Air Terjun Jumog

Air Terjun Jumog merupakan tempat wisata observasi alam yang sangat menyenangkan. Air Terjun Jumog berada dalam satu wilayah desa dengan Candi Sukuh di daerah Karanganyar Yogyakarta. Tidak usah khawatir tersesat di lokasi ini, sebab papan petunjuk sangat terlihat dengan jelas oleh mata, terpasang di beberapa tempat lokasi strategis. Obyek Air Terjun Jumog ini berada di kawasan wisata Tawangmangu. Air Terjun Jumog diresmikan oleh Bupati Karanganyar pada tanggal 7 Agustus 2004. Obyek Air Terjun Tumog merupakan salah obyek wisata alam yang melukiskan surga dunia yang hilang.

Menikmati keindahan Air Terjun Jumog memang tidak membosankan. Deretan pepohonan paku serta letaknya yang memang tersembunyi membuat waktu seperti berhenti. Dimana di sekitar lokasi Air Trejun Jumog dapat dinemukan semacam aula berukuran sekitar 5 x 12 m persegi yang bisa digunakan untuk kegiatan bersama.

Hawa yang cukup dingin pada ketinggian 900-an meter di atas permukaan laut membuat suasana menjadi segar untuk dinikmati para pengunjung tempat ini.
Tidak jauh dari tempat lokasi, terlihat sebuah kolam renang untuk anak-anak yang juga terdapat perosotan yang diletakkan di tengah kolam. Agak ke atas ada tanah lapang dengan beberapa permainan anak seperti ayunan dan jungkat-jungkit.

Jalan setapak menuju air terjun jumog yang berada di sisi sungai memang terasa teduh, ditingkahi kicau burung. Menyusuri jalan setapak yang sudah dipaving block membuat perjalanan merasa nyaman. Air yang mengalir dari mata air yang berada di sebelah timur kawasan Air Terjun Jumog itu terbelah menjadi dua dan terjun menuruni tebing setinggi +/- 30 meter.

Jika ingin mendekat sambil menikmati pesona alam Air Terjun Jumog, tidak jauh dari air terjun Jumog terdapat sebuah jembatan bambu yang bebas tampias. Di sisi kanan air terjun memang disediakan semacam gardu pandang untuk menikmati air terjun, tampiasan air terjun dapat di rasakan di tempat ini. Namun, dari gardu ini bisaterlihat jatuhnya Air Terjun Jumog yang membentuk sebuah kolam. Udara segar langsung dapat di nikmati di tempat ini. Memang benar bahwa udara di seputar air terjun segar dikarenakan mengandung ion negatif.

Pantai-pantai Cantik di Flores

Kepulauan di Nusa Tenggara Timur ini punya banyak pantai yang tak kalah mempesona. Bahkan di antaranya adalah yang paling cantik di Indoensia, seperti pantai-pantai berikut ini :

Pantai Adonara
Tak ada habisnya membicarakan keindahan alam milik Flores. Salah satunya yang masih tersembunyi adalah pantai Pulau Adonara. Keindahan bukit hijau yang mengelilingi, semakin sempurna dengan birunya laut dan putihnya langit.

Sempurna adalah kata yang tepat untuk mewakilkan pantai di pulau ini. Sejauh mata memandang, hanya keindahan yang bisa di saksikan. Apa lagi pemandangan Laut Flores dan Selat Solor yang makin memperkaya keindahan alam di sini. Semuanya benar-benar terlihat bagai lukisan.

Pantai ini bisa di tempuh dari Kota Larantuka dengan menggunakan kapal kayu.
Sebuah bukit hijau berpayung awan putih menjadi pemandangan pertama yang bisa di saksikan ketika sampai. Pantai ini memiliki laut yang biru dan jernih, menjadi pendamping sempurna dengan bukit di sebelahnya. Ikan-ikan kecil jelas terlihat dari permukaan. Ya, tanpa perlu alat snorkeling, pemandangan bawah lautnya bisa di saksikan. Semua bagian pantai terlihat sangat bersih, juga tak ada sampah yang mengotori lautnya.

Pink Beach
Flores memang tak lepas dari Pulau Komodo yang eksotis. Selain hewan yang sudah langka, pulau ini juga punya pantai yang tak kalah mempesonanya. Namanya adalah Pink Beach atau Pantai Pink. Pantai unik ini sudah berhasil memikat banyak wisatawan. Dari jauh, pasir ini tidak akan terlihat pink melainkan hanya putih biasa. Datanglah ke tepiannya dan tunggu sampai ombak menjilat tepian pasir. Warna pink akan terlihat lebih pekat dibanding pasir yang masih kering. Warna merah muda yang ada di pasir ini merupakan komposisi dari koral, pecahan kerang dan kalsium karbonat dari biota laut yang ada di sana. Cobalah berenang dan nikmati segarnya air nan biru itu. Jika takut tenggelam, bisa menggunakan pelampung dan jangan lupa menggunakan perlengkapan snorkeling agar bisa menikmati pemandangan di bawah lautnya. Jika beruntung, bisa bertemu ikan pari yang sedang asyik bermain pasir di dasar yang tidak terlalu dalam. Tepian Pantai Pink adalah surga bawah laut yang membuat siapapun berdecak kagum. Tak perlu menyelam terlalu jauh karena pemandangan cantik ini bisa dinikmati hanya dalam kedalaman tak sampai 1 meter.

Pantai Penggajawa
Namun, pesona Flores tidak hanya di Pulau Komodo saja. Ende juga punya pantai yang memiliki pemandangan memukau, yaitu Pantai Penggajawa. Debur ombak yang tinggi, panjangnya garis pantai yang dipenuhi bebatuan hijau, dan putihnya pasir menjadikan Pantai Penggajawa sebagai destinasi wajib saat ke Ende. Ya, batuan hijau adalah salah satu di antara keindahan lainnya di pantai ini. Uniknya, batuan hijau ini berasal dari dasar laut Penggajawa. Dengan bantuan ombak, batuan tersebut terdampar di Pantai Penggajawa. Tidak ada yang tahu asal muasal asli bebatun tersebut, tapi warga sekitar percaya batuan itu berasal dari dasar laut yang terbawa ombak, hingga sampai ke pinggiran pantai. Terlepas dari batuan hijaunya, Penggajawa termasuk pantai yang sepi dikunjungi wisatawan. Salah satu spot terbaik untuk melihat panorama pantai adalah dari bukit yang berdiri tegak di kanan dan kiri pantai. Perbukitan di pulau depan pantai, tampak sempurna ditutupi awan tipis.

Pantai Endau
Masih di Ende, ada lagi pantai yang tak kalah cantik dibanding Pantai Penggajawa. Namanya Pantai Endau, ini adalah tempat untuk menyaksikan sunset yang paling indah di Nusa Tenggara Timur. Datanglah pada sore hari dan tangkap momen paling cantik di Pantai Endau, tenggelamnya sang matahari. Waktu terbaik untuk menangkap sunset adalah sekitar pukul 17.30 Wita. Saat itu sang surya tampak berwarna jingga kemerahan. Pelan-pelan ia bersembunyi di balik awan dan lama-lama menghilang. Selain sunset, keindahan Pulau Endau semakin bertambah dengan adanya bukit hijau yang mengelilingi pantai. Debur ombak yang besar menambah kesan elok Pantai Endau. Cobalah berjalan dan jejakkan kaki di pasir hitamnya dan rasakan kehalusannya. Berjalan perlahan, jangan terburu-buru karena pasir hitam nan halus siap menenggelamkan kaki telanjang. Pantai Endau memiliki ombak yg cukup besar, oleh karena itu cocok untuk yang senang dengan olahraga selancar. Jika tidak suka berselancar, bisa bermain-main di pesisir pantainya. Terkadang, beberapa pengunjung yang datang menghabiskan waktu dengan bermain bola. Keempat pantai tadi adalah yang paling terkenal di Flores. Masih banyak lagi pantai di kepulauan ini yang belum terjamah.

Pohon Kemang

Kemang (Mangifera kemanga) merupakan tanaman yang mulai langka di Indonesia. Padahal, konon dari nama pohon sejenis mangga ini nama daerah Kemang di Jakarta berasal. Pohon kemang yang mempunyai buah khas berbau harus menusuk dengan rasa yang masam manis ini juga telah ditetapkan sebagai flora identitas kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sayangnya, tumbuhan ini mulai langka dan sulit ditemukan. Tanaman kemang yang makin langka ini sering kali dianggap sebagai spesies yang sama dengan binjai, namun sejumlah pakar memisahkannya dalam jenis yang berbeda. Flora identitas kabupaten Bogor ini mempunyai nama Indonesia, kemang. Di daerah Kalimantan Timur sering disebut sebagai palong sedangkan berdasarkan nama ilmiah, kemang dinamai Mangifera kemanga yang bersinonim dengan Mangifera polycarpa dan Mangifera caesia.

Ciri-ciri Kemang.
Pohon kemang tingginya mampu mencapai 45 m dengan garis tengah batang mencapai 120 cm. Tajuk tumbuhan langka ini berbentuk menyerupai kubah dengan percabangan yang tidak terlalu rapat. Kulit batang kemang berlekah dan mengandung getah yang dapat menyebabkan iritasi.

Daun kemang berbentuk jorong sampai lanset. Daun-daunnya seringkali mengumpul di ujung-ujung percabangan. Tangkai daun agak duduk (bertangkai sangat pendek) pada ranting. Tepi daun tanaman yang langka ini terlihat menyempit di sekitar pangkal daunnya.,br/> Perbungaan malai di ujung-ujung percabangan. Bunga kemang (Mangifera kemanga) berwarna merah muda pucat dan beraroma harum. Buah kemang, berbentuk bulat telur terbalik sampai lonjong dengan kulit buah tipis dan berwarna coklat kuning suram apabila masak. Daging buah kemang berwarna keputihan, lunak, berair dan berserat. Aroma buah kemang sangat khas dan tajam sedangkan rasa buahnya mulai asam sampai manis. Biji kemang jorong sampai lanset.

Musim berbunga pohon kemang dimulai bulan Oktober sampai Desember. Sedang musim berbuahnya terjadi pada musim penghujan yaitu mulai bulan November sampai Maret. Habitat, Persebaran, dan Pembudidayaan. Pohon kemang umumnya tumbuh di dataran rendah di daerah tropika basah di bawah ketinggian 400 m dpl. walaupun dapat dijumpai juga hingga ketinggian 800 m dpl. Tanaman penghasil buah langka ini memerlukan persebaran curah hujan yang merata sepanjang tahun dan tumbuh baik di pinggiran sungai yang secara berkala tergenang air.,br/> Pohon langka kemang ini tersebar secara alami di semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, dan Jawa terutama bagian barat. Di sekitar Kabupaten Bogor, tumbuhan ini banyak dibudidayakan sehingga tidak mengherankan jika kemudian berdasarkan SK Bupati Nomor 522/185/kpts/Huk/1996, kemang ditetapkan sebagai flora identitas kabupaten Bogor. Konon, nama daerah Kemang di Jakarta juga bermula dari banyak dijumpainya tumbuhan ini di daerah tersebut pada masa silam.,br/> Kemang biasanya ditanam di pekarangan dan di kebun-kebun serta di pinggiran/bantaran sungai. Perbanyakan tanaman kemang tidak terlalu sulit, umumnya dengan cara mengecambahkan bijinya. Namun dimungkinkan juga dengan cara enten.

Pemanfaatan.
Kemang banyak dimanfaatkan buahnya yang dimakan segar ketika buah telah masak. Buah langka ini juga dijadikan campuran dalam es buah atau digunakan juga sebagai bahan pembuatan sirup (sari buah).

Buah yang masih muda sering dimanfaatkan sebagai bahan rujak. Biji buah kemang juga sering dimakan dengan diiris-iris tipis dan setelah dibumbui dan ditambahi kecap. Sedangkan daun kemang yang masih muda sering dijumpai dipergunakan oleh masyarakat Sunda sebagai lalapan.

Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae; Filum: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Sapindales; Famili: Anacardiaceae; Genus: Mangifera; Spesies: Mangifera kemanga; Sinonim: Mangifera polycarpa, Mangifera caesia. Nama binomial Mangifera kemanga (Blume, 1850).

Sungai terpanjang di Indonesia

Sungai Musi (Sumatera)
Sungai Musi disebut juga sebagai Batanghari Sembilan (yang berarti: sembilan sungai besar). Panjang sungai Musi mencapai 750 km yang membelah provinsi Sumatera Selatan dari timur ke barat termasuk membelah kota Palembang, ibu kota Sumatera Selatan. Bagian hulu (sumber air) Sungai Musi berada di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu dan bermuara di Laut Bangka.

Sungai Kapuas (Kalimantan)
Sungai Kapuas atau Sungai Batang Lawai merupakan sungai terpanjang di Indonesia dengan panjang total 1.143 km. Sungai ini terdapat di provinsi Kalimantan Barat. Sungai Kapuas mempunyai hulu di Pegunungan Muller dan mulut sungainya (muara) terdapat di selat Karimata dengan melintasi kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Melawi, Sintang, Sekadau, Sanggau, Landak, Kubu Raya, hingga membelah kota Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat.

Sungai Mahakam (Kalimantan)
Sungai Mahakam menjadi susngai terpanjang kedua di Indonesia dengan panjang total 920 km. Sungai yang terdapat di Kalimantan Timur dan bermuara di Selat Karimata ini melintasi Kabupaten Kutai Barat dan Kutai Kartanegara. Bahkan sungai Kapuas juga melintasi dan membelah Kota Samarinda, ibu kota provinsi Kalimantan Timur. Sungai ini pula menjadi habitat salah satu ikan yang sekaligus mamalia air tawar paling langka yakni Pesut Mahakam. Pada aliran sungai Mahakam juga terdapat Danau Cascade Mahakam.

Sungai Barito (Kalimantan)
Sungai Barito atau Sungai Dusun, Sungai Banjar Besar, atau Sungai Banjarmasin dan terkadang disebut juga sebagai Sungai Banjar dan Sungai China. Merupakan sungai terpanjang ketiga di Indonesia dengan panjang mencapai 900 km. Sungai Barito berhulu di Pegunungan Muller dan bermuara di Laut Jawa dengan melintasi provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Sungai (Batang) Hari (Sumatera)
Sungai Hari atau Batang Hari merupakan sungai terpanjang di pulau Sumatera dengan panjang mencapai 800 km. Sungai Batanghari berhulu di Pegunungan Bukit Barisan dan bermuara di Selat Berhala, Jambi. Sungai Batanghari melintasi provinsi Sumatera Barat dan Jambi yang meliputi Kabupaten Solok, Solok Selatan, Dharmasraya, Bungo, Tebo, Batang Hari, kota Jambi, Muaro Jambi, dan Tanjung Jabung Timur.

Sungai Mamberamo (Papua)
Sungai Mamberamo merupakan sungai terpanjang di Papua dengan panjang sungai mencapai 670 km. Terletak di kabupaten Sarmi disebelah selatan Pegunungan Foja dan bermuara di Tanjung D’Urville di pesisir utara Pulau Papua yang berbatasan dengan samudera Pasifik. Sungai Mamberamo mempunyai berbagai lembah yang kaya akan keanekaragam hayati dan menjadi tempat mukim berbagai suku terasing sehingga dijuluki ‘Amazonnya Papua’.

Sungai Bengawan Solo (Jawa)
Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa dengan panjang mencapai 548 km. Hulu Bengawan Solo terdapat di daerah Pegunungan Kidul di Wonogiri, Jawa Tengah dan bermuara di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Daerah yang dilewati sungai ini di antaranya Kabupaten Wonogiri, Pacitan, Sukoharjo, Klaten, Surakarta, Sragen, Ngawi, Blora, Magetan, Madiun, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik.

Sedikit catatan untuk panjang masing-masing sungai dari ke-7 sungai terpanjang tersebut mungkin masih menjadi perdebatan dan perbedaan.
Sebagai bangsa Indonesia sudah selayaknya kita bangga dengan kekayaan alam kita yang salah satunya adalah dikaruniai ratusan sungai yang terdapat di seluruh penjuru Indonesia. Berbangga tentunya diikuti oleh dua hal; pertama musti mengenal terlebih dahulu, dan kedua, siap untuk menjaga dan melestarikannya. Dengan demikian, sungai-sungai terpanjang ini akan tetap memberikan berkah pada seluruh rakyat Indonesia, bukan bencana.

Pesona Situ Cileunca

Situ Cileunca terletak di Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Danau ini merupakan danau buatan yang luasnya 1.400 Hektar dengan dikelilingi bukit-bukit dan berlatar belakang pegunungan. danau berkedalaman 17 meter ini banyak didatangi wisatawan untuk camping. Karena Pengelola objek wisata ini menyediakan arena camping round. Suara mesin dari perahu tidak mampu mengalahkan suara desiran angin dan gelombang air di Desiran angin itu semakin kuat menyibak rambut saat perahu terus melaju tanpa henti. Mata pun tak pernah letih memandang gelombang air, gunung-gunung, yang berada di sekitar Situ Cileunca.

Menurut sejarah Situ Cileunca merupakan kawasan pribadi seorang warga Belanda bernama Kuhlan yang dulu menetap di Pangalengan. Dalam pembangunannya Situ Cileunca dilaksanakan dalam waktu yang cukup lama yaitu selama 7 tahun ( 1919 – 1926 ) dengan membendung aliran sungai kali Cileunca, sehingga terbuatlah sebuah situ yang akhirnya menjadi sebuah bendungan yang sekarang diberi nama Dam Pulo. Uniknya dalam pembangunan Situ Cileunca ini berdasarkan cerita para orang tua dahulu situ ini dibangun oleh banyak orang tetapi tidak menggunakan cangkul tetapi mengunakan halu. Pembangunan Situ Cileunca ini dikomandoi oleh dua orang pintar yakni juragan Arya dan Mahesti.

Pada zaman Kolonial Belanda Situ Cileunca digunakan sebagai salah satu sumber listrik bagi kota Bandung, selain itu juga debit airnya juga digunakan sebagai cadangan sumber air bersih bagi kota Bandung dikala itu dengan kapasitas air 9.89 juta M3. Situ Cileunca, menawarkan banyak objek wisata. Selain bisa menikmati keindahan situ dan iklimnya yang segar, pengunjung juga bisa mendatangi kebun strawberry dan kebun arbei. Untuk mencapai lokasi kebun tersebut, pengunjung harus menggunakan perahu dengan waktu tempuh sekitar 10-15 menit. Harga sewa perahu relatif murah yaitu Rp 5.000 per orang.

Pengunjung pun bisa memilih apakah perahu motor atau dayung. Sebenarnya, Pengunjung bisa menggunakan jalur alternatif lain untuk sampai ke kebun strawberry. Jalur yang bisa digunakan lewat darat dengan mengelilingi situ. Namun, jalan di sekitaran situ kondisinya kurang bagus sehingga agak sulit untuk dilalui oleh kendaraan biasa. Bagi yang suka offroad dan mempunyai kendaraan jenis Land Cruiser, tidak ada salahnya untuk mencobanya mengelilingi situ dengan medan yang sangat menantang.

Perjalanan lewat air ke kebun strawberry hanya membutuhkan waktu 10-15 menit. Selama perjalanan tersebut, pengunjung dapat menyaksikan indahnya pemandangan Gunung Wayang, Malabar, dan Windu. Pengunjung juga akan disuguhi pemandangan hutan hasil peninggalan pembuatan situ. Namun sesampainya di pinggir situ, harus terlebih dulu berjalan menapaki jalan setapak yang berada di samping hutan. Dengan petunjuk seadanya, pengunjung seolah dibiarkan mencari tujuannya sendiri. Tak perlu khawatir kebingungan, pengunjung bisa meminta tolong kepada tukang perahu untuk memberi petunjuk jalan.

Setelah berjalan sekitar 15 menit dengan medan yang menanjak, pengunjung baru akan menemukan kebun strawberry. Di areal kebun ini, pengunjung dapat memetik jenis buah ini sepuasnya. Di kebun ini 1 kg strawberry dihargai Rp 30 ribu. Selain strawberry, di atas tanah seluas 70 tumbak ini juga tersedia buah melosa yang oleh banyak masyarakat dipercaya sebagai obat penyakit darah tinggi dan penderita liver. Harga melosa yang berbentuk lonjong berwarna hijau ini Rp 15 ribu per kg. Melosa terbilang unik karena buah yang rasanya mirip melon itu hanya dibudidayakan di Dieng, Jawa Tengah, dan Eropa. Jika sudah bosan di kebun strawberry, Perjalanan bisa dilanjutkan ke kebun arbei yang hanya berjarak beberapa meter dari kebun strawberry.

Arbei dengan rasa yang relatif enak, telah mengundang ribuan penggemarnya ke kebun ini.

Bagi pengunjung yang hobi memancing, Situ Cileunca juga bisa menjadi lokasi pilihan. Di situ ini terdapat berbagai jenis ikan, di antaranya ikan mas, golsom, nila, dan sejumlah ikan hias. Untuk memancing di situ ini, pengunjung tidak dipungut bayaran. Dengan berbagai fasilitas yang tersedia, tampaknya Situ Cileunca, cocok untuk lokasi liburan bersama keluarga.

Karena situ ini juga dilengkapi dengan arena bermain anak-anak.

Situ Cileunca berada 45 KM sebelah selatan Kota Bandung dan 185 KM dari Kota Jakarta, Situ Cileunca berada di ketinggian 1550 M dpl dan dikelilingi oleh dua perkebunan teh Malabar yang dikelola oleh PTPN VIII, Situ Cileunca letaknya tak jauh dari kecamatan Pangalengan, genangan air seluas 180 hektar ini diapit oleh dua Desa yaitu Desa Wanasari dan Desa Pulosari.

Obyek Wisata di Madura

Api Tak Kunjung Padam

Api Tak Kunjung Padam merupakan ikon utama parwisata Kabupaten Pamekasan. Lokasinya terletak di Desa Larangan Tokol Kecamatan Tlanakan yang berjarak 4 Km dari pusat kota dengan prasarana jalan yang cukup baik, juga telah tersedia kios dan artshop. Obyek ini memiliki dayatarik baru dengan mengandalkan keajaiban alam berupa Api Abadi atau Api Alam, dimana api ini berasal dari dalam tanah apabila di gali akan uncul api dengan sendirinya. Atraksi wisata yang bisa kita lakukan, yaitu bisa membakar sendiri jagung, ikan dll yang kita bawa atau bisa kita beli disekitar obyek. Selain api alam terdapat juga sumber air belerang yang konon katanya dapat menyembuhkan segala jenis penyakit kulit, bahkan peneliti mengatakan air belerang ini bisa dijadikan bahan untuk kosmetik.

Masyarakat lokal mengkaitkan keberadaan obyek wisata tersebut dengan cerita legenda Ki Moko yang dianggap orang pertama yang menemukan api alam dan sumber air belerang di Dusun Jangkah. Setiap malam bulan Purnama lokasi wisata ini selalu ramai dikunjungi karena terdapat pertunjukan pencak silat. Obyek wisata Api Tak Kunjung Padam ini dijadikan sebagai lokasi perkemahan bagi pelajar maupun mahasiswa. Sebagai langkah untuk pengembangan Obyek Wisata Api Tak kunjung Padam, kawasan ini sangat cocok untuk areal perkemahan yang dilengkapi sarana permainan Outbound yang cukup diminati saat ini, fasilitas game yang tersedia seperti permainan yang memberikan relaksasi sekaligus proses pembelajaran secara elegan dan terkesan fun. Untuk sumber air belerang sangat tepat dijadikan sumber pemandian air belerang.

Pantai Jumiang
Jika hendak berlibur ditempat yang tenang, pantai satu ini pantas untuk di kunjungi. Pantai yang berpasirkan putih dengan deburan ombak yang menggelitik telinga dan melihat kearah Timur mata seakan dimanjakan dengan bukit yang bertebing-tebing menambah eksotiknya Pantai Jumiang. Pesisir ini masih sangat alami bahkan berbagai jenis kerang-kerangan masih banyak ditemui dan tempat ini memang ideal untuk menikmati sunrise ataupun sunset. Tempat ini bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun sarana transportasi mobil angkutan umum dan ojek dengan harga yang cukup terjangkau. Pantai Jumiang terletak di Desa Tanjung Kecamatan Pademawu berjarak kurang lebih 12 Km arah tenggara dari Kota Pamekasan dengan Kondisi jalan aspal yang cukup baik. Pantai ini memang belum apik dikelola masih butuh perhatian penuh untuk menjadi obyek yang lebih menarik lagi, bila ada yang berinvestasi tidak pernah ada kata rugi karena banyak potensi yang bisa digali seperti bukit jumiang bisa dijadikan lokasi meeting yang dilengkapi paket Outbound dengan tujuan customer selesai meeting dapat melakukan permainan outbound untuk melepas kepenatan, seperti permainan menantang (challenge games) yang terdiri dari Climbing wall setelah melewati akan meluncur di arena flying fox melintasi bukit bertebing menuju Pantai. Bagi wisatawan atau peserta meeting yang senang bermain air dan olahraga, bisa dilengkapi dengan permainan perahu cano, Jet Ski, Banana Boat atau snorkeling karena dilihat dari kondisi pantai yang berombak landai dan tenang. Sarana ini nantinya memberikan kenyamana serta atraksi wisata bagi pengunjung sampai menjelang Sunset tiba.

Pantai Talang Siring
Pantai Talang Siring terletak di Desa Montok Kecamatan Larangan, berjarak ±14 Km arah Timur dari Kota Pamekasan, dapat ditempuh dengan mobil angkutan umum. Lokasi wisata ini selalu ramai diknjungi wisatawan karena letaknya berdekatan dengan jalan lintas trans Pamekasan – Sumenep dengan waktu tempuh 15 menit. Yang bisa dinikmati dari obyek ini yaitu pemandangan hutan mangrove disisi sebelah selatan dan sisi sebelah utara bisa menikmati kesibukan nelayan dengan jaring dan perahu tradisionalnya. Pantai talang siring sangat tepat untuk melepas kepenatan ataupun sekedar nongkrong bersama relasi, teman bahkan keluarga dengan pantai berbatu karang yang terhempas oleh ombak menambah keindahannya. Sarana pendukung sangat dibutuhkan pada obyek ini seperti pengadaa gozebo, art shop, MCK dan yang terpenting restoran/rumah makan berskala besar dengan konsep kuliner tradisonal Madura khususnya Pamekasan karena lokasinya berada dipinggir jalan trans Sumenep Pamekasan dengan tujuan bus-bus pariwisata yang mengunjungi atau setelah berkunjung ke Kabupaten Sumenep bisa singgah atau istirahat sambil makan siang di Pantai ini.

Pantai Batu Kerbuy
Obyek wisata Pantai Batu Kerbuy terletak di Desa Batu Kerbuy Kecamatan Pasean dengan luas areal sekitar 5 ha, berjarak ±45 Km arah utara dari Kota Pamekasan, obyek wisata ini sangat mudah dijangkau karena posisinya berdekatan dengan jalan raya pantura jurusan Bangkalan – Sumenep. Keindahan alam pantainya yang menarik dengan pantai berpasir putih dan berombak yang cukup besar sangat cocok untuk kegaiatan olahraga selancar air (surfing). Nama Batu Kerbuy diambil dari sebuah batu yang menyerupai Kerbau, terletak sekitar 8 Km dari lokasi pantai yaitu di lokasi perbukitan. Menurut legenda batu tersebut berasal dari manusia yang disabda menjadi hewan Kerbau. Atraksi wisata yang biasa diadakan dipantai ini adalah uapacara Petik Laut yang diselenggarakan antara bulan September dan Oktober, sebelum musim hujan yang berlangsung pada siang hari antara jam 14.00 – 17.00, pada malam harinya diadakan pertunjukan wayang topeng semalam suntuk, serta upacara ritual menitik air rendaman yang diperuntukkan dan diyakini masyarakat mendapat syafaat Nabi Khidir.

MONUMEN ARE’ LANCOR
Monumen Are’ Lancor terletak di jatung Kota Pamekasan, dikelilingi jalan berbentuk Lafadz Allah. Hal ini mengandung makna yang sangat mendalam, bahkan kemerdekaan yang diraih oleh masyarakat Pamekasan adalah Rahmat Allah SWT. Are’Lancor ini adalah Monumen Perjuangan yang merupakan tugu peringatan kepahlawanan rakyat Madura dalam mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Negara RI. Bentuk monumen menggambarkan kobaran api nan tak kunjung padam yang terpancar dari perpaduan senjata tradisional rakyat Madura “Are’ Lancor” (Celurit) sebagai lambing dinamika yang menyala-nyala dari pejuangnya, dan berdiri tegak di atas landasan yang kokoh melukiskan keteguhan dan kesiap siagaan rakyat Madura dalam menghadapi setiap tantangan. Masyarakat Pamekasan dan pelancong biasanya pada sore dan malam hari baik sekedar menhilangkan rasa jenuh atau melepas rasa lelah sambil menikmati keindahan taman sekitar monumen Are’ Lancor. Acara rutin yang diadakan setiap hari minggu pagi diadakan senam sehat di areal monument dan juga terdapat sarana olahraga tennis.

MUSEUM UMUM DAERAH
Museum umum Kabupaten Pamekasan mengoleksi benda-benda bersejarah berupa keris dan senjata bersejarah mulai masa berkuasanya Sultan Agung Mataram dan VOC, Zaman Pangeran Jokotole, Panembahan Ronggosukowati (masa Pemerintahan Bonorogo). Ada juga Layang Kuno / Kitab Kuno yang terbuat dari daun lontar dan ada pula dari kertas kapas bertuliskan aksara jabhan peninggalan dari Aryo Menak Sanoyo serta masih banyak lagi koleksi-koleksi bersejarah lainnya. Lokasi museum berdekatan dengan Monumen Are’ Lancor yang baru diresmikan oleh Bapak Bupati Kholilurrahman pada tanggal 18 Maret 2010. Obyek wisata di buka untuk umum, setiap hari mulai jam 07.00 – 17.00 WIB untuk malam hari di buka mulai jam 18.00 – 21.00 WIB. Pada hari Sabtu dibuka mulai jam 07.00 – 23.00 WIB dan pada hari minggu di buka pada jam 05.00 – 17.00 WIB. Peluang yang bisa dikembangkan yaitu menambahkan koleksi benda bersejarah yang masih ada di tangan masyarakat yang bertujuan untuk menjaga serta melestarikan agar tidak jatuh pada tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab serta dipersalahgunakan.

PASAREAN BATU AMPAR
Bagi warga Pamekasan nama Pasarean Batu Ampar sangat melekat, karena pusara Batu Ampar yang terletak di desa Pangbatok Kecamatan Proppo (15 Km dari kota) merupakan pusara yang mempunyai sejarah tersendiri. Istilah Batu Ampar bersala dari bahasa Madura yang artinya Bato dan Ampar, Bato yaitu batu sedangkan Ampar artinya berserakan tetapi teratur ibarat permadani yang dihampar, batu-batuan yang meluas dan merata. Beberapa kesan menyatakan kekeramatan pusara Batu Ampar yang tidak putus-putusnya dikunjungi oleh masyarakat dari segala penjuru tempat, baik masyarakat Madura, Jawa, dan Luar Jawa. Pada umumnya orang-orang yang mempunyai niat baik bila masuk ke lingkungan Batu Ampar akan merasakan ketenangan batin dan merasa betah tinggal ditempat tersebut. Kesan ini timbul karena pusara Batu Ampar merupakan makam para ulama yang memiliki Karamatullah yang besar setara dengan Waliyullah atau Walisongo. Sarana peribadatan dan penginapan serta suasana tenang cukup mendukung bagi peziarah. Prasarana jalan dan angkutan umum menuju tempat tersebut cukup memadai dan tersedia. Pengembangan yang bisa dilakukan yaitu dengan membenahi sarana prasarana yang ada sehingga tidak terkesan kumuh, sehingga menambah tingkat kesakralan tempat tersebut karena dilihat banyaknya pengunjung setiap harinya, dan puncaknya pada saat Maulid Nabi dan saat mendekati Bulan Ramadhan serta Bulan Ruah. Potensi lainnya bisa dijadikan rangkaian paket wisata ziarah Wali Songo.

VIHARA ALOKITESVARA
Obyek ini berada di Kampung Candi Desa Monto’ Kecamatan Galis ± 14 Km dari Kota Pamekasan, berdekatan dengan Pantai Talang Siring. Vihara terbesar kedua di Pulau Jawa dan salah satu ke unikannya yaitu di dalam komplek terdapat Musholla, Gereja dan Pura yang melambangkan kerukunan umat beragama. Sejarah berdirinya wihara diawali dengan sebelum masuknya agama Islam ke Pulau Madura, pada saat itu masyarakat Madura memeluk agama Budha. Pada peradaban Budha, terdapat rencana untuk membangun candi yang gagal di buat di desa Candi Burung dan akhirnya arca yang didatangkan dari Pulau Jawa (masa kerajaan Majapahit) hanya sampai pada suatu desa yang saat ini menjadi lokasi wihara dan arca tersebut masih tersimpan. Rata-rata asal pengunjung atau peziarah yang datang yaitu dari Medan, Sumatera, Lampung dll, bahkan dari Luar Negeri. Harapan dengan adanya obyek ini dapat dijadikan pusat kegiatan keagamaan bagi pemeluk agama budha pada khususnya, karena dilihat dari sejarah bahwa wihara ini adalah wihara terbesar ke dua di Pulau Jawa, maka perlu adanya renovasi dan pengembangan.

SITUS PANGERAN RONGGOSUKOWATI
Obyek Pemakaman Pangeran Ronggosukowati terletak di Kelurahan Kolpajung Kabupaten Pamekasan kira-kira 1 Km sebelah utara alun-alun Kota Pamekasan. Situs ini merupakan komplek makam Pangeran Ronggosukowati dan keluarganya, Pangeran Ronggosukowati adalah cicit dari sang tokoh perintis daerah kekuasaan Pamellengan (Pamekasan) Ki Ario Mengo. Kekuasaan Pamellengan ditahtakan kepada Ronggosukowati (1530) dan beliau rubah menjadi Pamekasan sebagai ikrar untuk mandiri. Ronggosukowati raja islam pertama dan memang merupakan pembangun/pendiri Pamekasan, beliau memerintah dari tahun 1530-1616, beberapa peninggalannya walaupun sudah mengalami beberapa kali renovasi seperti taman kota, Mesjid Jamik dan beberapa nama kota seperti Pongkoran, Menggungan, Pangeranan, Kolpajung dan lainnya. Rakyat Pamekasan sangat setia dan hormat kepadanya membuat Lemah Duwur dari Arosbaya iri dan memnyebabkan peristiwa kolam si Ko’ol. Bahkan kesastriaannya yang heroik sangat membanggakan rakyat Pamekasan hingga saat ini. Sang pendiri Pamekasan gugur dalam Perang Puputan pada tanggal 1 Agustus 1624 melawan/menentang keangkaramurkaan dari politik ekspansi Sultan Agung dari Mataram. Ronggosukowati dinobatkan sebagai pahlawan penentang politik ekspansi Sultan Agung dari Mataram pada tanggal 12 Robiul awal 937 H atau 3 Nopember 1530 (Hitti, 1951 dan Pigaud, 1960).

MASJID AGUNG ASSYUHADA
Masjid Agung Assyuhada’ di bangun pada masa pemerintahan Ronggo Sukowati, yang awal mulanya di sebut dengan “Mesjid Rato”. Mengenai bentuk dari Masjid Rato kemungkinan serupa dengan Langgar Gajam, bahkan bentuk Masjid Sunan Giri awal mulanya menyerupai Langgar Gajam. Setelah datangnya kekuasaan Mataram di Pamekasan barulah ada kejelasan bahwa Mesjid Rato dibongkar total bersamaan dengan Keraton Mandilaras. Agar semua yang berbau Ronggo Sukowati hilang dari ingatan rakyat Pamekasan, di atas tanah tempat Mesjid Rato dibangun Mesjid sesuai selera Sultan Agung yaitu bentuk yang disetujui Walisongo berupa bangunan segi empat beratap Tajug Tumpang Tiga dengan puncak bermahkota yang disebut Mustuko yang terbuat dari tembaga, di depannya terdapat serambi dan di dalam merupakan ruang haram dengan empat soko guru. Pada abad ke 20 Mesjid ini mengalami beberapa kali perubahan, kemudian di zaman Pemerintahan Belanda atas saran Psykolog berbangsa Belanda bernama Van Der Plaas untuk mengambil hati penduduk Pamekasan Mesjid harus di perbesar bergaya skala kota. Saat itu bertepatan dengan pemerintahan Bupati Raden Ario Abd. Aziz (1939) Masjid Jami’ dibongkar total dan dibangun kembali dengan ukuran 50 x 50 meter berpilar 16, tanpa serambi namun masih beratap tajug tumpang tiga. Di depan kiri kanan berdiri menara kembar. Beduk yang semula ada di serambi setelah direnovasi ditempatkan di atas menara. Kembali Mesjid Jamik direnovasi yaitu perluasan ke depan yaitu tambahan serambi yang didesain menyerupai bagian mesjid Blimbing di Kabupaten Malang. Pada renovasi tesebut Mesjid Jamik Kota Pamekasan menjadi Mesjid Asy-Syuhada (nama ini mengenang para Suhada saat serangan fajar di depan dan didalam Mesjid Jamik 16 Agustus 1947 oleh Pasukan RI di Pamekasan untuk mengusir Belanda). Nama Mesjid Asy-Syuhada menjadi Mesjid Agung Asy-Syuhada pada tahun 1985 setelah mengalami pelebaran samping kanan dan kiri. Dan pada tahun 1995 untuk terakhir rehab total seperti pada saat rehab tahun 1938-1939, mesjid dibangun persegi empat dengan ukuran 60 x 60 meter, atap bukan tajug tetapi diganti kubah khas Timur Tengah berlantai tiga, lantai pertama tempat pertemuan sanitasi, gudang dan kantor. Lantai dua merupakan ruang inti. Tiang utama kembali kepada mesjid Jamik Mataram, bersoko guru empat yang tembus kea tap di lantai tiga dan lantai tiga juga ditempati jemaah dimana pandanganterbuka ke arah mihrab. Mimbar terletak disisi mihrab yang merupakan sisa tahun 1939. Di samping kiri dan kanan ruang haram termasuk juga di depan terdapat serambi sehingga dengan tiang soko guru yang empat nampak jelas tradisionalnya, namun dari fisik menara yang di desain peluru terlihat anggun dan pandangan keseluruhan dari bentuk mesjid sesuatu bernilai lebih bagi kecantikan Kota Pamekasan
Sendiri.

-

Arsip Blog

Recent Posts