Tampilkan postingan dengan label Mataram. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mataram. Tampilkan semua postingan

Rekrutmen Guru Honorer SMA/SMK di NTB Dilakukan November Mendatang

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, H. Muh.Suruji menyatakan rekrutmen pegawai honorer Pemprov NTB yang terdiri atas guru dan pegawai tata usaha dipastikan akan dilaksanakan pada bulan November 2017 mendatang. Demikian disampaikannya saat ditemui di Kantor Gubernur NTB, Selasa, 24 Oktober 2017.

“Daftar nama sekolah dan mata pelajaran yang dibutuhkan itu sudah ada. Kemarin menunggu KUA PPAS karena kita pengen tahu dianggarkan atau tidak. Nah sekarang sudah jelas di TAPD sudah dianggarkan dari usulan kita Rp 125 miliar, dianggarkan Rp 60 miliar,” ungkap Suruji.

Saat ini, Dikbud NTB bersama Badan Kepegawaian Daerah (BKD) NTB tengah menyusun persyaratan bagi peserta rekrutmen. Sekaligus persiapan publikasi pada khayalak umum mengenai rekrutmen tersebut.

“Lalu setelah itu baru ada proses pendaftaran, sesuai permintaan BKD dilaksanakan di tiap-tiap kabupaten/kota. Seleksinya untuk kompetensi dasar itu juga di kabupaten/kota, karena seleksi ini kan menggunakan computer based test (CBT). Di semua kabupaten/kota kan kita punya CBT,” imbuhnya.

“Oktober ini selesai dia proses persiapan, pengumumannya, awal November diumumkan dan sebelum 31 Desember sudah ada hasilnya. Pokoknya tesnya November,” lanjutnya.

Status para guru dan pegawai honorer yang lolos seleksi tersebut dikatakan Suruji adalah sebagai guru honorer daerah. Gaji yang diterima akan disesuaikan dengan jam pelajaran (JP) tiap guru honorer di sekolah. Dipastikannya, gaji yang diperoleh tidak berbeda jauh dengan standar upah minimum provinsi (UMP).

Ditanya tentang anggaran yang jauh dari jumlah yang diajukan, Suruji tidak khawatir. Menurutnya, kekurangan anggaran tersebut bisa ditambah nantinya. “Ndak ada tapinya, kalau itu kurang kan tinggal ditambah. Kalau namanya gaji kan kalau kurang tinggal ditambah. Pokoknya kita rekrut sesuai target 5.200 itu, dengan tata usaha dan juga guru beberapa mata pelajaran untuk SMA/SMK swasta terutama yang berada di bawah pondok,” tandasnya.

Perlu diketahui, rekrutmen guru dan pegawai honorer daerah ini hanya diperuntukkan bagi honorer yang bekerja di SMA/SMK/SLB negeri yang telah dialihkan menjadi tanggung jawab Pemprov NTB. Selain itu, tidak bisa mengikuti rekrutmen. (ros)

Terasa, Dampak Positif Wisata Halal Lombok

Mataram, NTB - Penghargaan Lombok sebagai tujuan wisata halal terbaik mulai terasa dampaknya. Meski masih sedikit jumlahnya, wisatawan Timur Tengah, Brunei, dan Malaysia mulai berdatangan.

Demikian kata Ketua Umum Asita, Asnawi Bahar dan Deputi Pengembangan dan Destinasi Pariwisata Kementerian Perindustrian Dadang Rizki Ratman seusai acara pembukaan International Halal Travel Fair dan Rapat Kerja Nasional Asita 2016, di Mataram, NTB. Acara dibuka Wakil Gubernur NTB M Amin, Rabu (21/9/2016).

Pulau Lombok dikukuhkan sebagai The World Best Halal Tourism Destination dan The World Best Halal Honeymoon Destination dalam ajang The World Halal Travel Summit/Exhibition di Uni Emirat Arab.

Menurut Asnawi, secara umum kunjungan pariwisata nasional sudah naik, khususnya Lombok. ”Dulu wisatawan Malaysia banyak ke Padang, Medan, dan Bandung. Sekarang mulai banyak yang memilih Lombok untuk menikmati wisata halal,” ujarnya

Kenaikan jumlah kunjungan wisatawan itu sangat terasa sejak setahun terakhir karena gencarnya promosi yang dilakukan pelaku pariwisata. Namun, promosi saja tidak cukup, harus ada upaya lebih. Para pengambil kebijakan juga harus menyiapkan sarana infrastruktur, sumber daya manusia, dan sarana pendukung lainnya.

”Pokoknya pemerintah daerah harus siap dengan segala ’bunyi’ wisata halal itu,” katanya.

Hal senada dikatakan Dadang. Keberhasilan Indonesia dilihat dari peringkat Global Moslem Travel Index (GMTI). Hasil penilaian GMTI, Indonesia berada di peringkat ke-6 pada 2014 dan peringkat ke-4 pada 2015. ”Pak Menteri minta jadi peringkat pertama pada 2019,” ujarnya.

Karena itu, Kementerian Pariwisata membentuk Tim Percepatan Pengembangan Wisata Halal. Tim ini memberikan masukan kepada Pemda Aceh, Sumatera Barat, dan Lombok sebagai tujuan wisata halal.

Cherry Abdul Hakim, General Manager Hotel Jayakarta Lombok, mengungkapkan, kemenangan itu sangat berdampak. Hal ini dilihat dari negara asal wisatawan yang menginap di hotel. Pada 2014, jumlah wisatawan dari Timteng 405 orang dan Malaysia 502 orang. Pada 2015, kunjungan wisatawan Timteng naik menjadi 935 orang dan Malaysia 1.719 orang.

Menurut HM Fauzal, Kepala Dinas Pariwisata NTB, pada 2016 ditargetkan 2 juta kunjungan wisatawan. Kunjungan wisatawan ke NTB periode Januari-Agustus mencapai 1,8 juta.

Pada 2015, jumlah wisatawan ke NTB mencapai 2,21 juta wisatawan. NTB diharapkan menyumbang 10 persen (3 persen) dari 20 juta target kunjungan nasional tahun 2019.

Karena itu, berbagai fasilitas dan akomodasi di NTB diupayakan mendapat sertifikasi halal. Majelis Ulama Indonesia NTB mengeluarkan 145 sertifikat halal bagi hotel yang memiliki restoran dan rumah makan. Jumlah itu masih sedikit dibandingkan dengan jumlah hotel (904) dan restoran 1.379.

Ribuan Warga Ramaikan Bulan Budaya Lombok Sumbawa

Mataram, NTB - Ribuan warga kota Mataram menghadiri pembukaan Bulan Budaya Lombok-Sumbawa 2016 yang dirangkai dengan pawai budaya, di Kota Mataram, Kamis.

Pembukaan Bulan Budaya Lombok-Sumbawa (BBLS) 2016 dilakukan Wakil Gubernur NTB H Muhammad Amin dihadiri Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata Hesti Retno Astuti, Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh, Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana dan sejumlah pejabat instansi terkait di NTB.

Wakil Gubernur NTB H Muhammad Amin mengatakan saat ini pariwisata NTB sudah dikenal secara nasional dan dunia.

Bahkan, Pemerintah Provinsi NTB menargetkan di tahun 2016 jumlah kunjungan wisatawan mencapai 3 juta orang.

Untuk mendukung target 3 juta wisatawan itu, NTB, kata Muhammad Amin, perlu menata destinasi wisata agar lebih baik. Mulai dari sisi infrastruktur, kebudayaan, hingga kesenian yang dimiliki.

"Kita tahu jika dikelola serius dektor pariwisata mampu menggerakkan ekonomi, mendorong kesejahteraan masyarakat, membuka peluang kerja, dan dapat mengurangi angka kemiskinan, karena NTB masih tinggi angka kemiskinannya," kata Muhammad Amin.

Sementara Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata Hesti Retno Astuti menyatakan Kementerian Pariwisata berkomitmen dan mengapresiasi bagi daerah yang menyelenggarakan kegiatan pariwisata.

Ia menjelaskan, kegiatan pariwisata, seperti BBLS 2016 semaksimal mungkin harus dikemas dengan baik, dipromosikan karena bisa mendatangkan wisatawan.

"Saat ini NTB menargetkan 3 juta wisatawan. Sementara secara nasional pemerintah menargetkan pada tahun ini bisa mendatangkan 12 juta wisatawan mancanegara," jelasnya.

Menurut dia, dengan target kunjungan wisatawan itu, NTB memiliki potensi yang sangat komplit dalam pariwisata, mulai wisata alam, kuliner, budaya, hingga kesenian. Terlebih lagi dengan wisata budayanya cukup kental, karena memiliki multi etnis dan masih terjaga pada akulturasi budaya asli.

"Ini perlu terus dipelihara, tetapi perlu juga untuk dikreasikan, karena tanpa ada sentuhan kreasi, maka tidak akan menarik," katanya.

Retno menambahkan, dalam menjaga itu, semua pihak harus terlibat. Terutama, pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, dan masyarakat.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata sangat mendukung pengembangan pariwisata NTB. Bahkan, NTB memiliki potensi wisata halal. Sehingga, bisa dijadikan daya tarik wisatawan.

"Karenanya pemerintah, pelaku industri pariwisata dan daerah harus bisa bersinergi untuk bisa meraih target 3 juta wisatawan itu," katanya.

Mengenal Kehidupan & Tradisi Menikah Suku Sasambo di NTB

Mataram, NTB - Provinsi NTB di Lombok didiami oleh tiga suku berbeda, yakni Sasak, Samawa dan Mbojo yang biasa didingkat Sasambo. Mereka pun punya tradisi menikah yang unik.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki 1.340 suku menurut sensus penduduk tahun 2010. Suku tersebut tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Tidak sedikit juga di suatu daerah di Indonesia terdapat lebih dari satu suku. Misalnya saja di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang memiliki tiga suku yaitu Sasak, Samawa, dan Mbojo.

Ketiga suku tersebut tersebar di Pulau Lombok dan ada juga yang terdapat di Pulau Sumbawa. Untuk di Pulau Lombok itu didiami oleh suku Sasak. Sementara untuk Pulau Sumbawa didiami oleh Samawa dan Mbojo. Ketiganya sering disingkat sasambo (Sasak, Samawa, dan Mbojo).

"NTB itu banyak banget kekayaan budayanya. Orang-orang NTB saja punya tiga bahasa yang beda. Bahasa Sasak itu untuk masyarakat suku sasak di Lombok, samawa itu untuk di Sumbawa dan Sumbawa Barat, serta Nggahi Mbojo di Bima dan Dompu," kata Kabid Disbudpar NTB, Siti Alfiah di Kantor Disbudpar, Jalan Langko, Mataram, NTB, Jumat (27/5/2016).

Salah satu tradisi pendewasaan anak di Sumbawa (dok. Disbudpar NTB)

Dari ketiga suku tersebut ada suatu tradisi yang masih tampak. Dan itu bisa dilihat dari saat masyarakat NTB masih dalam kandungan, baru dilahirkan, bayi, anak-anak, hingga masyarakat khususnya wanita mengandung kembali.

"Tradisinya terkadang ada yang mirip di antara suku satu dan suku yang lain. Misal tradisi tujuh bulanan antara suku Mbojo dan Samawa. Itu di Mbojo ada namanya peta kapanca, Samawa ada barodak, Mbojo ada kiri lako, mereka itu punya keunikan sendiri," lanjutnya.

Namun ternyata yang membedakan adalah dari segi pernikahan. Bila di suku Sasak, pernikahan tidak diawali dengan lamaran, tetapi di Sumbawa diawali dengan lamaran.

Cadar yang menandakan status wanita di Sumbawa (dok. Disbudpar NTB)

Meski di suku sasak tidak ada lamaran, namun suku sasak mengenal merariq atau proses pra nikah dengan cara mengambil gadis idamannya.

"Jadi dia menculik, si pria menculik wanitanya itu untuk mengalihkan perhatian orang tua dan keluarganya. Sebenarnya tujuannya satu yaitu menikah," ucap Alfi.

Suku Sasak menganggap hal itu bukanlah suatu pelanggaran, melainkan suatu sikap ksatria bagi seorang pria Sasak. Pria Sasak dan gadis Sasak sama-sama sepakat untuk lari. Bila sudah berhasil tidak akan ada istilah untuk gadis Sasak dipulangkan kembali.

"Bila dipulangkan ya artinya merendahkan martabat keluarga sang gadis dan bisa panjang urusannya," tuturnya.

Selain di suku Sasak, di suku Samawa dan Mbojo juga mengenal merari. Namun merari ini beda dengan merariq di suku Sasak. Karena kedua suku ini mempunyai adat lamaran, maka merari ini diartikan sebagai kawin lari.

Budaya berkuda di Sumbawa (dok. Disbudpar NTB)

Merari terjadi di suku Samawa dan Mbojo dikarenakan salah satu pihak keluarga tidak menyetujui hubungan anak-anak mereka. Adat Samawa dan Mbojo tidak mengenal merari.

"Ya karena itu melanggar aturan adat. Yang ada hanya melamar. Kalau di Mbojo kawin lari namanya londo lha," jelas Alfi.

Kehidupan dan tradisi suku di NTB ini rata-rata kental akan nilai-nilai filosofi, aspek religius, semangat gotong royong serta keindahannya. Dan terkadang dalam beberapa hal, nilai-nilai tersebut mengalami modifikasi seiring dengan perkembangan zaman.

Kembangkan Wisata Halal, NTB Buka Diklat Budaya Arab

Mataram, NTB - Sebanyak 50 pemandu wisata mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) kepemanduan Wisata Budaya dan Bahasa Arab di Mataram, Jumat, 13 Mei 2016. Peserta adalah mantan tenaga kerja yang pernah bekerja di Timur Tengah dan santri pondok pesantren di Lombok. Diklat ini baru pertama kali diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata sehubungan dengan pengembangan wisata berlabel halal.

Selama enam hari, selain materi dasar kepariwisataan karena sebagian belum resmi menjadi pemandu wisata, disajikan materi kebudayaan dan kesenian Lombok serta peraturan daerah (perda) Nusa Tenggara Barat tentang Pariwisata Halal. Para peserta juga akan mendapatkan materi pengenalan budaya dan adat istiadat Arab.

Menurut Asisten Deputi Pengembangan Sumber Daya Manusia Kepariwisataan Wisnu Bawa Tarunajaya, diklat ini baru pertama kali diselenggarakan. “Ini yang pertama untuk pemandu wisata halal,” kata Wisnu.

Salah seorang peserta adalah bekas TKI di Arab Saudi, Haji Abdurahman, 42 tahun, asal Pringgarata, Lombok Tengah. Selama lima tahun ia bekerja sebagai sopir membantu agen perjalanan YURI milik saudaranya di Narmada, Lombok Barat. “Setelah pulang dari Saudi, sudah ikut melayani wisatawan dari sana.”

Sedangkan Sadiq dari Bidy Tour, yang juga bisa berbahasa Arab karena banyak menangani wisatawan Timur Tengah, mengingatkan adanya keperluan tempat makan tertutup. “Perempuan asal Arab Saudi kan bercadar. Kalau makan harus membuka cadarnya,” kata Sadiq.

NTB Gelar Festival Pesona Tambora

Mataram, NTB - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar Festival Pesona Tambora tahun 2016 untuk memperingati 201 tahun Gunung Tambora meletus. Pembukaan Festival ditandai dengan Opening Ceremony Festival Pesona Tambora, Sabtu (10/4/2016).

Acara ini diselenggarakan di halaman kantor gubernur NTB dan dimeriahkan oleh artis-artis Ibu Kota.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB Lalu M Faozal mengatakan, acara ini diharapkan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Sumbawa dan NTB.

"Opening ceremony dari rangkaian kegiatan Festival Tambora 2016 sebagai kelanjutan dari sukses Tambora Menyapa Dunia tahun 2015," kata Faozal.

Rangkaian acara Festival Pesona Tambora diselenggarakan di Mataram, Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima.

Asisten Deputi Sekmen Pasar Personal Kementerian Pariwisata Reseno Arya mengatakan, kegiatan Festival Pesona Tambora merupakan komitmen dari Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan Grup Kompas dan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat.

"Nanti tanggal 11-16 April 2016 akan ada Festival Pesona Tambora," kata Reseno.

Festival ini diharapkan akan mendatangkan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara. "Semoga apa yang menjadi cita-cita kita 20 juta wisman dan 260 juta wisnus dapat kita capai," kata Reseno.

Wakil Gubernur NTB M Amin mengatakan, 10 kabupaten dan kota di NTB masing-masing memiliki potensi pariwisata. Ia berharap kepada seluruh kepala daerah untuk memaksimalkan potensi yang ada di daerah.

"Terbukti industri pariwisata ini, menyumbangkan kontrisbusi yang akan mengantarkan warga ke tingkat kesejahteraan dan pengurangan angka kemiskinan," kata Amin.

Acara pada Festival Pesona Tambora 2016 yakni Tambora Running (Ultra Run 320 km & 100 km, Tambora Ultra 50 km & 25 km), Tambora Bike Event, Tambora Festival, Pulau Satonda (Tambora Literary dan Film Festival), pameran seni rupa, dan instalasi art-arche di Galeri Seni Satonda, dan Ritus Budaya Tamboraman.

Gubernur NTB Minta Kekayaan Budaya Diarsipkan

Mataram, NTB - Gubernur Nusa Tenggara Barat TGH Muhammad Zainul Majdi mengatakan produk-produk kebudayaan yang ada sejak turun temurun wajib dilestarikan. Lebih dari itu harus terdokumentasikan dan terarsipkan dengan baik. Itu dilakukan agar makna kebudayaan yang ada bisa diwariskan secara tertulis.

“Saya ingin semua kekayaan budaya NTB mulai untuk ditranskripkan atau didokumentasikan supaya tidak menjadi pengetahuan oral tapi menjadi kekayaan yang diwariskan,” ujarnya saat memberikan sambutan di acara Seminar Nasional Kebudayaan, "Strategi dan politik budaya dalam era globalisasi" di Auditorium Bank Indonesia NTB, Selasa (15/9).

Selama ini, ia menuturkan, kekayaan budaya yang ada di NTB belum diketahui maknanya oleh banyak orang.

Oleh karena itu, sejak beberapa tahun ke belakang pemerintah provinsi berupaya mendokumentasikan kekayaan budaya NTB. Namun, responnya relatif rendah dibandingkan program-program lain.

Sambil menyindir, dirinya mengatakan respon masyarakat dan pimpinan di dinas terhadap program penulisan kekayaan budaya tidak sehebat merespon program sejuta sapi. Tidak hanya itu, apresiasi terhadap budayawan pun relatif kurang. Sehingga meskipun program berjalan akan tetapi tidak maksimal.

Zainul Majdi mengajak seluruh masyarakat dan instansi pemerintahan untuk mendokumentasikan kekayaan budaya yang ada. Bahkan hasil dokumentasi tersebut bisa dimasukan dalam pelajaran muatan lokal agar kebudayaan yang ada dalam kehidupan sehari-hari bisa dipahami dan dimaknai artinya.

Tidak hanya itu, Zainul Majdi berharap agar regulasi di daerah bisa dibuat dengan memperhatikan perspektif budaya agar hasil yang ada bisa lebih baik dan utuh. Sehingga, aturan yang ada nantinya bisa menjaga NTB dengan adat dan nilai hidup yang ada.

“Saya sebagai Gubernur NTB, mengharapkan ada perspektif budaya ketika membuat pergub supaya bisa lebih baik utuh dan kalau lebih baik bisa menjaga daerah NTB ini dengan adat dan nilai hidup didalamnya. Kita tidak ingin regulasi memerosotkan budaya di NTB. Kita tidak hanya menjaga tapi menciptakan,” katanya.

Ingin Rasakan Sensasi Menenun? Kunjungi Pekan Tenun di Lombok

Mataram, NTB -Selama sepekan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) menyelenggarakan ‘Pekan Tenun’. Pengunjung bisa melihat dan bertanya langsung kepada perajin tenun tentang bagaimana proses pembuatan kain tenun. Selain itu, para pengunjung juga bisa langsung mencoba menggunakan alat tenun yang terdapat di beberapa stand.

"Bagus, kalau sudah terbiasa mungkin bisa. Ini pengalaman baru saya. Motif corak dan kekuatan kainnya bagus. Satu gini aja dua minggu katanya baru jadi," kata Tini, salah satu pengunjung yang mencoba mengoperasikan alat tenun.

Selain bisa melihat proses membuat kain tenun, pengunjung juga bisa membeli kain tenun dari para perajin. Berbagai motif kain tenun khas NTB seperti rang-rang, motif nanas hingga motif bulan begantung tersedia dalam pekan tenun.

Menurut Lina, salah satu penjual di stand tenun mengatakan, harga satu lembar kain tenun tergantung dari lamanya proses pembuatan dan tingkat kesulitan dalam menenun. Untuk menyelesaikan satu lembar kain tenun, perajin membutuhkan waktu dua minggu hingga lebih dari satu bulan. "Harganya bisa Rp 250.000 sampai satu juta lebih, tergantung motifnya," katanya.

Selain kain tenun, pengunjung juga bisa berbelanja langsung berbagai model tas, dompet, sepatu dan pakaian, yang semuanya dikreasikan menggunakan kain tenun.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB Lalu Faosal mengatakan, pekan tenun kali ini sengaja diselenggarakan di Jalan Tenun untuk mengingatkan pada masyarakat bahwa tenun harus dipertahankan, sebagai salah satu warisan budaya NTB yang memiliki nilai ekonomi tinggi. "Total ada 18 sentra pembuatan kain tenun dari Mataram sampai Sape," katanya.

Pekan tenun mulai dibuka sejak Rabu (19/8/2015). Pekan tenun juga akan dimeriahkan dengan fashion show, busana tenun, dan seminar tenun.

Beragam Atraksi Budaya Meriahkan Festival Mentaram

Mataram, NTB - Beragam atraksi budaya ikut memeriahkan "Festival Mentaram" yang diselenggarakan di sepanjang jalan Langko, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (8/8/2015). Festival Mentaram diawali dengan tarian masal melibatkan 1500 penari yang terdiri dari para pelajar dan pelaku seni dari berbagai sanggar tari di Kota Mataram.

Tarian masal yang diberi judul "Reramputan Paer Bawaq Kote Mentaram" ini memuat cerita legenda mengenai putri kerajaan cantik jelita yang sempat hilang terbawa angin dan diselamatkan oleh seorang pangeran. Legenda ini dikenal dengan Legenda Dende Seleh.

Selain tarian masal, berbagai atraksi seni dan budaya ikut memeriahkan Festival Mentaram. Seperti rudat yaitu tarian dengan gerakan pencak silat. Tarian ini merupakan tarian tradisional suku Sasak yang biasanya dibawakan untuk menyambut tamu.

Selain itu, dalam festival juga disuguhkan peresean yang merupakan seni adu ketangkasan dengan menggunakan alat pukul rotan dan perisai, nyongkolan atau tradisi masyarakat Sasak merayakan pernikahan dengan arak-arakan di jalan raya, dan gendang beleq atau musik tradisional Lombok. Ada pula ngurisan yaitu tradisi mencukur rambut bayi yang baru lahir dan praje atau sunatan yang merupakan tradisi mengarak anak yang akan dikhitan.

Selain seni dan tradisi masyarakat suku Sasak, beberapa kesenian dari daerah lain juga ditampilkan. Seperti Reog Ponorogo, tradisi potong gigi, Rimpu yaitu pakaian dari Bima, tari-tarian dari Sumbawa serta pertunjukan barongsai.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Abdul Latief Najib mengatakan, Festival Mentaram yang baru diadakan kali pertama ini nantinya akan dijadikan agenda tahunan pemerintah Kota Mataram yang akan dilaksanakan setiap bulan Agustus.

"Saya harap dengan pencanangan yang dilakukan Wali Kota Mataram Ahyar Abduh hari ini, maka Festival Mentaram akan menjadi kalender event setiap tahunnya," kata Latief.

Selain menyedot antusias masyarakat lokal dan mancanegara, pihaknya berharap festival ini nantinya dapat menggerakan seluruh stake holder di bidang pariwisata seperti travel agent, biro jasa, penerbangan, dan hotel.

"Kita berikan kesempatan masyarakat lokal yang mau mengeluarkan potensi yang ada. Enam kecamatan potensinya luar biasa. Kita punya ngurisan, nyongkolan, bekikir, tinggal kita kemas menjadi atraksi," kata Latief.

Perwakilan Empat Negara Siap Hadiri ’Festival Mataram’

Mataram, NTB - Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mataram H Abdul Latif Nadjib menyebutkan, perwakilan empat negara telah menyatakan siap menghadiri "Festival Mentaram" yang berlangsung 8-10 Agustus 2015.

"Empat negara itu adalah, Tiongkok, Pakistan, Thailand dan Malaysia. Sementara kesiapan negara lainnya kita masih menunggu kepastian namun komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri tetap kami lakukan," kata Abdul Latif Nadjib kepada wartawan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu.

Festival Mentaram yang dulunya pesertanya hanya dari Asia Tenggara kini diperluas menjadi internasional. Artinya, pesertanya tidak hanya negara-negara Asia Tenggara melainkan negara internasional akan dilibatkan untuk menampilkan berbagai hasil kesenian, kebudayaan, cerita rakyat, lukisan dan lainnya.

Pria yang kerap disapa Latif ini mengatakan, selain empat negara yang sudah menyatakan siap hadir dalam kegiatan tersebut beberapa keraton di Indonesia yang sudah mengkonfirmasi kepastiannya untuk hadir antara lain, Yogyakarta, Madura, Solo dan Bangka Belitung.

"Kami bahkan mendapat informasi sejumlah anggota DPRD dari Bangka Belitung akan ikut hadir menyaksikan Festival Mentaram," katanya.

Selain itu, peserta dari Yogyakarta dan Solo direncanakan akan membawa tim ritual bumi yang akan dipertunjukkan dalam kegiatan pagelaran seni dan budaya tersebut.

Ia mengatakan, untuk mendukung menyukseskan kegiatan Festival Mentaram yang dirangkum dalam "International Folklore Festival", pemerintah kota telah menyiapkan anggaran sebesar Rp1,2 miliar.

Menurut dia, ada tiga agenda utama yang akan dilaksanakan selama tiga hari itu, yakni agenda utama parade budaya lokal, nasional dan internasional.

Kemudian, pagelaran seni dan budaya yang akan diikuti oleh daerah dan negara yang hadir, terakhir seminar tentang "folklore" atau cerita rakyat dari berbagai daerah dan negara termasuk cerita seni dan budaya.

"Seluruh rangkaian kegiatan dalam Festival Mentaram tersebut bersifat promosi pariwisata dan potensi daerah," ujarnya.

Pasalnya, kegiatan Festival Mentaram itu akan menghadirkan sekitar 1.500 peserta terdiri atas 500 orang peserta dari perwakilan provinsi se-Indonesia dan peserta luar negeri, serta 1.000 orang merupakan peserta dari NTB.

"Ini merupakan tahun pertama kita menggelar Festival Mentaram, dan ke depan Festival Mentaram akan menjadi agenda tetap yang digelar setiap bulan Agustus menyambut HUT Kota Mataram pada setiap tanggal 31 Agustus," katanya.

Bulan Citra Budaya Lombok-Sumbawa 2015 Digelar Agustus

Mataram, NTB - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat memastikan penyelenggaran "Bulan Citra Budaya (BCB) Lombok Sumbawa 2015" dilaksanakan pada 18 Agustus mendatang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB Moh Faozal di Mataram, Sabtu (11/7/2015), mengatakan penyelenggaraan dipusatkan di kompleks Islamic Center yang tidak lain akan menjadi ikon baru pariwisata syariah NTB.

"Bulan Citra Budaya Lombok Sumbawa 2015 akan dimulai dengan pelaksanaan Mataram Carnival," katanya.

Menurut dia, kegiatan Bulan Citra Budaya Lombok Sumbawa 2015 itu, dilaksanakan dalam rangka meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke NTB, di mana NTB menargetkan 2 juta wisatawan pada tahun 2015.

"Saat ini, angka kunjungan sudah mencapai 800 ribu orang, karena kami optimistis angka kunjungan 2 juta wisatawan itu bisa tercapai," katanya.

Faozal menjelaskan, kegiatan tersebut akan melibatkan ribuan orang, termasuk para pelaku dan industri wisata, dan peserta dari sejumlah negara,

"Kehadiran peserta dari mancanegara ini nantinya akan mengisi berbagai kegiatan di BCB, salah satunya parade lintas budaya mancanegara," terangnya.

Diharapkan dengan kehadiran peserta dari luar tersebut, akan menambah kemeriahan acara yang menurut rencana akan diselenggarakan selama satu bulan penuh itu.

Selain itu, lanjut mantan Kepala Museum NTB ini, seusai kegiatan BCB tersebut, pada tahun 2015 beberapa kegiatan besar juga akan diselenggarakan di antaranya International Conference on Tropical Tourism Outlook, Konferensi Pariwisata Syariah, Internasional Green Island Forum (IGIF) dan pertemuan ahli arsitektur lansekap tingkat Asia Pasifik pada bulan Agustus 2015.

"Banyaknya kegiatan ini, kita yakin angka kunjungan wisatawan terus meningkat, dan menambah manfaat bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di NTB," tambah Faozal.

NTB Undang 10 Negara pada Bulan Citra Budaya

Mataram, NTB - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengundang 10 negara untuk ikut meramaikan Bulan Citra Budaya NTB bertajuk "bulan budaya Lombok Sumbawa 2015" pada Agustus.

"Ke sepuluh negara yang kami undang untuk berpartisipasi antara lain Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, Italia, Amerika Serikat, India, dan negara-negara di ASEAN," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB Moh Faozal di Mataram, Ahad (21/6).

Kata Faozal, kehadiran negara negara itu kan mengisi berbagai kegiatan Bulan Citra Budaya (BCB) NTB, salah satunya parade lintas budaya mancanegara. Diharapkan dengan kehadiran peserta dari luar akan menambah kemeriahan acara yang akan diselenggarakan selama satu bulan penuh itu.

"Saat ini roadmap kegiatannya sedang disusun dan hampir final," ujarnya.

Dia menjelaskan, kegiatan BCB ini akan akan menampilkan berbagai kegiatan atraksi budaya di seluruh NTB, termasuk kerajinan khas provinsi yang dikenal dengan sebutan Bumi Gora tersebut, seperti perak, mutiara, ketak, gerabah, anyam-anyaman, cukli, dan handycraf lainnya.

Selain itu, pihaknya juga akan menampilkan pentas seni lintas etnis yang tinggal di daerah itu, seperti banjar, tiongkok, arab, bugis, jawa, Maluku, dan lainnya. "Kita ingin semua etnis yang tinggal di NTB bisa terangkul dalam satu wadah," katanya.

Lebih lanjut, mantan Kepala Museum NTB ini, mengatakan tidak kalah penting dari berbagai kegiatan yang akan dihadirkan dalam BCB itu, yakni pemerintah provinsi ingin kembali menghidupkan kain tenun khas NTB yang berlokasi di Jalan Tenun, Cakaranegera, Kota Mataram. Melalui kegiatan sepekan menampilkan tenun khas NTB.

"Kegiatan sepekan tenun NTB ini kami lakukan karena pemerintah daerah ingin mengembalikan branding tenun khas daerah sebagai ikon provinsi," kata dia.

Karena itu, kata Faozal kegiatan BCB itu, nantinya dapat lebih memperkenalkan seni dan budaya NTB secara nasional hingga internasional, termasuk dapat menambah jumlah kunjungan wisatawan ke daerah itu.

Festival Mentaram Menyongsong Tambora Menyapa Dunia

Mataram, NTB - Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mataram H Abdul Latif Nadjib mengatakan, kegiatan "Festival Mentaram" merupakan bagian dari ajang promosi Tambora Menyapa Dunia.
"Promosi Tambora Menyapa Dunia tidak hanya dilakukan pada puncak acara yakni tanggal 10-11 April 2015, namun hingga akhir tahun 2015 bahkan harus berkelanjutan," katanya di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (10/3/2015) lalu.

Ia mengatakan kegiatan Festival Mentaram akan digelar pada tanggal 6-8 Agustus 2015 akan menghadirkan sekitar 1.500 peserta terdiri atas 500 orang peserta dari perwakilan provinsi se-Indonesia dan peserta luar negeri, serta 1.000 orang merupakan peserta dari NTB.

"Festival Mentaram ini akan melibatkan beberapa negara internasional yang akan menampilkan berbagai kearifan seni yang tumbuh dan berkembang secara tradisional pada masing-masing negara. Seperti halnya, kesenian bela diri capoeira dari Brasil," katanya.

Kesempatan ini juga menjadi salah satu ajang promosi pariwisata Tambora Menyapa Dunia dan NTB umumnya. Alasannya, dengan adanya kegiatan Festival Mentaram tentu banyak para peserta dari luar daerah dan luar negeri akan tertarik untuk mengunjungi Tambora serta obyek wisata lainnya di NTB.

"Kesempatan inilah yang harus ditangkap pemerintah provinsi dalam upaya menjadikan Tambora sebagai ikon dunia," katanya.

Menurut Latif, dalam kegiatan Festival Mentaram yang akan berlangsung selama tiga hari tersebut, akan digelar parade dan pergelaran kesenian serta kebudayaan lokal dari masing-masing daerah dan negara.

"Selain itu, digelar seminar dan lokakarya tentang kesenian dan kebudayaan," ujarnya.

Latif memaparkan, setelah adanya komunikasi dengan beberapa pihak terkait, Festival Mentaram yang dulunya pesertanya hanya dari Asia Tenggara kini diperluas menjadi internasional. "Pesertanya tidak hanya negara-negara Asia Tenggara melainkan negara internasional akan dilibatkan untuk menampilkan berbagai hasil kesenian, kebudayaan, cerita rakyat, lukisan dan lainnya," katanya.

Saat ini, pihaknya sudah mulai menyiapkan berbagai fasilitas dan sarana prasarana pendukung yang akan didapatkan oleh para tamu ketika tiba di Mataram, serta bekerja sama dengan beberapa para pengusaha hotel dan transportasi. "Untuk menjamu para tamu, kita menyiapkan akomodasi dan transportasi bagi mereka, sebab para tamu dijadwalkan juga untuk melakukan city tour," katanya.

Jelang Sidang Korupsi DPRD, PN Mataram Dipagari Setinggi Dua Meter

Mataram - Kantor Pengadilan Negeri Mataram Nusa Tenggara Barat tengah berbenah. Di samping gedung utama, tengah dibangun tembok besi setinggi dua meter. Pemagaran ini untuk mengantisipasi unjuk rasa menjelang sidang kasus dugaan korupsi di DPRD NTB senilai Rp 24,3 miliar.

Selain itu, pengamanan pun diperketat. Sekarang setiap pengunjung yang akan menghadiri persidangan harus diperiksa petugas di pintu masuk utama. Menurut

Humas PN Mataram, I Dewa Putu Wenten, semua itu tak hanya dilakukan dalam rangka sidang kasus dugaan korupsi di DPRD NTB.

Seorang hakim di PN Mataram ini tidak memungkiri jika selama ini kantornya kerap didatangi aksi massa. Mereka kerap nyelonong masuk ke ruang sidang. Karena itu, "Ya kami antisipasi dengan memperketat areal di PN Mataram," tuturnya.

Kasus korupsi yang melibatkan 11 mantan anggota DPRD NTB itu memang menarik perhatian masyarakat. Ketika Kejaksaan Tinggi NTB berniat memeriksa Gubernur Lalu Serinata sebagai saksi, pertengahan Maret lalu, ratusan massa datang dan membuat keributan.

Mereka melempari batu dan merobohkan pintu gerbang pintu masuk. Atas tekanan massa itulah, akhirnya Kejati NTB melepaskan 11 orang tersangka yang ditahan di LP Mataram. (Sujatmiko)

Sumber: Tempo Interaktif, 18 Juli 2005

Festival Nyale 2015: Tradisi Tahunan Di Pantai Seger, Lombok Tengah

Mataram, NTB - Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah menetapkan pelaksanaan Festival Bau Nyale 2015 dilaksanakan 9-10 Februari di Pantai Seger, Desa Kuta, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB HL Putria mengatakan penetapan Festival Bau Nyale 2015 yang setiap tahun diselenggarakan biasanya pada hari ke-20 bulan ke-10 menurut penanggalan tradisional Sasak.

"Agenda Festival Bau Nyale 2015 ini, merupakan kado spesial bagi warga Gumi Tatas Tuhu Trasna khususnya, dan NTB umumnya," kata Putria di Mataram, Jumat (9/1/2015).

Menurut dia, kegiatan tahunan di Kecamatan Pujut ini ditargetkan akan dihadiri puluhan ribu orang dan akan diramaikan berbagai kompetisi tradisional. Bahkan, pada puncak acara pemerintah menyiapkan tontonan gratis dengan mendatangkan band asal ibu kota Noah, didampingi band papan atas ibu kota lainnya.

Tidak ketinggalan juga, tambahnya band-band lokal daerah. Khususnya lagi, tradisional khas Sasak.

"Kedatangan band Noah, di Festival Bau Nyale pada 9-10 Februari itu, menjadi salah satu upaya strategis pemerintah daerah untuk mengikat warga, agar menyaksikan tradisi tahunan di pantai Seger, Desa Kuta, Kecamatan Pujut tersebut," katanya.

Dia menambahkan dalam rangka Festival Bau Nyale 2015, pemerintah secara resmi membentuk panitia Festival Bau Nyale.

"Setelah kepanitiaan ini terbentuk barulah seluruh rencana kita susun. Untuk kedatangan band Noah, Insya Allah kita terus mengupayakannya," ucapnya.

Selain membicarakan hiburan nasional itu, kata Putria, pemerintah juga menyusun tiga rangkaian jadwal Bau Nyale, yaitu pra acara, kegiatan inti dan pasca acara. Untuk pra acara, diakuinya telah dilaksanakan. Dengan ditetapkannya hari Bau Nyale yaitu pada 9-10 Februari, atau acara puncaknya pada Selasa malam 10 Februari, di pantai Seger.

Disamping itu, pada pelaksanaan praacara, pihaknya menyiapkan jenis kegiatan meliputi, pemilihan Putri Mandalika, gendang beleq, peresean, parade budaya, lomba bersepeda, pacuan kuda dan lain-lainnya.

Bukan hanya itu, pada acara acara inti yaitu pentas seni tradisional dan nasional, drama kolosan Putri Mandalika, serta ritual penyambutan Putri Mandalika. Khususnya, bau nyale atau menangkap cacing di laut lepas pantai Seger.

Sementara itu, Kabag Humas dan Protokol Pemkab Lombok Tengah Lalu Herdan, mengatakan dalam pelaksanaan Festival Bau Nyale tahun 2015 ini, pemerintah akan mengkemas acara itu dengan sebaiknya, sehingga lebih baik dari 2013.

Suku Sasak sendiri adalah kelompok etnis dominan yang mendiami Pulau Lombok, NTB. Bau dalam bahasa Lombok berarti menangkap dan nyale adalah sejenis cacing laut yang hanya muncul dipermukaan beberapa kali dalam setahun. Bau Nyale merupakan upacara meriah dimana suku sasak beramai-ramai menangkap nyale di sepanjang pesisir pantai Lombok.

Legenda mengatakan bahwa pada masa lalu, hiduplah seorang putri cantik bernama Mandalika. Cerita tentang kecantikannya terkabar sampai ke setiap sudut pulau, sehingga banyak pangeran jatuh cinta padanya dan sangat ingin menikahinya.

Untuk mendapatkannya, mereka menciptakan suatu pergolakan di seluruh pulau. Melihat kejadian ini, sang putri sedih dan merindukan perdamaian di tanahnya.

Untuk mengakhiri kekacauan itu, Putri Mandalika menenggelamkan dirinya ke laut. Saat pengikutnya mencoba menemukan tubuhnya, mereka hanya menemukan cacing laut yang berlimpah yang hingga saat ini dikenal sebagai nyale dan itu diyakini sebagai reinkarnasi Putri Mandalika.

Oleh karena itu, nyale yang muncul setiap tahun di pantai dianggap sebagai putri cantik yang mengunjungi rakyatnya.

Dalam upacara Bau Nyale, masyarakat dapat menyaksikan penduduk desa, pemerintah setempat, serta pengunjung berduyun-duyun ke pantai melebur dalam tradisi tersebut.

Mahasiswa Tuntut Koruptor di NTB Ditangkap

Mataram - Ratusan mahasiswa dan aktivis Nusa Tenggara Barat berunjuk rasa pada Hari Jadi Ulang Tahun Provinsi Nusa Tenggara Barat ke 46 yang jatuh pada Jumat (17/12)di halaman kantor Gubernur NTB, Mataram.

Demonstrans menyatakan mosi tidak percaya terhadap DPRD NTB dan lembaga eksekutif karena lembaga tersebut dipimpin oleh seorang koruptor. Aksi pendemo itu menyoroti pelbagai masalah yang muncul akhir-akhir ini. Seperti ; keprihatinan soal rencana kenaikan Bakan Bakar Minyak, subsidi bantuan untuk rakyat miskin, dan mengusut tuntas kasus penyelewengan APBD NTB. "Kami mengeluarkan mosi tidak percaya terhadap DPRD NTB dan sita aset-aset koruptor untuk rakyat miskin. Karena lembaga itu dipimpin oleh seorang koruptor,"kata Taufikurohman, koordinator aksi demo tersebut.

Menurut Taufik, selama ini di DPRD NTB harus dibersihkan dari praktik korupsi. Caranya dengan menjebloskan beberapa orang anggota dewan yang di antaranya telah resmi menjadi tersangka, kasus penyelewengan APBD NTB. "Kami minta aparat kejaksaan untuk menyita aset mereka, termasuk ketuanya,"ujarnya.

Soal status tersangka itu, para pendemo merespon keputusan Kejaksaan Tinggi NTB, yang beberapa waktu lalu menetapkan 11 orang anggota dan mantan DPRD NTB atas kasus penyimpangan APBD NTB tahun 2001 dan 2002. Di antaranya, Ketua DPRD NTB Sunardi Ayub

Para pendemo ini datang dengan pengawalan ketat aparat keamanan. Mereka berniat masuk ke halaman kantor Gubernur NTB, tapi langsung diblokir oleh puluhan anggota Satuan Polisi Pamongpraja dan polisi. Akhirnya, mereka hanya menggelar orasi sekitar 1 jam. Di sela-sela aksi ini, satu orang pendemo mengenakan baju compang-camping dengan kakinya digantungi dua jirigen bertuliskan `BBM naik rakyat sengsara`.

Gubernur NTB, Lalu Serinata mengatakan, masyarakat di provinsi ini untuk tidak cepat terprovokasi. Dia menyikapi masalah yang berkembang akhir-akhir ini. "Jangan mudah terprofokasi,"katanya usai upacara HUT NTB.

Serinata juga menjawab soal dirinya yang menjadi saksi atas beberapa anggota dan mantan anggota DPRD NTB yang jadi tersangka penyimpangan APBD NTB. Dia juga mengaku belum dipanggil baik oleh kejaksaan dan KPK atas dugaan korupsi APBD NTB. "Saya siap saja dipanggil. Malah saya tunggu panggilan,"katanya menantang.

Serinata menyebut tudingan yang muncul selama ini, soal penyelewengan APBD sebesar Rp 24 miliar. Dia merincikan, untuk APBD tahun 2001 sebesar Rp 11 miliar dan APBD tahun 2002 sebesar Rp 21 miliar atau total Rp 32 miliar. "Kami dituding korupsi Rp 24 miliar. Yang benar saja. Berarti kalau sebesar itu, karyawan selama waktu itu tidak digaji,"kata Ketua Partai Golkar NTB.

Kepala Kejaksaan Tinggi NTB, Ahmad Zaenal Arifin membenarkan bahwa surat izin dari Presiden untuk memeriksa Gubernur NTB telah diterimanya. Surat itu berupa faksimile tertanggal (15/12). Namun, statusnya sebagai saksi atas beberapa anggota dan mantan anggota DPRD NTB yang jadi tersangka penyimpangan APBD NTB. "Jadi ini tanda tangan langsung Presiden RI, Pak SBY,"ujar Zaenal di kantor Kejati NTB, Jumat siang. (Sujatmiko)

Sumber: Tempo Interaktif, 17 Desember 2004

Mataram Gelar Parade Seni Tradisi Asia Tenggara

Mataram, NTB - Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, akan menggelar "Festival Mentaram Parade Seni Tradisi Asia Tenggara" sebagai bentuk kesiapan menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mataram, H Abdul Latif Nadjib, usai menggelar rapat persiapan kegiatan "Festival Mentaram Parade Seni Tradisi Asia Tenggara" di Mataram, Jumat, mengatakan festival ini akan berlangsung pada 9--11 Desember 2014 diikuti minimal lima negara Asia Tenggara.

Lima negara itu antara lain Malaysia, Brunei Darussalam, dan Sri Lanka serta beberapa negara bagian Australia. Sementara untuk melibatkan negara-negara lainnya, Disbudpar Kota Mataram terus menjalin komunikasi melalui Sekretariat ASEAN.

"Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat serta pariwisata di daerah ini," ujarnya.

Dikatakannya, kegiatan Festival Mentaram ini merupakan kegiatan pertama yang digelar di Kota Mataram yang ke depannya direncanakan menjadi salah satu agenda tetap pariwisata Kota Mataram setiap tahun pada bulan Agustus atau Desember.

"Karena Agustus dan Desember merupakan masa liburan sehingga tingkat kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara cukup tinggi. Kesempatan inilah yang ingin diambil agar para wisatawan dapat mengikuti acara tersebut," katanya.

Oleh karena itu, untuk melaksanakan festival tersebut selain melibatkan negara-negara Asia Tenggara, pihaknya juga melibatkan perwakilan dari 33 provinsi di Indonesia yang dibagi menjadi tiga bagian, yakni Indonesia bagian barat, timur dan bagian tengah masing-masing diwakili tiga provinsi.

Selain itu, sembilan kabupaten/kota se-NTB juga ikut ambil bagian, serta enam kecamatan di Kota Mataram yang akan menampilkan berbagai atraksi budaya serta tradisi dari masing-masing negara dan daerah.

Menurutnya, selain akan melakukan parade, Festival Mentaram juga dirangkaikan dengan kegiatan sarasehan tentang budaya serta beberapa atraksi kebudayaan dan seni menarik dari masing-masing daerah yang ditampilkan di panggung terbuka.

"Misalnya atraksi presean, reog ponorogo dan atraksi debus dari Banten, sedangkan untuk Kota Mataram, dari enam kecamatan akan menampilkan kesenian dan tradisi berbeda sesuai dengan moto Kota Mataram yang maju, religius dan berbudaya," katanya.

Ia mengatakan, kegiatan ini merupakan implementasi dari program Kota Mataram sebagai salah satu dari 16 kota di Indonesia yang menjadi bagian dari program MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition) .

"Oleh karena itu, dalam setiap acara Kota Mataram ingin meraih tiga sukses yakni sukses penyelenggaran, sukses ekonomi, dan sukses percitraan," katanya.

Kareku Kandei, Tradisi Perempuan dari NTB yang Kaya Makna

Mataram, NTB - Banyak tradisi unik dan menarik yang bisa kita temukan di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB). Salah satunya adalah tradisi Kareku Kandei (memukul lesung) yang hanya dilakukan oleh kalangan perempuan yang ada di desa Sanggar, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima.

Pada tradisi ini, beberapa orang perempuan memukul Lesung (wadah padi) kosong yang terbuat dari batang pohon kelapa dengan alat pukul sebilah bambu atau dalam masyarakat Bima disebut Alu.

Keunikan dari tradisi Kareku Kandei ini terletak pada bunyi pukulan yang keluar dari lesung tersebut dan juga kostum yang digunakan oleh para pemukul yaitu ‘Tembe Nggoli’ atau kain tenun khas masyarakat Bima dan Dompu.

Bagi masyarakat dua kabupaten tersebut, Tembe Nggoli memiliki serat makna karena memiliki nilai budaya yang sangat tinggi yang terus mengakar dari generasi ke generasi lainnya. Kain tenun Tembe Nggoli ini juga memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari cara pembuatannya hingga cara pemakaiannya.

Pengunaan Tembe Nggoli tidak boleh sembarang. Jika Tambe Nggoli tersebut dipakai oleh wanita yang masih gadis, maka nggoli tersebut harus menutupi seluruh badan dan muka kecuali pada bagian alis dan mata seperti menggunakan cadar.

Namun, jika yang mengenakan Nggoli tersebut berasal dari kalangan wanita yang sudah bersuami maka Nggoli tersebut tetap harus tertutup hingga telapak tangan , mereka hanya diperbolehkan membuka bagian muka saja.

“Ini sebagai tanda bahwa meski zaman dahulu Agama Islam belum masuk ke kerajaan ini, namun setiap gadis tetap mengggunakan Tambe Nggoli ini untuk menutup aurat,” kata Ayaturrahman, ketua pemuka adat Sanggar, Bima kepada Liputan6.com.

Hingga saat ini, Tradisi Kareku Kandei masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat Bima dan Dompu. Selain sebagai tugas khusus bagi wanita, Kareku Kandei juga sebagai bukti bahwa kebersamaan perempuan tetap terjaga.

“Tradisi ini merupakan bentuk gotong royong dan kebersamaan bagi para wanita. Tidak hanya saat memukul padi namun Kareku Kendai juga biasanya dimainkan pada upacara pernikahan atau ukur baju,” tutur dia.

Selain di Sanggar, Tradisi Kareku Kandei juga bisa ditemukan di hampir seluruh daerah di dua kabupaten ini. Tradisi ini ternyata merupakan tradisi turun menurun dari nenek moyang mereka.

Pemkot Mataram Jadikan Budaya Lokal Ikon Pariwisata

Mataram, NTB - Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengembangkan pariwisata berkelanjutan dengan mengoptimalkan potensi budaya lokal sehingga memberikan efek ganda bagi warga di daerah itu. "Tentunya dengan mengedepankan fungsi dan peran masyarakat lokal seperti halnya yang dilakukan oleh Pemerintah Selandia Baru," kata Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Mataram, Lalu Martawang di Mataram, Sabtu (4/10/2014).

Martawang yang baru saja kembali dari Selandia Baru bersama sejumlah tim dari pemerintah untuk mempelajari tentang green tourism pada 21-29 September 2014, mengatakan green tourism di negara itu sangat pas jika dimplementasikan dalam pengembangan destinasi pariwisata di Kota Mataram.

Dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan, Selandia Baru mengedepankan fungsi dan peran masyarakat lokal, yakni dengan memperlakukan Suku Maori sebagai suku asli di negara itu secara sejajar. "Sehingga keseimbangan antara pencapaian target pertumbuhan ekonomi sejajar dengan pelestarian sumber daya alam," katanya.

Menurut Martawang, dalam mengembangkan pariwisata, Pemerintah Selandia Baru menjamin keseimbangan karena mereka mampu mendapatkan konstribusi yang sangat signifikan tetapi tidak merusak lingkungan.

Begitu juga dengan budaya masyarakat lokalnya, mereka menjadi bagian dan pelaku dari pengembangan pariwisata itu. Dengan demikian efek ganda dari program tersebut sangat berarti bagi masyarakat lokal dan masyarakat umum lainnya. "Pariwisata yang berkelanjutan itulah yang akan dicoba dikembangkan di Kota Mataram, agar saat berada di Mataram para wisatawan dapat merasa seperti di rumah sendiri," ujarnya.

Dia mengatakan dengan potensi Kota Mataram sebagai ibukota provinsi maka terdapat peluang yang besar dalam pengembangan pariwisata melalui program meeting, incentive, convention dan exhibition (MICE) berbasis lingkungan dengan melestarikan kekayaan budaya dan tradisi serta destinasi pariwisata daerah yang beragam.

"Kita jangan berkecil hati dengan potensi pariwisata di kabupaten tetangga. Boleh saja para wisatawan mengunjungi obyek wisata yang ada di Pulau Lombok namun menginap dan berbelanjanya tetap di Mataram," katanya.

Kondisi itu menjadi salah satu modal Kota Mataram dalam mengembangkan pariwisata berkelanjutan karena bisa dipastikan bahwa hotel, pusat oleh-oleh, biro perjalanan wisata begitu juga dengan transportasi serta pemandu wisata banyak berdomisili di Mataram. "Potensi-potensi itulah yang hendak dikembangknan sesuai dengan kultur Kota Mataram yang maju, religius dan berbudaya," katanya.

Festival "Barzanji" Kota Mataram Lestarikan Tradisi Leluhur

Mataram, NTB - Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh mengatakan kegiatan festival lomba membaca kitab "barzanji" dan "selakaran" merupakan upaya melestarikan tradisi budaya leluhur di daerah ini.

"Pembacaan kitab barzanji memiliki makna penting, salah satunya agar umat Islam terus meneladani sifat dari Rasulullah SAW," katanya saat membuka acara festival lomba pembacaan kitab "barzanji" dan "selakaran" di Taman Sangkareang Mataram, Senin malam.

Dikatakannya, dalam kitab "barzanji" yang dibuat oleh Syekh Jaffar bin Husain Al Barzanji itu berisi pujian dan sanjungan kepada Nabi Muhammad SAW.

Karena itu, pembacaan "barzanji" menjadi kitab induk peringatan Maulid, Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, dan sebelum jamaah haji berangkat ke tanah suci Mekkah dilanjutkan dengan "selakaran".

"Tradisi dan ritual akan terasa kurang berkah jika tidak dilaksanakan pembacaan barzanji dan selakaran," katanya.

Dalam kaitan itu, wali kota berharap, kegiatan festival lomba pembacaan kitab "barzanji" dan "selakaran" antarkelurahan se-Kota Mataram ini dapat terus dilestarikan sehingga keterlibatan masyarakat secara luas dapat ditingkatkan.

Apalagi kegiatan ini memiliki makna yang penting dan merupakan peninggalan budaya, adat istiadat di Kota Mataram, serta memiliki nilai ibadah yang tinggi.

Ia menilai, kegiatan ini juga sekaligus sebagai implementasi untuk membangun Kota Mataram menjadi kota yang lebih baik, sejalan dengan moto Kota Mataram yang maju, religius dan berbudaya.

"Selain itu menjadi ajang silaturahim dan kerbersamaan untuk menjalin semangat membangun Kota Mataram yang lebih baik sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mataram H Abdul Latif Nadjib selaku penyelenggara mengatakan, festival lomba "barzanji" antarkelurahan tingkat Kota Mataram dilaksanakan pada 8-10 September 2014.

Festival "barzanji" bertujuan untuk mengembangkan budaya dan tradisi masyarakat dalam membaca kitab tersebut karena biasanya kitab "barzanji" hanya dibaca para tokoh agama dan masyarakat setempat pada saat peringatan maulid dan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.

Selain itu juga untuk mengenalkan kitab "barzanji" kepada para generasi muda di Kota Mataram, sebab membaca "barzanji" berbeda dengan cara membaca kitab-kitab lainnya.

Membaca "barzanji" menggunakan syair-syair pujian dan sanjungan kepada Nabi Muhammad SAW dilanjutkan dengan pembacaan terjemahannya baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sasak.

Dalam festival "barzanji" itu, satu peserta beranggotakan 15 orang, dengan demikian akan ada 50 kelompok pembaca kitab "barzanji" di setiap kelurahan se-Kota Mataram.

Setelah terbentuk, diharapkan mereka dapat membentuk kelompok-kelompok pembaca kitab "barzanji" pada setiap lingkungan di kelurahan masing-masing.

"Dalam melakukan penilaian, kami akan memberikan lima penyaji terbaik yang akan mendapatkan dana stimulan," katanya

Ia mengatakan, festival "barzanji" ini merupakan salah satu kegiatan dalam rangkaian HUT ke-21 Kota Mataram pada 31 Agustus 2014. Semula lomba ini akan berlangsung pada 27-29 Agustus 2014, namun karena ada kendala teknis, sehingga baru dimulai Senin (8/9) malam.

-

Arsip Blog

Recent Posts