Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan

Masjid Agung Sultan Badaruddin Jejak Penyebaran Islam di Palembang

Palembang, Sumsel - Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin di Kota Palembang, Sumatera Selatan, merupakan masjid terbesar dan tertua, sebagai bukti sejarah penyebaran Islam di Bumi Sriwijaya itu.

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin atau Masjid Agung Palembang yang dibangun pada 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I, adalah bagian dari peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, kata H Kemas Abdul Hamid, pengurus masjid tersebut, Jumat.

Menurut dia, masjid agung yang merupakan bagian dari Kesultanan Palembang Darussalam ini berada di utara Istana di Belakang Benteng Kuto Besak, atau berdekatan dengan Sungai Musi kawasan 19 Ilir pusat Kota Palembang.

Sementara, konsep bangunan masjid memadukan keunikan arsitektur Eropa dan Tiongkok serta kebudayaan Melayu, terdiri atas dua bangunan utama, di mana bangunan pertama masjid berbentuk persegi empat berukuran 30 meter X 60 meter dengn luas 1.080 meter persegi, serta atapnya berbentuk limas melengkung dan lancip.

Sedangkan pada bangunan kedua dapat dilihat dari rupa jendela yang besar dan tinggi, pilar-pilar berukuran besar pada saat memasuki masjid memberi kesan kokoh penampilan khas Eropa.

Menurut dia, kesultanan Palembang Darussalam berperan penting dalam penyebarkan Islam hingga pelosok negeri. Bahkan Islam menjadi agama negara dan terus berkembang menjadi pusat kajian agama Islam melahirkan para ulama besar dalam menyebarkan siar Islam di masyarakat.

Ia menjelaskan, bangunan yang pertama kali adalah bangunan di depan menjadi masjid pertama dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I dan dahulu semua berbentuk kayu, sementara sisi kanan kirinya telah mengalami renovasi untuk pengembangan.

Pada tahun 2003 dan 2009 masjid agung ini ditetapkan sebagai Masjid Nasional menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah, karena memiliki peran penting sejarah besarnya siar Islam di Bumi Sriwijaya, katanya.

Masjid Raya Nur Alam dari Filosofi ’Tali Berpilin Tiga’

Jakarta - Masjid yang didominasi warna kuning ini menjadi saksi bisu perkembangan Kerajaan Siak Sri Indrapura di Riau daratan, serta muasal berdirinya Kota Pekanbaru. Rumah ibadah seluas 60 X 80 meter persegi di Senapelan ini dikenal dengan nama Masjid Raya Nur Alam, yang diambil dari nama kecil pendiri Kota Pekanbaru, Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah bergelar Marhum Bukit yaitu Raja Alam.

Pada 1762 Sultan Alamuddin memindahan kerajaan Siak Sri Indrapura dari Mempura Besar ke Bukit Senapelan. Bukit Senapelan selanjutnya dikenal sebagai Kampung Bukit. Dalam tradisi Melayu, sebuah istana kerajaan hendaknya dilengkapi balai rapat dan masjid. Tradisi itu merupakan perwujudan dari filosofi “Tali Berpilin Tiga”, dasar sebuah tata masyarakat Melayu adanya unsur pemerintah, adat, dan agama.

Di masa Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah (1766-1779), komplek kerajaan ini mengalami kemajuan pesat. Sebagai sebuah pusat pemerintahan, dibangunlah sarana pasar yang saat itu disebut sebagai “Pekan.” Bangunan itu kemudian dinamai “Pekan Baharoe” kemudian menjadi Pekanbaru sampai saat ini.

Bangunannya telah mengalami beberapa kali perubahan dari masjid awal yang berukuran kecil dan terbuat dari kayu. Namun, arsitekturnya hingga saat ini masih dipertahankan keasliannya.

Revitalisasi masjid ini terbagi dalam tiga zona, yaitu zona satu berupa masjid sebagai tempat ibadah, zona dua adalah Islamic Center mewakili balai kerapatan, dan zona tiga merupakan pelabuhan mewakili area istana. Ketiga zona tersebut perwujudan filosofi “tiga berpilin” yang menjadi napas Kerajaan Melayu pada umumnya.

Di area masjid terdapat sebuah sumur tua yang cukup dalam dan diyakini dapat menjadi penawar berbagai penyakit. Pengunjung pun bisa berziarah ke komplek makam Raja Siak, Sultan Alamuddin.

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, pada bulan tertentu, Masjid Raya ini pun dijadikan sebagai salah satu obyek wisata religi andalan Kota Pekanbaru. Wisatawan domestik maupun luar negeri kerap berkunjung ke masjid kuno ini.

Melongok Masjid Pangeran Jayakarta

Kumandang adzan menggema dari Masjid As-Salafiyah bersamaan dengan terik mentari yang berada tepat di atas kepala. Ini adalah salah satu masjid tertua di Jakarta.

Masjid yang berada di kawasan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur, ini merupakan masjid bersejarah yang kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya, dan berusia lebih dari empat abad.

Konon, keberadaan Masjid ini tidak lepas dari nama Pangeran Achmad Djakerta (Pengeran Jayakarta), yang makamnya ada di sebelah masjid. Berdasarkan catatan sejarah, keberadaan masjid tersebut bermula ketika VOC menaklukkan Jayakarta (Mei 1619).

Saat itu JP Coen bukan saja menghancurkan keraton, tapi juga memporakporandakan masjid Kesultanan Jayakarta yang kini letaknya kira-kira di Kalibesar Timur.

Karena terdesak Pangeran Achmad Djakerta (Pangeran Jayakarta) dan pasukannya bergerak mundur ke timur hingga daerah Sunter, lalu ke selatan.

Sambil terus bergerak ke selatan, ketika itu Pangeran Jayakarta membuang jubahnya ke sebuah sumur tua. Ini untuk mengelabui VOC yang akan mengira Pangeran Jayakarta telah tewas ke dalam sumur tua itu.

Benar saja, pasukan Belanda meyakinkan kalau sang pengeran telah masuk sumur dan meninggal dunia. Mereka kemudian menghentikan pengejaran dan menimbun sumur dengan tanah.

Pada keadaan lain, situasi tidak memungkinkan bagi Pangeran Jayakarta dan sisa pengikutnya untuk kembali, mereka memutuskan untuk berjalan terus ke selatan.

Sampailah mereka pada sebuah hutan jati di tepi Kali Sunter yang membelah hutan, yang kemudian dikenal daerah Jatinegara Kaum, dan memutuskan untuk tinggal.

Permulaan tahun 1620, Pangeran Jayakarta kemudian membangun masjid dekat Kali Sunter. Kegunaan masjid ini untuk menggalang kekuatan kembali.

Sebelum bernama Masjid As-Salafiyah, masjid ini dikenal dengan sebutan Masjid Pangeran Jayakarta. Puluhan ulama, tokoh masyarakat dan jawara seringkali berkumpul di masjid ini menyusun strategi perjuangan dan dakwah Islam.

VIVAnews bertemu dengan Oyon Suhendar, saat berkunjung ke Masjid As-Salafiyah, Senin 16 Agustus 2010. Menurut keterangan Oyon, masjid ini merupakan markas para gerilyawan melawan Belanda.

Hingga kini, Masjid As-Salfiyah telah mengalami delapan kali renovasi. Empat tiang utama dari kayu jati yang menjadi penyangga masjid merupakan penyangga aslinya.

Selain itu, disisi samping kiri masjid terlihat makam utama Pangeran Achmad Djakerta dan kerabat serta pengikutnya yang berada di dalam sebuah pendopo.

Makam Pangeran Jayakarta dan pengikutnya baru baru diumumkan pada 1956 bertepatan dengan HUT DKI ke-429. Hal itu dirasaikan sampai penjajah pergi. Karena sebelumnya selalu dirahasiakan.

"Masjid ini melambangkan pengorbanan semangat jihad Pangeran Achmad Djakerta untuk merebut Jayakarta dari penjajah," katanya.

Menurut sejarah versi Belanda, sampai 1670 Batavia tidak pernah aman dari gangguan keamanan akibat aksi gerilya ini. Ketika Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten menyerang VOC, Jatinegara Kaum kembali memegang peran penting sebagai pos terdepan.

Hal yang sama juga terjadi ketika balatentara Mataram melakukan dua kali penyergapan ke Batavia (1628 dan 1629). "Tepatnya tahun 1700 Pengeran Achmad Djakerta akhirnya meninggal dan dimakamkan di samping Masjid," ujar Oyon.

Tercatat beberapa peninggalan sejarah masjid ini hilang dan tak diketahui dimana rimbanya. Yang tersisa hanya empat tiang penyangga dan sebuah kaligrafi Arab berbentuk sarang tawon di dalam plafon menara masjid.

Seperti nasib masjid tua lainnya, As-Salafiyah sekarang lebih terlihat lapang. Penampilannya pun terkesan mewah dengan keramik dan marmer menutupi hampir seluruh temboknya.

Persis sama dengan masjid-masjid seumurnya, tampaknya ukuran asli As-Salafiyah hanya seluas empat pilar dengan selasar sepanjang 5 meter di setiap sisinya.

Dan inilah masjid tua yang paling banyak memiliki makam di sisi selatan, barat, dan utara. "Biasanya jika ziarah dilakukan saat malam hari, namun khusus bulan Ramadhan ziarah tidak dilakukan pada malam hari," ungkapnya. Ia pun mengatakan, para penziarah umumnya memanjatkan doa serta meminta banyak keinginan agar terkabul.

Sumber: http://.vivanews.com/

Masjid Katangka, Tonggak Islam di Sulsel

Agama Islam masuk dan menyebar ke seluruh wilayah Sulawesi Selatan diperkirakan terjadi pada abad ke-16.

Penyebaran agama Islam tersebut atas peran besar Raja Gowa ke-XIV bernama I-Mangngarangi Daeng Manrabia yang bergelar Sultan Alauddin, setelah memeluk agama Islam. Dia masuk Islam pada Jumat, sekitar tahun 1602, atas dorongan ulama dari Minangkabau, Datuk Ribandang.

Sebagai pendukung utama proses penyebaran Islam, Sultan Alauddin kemudian mendirikan Masjid yang diberi nama Al-Hilal, Katangka. Menurut pengelola Masjid, Harun Daeng Ngella, Al-Hilal mempunyai makna sebagai datangnya hari baru yang lebih baik.

Sebab pada saat itu, seluruh rakyat Gowa masih dalam aliran kepercayaan kemudian tiba-tiba menganut Islam secara berjamaah, yang dimulai dari rajanya sendiri.

Belakangan, masjid tersebut lebih dikenal sebagai Masjid Katangka, sesuai sebutan disekitar daerah tersebut. Sumber lain mengatakan, dia disebut Katangka, karena bahan baku dasar dari masjid tersebut diyakini diambil dari pohon Katangka.

“Konon kabarnya, setelah masuk Islam, Raja Gowa langsung salat Jumat di sekitar masjid ini, di bawah pohon besar bernama Katangka. Pohon tersebut lalu ditebang dan dijadikan sebagai bahan masjid,” kata Harun kepada VIVAnews, Rabu, 3 Agustus 2011.

Dua tahun kemudian, atau sekitar tahun 1605, Islam semakin mengakar di daerah Gowa. Apalagi Sultan Alauddin secara resmi mengumumkan bahwa Islam menjadi agama kerajaan.

Dengan langkah pasti, Kerajaan Gowa menyebarkan Islam ke seluruh daerah di Sulawesi Selatan dan menempatkan Masjid Katangka sebagai pusat dakwah dan penyebaran Islam.

Masjid Katangka didirikan diatas lahan sekitar 150 meter persegi. Seperti bangunan-bangunan tua kebanyakan, Masjid Katangka juga memiliki ciri khas dan simbol tersendiri. Seperti memiliki satu kubah, atap dua lapis menyerupai bangunan joglo.

Bangunan ini juga memiliki empat tiang penyangga, yang berbentuk bulat dan memiliki ukuran yang besar dibagian tengah. Jendela masjid ini berjumlah enam serta memiliki lima pintu. Menurut Harun, bangunan tersebut didirikan tidak begitu saja, melainkan memiliki makna yang khas.

“Atap dua lapis berarti dua kalimat syahadat, empat tiang berarti empat sahabat nabi, jendela bermakna rukun iman ada enam dan lima pintu bermakna rukun islam,” jelas Harun.

Pada bagian imam, bangunan ini juga memiliki makna yang sangat filosofi, yakni dibuat lebih pendek. Sehingga orang yang akan memasukinya pasti akan menunduk. Artinya, kata Harun, agar setiap manusia selalu rendah diri dan mengakui kebesaran yang maha kuasa.

Bangunan yang telah berusia sekitar empat abad ini, sangat dipengaruhi oleh empat kebudayaan. Hal itu sangat kental terlihat pada bentuk bangunan di mimbar, tiang serta atap.

Menurut Harun, bagian kubah dipengaruhi oleh arsitektur Jawa dan lokal, tiang dipengaruhi oleh budaya Eropa sedangkan bagian mimbar sangat kental dengan pengaruh kebudayaan China, yang dibangun menyerupai klenteng.

Ciri khas lainnya, dan ini terjadi di hamper seluruh bangunan kuno adalah pada bagian dinding yang terbuat dari batu bata itu cukup tebal, yakni mencapai 120 sentimeter (cm). “Penyebab utamanya karena masjid ini juga pernah dijadikan sebagai benteng pertahanan saat Raja Gowa melawan penjajah,” papar Harun lagi.

Lalu bagaimana fungsi Masjid Katangka diabad modern ini? Menurut Harun, fungsi utamanya lebih fokus sebagai tempat ibadah. Setiap waktu shalat, masjid ini selalu ramai didatangi oleh masyarakat.

Uniknya, jamaah tersebut lebih banyak datang dari luar masyarakat sekitar. “Bisa dikatakan setiap berjamaah, maka 60 persen adalah masyarakat dari luar wilayah Katangka. Apalagi kalau shalat Jumat, itu bisa sekitar 70 persen bukan warga dari Katangka,” ungkap Harun, yang sudah delapan tahun menjadi pengurus masjid Katangka ini.

Hal serupa terjadi pada malam-malam Ramadan. Jamaah tarawih yang datang kebanyakan dari daerah yang jauh. Kemudian pada 10 malam terakhir ramadan, banyak masyarakat yang datang melakukan I’tikaf di masjid tersebut. Diantara mereka meyakini, bahwa dengan melakukan salat pada bulan Ramadan di masjid tersebut akan mendapatkan berkah yang berlipat ganda.

Keyakinan itu berdasar sebab banyak cerita-cerita yang beredar dimasyarakat yang sifatnya mistik. Salah satunya adalah air wudu yang bersumber dari sumur itu tidak pernah kering, meski sedang terjadi kemarau. Bahkan ada juga yang meyakini, air di masjid tersebut akan memudahkan ketemu jodoh serta akan awet seperti masjid tersebut.

“Tidak heran banyak para pemilik mobil baru yang datang mengambil air dan membilas kemobilnya agar awet dan tahan lama. Tapi itu tidak bisa dipercaya,” ujarnya.

Dijelaskan Harun, bahwa sejak berdiri pada tahun 1603, masjid ini telah mengalami enam kali renovasi. Pertama pada tahun 1816, atau pada masa Raja Gowa XXX atas nama Sultan Abd Rauf.

Kemudian pada 1884, yang dilakukan oleh Raja Gowa XXXII, Sultan Abd Kadir. Berturut-turut kemudian pada tahun 1963 oleh Gubernur Sulsel, tahun 1971 oleh Kanwil Dikbud Sulsel, tahun 1980, Swaka Sejarah dan Purbakala sulsel dan terakhir tahun 2007. Pada renovasi terakhir, itu dilakukan atas swadaya dari pengurus masjid dan bantuan dari masyarakat.

Setiap renovasi, hal yang paling utama adalah mempertahankan bentuk aslinya. Menurut Harun, bentuk asli merupakan penghargaan terhadap para pendiri masjid tersebut, meski sebagian bahan mengalami pengantian dan penambahan.

“Yang asli termasuk bahan, saat ini masih terdapat sekitar 60 persen. Termasuk kayu Katangka yang menjadi bahan utama dibagian atap belum kami ganti dan itu telah berumur ratusan tahun. Selebihnya bagian lantai kami ganti menjadi bahan granit,” pungkas Harun.

Sumber: vivanews.com

Masjid Merah Panjunan, Masjid dari Lima Abad Silam

Oleh Dian Anditya Mutiara

Dilihat dari luar, Masjid Merah Panjunan sangat menarik perhatian, terutama bagi orang yang baru pertama kali datang ke Cirebon, Jawa Barat. Warna merah bata mendominasi keseluruhan bangunan yang didirikan pada tahun 1480 ini.

Masjid Merah Panjunan terletak di Kampung Panjunan, kampung pembuat jun atau keramik porselen. Bangunan ini didirikan oleh Pangeran Panjunan yang adalah murid Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Songo (Sembilan Wali), penyebar Islam di Jawa.

Dalam sebuah catatan sejarah yang mengacu pada Babad Tjerbon, nama asli Pangeran Panjunan adalah Maulana Abdul Rahman. Dia memimpin sekelompok imigran Arab dari Baghdad. Sang pangeran dan keluarganya mencari nafkah dari membuat keramik. Sampai sekarang, anak keturunannya masih memelihara tradisi kerajinan keramik itu, meski kini lebih untuk tujuan spiritual ketimbang komersial.

Catatan tersebut juga menyatakan, selain untuk tempat beribadah, masjid ini juga dipakai Wali Songo untuk berkoordinasi dalam menyiarkan agama Islam di daerah Cirebon dan sekitarnya. Masjid yang konon dibikin hanya dalam waktu semalam ini lebih mirip surau karena ukurannya kecil. Kemeriahan memuncak pada Ramadhan, ketika orang, baik dari dalam maupun luar kota, berburu takjil, hidangan buka puasa, berupa gahwa alias kopi jahe khas Arab.

Akan banyak orang bertanya-tanya mengapa di masjid ini juga penuh dengan ornamen bernuansa Tionghoa. Misalnya, piring-piring porselen asli Tiongkok yang menghias penghias dinding. Ada sebuah legenda bahwa keramik Tiongkok itu merupakan bagian dari hadiah kaisar China ketika Sunan Gunung Jati menikahi putri sang kaisar yang bernama Tan Hong Tien Nio. Adanya hubungan dengan Tiongkok sejak zaman Wali Songo itu juga ditunjukkan dengan keberadaan Vihara Dewi Welas Asih, sebuah wihara kuno dengan dominasi warna merah yang berdiri tak jauh dari masjid.

Perpaduan Arab dan Tiongkok ini tak lain terjadi karena Cirebon, yang pernah bernama Caruban pada masa silam, adalah kota pelabuhan. Lantaran lokasi masjid itu di kawasan perdagangan, sungguh tak aneh jika Masjid Merah—semula mushala Al-Athyah— tumbuh dengan berbagai pengaruh, seperti juga semua keraton yang ada di Cirebon.

Bangunan lama mushala itu berukuran 40 meter persegi saja, kemudian dibangun menjadi berukuran 150 meter persegi karena menjadi masjid. Pada tahun 1949, Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati) membangun pagar Kutaosod dari bata merah setebal 40 cm dengan tinggi 1,5 m untuk mengelilingi kawasan masjid.

Keunikan lain dari struktur bangunan adalah bagian atap yang menggunakan genteng tanah warna hitam dan hingga kini masih dijaga keasliannya. Namun sayangnya, beberapa keramik yang ada di tembok pagar ada yang sudah dicukil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, terutama yang ada pada bagian pagar temboknya.

Pada salah satu sisi masjid terdapat sebuah makam yang diberi pagar, tetapi tidak jelas makam siapa. Menurut pengurus masjid, Nasruddin (35), ada dua versi, versi pertama ada yang mengatakan seorang yang cukup disegani di daerah Pajunan, sementara versi lain mengatakan, yang dikuburkan di tempat itu adalah benda-benda yang pernah dipakai untuk membangun masjid. "Kami sendiri tidak pernah membongkar makam tersebut. Pendiri masjid ini tidak dimakamkan di sini," ungkapnya.

Di sini bisa kita temui sumur sedalam setidaknya tiga setengah meter yang menjadi sumber mata air untuk keperluan masjid dan masyarakat di sekitarnya.

Akulturasi budaya
Dalam berbagai tulisan sejarah, dijelaskan bahwa proses akulturasi di Indonesia sudah terjadi semenjak masa pra-Islam, yaitu Buddha dan Hindu. Agama Hindu datang ke Indonesia dibawa oleh bangsa India. Setelah itu, datanglah agama Islam. Agama-agama tersebut kemudian bertemu dan mengadakan kontak secara terus-menerus. Akhirnya, terjadilah akulturasi di antara ketiga agama tersebut.

Wujud akulturasi tersebut dapat dilihat dari unsur budaya yang ada pada arsitektur Masjid Merah Panjunan. Unsur budaya Islam terlihat dari fisik dan fungsi masjid, terlihat pada mimbar, mihrab, tempat wudhu, dan beberapa ragam hias kaligrafi yang terlihat di tiang dan blandar.

Unsur budaya Jawa terlihat pada arsitektur masjid ini, yaitu dengan adanya tajug dan limasan. Sementara itu, pengaruh dari China adalah penggunaan beberapa keramik produksi Tiongkok untuk hiasan tempel, dan penggunaan bahan sirap seperti pada bangunan khas China.

Makna-makna filosofis dan simbol-simbol di Masjid Merah Panjunan merupakan pengaruh Hindu. Tentu saja kemudian makna filosofis dan simbol itu disesuaikan dengan ajaran Islam.

Sumber: http://www1.kompas.com/readkotatua/

Masjid Wali Loram Kulon

Di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus,hingga kini ada tradisi Nganten Mubeng di Masjid Wali. Tradisi ini mewajibkan para pengantin baru melewati pintu Barat dan Timur masjid yang berupa gapura klasik batu bata merah bercorak Hindu sebagai prosesi ijab qobul.

Mengapa mereka melaksanakan tradisi itu? Tokoh masyarakat Desa Loram Kulon, Misbahuddin di Kudus, ketika ditemui, Jumat (26/2), menyatakan tradisi Nganten Mubeng tersebut merupakan upaya mengingatkan dan mendekatkan cikal bakal keluarga baru agar selalu dekat dengan Allah.

Tradisi yang menjadi ciri khas umat Islam yang tinggal di sekitar Masjid Wali, tidak terlepas dari sejarah Masjid Wali atau At-Taqwa.

Masjid yang terletak sekitar dua kilometer dari Jalan Raya Kudus-Semarang, didirikan pada 1596-1597 pada masa peralihan Hindu-Buddha ke Islam. Masjid ini dibangun Tjie Wie Gwan, seorang pengembara Muslim dari Campa, China, yang mendarat di Jepara semasa pemerintahan Ratu Kalinyamat. Waktu itu, Jepara masih di bawah Kerajaan Demak.

Seiring berjalannya waktu, Wie Gwan yang menjadi orang kepercayaan Sultan Hadirin (suami Ratu Kalinyamat), dipercaya menyebarkan agama Islam di Kudus. Bersama Sultan Hadirin yang juga menantu Sunan Kudus, Wie Gwan membuat masjid dengan gapura menyerupai pura di Bali.

Bangunan masjid yang terbuat dari kayu jati, dilengkapi menara, sumur tempat wudlu, dan beduk. Berkat jasanya tersebut, Ratu Kalinyamat menganugerahi Wie Gwan nama baru, Sungging Badar Duwung.

"Sungging berarti ahli ukir, badar itu batu, dan duwung itu tatah. Sungging Badar Duwung inilah yang dipercaya sebagai cikal bakal seni ukir Kudus," kata juru jaga situs Masjid Wali, Afroh Amanuddin.

Wie Gwan konon menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya, seperti nganten mubeng, sedekah nasi kepel (nasi yang dibungkus daun jati), dan ampyang (kerupuk berwarna-warni yang terbuat dari tepung) maulid.

Afroh mengatakan, pada awal 1990-an, masjid tersebut direhabilitasi karena kayu-kayu di bangunan tersebut sudah lapuk termakan usia. Masjid yang semula berdinding papan dan berangka kayu itu pun berubah menjadi masjid yang berdinding tembok dan berangka beton.

Cagar budaya
Meskipun begitu, gapura masjid yang berbentuk seperti pura tetap dipertahankan. Pada 1996 Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah menetapkan gapura yang merupakan peninggalan sejarah berusia ratusan tahun tersebut sebagai bangunan cagar budaya.

"Selain gapura, masih ada sejumlah peninggalan lain berupa beduk, sumur, dan ukiran Sungging Badar Duwung. Beberapa peninggalan lain yang pernah ditemukan, seperti gentong berbentuk kepala barongan dan tangga menara masjid, sudah tidak diketahui lagi jejaknya," ujar Afroh.

Tak jauh dari Masjid Wali, tepatnya di timur masjid, terdapat rumah gebyok atau rumah adat Kudus yang dilestarikan. Rumah itu penuh dengan ukiran, beberapa bagian bangunannya terbuat dari kayu jati.

HENDRIYO WIDI
Sumber: http://cetak.kompas.com/

Mesjid Awwal Fathul Mubien Saksi Sejarah Islam Manado

Gema Ramadan berkumandang kencang, banyak orang berbondong-bondong beribadah ke masjid. Satu di antara tempat ibadah yang mencolok adalah masjid yang berada di bilangan Kecamatan Tuminting.

Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 1916 meter persegi, sesuai tanah hak milik No 393 Kampung Islam, tertanggal 18 Mei 1995, dipadati para jemaah dari berbagai penjuru daerah di Sulawesi Utara (Sulut).

Masjid yang dimaksud adalah Awwal Fathul Mubien. Mesjid yang bercirikan kubah berwarna hijau merupakan tonggak dari perkembang Islam di bumi Kawanua. Pengambilan penamaan masjidnya itu berasal dari kata Awwal, yang dalam bahasa Indonesia itu pertama dan Fathul bermakna pembuka serta Mubien terjemahan dari pengertian nyata. "Siapa yang memberikan nama Awwal Fathul Mubien sampai saat ini tidak diketahui," kata Ketua Yayasan Masjid Agung Awwal Fathul Mubien Hasan Jan kepada Tribun Manado, belum lama ini.

Eksistensi Masjid tersebut tidak terlepas dari kegiatan roda perekonomian para pedagang yang berasal dari Tanah Arab, Hadramaut (Yaman). Ketika itu, tepatnya pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1760, wilayah Manado yang terbuka telah menjadi daerah transit perdagangan rempah-rempah bagian timur Indonesia.

"Dahulu kala Indonesia di bagian kawasan timur seperti Ternate dan Ambon dikenal sumber perdagangan rempah-rempah berupa pala dan cengkehnya," ujar Hasan.

Bak pepatah, ada gula ada semut, seperti inilah Manado kiranya. Manado cocok sebagai tempat ideal untuk berbisnis, pedagang dari berbagai penjuru mata angin berdatangan. Mulai dari Ternate, Tidore, Makian (Maluku Utara) bahkan Hitu Ambon. Berangkat dari inilah, keberadaan masjid begitu diperlukan.

"Tercatat, masjid pertama berdiri di Manado ada sejak 1830-an. Pada waktu itu, bentuk bangunan masjid masih dalam keadaan darurat, terbuat dari timbunan tanah yang dikeraskan, beratapkan rumbia," ujar pria berkacamata ini.

Singkat cerita, delapan tahun bergulir, yakni 1838, para penduduk yang menetap di Kampung Islam mendirikan masjid yang telah memenuhi persyaratan sebagai mestinya sebagai sebuah tempat ibadah untuk jumlah banyak. "Persyaratan sebuah bangunan dikatakan sebuah masjid apabila bangunannya mampu digunakan untuk pelaksanaan shalat Jumat dan lima waktu di dalamnya," kata Hasan.

Sementara sisi perkembangan fisiknya, ukuran masjid ini dimulai dengan ukuran 8x8 meter persegi, menjadi 8x14 meter persegi. Memasuki di tahun 1967 diperluas menjadi 26x26 meter persegi. "Masjid yang saat ini berdiri merupakan bangunan yang sudah enam kali mengalami renovasi," tuturnya.

Untuk itulah, sebagai penunjang kehidupan pemukiman kaum musliman yang mapan dan aman, di Kampung Islam, pemerintah Hindia Belanda membuat kavling-kavling tanah. Setiap ukuran kavling tanahnya seluas 40x40 meter persegi dengan jumlah 40 buah, berstatus tanah eigendom, yang dibagikan kepada 40 keluarga di kampung tersebut.

"Pemerintah Hindia Belanda melakukan kebijakan tersebut sejalan dengan mulai berlakunya agrarische wet, yaitu sebuah undang-undang agraria di wilayah hukum keresidenan Manado," ujar pria berkulit warna sawo matang ini.

Sumber: tribunmanado.co.id

Masjid Jamik Objek Wisata Religius Peninggalan Soekarno

Bengkulu - Masjid Jamik yang berdiri megah di pusat Kota Bengkulu merupakan salah satu objek wisata religius peninggalan mantan presiden pertama Ir Soekarno.

Kepala Dinas Periwisata Provinsi Bengkulu Edi Nevian di Bengkulu, Sabtu menjelaskan, masjid tersebut merupakan kenang-kenangan Bung Karno semasa dalam pengasingan di Bengkulu.

"Masjid ini didesain dan dikerjakan pembangunannya oleh Bung Karno, sebagai seorang arsitek. Bangunannya banyak mempunyai ukiran yang bernilai tinggi," katanya.

Masjid yang dibangun oleh Seokarno pada tahun 1938 tersebut, kini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya, dan merupakan peninggalan sejarah bernilai tinggi.

Masjid yang terletak di Kota Bengkulu itu memiliki relief kombinasi antara Inggris, Belanda dan dipadu dengan budaya Melayu yang didirikan tanpa tiang pokok penyangga dengan Kubah menyerupai bangunan Tapanuli (Batak).

Sebelum dibangun oleh Sukarno, Masjid Jamik hanya berupa surau (mushola) yang didirikan oleh masyarakat setempat di bawah kepemimpinan Sentot Alibasyah yang juga sebagai imam.

Sentot Alibasya merupakan panglima perang Pangeran Diponegoro, yang lari dari kejaran Belanda ke Bengkulu hingga meninggal dan dimakamkan di Kelurahan Tengah Padang, Kota Bengkulu.

Bangunan yang terlihat megah itu, kini sedang direnovasi oleh pemerintah Provinsi Bengkulu, dengan tidak menghilangkan nilai historis (sejarah)-nya.

"Kita akan melakukan pemugaran atau revitalisasi itu demi menyelamatkan situs budaya, karena itu nilai historis dari Masjid Jamik tidak akan hilang," kata Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat (Ekbangra) Sekretariat Provinsi Bengkulu, Fauzan Rahim.

Revitalisasi masjid itu justru dimaksudkan agar bangunan tersebut lebih baik sebagai peninggalan sejarah karena itu dalam melakukan pemugaran bentuk aslinya akan tetap dipertahankan.

Perbaikan difokuskan pada beberapa bangunan yang rusak, serta di sekelilingnya agar lebih representatif.

Sumber: Antara News (3 maret 2008)

Masjid Dian Al-Mahri: Menikmati Indahnya Kubah Emas

Depok - Apa sih keistimewaan Masjid Dian Al Mahri? Mengapa banyak orang ingin membuktikan kemegahan tempat ibadah yang biasa disebut Masjid Kubah Emas ini? Keindahan arsitektur, lapisan emas 24 karat yang membalut kubah, dan beragam fasilitas memang membuatnya layak disebut tempat wisata religi favorit.

Sejak diresmikan pada 31 Desember 2006, Masjid Dian Al Mahri seperti menjadi ikon baru wisata religi, selain Masjid Istiqlal di Jakarta. Hampir sepanjang hari, puluhan bus wisata maupun kendaraan pribadi rela menembus kepadatan Jalan Raya Cinere-Meruyung. Kondisi ini semakin ramai terutama di akhir pekan atau saat musim liburan tiba.

Saking ramainya, pengunjung harus rela berjalan kaki kurang lebih satu kilometer sebelum mencapai pelataran masjid. Maklum, tempat parkir di areal masjid sudah tak mampu lagi menampung ratusan bus rombongan maupun kendaraan pengunjung.

Kenyataan ini dapat dijadikan gambaran bahwa masjid ini memang menjadi buruan penggemar wisata religi khususnya di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya. Saat GHS berkunjung ke masjid seluas 8.000 meter persegi ini, bus rombongan maupun kendaraan pribadi berplat luar Jakarta, seperti Cirebon, Bandung, dan beberapa kota di Jawa Tengah maupun Jawa Timur, terparkir rapi.

“Kami kelompok pengajian dari Semarang. Selain ingin menikmati keindahannya, kami juga berharap bisa salat di sini. Bagaimana sih rasanya salat di masjid sebesar ini? Sayang sebelum sampai ke masjid ini, kami sudah kecapekan di jalan,” ujar perempuan yang terlihat ngos-ngosan setelah berjalan dari tempat parkir.

Material Emas
Di siang atau malam hari, kemegahan maupun keindahan masjid Dian Al Mahri memang tak pernah surut. Selain kubah dengan lapisan emas 24 karat, puncaknya selalu berubah warna setiap fajar, tengah hari, senja, dan malam.

Masjid yang diklaim berciri arsitektur Islam kuat ini memadukan skalanya yang besar dengan ornamen yang detail guna mencerminkan kemegahan dan keindahan. Sesuai namanya, masjid ini memang menggunakan material emas dengan tiga teknik pemasangan. Pertama, serbuk emas (prada) yang terpasang di mahkota pilar. Kedua, gold plating yang terdapat pada lampu gantung, railing tangga mezanin, pagar mezanin, ornamen kaligrafi kalimat tasbih di pucuk langit-langit kubah dan ornamen dekoratif di atas mimbar. Ketiga, gold mozaik yang terdapat di kubah utama dan kubah menara.

Masjid ini menempati areal seluas 70 hektar dan merupakan bagian dari konsep pengembangan sebuah kawasan terpadu yang memfasilitasi kebutuhan setiap umat Islam akan sarana ibadah, dakwah, pendidikan, dan sosial yang menyatu dalam ruang lingkup kawasan bernama Islamic Center Dian Al Mahri.

Masjid yang terletak di Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat ini terbagi atas ruangan utama masjid, ruang mezanin, halaman dalam, selasar atas, selasar luar, dan ruangan fungsional lainnya yang mampu menampung 15 ribu jamaah untuk pelaksanaan salat. Untuk acara majelis taklim mampu menampung hingga 20 ribu orang.

Secara umum, arsitekturnya memiliki tipologi masjid dengan ciri kubah, minaret, halaman dalam, serta penggunaan detail atau hiasan dekoratif dengan elemen geometris dan obelisk (ukiran bergaya Mediteranian untuk memperkuat ciri keislaman pada arsitekturnya.

Batu Granit dari Brasil
Lebih lanjut, halaman dalam berukuran 45 x 57 meter, mampu menampung 8.000 orang. Salah satu sisinya berhubungan dengan ruang salat, sedangkan sisi lainnya dibatasi selasar dengan deretan pilar-pilar berbalut batu granit dari Brasil. Minaret atau menara masjid berbentuk segienam berjumlah enam yang melambangkan rukun iman, menjulang ke angkasa setinggi 40 meter. Keenam minaret ini dibalut granit abu-abu dari Italia dengan ornamen yang melingkar. Tepat pada puncaknya terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat.

Bagian paling menonjol, yakni kubah, mengacu pada kubah masjid di Persia dan India. Lima kubah ini melambangkan rukun Islam. Seluruhnya dibalut mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya didatangkan dari Italia.

Di bagian dalam masjid berdiri pilar-pilar kokoh yang menjulang ke atas guna menciptakan skala ruang yang agung, membuat mereka yang berada di dalamnya akan merasa kecil dan membangkitkan suasana tawadhu dalam keagungan Tuhan. Ruangan masjid didominasi monokrom dengan unsur utama warna krem untuk memberi karakter ruangan yang tenang dan hangat.

Materialnya, menurut seorang penjaga masjid, adalah marmer dari Italia dan Turki. Ornamennya menggunakan marmer hitam untuk mendapatkan unsur sakral serta warna emas untuk keindahan dan kekuatan.

Di bagian luar masjid, terdapat taman-taman yang mengitari seluruh bagian, sehingga mampu menghidupkan suasana kesejukan dan keteduhan bagi pengunjung. Konsep penataan merupakan kolaborasi antara arsitektur bangunan masjid bernuansa Timur Tengah di lingkungan tropis. Masih satu kompleks, tersedia ruko yang menjajakan beragam aksesori untuk cinderamata, vila tempat para pengunjung menginap, serta rumah tinggal pemilik mesjid.

Memasuki bulan Ramadan, di siang hari, jumlah pengunjung cenderung menurun. Di hari-hari biasa, masjid ini ramai dikunjungi dari pukul 10.00 hingga 20.00. Sebaliknya, selama bulan Ramadan, aktivitas justru mulai terlihat saat sore hari. Selain itu, setiap hari juga digelar buka puasa bersama di Gedung Serba Guna yang didahului dengan taushiyyah pengantar buka puasa mulai pukul 16.00-17.00.

Masjid ini, seperti masjid lain, juga menggelar salat tarawih berjamaah selama bulan Ramadan. Tanggal 28 September nanti, sekaligus menyambut malam Nuzulul Qur`an, digelar beragam acara mulai pukul 05.00 hingga tengah malam. Puncaknya saat Lebaran tiba, diselenggarakan salat Idul Fitri 1 Syawal 1428 H dengan imam Ustad H Amiruddin Said SQ dan khatib dai kondang Ahmad Al Habsyi.

Untuk menuju lokasi mesjid kubah emas, pengunjung dapat melintasi Jalan Raya Cinere, Jakarta Selatan. Namun, disarankan menghindari hari Sabtu dan Minggu karena lalu lintas Jalan Raya Cinere-Meruyung relatif padat, sehingga tak jarang terjadi kemacetan parah.

Sejauh ini akses jalan menuju lokasi menjadi persoalan serius bagi pemilik sekaligus pemerintah Kota Depok. Tujuannya agar pengunjung lebih nyaman dan masjid ini kian menjadi tempat wisata religi favorit.

Sumber: www.kompas.com (14 Maret 2008)

Masjid Lau Tze, Budaya Tionghoa dan Nilai Islami

Jakarta - Beberapa truk lalu lalang melintasi Jalan Lautze, Pasar Baru yang padat pertokoan dan lebih dikenal dengan kawasan Pecinan. Kabarnya di antara deretan rumah toko (ruko) itu terdapat sebuah masjid bagi warga Tionghoa dan penduduk sekitar area tersebut.

Sudah setengah jam berkeliling di deretan ruko, tapi belum tampak masjid yang dimaksud. Ternyata papan nama masjid yang biasa disebut Lau Tze itu tertutup badan truk yang menurunkan muatan di toko sebelahnya.

Selain itu, arsitektur bangunan sama sekali tak menunjukkan seperti masjid dengan kubah yang biasanya identik dengan warna hijau. Ya, masjid Lau Tze memang berada di Jalan Lau Tze 87-89, Kelurahan Karanganyar, Sawah Besar, Jakarta.

Bangunan berlantai empat gabungan dua unit ruko ini kental dengan nuansa Tionghoa. Dua pintu utama di bagian depan dicat merah menyala sangat kontras dengan masjid pada umumnya yang berwarna hijau atau kuning.

Kalau masuk ke dalam, di belakang mimbar digantung sepasang kaligrafi Arab ala Shu Fa atau kaligrafi Tionghoa asli buatan Beijing. Tak hanya arsitekturnya yang unik, jemaah masjid ini pun hampir sebagian besar warga Tionghoa yang tinggal berpencar di berbagai daerah di Jakarta dan sekitarnya. "Ada yang dari Bogor, Depok, Bekasi, justru jemaahnya paling banyak tak berasal dari kawasan sekitar sini. Mereka biasanya para mualaf yang masih belum fasih sholat dan perlu belajar agama Islam," kata Sekretaris Harian Yayasan Haji Karim Oei yang mengelola masjid Lau Tze, Senin (1/9) kemarin.

Masjid Lau Tze yang didirikan sejak 1961 ini dipakai sebagai pusat informasi bagi warga Tionghoa yang ingin belajar agama Islam. Lantai 1 dan 2 digunakan untuk sholat, biasanya kalau sholat Jumat tidak cukup hingga lantai 3 pun dipakai. "Memang masjid ini beda dengan yang lain, dibuka pukul 09.00-16.00 WIB karena kantor yayasan Haji Karim Oei di lantai 3, maka menyesuaikan jam kantor. Jadi hanya dua waktu sholat yang bisa diikuti yakni zuhur dan asar," tutur Anna.

Beberapa warga Tionghoa yang menjadi mualaf biasanya dibimbing dulu untuk belajar sholat. Mereka biasanya canggung untuk masuk ke masjid, apalagi yang sholatnya belum lancar. "Nah, kami dari yayasan berupaya mengenalkan pada warga Tionghoa bagaimana Islam itu, tapi kalo mereka sudah lancar sholat ya kami sarankan ke masjid terdekat supaya berbaur dengan pemeluk Islam di sekitar mereka," ujar Anna.

Saat Kompas.com berkunjung ke masjid tersebut, bertepatan dengan waktu sholat ashar. Tampak beberapa pria Tionghoa selesai wudhu dan berjajar mengambil tempat di belakang imam, lalu mereka terhanyut dalam suasana khusyuk. Selesai sholat, mereka bersalaman dan bercakap-cakap satu sama lain.

Ahmad, salah satu jemaah di mesjid itu juga mengakui saat pertama mengenal sholat dari istrinya yang muslim, ia sempat merasa tidak percaya diri untuk melakukannya di masjid dekat rumahnya. "La, pernah saya tuh mau mampir aja, baru masuk gerbangnya, sudah diliatin semua orang, apa mungkin karena mata saya sipit ya," katanya sambil tertawa lebar.

Lalu ia mendengar kabar Masjid Lau Tze bisa melayani pendampingan bagi mualaf Tionghoa. "Saya tak perlu pikir dua kali, setiap Minggu ada pengajian bersama, saya berkomitmen untuk datang. Tapi sudah dua bulan ini, saya sholat di mesjid deket rumah," tutur pria berkacamata yang tinggal di Depok itu.

Sarana Pembauran
Pengalaman Ahmad itulah yang diharapkan oleh penggagas berdirinya masjid untuk berdakwah bagi kaum Tionghoa di Indonesia. Idenya memang untuk mengenalkan agama Islam pada warga Tionghoa. Mengingat sebelumnya telah terbentuk stereotip bahwa orang Tionghoa masuk Islam maka ia ‘turun kasta‘ atau menjadi warga negara kelas tiga (pembagian kelas warga negara jaman penjajahan Belanda).

"Memang saya pernah diajar oleh orang tua saya, kamu boleh pindah agama, asal jangan Islam. Ini malah membuat saya bertanya-tanya kenapa, tapi baru masa tua saya mencari tahu dan malah menjadi Muslim sekarang," jelas Ahmad.

Ahmad mengakui pembauran antara etnis Tionghoa dengan penduduk pribumi yang mayoritas memeluk Islam lebih cepat terjadi melalui agama dan pernikahan. "Ya, itu yang terjadi pada saya, tapi saya pindah Islam bukan karena istri saya muslim. Kami sudah menikah 23 tahun, tapi saya masuk Islam baru setahun yang lalu," katanya.

Gagasan pembauran itulah yang melatarbelakangi berdirinya masjid Lau Tze. Nama yayasan yang mengelola masjid ini diambil dari tokoh Tionghoa muslim dan pengusaha sukses yakni Haji Karim Oei Tjeng Hien.

Saat ini, jemaah masjid Lau Tze yang rutin berkunjung mencapai 70 orang. Padahal tahun 1991 saat pertama kali berdiri mencapai 1000 jemaah. "Dulu masih banyak jemaah dari luar Jakarta ke sini, sekarang mereka telah terbiasa dengan warga sekitar dan sholat di wilayahnya sendiri. Semoga proses pembauran ini terus terjadi sehingga prasangka antara etnis Tionghoa dan pribumi pun bisa terkikis, karena yang dilihat kebersamaannya," tutur Anna dari Yayasan Haji Karim Oei mengakhiri pembicaraan.

Masjid Lau Tze memberi ruang untuk berkontemplasi mengenai arti kebersamaan di bulan Ramadhan ini. Kehadiran komunitas muslim Tionghoa yang mulai berbaur dengan masyarakat juga memberi warna unik pada perkembangan Islam di nusantara. (Maya Saputri)

Sumber: www.kompas.com (2 September 2008)

Masjid Santren Bagelen

Purworejo, Jawa Tengah- Purworejo dikenal menyimpan banyak benda purbakala yang masuk kategori benda cagar budaya (BCB). Salah satunya adalah Masjid Santren atau juga dikenal Masjid Kiai Baidlowi yang terletak di Dusun Santren, Desa/Kecamatan Bagelen, Purworejo. Masjid ini merupakan masjid tertua di wilayah Bagelen karena dibangun sekitar tahun 1618 M pada saat kejayaan Kerajaan Mataram Islam di bawah pimpinan Raja Sultan Agung.

Dari sejumlah sumber sejarah yang berhasil dilacak Suara Merdeka, Masjid Santren ini dibangun oleh arsitek Kasan Muhammad Shufi atas perintah istri Raja Mataram Sultan Agung sebagai hadiah atas perlawanan Kiai Baidlowi yang membantu Mataram melawan pemerintah Belanda.

Sebagai salah satu bukti bahwa Masjid Santren dibuat atas perintah istri Raja Mataram, di salah satu tiang Rawa dekat mihrab terdapat sebuah prasasti dalam huruf Arab, yang artinya; "Masjid ini dibangun di negeri yang agung untuk leluhur yang sudah meninggal atas perintah istri Sultan Mataram, diberikan kepada ustadz Baidlowi dan sebenarnya yang membuat masjid ini Khasan Muhammad Shufi, semoga dia mendapat ridla Allah, berupa nikmat dunia dan akhirat dan ditetapkan imannya".

Dari prasasti tersebut diketahui bahwa Masjid Santren dibangun oleh Khasan Muhammad Shufi saat kejayaan Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645).

Karena masjid Santren memiliki nilai sejarah, maka masjid ini termasuk dalam bangunan cagar budaya. Menurut Kiai Widodo Haryoko (56), pengurus Ta’mir Masjid Santren, nama lain Khasan Muhammad Shufi adalah Adipati Pragolopati seorang prajurit dari Mataram.

Saat itu Pragolopati dikejar-kejar oleh tentara Belanda. Dia melarikan diri dari arah utara masuk ke wilayah Bagelen dan bersembunyi di tempat seorang ulama bernama Kiai Baidlowi. Kiai Baidlowi bahkan turut membantu Pragolopati dalam peperangan melawan Belanda.

Atas jasanya itulah, Pragolopati melaporkan ke Mataram. Selanjutnya oleh istri Raja Mataram, Kiai Baidlowi dibangunkan sebuah masjid yang diarsiteki oleh Pragolopati alias Khasan Muhammad Shufi pada 1618.

Masjid Tertua
Masjid Santren termasuk masjid tertua di wilayah Bagelen dengan arsitektur tradisional Jawa dengan atap tajuk tumpang satu. Kontruksi kayu serta gonjo Masjid Santren sama dengan yang ada di Masjid Menara Kudus dan Masjid Kajoran Klaten. Di kayu blandar yang menghubungkan tiang-tiang masjid terdapat ukiran yang sangat menawan.

Masjid ini terdiri empat tiang soko guru berbentuk bulat setinggi sekitar tujuhmeter dan berdiameter 40 cm serta 12 soko rowo. Selain itu masjid ini juga memiliki mimbar dari kayu jati yang penuh dengan ukiran unik dan mencerminkan karya seni tingkat tinggi.

Hadiah masjid ini kepada Kiai Baidlowi mencerminkan keadaan pertahanan Mataram yang sangat bergantung pada hubungan baiknya dengan Bagelen. Keberadaan masjid ini menandai perkembangan Islam di wilayah Bagelen pada masa pemerintahan Sultan Agung.

Kiai Baidlowi beserta puteranya RKH Chasan Moekibad dimakamkan di areal masjid ini. Para peziarah di hari-hari besar Islam banyak yang berkunjung ke tempat ini.

"Di areal masjid ini juga ditemukan makam Adipati Pragolopati alias Khasan Muhammad Shufi yang membangun masjid ini," ungkap Widodo. (Nur Kholiq /CN09)

Sumber: www.suaramerdeka.com (4 September 2008)

Masjid Tiban Dibangun Sunan Kalijaga Saat Menyamar

Purworejo - Sekilas Anda mungkin merasa heran mendengar nama masjid yang satu ini. Biasanya masjid diberi nama-nama dari Bahasa Arab, seperti Baitul Muttaqin, Darul Mukminin, Darul Muttaqin, dan lain-lain. Namun, masjid yang terletak di Dusun Kauman, RT 02/RW 02 Desa Jenarkidul, Kecamatan Purwodadi, Purworejo ini memiliki nama yang kurang lazim, yaitu Masjid Tiban.

Nama itu memang terdengar aneh. Tapi tentu saja saja ada sejarah atau asbabul al nuzul yang melatarbelakangi pemberian nama tersebut. Secara etimologi Jawa, “Tiban” berarti “kejatuhan” atau dengan konotasi lain “ada secara tiba-tiba”. Lantas apa kaitannya dengan masjid tersebut?

Ya, masyarakat di sekitar Masjid Tiban percaya sejumlah benda kuno (purbakala) yang ada di masjid tersebut adalah tiban. Rasanya memang sulit dirasionalisasikan. Namun itulah fakta historis-sosilogis yang melingkupi sejarah masjid.

Imam Masjid Tiban, M Djalal Sujuti BA mengungkapkan, Masjid Tiban diperkirakan berdiri bersamaan dengan berdirinya Masjid Agung Demak. "Gaya arsitekturnya kan mirip-mirip Masjid Agung Demak," katanya.

Dia melanjutkan, konon Masjid Tiban dibangun oleh salah satu walisongo, yakni Sunan Kaliga sekitar tahun 1468 M. Namun saat membangun masjid tersebut, Sunan Kalijaga sedang menyamar menggunakan nama Syekh Udan Baring.

Di Masjid Tiban tersimpan tujuh jenis benda purbakala yang ada sejak masjid tersebut berdiri. Pertama, gapura kuno yang terletak di depan masjid. Gapura yang terbuat dari batu bata itu semula hanya direkatkan dengan tanah seperti model bangunan zaman kuno. Namun karena mengalami kerusakan, maka pada tanggal 10 Februari 1991, gapura itu dipugar. Namun bentuk keaslian dari gapura tetap dipertahankan.

Kedua, kolah bundar yang terbuat dari jambangan tanah. Kolah bundar ini pertama kalinya ditemukan di lahan persawahan Jambangan, sekitar 1,5 KM dari masjid. Kolah tersebut selanjutnya diangkat ke masjid dan diletakkan di sebelah selatan masjid. Kolah bundar itu diberi nama Al Musyaffa yang berarti Kolah Pengobatan.

Dipercaya orang yang sakit dan mandi atau minum air dari kolah tersebut akan sembuh. Kepercayaan ini tidak hanya di kalangan warga sekitar, namun tidak sedikit warga dari luar daerah yang juga percaya. Mereka mendatangi masjid tersebut hanya untuk mandi atau mengambil air untuk diminum supaya sakitnya sembuh. Juga ada yang mandi atau minum air supaya keinginanya terkabulkan. Misalnya supaya lulus ujian, mudah mendapatkan jodoh, dan bisa memperoleh pekerjaan. (Nur Kholiq /CN05)

Sumber: www.suaramerdeka.com (9 September 2008)

Masjid Saka Tunggal

Banyumas- Jawa Tengah - Berkembangnya agama Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, selama ini selalu dikaitkan dengan kiprah Wali Songo yang hidup antara abad ke-15 dan ke-16 Masehi.

Akan tetapi, keberadaan Masjid Saka Tunggal di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, menunjukkan bahwa Islam sebenarnya berkembang jauh sebelum periode sembilan wali itu.

Masjid Saka Tunggal, yang artinya hanya bertiang satu, konon dibangun tahun 1288 Masehi. Menurut imam masjid berarsitektur perpaduan Hindu-Islam tersebut, Sopani, tahun berdirinya Masjid Saka Tunggal dapat diketahui dari angka yang terpahat di salah satu sisi saka tunggal, yakni 8821. Angka tarikh tersebut dibaca terbalik sehingga terbaca 1288.

”Masjid ini memang sudah sangat tua. Usianya 720 tahun. Saya sendiri adalah imam masjid yang ke-10,” ujar Sopani, yang juga dianggap sesepuh oleh warga Desa Cikakak, Jumat (5/9).

Pendiri masjid ini adalah Mbah Mustolih. Tidak jelas dari mana Mbah Mustolih berasal. Namun, warga sekitar masjid meyakini bahwa dialah pendiri masjid dan orang yang kali pertama menyebarkan Islam di Cikakak. ”Sampai saat ini silsilah pasti tentang pendiri dan imam masjid ini belum ada, tetapi kisah turun-temurun yang kami terima seperti itu,” kata Sopani.

Jika benar Masjid Saka Tunggal berdiri sejak tahun 1288, berarti usia masjid tersebut lebih tua daripada riwayat Kerajaan Majapahit yang mulai berdiri tahun 1294 atau enam tahun sesudah masjid berdiri. Dengan kata lain, Masjid Saka Tunggal mulai dibangun pada masa kekuasaan Kerajaan Singasari.

Terlepas kebenaran tahun pendiriannya, hingga saat ini Masjid Saka Tunggal belum kehilangan sama sekali wajah aslinya. Bedanya, gebyok kayu dan gedek bambu yang semula menjadi dinding masjid ini telah diganti dengan tembok.

Salah satu tampilan asli masjid ini yang belum hilang adalah saka tunggal di tengah-tengah bangunan masjid. Saka tunggal tersebut dibuat dari galih kayu jati berukir motif bunga warna-warni.

Di bagian pangkal berdiameter sekitar 35 sentimeter. Saka ini berdiri hingga di atas wuwungan yang berbentuk limas, seperti wuwungan pada Masjid Agung Demak.

Salah satu keunikan Saka Tunggal adalah keberadaan empat helai sayap dari kayu di tengah saka. Menurut Sopani, empat sayap yang menempel di saka tersebut melambangkan ”papat kiblat lima pancer”, atau empat mata angin dan satu pusat. Papat kiblat lima pancer berarti manusia sebagai pancer dikelilingi empat mata angin yang melambangkan api, angin, air, dan bumi.

”Saka tunggal itu perlambang bahwa orang hidup ini seperti alif, harus lurus. Jangan bengkok, jangan nakal, jangan berbohong. Kalau bengkok, maka bukan lagi manusia,” ujar Sopani.

Empat mata angin itu berarti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak mau masuk angin, jangan terlalu bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh. ”Hidup itu harus seimbang,” kata Sopani.

Papat kiblat lima pancer ini sama dengan empat nafsu yang ada dalam manusia. Empat nafsu yang dalam terminologi Islam-Jawa sering dirinci dengan istilah aluamah, mutmainah, sopiah, dan amarah. Empat nafsu yang selalu bertarung dan memengaruhi watak manusia.

Keaslian lain yang masih terpelihara di masjid yang sejak tahun 1980 ditetapkan sebagai cagar budaya Banyumas tersebut adalah ornamen di ruang utama, khususnya di mimbar khotbah dan imaman. Ada dua ukiran di kayu yang bergambar nyala sinar matahari yang mirip lempeng mandala. Gambar seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan kuno era Singasari dan Majapahit.

Kekhasan masjid ini yang masih ada adalah atap dari ijuk kelapa berwarna hitam. Atap seperti ini mengingatkan atap bangunan pura zaman Majapahit atau tempat ibadah umat Hindu di Bali. Tempat wudu pun juga masih bernuansa zaman awal didirikan meskipun dindingnya sudah diganti dengan tembok.

”Karena masjid ini adalah cagar budaya, keasliannya dijaga. Sejak tahun 1965 masjid ini sudah dua kali dipugar. Selain dinding tembok, juga diberi dinding anyaman bambu serta lapisan atap seng,” kata Sopani.

Keunikan masjid ini juga terasa pada tradisionalisme keagamaan umat yang beribadah di dalamnya. Setiap akan shalat berjamaah selalu didahului dengan puji-pujian atau ura-ura yang dilagukan, seperti kidung Jawa. Beberapa jemaah menggunakan udeng atau ikat kepala biru bermotif batik.

Tata cara shalat jamaah di masjid kuno ini tak jauh berbeda dengan masjid-masjid lain pada umumnya. Khusus pada jamaah shalat Jumat, jumlah muazin atau orang yang mengumandangkan azan ada empat. Selain itu, semua rangkaian shalat Jumat dilakukan berjamaah, mulai dari shalat tahiyatal masjid, khoblal juma‘ah, shalat Jumat, ba‘dlal jum‘ah, shalat dzuhur, hingga ba‘dlal dzuhur. Semua muazin mengenakan baju panjang warna putih dan udeng atau ikat kepala khas Jawa warna biru bermotif batik.

Lalu, pesan atau khotbah Jumat dilantunkan seperti berkidung. Demikian pula dengan pembacaan ayat-ayat suci.

”Ini sudah menjadi adat kami turun-temurun. Tugas kami hanya mempertahankan agar tidak punah,” ujar Sopani.

Sumber: www.kompas.com (13 September 2008)

Masjid Amru bin Ash, Masjid Tertua di Afrika

Kairo - Mesir merupakan negeri yang penuh deM ngan bangunan bersejarah. Salah satunya adalah Masjid Amru bin Ash. Inilah masjid pertama berdiri di benua Afrika. Rumah Allah itu didirikan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga penakluk negeri Mesir, Amru bin Ash.

Masjid yang berdiri di kota Kairo itu dibangun pada tahun 641 M/21 H. Ketika saya berkunjung ke Negeri Kinanah, beberapa waktu lalu, untuk menghadiri Workshop Internasional dan Sosialisasi Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) di Kairo, sahabat saya, Mahir Mohamad Soleh, mahasiswa Universitas Al-Azhar, mengajak mengunjungi masjid tertua di Mesir yang juga tertua di benua Afrika itu.

Di Masjid Amru bin Ash, saya sempat melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Namun, shaf (barisan-red) shalat berjamaah itu tidak dilakukan di shaf yang paling depan, melainkan di shaf belakang. Menurut Mahir, hal ini dilakukan jika jamaah yang melaksanakan shalat berjamaah sedikit, namun jika membludak maka shalat berjamaah biasa dilakukan mulai dari shaf yang paling depan.

Sebelum shalat kami mengambil wudlu. Tempat wudlu di masjid itu sangat menarik, karena dibagi menjadi dua. Tempat pertama diperuntukkan bagi yang menggunakan sandal, sementara yang menggunakan sepatu bisa melepasnya dan tanpa alas kaki langsung mengambil wudlu di tempat yang disediakan.

Usai shalat, saya merebahkan diri di atas lantai masjid yang terhampar karpet merah. Angin sepoi sepoi menyapa kami. Di antara jamaah shalat Ashar pun ada yang terlelap tidur. Meski musim panas, udara di dalam masjid itu tidak terasa panas. Bagian tengah masjid itu tidak beratap dan lantai marmernya pun tidak diberi karpet.

Di tengah-tengah bagian masjid yang terbuka itu, tersedia air siap minum. Di bagian depan masjid ada sekelompok orang yang sedang berdiskusi. Saya tak tahu apa yang mereka diskusikan. Tiang-tiang masjid yang tertata rapi membuat masjid itu jadi bernilai seni tinggi. Masjid itu sempat menjadi tempat syuting film Ketika Cinta Bertasbih yang diadopsi dari novel yang sama karya Habiburrahman El-Shirazy.

Mahir mengatakan, saat hari-hari besar umat Islam dan bulan puasa, masjid itu selalu penuh, bahkan hingga di luar masjid. Selain itu, masjid ini juga oleh mahasiswa Universitas Al-Azhar digunakan untuk belajar dan menghafal Alquran. Sayangnya, saat saya di sana tidak melihat maha siswa yang sedang belajar, sebab mereka sedang menikmati liburan musim panas sesudah bersusah payah menghadapi ujian kenaikan tingkat.

Masjid itu pertama kali dibangun pada tahun 21 Hijriah/641 Masehi. Banyak para sahabat dan tabi` in yang ikut serta dalam membangun mesjid ini, sehingga sampai delapan puluh sahabat menentukan arah Kiblat, diantaranya; Zubair Bin Awam, alMiqdad, Ubadah Bin Shamat, Abu Darda, dan yang lainnya. Masjid itu berbentuk memanjang, dengan panjang 28,9 meter, dan lebar sisinya 17,4 meter, dindingnya terbuat dari batu bata, atapnya terbuat dari pelepah pohon kurma, dan ting-tiangnya dari batang pohon kurma dan memiliki enam pintu.

Masjid ini telah berulang kali direnovasi dan diperluas. Di antaranya, pada tahun 53 Hijriyah (672 M) Pangeran Maslamah bin Mukhallad al-Anshori telah memperluas masjid, kemudian diperluas oleh Pangeran Abdul Aziz bin Marwan (Gubernur Mesir ketika itu ) tahun 79 Hijriyah (698 M).

Pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan, masjid itu di perbesar oleh Abdul Malik bin Thahir. Kini, panjang Mesjid Amru mencapai120 meter, dan lebarnya 100 meter. Masjid itu juga pernah diperbaiki oleh Sultan Shalahuddin al-Ayubi pada tahun 568 H/1172 M.

Masjid Amru begitu banyak mendapat perhatian dari kalangan pemerintah, dari masa pemerintahan Khulafau Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Ayubiyyah, Dinasti Mamalik, sampai Dinasti Usmaniyah. Masjid Amru Bin Ash bukan hanya tempat untuk shalat, tetapi juga menjadi pusat pendidikan Islam pertama di benua Afrika. Imam Syafii juga pernah mengajar di masjid itu. Hal itu menunjukan bahwa masjid Amru bin Ash telah menelurkan sarjana-sajana Muslim yang andal.

Rep: Deden Mauli Darajat, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Ankara

Menyingkap jejak rasul di Masjid Sunda Kelapa

Menyimak sejarah bangunan-bangunan kuno di Jakarta memang sangat menyenangkan. Salah satunya, Masjid Agung Sunda Kelapa di Jl Taman Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat. Bangunan ini merupakan masjid pertama yang menerapkan perpaduan antara ibadah, perekonomian, dan pendidikan. Konsep ini terinspirasi oleh fungsi masjid yang dikembangkan pada zaman kerasulan beberapa abad silam. Dimana masjid menjadi pusat aktivitas ibadah dan sosial.

Perpaduan konsep ini terlihat dari sejumlah ruangan dan bangunan pendukung di areal seluas 9.920 meter persegi itu. Di antaranya, ruang ibadah utama, ruangan aula yang juga sebagai ruang dakwah, perpustakaan, kantor bagi para pengurus masjid, dan satu Rumah Sehat yang diperuntukan warga kurang mampu. Ruangan ruangan merepresentasikan kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan Rasulullah pada waktu itu.

Disamping itu, disain interior bangunan masjid ini juga kaya hiasan kaligrafi dari Timur Tengah. Salah satunya, berbentuk perahu sebagai makna simbolik kepasrahan seorang muslim saat duduk bersila dengan tangan menengadah. Sedangkan dari sisi luar, sejumlah bangunan masjid yang dibangun tahun 1971 ini terlihat unik. Misalkan, bangunan kubah dengan dihiasi batu marmer berwarna hijau berbentuk elips dan di seluruh dindingnya dihiasi kaligrafi berlafadzkan Allah.

Keindahan juga terpancar pada bagian bangunan utama yang berfungsi sebagai tempat ibadah. Bangunan utama ini disanggah dengan 12 kayu dan di sekeliling ruangan ini dipenuhi hiasan kaligrafi. Secara umum gaya arsitektur yang diterapkan pada masjid ini mengikuti gaya yang berkembang pada masa itu. Berciri modern, praktis dan sederhana dalam memilih bentuk pintu, jendela, maupun asesoris. Ini bisa dilihat dari bentuk bangunan yang lebih mengandalkan struktur beton pada pilar, list-plang, dan atap.

Karenannya, tak heran jika bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 9.920 meter persegi ini menjadi bangunan cagar budaya golongan A. Untuk itu, secara hukum keberadaan bangunan ini dilindungi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya serta Perda Nomor 9 Tahun 1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan Bangunan Cagar Budaya. "Bangunan cagar budaya yang masuk golongan A merupakan bangunan yang keseluruhan bagiannya tidak boleh diubah dari bentuk aslinya. Jadi apa pun alasannya, pemugaran tidak dibenarkan. Kalau ada yang melanggar harus ditindak sesuai ketentuan yang berlaku," kata Arya Abieta, pemerhati bangunan tua dari Pusat Dokumentasi Arsitektur Indonesia.

Masjid ini, kata Fathurin Zen, Wakil Ketua Bendahara Pengurus Masjid, mampu menampung 5.000 jemaah. Selain sebagai tempat ibadah, pengurus masjid juga sering mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan yang berhubungan dengan pembelajaran Islam. "Selain beberapa kegiatan rutin tersebut, kita juga mengadakan kegiatan yang sifatnya internasional seperti kunjungan ke negara Islam seperti Malaysia dan Brunai. Tak jarang kita mendapat kunjungan dari negara Timur Tengah, Arab, Afrika yang mengadakan studi banding ke Masjid Agung Sunda Kelapa," kata Fathurin kepada beritajakarta.com, Kamis (30/7).

Yang paling membanggakan dari masjid ini, sambung Fathurin Zen, yakni masjid ini telah berhasil meng-Islamkan ribuan orang terhitung sejak tahun 1971. Dan sekitar 20 persen diantaranya warga asing. "Kalau dihitung jumlahnya banyak sekali. Rata-rata orang yang ingin di-Islam-kan di sini bisa dua orang per hari," imbuhnya.

Reporter: didit

Mesjid Raya Sultan Riau di Penyengat – Riau

Oleh : Taufik Ikram Jamil

Bukan Husnizar Hood (30) saja yang setiap tahun berkeinginan shalat Idul Fitri di Mesjid Sultan di Pulau Penyengat, Kabupaten Kepulauan Riau (Riau). Boleh dikatakan, keinginan seperti itu sudah menjadi semacam impian bagi banyak orang Riau, terutama bagi orang-orang di sekitar pulau tersebut seperti Tanjungpinang dan Batam.

"Jangankan shalat Idul Fitri, shalat Jumat saja banyak dilakukan orang Tanjungpinang di mesjid tersebut," kata Husnizar, seorang pengusaha muda dan penyair Riau berbakat. Untuk mencapai Penyengat-kini berstatus desa-dari Tanjungpinang yang ibukota kabupaten, orang harus naik boat pancung dengan biaya Rp 500 sekali jalan. Alat angkutan ini tersedia setiap hari sampai pukul 21.00.

Seperti halnya Husnizar, budayawan yang bertempat tinggal di Penyengat, Raja Hamzah Yunus mengaku, sebenarnya tidak ada kekhasan yang mengiringi pengerjaan shalat di Mesjid Sultan tersebut. Dalam arti lain, tidak ada tradisi khusus sebelum maupun sesudah mengerjakan shalat di mesjid itu yang kelihatan dengan mata telanjang. Shalat Jumat maupun Ied dilakukan seperti di tempat-tempat lain sebagaimana umumnya.

Paling-paling, suasana mengerjakan shalat di mesjid ini yang berbeda, itu pun tidak seberapa. Ketika shalat Ied sudah umum dilakukan di lapangan terbuka, Mesjid Sultan ini tetap menyelenggarakan Ied di dalam mesjid terutama bagi penduduk di pulau itu yang berjumlah lebih kurang 3.000 orang. Suasana lain adalah bagaimana "warna" Melayu terlihat kental pada shalat Idul Fitri.

"Semua orang yang shalat Ied di sini memakai baju Melayu, teluk belanga maupun cekak munsang," kata Raja Hamzah. Ia menambahkan, kenyataan semacam itu mungkin tidak begitu terlihat di tempat-tempat lain di Riau. Kalaupun banyak yang menggunakan baju Melayu saat shalat Ied di tempat lain, kehadirannya tidaklah mendominasi seperti halnya di Mesjid Sultan di Penyengat.

Suatu hal yang tercatat dalam sejarah adalah bahwa mesjid ini merupakan satu-satunya peninggalan Kerajaan Riau-Lingga yang masih utuh. Harap diingat, Penyengat pada akhirnya tidak saja sebagai tempat berkedudukannya seorang Yang Dipertuan Muda atau semacam Perdana Menteri Kerajaan Melayu Riau-Lingga, tetapi juga tempat kedudukan Sultan sejak tahun 1900 dengan segala macam pembangunan fisiknya; sebutlah di antaranya berbagai macam istana, mahkamah, rumah sakit, listrik, dan jaringan telepon yang tersedia sebelum abad ke-20.

Alkisah, nama pulau Penyengat muncul dalam sejarah Melayu pada awal abad ke-18 ketika meletusnya perang saudara di Kerajaan Johor-Riau yang kemudian melahirkan Kerajaan Siak di daratan Sumatera (masih di Riau). Pulau ini menjadi penting lagi ketika berkobarnya perang Riau (akhir abad ke-18) pimpinan Raja Haji Fisabilillah yang pada tahun 1997 diangkat sebagai pahlawan nasional. Raja Haji menjadikan pulau ini sebagai kubu penting yang dijaga oleh orang-orang asal Siantan, dari kawasan Pulau Tujuh di Laut Cina Selatan.

Cerita rakyat menyebutkan, nama pulau tersebut diambil dari nama binatang yakni penyengat (sebangsa lebah), semula dikenal sebagai tempat orang mengambil air dalam pelayaran di kawasan ini. Konon, suatu kali para saudagar yang mengambil air di situ diserang binatang tersebut. Pihak Belanda sendiri menjuluki pulau itu dengan dua nama yakni Pulau Indera dan Pulau Mars. Kini pulau itu lebih dikenal dengan nama Penyengat Inderasakti.

Pada tahun 1805, Sultan Mahmud menghadiahkan pulau itu kepada istrinya Engku Putri Raja Hamidah, sehingga pulau ini mendapat perhatian yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Perhatian itu semakin mantap dinikmati Penyengat, ketika beberapa tahun kemudian, Yang Dipertuan Muda Jaafar (1806-1832) memindahkan tempat kedudukannya di Ulu Riau (Pulau Bintan) ke Penyengat, sedangkan Sultan Mahmud pindah ke Daik-Lingga.

Dengan pengalamannya sebagai pengusaha timah di Semenanjung Malaya dan selalu berpergian ke berbagai tempat sebelum diangkat menjadi Yang Dipertuan Muda, Raja Jaafar membangun Penyengat dengan cita-rasa pemukiman yang molek. Sejumlah pengamat asing menyebutkan, Penyengat ditata sebaik-baiknya tempat yang terlihat dari penyusunan pemukiman, keberadaan tembok-tembok, saluran air, dan jalan-jalan. Pada gilirannya, Sultan Abdurrahman Muazamsyah, tahun 1900 memindahkan tempat kedudukannya dari Daik ke Penyengat.

Setelah menolak menandatangani politik kontrak dengan Belanda dan melakukan berbagai macam bentuk perlawanan, Sultan Abdurrahman Muazamsyah diturunkan dari tahta oleh penjajah. Tak seorang pun orang Melayu yang bersedia menjadi Sultan setelah itu, Abdurrahman Muazamsyah bahkan mengilhami orang-orang Riau meninggalkan Penyengat menuju Singapura dan Johor tahun 1911. Hanya beberapa ratus orang penduduk dari 6.000 orang penduduk waktu itu yang masih tinggal di Penyengat setelah peristiwa tersebut.

Dengan demikian, bangunan-bangunan kerajaan terbiarkan, bahkan dijarah. Selentingan dari penduduk terdengar cerita tentang bagaimana di antara para bangsawan mengharapkan agar bangunan-bangunan yang ada hendaklah dirubuhkan daripada diambil oleh Belanda. Tindakan semacam itu tidak mungkin dilakukan terhadap Mesjid Sultan, malahan rumah ibadah ini dipelihara baik sebagaimana mestinya sebuah rumah ibadah.

Sebenarnya, Mesjid Sultan di Pulau Penyengat sebagaimana disebutkan dalam Tuhfat al-Nafis (buku sejarah Melayu) karya Raja Ali Haji, dibangun seiringan dengan dihadiahkannya pulau tersebut kepada Engku Putri Raja Hamidah oleh Sultan Mahmud. Cuma saja, waktu itu, mesjid tersebut terbuat dari kayu. Raja Jaafar yang membangun Penyengat sebagai bandar modern hanya pernah memperlebar mesjid itu karena penduduk Pulau Penyengat semakin banyak.

Dalam buku Mesjid Pulau Penyengat yang disusun Hasan Junus disebutkan, pembangunan mesjid itu secara besar-besaran dilakukan ketika Raja Abdul Rahman memegang jabatan Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga (1832-1844), menggantikan Raja Jaafar. Tak lama setelah memegang jabatan itu yaitu pada tanggal 1 Syawal tahun 1284 H (1832 M) atau 165 tahun yang lalu, setelah usai shalat Ied, ia menyeru masyarakat untuk ber-fisabilillah atau beramal di jalan Allah.

Caranya adalah dengan membangun mesjid di atas tapak mesjid yang lama. Suatu mesjid yang dapat meninggalkan zaman yaitu dapat digunakan mulai saat dibina sampai kepada anak cucu mendatang. Seruan ber-fisabilillah itu sangat kuat bergaung, setelah seruan serupa dikumandangkan dalam perang Riau, sehingga berduyun-duyunlah masyarakat datang dari berbagai tempat untuk bergotong-royong. Khusus pada sepekan pertama, para lelaki selain penjaga malam, dilarang keluar rumah agar siangnya dapat menyumbangkan tenaganya untuk mesjid. Akhirnya, pembuatan fondasi mesjid selesai dikerjakan selama tiga pekan.

Tidak saja tenaga, mereka juga menyumbangkan makanan seperti beras, sagu, dan lauk-pauk termasuk telur ayam. Makanan itu berlimpah-ruah, bahkan konon putih telur sampai tidak habis dimakan. Atas saran tukang pada bangunan induk mesjid, putih telur itu akhirnya dicampur dengan semen untuk perekat batu. Itulah sebabnya mengapa banyak masyarakat menyebutkan bahwa mesjid tersebut dibuat dari telur.

Kini kawasan mesjid itu berukuran 54,4 x 32,2 meter. Bangunan induknya adalah 29,3 x 19,5 meter, disangga oleh empat tiang. Lantai bangunannya dibuat dari batu bata tanah liat. Di halaman mesjid, terdapat dua buah rumah sotoh yang diperuntukkan bagi musafir dan tempat musyawarah. Selain itu terdapat juga dua balai, tempat orang biasanya menghidangkan makanan ketika kenduri dan untuk berbuka puasa yang disediakan pengurus mesjid setiap hari seperti juga tahun ini. Khusus bangunan induk, Raja Hamzah Yunus mengatakan, "Tidak ada perubahan semenjak pertama dibangun oleh Raja Abdul Rahman."

Tak pelak lagi, keberadaannya memang amat lain dibandingkan mesjid semula yang terbuat dari kayu. Seperti dikisahkan dalam Mesjid Pulau Penyengat, semula mesjid itu berlantai batu merah empat persegi, sedangkan dindingnya terbuat dari kayu cengal (Balanocarpus heimii) yang didatangkan dari Selangor (kini masuk Malaysia). Atapnya terbuat dari kayu bekian. Hanya terdapat sebuah menara setinggi 12 hasta, ditambah sebuah kubah berukuran 17 hasta. Mesjid ini diberi pagar hidup dengan pohon-pohonan yang tumbuh merimbun.

Patutlah diakui bahwa bentuk Mesjid Sultan di Penyengat kini sangat unik. Sulit bagi orang untuk menentukan asal arsitekturnya. Ada yang mengatakan, mesjid ini bergaya India berkaitan dengan tukang-tukang dalam membuat bangunan utamanya adalah orang-orang India yang didatangkan dari Singapura. Tetapi yang jelas, arsitektur mesjid merupakan gaya campuran dari berbagai wilayah budaya seperti Arab, India, dan Nusantara. Dalam dua kali pameran mesjid pada Festival Istiqlal di Jakarta (1991-1995) disebutkan bahwa Mesjid Sultan ini merupakan mesjid pertama di Indonesia yang memakai kubah.

Terdapat 13 kubah di mesjid itu yang susunannya bervariasi seperti ada "kelompok" kubah dengan jumlah tiga dan empat kubah. Ditambah dengan empat menara yang masing-masing memiliki ketinggian 18,9 meter, maka dapatlah dijumlahkan bahwa bubung yang dimiliki mesjid tersebut sebanyak 17 buah. Ini diartikan sebagai jumlah rakaat dalam shalat yang harus dilakukan oleh setiap umat Islam dalam sehari semalam yakni subuh (dua rakat), zuhur (empat rakaat), asyar (empat rakat), maghrib (tiga rakaat), dan isya (empat rakaat).

Keunikan di dalam mesjid masih banyak. Paling menarik perhatian adalah terdapatnya mushaf Alquran tulis tangan yang diletakkan dalam peti kaca di depan pintu masuk. Mushaf ini ditulis oleh Abdurrahman Stambul tahun 1867. Ia adalah salah seorang putra Riau yang dikirim Kerajaan Riau-Lingga untuk menuntut ilmu di Istambul, Turki. Disebabkan tempat belajarnya, penulisan mushaf Alquran itu bergaya Istambul yang dikerjakannya sambil mengajar agama Islam di Penyengat.

Alquran tulis tangan lain yang ada di mesjid itu dan tidak diperlihatkan kepada umum, ternyata lebih tua yakni dibuat tahun 1752. Uniknya, di bingkai mushaf yang tidak diketahui penulisnya ini terdapat tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Alquran, bahkan terdapat berbagai terjemahan dalam bahasa Melayu terhadap kata per kata di atas tulisan ayat-ayat tersebut. Ini menunjukkan bahwa di sisi lain, orang-orang Melayu tidak saja menulis ulang mushaf, tetapi juga coba menerjemahkannya.

Tentu saja mushaf tersebut tidak dapat diperlihatkan kepada umum karena sudah amat rusak. Mushaf ini tersimpan bersama 300-an kitab dalam dua lemari di sayap kanan depan mesjid. Kita-kitab tersebut adalah sisa-sisa kitab yang dapat diselamatkan dari perpustakaan Kerajaan Riau-Lingga, Kutub Khanah Marhum Ahmadi, yang tidak terbawa bersama eksodusnya masyarakat Riau awal abad ke-20 ke Singapura dan Johor. Dalam suatu kunjungannya tahun 1970-an, Buya Hamka menilai bahwa buku-buku tersebut merupakan buku-buku penting yang tinggi nilainya dalam Islam.

Benda yang juga cukup menarik perhatian di mesjid ini adalah mimbar yang terbuat dari kayu jati. Sebuah sumber menunjukkan bahwa mimbar ini sengaja ditempah di Jepara, Jawa Tengah, sebanyak dua mimbar. Satu mimbar diletakkan di Mesjid Sultan di Penyengat ini, sedangkan mimbar lain yang berukuran lebih kecil, diletakkan pada mesjid di Daik. Jepara, memang sudah lama dikenal di Riau, bahkan misi dagang Riau yang dipimpin Raja Ahmad, sempat berada di wilayah itu tahun 1826. Di antara anggota misi ini adalah pujangga Raja Ali Haji yang keranda (peti mati) untuknya sempat juga dibuat di Jepara karena ia sakit keras ketika berada di situ.

Hasan Junus mengatakan, di dekat mimbar itu disimpan sepiring pasir yang dikatakan berasal dari Makkah al-Mukarramah, melengkapi benda-benda lain semacam permadani Turki dan lampu kristal. Pasir ini dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua yang dikenal sebagai bangsawan Riau pertama mengerjakan haji tahun 1820-an, hasil perdagangannya di Jawa sampai ke Betawi. Pasir tersebut senantiasa digunakan masyarakat dalam upacara jejak tanah, suatu tradisi menginjak tanah untuk pertama kali bagi kanak-kanak.

Husnizar Hood dan Raja Hamzah Yunus mengaku, barangkali karena penampilan suasana dalam Idul Fitri dan lintasan sejarah yang dikandung Mesjid Sultan itu yang agaknya "mengusik" hati orang luar datang mengerjakan shalat Idul Fitri atau Jumat (lihat: Naksabandiyah dan Berbagai Kegiatan). Tetapi hal itu tentu tidak dapat diuraikan sebagaimana dikatakan Husnizar, "Saya tidak tahu bagaimana nak menerangkannya. Kawan-kawan saya juga merasakan demikian, suatu ketenangan yang lain ketika berada di mesjid itu."

Pada gilirannya, kunjungan pendatang dari luar itu merupakan hikmah tersendiri bagi Mesjid Sultan. Ini terbukti banyaknya uang terkumpul dari infak dan sedekah pengunjung. Seorang pejabat Departemen Perhubungan di Jakarta beberapa tahun lalu sempat terkagum-kagum sambil mengatakan bagaimana sebuah mesjid yang berada di desa dengan mata pencaharaian penduduk adalah buruh dan pegawai negeri, memiliki kas di atas Rp 100 juta.

Keterangan terbaru menyebutkan, kas tersebut kini sudah membengkak menjadi Rp 200 juta lebih. Uang inilah yang dikelola untuk berbagai kegiatan seperti pendidikan keagamaan bagi kanak-kanak. Setiap bulan Ramadhan, pengurus menyediakan makanan berbuka puasa bagi 40 orang. Tak ada syarat untuk itu kecuali memang berpuasa dan memerlukannya. Selebihnya, dana tersebut diperlukan untuk memakmurkan mesjid.

Bayangkan saja, untuk memperindah mesjid, baru-baru ini dipasang lampu mewah pada dua menara mesjid seharga Rp 12 juta. Tak pelak lagi, dari Tanjungpinang, menara mesjid itu terlihat bagai mercusuar-seperti menjalani fungsi mercusuar sebenarnya agar orang tidak tersesat berlayar pada malam hari. Menaranya yang terang benderang terlihat seperti dua belah tangan yang mengaminkan doa ke langit, sekaligus mengingatkan orang akan wujud Allah.

Pengurus mesjid pula tampaknya tidak terlalu ortodoks terhadap pengunjung yang setiap hari mengunjunginya dalam angka relatif-dapat mencapai 1.000 orang pada hari Minggu atau pada hari libur. Mereka dipersilakan melihat-lihat keadaan mesjid setiap saat. Tentu saja, kegiatan melihat-lihat itu tidak lepas dari usaha agar tetap mengingatkan diri kepada Allah, sehingga seorang pengunjung tetap dituntut berlaku sopan. Pengunjung lelaki misalnya, tidak diperkenankan naik ke mesjid kalau hanya memakai celana pendek. Selain itu orang tidak dibenarkan mengambil foto di dalam mesjid.

Tak hanya sampai di situ. Fasilitas mesjid dapat digunakan untuk berbagai kegiatan sosial keagamaan. Dua balai yang berada di halaman mesjid, dapat dijadikan tempat diskusi keagamaan dan kebudayaan. Tahun lalu misalnya, pengurus membenarkan pengisi kegiatan Hari Raja Ali Haji mengadakan kegiatan di dalam kompleks mesjid seperti bimbingan penulisan kreatif dan latihan membacakan syair dan Gurindam Duabelas.

Ya, Mesjid Sultan merupakan salah satu dari belasan obyek wisata di Pulau Penyengat sebagai obyek wisata andalan Riau, apalagi dalam saat hari raya seperti sekarang. Tetapi untuk soal agama, Mesjid Sultan tidak bisa ditawar-tawar karena fungsinya tetaplah sebagai rumah ibadah. Mesjid ini seolah-olah hendak mengatakan bahwa pandangan terhadap dunia tidak mungkin ditutup, tetapi pandangan kepada akhirat tetap dibuka selebar-lebarnya.

Taufik Ikram Jamil, adalah sastrawan, budayawan, dan wartawan, serta peraih penghargaan Sagang dalam kategori Seniman Terbaik (2003)

www.angelfire.com

Dari Masjid sampai Mushaf Tua, Jejak Peradaban Islam di Ambon

Oleh : Azis Tunny

Seperti halnya sejumlah wilayah lain di Indonesia yang menyimpan sejarah peradaban agama-agama dunia, Nusa Apono atau Pulau Ambon juga menyimpan peninggalan sejarah Islam yang masih ada hingga kini. Di utara Pulau Ambon, tepatnya di Negeri (desa) Kaitetu Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, berdiri Masjid Tua Wapauwe yang telah berumur tujuh abad. Masjid yang dibangun pada tahun 1414 Masehi ini masih berdiri kokoh, menjadi bukti sejarah Islam masa lampau yang tak lapuk oleh hujan panas dan tak lekang dimakan usia.

Untuk mencapai Negeri Kaitetu dimana Masjid Tua Wapauwe berada, dari pusat Kota Ambon kita bisa menggunakan transportasi darat dengan menempuh waktu satu jam perjalan. Bertolak dari Kota Ambon ke arah timur menuju Negeri Passo. Di simpang tiga Passo membelok ke arah kiri melintasi jembatan, menuju arah utara dan melewati pegunungan hijau dengan jalan berbelok serta menanjak. Sepanjang perjalan kita bisa menikmati pemandangan alam pegunungan, dengan sisi jalan yang terkadang memperlihatkan jurang, tebing, atau hamparan tanaman cengkih dan pala hijau menyejukkan mata.

Sebelum mencapai Kaitetu, kita terlebih dahulu bertemu Negeri Hitu, yang terletak sekitar 22 kilometer dari Ambon. Sebuah ruas jalan yang menurun, mengantarkan kita memasuki Hitu. Pada ruas jalan tersebut kita disuguhi panorama pesisir pantai Utara Pulau Ambon yang indah dengan hamparan pohon kelapa dan bakau. Dari situ juga, kita dapat melihat dengan jelas Selat Seram dengan lautnya yang tenang.

Tiba di simpang empat Hitu, kita harus membelokkan kendaraan ke arah kiri, atau menuju arah barat menyusuri pesisir Utara Jazirah Hitu. Baru setelah kita menempuh 12 kilometer perjalanan dari situ, kita akan menemukan Negeri Kaitetu.

ARSITEKTUR ASLI
Masjid yang masih dipertahankan dalam arsitektur aslinya ini, berdiri di atas sebidang tanah yang oleh warga setempat diberi nama Teon Samaiha. Letaknya diantara pemukiman penduduk Kaitetu dalam bentuk yang sangat sederhana. Konstruksinya berdinding gaba-gaba (pelepah sagu yang kering) dan beratapkan daun rumbia tersebut, masih berfungsi dengan baik sebagai tempat ber-shalat Jumat maupun shalat lima waktu, kendati sudah ada masjid baru di desa itu.

Bangunan induk Masjid Wapauwe hanya berukuran 10 x 10 meter, sedangkan bangunan tambahan yang merupakan serambi berukuran 6,35 x 4,75 meter. Typologi bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Bangunan asli pada saat pendiriannya tidak mempunyai serambi.

Meskipun kecil dan sederhana, masjid ini mempunyai beberapa keunikan yang jarang dimiliki masjid lainnya, yaitu konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu.

Hal lainnya yang bernilai sejarah dari masjid tersebut yakni tersimpan dengan baiknya Mushaf Alquran yang konon termasuk tertua di Indonesia. Yang tertua adalah Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy yang selesai ditulis (tangan) pada tahun 1550 dan tanpa iluminasi (hiasan pinggir). Sedangkan Mushaf lainnya adalah Mushaf Nur Cahya yang selesai ditulis pada tahun 1590, dan juga tanpa iluminasi serta ditulis tangan pada kertas produk Eropa.

Imam Muhammad Arikulapessy adalah imam pertama Masjid Wapauwe. Sedangkan Nur Cahya adalah cucu Imam Muhammad Arikulapessy. Mushaf hasil kedua orang ini pernah dipamerkan di Festival Istiqlal di Jakarta, tahun 1991 dan 1995.

Selain Alquran, karya Nur Cahya lainnya adalah: Kitab Barzanzi atau syair puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, sekumpulan naskah khotbah seperti Naskah Khutbah Jumat Pertama Ramadhan 1661 M, Kalender Islam tahun 1407 M, sebuah falaqiah (peninggalan) serta manuskrip Islam lain yang sudah berumur ratusan tahun.

Kesemuanya peninggalan sejarah tadi, saat ini merupakan pusaka Marga Hatuwe yang masih tersimpan dengan baik di rumah pusaka Hatuwe yang dirawat oleh Abdul Rachim Hatuwe, Keturunan XII Imam Muhammad Arikulapessy. Jarak antara rumah pusaka Hatuwe dengan Masjid Wapauwe hanya 50 meter.

WARISAN SEJARAH
Bukan suatu kebetulan, Masjid Wapauwe berada di daerah yang mengandung banyak peninggalan purbakala. Sekitar 150 meter dari masjid ke arah utara, ditepi jalan raya terdapat sebuah gereja tua peninggalan Portugis dan Belanda. Kini gereja itu telah hancur akibat konflik agama yang meletus di Ambon tahun 1999 lalu. Selain itu, 50 meter dari gereja ke utara, berdiri dengan kokoh sebuah benteng tua "New Amsterdam". Benteng peninggalan Belanda yang mulanya adalah loji Portugis.

Benteng New Amsterdam terletak di bibir pantai ini dan menjadi saksi sejarah perlawanan para pejuang Tanah Hitu melalui Perang Wawane (1634-1643) serta Perang Kapahaha (1643-1646).

"Masjid ini memiliki nilai historis arkeologis yang penting. Didalamnya terpancar budaya masa lalu sehingga perlu kita lestarikan," kata Mantan Pejabat Negeri Kaitetu Djafar Lain.

Dilain pihak, Djafar berharap agar keberadaan Masjid Wapauwe beserta beberapa peninggalan sejarah Islam lainnya yang sudah tua, bisa menjadi salah satu wilayah atau daerah tujuan wisata di Kepulauan Maluku.

"Sebelum kerusuhan memang banyak pengunjung (wisatawan, red) yang datang kemari, karena selain masjid ada juga gereja tua dan benteng. Kondisinya berubah saat pecah kerusuhan, sekarang pengunjungnya sudah kurang malah tidak ada lagi," ungkapnya.

Berdirinya Masjid Wapauwe di Negeri Kaitetu tidak terlepas dari hikayat perjalanan para mubaligh Islam yang datang dari Timur Tengah membawa ciri khas kebudayaannya ke dalam tatanan kehidupan masyarakat yang mendiami bagian utara Pulau Ambon, yakni jazirah Hitu yang dikenal dengan sebutan Tanah Hitu. Ciri khas ini kemudian melahirkan satu peradaban yang bernuansa Islam dan masih bertahan dilingkungan masyarakat setempat hingga saat ini seperti, budaya kesenian (hadrat), perkawinan, dan khitanan.

Mulanya Masjid ini bernama Masjid Wawane karena dibangun di Lereng Gunung Wawane oleh Pernada Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara). Kedatangan Perdana Jamilu ke Tanah Hitu sekitar tahun 1400 M, yakni untuk mengembangkan ajaran Islam pada lima negeri di sekitar pegunungan Wawane yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly, yang sebelumnya sudah dibawa oleh mubaligh dari negeri Arab.

Masjid ini mengalami perpindahan tempat akibat gangguan dari Belanda yang menginjakkan kakinya di Tanah Hitu pada tahun 1580 setelah Portugis di tahun 1512. Sebelum pecah Perang Wawane tahun 1634, Belanda sudah mengganggu kedamaian penduduk lima kampung yang telah menganut ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Merasa tidak aman dengan ulah Belanda, Masjid Wawane dipindahkan pada tahun 1614 ke Kampung Tehala yang berjarak 6 kilometer sebelah timur Wawane. Kondisi tempat pertama masjid ini berada yakni di Lereng Gunung Wawane, dan sekarang ini sudah menyerupai kuburan. Dan jika ada daun dari pepohonan di sekitar tempat itu gugur, secara ajaib tak satupun daun yang jatuh diatasnya. Tempat kedua masjid ini berada di suatu daratan dimana banyak tumbuh pepohonan mangga hutan atau mangga berabu yang dalam bahasa Kaitetu disebut Wapa. Itulah sebabnya masjid ini diganti namanya dengan sebutan Masjid Wapauwe, artinya masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu.

Pada tahun 1646 Belanda akhirnya dapat menguasai seluruh Tanah Hitu. Dalam rangka kebijakan politik ekonominya, Belanda kemudian melakukan proses penurunan penduduk dari daerah pegunungan tidak terkecuali penduduk kelima negeri tadi. Proses pemindahan lima negeri ini terjadi pada tahun 1664, dan tahun itulah ditetapkan kemudian sebagai tahun berdirinya Negeri Kaitetu.

Menurut cerita rakyat setempat, dikisahkan ketika masyarakat Tehala, Atetu dan Nukuhaly turun ke pesisir pantai dan bergabung menjadi negeri Kaitetu, Masjid Wapauwe masih berada di dataran Tehala. Namun pada suatu pagi, ketika masyarakat bangun dari tidurnya masjid secara gaib telah berada di tengah-tengah pemukiman penduduk di tanah Teon Samaiha, lengkap dengan segala kelengkapannya.

"Menurut kepercayaan kami (masyarakat Kaitetu, red) masjid ini berpindah secara gaib. Karena menurut cerita orang tua-tua kami, saat masyarakat bangun pagi ternyata masjid sudah ada," kata Mahmud Hatuwe, warga Kaitetu saat mengantarkan Radio Vox Populi melihat lokasi kedua masjid Wapauwe.

Sementara itu, kondisi Mushaf Nur Cahya beserta manuskrip tua lainnya tampak terawat meskipun sudah mengalami sedikit kerusakan seperti berlobang kecil, sebagian seratnya terbuka dan tinta yang pecah akibat udara lembab. Menurut Rahman Hatuwe, ahli waris Mushaf Nur Cahya, kerusakan tersebut akibat faktor kertasnya yang sudah tua, debu, kelembaban udara serta insek (hewan) kertas. Dia menambahkan, pihaknya pernah mendapat obat serbuk (tidak disebutkan namanya) untuk menjaga keawetan manuskrip-manuskrip tua ini, hanya saja obat tersebut sudah habis.

"Alquran Nur Cahya ini masih jelas, dan waktu-waktu tertentu saya masih sering membaca (ayat-ayat suci Alquran dari Mushaf ini, red) seperti pada waktu Ramadhan sekarang ini," kata Rahman yang adalah keturunan VIII Imam Muhammad Arikulapessy.(vp)

-

Arsip Blog

Recent Posts