Tampilkan postingan dengan label Kalimantan Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalimantan Barat. Tampilkan semua postingan

Bupati Komitmen Dukung Pemerintah Berantas KKN di Kabupaten Landak

Oleh : Heri Irawan. Sp

Ngabang- Kejaksaan Negeri Ngabang Kalimanatan Barat belum lama ini telah menetapkan Kadishutbun Landak berinisial Mk, dan rekan bisnisnya inisial Ss, ditetapkan sebagai tersangka pada proyek yang digarap oleh kedua tersangka yaitu pengadaan bibit sawit fiktif di Desa Rabak Kecamatan Sengah Temila dengan menggunakan APBD Tahun 2005-2006 yang merugikan negara senilai Rp 200 juta. Menyikapi kasus tersebut, Bupati Landak Drs. Adrianus Asia Sidot, M.SI, tetap komitmen untuk melarang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kabupaten Landak melakukan Korupsi Koluksi Nepotisme (KKN). "Saya kira sangat jelas, komitmen saya untuk menggiring di seluruh Kabupaten Landak bebas KKN. Tapi itu bukan hanya life serpice saja, bukan sekedar pidato atau retorika sebatas itu, tapi saya akan melaksanakan itu secara konsukwen, melalui unit kerja yang menanggani pembinaan ini, supaya sosok atau kinerja betu-betul menjadi keinginan masyarakat, " kata bupati, kemarin di Ngabang, usai pengambilan sumpah janji PNS Kabupaten Landak tahun angkatan 2005. Ini dilakukan.

Disinggung adanya salah satu pejabat Landak, sebagai tersangka dalam proyek fiktif pengadaan bibit sawit di Desa Rabak Kecamatan Sengah Temila? Matan Asisten II Landak ini mnegaskan Kejaksaan Negeri Ngabang sudah melaksanakan tugasnya dengan baik, dan bupati melihat itu adalah tindakan fositif, dimana satu hal itu dilakukan dalam rangka penegakan hukum, dan mendukung dan mensukseskan program pemerintah untuk memberantas korupsi. "Dimanapun hukum itu berada harus ditegakkan, bila memang ada kasus mengadung unsure tindakan pidana, itu urusannya dengan hukum," kata bupati. Urusan pembinaan lanjut bupati, adalah urusan kewenanganya sebagai seorang bupati. Sedangkan urusan pidana diselesaikan secara hukum.

Ditempat berbeda Ketua DPD LSM Forum Peduli Masyarakat Kalimantan Barat, Syaidan Ameng meminta kepada Kejaksaan Negeri Ngabang untuk menuntaskan kasus korupsi merugikan uang negara tersebut. "Kita minta Kejaksaan Negeri Ngabang mengusut tuntas kasus korupsi ini, bahkan kasus-kasus lain yang masih belum terungkap di Landak," katanya.

Sumber : http://www.kabarindonesia.com Senin, 2 Juni 2008

KPK Didesak Usut Korupsi APBD Kabupaten Landak

Jakarta, Sekitar 100 orang dari Forum masyarakat pemburu koruptor Kalimantan Barat berunjuk rasa menuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut kasus dugaan korupsi APBD Kabupaten Landak senilai ratusan milyar.

Perkembangan korupsi di Kalimantan Barat (Kalbar) dalam era otonomi ini tidak semakin berkurang, malah cenderung meningkat, baik secara kualitas maupun kuantitas dari pola-pola korupsi. Demikian petikan orasi yang disampaikan forum pemburu koruptor di depan Gedung KPK Jalan HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan Kamis (3/1) siang ini.

Kasus dugaan korupsi yang selama ini banyak dilaporkan masyarakat dan kalangan mahasiswa menurut pengunjuk rasa tak ada penyelesaian yang transparan, baik pada tingkat penyidikan, penyelidikan, dan peradilan.

Menurut massa, hal yang sama juga terjadi, seperti pada kasus-kasus korupsi politik seperti money politic dalam pemilihan Bupati Landak, Sambas, Pemilu 1999 dan sebagainya.

Aksi sempat diwarnai dengan tabur bunga oleh beberapa orang dengan mengenakan blankon dan merupakan simbol dari penolakan korupsi yang dilakukan oleh Bupati Landak Kalbar.(esa)


Sumber : Ditulis oleh Elshinta.Com Jumat, 11 April 2008 Supriyarto Rudatin

Hidupkan Kembali Budaya Daerah Melalui Festival Budaya Kayong Utara

Kayong, Kalbar - Dinas Pendidikan melalui Bidang Kebudayaan gelar lomba syair gulung yang menjadi sebuah kesenian budaya Melayu.

Lomba syair gulung ini merupakan satu di antara rangkaian kegiatan festival budaya yang baru pertama kali dilaksanakan di Kabupaten Kayong Utara.

Menurut Kabid Kebudayaan Jumadi Gading pada kegiatan festival budaya ini akan digelar berbagai perlombaan, di antaranya syair gulung yang dilaksanakan di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara.

Melalui festival budaya ini pula diharapkannya dapat kembali menghidupkan kembali berbagai budaya Melayu yang saat ini memang sudah sangat jarang dilihat.

"Kita ingin kembali menghidupkan marwah budaya Melayu melalui festival Budaya ini karena memang sangat jarang kita lihat kegiatan-kegiatan Kebudayaan seperti ini,"jelas Jumadi Gading saat ditemui disela-sela kegiatan perlombaan syair gulung, Rabu (17/5/2017).

Dilanjutkannya lagi, terkikisnya sebuah kesenian budaya, baik itu permainan tradisional tidak lepas dari kemajuan teknologi yang berkembang sangat pesat di Indonesia.

Sehinga banyak anak muda saat ini lebih senang dengan permainan moderen ketimbang permainan tradisional daerah.

"Selain syair gulung kita juga menggelar lomba gasing, itu merupakan permainan tradisional yang saat ini sudah sangat jarang terlihat. Kemajuan teknologi yang pesat merupakan salah satu penyebabnya, sehingga permainan tradisional berlahan ditinggalkan,"tuturnya.

Angkat Budaya dan Marwah, Persatuan Orang Melayu Kalbar Akan Gelar Deklarasi

Pontianak, Kalbar - Berangkat dari keinginan untuk mengembangkan seni budaya melayu di Kalimantan Barat, Organisasi yang dimotori para kaum muda Melayu yang didalamnya melibatkan sejumlah remaja dan pemuda akan segera melakukan deklarasi terbentuknya organisasi Melayu di Kalbar yang menamai diri Persatuan Orang Melayu (POM) Kalbar.

Ketua POM Kalbar, Agus Setiadi mengatakan Organisasi POM ini didirikan oleh Persatuan Mahasiswa Melayu Kalbar (PMM) awal tahun 2017, dimana anggotanya sebagian adalah para alumni dari berbagai perguruan tinggi di Kalbar dan di jawa.

"PMM sendiri berdiri tahun 2012, sempat vakum beberapa tahun karena kesibukan pengurus yang skripsi dan kerja/usaha," ungkap Agus.

Baca: Upacara Adat Melayu Sambut Kedatangan Kapolri di Mapolda Kalbar

Menurutnya Persatuan Orang Melayu Kalbar (POM) ini merupakan organisasi yang menghimpun Orang Melayu dari semua kalangan, usia, gender dan strata.

Tujuan misinya adalah untuk mengangkat dan melestarikan Budaye Melayu di Kalbar serta memperjuangkan Marwah Melayu sekaligus sebagai Benteng Islam di Kalbar.

POM bersifat Independen, Sosial, Religius dan Idealis dalam Memperjuangkan Marwah melayu di Kalbar. POM tidak berada di bawah organisasi manapun dan tokoh manapun.

"Karena itu POM akan hidup dari sumbangan sukarela Orang Melayu dan Tidak Boleh Didanai secara Perorangan baik oleh tokoh/Pejabat/Politisi/Pengusaha Melayu manapun," tegasnya.

Menurutnya hal tersebut dilakukan agar organisasi ini tetap terjaga Idealisme nya dan Bebas Bersikap Tegas serta Berkreasi.

Ia menambahkan sekalipun POM menjadi Organisasi Miskin tapi yang Terpenting Masyarakat Melayu akan merasa memiliki dan mencintai Organisasi ini sampai kapan pun! Amin Ya Allah.

Saat ini POM yang akan mendeklarasikan organisasinya dan sudah membentuk kepengurusan bahkan sudah memiliki hampir seribu lebih yang mendaftar menjadi anggota POM dan bahkan dari orag Melayu yg berkiprah dan bekerja di luar Kalbar dan luar negeri seperti Malaysia dan Brunei.

"Dalam waktu dekat kita akan mengadakan deklarasi sederhana spt syukuran atas berdirinya POM," katanya.

Gelar Seminar Budaya, Formasi Hadirkan Tokoh Melayu

Pontianak, Kalbar - Forum Mahasiswa Simpang Hilir (Formasi) Kabupaten Kayong Utara menggelar Seminar Budaya, di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, 21 Januari mendatang.

Ketua Terilih Formasi yang baru, Fathan Al Muharrami, mengatakan seminar ini mengambil tema Dedikasi Nyata Mahasiswa dalam Upaya Melestarikan Adat Budaya Guna Menghadapi Dampak Negatif Modernisasi.

Fathan menyebut kegiatan ini merupakan acara puncak dari rangkaian Musyawarah Besar Formasi ke-2.

"Dalam kondisi saat ini, mahasiswa daerah harus bergerak melakukan upaya-upaya pelestarian adat budaya, yang hari ini sudah mulai tergerus perkembangam zaman," kata Fathan kepada Tribunpontiaak.co.id melalui keterangan tertulisnya, Selasa (17/1/2017).

Ia berharap, mudah-mudahan melalui seminar ini dapat menggugah semangat mahasiswa daerah Kayong Utara untuk melestarikan adat dan budayanya.

Ketua Panitia Seminar Budaya, Bayu Muharri, mengundang seluruh mahasiswa Kayong Utara untuk hadir dan mendaftarkan diri di panitia pelaksana.

"Insya Allah jika tidak berhalangan, Bapak Bupati Kabupaten Kayong Utara, H Hildi Hamid, akan membuka secara resmi kegiatan ini, sekaligus memberikan materi seminar," ujarnya.

Bayu mengatakan pemateri lainnya adalah Ketua Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalbar

Prof Dr Chairil Effendi, Anggota DPR asal Kalbar dari Nasdem, Syarif Abdullah Alkadrie, dan Wali Kota Pontianak, Sutarmidji.

"Figur-figur tersebut merupakan tokoh yang selama ini memiliki gerakan nyata dalam upaya melestarikan adat dan budaya," tegas Bayu.

Ia juga menuturkan, Formasi telah mengundang seluruh kepala desa se-Simpang Hilir, Kayong Utara, anggota DPRD, tokoh tokoh masyarakat Kayong Utara yang ada di Pontianak, dan para ketua organisasi mahasiswa daerah se-Kalimantan Barat.

"Dalam seminar ini pula akan menampilkan kesenian-kesenian budaya Melayu seperti Hadrah, Pencak Silat, Syair Gulung, Tarian Melayu, Musik Melayu, Parodi Bengkel Seni Fisipol, dan komedian Pontianak, Kamil Onte dan Dedi Bandalam," papar Bayu.

KPK Diminta Usut Dugaan Korupsi Bupati Ketapang Kalbar

Oleh : Fajar Sepni Wijaya

Sekitar 30 aktifis dari Komite Anti Korupsi Indonesia berunjuk rasa di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (14/2).

Mereka meminta agar kasus dugaan korupsi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dan dana reboisasi 2002-2005 yang diduga dilakukan oleh Bupati Ketapang, Kalimantan Barat, Morkes Effendi segera diusut. Dalam selebaran pernyataan sikapnya, yang diterima HOKI menyebutkan, Komite Anti Korupsi Indonesia membeberkan hasil temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Dalam temuan itu, terdapat 10 butir kegiatan yang diduga pelanggaran, yang berkaitan dengan dugaan korupsi dana APBD dengan total nilai Rp 110,6 miliar, dugaan korupsi penyediaan air bersih sebesar Rp 8 miliar dan dana reboisasi dengan total nilai sekitar Rp 80 miliar.

Selain berorasi, para pengunjuk rasa juga membentangkan berbagai spanduk yang intinya meminta agar kasus-kasus tersebut segera diusut tuntas. Aksi tersebut dijaga oleh sejumlah aparat kepolisian dari Polsek Setiabudi, Jakarta Selatan.

Sementara itu, dikesempatan yang berbeda sekitar 900 orang dari berbagai elemen mahasiswa berunjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta. Mereka menyampaikan beberapa tuntutan antara lain seputar pendidikan dan Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI).

Sejumlah elemen yang ikut berunjuk rasa, antara lain Aliansi Rakyat yang mengerahkan 100 aktifisnya, Gerakan Mahasiswa Penyelamat Uang Rakyat (GEMPUR) sebanyak 400 orang dan Serikat Mahasiswa Indonesia yang menurunkan 400 orang.

Masing-masing elemen membawa agenda tuntutan yang berbeda. Tuntutan dari GEMPUR adalah meminta agar kasus BLBI diusut tuntas. Sementara Serikat Mahasiswa Indonesia menuntut adanya perubahan pada sistem pendidikan Indonesia. Akibat aksi tersebut, ruas jalan di depan Istana Merdeka, tepatnya Jalan Medan Merdeka Utara dan Medan Merdeka Barat menjadi terganggu.

Sumber : http://www.kabarindonesia.com Kamis, 14 Februari 2008

Mohon Keterbukaan Pemkab Kubu Raya

Di era reformasi dan demokrasi saat ini dimana gaung pemberantasan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) menjadi topik hangat yang gencar disuarakan oleh berbagai pihak, tak terkecuali lingkup pemerintahan. Maka sudah sepatutnya terdapat sebuah transparansi dan keterbukaan dalam setiap aktivitas pemerintahan.

Salah satu isu yang tengah berhembus saat ini adalah adanya permainan belakang dalam penerimaan calon tenaga honorer pemkab Kubu Raya. Atau istilahnya, ”tak kenal maka tak sayang.” Penerimaan hanya sebatas pada beberapa pihak yang dikenal saja. Apa ini yang dinamakan reformasi? Sungguh sangat memilukan bukan?

Kabupaten Kubu Raya sebagai salah satu kabupaten baru di lingkup wilayah Kalimantan Barat seharusnya menjadi sebuah langkah awal perubahan yang dapat merombak kebobrokan sistem (KKN) yang melekat erat di lingkungan pemerintahan. Karena salah satu tujuan awal pembentukan tentunya untuk menciptakan lapangan pekerjaan melalui SDM yang berkualitas... (bukan dari jalan belakang yang tidak diketahui pasti kuantitas dan kualitasnya).

Untuk itu, kami mohon adanya keterbukaan dari pemkab Kubu Raya mengenai pembukaan/penerimaan tenaga honorer untuk setiap dinas yang ada. Minimal terdapat pengumuman di media mengenai syarat dan waktu penerimaan. Sehingga ada pemerataan kesempatan bagi masyarakat. Jangan hanya memakmurkan nyawa sendiri dan kepentingan pribadi. Begitu pula halnya untuk nanti sekiranya ada penerimaan CPNS Kabupaten Kubu Raya. Harapan kami, semoga ini mendapat jawaban dan pertimbangan dari Pemkab Kubu Raya.

Sumber : http://arsip.pontianakpost.com  12 Februari 2008

Interior Bandara Supadio: Kombinasi Melayu, Dayak, dan China

Pontianak, Kalbar - Pembangunan Bandar Udara Internasional Supadio sudah mencapai 83,6%. Saat ini bandara tersebut masih dalam tahap finalisasi dengan cara mempercantik dengan merenovasi beberapa bagian lagi.

Chief PMU AP II Cabang Supadio, Chuanda mengatakan nantinya desain bandara ini menggabungkan tiga ornamen etnis budaya lokal. Sebab di Kalimantan Barat masyarakatnya terdiri dari beberapa etnis budaya lokal seperti Dayak, Melayu, dan China.

"Konteks budaya lokal pasti kita libatkan, komponen dari artefak lokal, kultur hal-hal yang berkaitan dengan unsur budaya lokal ada Dayak, Melayu, dan China interior kita kombinasikan," kata Chuanda, saat ditemui di lokasi, Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (30/12/2016).

Memang di beberapa kabupaten Kalbar didominasi beberapa mayoritas budaya. Misalnya di kabupaten Landak dan Entikong mayoritas ditinggali oleh etnis Dayak, Singkawang lebih banyak dihuni etnis China, dam Sambas dihuni etnis Melayu sehingga ketiga etnis tersebut dikombinasikan dalam interior bandara.

"Karena penduduknya itu sebagian dari 3 etnis itu. Pesan Pemprov supaya aspek budaya juga masuk ke dalam desain bandara karena tidak meninggalkan budaya lokal," imbuhnya.

Beberapa tim interior dan konsultan independen saat ini sedang memulai beberapa desain corak tersebut. Ditargetkan pada April atau Mei 2017 interior tersebut telah selesai interior yang akan mempercantik bandara tersebut.

"Nanti ada corak-corak hiasan di dinding ornamen gabungan dari 3 kultur itu di desain dari konsultan yang menjadi ciri khas Kalbar. Saat ini sudah mulai interior, lagi soft drawing dan finalisasi detailnya, diharapkan selesai April atau Mei," imbuhnya.

Ia menyebut penerbangan di Pontianak ini paling ramai ketika ada hari raya natal, lebaran, tahun baru, dan hari raya China seperti Imlek, Cap Go Meh dan sembahyang kubur. Beberapa hari raya Tionghoa di luar Kalbar ini membuat beberapa etnis Tionghoa berziarah ke makam leluhurnya.

"Pontianak itu tanggal 23 natal kemarin puncaknya, kalau dari Jakarta ke Pontianak ada upacara sembayang kubur, imlek, karena di sini tradisinya banyak," imbuhnya.

Sosialisasi Anti Korupsi Perwakilan BPKP Provinsi Kalimantan Barat Selenggarakan Sosialisasi Program Anti Korupsi

Korupsi secara harfiah dapat diartikan sebagai suatu kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap dan tidak bermoral. Tanpa disardari, korupsi muncul dari kebiasaan yang dianggap lumrahdan wajar oleh masyarakat umum. Gejalanya bagaikan penyakit menular, hal ini terbukti dari berbagai hasil survei Indonesia masih menduduki rangking teratas negara terkorup. Sebagai wujud nyata dalam memerangi korupsi di Indonesia, Perwakilan BPKP Provinsi Kalimantan Barat menyelenggarakan kegiatan yang bersifat preventif berupa Sosialisasi Program Anti Korupsi, dengan tema"BPKP Bersama Masyarakat Memerangi Korupsi".

Kegiatan Sosialisasi telah dibuka oleh Kepala Perwakilan BPKP Provinsi Kalimantan Barat, Hari Setiadi pada Selasa kemarin (24/7). Dalam sambutannya dinyatakan bahwa:

Faktor utama perbuatan korupsi adalah manusia, dan tidak akan efektif sama sekali seluruh upaya pemberantasan korupsi dilaksanakan jika faktor manusiannya dikesampingkan dan jika tidak ada program yang berfokus pada perbaikan manusianya sendiri. Salah satu penyebab terjadinya suatu tindak kejahatan adalah bahwa perilaku kriminal akan timbul manakala manusia menyerap informasi, pandangan, dan motivasi dari orang-orang dekat disekitarnya. Para ahli mengemukaan bahwa setiap orang berpotensi untuk melakukan kejahatan jika selalu dihadapkan pada persoalan kriminal. Bila manusia dibesarkan dalam lingkungan yang sudah terbiasa dengan perbuatan yang cenderung menyimpang, yang menganggap memberi uang pelicin agar urusannya lancar adalah biasa, lingkungan yang berpandangan bahwa menerima hadiah atau pemberian yang berkaitan dengan tugasnya adalah wajar bahkan suatu keharusan, lingkungan yang terbiasa me-mark up kuitansi pengeluaran agar bisa diambil selisihnya untuk keuntungannya, maka orang tersebut akan terdorong melakukan perbuatan menyimpang tersebut. Demikian juga dengan korupsi, mungkin pada awalnya hanya coba-coba, kecil-kecilan. Dia berhasil pada kali yang pertama dan berniat untuk berhenti korupsi karena kebutuhan mendesaknya sudah terpenuhi. Namun hal ini tidak dapat dia lakukan karena jika berhenti pada kali yang kedua, maka perbuatan jeleknya terdahulu akan terbongkar, oleh karenanya dia kemudian mempelajari bagaimana cara agar tidak ketahuan, bertanya ke kanan dan kekiri.. Demikian seterusnya sampai akhirnya menjadi kebiasaan dan ketagihan untuk berbuat serupa, bahkan mengembangkan modusnya agar benar-benar tidak akan pernah terdeteksi.

Korupsi akan membawa dampak pada rusaknya nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara yang mengakibatkan kualitas infrastruktur dan pelayanan publik rendah, timbulnya ekonomi biaya tinggi, membahayakan kelangsungan pembangunan dan supremasi hukum, meningkatnya kemiskinan dan kesengsaraan rakyat dll. Oleh karena itu harus diberantas secara berkelanjutan, tegas dan tanpa pandang bulu berdasarkan peraturan perundang-undangan dan prinsip administrasi yang sehat.

Memerangi korupsi secara represif saja tidak cukup, perlu upaya lain seperti cara edukasi, yaitu menanamkan pengertian kepada masyarakat bahwa perbuatan korupsi adalah perbuatan jahat, korupsi adalah sumber dari segala permasalahan yang mencuat dalam segala bidang, sehingga akan tercipta `public awareness` tentang korupsi, apa bahayanya, tanda-tanda korupsi, dampak dan konsekuensinya

Acara Sosialisasi ini diselenggarakan selama 3 (tiga) hari, dimulai sejak tanggal 24 Juli 2007 sampai dengan 26 Juli 2007, dengan fokus grup Badan Pengawas Daerah se Kalimantan Barat, Wartawan media cetak dan elektronik yang ada di Kalimantan Barat dan Pramuka. Pembicara pada kegiatan ini berasal dari Deputi Investigasi BPKP, sedangkan Narasumber atau pembahasnya berasal dari unsur Kejaksaan Tinggi dan Keposisian. (Daridin)

Sumber : http://www.bpkp.go.id 20 September 2007

Tuan Rumah Juara Desain Motif Melayu

Singkawang, Kalbar - Juara pertama desain motif melayu tahun ini dimenangkan Hendra Budi Sungkowo (29) dalam perayaan Festival Seni Budaya Melayu Ke-XI di Kota Singkawang, Kalimantan Barat.

Kemenangan desain motif melayu ini membawa kebanggaan bagi tuan rumah Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kota Singkawang. Rancangan motif melayu yang didesain ini mendapat penilaian terbaik dari 12 desain yang ditampilkan dalam pagelaran seni budaya melayu se-Kalimantan Barat.

“Kami berharap motif-motif melayu ini yang pernah menjadi juara mendapat nominasi sebagai motif melayu Kalimantan Barat,” ucap dia Rabu (19/10) di Pendopo Mesjid Agung Kota Singkawang.

Hendra Budi Sungkowo mengatakan desain motif melayu yang dibuatnya ini mengambil tema pucuk rabung bertabur bunga tanjung. Sedangkan warna yang mendominasi adalah corak dari warna hijau dan warna kuning.

Menurutnya dari kedua corak warna dasar ini menandakan ciri khas identitas budaya melayu Kalimantan. Warna kuning memiliki makna kisah sejarah kerajaan dan kejayaan budaya melayu. Sedangkan makna warna hijau menggambarkan identik dengan nilai keislamannya dalam kultur melayu.

“Rasullulah juga menyukai kedua warna itu hijau dan kuning. Sedangkan pucuk rebung ini benar-benar menandakan budaya melayu. Semakin tinggi penguasa maupun kekuasaan yang diraih oleh seseorang. Semakin merunduk juga jati diri penguasa. Ini merupakan ciri khas dari pucuk rebung itu sendiri,” papar Hendra Budi Sungkowo yang juga bekerja di intansi militer TNI Brigif XIX Khatulistiwa Kota Singkawang.

Sementara koordinator lomba merancang motif melayu MABM Kalbar Rusyanto menambahkan peserta lomba merancang motif melayu ini jumlahnya terbatas. Yakni masing-masing kontingen daerah membawa satu orang peserta untuk mengikuti lomba merancang motif melayu di Festival Seni Budaya Melayu (FSBM) XI Kalimantan Barat.

“Syarat peserta lomba ini yakni setiap peserta merupakan utusan dari Majelis Adat Budaya Melayu kabupaten/kota dan usia peserta maksimal 30 tahun. Sehingga tidak semua peserta bisa mengikuti lomba merancang motif melayu,” tuturnya.

Rusyanto, menyampaikan yang menjadi kriteria penilaian dewan juri dalam lomba yakni pertama kali originalitas desain, kesesuaian dengan tema, keunikan desain dan keindahan desain. Begitu juga dengan corak dan warna desain motif melayu juga memiliki makna secara filosofis maupun historis dalam suatu karya seni motif melayu di Kalimantan Barat.

Ia mengungkapkan dengan hasil penilaian dari dewan juri desain motif melayu Kota Singkawang mendapat nilai terbaik. Ada 12 peserta lomba yang berkompetisi memperebutkan juara pertama. Namuh hasilnya dimenangkan oleh peserta lomba dari utusan Majelis Adat Budaya Melayu Kota Singkawang.

“Hasil penilain dewan juri sudah final. Juara pertama diraih Kota Singkawang dengan meraih piaga penghargaan dan uang pembinaan. Begitu juga dengan juara kedua maupun ketiga serta juara harapan sama juga mendapatkan hadiah,” tukasnya saat didampingi Sekretaris MABM Kota Singkawang Hamdi yang hadir memberikan penghargaan kepada para juara desain motif melayu se-Kalimantan Barat.

Tari Kolosal Hikayat Hang Tuah Meriahkan FSBM XI Kalbar

Singkawang, Kalbar - Tari kolosal Hikayat Hang Tuah dibawakan 156 penari dengan delapan pesilat dan 10 pemusik.

Dengan durasi 20 menit, Hikayat Hang Tuah dengan penata musik Iskandar, dibawakan penari dalam empat adegan, pasukan rombongan sekapur sirih, kelompok bunga telur, silat laki-laki dan perempuan.

Penata tari, Anwar Razali mengatakan, untuk mempersiapkan penampilan, latihan digelar sebanyak 35 kali.

Sebagian penari merupakan binaan Sanggar Simpur pimpinannya ditambah siswa-siswa dari beberapa sekolah di kota ini.

"Anak-anak kebetulan sudah punya pengalaman. Jadi bisa cepat," katanya.

Selain partisipasi muda-muda dalam berseni, Hikayat Hang Tuah diharapkan Anwar bisa memantik keinginan anak muda lain untuk ikut serta dalam melestarikan adat dan budaya Melayu. Sebab pelestarian adat dan budaya ada di tangan generasi muda saat ini.

"Saat ini, kita mengenalkan. Ke depannya tentu merekalah yang akan berkarya," katanya.

Pada penampilan Hikayat Hang Tuah, penonton akan disuguhkan pesan persatuan. Empat pilar kebangsaan yang harus terus dijaga oleh seluruh komponen bangsa, menjadi ending Hikayat Hang Tuah.

Meriahnya tarian kolosal ini, sangat sayang untuk dilewatkan. Terlebih ada kolaborasi dengan vionist Hendri Lamiri. Saksikan, Senin (17/10/2016) malam ini di Stadion Kridasana Singkawang.

Mari Melihat Kampong Bansir dengan Tradisi Saprahannya

Pontianak, Kalbar - Sepanjang 100 meter lebih sajian makanan membentang di Gang Ramadhan, Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kalimantan Barat, Sabtu (8/10/2016). Di bagian sisi kiri dan kanan, para tamu duduk lesehan untuk menikmati makan saprahan.

Saprahan yang digelar warga Bansir Laut ini merupakan rangkaian peluncuran inovasi kelurahan itu sebagai Kampung Budaya dengan tagline ‘Mari Melihat Kampong Bansir dengan Budaya Lokalnya’ (Mampir Yok).

Saprahan dalam adat istiadat melayu berasal dari kata “saprah” yang artinya berhampar, yakni budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan atau bersila di atas lantai dengan bentangan memanjang.

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji menyambut baik inisiatif warga menggelar saprahan sebagai bentuk pelestarian budaya Kota Pontianak. Ia meminta tradisi ini terus dipertahankan dan lebih dikenalkan kepada semua kalangan, tak terkecuali generasi muda.

Salah satu upaya yang sudah dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak untuk mengenalkan budaya saprahan di kalangan muda adalah menggelar lomba saprahan tingkat pelajar SMA sederajat.

“Tahun depan saprahan juga mulai dilakukan tingkat pelajar SMP. Golongan tua juga hendaknya melestarikan kebiasaan makan saprahan ini,” ujarnya, di Pontianak, Sabtu (8/10/2016).

Menurut Sutarmidji, saprahan juga identik dengan Muharram yakni bulan Safar, dengan tradisi robok-robok. Meski serupa, namun saprahan lebih tertata dan ada tata tertibnya.

Saprahan, jelas Sutarmidji, memiliki filosofi sangat dalam dan terkandung nilai-nilai kebaikan, terutama untuk kebersamaan, di mana harus ada pemimpin dalam acara makan bersama itu. “Bagaimana seorang kepala saprah tidak boleh berhenti sebelum anggota saprahan berhenti. Itu menunjukkan bahwa pemimpin itu harus mengayomi,” jelasnya.

Bila makan bersama dalam saprahan ini terus dipertahankan dan ditumbuhkembangkan, Sutarmidji yakin karakter masyarakat Kota Pontianak akan lembut dan lebih toleran.

Sutarmidji mengungkapkan, saprahan ini akan dibukukan oleh Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) yang ditulis oleh Safaruddin. Dalam buku itu, akan mengulas berbagai model saprahan sesuai asal muasal daerahnya. Saprahan Pontianak, Sambas, Sintang, Ngabang dan sebagainya diulas secara detil dalam buku tersebut.

“Semua saprahan antara daerah satu dengan lainnya berbeda-beda. Ini nanti dibukukan supaya orang mengetahui model saprahan sesuai asal daerahnya. Misalnya, model saprahan Sambas dengan Pontianak beda. Kalau di Sambas itu ditempatkan dalam satu wadah untuk empat orang, tetapi kalau di Pontianak model memanjang,” paparnya.

Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menambahkan, Pemkot sangat mengapresiasi setiap kegiatan masyarakat untuk melestarikan budaya yang ada di wilayahnya masing-masing.

Ia berharap, warga Kampung Bansir tetap mempertahankan masakan khasnya, baik itu untuk sajian makanan saprahan maupun kue-kue tradisional. Dengan demikian, bisa menambah nilai khasanah budaya yang menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk datang ke Kampung Bansir menikmati sensasi makan saprahan.

“Ini harus dijadikan suatu kebudayaan yang harus dipertahankan dan dilestarikan. Selain itu juga sebagai bagian dari penataan wajah Kota Pontianak terutama waterfront. Semoga suasana Kampung Bansir ini dengan adat dan budayanya tidak berubah oleh zaman,” ucap Edi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pontianak, Hilfira Hamid menuturkan, saprahan yang digelar ini merupakan bagian dari launching Kampung Bansir sebagai Kampung Budaya.

Di Kampung Budaya ini, para wisatawan atau tamu dari luar yang tertarik melihat budaya Melayu di Pontianak seperti saprahan, kerajinan-kerajinan khas, bisa berkunjung ke Kampung Bansir ini.

“Siapa pun yang ingin melakukan saprahan dan kapan pun waktunya, bisa difasilitasi dan dilayani di Kampung Budaya dengan catatan dua hari sebelumnya sudah melakukan booking dengan menyebut jumlah peserta yang minta disediakan makan bersama secara lesehan ini. Minimal empat orang, akan dilayani makan saprahan di sini,” terangnya.

Hilfira menyebutkan, Kampung Budaya ini bisa menjadi aset khususnya bidang budaya. Pihaknya juga melakukan promosi Kampung Budaya ini melalui PHRI dn Asita sebagai destinasi pilihan bagi wisatawan yang ingin menikmati saprahan atau melihat kerajinan khas warga setempat.

“Makanya, kami juga mengundang dari PHRI dan Asita untuk mengenalkan kepada mereka supaya mereka bisa membawa tamu-tamu mereka ke sini,” kata Hilfira.

Oktober, Festival Seni Budaya Melayu XI Kalimantan Barat Digelar di Singkawang

Singkawang, Kalbar - Koordinator bidang publikasi Pelaksanaan Festival Seni Budaya Melayu XI Kalimantan Barat (FSBM XI), Rindar Prihartono menyatakan perlunya informasi melalui website dan media sosial facebook untuk menjadi official event akbar FSBM XI 16 - 22 Oktober di Kota Singkawang.

"Informasi kita sampaikan baik untuk perserta FSBM XI dari 14 kabupaten/kota, juga untuk masyarakat Kalbar yang akan menonton perlombaan dari berbagai tangkai lomba," katanya, Kamis (29/9/2016).

Ia mengatakan informasi dapat dilihat di laman http://mabmsingkawang.org yang terintegrasi dengan media sosial facebook, FSBM XI Kalimantan Barat.

Rindar berharap peserta dan masyarakat Kalbar dapat mengakses informasi penyelenggaraan baik acara, lomba, berita, daftar hotel dan lainnya pada dua media online tersebut.

MABM Mempawah Gelar Ekspresi Seni Budaya Melayu

Mempawah, Kalbar - Ratusan pelajar dan masyarakat umum se-Kabupaten Mempawah turut ambil bagian dalam gelaran ekspresi seni budaya melayu Kabupaten Mempawah Tahun 2016.

Kegiatan yang diselenggarakan Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Mempawah dibuka langsung oleh Bupati Mempawah Ria Norsan di gedung Kartini Mempawah, Selasa (20/9/2016).

Ketua Panitia, H Dudung Agus Suharto SSos mengatakan gelaran ekspresi seni budaya melayu Kabupaten Mempawah 2016 ini digelar untuk melestarikan dan membangun adat budaya melayu di tengah masyarakat Mempawah.

"Dengan dibangunnya adat budaya Melayu di Mempawah ini diharapkan dapat mengantisipasi dan memfilter pengaruh budaya asing yang tidak baik dan dapat merusak sendi-sendi kehidupan berbangsaa dan bernegara," ujarnya.

Tak hanya itu, ia mengatakan hal ini juga sebagai persiapan kontingen MABM Kabupaten Mempawah mengikuti Festival Seni Budaya Melayu tingkat Kalimantan Barat yang akan dilaksanakan di Singkawang beberapa waktu mendatang.

Maka dalam gelaran ekspresi seni budaya melayu Kabupaten Mempawah tahun 2016 menampilkan sejumlah perlombaan di antaranya tangkai lagu melayu, tangkai berbalas pantun, tangkai jepin, tangkai vokal grup, paduan suara.

Norsan Harap Seni Budaya Melayu Mempawah Tampil di Luar Negeri

Mempawah, Kalbar - Ketua Umum Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kabupaten Mempawah H Ria Norsan mengatakan penting adanya upaya pelestarian adat budaya melayu walaupun melalui Ekspresi Seni Budaya Melayu ini.

"Melalui Ekspresi Seni Budaya Melayu adalah untuk melihat sejauh mana anak-anak kita ini menghayati budaya melayu yang ada di Mempawah ini," ujarnya, Selasa (120/9).

Bupati Mempawah menyatakan tak hanya sebagai upaya melestarikan adat dan budaya, pihaknya mempersiapkan peserta dalam festival seni budaya melayu di Kota Singkawang beberapa waktu mendatang.

"Mudah-mudahan juara, nanti dapat mewakili Kabupaten Mempawah ditingkat Kalbar bahkan nasional,"jelasnya.

Terlebih dikatakan kegiatan budaya melayu di Mempawah kerap diminta tampil di daerah tetangga seperti negara Singapura untuk mewakili Kalbar.

"Waktu itu saya bawa grup tundang, kalau dari provinsi lain menampilkan tari-tarian. Alhamdullillah di Singapura banyak orang Melayu, sehingga kita bawakan budaya tundang, mereka terhibur tertawa,” jelasnya.

Ratusan Moge dari Sarawak Ramaikan Festival Wonderful Indonesia di Aruk

Sajingan, Kalbar - Ratusan pengendara motor gede (Moge) asal Sarawak-Malaysia turut menghadiri perhelatan akbar Festival Wonderful Indonesia (FWI) yang diselenggarakan di Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Sabtu (17/9/2016).

Rombongan yang dipimpin langsung oleh Timbalan Ketua Menteri Sarawak Datuk Amar Abang Zohari bin Tun Abang Haji Openg atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abang Jo.

Rombongan konvoi Moge ini mulai memadati pos border Biawak, Lundu sejak pukul 09.00. Mereka terdiri dari beberapa klub pecinta otomotif yang khusus sengaja datang untuk menyaksikan kegiatan yang dikemas Kementerian Pariwisata ini.

Kehadiran mereka pun sontak menghebohkan masyarakat melihat iring-iringan konvoi tersebut. Rombongan kemudian memasuki panggung utama dan menyaksikan suguhan tarian multietnis yang disajikan sebagai rangkaian pembukaan FWI.

"300 orang yang menggunakan motor berkunjung ke daerah Sambas ini dan kami sangat berterima kasih atas sambutan yang hangat. Ini menunjukkan silaturahmi yang begitu akrab di antara masyarakat Sambas dan Sarawak," ujar Abang Jo.

Abang Jo menambahkan, festival ini merupakan salah satu kegiatan di perbatasan untuk bersama-sama merapatkan lagi kerja sama di antara dua negara. “Dengan adanya kegiatan festival ini, dapat membuka jalan untuk kerja sama di antara daerah Sambas dan daerah kita Lundu, Sematan. Khususnya dalam sektor pariwisata,” ujar Abang Jo.

Bupati Sambas Atbah Romin Rohaili dalam sambutannya mengapresiasi kehadiran rombongan yang dipimpin langsung oleh orang nomor dua tertinggi di Sarawak itu.

Hubungan antara Sambas dan Sarawak tak terlepas dari sejarah kerajaan dan kekerabatan antar masyarakat yang terjalin sejak masa lalu.

Rangkaian festival ini juga dimeriahkan dengan lomba melukis perisai, pertandingan futsal, stand kerajinan dan kuliner serta lomba tari dayak kreasi.

Perhelatan hari pertama penyelenggaraan ini pun sukses mendulang decak kagum pengunjung, khususnya wisatawan mancanegara yang berasal dari Sarawak.

Festival diakhiri dengan penampilan artis dangdut Viola Arsa yang menghibur pengunjung dengan sejumlah tembang hits nya.

FWI merupakan program Kemenpar dalam rangka meningkatkan aktivitas industri pariwisata Indonesia melalui konsep cross-border tourism untuk menggaet wisman asal Malaysia.

Permainan Meriam Karbit Resmi Terdaftar HKI

Pontianak, Kalbar - Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pontianak, Hilfira Hamid menyatakan permainan meriam karbit melayu pontianak kini sudah resmi terdaftar dalam hak kekayaan intelektual.

"Proses sidang HKI selama dua hari, yakni tanggal 14-15 September 2016 dan akhirnya ditetapkan di Jakarta, bahwa permainan meriam karbit sebagai permainan tradisional masyarakat Kota Pontianak resmi terdaftar di HKI," kata Hilfira Hamid di Pontianak, Jumat (16/9).

Ia menjelaskan sebenarnya pihaknya sudah mendaftarkan ke HKI sejak dua tahun lalu tetapi baru tahun ini resmi terdaftar di HKI.

Karena, menurut dia, ada beberapa proses di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang perlu dijalani, termasuk sidang penjelasan bagaimana proses lahirnya kebudayaan tersebut dan apa saja kegiatan yang selalu dilaksanakan terkait meriam karbit ini di Kota Pontianak. "Alhamdulillah setelah perjuangan panjang, akhirnya permainan rakyat ini, bisa terdaftar di HAKI," ungkapnya.

Menurut dia, selain permainan meriam karbit, budaya robo-robo dari Kabupaten Mempawah juga sudah resmi terdaftar di HAKI. "Sekarang ada satu lagi dari Pontianak yang sedang dalam proses penetapan HAKI, yaitu motif corak insang," kata Hilfira.

Dalam kesempatan itu, Hilfira menambahkan, masyarakat Kalbar, khususnya Kota Pontianak patut berbangga karena salah satu permainan rakyat yang memiliki nilai sejarah tinggi di Pontianak telah mendapat pengakuan.

Tradisi membunyikan meriam sudah dilakukan sejak sultan pertama Pontianak, yakni pendiri Kota Pontianak Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri tahun 1771 Masehi. Pada saat itu Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri dan rombongan menembakkan meriam berpeluru sebanyak dua kali.

Pada saat peluru pertama jatuh di tengah hutan belantara, maka disitulah dijadikan lokasi pendirian Istana Kadriah, dan tembakan kedua atau tepatnya peluru kedua mendarat sebagai penanda lokasi pendirian Masjid Jami` Kesultanan Pontianak yang kini letaknya tidak begitu jauh.

Dulunya tradisi memainkan meriam dibunyikan sebagai tanda awal datangnya bulan suci Ramadhan dan tanda berakhirnya bulan Ramadhan, yang hingga kini menjadi tradisi masyarakat Melayu Kota Pontianak dalam menyambut dan memeriahkan malam takbiran.

Festival Saprahan, Ajang Melestarikan Budaya Kuliner Melayu

Pontianak, Kalbar - Saprahan dalam adat istiadat melayu berasal dari kata “saprah” yang artinya berhampar, yaitu budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan atau bersila di atas lantai secara berkelompok yang biasanya terdiri dari enam orang.

Dalam saprahan, semua hidangan makanan disusun secara teratur di atas kain saprah. Sedangkan peralatan dan perlengkapannya mencakup kain saprahan, piring makan, kobokan beserta serbet, mangkok nasi, mangkok lauk pauk, sendok nasi dan lauk serta gelas minuman.

Untuk menu hidangan di antaranya, nasi, aneka lauk pauk dan sayuran yang diolah dengan cita rasa khas pesisir. Dalam satu saprah biasanya terdiri dari lima hingga enam menu yang disajikan bersama air serbat yang diramu dengan rempah berwarna merah.

Guna melestarikan tradisi budaya tersebut, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pontianak pun menggelar Festival Saprahan tingkat pelajar SMA/SMK yang digelar pada Kamis (15/9/2016) di Rumah Melayu, Jalan Sutan Syahrir, Pontianak, Kalimantan Barat.

Festival ini merupakan yang pertama kalinya digelar untuk tingkat pelajar. Sebelumnya, festival serupa pernah digelar saat menjelang Hari Jadi Kota Pontianak, tetapi pesertanya dari kalangan ibu-ibu kader PKK.

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mengatakan, dari sisi penyajian untuk tingkat pelajar, Festival Saprahan ini sudah lumayan baik meskipun pertama kalinya digelar untuk tingkat SMA/SMK.

“Saya harap ke depan, seluruh SMA/SMK khususnya sekolah negeri se-Kota Pontianak diwajibkan mengikuti festival ini. Sekolah swasta juga kita ajak ikut kegiatan ini,” ujar Sutarmidji.

Wali Kota dua periode ini pun mengimbau supaya setiap SMA/SMK menggelar festival serupa di sekolah masing-masing. Selanjutnya, pemenang dari lomba atau festival saprahan di sekolah diutus untuk mewakili sekolahnya dalam festival tingkat SMA/SMK se-Kota Pontianak.

“Mulai tahun ini Festival Saprahan tingkat SMA/SMK akan menjadi agenda rutin tahunan,” kata Sutarmidji.

Dalam mengikuti lomba saprahan ini tidak hanya sekadar melihatnya dari sisi kompetisi antara peserta, tetapi bagaimana siswa bisa melestarikan pakaian adat, menjaga adat istiadat, mengenal makanan tradisional, mengetahui cara menyajikan makanan dan memaknai filosofi yang terkandung di dalam saprahan.

Banyak filosofi yang terkandung dalam budaya saprahan misalnya saling menghormati, kebersamaan, keramahtamahan dan lain sebagainya. "Filosofi itu sangat baik untuk membentuk karakter mereka,” jelas Sutarmidji.

Kepala Disbudpar Kota Pontianak, Hilfira Hamid menyatakan, sebelum digelarnya festival ini, pihaknya sudah memberikan sosialisasi dan pembekalan kepada guru dan pelajar SMA/SMK terkait teknis atau tata cara saprahan.

Walaupun pertama kalinya digelar tingkat pelajar, tetapi antusias mereka cukup bagus yang diikuti peserta sebanyak 15 kelompok.

Hilfira memaparkan, maraknya makanan-makanan fast food maupun makanan dari negara asing yang mulai merambah di kalangan remaja, dinilainya perlu disikapi dengan mengenalkan makanan-makanan tradisional beserta budaya Melayu termasuk cara menyajikan makanannya.

"Melalui festival ini para pelajar diharapkan memahami budaya saprahan. Jangan sampai makanan-makanan tradisional kita tergerus oleh makanan-makanan asing yang datang dari luar,” ungkap Hilfira.

Untuk kriteria penilaian di antaranya menu makanan, cara penyajiannya mencakup kekompakannya, kerapian, benar atau tidaknya menata sajian. Ada tata caranya supaya harus tetap sopan dan tidak mengganggu tamu yang duduk bersaprah.

"Budaya saprahan ini bukan tidak mungkin bisa menjadi daya tarik wisata dan memikat wisatawan luar. Para wisatawan yang tertarik untuk makan secara saprahan suatu waktu bisa ikut serta," katanya.

"Wisatawan yang ingin makan saprahan, mereka bisa datang ke Pontianak,” tambah Hilfira.

Sumber: travel.kompas.com

DPRD Kalbar Didesak Undang Kejati

Tuntaskan Kasus Korupsi

PONTIANAK--BEM Kota Pontianak mendesak DPRD Kalimantan Barat segera melakukan pemanggilan atau mengadakan pertemuan dengan Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat untuk meminta kejelasan atau mendukung Kejati untuk segera menuntaskan kasus-kasus korupsi di Kalbar. Demikian dikatakan Juru Bicara BEM Kota Pontianak Suryani.

"Bahkan sampai dengan hari ini pihak DPRD Provinsi juga belum meberikan respon sedikitpun terhadap aspirasi mahasiswa yang mengharapkan adanya perbaikan di Kalimantan Barat," ujarnya.

Beberapa waktu lalu belasan mahasiswa yang tergabung dalam BEM Kota Pontianak, HMI Cabang Pontianak, dan KOMID Anti Korupsi melancarkan aksi di DPRD Kalbar. Pada aksi itu mereka mengangkat isu 'Mosi Tidak Percaya terhadap DPRD Kalbar'.

Aksi itu dilakukan karena mereka merasakan adanya kejanggalan yang terjadi di tubuh DPRD Provinsi Kalimantan Barat. Kejanggalan terkait aksi tutup mulut wakil rakyat untuk mengomentari stagnannya proses hukum masalah korupsi yang melibatkan pejabat publik di daerah ini.

"DPRD Provinsi seakan-akan tidak pernah tahu dan tidak mau tahu dengan kritisnya situasi politik Kalimantan Barat saat ini. Lebih menakutkan sebagian tersangka korupsi itu akan maju dalam pesta demokrasi yang akan dilaksanakan November 2007. Kenapa DPRD Provinsi bugkam terhadap proses hukum yang sedang berlangsung terhadap para koruptor berseragam tersebut? Sangat disayangkan, ketika mengomentari PP 37 atau pengadaan laptop, semua berorasi layaknya orator demonstrasi?" katanya.

Ia berharap, DPRD Kalimantan Barat segera melakukan pemanggilan atau mengadakan pertemuan dengan pihak kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat untuk meminta kejelasan atau mendukung kejati untuk segera menuntaskan kasus-kasus korupsi di Kalbar.

Sesuai UU Nomor 22 Tahun 2003 tentang SUSDUK MPR, DPR, DPD, dan DPRD pasal 66 ayat 1 yang berbunyi: DPRD Provinsi dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya berhak meminta pejabat Negara tingkat provinsi, pejabat pemerintah provinsi, badan hukum, atau warga masyarakat untuk memberikan keterangan tentang sesuatu hal yang perlu ditangani demi kepentingan daerah, bangsa dan Negara.

"Kenapa wewenang yang demikian jelas tidak dipergunakan semestinya? Jika pertemuan dengan pihak Polda Kalimantan Barat terkait dengan kasus illegal logging dapat tercetus, kenapa pertemuan dengan pihak Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat tidak pernah terpikirkan? Keduanya sama-sama lembaga vertikal akan tetapi kenapa mesti ada perbedaan dalam proses pengawasan terhadap keduanya?" katanya.

Yani menambahkan, bungkamnya DPRD Provinsi dan lambatnya kinerja Kejaksaan Tinggi mengundang tanya besar di kepala masyarakat. "Apa keadaan ini memang sengaja diciptakan sebagai skenario untuk menyukseskan tujuan yang lebih besar yang diinginkan oleh kekuatan politik yang kita tidak tahu siapa pelakunya? Ibarat setali tiga uang, pihak kejati, kejagung dan DPRD Provinsi sama-sama menghilang ibarat ditelan bumi dari konstalasi hukum dan politik saat ini," katanya. (*)

Sumber: Pontianak Pos, Senin, 30 April 2007

Aksara Arab Melayu Gundul di Kalbar

Pontianak, Kalbar - Di Kalimantan Barat juga terdapat manuskrip bertuliskan aksara jawi, yang lebih dikenal dengan aksara Arab Melayu gundul. Sebuah aksara yang mewakili tulisan dan simbol-simbol Melayu yang diadaptasi dari aksara Arab. Mulai masuk pada abad ke-18 dimana bersinggungan dengan munculnya kerajaan Islam yang ada di Kalimantan Barat, seperti Landak, Sambas, Ketapang, Pontianak dan Putussibau. “Naskahnya disebut manuskrip, dimana tulisannya berupa goresan yang ditulis pada media kertas, kulit dan kayu dan minimal berumur 50 tahun,” tutur Faizal Amin, penulis Kitab Berladang, yang berisi manuskrip aksara Arab Melayu gundul.

Nah, untuk jenisnya sendiri ternyata ada nih yang berbentuk lembaran-lembaran kertas yang dijahit dan dalam bentuk buku. Konten aksara Kalimantan Barat sendiri lebih pada catatan tentang ajaran tauhid, fiqih dan doa, lebih banyak berkaitan dengan keagamaan. Selain itu, juga ada catatan tentang pengobatan. Sayangnya masih banyak yang jarang memiliki kemampuan maupun keahlian untuk menulis aksara ini.

Sebagai seorang penulis yang juga meneliti tentang aksara Arab Melayu gundul, dalam menulis naskahnya pun terbilang sulit. Jika aksara itu dianggap sesuatu yang penting biasanya akan sengaja untuk disembunyikan. Terkadang ada juga yang tidak tahu tentang manuskrip dan dianggap seperti kertas dan dibuang begitu saja. Tulisan ini juga sudah mulai tidak diajarkan sejak tahun 1970-an.

Di kampus IAIN sendiri, pengenalan akan budaya aksara Arab Melayu gundul mulai diajarkan menjadi mata kuliah di awal semester. Karena huruf hijaiyah lebih pada konten bahasa Arab. Sedangkan aksara Melayu lebih pada tambahan pada tanda bacanya. Tidak semua huruf hijaiyah bisa mewakili huruf latin, contohnya ‘ng’, ‘ny’, ‘x’ dan ‘c’ sehingga harus terus melakukan pengembangan untuk menyesuaikan huruf tersebut. Selain standarnya tidak sama tantangan lainnya bisa saja orang salah dalam membacanya misalnya tulisan ‘kambing’ bisa dibaca ‘kembang’ bisa pula ‘kumbang’ karena tidak ada tanda baca dalam aksara ini.

Jika di Jawa kita bisa melihat ada beberapa aksara Arab Melayu gundul dijadikan sebagai tulisan untuk nama jalan, maka di Kalimantan Barat, hanya Kabupaten Sambas yang sudah melestarikannya untuk tulisan pada plang nama jalan. Jadi nggak ada salahnya juga jika aksara Arab Melayu gundul ini mulai kembali dilestarikan anak muda dan dikembangkan, bisa melalui komunitas-komunitas. Karena anak muda saat ini lebih bangga pada budaya orang lain, dibandingkan budayanya sendiri. Sehingga kedepannya anak muda bisa mengenal warisan budaya bangsanya.

-

Arsip Blog

Recent Posts