukan Bupati Cirebon, Dedi Supardi, ke KPK dan Mabes Polri. "Kami sudah melaporkannya," jelasnya. Menurutnya, saat ini masyarakat Cirebon tinggal menunggu tindak lanjut dari kedua lembaga hukum tersebut. Ivansyah

Sumber : TempoInteraktif.com : 08 November 2007

Waktunya Pencak Silat Jadi Warisan Budaya Dunia

Bandung, Jabar - Sudah waktunya seni tradisional pencak silat diakui badan dunia UNESCO sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia. Peran tokoh-tokoh pencak silat dari paguron maupun perkumpulan akan sangat menetukan segera terealisasinya pengajuan Pencak Silat sebagai warisan budaya tak benda dunia berasal dari Indonesia.

"Saat ini bukan perkara mudah untuk mendaftarkan kekayaan warisan budaya kita untuk mendapat pengakuan badan duni UNESCO. Selain harus melalui tahapan cukup panjang, sejak tahun 2012 Amerikan menghentikan bantuan ke UNESCO mengakibatkan pengajuan warisan budaya dunia diperketan menjadi dua tahun sekali dan setiap negara hanya diberi kesempatan mendaftarkan satu warisan budaya," ujar Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung, Toto Sucipto, Sabtu 22 Oktober 2016 pada acara "Ngadu Bako Penca" di Lobi Teater Tertutup Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat.

Toto mencontohkan pengajuan Kapal Pinisi yang dilakukan sejak tahun 2012 dan baru didaftarkan tahun 2014, ternyata tahun United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization tahun 2015 tidak meloloskan. "UNESCO baru akan melaksanakan rapat tahun 2017 mendatang, diharapkan untuk Kapal Pinisi mendapat pengakuan dan tahun 2017 Pencak Silat sudah dijajaki persyaratan administrasinya agar tahun 2019 mendapat pengakuan (UNESCO)," ujar Toto.

Sementara Ketua Tim Kerja Pencak Silat Menuju Unesco, Wahdat Mardi Yuana, upaya mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia tidak semudah sebagaimana yang selama ini terus disuarakan oleh pemerintah, tokoh pencak silat dan masyarakat. "Selama ini masyarakat merasa khawatir akan klaim negera Malaysia terhadap seni budaya tradisional asal Indonesia, tapi mereka tidak tahu bagaimana upaya yang harus dilakukan, seperti untuk pencak silat , butuh dukungan semua pihak," ujar Wahdat.

Selain dari pemerintah, menurut Wahdat, sudah saatnya semua tokoh pencak silat memberikan bantuan, sumbang saran pemikiran serta informasi. Penguatan data tentang semua hal berkaitan dengan pencak silat akan dijadikan bahan rujukan yang medukung proses kelengkapan administrasi.

Pada "Ngadu Bako Penca", 100 orang tokok pencak silat sejumlah aliran pencak silat dari sejumlah paguron pencak silat yang hadir sepakat untuk bersama memberikan dukungan. Bahkan semua hal tentang pencak diupayakan sebelum pertengahan tahun 2017 sudah dapat dikumpulkan dan dijadikan sumber acuan data.

"Harus, tahun 2017 pencak silat sudah harusdilengkapi semua data tentang pencak silat. Kita harus mendukung pengakuan pencak silat sebagai budaya Indonesia oleh masyarakat dunia," ujar Kusnadi (92) tokoh pencak silat Panglipur Kota Cimahi, menegaskan.

Festival Tjimanoek, Ajang Menggaet Wisatawan

Indramayu, Jabar - Budaya dan produk unggulan Kabupaten Indramayu disajikan kepada khalayak dalam Festival Tjimanoek tahun 2016 ini. Pergelaran yang dipastikan menjadi agenda tahunan ini diyakini dapat mengungkit jumlah wisatawan ke daerah di pantai utara Jawa Barat itu.

Festival yang dilaksanakan di ”kota mangga” itu diselenggarakan terkait dengan Hari Jadi Ke-489 Kabupaten Indramayu.

Salah satu rangkaian Festival Tjimanoek yang mengangkat seni budaya daerah adalah pawai 1.000 gadis ngarot. Pawai yang identik dengan gadis berkebaya, mengenakan riasan, serta bermahkota bunga itu disambut antusias ribuan wisatawan lokal dan luar Indramayu, Minggu (9/10/2016).

Pengunjung yang kebanyakan datang bersama keluarga memadati jalan protokol Indramayu sejak pagi hingga siang hari. Mereka berebut tempat ternyaman untuk menangkap wajah ayu gadis ngarot. Tak sedikit wisatawan yang harus memanjat pagar demi memotret pawai itu. Kemacetan lalu lintas pun sempat terjadi.

”Upacara ngarot sekarang lebih meriah. Banyak orang luar Indramayu yang datang. Dulu, 1980-an, ngarot tidak seramai ini,” ujar Sri Indah (65), warga Indramayu yang datang bersama anak dan dua cucunya.

Upacara ngarot yang ditandai penaburan benih padi oleh perempuan ke sawah merupakan tradisi asal daerah Lelea, Indramayu, sejak abad ke-16 Masehi.

Namun, dua tahun terakhir dalam perayaan Hari Jadi Indramayu, tradisi yang diikuti oleh pelajar dari sejumlah desa di Indramayu tersebut disajikan di pusat kota.

”Begini cara kami memberitahu kepada wisatawan tentang potensi Indramayu dalam seni budaya,” ujar Bupati Indramayu Anna Sophanah di sela-sela pawai 1.000 gadis ngarot. Seni budaya khas Indramayu, lanjut Anna, menjadi modal menarik wisatawan.

Dibandingkan tahun lalu, menurut Anna, festival kali ini lebih meriah karena diikuti delapan kabupaten dan kota, antara lain Kota Bogor dan Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Daerah-daerah itu juga menampilkan seni budaya khas masing-masing.

”Mereka tertarik dengan potensi Indramayu dan ingin ikut berpartisipasi,” ujarnya.

”Pawai ngarot ini sebagai tanda untuk mengharapkan Indramayu dalam kondisi subur. Makanya, ada 1.000 gadis. Festival Tjimanoek ini bukan tanpa makna,” tambah Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Indramayu Odang Kusmayadi.

Gedong gincu

Selain arak-arakan 1.000 gadis ngarot, sekitar 3 ton mangga gedong gincu, komoditas unggulan Indramayu, juga dibagikan kepada wisatawan.

Mangga-mangga itu dipikul ratusan pemuda yang mengikuti pawai. Ini untuk memperkenalkan mangga gedong gincu sebagai produk unggulan. Tahun 2015, produksi mangga gedong gincu di Indramayu lebih dari 71 ton.

Menurut Odang, sejak pertama kali Festival Tjimanoek mulai diselenggarakan tahun 2015, jumlah wisatawan yang datang ke Indramayu semakin meningkat. Festival yang digelar dua pekan lebih itu dinilai dapat membuat wisatawan tinggal lebih lama di Indramayu.

Berdasarkan data statistik daerah Indramayu, pada 2014 tingkat hunian hotel mencapai 71 persen. Jumlah ini meningkat dibandingkan 2012 yang hanya 67 persen.

”Dalam catatan kami, tahun 2015 wisatawan mencapai sekitar 500.000 orang. Tiga tahun sebelumnya hanya berkisar 200.000 wisatawan,” ujar Odang.

Angka itu memang masih lebih rendah dibandingkan dengan kunjungan wisatawan ke Kota Cirebon yang lebih dari 600.000 orang pada tahun 2015, dan ke Kabupaten Kuningan yang mampu mencapai lebih dari 1 juta wisatawan pada tahun yang sama.

Odang menyebutkan, lokasi Indramayu tidak strategis karena sekadar dilalui pengendara. Apalagi, beroperasinya Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) membuat pengendara tidak lagi melintasi jalur pantura.

Padahal, Indramayu yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan menggunakan mobil dari Ibu Kota Jakarta memiliki kekayaan seni budaya seperti upacara mapag sri untuk menyambut musim panen dan nadran, upacara sedekah di laut oleh nelayan.

Selain itu, wisata alam juga tersedia, seperti Pulau Biawak, wisata mangrove Karangsong, dan Pantai Tirtamaya yang menjadi salah satu arena PON Jabar 2016.

Agenda tahunan

Odang menegaskan, Festival Tjimanoek akan menjadi agenda tahunan dan program unggulan Indramayu dalam menarik wisatawan.

”Selanjutnya, kami akan lebih gencar mempromosikan ini untuk menarik minat wisatawan mancanegara,” ujar Odang, yang mengakui minimnya wisatawan mancanegara berkunjung ke Indramayu.

Karena itu, pihaknya berupaya menambah rangkaian acara yang menjadi ciri khas Indramayu.

Selain pawai ngarot, Festival Tjimanoek juga berisi antara lain kirab dan pameran pusaka peninggalan Raden Arya Wiralodra, pendiri Indramayu, serta parade wayang dolanan. Pusaka berumur ratusan tahun itu hanya dipamerkan dan diarak setahun sekali, yakni saat ulang tahun Indramayu.

Festival Tjimanoek juga menjadi ajang untuk mendekatkan masyarakat setempat dengan Sungai Cimanuk yang membelah pusat kota Indramayu sebagai daerah hilir sungai. Di Taman Sungai Tjimanoek, misalnya, dilaksanakan festival kali bersih. Sejumlah kegiatan lain juga digelar di sekitar sungai.

Menurut Yohanto A Nugraha dari Dewan Kesenian Indramayu, seni budaya Indramayu seharusnya tidak hanya ditampilkan secara momentum, tetapi juga diajarkan kepada generasi muda Indramayu.

”Perayaan Hari Jadi Indramayu sudah dimulai tahun 1977. Namun, setiap tahun selalu sama, sajian seni budaya hanya instan,” ujarnya.

Seren Tahun Sedekah Bumi, Tradisi Budaya yang Dipertahankan Kampung Girijaya

Girijaya, Jabar - Seren tahun sedekah bumi adalah upacara adat sebagai syukuran masyarakat agraris khas masyarakat Sunda yang dilakukan tiap tahun. Upacara tersebut berlangsung khidmat dan semarak di berbagai desa adat Sunda. Ribuan masyarakat sekitar dan bahkan dari beberapa daerah di Jawa Barat turut dalam kemeriahannya.

Acara sidekah bumi juga digelar di Kampung Girijaya Desa Girijaya Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, berlangsung selama dua hari pada hari Kamis dan Jumat (6-7/10/2016) atau 10 Muharam 1438 Hijriah, yang dihadiri ribuan warga setempat dan dari luar diantaranya Tangerang, Serang Banten, Lebak, Pandeglang, Karawang, Cikarang, Bekasi, Bogor, Sukabumi dan daerah di Jawa Barat lainnya.

Menurut kang Mardi yang saat ini menjadi generasi penerus melestarikan budaya adat yang sebelumnya sudah ada, makna sidekah bumi sendiri adalah syukuran dan wujud dari rasa terima kasih dan menghargai bumi alam agar selalu dalam keberkahan.

“Selain tempat kita berpijak, bumi juga adalah tempat kita pulang. Asal ti bumi balik ka bumi,” kata kang Mardi yang merupakan putra bungsu Bapak RD Neneng Ruyat (alm) ketua sesepuh padepokan Girijaya.

Dalam acara tersebut digelar berbagai kesenian diantaranya pementasan wayang golek, pencak silat, debus, dan kesenian lainnya. Dan acara puncaknya upacara adat budaya, yakni sidekah bumi yaitu membawa gotongan dongdang atau jampana, yang di isi berbagai hasil bumi.

“Saya hanya meneruskan dan melestarikan tradisi budaya, Penerus budaya adat kebiasaan peninggalan karuhun yang sudah ada sebelumnya,” ujarnya.

Warga Putridalem Lakukan Sedekah Bumi Sambut Masa Tanam

Jatitujuh, Jabar - Adat istiadat yang menjadi ciri kebudayaan dan kearifan lokal di Majalengka jumlah dan jenisnya beraneka ragam. Salah satunya dalam hal yang berhubungan dengan mata pencaharian sehari-hari yakni bertani.

Kalau pada masa panen ada yang dinamakan upacara Mapag Sri, maka untuk masa tanam padi biasanya petani menggelar upacara sedekah bumi. Seperti yang dilakukan petani dan pemerintah Desa Putridalem kecamatan Jatitujuh, kemarin.

Kades Putridalem Toto Suharto mengatakan, tujuan upacara sedekah bumi agar keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat menyertai seluruh warga desanya. Tujuan lainnya adalah untuk “menyedekahi” sawah, agar hasil pertanian melimpah dan tidak terkena hama pada musim tanam pertama ini.

“Tradisi yang sudah turun temurun ini wujud rasa syukur sekaligus permohonan kepada tuhan, dengan berdoa bersama mengharapkan yang terbaik untuk hasil tanam dan panen nanti. Upacara digelar di jalan perempatan desa dipimpin tokoh agama dan adat desa, dan semua warga antusias hadir,” ujar Toto kepada Radar, Kamis (6/10).

Upacara tersebut juga mencerminkan sifat gotong-royong masyarakat desa yang masih kuat. Mereka dengan ikhlas menyisihkan rezeki sekadar membuat dan membawa sejumlah hidangan, untuk disantap bersama seusai upacara. Tidak ada jarak yang memisahkan baik miskin, kaya, tua, dan muda. Semua larut dalam kebersamaan.

“Ada yang membawa nasi tumpeng beserta lauk pauknya, nasi kuning, sayuran, buah-buahan dan lainnya. Seusai upacara biasanya kita berkumpul untuk mendiskusikan kembali mengenai pemilihan bibit padi, irigasi maupun obat-obat pertanian. Jadi tak sekadar seremonial, tapi ada unsur diskusi mengenai yang terbaik untuk mereka sendiri,” tuturnya.

Nurhaeni (55) warga desa setempat menambahkan, yang dia tahu upacara tersebut sudah dilaksanakan sejak dulu. Ketika dirinya masih kecil dan diajak kakeknya untuk datang di upacara itu. Bahkan tiap tahun dirinya tidak ketinggalan mengikuti dan mengajak anaknya, agar budaya tersebut bisa diturunkan ke generasi selanjutnya.

“Sebagian besar warga disini kan petani, yang berharap agar lahan pertanian yang kita garap senantiasa subur dan memberikan hasil yang melimpah. Oleh karena itu, dirasa perlu mengadakan upacara adat ini. Bumi tidak lain adalah tanah, tempat mereka melangsungkan hidup dan kehidupannya melalui aktivitas pertanian. Bagaimanapun juga aktivitas pertanian memerlukan tanah yang subur,” tandasnya.

Hal yang sama juga dilakukan puluhan warga di blok Dukuh Maja RW 01 Desa Weragati Kecamatan Palasah, namun di Weragati namanya disebut bongkar bumi. Agenda tersebut digelar di lapangan balai Dusun Dukuh Maja. Warga antusias membawa berbagai jenis makanan lalu disantap bersama di lapangan terbuka dengan alas terpal untuk menjemur padi.

Kepala Desa Weragati, Drs Askari mengatakan acara bongkarar bumi di blok Dukuh Maja merupakan tradisi yang setiap tahun diilaksanakan. “Setiap akan tanam padi, warga blok Dukuh Maja menggelar bongkar bumi yang diisi doa bersama dan makan bersama warga setempat.

“Warga menggelar tradisii bongkar bumi dengan sederhana, cukup membawa makanan dari rumah masing-masing dan dinikmati bersama-sama di lapangan terbuka. Tidak ada pentas hiburan atau apapun dalam tradisi masyarakat, kecuali tahlil dan doa bersama,” kata Askari didampingi Kadus Dukuh Maja, Kalim.

Dirinya mengingatkan tradisi bongkar bumi merupakan budaya masyarakat dan bukan anjuran atau berdasar syariat agama Islam. Harapannya proses tanam hingga panen berjalan lancar dan menghasilkan produksi pertanian yang baik.

“Baik tidakhya hasil pertanian nanti bukan karena tradisi bongkar bumi, tapi bagaimana proses pengolahan pertanian yang baik disertai doa kita kepada Allah,” beber Askari.

1000 Gadis bertradisi ‘Ngarot’ Ramaikan Hari Jadi Indramayu 2016

Indramayu, Jabar - 1.000-an gadis cantik berpakaian adat tradisional ‘Ngarot’ warisan leluhur akan tampil dalam peringatan Hari Jadi ke-490 Indramayu, yang jatuh pada tanggal 7 Oktober 2016. Tradisi ‘Ngarot’ masih dipertahankan di Kecamatan Lelea dan Cikedung.

Pada peringatan Hari Jadi Indramayu ke-490 itu ribuan gadis cantik dari Kecamatan Lelea dan sekitarnya berdandan bagaikan bidadari.

Mengenakan kain dan kebaya lengkap dengan selendang serta hiasan bunga-bunga di kepala layaknya gadis-gadis desa di Kecamatan Lelea dan Cikedung yang tengah melaksanakan upacara adat ‘Ngarot’.

“Upacara adat ‘Ngarot’ merupakan salah satu upacara adat yang dilakukan turun temuruan sejak zaman nenek moyang. Kegiatan itu melibatkan pemuda-pemudi desa, Tokoh Masyarakat serta Perangkat Desa sebagai simbol semangat pemuda-pemudi desa sebelum terjun ke sawah mengolah tanah dan menanam padi,” kata Kepala Desa atau Kuwu Desa Lelea, Raidi, Selasa (13/9)

Tradisi ‘Ngarot’ itu mampu bertahan ratusan tahun silam dan berlanjut hingga saat ini. “Tradisi Ngarot itu garis besarnya merupakan kegiatan para pemuda-pemudi yang akan mengawali pengolahan tanah menjelang musim tanam padi. Dalam ritual puncaknya, mereka menerima pemberian bibit padi, air dan cangkul dari Pemerintah Desa Lelea sebagai bekal bercocok tanam,” katanya.

“Sudah ratusan tahun, tradisi Ngarot itu bertahan. Tradisi Ngarot berhasil mengantarkan Indramayu sebagai daerah agraris yang menjadi Lumbung Padi Nasional.

Berkat semangat dan jiwa kegotongroyongan yang ditunjukkan masyarakat khususnya pemuda-pemudi maka hasil pertanian yang dikembangkan para petani berhasil membawa kemakmuran bagi masyarakat,” kata Carman, 65 warga Desa Lelea.

Kabupaten Indramayu memiliki luas sawah sekitar 110.000 hektar. Setiap tahun daerah ini surplus beras kurang lebih 500 ribu ton. Produksi padi setiap tahun terus bertambah, berkat tingginya semangat dan gotong-royong masyarakat dalam melaksanakan Pancausaha Tani yang salah satunya dikembangkan masyarakat Kecamatan Lelea melalui tradisi budaya “Ngarot”.

4 Event Seni dan Budaya Berskala Nasional akan Digelar di Ciamis

Ciamis, Jabar - Pemkab Ciamis mulai tahun 2017 mendatang akan menggelar 4 event seni dan budaya berskala nasional. Event itu pun sudah mendapat dukungan dari Kementerian Parawisata dan Ekonomi Kreatif serta masuk dalam agenda parawisata nasional yang bertajuk ‘Pesona Indonesia’.

Tujuan digelarnya event tersebut, tak lain ingin menegaskan bahwa Kabupaten Ciamis memiliki segudang seni dan budaya yang layak dijual serta sebagai icon parawisatanya.

Kabid Ekonomi Kreatif Dinas Parawisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Ciamis, Budi Kurnia, mengatakan, 4 event seni dan budaya yang akan digelar tersebut, diantaranya Festival Bebegig, Pesona Galuh Nageri, Jayagiri Festival dan Wisata Religi di Pesantren Sinarasa Panjalu.

Budi menjelaskan, pada acara Festival Bebegig, tak hanya menampilkan kesenian Bebegig asal Kecamatan Sukamantri saja, tetapi juga akan mengundang sejumlah kesenian topeng dari berbagai daerah di Indonesia. “Kami namai Festival Bebegig memang ada misi untuk lebih memperkenalkan kesenian bebegig supaya lebih dikenal secara luas,” ujarnya.

Budi menambahkan, karena kesenian bebegig merupakan seni tari topeng, maka perlu diundang kesenian serupa dari daerah lain untuk ikut menyemarakan acara tersebut. “Nanti akan kami undang kesenian Ondol-ondel, Reog Ponorogo, Topeng Ireng, Tari Topeng Cirebon dan kesenian topeng lainnya yang ada di Indonesia,” katanya, kepada Koran HR, pekan lalu.

Sementara event Pesona Galuh Nageri, kata Budi, merupakan acara untuk membangkitkan semangat kegaluhan dengan menampilkan seni dan budaya Kerajaan Galuh.

“Pada event Pesona Galuh Nageri tahun 2017, kita akan menggelar Kirab Pusaka Galuh. Dalam acara itu nanti akan dikumpulkan seluruh budayawan dan kolektor yang memiliki benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Galuh. Hal itu agar masyarakat Ciamis dapat mengenal kekayaan sejarah dan budaya Kerajaan Galuh,” terangnya.

Menurut Budi, Fesvital Bebegig dan Pesona Galuh Nageri, rencananya akan digelar pada perayaan Hari Jadi Kabupaten Ciamis tahun 2017. Dua event itu, lanjut dia, kedepannya akan menjadi agenda rutin yang digelar pada setiap tahun.

“Dua event itu pun sudah dimasukan ke dalam agenda rutin program promosi wisata budaya nasional di Kementerian Parawisata. Jadi, meski digelar di Ciamis, tetapi acaranya berskala nasional,” katanya.

Budi mengatakan, dua event tersebut pada setiap tahunnya akan berubah-ubah temanya. Namun, tema yang akan diangkat, tetap menampilkan seni dan budaya asli Kabupaten Ciamis. “Tahun 2017 kami mengangkat tema Festival Bebegig. Sementara tahun berikutnya temanya akan diubah, misalnya, Festival Ronggeng atau kesenian lainnya yang ada di Kabupaten Ciamis,” ujarnya.

Sedangkan Jayagiri Festival dan Wisata Religi di Pesantren Sinarasa Panjalu, lanjut Budi, rencananya akan digelar saat menyambut bulan Suci Ramadhan tahun 2017 mendatang. “Karena dua acara itu sudah rutin digelar setiap menyambut bulan ramadhan. Tapi, setelah dua event itu masuk ke dalam agenda wisata budaya, acaranya akan lebih disemarakan,” katanya.

Budi menjelaskan, konten acara Jayagiri Festival, mengangkat budaya masyarakat di Kecamatan Panumbangan. Di daerah Jayagiri Panumbangan, tambah dia, terdapat sebuah budaya warisan masa lalu yang hingga kini masih dilestarikan.

“Setiap menyambut bulan puasa, di daerah Jayagiri selalu digelar acara ngubyag (tangkap ikan) di sebuah kolam yang berada di kaki gunung sawal. Selain ngubyag, digelar juga acara seni dan budaya lainnya, seperti pertunjukan angklung buncis, tari reog dan kesenian lainnya yang merupakan kesenian khas daerah tersebut.

“Namun, puncak acara dari acara tersebut, yakni ngubyag di kolam. Makanya, acara yang akan lebih diangkat pada festival ini adalah acara ngubyagnya,” katanya.

Sedangkan Wisata Religi di Pesantren Sinarasa Panjalu, terang Budi, terdapat sejumlah acara keagamaan yang sudah menjadi budaya turun temurun di daerah tersebut. “Setiap menyambut bulan puasa, di pesantren ini digelar acara rutin yang mengundang ribuan jemaah dari berbagai daerah. Acara itu pun sudah menjadi budaya dan memiliki sejarah dalam perkembangan islam di daerah tersebut,” ungkapnya.

Budi mengatakan, adanya dukungan dari Kementerian Parawisata yang memasukan 4 event budaya asal Kabupaten Ciamis ke dalam agenda parawisata nasional, merupakan peluang untuk menggali potensi wisata budaya.

“Kekayaan budaya di Ciamis ini luar biasa. Karena Ciamis memiliki akar budaya yang kuat dari Kerajaan Galuh. Kabupaten Purwakarta saja yang tidak memiliki akar budaya masa lalu bisa mengubah icon daerahnya menjadi kota budaya. Masa Kabupaten Ciamis yang memiliki akar budaya jelas kalah oleh Purwakarta,” tegasnya.

Babarit Syukuran Hasil Panen; Ribuan Warga Berebut Nasi Tumpeng

Kuningan, Jabar - Menyambut Hari Jadi Kota Kuningan yang ke-518 Pemkab Kuningan menggelar acara seni tradisi Babarit. Kegiatan turun-temurun pada masyarakat suku Sunda ini sebagai upaya mensyukuri berlimpahan hasil kekayaan alam.

Kegiatan Babarit (Ngabuburak Wewerit) ini berlangsung pada jam 08.00 WIB, di depan Pendopo Kuningan. Tampak hadir Bupati Kuningan H Acep Purnama, Sekda Yosep Setiawan, Forum Koordinasi pimpinan daerah para Kepala SKPD serta ribuan masyarakat yang kebetulan sedang menikmati Car Free Day.

Dari pantauan Radar Kuningan, acara Babarit dimulai dengan pembacaan Sinopsi sambil diiringi musik gending dan kacapai suling. Kemudian sasajen dan dipasang di depan tumpeng raksasa. Selanjutnya, ritual membawa air air, tumpeng atau nasi kuning dari empat penjuru mazhab atau penjuru arah. Lalu, empat mata itu disatukan. Ke empat mat air itu pertama dari air dari arah barat (Mata Air Cisuriam), air dari timur (air dari Indrakila).

Kemudian, air dari arah utara dari Cikahuripan Kahyangan Indraprahasta) dan terakhir dari selatan air yang diambil dari Balong Kabuyutan Selajambe) itu disatukan oleh bupati selaku pupuhu papayung agung Kuningan. Setelah disatukan maka air itu dengan menggunakan media bunga bupati menyipratkan ke empat arah. Dilanjutkan dengan pemberian tumpeng kepada sesepuh Kuningan yang dalam hal ini adalah Ketua PHBM Kuningan Maman Suherman.

Usai acara ritual bupati dan tamu kembali ke tempat semula. Kemudian, acara dilanjutkan dengan tarian yang dibawakan oleh gadis cantik. Mereka terus menari dengan diiringi lima lagu wajib yang harus dilakukan dalam kegiatan babarit. Ke lima lagu tersebut adalah Sang Golewang, Tunggul Kawung, Bujang Anom, Goyong-Goyong Dan Raja Pulang. Setelah itu, dilanjutkan dengan tari kolosal yang melibatkan para pejabat dengan masing-masing istri. Bupati juga tampak meningikuti kegiatan tari kolosal ini. Sebelumnya dilakukan penilai ke nasi tumpeng yang dibuat tiap SKPD.

Usai semua rangkaiakn beres, acara selanjutnya makan nasi tumpeng. Pada saat belum dimulai, ribuan warga langsung menyerbu nasi tumpeng. Mereka membawa kantung kresek dan juga wadah lainnya. Bahkan, nyiru (tampah) yang merupa wadah nasi tumbeng diambil warga untuk memburu makanan berkah yang ada di pinggir tumpeng tersebut. Aksi saling rembut nasi dan lauk pauknya menjadi pemandangan yang sangat lucu. Tidak sedikit yang terus menerus saling tarik untuk mempereputkan makanan.

Tampak warga suka cita dengan kegiatan ini. Bagi mereka selain bisa menyaksikan seni tradisi juga mereka bisa menikmati nasi tumpeng raksasa. Sekadar informasi Babarit Kuningan merupakan kegiatan ritual masyarakat Sunda sebagai wujud rasa syukur kepad Allah SWT atas keberhasilan yang diperoleh. Dengan panen melimpah dan masyarakat sejahtera. Disebutkan bahwa kegiatan babarit merupakan upaya mengangkat kearifan lokal dari pagelaran budaya ini banyak hikmah yang bisa diambil.

Babarit menjadi sarana syukuran terhadap limpahan kekayaan alam yang dimiliki Kabupaten Kuningan sekaligus memperingati hari jadi Kabupaten Kuningan yang ke 518. Dengan adanya acara babarit ini, diharapkan masyarakat kabupaten kuningan menjadi masyarakat yang maju dan sejahtera serta terhindar dari berbagai musibah.

“Dengan adanya acara babarit ini menandakan bahwa masyarakat Kuningan adalah warga yang pandai bersyukur atas karunia Allah SWT,” ungkap bupati.

Menurut Acep budaya babarit harus terus dilestarikan karena merupakan salah satu aset budaya yang memiliki nilai-nilai budaya adat-istiadat masyarakat yang cukup tinggi serta merupakan penghargaan pada leluhur setempat. “Seperti kata pepatah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, sehingga dapat dikatakan acara babarit merupakan implementasinya,” jelas A cep yang didampingi Kadisparbud Kuningan Teddy Suminar.

300 Seni Tradisional Jabar Terancam Punah

Karawang, Jabar - Sebanyak 300 jenis seni tradisional yang berasal dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat terancam punah menyusul minimnya generasi penerus yang menekuni bidan dan kesenian tesebut.

"Harus kita akui 300 seni di Jabar sangat memprihatinkan dengan jarangnya generasi penerus," kata Kepala Balai Pengembangan Bahasa Daerah dan Kesenian Dinas Pendidikan Jabar, Husen Rahadian Hasan, usai menghadiri Helaran Seni Tradisional di Karawang, Kamis (25/8).

Ia mengatakan, terancamnya 300 jenis seni di berbagai daerah sekitar Jawa Barat itu sesuai dengan hasil peneilitian salah seorang profesor di Jawa Barat. Menurut dia, pasifnya generasi muda terhadap seni tradisional dipastikan akan mempercepat lenyapnya kesenian khas Jawa Barat.

"Kalau untuk saat ini belum ada catatan adanya kesenian yang sudah hilang di Jawa Barat. Jadi sifatnya baru ancaman hilang," kata dia.

Sementara itu, salah satu upaya menjaga seni dan budaya tradisional khas Jawa Barat, maka perlu dilakukan gelaran kesenian tradisional di seluruh kabupaten/kota secara rutin.

Gelaran tersebut dilakukan dengan mengajak sekolah di seluruh Jawa Barat untuk unjuk pentas kesenian tradisional. "Pada tahun ini, helaran kesenian digelar di 16 kabupaten/kota se-Jawa Barat. Selanjutnya pada tahun 2017 kita akan ada akan menggelar helaran kesenian di 27 kabupaten/kota," kata dia.

Selain itu, Balai Pengembangan Bahasa Daerah dan Kesenian Dinas Pendidikan Jabar juga berencana melakukan pembukuan bahasa daerah Jawa Barat. Untuk sementara ini sudah ada dua bahasa yang sudah dibukukan menjadi kamus, yakni Bahasa Sunda, Bahasa Cirebonan dan selanjutnya pihaknya akan menggarap kamus untuk Bahasa Melayu-Betawi.

Hal tersebut dilakukan, karena masyarakat kabupaten/kota di Jawa Barat tidak hanya menggunakan Bahasa Sunda atau Cirebonan. Ada pula kabupaten/kota yang menggunakan Bahasa Melayu-Betawi, seperti di daerah Depok dan Bekasi.

Mari Lestarikan Tembang Sunda Cianjuran!

Bandung, Jabar - Minat generasi muda terhadap seni budaya tradisional belum diimbangi program pemerintah daerah. Permasalahan klasik pendanaan menjadi alasan upaya pembinaan generasi muda dalam menggeluti seni budaya tradisional.

Hal itu diungkapkan seorang sesepuh Daya Mahasiswa Sunda (Damas) Kota Bandung Herry Wijaya, pada sosialisasi Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran Damas 2016 dan Istrenan Pangurus XXXV Damas, di Gedung YPK, akhir pekan lalu.

Kegiatan seni Tembang Sunda Cianjuran menurut Herry, menjadi salah satu kesenian yang minim perhatian dari pemerintah daerah. “Hampir di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat ini ada pelaku seni Tembang Cianjuran. Namun, dalam hal pasanggiri atau festival mereka sangat berharap banyak dari kegiatan yang dilakukan oleh lembaga atau kelompok independen nonpemerintah seperti halnya Damas,” ujar Herry.

Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran merupakan agenda rutin yang dilaksanakan Damas setiap 2 atau 3 tahun sekali sejak 1962. PTSC tahun ini yang merupakan penyelenggaraan yang ke-21 akan digelar pada 5-8 Oktober 2016, di Gedung Sabilulungan Kabupaten Bandung.

PTSC Damas 2016 akan diikuti lebih dari 100 orang juru tembang dari 27 kabupaten dan kota di Jabar. Adapun tembang yang lombakan atau dipasanggarikan untuk katagori pria berupa tembang, “Rajamantri”, “Jemplang”, “Panganten”, dan “Dangdanggula Degung”. Sedangkan untuk katagori wanita tembang, “Sebrakan Sapuratina”, “Kuring Leungiteun”, “Kaléon”, “Jemplang Pamirig”.

“Pasanggiri (PTSC Damas) merupakan media evaluasi juga silaturahmi para seniman sehingga harus terus diselenggarakan. Kami berharap insan tembang Sunda dapat memahami dan menerapkan nilai-nilai estetis tembang Sunda dalam kehidupan,” ujar salah seorang tokoh tembang Cianjuran, Yus Wiradiredja.

Wakil Wali Kota Banjar Korupsi Anggaran

Ciamis – Pengadilan Negeri Ciamis menghukum dua tahun penjara Wakil Wali Kota Banjar Ahmad Dimyati karena terbukti korupsi anggaran. Hukuman setimpal juga diberikan kepada anggota DPRD Ciamis Muhammad Taufik.

Putusan sidang dibacakan hakim Saparudin Hasibuan. "Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut," kata Hasibuan.

Mendengar putusan itu, kedua terdakwa menyatakan pikir-pikir untuk melakuan banding. Namun, jaksa penuntut Eman Sungkawa langsung menyergah banding. Putusan hakim dianggap terlalu ringan. Tuntutan jaksa, kata Ernam, 6 tahun penjara untuk kedua terdakwa.

Hakim Hasibuan juga menjatuhkan ganti rugi sebesar Rp 17.485.200 atau tambahan hukuman 3 bulan penjara jika tak sanggup membayar kepada Ahmad Dimyati. Dan Rp. 78 juta atau 6 bulan kurungan kepada Mohammad Taufik.

Kecilnya ganti rugi yang dibebankan kepada Ahmad Dimyati, karena terdakwa telah mengembalikan uang sebesar Rp. Rp 58.885.200 dalam persidangan. Kedua terdakwa juga didenda membayar Rp 150 juta.

Kedua korupsi selama menjadi anggota DPRD Kabupaten Ciamis pada 1999/2004. Itu terjadi saat mereka terlibat dalam penyusunan anggaran sehingga negara mengalami kerugian lebih dari Rp 5 miliar

Sebelumnya, pengadilan ini juga telah memutus vonis 13 anggota DPRD Kabupaten Ciamis yang terlibat korupsi. Mereka adalah panitia anggaran untuk DPRD periode 1999/2004. Para terdakwa mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, tapi ditolak.

Sumber : TempoInteraktif.com :29 September 2006

Penampilan Mimi Tumus Pukau Para Raja Se-Nusantara

Cirebon, Jabar - Penampilan penari topeng berusia 83 tahun, Mimi Tumus memukau Wakil Gubernur Jawa Barat, H Deddy Mizwar dan para raja dari berbagai kerajaan di Nusantara. Dalam pementasan di sela gala dinner di pelataran Keraton Kasepuhan Cirebon, wanita tua asal Desa Kreo, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, memainkan tarian kelana.

Pementasan ini merupakan pertama kalinya bagi Mimi Tumus yang selama ini namanya tenggelam dan hampir tak dikenali lagi. Dia menunjukkan kelasnya sebagai penari topeng. Sekitar setengah jam, Mimi Tumus menunjukkan kebolehannya.

Meski tubuhnya sudah ringkih karena usia yang sudah 83 tahun, tapi gerakannya masih bertenaga. Penuh semangat, Mimi Tumus memainkan tarian-tarian kelana yang dinamis.

“Ini penampilan yang memukau. Mimi Tumus menari dengan menunjukkan kelasnya sebagai seorang maestro,” tutur Deddy Mizwar mengomentari pementasan Mimi Tumus, seperti dikutip dari Kabar Cirebon, Senin (15/8/2016).

Tak hanya Deddy, para raja dan sultan dari berbagai kerajaan di Nusantara juga ikut terpukau melihat penampilan Mimi Tumus. Di usia yang sudah sepuh, tapi masih penuh semangat ketika membawa tarian kelana.

Malam itu, Mimi Tumus tampil menghibur Wagub, para raja dan sultan serta undangan Keraton Kasepuhan. Turut pula menyaksikan tuan rumah, Sultan Kasepuhan, PRA Arief Natadiningrat.

Usai penampilan Mimi Tumus, Sultan Arief menunjukkan benda pusaka dan jubah putih milik Sunan Gunung Jati. Benda berupa keris seukuran 50 centimeter, serta jubah putih ditunjukkan kepada Wagub dan para raja.

“Ini benda pusaka milik Sunan Gunung Jati. Juga jubah putih ketika beliau masih hidup memimpin Cirebon dan menyebarkan agama Islam di Jawa Barat,” tutur Sultan Arief.

Pada malam itu, kepada Mimi Tumus, Deddy Mizwar juga menjanjikan akan memberi bantuan senilai Rp80 juta. Uang tersebut untuk keperluan membeli gamelan sesuai permintaan Mimi Tumus yang selama ini tersembunyi dan sehar-hari berprofesi sebagai tukang pijat.

“Maestro sekelas Mimi Tumus itu harus dihargai. Dia kita beri ruang untuk terus berekspresi dan mewariskan ilmunya kepada generasi penerus. Makanya kita bantu untuk bisa mendapatkan seperangkat gamelan supaya dia bisa terus menari dan menurunkan keahlian kepada anak-anak muda,” tutur Deddy.

Deddy menuturkan, Festival Internasional Gotrasawala selalu memadukan seni global-modern dengan khasanah seni lokal-tradisional. Perpaduan ini untuk saling mengenal dan melengkapi kedua jenis kesenian itu sehingga bisa saling memperkaya.

“Kenapa dalam Gotrsawala selalu ada perpaduan seni modern dengan tradisional, seni global dengan lokal? Lewat perpaduan itu, seni-seni lokal bisa menimba khasanah global, dan sebaliknya. Festival ini merupakan silaturahmi antar seni budaya,” tutur dia.

Lewat silaturahmi itu, ada banyak manfaat yang bisa diperoleh. Seni-budaya Cirebon atau Cirebon secara umum, bisa masuk dalam peta kesenian global karena para seniman modern-global, bisa memperkenalkan di dunia luar.

“Seniman modern itu juga bisa menjadikan khasanah seni lokal-tradisinal Cirebon sebagai inspirasi ketika mereka tampil di berbagai event global. Ini bagian dari upaya memperkenalkan seni budaya Cirebon ke seni budaya global,” tutur dia.

Apresiasi Luar Biasa untuk Seni Kuda Renggong

Sumedang, Jabar - Pewarisan kesenian tradisional kuda renggong kepada generasi muda harus secara intens dilakukan agar dapat dipertahankan dan dilestarikan. Selain kuda pandai menari sarana musik dan tari di kesenian kuda renggong dapat menjadi daya tarik tersendiri.

"Pemerintah daerah harus benar-benar serius menangani kesenian tradisional dalam upaya pelestarian dan pemeliharaan serta pemanfaatan. Karenanya pewarisan kepada generasi muda sebagai pewaris harus terus dilakukan secara rutin dan intens jangan sampai terputus," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Ida Hernida, di sela-sela Festival Seni Kuda Renggong Se-Jawa Barat 2016 yang diselenggarakan di Lapangan Pacuan Kuda Sindangraja (Dano), Sumedang utara, Kabupaten Sumedang, Minggu 14 Agustus 2016.

Menurut Ida, pelaksanaan Festival Seni Kuda Renggong se-Jawa Barat 2016 yang diselenggarakan Paguyuban Kuda Renggong Kabupaten Sumedang (Paskures) serta Pordasi Jabar, menunjukan bahwa ada upaya semua pihak melakukan pelestarian dan pemeliharaan kesenian tradisional kuda renggong. "Bahkan sangat diluar dugaan peserta bukan hanya dari Sumedang sebagai daerah asal seni kuda renggong, tetapi juga dari Subang, Majalengka, Kabupaten Bandung, dan Kota Bandung. Belum lagi apresiasi penonton yang jumlahnya mungkin mencapai ribuan orang," ujar Ida.

Kesenian tradisional kuda renggong sejak Mei 2015 sudah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional berasal dari Jawa Barat. Pemberian sertifikat penetapan bernomor 1539908 dari perwakilan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada acara Festival Seni Kuda Renggong se-Kabupaten Sumedang pada 15 Mei 2015 lalu.

"Namun, dengan ditetapkannya ataupun diakuinya kesenian kuda renggong berasal dari Sumedang oleh pemerintah (Kemendikbud) bukan berarti kita sebagai pemilik tidak menjaganya. Justru harus sebaliknya untuk lebih menjaga dan memelihara serta mewariskannya kepada generasi muda," ujar Bupati Sumedang Eka Setiawan.

Dikatakan Eka, sebagai bentuk kepedulian pemerintah Kabupaten Sumedang terhadap kelangsungan kesenian tradisional kuda renggong, kegiatan festival akan secara rutin dilakukan. Bahkan pihaknya meminta dukungan Pemrov Jabar agar menfasilitasi pelatihan kesenian kuda renggong kepada generasi muda.

Seni-Budaya Pantura Harus Jadi Potensi Ekonomi Kreatif

Cirebon, Jabar - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat menginginkan kolaborasi antara budaya Pasundan dan luar negeri menjadi potensi pariwisata yang baru.

Anggota Komisi II DPRD Jawa Barat, Ridho Budiman mengatakan, daerah Pantura memiliki potensi pariwisata yang besar dan harus dimaksimalkan agar menjadi nilai ekonomi.

"Sesuai dengan instruksi yang disitir Pak Wakil Gubernur, bahwa ekonomi pertanian, teknologi informasi, dan seni-budaya masuk ke dalam sektor ekonomi kreatif," kata Ridho kepada wartawan di Goa Sanyaragi, Cirebon, kemarin.

Sektor seni-budaya, kata Ridho selain harus menjadi khazanah kekayaan budaya Jawa Barat juga harus menjadi potensi pariwisata bagi wilayahnya.

Jika potensi pariwisata tersebut dapat dimunculkan, maka yang akan mendapatkan untung adalah masyarakat sekitar dan juga pemerintahnya.

"Seni-budaya kalau bisa diubah menjadi potensi pariwisata maka akan menjadi potensi ekonomi kreatif yang bermanfaat," kata Ridho.

"Ini terbukti dengan berhasilnya kolaborasi antara seni-budaya Pantura dengan budaya barat. Selain menambah khazanah juga harus menjadi potensi ekonomi," pungkasnya.

Seren Taun, Tradisi Kuno Masyarakat Sunda Ungkapan Rasa Syukur

Bogor, Jabar - Masyarakat Adat Kampung Sindangbarang di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat akan menggelar ritual Seren taun pada 19-23 Oktober mendatang.

Budayawan Sunda, Ki Anom menuturkan ritual Seren taun sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Pajajaran kuno. Seren taun merupakan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan sesama manusia.

Seren taun berasal dari bahasa Sunda, yaitu Seren yang artinya menyerahkan dan taun atau tahun. Jadi, Seren taun diartikan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki dan berkah yang melimpah selama satu tahun.

Ritual Seren taun dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat agraris atas hasil panen. Fokus utama ritual Seren taun adalah padi. Padi dianggap sebagai simbol kemakmuran.

"Itu budaya Kerajaan Pajajaran kuno. Bentuk rasa syukur nikmat masyarakat Sunda, khususnya di bidang pertanian," jelas Ki Anom kepada merahputih.com, Kamis (11/8).

Dalam masyarakat Sunda, ritual diawali dengan Upacara Ngajayak (Penjembutan Padi) pada tanggal 18 bulan Rayagung Tahun Saka bulan terakhir dalam perhitungan kalender Sunda. Setelah itu, dilanjutkan dengan penumbukan padi. Seren taun dilaksanakan pada tanggal 22 sebagai acara puncak dari rangkaian acara.

Sementara itu Ketua Panitia Maki Sumawijaya mengatakan ritual Seren taun sebagai warisan leluhur harus dijaga kelestariannya. Ia menyebut bahwa kegiatan ini sangat penting digelorakan oleh pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat adat lainnya.

"Ritual Seren taun diadakan rutin setiap tahun. Diikuti dengan pesta panen, budaya besanan khas Bogor, ada pelestarian permainan tradisional (pendidikan tari dan belajar silat gratis) untuk anak-anak di sini," kata Maki.

-

Arsip Blog

Recent Posts