Tampilkan postingan dengan label Tulungagung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulungagung. Tampilkan semua postingan

Masyarakat Laporkan Dugaan Korupsi Dana BOS

Tulungagung—Sejumlah warga yang menamakan dirinya Masyarakat Peduli Pendidikan Kabupateng Tulungagung, Senin (25/2) pagi mendatangi kantor Kejaksaan Negeri Tulungagung.

Mereka melaporkan kasus dugaan korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung. Mereka mendesak pihak kejaksaan melakukan penyelidikan lanjut berdasar data dan bukti-bukti yang diserahkan. Selanjutnya agar kasus dugaan korupsi ini bisa di proses sesuai hukum yang berlaku.

Ketua Masyarakat Peduli Pendidikan Tulungagung Suhadi kepada wartawan mengatakan berdasarkan temuan mereka, Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung diduga melakukan korupsi dalam pengadaan komputer untuk sekolah yang dibiayai menggunakan dana BOS dari pemerintah pusat tahun anggaran 2005/2006.

Jumlah dananya mencapai Rp 1,4 miliar untuk pembelian 398 unit komputer pentium III beserta printernnya dengan harga per satuan mencapai Rp 3,5 juta. Ada beberapa proses yang diduga melanggar aturan yakni tidak adanya tender terbuka, padahal nilai proyek tersebut Rp 1,4 miliar. Selain itu pengadaan komputer tersebut ternyata dilakukan melalui Persatuan Guru Republik Indonesia dimana harga komputer menurut MPP terlalu tinggi.

Sebab, barang yang diterima oleh sekolah ternyata merupakan komputer bekas yang dirakit ulang. Diperkirakan harga barang tersebut di pasaran hanya sekitar Rp 1,8 juta sampai Rp 2 juta per unit. Bukti-bukti yang diserahkan antara lain berupa copy surat permohonan pengadaan komputer dari pengurus PGRI Tulungagung yang ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan, surat pemesanan satu unit komputer seharga Rp 3,5 juta dari Kepala Sekolah SDN Gedangan II Kecamatan Campur Darat kepada bagian pengadaan komputer PGRI Kabupaten Tulungagung dan perincian penggunaan dana komputer.

Dari data yang dimiliki MPP, akumulasi pemesanan komputer di seluruh Kabupaten Tulungagung mencapai 400 unit, akan tetapi yang terealisasi sebanyak 398 unit meliputi sekolah dasar di 19 kecamatan antara lain Kecamatan Tulungagung 17 unit, Kedungwaru 23 unit, Boyolangu 27 unit, Ngantru 22 unit, Rejotangan 20 unit, dan Sumber Gempol 34 unit. Laporan masyarakat tersebut di terima oleh petugas piket Kejaksaan Negeri Tulungagung.

Sementara itu Kasi Intel Kejaksaan Negeri Tulungagung Selamet yang dihubungi secara terpisah mengatakan seperti laporan masyarakat pada umumnya, pihak kejaksaan akan menanggapi dan menindaklanjuti sesuai prosedur hukum. (NIK)

Sumber: Kompas, Senin, 25 Februari 2008

2.400 Penari Pecahkan Rekor Muri

Tulungagung, Jatim - Pemerintah Kabupaten Tulungagung berhasil memecahkan rekor dunia tarian tradisional Reog Kendang dengan peserta terbanyak, yakni diikuti 2.400 siswa mulai sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA).

Selain memecahkan rekor dunia, tarian ini juga me-mecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri). ”Untuk Reog Kendang tercatat di Muri nomor 7181. Kegiatan ini memecahkan rekor dunia,” ungkap Manajer Muri Sri Widayati di pelataran GOR Lembu Peteng, Tulungagung, Jatim, kemarin. Setiap penari mengenakan kostum serupa. Mereka memakai celana hitam berukuran selutut ditutup kain batik bermotif Gajah Mada.

Masingmasing membebat kepala dengan tekes yang dilapis hasduk merah putih pramuka. Di setiap tangan menenteng ken-dang jimbe. Tidak ada hiasan kepala macan dan keindahan warnawarni bulu merak seperti lazimnya Reog Pono-rogo. Pasalnya, kekuatan seni Reog Kendang Tulungagung lebih pada irama tepukan kendang.

”Tarian ini mengeks-presikan semangat persatuan dan kegotongroyongan ma-syarakat Tulungagung,” ung-kap Sri Widayati. Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf meng-apresiasi acara ini. ”Ini luar biasa,” ungkap Saifullah Yusuf.

Pria yang akrab dipanggil Gus Ipul ini mengatakan, Reog Kendang merupakan bagian dari kekuatan seni dan budaya masyarakat Jawa Timur, sebab hanya ada di Tulungagung khususnya dan Jawa Timur umumnya. ”Saya berharap ke depan tidak hanya melibatkan pelajar, tapi lebih luas lagi melibatkan para seniman,” ujarnya.

Bupati Tulungagung Sahri Mulyo mengatakan, sejak 2010 seni Reog Kendang sudah dipatenkan sebagai folklor masyarakat Tulungagung. Hingga saat ini tercatat ada 233 kelompok Reog Kendang di Tulungagung. ”Selain Reog Kendang, kita juga punya seni budaya jaranan, wayang kulit, kentrung, jidor, dan langen tayub. Saat ini yang menjadi ikon Tulungagung adalah Reog Kendang,” ungkapnya.

Dimas Aji, salah satu peserta tari Reog Kendang asal SMA Negeri Kedungwaru, mengatakan bahwa semua peralatan menari berasal dari sekolah masing-masing, sedangkan delegasi yang dikirim memang penari Reog Kendang. Selain memecahkan rekor tari Reog Kendang, Pemerintah Kabupaten Tulungagung juga berhasil memecahkan rekor Muri untuk penyajian pecel lele terpanjang dan terbanyak.

Sebanyak 5.180 porsi pecel lele bersantan ditempatkan berjajar sejauh 1,3 kilometer di Jalan Desa Gondosuli, Kecamatan Gondang. Acara pecah rekor ini menghabiskan 1,5 ton lele.

Tradisi Unik Cuci Tombak nan Terlarang Dilihat Wanita

Tulung Agung, Jatim - Memasuki Bulan Suro, masyarakat Tulung Agung, Jawa Timur, memiliki tradisi menjamas atau mencuci tombak Kyai Upas yang merupakan pusaka masyarakat setempat.

Upacara adat siraman pusaka ini dilaksanakan setiap tahun sekali, yaitu bertepatan pada hari Jumat antara tanggal 11 sampai 20 Bulan Suro. Puncak upacara dilaksanakan pada hari Jumat dengan mengambil waktu pukul 09.00 WIB hingga 11.00 WIB atau sebelum Salat Jumat.

Prosesi jamasan pusaka andalan Kabupaten Tulung Agung ini diawali dengan kirab pagar ayu yang terdiri dari barisan gadis remaja menuju ke Pendopokan Jenan, yang berada di Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kota Tulung Agung. Mereka membawa air yang berasal dari 7 sumber yang ada di Kabupaten Tulung Agung.

Usai penyerahan air kembang, para penggawa dan sesepuh mengeluarkan pusaka tombak Kyai Upas yang sehari-hari disemayamkan di dalam kamar Pendopokan Jenan. Pusaka yang panjangnya sekitar 5 meter dengan ujung tombak sepanjang sekitar 70 sentimeter ini, kemudian diletakkan membujur dan dipegang 5 orang. Usai tombak dilepas dari sarungnya, ujung tombak dijamas menggunakan air kembang dicampur air jeruk nipis.

Tujuan upacara adat siraman pusaka tombak Kanjeng Kyai Upas adalah untuk pemeliharaan secara tradisional, sehingga diharapkan dengan pemeliharaan ini pusaka tombak Kyai Upas akan tetap ampuh, tidak rusak, dapat melindungi masyarakat pendukungnya dari adanya gangguan atau bencana yang akan menimpanya.

"Ada pantangan saat menjamas pusaka kebanggaan warga Tulungagung ini. Yakni, wanita tidak boleh melihat langsung selama pencucian. Sebab, seperti keyakinan turun temurun, Kyai Upas berjenis kelamin laki-laki dan pantang dilihat perempuan saat dimandikan,"kata Mashudi, peserta jamasan.

Kanjeng Kyai Upas adalah pusaka yang berbentuk tombak yang panjang bilahnya berukuran 35 sentimeter dan panjang landheyan atau tangkainya 5 meter. Pada pangkal bilahnya ada tulisan dari bahan emas dengan huruf Arab berlafal Allah.

Pusaka ini diberi lurup atau ditutup berlapis-lapis dengan kain cindhe. Setiap hari Kamis oleh Kyai Emban diberi sesaji dan diberi lampu cuplak dengan minyak jarak dan sambil membakar kemenyan.

Menurut cerita yang berkembang, Kanjeng Kyai Upas berasal dari lidah seekor ular naga bernama Baru Klinthing.

Pusaka Tombak Kanjeng Kyai Upas ini berasal dari Mataram yang dibawa oleh Raden Mas Tumenggung Pringgodiningrat, putra dari Pangeran Noyokusumo di Pekalongan yang menjadi menantu Sultan Hamengku Buwono II, ketika beliau menjadi Bupati Ngrowo yang sekarang dikenal dengan Tulungagung.

Ditutup, 2 Lokalisasi di Tulungagung Hidup Lagi

TULUNGAGUNG - Dua lokalisasi di Desa Kaliwungu, Kecamatan Ngunut, dan Desa Ngujang, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, diam-diam hidup lagi. Lokalisasi ini pernah ditutup era pemerintahan Bupati Heru Tjahjono.

"Informasi yang kami terima masih beroperasi. Pemerintah harus segera menyikapi ini sesuai janji," ujar Ketua DPRD Kabupaten Tulungagung Supriyono, kepada wartawan, Jumat (4/7/2014).

Ditambahkan dia, selain mendapat bantuan dana dari kementrian sebesar Rp512 juta, pelaksanaan kegiatan penutupan tersebut dihadiri langsung Menteri Sosial Salif Segaf Al Jufri.

"Agar para penghuni tidak kembali menjalani aktivitas prostitusi, saat itu Bupati Heru berjanji menjadikan lokasi sebagai lapangan olahraga futsal. Namun kenyataanya, hingga kini janji yang diucapkan itu tidak juga direalisasi," terangnya.

Bupati Heru juga berjanji akan mengubah lokalisasi itu menjadi kolam pemancingan dan pasar burung. Tetapi hingga kini, lokalisasi itu masih berdiri. Banyak wisma yang ada di komplek pelacuran itu masih berpenghuni.

"Bahkan di sekitar lokalisasi semakin marak tempat hiburan karaoke yang menyedikan fasilitas plus. Kami mendesak Bupati sekarang untuk segera merealisasikan janji pemerintahan sebelumnya," pungkas Supriyono.

Dikonfirmasi terpisah, Bupati Tulungagung Sahri Mulyo mengaku terkejut. Dia tidak menyangka bila pemerintahan sebelumnya menjanjikan pembangunan tempat olahraga futsal, kolam pemancingan, dan pasar burung di wilayah eks lokalisasi.

"Saya akan coba menanyakan ke dinas terkait. Kalau memang janji tentunya harus direalisasi," ujarnya singkat.

-

Arsip Blog

Recent Posts