Tampilkan postingan dengan label NTT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NTT. Tampilkan semua postingan

KPUD NTT Didemo Forum Anti Korupsi

Kupang - KPUD Nusa Tenggara Timur (NTT) didemo Forum Anti Korupsi NTT. Mereka menuntut KPUD tidak boleh menerima pasangan calon Gubernur NTT periode 2008-2013, Ibrahim Agustinus Medah yang berpasangan dengan Paulus Moa.

Pendiri Forum Anti Korupsi (FAK) NTT, Ny Joelfina Ndun di halaman Kantor KPUD NTT di Kupang, Kamis (17/4) mengatakan, Ibarahim Agustinus Medah masih berstatus sebagai tersangka, meski Kapolda NTT telah menerbitkan surat perintah pemberihentian penyidikan (SP3).

"FAK NTT tidak berhenti pada SP3 Kapolda NTT. Kami masih naik banding karena itu proses hukum terhadap Medsh belum selesai. KPUD tidak boleh mengesahkan pasangan Medah dan Moa sebagai salah satu peserta calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT," kata Joelfina.

KPUD NTT telah menerima delapan berkas pasangan calon Gubernur NTT yakni Ibrahim Agustinus Medah -Paulus moa (Tulus), Jonathan Nubatonis-Valens Sili Tupen (Talenta), Beny Harman-Alfred Kase (Harkat), Amos Noelaka-Apolos Djara Bonga (Aman), Frans Lebu Raya-Esthon Foenay (Fren), Gaspar Ehok-Julius Bobo (Gaul), Ricard Riwu-Martha Pengko (Camar), dan Alfons Loe Mau-Frans Saleman (Amsal). (KOR)

Sumber: Kompas, 17 April 2008

Korupsi, Bupati Timor Tengah Utara Dilaporkan Warganya ke KPK

Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta, Senin, menerima laporan dugaan korupsi yang disebut-sebut melibatkan Bupati Timor Tengah Utara Gabriel Manek. Laporan itu disampaikan oleh lima orang dari Forum Solidaritas Rakyat Untuk Keadilan Timor Tengah Utara.

Dengan mengenakan pakaian adat, mereka sempat menggelar aksi unjuk rasa sebelum diterima oleh petugas KPK. Dalam pernyataan sikap, mereka menyebutkan sejumlah kegiatan di kabupaten itu yang diduga mengandung tindak pidana korupsi seperti penggelembungan harga pembelian lahan untuk pembangunan rumah sakit umum daerah. Kerugian dari penggelembungan harga pembelian lahan itu sebesar Rp600 juta, kata Koordinator Forum A. Magnus Kobesi.

Mereka juga menyebutkan penggelembungan harga dalam pembangunan delapan unit kantor atau rumah jabatan camat di kabupaten itu yang diduga merugikan negara sebesar Rp500 juta. Selain itu, pembangunan gedung DPRD yang diduga merugikan negara sebesar Rp2 miliar.

Mereka juga masih meneliti dugaan korupsi lain seperti dalam proyek pembangunan gedung Sekolah Dasar oleh Dinas Pendidikan Nasional setempat, pembangunan jalan raya Kefa-Kupang, dan pembangunan kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah setempat. "Kami mendesak KPK segera memeriksa Bupati Timor Tengah Utara sebagai penanggung jawab utama kasus-kasus yang disebutkan di atas," ungkap Magnus dalam pernyataan sikap itu. (*/rsd)

Sumber: Kapanlagi.Com, 31 Maret 2008

Bupati Manggarai Barat Dilaporkan ke KPK

Jakarta - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Mateus Hamsi, melaporkan Bupati Manggarai Barat, Fidelis W Pranda, ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (14/2/2008).

Mateus tiba di KPK sekitar pukul 14.00 WIB, bersama sekitar 50 massa yang menamakan dirinya Mahasiswa dan Pemuda Anti Korupsi (Mapan). "Fidelis telah melakukan koruosi sejak menjadi penjabat Bupati dari tahun 2003 hingga 2004, dan sebagai bupati sejak tahun 2005 hingga sekarang," kata Mateus yang juga membagi-bagikan lembaran perihal kedatangannya kepada pers.

Dalam lembaran keterangan pers yang dibagikan itu, Mateus memaparkan alasan dirinya melaporkan bupati ke KPK, lengkap dengan 10 dugaan korupsi yang dilakukan, dengan total kerugian negara lebih dari Rp 85,5 miliar. Atas dugaan korupsi tersebut, Mateus mengaku mendapat laporan hasil pemeriksaan dari Badan Pengawas Provinsi (Bawasprov) NTT pada tanggal 28 Agustus 2004.

Dua Dugaan korupsi bupati diantaranya pada tahun 2003-2004 pengadaan 26 kendaraan dinas yang dilakukan dengan penunjukkan langsung dan kontrak belakangan, dengan kerugian sekitar Rp 4,42 miliar. Kemudian dugaan korupsi dana bencana alam senilai Rp 9 miliar yang pemanfaatannya tidak sesuai dengan peruntukan. (Eddy)

Sumber: Tribun Batam, 14 Februari 2008

Menanggapi Keluhan Masyararakt Manggarai Timur:

DPR Desak Mendagri Tidak Tetapkan Pejabat Cacat Hukum

Jakarta - Komisi II DPR meminta perhatian Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Mardiyanto untuk tidak menetapkan pejabat atau pejabat sementara (Pjs) yang cacat hukum, atau pun terlibat KKN. Karena hal itu dapat menimbulkan konflik di masyarakat sekaligus menimbulkan ketidakpercayaan terhadap pemerintah.

Hal itu dikatakan anggota Komisi II DPR Chozim Chumaedi di Jakarta, Jumat (9/11), menanggapi keluhan masyarakat Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menolak penetapan Frans Borgias Padju Leok (Sekwilda Kabupaten Manggarai), sebagai Pejabat Sementara Bupati, Kabupaten Manggarai Timur yang baru dimekarkan. Sebab, yang bersangkutan menjadi tersangka dalam kasus korupsi penanganan proyek pengerukan tanah Kalamghit di Kabupaten Manggarai.

Masyarakat mengetahui Frans Padju Leok sebagai tersangka berdasarkan pengumuman resmi Kapolres Ruteng AKBP Lilik Aprianto beberapa waktu lalu. Frans Padju Leok yang pernah ditahan itu adalah salah satu dari tiga nama yang diusulkan Gubernur NTT untuk menjadi Pjs Bupati Kabupaten Manggarai Timur, selain Yos Biron (Kadis Kehutanan) dan Antonius Taseko (Asisten I Kabupaten Manggarai).

"Frans Padju Leok sudah jadi tersangka, hanya saja belum bisa dilimpahkan ke JPU (Jaksa Penuntut Umum). Sebab, pelimpahan berkas tersangka ke JPU harus ada barang buktinya. Kalau masyarakat persoalkan kenapa sampai saat ini Frans Padju Leok belum ditahan, itu karena barang buktinya masih di MA (Mahkamah Agung) sebagai bukti kasasai dari terdakwa atas nama Jemali Linus, salah satu tersangka dalam kasus dugaan korupsi tersebut," kata Aprianto.

Menurut Chozin pengumuman yang dilakukan pihak kepolisian itu adalah masukan yang baik yang harus diterima pemerintah. Karena sebagai bagian dari instansi pemerintah pihak kepolisian juga bertanggung jawab untuk menciptakan aparat yang bersih dan benar.

Dia mengatakan, seorang pejabat yang diangkat harus bersih dari KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme) agar memberikan contoh kepada masyarakat. "Jangan sampai menimbulkan gejolak di masyarakat," ujarnya.

Dia mengatakan konflik di masyarakat sekarang ini mudah tersulut akibat tindakan pejabat di daerah yang terlibat KKN. "Mendagri jangan sampai terkecoh dengan laporan yang hanya asal bapak senang," katanya.

Memang, tuturnya, semua pihak tetap menganut asas praduga tak bersalah. Tetapi, kalau pihak kepolisian sudah mengumumkan status seseorang, maka sudah berkekuatan hukum. "Frans sedang dalam status tersangka dan pernah ditahan. Mendagri sebaiknya jangan gegabah menetapkan dia sebagai Pjs," katanya.

Hal yang sama dikemukakan anggota Komisi II Saifullah Maksum dari PKB. Dia mengatakan, sudah saatnya pemerintah dalam hal ini Mendagri harus lebih hati-hati untuk mengangkat pejabat di daerah. Pejabat yang diangkat harus sesuai keinginan masyarakat. (M Kardeni)

Sumber: Suara Karya, 12 Nopember 2007

Pemerintah Dukung Tradisi Tangkap Ikan Paus Lamalera

Kupang, NTT - Pemerintah mendukung upaya pelestarian budaya menangkap ikan paus oleh masyarakat Lamalera, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Tradisi unik ini digelar rutin dan menjadi perhatian khalayak dalam dan luar negeri. "Pemerintah menginginkan agar budaya penangkapan ikan paus di Lembata tetap lestari sebagai keunikan yang tidak dimiliki oleh masyarakat mana pun di belahan dunia," kata Asisten Deputi Budaya, Seni dan Olahraga Maritim Kemenko Maritim Kosmas Harefa di Kupang, Kamis sore, 29 September 2016, seperti dilansir Antara. Dia mengatakan aktivitas menangkap ikan paus merupakan kekayaan budaya bahari yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung perekonomian masyarakat dan nilai-nilai luhur sehingga harus dipelihara. "Semua itu harus dilihat sebagai kekayaan yang bisa dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan aspek lain seperti pariwisata yang mampu mendatangkan keuntungan bagi masyarakat maupun pemerintah setempat," kata dia. Untuk itu, kata dia, pihaknya tengah menggagas seminar internasional tentang ikan paus yang direncanakan akan diadakan pada Oktober ini. "Seminar ikan paus ini dilakukan untuk mengangkat budaya tersebut ke permukaan sehingga bisa diketahui oleh masyarakat dari berbagai belahan dunia," ucap dia. Untuk itu, pihaknya menargetkan akan menghadirkan ahli atau pemerhati lingkungan dari Australia, Selandia Baru, tokoh adat dan masyarakat Lamalera, pemerintah pusat dan daerah, dan juga berbagai elemen masyarakat lainnya. Kosmas berharap, dengan mengangkat budaya menangkap ikan paus tersebut menjadi perhatian masyarakat dunia nantinya Lamalera dan budayanya menjadi destinasi wisata unggulan. Dia menambahkan, pemerintah pusat saat ini pun tengah gencar mengembangkan potensi pariwisata alam dan budaya masyarakat di berbagai daerah hingga ke pelosok. "Untuk NTT tahun ini sudah mendapat juara untuk pariwisata dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia. Kita dorong agar budaya menangkap ikan paus ini juga ke depan menjadi destinasi wisata unggulan di daerah tersebut," ucap dia.

Sumber: http://regional.liputan6.com

Lestarikan Seni Budaya, warga Oelunggu Berlatih Gong Rote

Oelunggu, NTT - Untuk melestarikan seni dan budaya asli, alat musik tradisional Gong Rote, sejumlah warga desa Oelunggu, kaum tua maupun muda, selama kurang lebih dua jam ini mempelajari bagaimana berlatih irama alat musik gong dan tambur, serta mempelajari jenis notasi pada tarian yang diiringi oleh alat tersebut. gong-rote Rote Ndao.

Untuk mempelajari bagaimana memukul gong dan menabu tambur, beberapa warga dilatih salah seorang instruktur, Salmun Muskanan mengatakan dalam kesenian gong, ada 9 jenis gong dengan peruntukkan bunyi masing – masing dan 1 berupa gendang atau disebut tambur.

“Untuk jumlah penabuh gong sebanyak 7 orang yakni 6 pada gong dan 1 sebagai penabuh tambur,” ujar Muskanan kepada ROOL, Senin (26/9) malam.

Ia mengakui, memang saat ini banyak anak muda yang sudah tidak mengetahui kesenian gong sehingga ketika diminta oleh pihak desa, dirinya bersedia untuk melatih. Terkait kesulitan dalam melatih, ia,menyampaikan hal tersebut terkait melatih kepekaan bunyi yang diselaraskan dengan jenis tarian yang akan diiringi.

“Saya senang melatih mereka, apalagi melihat ketekunan mereka dalam mempelajari seni budaya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Oelunggu, Yonatan Tulle kepada ROOL menyampaikan kesenian gong merupakan salah satu alat musik tradisional yang berkembang di Rote Ndao. Kondisi saat ini, sudah semakin berkurang orang- orang yang memiliki kemampuan memainkan musik gong sebagaian besar pemain kesenian musik gong sudah berusia tua.

Melihat kondisi yang mengkhawatirkan ini, pihak desa kemudian bersepakat untuk melaksanakan program kerja berupa pelestarian kesenian musik gong. Yonatan Tulle mengatakan, latihan sudah berjalan kurang lebih 1 bulan dan ditargetkan selama 1 setengah bulan.

Usai latihan, pihak desa akan memilih pemuda yang sudah memiliki pemahaman terkait musik gong untuk dibina lebih dalam pada sanggar musik yang akan dibentuk oleh pihak desa. Lanjut Tulle, peserta latihan kesenian terbuka untuk semua umur, pihak desa juga menyiapkan pelatih sebanyak 2 orang yakni satu dari warga desa dan satu dari desa tetangga serta dibantu 4 tokoh masyarakat yang juga mampu memainkan alat musik gong.

Terkait waktu latihan, Tulle mengatakan, waktu pelatihan berlangsung setiap minggu, yakni pada setiap hari Senin, Kamis dan Sabtu malam. Pihak desa, pada tahun 2017 mendatang juga akan menganggarkan untuk pembelian 1 set alat musik kesenian gong. Saat ini, alat musik gong yang digunakan, masih disewa dengan dana dari pihak desa.

“Tahun depan dari Desa dan BPD akan musyawarah untuk anggarkan pembelian alat musik kesenian gong” ujar Tulle.

Tarian Tradisional Meriahkan Perayaan HUT RI di Manggarai Timur

Borong, NTT - Tarian Sanggu Alu dari pelajar Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) Waemokel, Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, ditampilkan untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Ke-71 Republik Indonesia, Rabu (17/8/2016).

Pementasan atraksi budaya Sanggu Alu dilaksanakan di lapangan Bola Sepak Waelengga seusai upacara pengibaran bendera merah putih.

Ratusan warga dari Manggarai Timur memadati lapangan sepak bola untuk menyaksikan beragam atraksi budaya yang dibawakan pelajar dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah atas di Manggarai Timur.

Pelajar SMP Katolik Waemokel juga menampilkan tarian Tarian Flobamora (Flores, Sumba, Lembata dan Timor) dengan pakai adat dari 22 kabupaten dan kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pelajar sungguh berkreasi dalam memeriahkan HUT ke-71 Kemerdekaan Republik Indonesia di tingkat Kabupaten Manggarai Timur.

Selain itu, pelajar dari Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Kota Komba dari Kampung Mok, Desa Mbengan, Manggarai Timur yang tergabung dalam Sanggar Uma Lodok juga menampilkan tarian ritual Riik Kozu (injak padi) serta tarian Wai doka (jalan kaki dengan menggunakan tangga bambu).

Pelajar SMAN 2 Kota Komba juga membawakan atraksi budaya "Umbiro" atau tarik tambang dengan pakaian adat sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan.

Umbiro merupakan warisan budaya dari masyarakat Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba. Semua tarian pernah ditampilkan pada Tour de Flores di Pantai Cepi Watu, Kecamatan Borong, Manggarai Timur, Flores, NTT beberapa bulan lalu.

Sedangakn di Lapangan Motangrua, Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai digelar tarian caci yang sudah masuk ke warisan budaya nasional.

Pemain-pemain caci dari kecamatan dan desa di Kabupaten Manggarai menampilkan warisan leluhur itu untuk memeriahkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Di Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat yang sudah terkenal dengan binatang ajaib Komodo menampilkan berbagai atraksi budaya yang melibatkan pelajar.

Berbagai atraksi bernuansa perayaan 17 Agustus dari siswa dan siswi Taman Kanak-kanak Santo Arnoldus Waelengga juga ikut meramaikan perayaan HUT RI. Atraksi pencak silat dari pelajar SMAN 2 Kota Komba dan atraksi olahraga Kempo dari pelajar SMAN 1 Kota Komba ikut ditampilkan demi memeriahkan hari kemerdekaan.

Pertahankan budaya

Kepala SMAN 2 Kota Komba, Bernabas Ngapan kepada Kompas.com, Rabu (17/8/2016), menjelaskan, atraksi budaya tarian Riik Kozu dan Umbiro yang ditampilkan pada puncak perayaan HUT ke-71 RI bertujuan agar warisan budaya ini dapat dipertahankan di lembaga-lembaga sekolah.

“Sekolah kami terus mendidik, membina dan melatih siswa dan siswi untuk mencintai budaya dan mempertahankannya. Bahkan, ritual adat yang unik ini terus dilestarikan melalui generasi muda, khususnya para pelajar yang tersebar di sekolah-sekolah menengah. Saat Tour de Flores, pelajar dari SMAN 2 Kota Komba menampilkan tarian Riik Kozu sebagai warisan budaya dari Suku Rajong,” jelasnya.

Bernabas menjelaskan, sanggar Budaya Uma Lodok dibentuk pada 2010 dengan tujuan membina bakat dan melatih kreativitas pelajar di bidang kebudayaan.

Ada beberapa atraksi budaya yang terus diasah disekolah, yakni tarian Wai Doka yang sudah terkenal sampai di Eropa, tarian Riik Kozu (injak padi), tarian Karong Kozu Wole (hantar padi memasuki rumah), tarian Umbiro serta berbagai ritual budaya lainnya.

“Untuk mengetahui latar belakang budaya di Manggarai Timur, saya sering menyuruh pelajar-pelajar untuk mewawancara tua-tua adat yang berumur 50 tahun ke atas yang berkaitan dengan tari-tarian dan ritual-ritual. Pelajar dididik untuk menggali sejarah dari tari-tarian tersebut,” jelasnya.

Kepala SMPK Waemokel, Robertus Wahab kepada Kompas.com, Rabu, mengataka, lembaganya terus mengasah kemampuan pelajar di bidang seni dan budaya. Salah satu kekhasan di sekolahnya adalah tarian Sanggu Alu dan tarian Flobamora. Tarian Sanggu Alu adalah tarian warisan budaya Manggarai Timur, sedangkan tarian Flobamora merupakan tarian budaya seluruh NTT dengan pakaian adat masing-masing.

“Siswa dan siswi yang sekolah di SMPK Waemokel berasal dari berbagai daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur, sehingga kekhasan budaya masing-masing terus dipertahankan, baik dari segi seni maupuan cara berpakaian adat,” jelasnya.

Robertus menjelaskan, warisan budaya Sanggu Alu sering ditampilkan dalam berbagai acara budaya di Manggarai Timur. Ini juga bagian dari pendidikan budaya dan membentuk karakter siswa dan siswi melalui budaya.

Warga Kenakan Pakaian Kulit Kayu dalam Karnaval Budaya Alor

Alor, NTT - Puluhan warga Desa Kopidil, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit kayu dalam pawai karnaval budaya di sepanjang jalan utama Kota Kalabahi, Selasa (9/8/2016) petang.

Penampilan dari warga tersebut, membuat ribuan warga setempat yang berjejer di pinggir jalan menjadi kagum dan terhibur. Selain mengenakan pakaian kulit kayu, warga Kabola yang terdiri dari anak-anak hingga orang tua membawakan tarian perang dengan diiringi musik tambur.

Sekretaris Camat Kabola Daud Nomenson dan Sekretaris Desa Kopidil Derek Laapada kepada KompasTravel, Selasa malam secara bergantian mengatakan, penampilan warga Kabola dengan pakaian kulit kayu, agar mengingatkan warga Alor untuk tetap menjaga dan melestarikan budaya asli tersebut.

“Sebenarnya pada zaman dulunya dipakai untuk pakaian karena baju belum ada, sehingga masyarakat Alor masih menggunakan kulit kayu. Pada dasarnya semua suku di Alor masih pakai, tapi yang masih mempertahankan tradisi ini adalah masyarakat Desa Kopidil, Kecamatan Kabola,” kata Daud yang diiyakan Derek.

Menurut Daud, pakaian tersebut dikenakan hanya pada acara adat, termasuk pergelaran seni dan budaya seperti di Expo Alor saat ini.

Daud mengaku, pakaian kulit kayu itu diambil dari sebuah pohon, yang oleh warga setempat disebut dengan pohon Ke. Cara pembuatan pakaian kulit kayu terbilang sederhana yakni dengan menebang pohon Ke yang berdiameter besar, kemudian diukur sesuai dengan ukuran dan kebutuhan.

Setelah itu, lanjut Daud, pohon itu dibersihkan dan dipukul pakai kayu ukuran sedang, kemudian dipotong (dibelah) dan dijemur hingga dua hari lalu siap dipakai.

“Tergantung dari cara pukul kita, bisa menentukan tipis dan tebal baju atau rok dan celana yang dihasilkan nanti. Biasanya pakaian kulit kayu yang dihasilkan ini, dipakai lama sampai seumur hidup, sampai turun temurun, asalkan jangan kena air. Kalaupun kena air, itupun dicuci kasih bersih kemudian dijemur kembali,” jelasnya.

Daud memaparkan, selain menghasilkan pakaian, kulit pohon Ke yang berwarna cokelat juga bisa dibuatkan tas dan topi. Namun begitu kata Daud, populasi pohon Ke saat ini semakin berkurang.

Oleh karena itu, Daud berharap masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama bisa menanam kembali anakan pohon Ke dalam jumlah banyak, agar budaya pakaian kulit kayu bisa tetap bertahan hingga turun temurun.

Sementara itu, Bupati Alor Amon Djobo mengatakan Expo ke-10 dan karnaval budaya di Alor, bertujuan mempromosikan destinasi wisata, ekonomi kreatif, seni dan budaya guna membuka pangsa pasar investasi ke seluruh nusantara dan mancanegara.

Ada Festival Budaya Lamaholot di Alor Expo X Kalabahi

Kupang, NTT - Tahun ini Pemerintah Daerah Kabupaten Alor kembali menggelar event tahunan Alor Expo X di Kalabahi.

Namun, event kali ini akan lebih berbeda dengan event sebelumnya. Sebab pada Alor Expo X, selain ada penampilan Alor Karnaval III, kunjungan peserta Sail Indonesia, Alor Expo juga menggelar Festival Budaya Lamaholot.

Hal ini disampaikan Bupati Alor, Amon Djobo, pada jumpa pers Bupati Alor bersama puluhan media massa, di Aula Rapat Kantor Dinas Pariwisata dan Kreatif NTT, belum lama ini.

Lewat Expo Alor ini, kata Bupati Alor, Amon Djobo, pemda juga ingin menduniakan Alor dari sisi pariwisata, potensi ekonomi dan juga potensi-potensi lokal yang mengangkat harkat dan martabat orang Alor di pentas nasional dan regional.

Expo Alor yang berlangsung selama empat malam, akan memamerkan potensi lokal, ekonomi berdaya saing mulai kelompok usaha, BUMN/BUMD serta pemerhati-pemerhati yang menyambut baik digelarnya event ini.

Sumba Perlu Diperkenalkan Lewat "Tour de Sumba"

Kupang, NTT - Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur yang sarat dengan berbagai macam objek wisata perlu juga diperkenalkan kepada dunia internasional lewat olahraga bersepeda keliling Pulau Sumba atau Tour de Sumba.

"Tour de Flores kan sudah digelar, dan tahun ini akan ada lagi Tour de Timor, maka perlu juga ada Tour de Sumba, karena Sumba juga memiliki beragam macam objek wisata yang memiliki nilai jual tinggi di mata wisatawan mancanegara," kata anggota Komisi V DPRD Nusa Tenggara Timur Yunus Takandewa kepada Antara di Kupang, Kamis.

Ia mengatakan Komisi V DPRD NTT terus mendorong para bupati di empat kabupaten yang ada di Pulau Sumba untuk mempersiapkan event pariwisata tersebut "Tour de Sumba".

Takandewa menambahkan "Tour de Sumba" sudah sempat dibicarakan oleh para anggota dewan dalam rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD NTT, Rabu (20/7).

"Kami berharapkan bupati Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat daya bisa duduk bersama untuk membicarakan rencana kegiatan dimaksud karena sudah mendapat dukungan politis dari DPRD NTT," katanya.

Menurut dia, Pulau Sumba memliki banyak keindahan alam dan budaya yang patut mendapat tempat untuk dipromosikan sebagai destinasi wisata unggulan di NTT bagi wisatawan mancanegara.

Karena itu, tambahnya, kegiatan Tour de Sumba merupakan sebuah pilihan yang tepat untuk mempromosikan kekayaan pariwisata di Pulau Sumba kepada dunia internasional lewat para peserta dari berbagai negara yang terlibat dalam agenda olahraga tersebut.

"Even tersebut bisa disinergikan dengan festival tenun ikat, parade kuda sandelwood, dan juga adanya budaya Pasola yang menarik untuk dikunjungi," katanya.

Dia mengatkan bahwa hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dan Sumba Barat yang sudah menyambut baik dan siap dengan rencana tersebut, sementara Kabupaten Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya masih dalam koordinasi.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT Marius Ardu Jelamu mengatakan Pulau Sumba memiliki potensi pariwisata yang istimewa, baik itu wisata alam maupun budaya.

"Salah satu wisata alam yang sangat cantik ialah Pantai Nihi Watu di Sumba Barat ditambah kekhasan corak tenun ikat, dan juga budaya atraksi berkuda Pasola yang sudah tersohor hingga ke mancanegara itu," katanya kepada Antara yang dihubungi secara terpisah.

Pantai Nihi Watu salah satu destinasi wisata terpopuler di Sumba yang terkenal karena keindahan dan kebersihannya yang terpilih ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) 2016 yang diadakan pihak Jakarta melibatkan semua provinsi di Indonesia.

Yunus Takandewa mengatakan untuk bisa merealisasikan rencana tersebut maka pemerintah daerah perlu menyiapkan daerahnya sehingga bisa layak dikunjungi oleh wisatawan.

"Salah satunya kesiapan infrastruktur penting di perahatikan di daerah seperti air, jalan, listrik, perhotelan, kuliner, dan lainnya," katanya.

Ia berharap, rencana "Tour de Sumba" bisa direalisasikan dan tidak hanya mempromosikan sektor pariwisata yang dimiliki Pulau Sumba namun juga mampu menggerakan ekonomi masyarakat sehingga sepenuhnya bisa dinikmati oleh masyarakat lokal.

Sambut Sail Indonesia, Kupang Gelar Festival Budaya

Kupang, NTT - Pemerintah Kota Kupang menggelar festival budaya daerah untuk menyambut para peserta Sail Indonesia yang akan datang dan singgah di wilayah ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada akhir Juli hingga awal Agustus ini.

"Festival budaya itu akan kita gelar di Pantai Kopan di Kelurahan La Lais Besi Kopan (LLBK) saat kedatangan peserta sail nanti," kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Kupang Ester Muhu kepada Antara di Kupang, Kamis (21/7/2016).

Menurut dia, selain festival budaya, Pemerintah kota Kupang juga akan mementaskan sejumlah olah raga tradisional seperti permainan 'gala asin' dan sejenisnya untuk meraimakan lokasi dekat tambatan kapal layar 'yatch' para sailor nanti.

Selain itu, untuk anak-anak para peserta Sail Indonesia yang dimungkinkan ikut hadiri kegiatan itu, akan disugguhkan sejumlah permainan anak-anak daerah unik dan melibatkan anak-anak di daerah ini. "Selain menghibur kita juga mau memperkenalkan sejumlah permainan khas unik anak-anak di daerah ini," kata Ester tanpa merinci jenis permainan unik itu.

Secara kelembagaan Kota Kupang, lanjutnya, sangat siap menyambut para peserta Sail Indonesia itu, karena sudah saban tahun dilakukan dan Kota Kupang menjadi salah satu tempat singgahan para sailor dengan 'yatch'-nya masing-masing.

Nyeri Pinggang, Waspadai Kondisi Batu Ginjal
Menurut Ester, untuk Sail Indonesia 2016 ini akan hadir sedikitnya 40 kapal layar (yatch) dan akan melabuhkan diri di pantai Kota Kupang di Kelurahan LLBK.

Seperti biasa Pemerintah Kota Kupang akan menyambut para peserta dan menyapanya dalam seremoni 'gala dinner' dan selanjutnya menyampaikan sejumlah lokasi wisata yang ada untuk bisa didatangi dan dikunjungi.

"Termasuk kuta juga mempersiapkan para pengrajin dan penenun dengan segala hasilnya untuk nantinya bisa dikunjungi oleh para peserta sail tersebut," katanya.

Wali Kota Kupang Jonas Salean terpisah mengatakan, secara kelembagaan pemerintah sangat siap menyambut para peserta Sail Indonesia itu.

Kegiatan Sail Indonesia yang saban tahun dilakukan itu sudah menjadi agenda tahunan untuk Pemerintah Kota Kupang, sehingga sangat mudah dipersiapkan untuk kelancaran penyambutannya.

"Kalau tidak salah ini yang ke-12 peserta Sail Indonesia mampir di Kota Kupang dan karena itu pemerintah dan masyarakatnya sudah sangat familiar dengan kegiatan ini," katanya.

Etu, Tinju Adat di Boawae Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Nasional

Boawae, NTT - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia, Anies Baswedan menetapkan Etu (Tinju Adat) sebagai warisan Budaya Nasional.

Penetapan Etu sebagai warisan budaya nasional ditandai dengan penyerahan plakat penghargaan dari Menteri Pendidikan melalui Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Valentinus Balu kepada Bupati Nagekeo, Elias Djo di Kampung Adat Boawae, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, Senin (20/6/2016).

Penyerahan penghargaan itu bertepatan dengan pelaksanaan Tinju Adat Suku Deu yang mendiami Kampung Adat Boawae.

Bupati Nagekeo Elias Djo mengatakan sebuah kebanggaan yang patut disyukuri karena secara nasional Etu di Boawae atau Mbela di Mbay telah diakui sebagai warisan budaya nasional sehingga perlu dipertahankan.

Bupati Nagekeo saat itu hadir bersama Bupati Ngada Marianus Sae, Wakil Bupati Nagekeo Paulinus Yohanes Nuwa Veto serta Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Nagekeo, Marselinus Fabianus Ajo Bupu.

Bupati Elias mengatakan, tinju adat memiliki banyak keunikan, antara lain, tidak ada dendam di luar ring.

Para petinju kata Elias, boleh habis-habisan bertarung di ring, namun ketika pertarungan berakhir, mereka berpelukan dan berdamai hingga duduk makan bersama.

Tenun Ikat NTT Bersaing Dalam Peta Seni dan Budaya Dunia

Kupang, NTT - International Institute for Asian Studies (IIAS), Leiden University dan Textie Research Center (TRC), The Netherlands, bekerja sama dengan Dekranasda NTT mengadakan workshop selama dua hari yaitu 31 Mei hingga 1 Juni 2016 di TRC, Leiden, Belanda.

Workshop tenun ikat yang berlangsung di Leiden, Belanda, ini merupakan workshop berkelas internasional karena dihadiri delapan negara, termasuk Indonesia. Tujuan workshop ini adalah untuk melakukan studi akademis tentang menenun dan pewarnaan tenun ikat Nusa Tenggara Timur.

Workshop di Leiden kali ini merupakan tindak lanjut dari workshop internasional tentang Tenun Ikat yang pernah diselenggarakan di Pulau Ndao, Kabupaten Rote Ndao, pada Oktober 2012 lalu.

Kala itu, kegiatan tersebut dilaksanakan atas kerja sama IIAS dan Dekranasda NTT. Kegiatan itu bertema Tenun Ikat sebagai warisan budaya dalam pembangunan yang berkesinambungan di NTT.

Tahun ini, tim Dekranasda NTT yang menghadiri undangan IIAS dan TRC dalam workshop ini dipimpin langsung Lusia Adinda Lebu Raya selaku Ketua Dekranasda NTT. Anggota timnya berjumlah lima orang, antara lain Bunga Anne Marlyn (Sekretaris Dekranasda NTT), Rosalin Chandra (staf Dekranasda) dan tiga pengrajin tenun ikat NTT yaitu Sariat Tole, Dortje Lusi, dan Wilhelmintje Ratu.

Yetty Van Der Made-Haning, melalui surat elektronik kepada Timor Express (JPNN Group), Sabtu (4/6), mengatakan, workshop yang berlangsung dua hari tersebut, berjalan dengan baik. Peserta yang hadir berasal dari Amerika, Australia, Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Indonesia, Portugal dan juga Belanda.

Kegiatan workshop ditangani langsung oleh ketiga pengrajin. “Masing-masing memperagakan dan menjelaskan tentang teknik-teknik dasar yang penting dalam proses pembuatan tenun ikat NTT,” kata Yetty.

Disebutkan, Sariat Tole sebagai seorang ahli pewarna alam, menjelaskan soal pewarnaan. Sariat sendiri merupakan penemu 201 macam pewarna alam dari tumbuh-tumbuhan dan binatang laut. Pada kesempatan itu ia secara detail menjelaskan soal teknik meracik warna alam.

Sedangkan Wilhelmintje Ratu dari Tenun Ikat Jula Huba menjelaskan dan memeragakan cara mengikat benang mengikuti desain motif, cara menenun dan lain-lain. Selanjutnya, Dortje Lussi, yang lebih dikenal dengan Ina Ndao, menjelaskan dan mendemonstrasikan cara memasang benang pada alat tenun dan teknik menenun.

Menurut Yetty, seluruh proses menenun mulai dari membersihkan kapas, memintal benang, mengikat benang, pewarnaan, pengeringan hingga menenun dan menyelesaikan satu tenunan ditunjukkan dan diajarkan dalam dua hari workshop tersebut.

“Peserta yang hadir juga langsung mempraktikkan teknik-teknik yang dijelaskan dengan mengikuti petunjuk dari ketiga pengrajin,” kata Yetty.

Menurutnya, workshop berjalan secara praktis dan komunikatif. Para peserta antusias bertanya dan langsung mencoba teknik-teknik menenun.

Selain itu, diadakan juga pameran untuk mempromosikan dan menjual hasil-hasil tenunan, baik dari ketiga pengrajin maupun pengrajin lainnya yang dibawa oleh Dekranasda NTT. Pameran ini berlangsung di showroom TRC, Leiden selama tiga hari, sejak dimulainya kegiatan workshop pada 31 Mei hingga sehari setelah kegiatan yakni 2 Juni 2016.

Disebutkan, workshop ditutup dengan resepsi bersama pada 1 Juni petang waktu setempat. Hadir dalam resepsi ini para pejabat dari institusi terkait, seperti Direktur IIAS, Dr. Philippe Peycam bersama Pembantu Direktur IIAS, Willem Vogelsang dan Direktur TRC, Dr. Gillian Vogelsang-Eastwood. Hadir pula Duta Besar Indonesia untuk kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja.

Yetty mengatakan, pada resepsi ini, baik pihak IIAS maupun TRC memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada delegasi Dekranasda NTT, terutama kepada ketiga pengrajin dengan keahlian mereka telah mewakili NTT di Belanda. Undangan dari berbagai lembaga dan instansi terkait maupun pencinta tekstil terutama tekstil Indonesia juga hadir dalam resepsi ini.

Menurutny, seluruh rangkaian acara diakhiri dengan kunjungan delegasi Dekranasda NTT ke Museum Tekstil (Textile Museum) di Kota Tilburg, Belanda, pada 3 Juni 2016. Selain itu, dalam rangkaian kegiatan workshop di Leiden ini, Ketua Dekranasda NTT, Lusia Adinda Lebu Raya, bertemu dengan pihak IIAS dan TRC untuk membicarakan beberapa program penting terutama dalam rangka melanjutkan studi-studi akademik dan penelitian tentang tenun ikat NTT.

Program-program lanjutan dari berbagai aspek diharapkan dapat dilakukan pada waktu mendatang dan juga upaya peningkatan mutu, produksi, manajemen, hak paten, pasar, dan lain-lain.

Ia menjelaskan, program-program yang dibicarakan memiliki tujuan agar tenun ikat sebagai warisan budaya NTT terus dilestarikan ke generasi penerus, sebagai aset dalam perbaikan ekonomi pengrajin dan pembangunan daerah. Selain itu, tenun ikat NTT juga dapat bersaing di dunia internasional dan mengambil bagian dalam peta seni dan budaya dunia.

Lembata dan Maumere Memukau Saat Pentas Seni Budaya

Kupang, NTT - Pada hari pertama di malam pentas seni budaya yang digelar di Jambore Tagana Daerah NTT, ditampilkan oleh lima kontingen yaitu dari kabupaten Lembata, Timor Tengah Selatan, Sikka, Manggarai Timur dan Malaka.

Dari penampilan kelima kontingen, kata Koordinator Tagana NTT, Irvan Mega, semuanya tampil maksimal, namun persiapan matang dan tampilan yang mononjol serta memuka para penonton ialah kontingen Lembata dan Sikka.

Kontingen Sikka menampilkan tarian Waibuan Sibulamen.

"Tarian tersebut ialah tarian kegembiraan yang selalu ditampilkan pada saat upacara adat atau pesta dengan menunjukkan kegembiraan," kata dua orang peserta asal Sikka, Nining dan Ita.

Tarian yang ditampilkan kontingen Sikka merupakan kolaborasi antara tarian tradisonal dengan menggunakan musik tradisional serta tarian kreasi moderen.

Delapan orang penari, yang terdiri dari empat perempuan dan empat laki-laki ini tampil sangat maksimal.

Tak kalah bagusnya juga ditampilkan oleh, kontingen asal Lembata yang mempersembahkan Tarian Hedung.

Tarian tersebut ialah tarian campuran yang menceritakan tentang bagaimana tagana bisa dibentuk. Tarian ini dibawakan oleh 9 penari perempuan.

Masyarakat Adat Perlu Diakomodir Dalam Kebijakan Pembangunan

Kupang, NTT - Pengamat hukum dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Dr Karolus Kopong Medan SH.MHum mengatakan persoalan lahan yang menjadi kendala bagi para investor selama ini, karena pemerintah tidak mengakomodir kepentingan masyarakat adat dalam kebijakan pembangunan.

"Kita semua tahu bahwa hampir sebagian besar lahan di wilayah Nusa Tenggara Timur ini adalah tanah ulayat, milik masyarakat adat. Namun, peran masyarakat adat diabaikan begitu saja oleh pemerintah dalam menata kebijakan pembangunan," katanya kepada Antara di Kupang, Rabu.

Kandidat kuat Dekan Fakultas Hukum Undana Kupang mengemukakan pandangannya tersebut ketika ditanya soal hambatan investasi di NTT, dimana salah satu kendalanya adalah hak kepemilikan atas lahan tersebut.

Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Undana Kupang ini mengatakan kebijakan pembangunan di daerah, tidak cukup dengan hanya mengakomodir kepentingan para investor, dan di sisi lain, justru mengabaikan peran masyarakat adat dalm kebijakan pembangunan.

Ia menambahkan antara pemerintah, investor dan masyarakat adat harus dilibatkan dalam setiap kebijakan pembangunan di daerah, guna mengeliminasi atau meminimalisir persoalan lahan yang menjadi hambatan investasi selama ini.

"Masyarakat adat harus diikutsertakan dalam pembangunan tersebut, dengan menjadikan lahan investasi itu sebagai saham agar mereka pun pun ikut menikmati hasil dari kegiatan inverstasi tersebut," ujarnya.

Dengan demikian, kata Kopong Medan, persoalan lahan yang menjadi kendala investasi selama ini, dapat terpecahkan dengan baik.

"Pemerintah seharusnya bisa merubah arah kebijakan pembangunan di daerah ini dengan melibatkan masyarakat adat yang menjadi pemilik tanah ulayat dimaksud," katanya.

Akibatnya ketika para investor ingin berinvestasi, muncul klaim atas kepemilikan lahan tersebut yang berakibat pada ketidaknayamanan investor untuk membuka usahanya di daerah itu.

Lebih lanjut Karolus yang juga merupakan pembantu Dekan ini mengatakan kepentingan masyarakat adat ini penting untuk diperhatikan, karena kendalah utama yg menjadi penghambat pembangunan adalah lahan yang selama ini dikuasai oleh masyarat adat.

"Konflik-konflik pembangunan yang ada di NTT selama ini lebih banyak didominasi oleh persoalan lahan. Contohnya seperti pembangunan dan pelebaran bandara, pembangunan bendungan, pelebaran jalan selalu menjadi kendala hanya karena sengketa," tururnya.

Karolus menilai selama ini pemerintah baik provinsi dan daerah lebih fokus untuk mengakomodir kepentingan pemerintah dan pihak investor semata, tanpa melihat betapa pentingnya peran dari masyarakat adat tersebut. Padahal keberadaan masyarakat adat dalam penguasaan dan pengolahan lahan tersebut sudah diklaim sebagai tanah ulayat.

Melihat hal tersebut maka menurutnya perlu ada kebijakan pembangunan yang mampu mengakomodir kepentingan masyarakat adat yang selama ini terabaikan perannya. Pemerintah daerah sendiri harus memperhatikan tiga kepentingan sekaligus termasuk kepentingan masyarakat adat sebagai pemilik lahan.

"Kalau perlu lahan yang dikuasai oleh masyarakat adat itu menjadi modal bagi masyakat dalam kolaborasi antara pemerintah, investor, serta masyarakat adat," ujarnya.

Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya ke Kupang pada 27-28 Desember 2015 lalu juga mengakui masalah lahan di NTT sering menjadi kendala masuknya investor untuk menanamkan modalnya.

Presiden Jokowi memandang penting untuk mendiskusikan persoalan tanah dengan para kepala suku dan tokoh-tokoh masyarakat setempat guna mencari jalan pemecahannya, agar bisa menggiring para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia Timur.

Beri Makan Laut Jadi Agenda Tahunan di Namosain Kupang

Kupang, NTT - Hari Senin, 23 November 2015 pukul 12.00 Wita, langit di Namosain cukup cerah. Matahari memancarkan sinar menusuk kulit. Angin sepoi di Pantai Namosain menjadi penyejuk bagi warga yang hadir di lokasi tersebut. Untuk pertama kalinya mereka menggelar ritual adat memberi makan laut. Ritual yang diharapkan menjadi agenda tahunan di Kota Kupang.

Pada momen bersejarah itu hadir Walikota Kupang, Jonas Salean, para asisten Sekda Kota Kupang, kepala dinas, camat dan lurah, tokoh adat dari empat etnis besar di Kelurahan Namosain. Juga ratusan warga Kelurahan Namosian dan sekitarnya yang memadati pantai tersebut. Empat etnis, yakni Timor, Rote, Solor dan Buton-Bajo.

Tenun Rote Sesuai Standar Pasar Internasional

Rote Ndao, NTT - Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan produk tenun dari Pulau Rote sudah sesuai dengan standar pasar internasional yang menginginkan produk ramah lingkungan.

"Pasar internasional cenderung membangkitkan kembali penggunaan warna-warna alam karena sifatnya yang ramah lingkungan dan aman," katanya dalam pameran serat dan warna alam Swarna Fest 2015 di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Jumat.

Oleh karena itu Kemenperin terus melatih para penenun di Rote Ndao, antara lain dengan memberikan bimbingan teknis pakaian jadi, pendampingan pencelupan warna alam, serta pelatihan kerajinan kerang.

Lebih lanjut Menperin mengatakan, kekayaan dan keberagaman alam Indonesia merupakan peluang yang besar untuk memberdayakan potensi warna dan serat alam yang dapat diarahkan bagi pewarnaan barang-barang kerajinan. "Dan ini memiliki potensi pemasaran ekspor sehingga dapat meningkatkan perekonomian bangsa. Kemenperin memfasilitasi promosi dan pameran sehingga produk yang dihasilkan mampu menembus pasar domestik dan internasional," kata pria kelahiran Rote itu.

Pada perhelatan tahun ini, Swarna Fest kembali mencatatkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk proses penenunan terbanyak dengan menggunakan pewarna alam.

Kemenperin menghadirkan 350 penenun dari Pulau Ndao yang terletak di seberang Pulau Rote. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan Swarna Fest 2013 dengan total 250 orang yang juga dicatatkan MURI.

"Ini merupakan suatu kemajuan. Saya merasa terharu dan semakin bersemangat untuk membangun tenun khususnya di wilayah timur Indonesia," kata Dirjen IKM Kemenperin, Euis Saedah.

Tujuh Negara Ikut Festival Budaya Melanesia

Kupang, NTT - Tujuh negara ikut ambil bagian pada Festival Budaya Melanesia di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan tersebut akan berlangsung selama lima hari, yakni sejak 26 hingga 30 Oktober 2015.

"Tujuh negara itu terdiri atas Papua Nugini, Timor Leste, Fanuatu, New Kaledonia, Salomon Island, dan tuan rumah Indonesia," kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sinun Petrus Manuk, kepada wartawan di Kupang, Kamis (8/10).

Dia mengatakan, sudah ada kepastian dari tujuh negara kelompok Melanesia untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan itu. Sementara untuk Indonesia, ada lima provinsi yang masuk dalam kelompok budaya Melanesia.

Lima provinsi yang juga akan hadir dalam festival tersebut, masing-masing, Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur, selaku tuan rumah. Dia mengatakan, ada sebelas kabupaten yang sudah menyiapkan diri untuk mementaskan budaya daerah masing-masing, yakni Malaka, Belu, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), Kabupaten Kupang, Alor, Lembata, Sikka, Ende, Ngada, dan Kabupaten Nagekeo.

Terkait persiapan tersebut, Pemerintah Nusa Tenggara Timur menggelar rapat pemantapan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Polhukam, dan Kementerian Luar Negeri di Jakarta. "Rapat nanti akan membahas peran masing-masing kementerian dalam kegiatan tersebut sekaligus rapat pemantapan kegiatan," katanya.

Dalam agenda dan rancangan kegiatan yang disediakan, lanjut dia, kegiatan tersebut akan dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan di Kupang.

Selanjutnya, dilakukan simposium yang menghadirkan sejumlah pembicara yang mewakili masing-masing negara peserta.

Pembicara yang mewakili Indonesia, kata dia, adalah Pater Dr Gregorius Neonbasu, SVD yang merupakan antropolog dan pakar Melanesia. "Terhadap rohaniwan Katolik itu, juga menjadi pilihan Kemendikbud karena kepakarannya," kata mantan kepala dinas sosial Provinsi Nusa Tenggara Timur itu.

Kegiatan lainnya selama festival itu, peserta akan menikmati pemutaran film Melanesia di Aula El Tari. Selain itu, mengunjungi Museum Negeri Kupang dengan 7.000-an koleksi yang mirip enam negara lainnya di Pasifik Selatan.

Kegiatan lainnya adalah temu budaya di Taman Budaya NTT dengan pentas budaya Melanesia. "Semua rencana kegiatan itu sudah disediakan dan tinggal dilaksanakan pada hari pelaksanaannya," katanya. Dia berharap ada dukungan dari seluruh pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kota Kupang, yang adalah tuan rumah langsung pelaksanaan kegiatan ini.

Bombardom, Alat Musik Indonesia yang Raih Rekor Dunia

Flores, NTT - Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 19 September, konser musik tradisional Bombardom yang diadakan di kampung adat Tololela, Desa Manubhara, Kecamatan Inerie, kawasan Wisata Lembah Jerebu’u, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, menciptakan Rekor-Dunia MURI. Saat itu tidak kurang dari 510 warga kampung Tololela meniup 510 alat musik Bombardom diiringi ansembel seruling bambu mempergelar lagu kebangsaan “Indonesia Raya”.

Konser ini merupakan prakarsa warga kampung Tololela, Pemerintah Desa Manubhara, Dinas Perhubungan Pariwisata, Komunikasi dan Informatika (P2KI) Kabupaten Ngada, untuk membangkitkan lagi semangat masyarakat Jerebu’u untuk melestarikan alat musik tradisional ini.

Penciptaan Rekor-Dunia MURI ini juga didukung oleh program INFEST (Innovative Indifeneous Flores Ecotourism for Sustainable Trade) yang didukung oleh Uni Eropa dan dilaksanakan oleh Yayasan Indecon.

Penciptaan Rekor Dunia di pelataran rumah adat kampung Tololela tersebut memiliki makna ganda, di satu sisi sebagai daya tarik pariwisata untuk berkunjung ke kawasan wisata Lembah Jerebu’u. Di sisi lain, penciptaan Rekor Dunia di kampung Tololela merupakan upaya melestarikan alat musik Bombardom sebagai karsa dan karya kebudayaan Nusantara.

Mungkin terasa asing mendengar alat musik bernama Bombardom. Jika anda menganggap alat musik tersebut adalah alat musik dari luar negeri, maka keliru, pasalnya alat musik ini adalah alat musik asli Indonesia.

Bombardom adalah sebuah alat musik tiup tradisional masyarakat Ngada di pulau Flores yang di masa kini jarang di gunakan maka terancam punah akibat tergusur oleh arus gelombang globalisasi.

Sekilas, alat musik ini terlihat seperti kentongan yang biasa ada di pos ronda. Alat musik Bombardom terdiri dari dua elemen yaitu bambu besar dan bambu kecil untuk meniupkan udara ke bambu besar dan bambu kecil untuk meniupkan udara ke bambu besar. Alat musik ini ditiup secara bergantian antara dua nada yang berbeda. Bombardom biasanya mengiringi alat musik bambu lainnya seperti seruling dari Foi Doa (seruling ganda) khas Ngada dan dimainkan untuk pesta adat atau penerimaan tamu.

NTT Gelar Festival Budaya Lamaholot

Kupang, NTT - Tiga kabupaten di Nusa Tenggara Timur menggelar festival Budaya "Lamaholot" di Lewoleba, Kabupaten Lembata yang diikuti oleh masyarakat Lamaholot mulai dari Solor, Flores Timur Daratan, Adonara, Lembata dan Alor.

"Festival budaya Lamaholot yang digelar bersama oleh Kabupaten Flores Timur, Lembata dan Alor itu ini untuk tetap mempertahankan budaya Lamaholot yang satu dan sama antara masyarakat Watan Lema (lima pulau) yang tergabung dalam masyarakat Lamaholot," kata Kepala Seksi Pasar dan Informasi Pengembangan Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Diparektif) Nusa Tenggara Timur, Nani Carvallo, kepada Antara dari Lembata, Senin (28/9/2015).

Festival yang akan berlangsung 28-30 September 2015 itu katanya dilakukan untuk tetap mempererat persatuan diantara warga Lamaholot sendiri dan tetap mempertahankan dan melestarikan budaya Lamaholot

Karena itu jauh hari sebelumnya sudah diagendakan dengan baik antara pemerintah kabupaten Lembata, Flotim dan Alor, karena itu festival ini dan Pemerintah tiga Kabupaten memberikan dukungan penuh untuk kegiatan tersebut.

Dia mengatakan, salah satu acara yang dirancang dalam Festival Budaya Lamaholot itu adalah parade Budaya Lamaholot keliling kota Lewoleba pada awal pembukaan yang akan digelar sekitar pukul 15.00 WITA, setelah dibuka Bupati Lembata.

"Semua peserta memakai pakaian khas daerah masing-masing sambil memperagakan budaya dan seni masing-masing pulau," katanya.

Ketika parade budaya itu berlangsung, katanya akan ada paralayang yang selalu mengitari parade itu dari udara. Tim paralayang itu sudah siap dan mereka akan datang meramaikan Festival Budaya Lamahlot tersebut.

"Keragaman seni dan budaya masyarakat Flores Timur dan Lembata di ujung timur pulau Flores dan Alor itu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi warga setempat dan wisatawan nusantara dan mancanegara," katanya.

Karena itu, suksesnya kegiatan festival ini sangat bergantung dari partisipasi warga Lembata dan Flores Timur dan Alor dalam memperkenalkan berbagai bentuk seni dan budaya, termasuk menunjukan hasil karya kreatif dari masyarakat kedua kabupaten ini.

“Kita akui sejauh ini potensi seni dan budaya masyarakat ketiga kabupaten ini belum dikelola secara baik sehingga belum menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara,” katanya.

Sebelumnya kata dia, telah dilangsungkan Festival Lamaholot di Jakarta pada 6 Juni 2015 digagas oleh Kerukunan Keluarga Flores Timur (Tite Hena) bersama Paguyuban Keluarga Besar Lembata (KBL) dan puncaknya pada hari ini.

Flores Timur dan Lembata dan Alor merupakan tiga kabupaten yang memiliki kesamaan sejarah, budaya,dan bahasa bahkan warganya memiliki jalin kekeluargaan yang sangat dekat. Kesamaan yang mempersatukan ketiga kabupaten ini sering dikenal dengan sebutan Lamaholot.

"Ini momentum bagi seluruh masyarakat Lamaholot untuk menggali dan bersama-sama memperkenalkan potensi wisata Lamaholot baik alam maupun budayanya sebagai sebuah kekayaan yang dapat memberi nilai manfaat bagi kehidupan masyarakat,¿ katanya.

-

Arsip Blog

Recent Posts