Malacca Ensemble Ingin Majukan Musik Melayu

Jakarta - Grup musik Malacca Ensemble ingin memperkenalkan kekayaan musik melayu lewat sentuhan jazz kontemporer bernuansa etnik.

"Kami ingin lebih memajukan musik melayu," kata pemain keyboard Malacca Ensemble Rio Zee dalam jumpa media Jazz Gunung di Jakarta, Rabu (3/6).

Rio yang berada di dalam Malacca Ensemble bersama Hendri Lamiri (violin) dan Yaser Arafat (perkusi) mengatakan budaya melayu bervariasi.

"Perkusi melayu saja ada banyak, misalnya perkusi Malaysia dan Pekanbaru, itu berbeda. Zapin Melayu Malaysia dan zapin Sambas juga berbeda."

Malacca Ensemble yang dahulu bernama Malaka Jazz merupakan salah satu penampil dalam gelaran Jazz Gunung 2015 pada 12-13 Juni mendatang.

Para musisi yang juga meramaikan ajang jazz yang menginjak tahun ke-8 meliputi Yuri Jo, Ring of Fire pimpinan Djaduk Ferianto yang memboyong Endah Laras bersama Tohpati, Jay & Gatra Wardaya dari Yogyakarta yang berkolaborasi dengan dua musisi Korea Selatan, Tulus, Ina Ladies pimpinan musisi legendaris Indonesia Happy Pretty, Beben Jazz And Friends dari Komunitas Jazz Kemayoran serta Andien.

Jadikan Penyengat sebagai Kawasan Strategis

Tanjungpinang, Kepri - Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Tanjunpinang, Drs Suarman mengatakan untuk menjadikan Pulau Penyengat sebagai warisan budaya dunia (wolrd culture heritage) perlu kerja keras semua pihak. Ia juga menyarankan Pemerintah Daerah (Pemda) menjadikan Penyengat sebagai kawasan strategis.

“Sebaiknya Pulau Penyengat dijadikan sebagai kawasan strategis terlebih dahulu. Karena dengan begitu, pulau tersebut mempunyai kekuatan hukum (peraturan daerah, red),” ujar Suarman menjawab pertanyaan Batam Pos, Rabu (3/6) di Kantor BPNB Tanjungpinang.

Menurut pria yang sudah lima tahun duduk sebagai Kepala BPNB Tanjungpinang itu, langkah selanjutnya adalah membentangkan keunggulan-keunggulan maupun potensi budaya, wisata relegi yang ada di Pulau Penyengat. Kemudian, hal itu dikemas dalam bahasa internasional.

“Jadi bukan lagi untuk konsumsi domestik, tetapi sudah internasional,” jelasnya.

Masih kata Suarman, dalam sejarah hanya Pulau Penyengat menjadi satu-satunya mas kawin perkawinan raja. Penyengat masuk dalam kategori Word Culture Heritage oleh Unesco, karena dilihat dari nilai sejarah. Berdasarkan catatan sejarah, tamadun Melayu bermula pada masa kepemimpinan Sultan Mahmud Riayat Syah III.

“Apakah kebudayaan bermuara dari masa itu terus berkembang atau tidak sampai kesaat ini. Tentu hal itu, menjadi tolak ukur penilaian Unesco,” jelasnya lagi.

Ia melihat langkah yang dilakukan Pemda sudah tepat dengan membentuk tim. Dikatakannya juga dalam hal ini, pihaknya bukan bermaksud untuk menggurui, tetapi memberikan pemikiran. Salah satu urgensi yang akan dilihat oleh Unesco adalah kesejarahannya Pulau Penyengat. Atas dasar tersebut perlu dikupas secara mendalam.

“Tentu mereka juga akan melihat, bagaimana nilai-nilai kesejarahan itu sampai kesaat ini. Baik itu cara hidup masyarakatnya, cara berpakaian dan sebagainya,” sebut Suarman.

Ditambahkannya pada tahun 1995 dari informasi yang ia terima, Pulau Penyengat berada pada urutan kesembilan sebagai daerah warisan budaya dalam ranking Unesco. Artinya, Pulau Penyengat layak untuk menyandang predikat tersebut. Hanya saja, tinggal usaha bersama untuk mewujudkan itu.

“Ini satu peluang emas yang harus ditangkap. Kalau kesempatan yang ada ini disia-siakan, maka Penyengat tidak akan mendapatkan pengkuan secara internasional,” tutupnya.

Konser Angklung Pukau Masyarakat Eindhoven

London, Inggris - Lagu Amazing Grace yang dilantunkan dengan suara sopran oleh penyanyi Ardelia dengan diiringi musik angklung membuat penonton yang memenuhi gedung konser Frits Philips, kota Eindhoven, Belanda terpukau.

Minister Counsellor Penerangan Sosial dan Budaya KBRI Den Haag, Belanda, Azis Nurwahyudi kepada Antara London, Kamis mengatakan, selain menampilkan berbagai lagu daerah Nusantara, Ensambel Angklung Eindhoven juga memainkan lagu-lagu dari banyak negara yang mengambil tema "Songs of the World".

Penampilan Ensambel Angklung Eindhoven yang terdiri dari mahasiswa dan masyarakat Indonesia yang tinggal di kota Eindhoven, itu menarik perhatian masyarakat kota tersebut.

Dibuka dengan menyanyikan lagu-lagu Nusantara mulai Yamko Rambe Yamko, Bengong Jeumpa, Hela Hela Rotane, Tak Tongtong, Dayung Pallingam, Janger, Manuk Dadali dan Badindin.

Konser angklung ini dikomandani Arnoud Setio, dan menampilkan konduktor pendukung seperti Brian Hutama Susilo, Geraldi Wahyulaksana, Maharani Meganti dan Paskal Semerdzhiev, termasuk berkolaborasi dengan Nusantara Student Ensable.

Penampilan konser tersebut semakin menawan dengan tampilnya Rosalia Adisti yang bersuara alto dan Ardelia Padma Sawitri dengan suara sopran. Selain itu kolaborasi dengan tari tradisional dari daerah asal lagu yang dinyanyikan juga menambah keindahan penampilan mereka.

Para penonton konser tersebut juga dihibur dengan lagu-lagu dari berbagai negara. Kelompok ensemble dari Tiongkok, SweetPotato, juga berkolaborasi bersama angklung ini memainkan lagu-lagu Jasmine Flower dan Curling Eyebrows.

Selain itu ditampilkan lagu Lough Erin Shore dari Irlandia, Scarborough Fair dari Inggris, The Youth Dance dari Tiongkok, Korobeniki dari Rusia, dan La Cucaracha dari Spanyol yang dikolaborasi dengan permainan Clarinet oleh Sophie Peerebom.

Penampilan sesi lagu-lagu internasional tersebut diakhiri dengan menampilkan Amazing Grace dari Amerika dengan suara sopran Ardelia yang disambut "standing applause" pada akhir acara.

Setiap tahun sejak 2011 Ensamble Angklung Eindhoven selalu menyelenggarakan konser dengan tema yang berbeda-beda yang mana untuk tahun ini untuk yang keempat kalinya dengam mengambil tema Songs of the World.

Hadir dalam acara itu Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Den Haag, Ibnu Wahyutomo, bersama wakil pejabat kota Eindhoven Bianca van Kaathove di Gedung Frits Philips, Muziek Gebouw Eindoven.

"Harmoni antara manusia dan alam yang telah menjadikan suara bambu begitu indah didengarkan, terlebih ketika berkolaborasi dengan alat musik tradisional dari berbagai negara," ujarnya.

Sejak November 2010 Angklung diakui UNESCO sebagai budaya tak benda warisan manusia.

"Untuk itu Indonesia berkewajiban melestarikan dan mempromosikan kepada dunia," katanya.

Kebudayaan Malaysia Semarakan "Pagaruyung Fair"

Batusangkar, Sumbar - Kebudayaan Malaysia akan menyemarakan pagelaran "Pagaruyung air" di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar), pada 3-7 Juni 2015.

"Kebudayaan Negeri Johor Malaysia akan tampil pada pembukaan Pagaruyung Fair di Lapangan Cindua Mato Batusangkar," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanah Datar Marwan di Batusangkar, Senin.

Selain itu, kesenian dari Taluak Kuantan, Kabupaten Kuantan Sengingi, Provinsi Riau, juga akan ambil bagian pada pesta rakyat yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanah Datar sebagai ajang promosi budaya dan pariwisata daerah itu.

Marwan menyebut Tanah Datar merupakan salah satu destinasi wisata di Sumbar yang mempunyai banyak objek wisata baik wisata budaya, alam, maupun sejarah.

"Semua objek wisata itu menjadi daya tarik para wisatawan berkunjung ke Tanah Datar," katanya.

Ia menjelaskan dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisata, pihaknya setiap tahun melakukan pengembangan sarana dan prasarana serta promosi wisata secara bertahap.

Pagelaran Pagaruyung Fair akan diisi berbagai kegiatan seperti parade aero show, pawai budaya, festival randai, Batusangkar Expo, lomba seni budaya, pameran foto, lomba masakan kas Minang, pacu jawi, festival salawat dulang, lomba layang-layang dan burung berkicau.

"Beberapa kegiatan ditunda pelaksanaannya seperti gelanggang silih baganti (GSB), lomba lagu Minang, kontes batu akik, dan gerak jalan santai wisata," kata Marwan.

Ia mengharapkan masyarakat dapat meramaikan kegiatan tersebut sehingga adat dan budaya Minangkabau dapat lestari dan menjadi ikon utama kunjungan wisatawan mancanegara.

Sementara itu, Kabag Humas Setdakab Tanah Datar Afriyanti Rustam mengharapkan masyarakat Tanah Datar ikut berpartisipasi mengembangkan pariwisata dan kebudayaan daerahnya sendiri.

"Kami bersyukur bahwa Tanah Datar memiliki sumber daya alam, budaya dan industri rumah tangga yang banyak dalam menunjang pengembangan pariwisata ke depan," katanya.

Ia menuturkan beberapa objek wisata yang cukup diminati wisatawan adalah Istano Basa Pagaruyung, Lembah Anai, Panorama Tabek Patah, Puncak Pato, Tanjung Mutiara, Batu Angkek-Angkek, Batu Batikam, Batu Basurek, Rumah Tuo Balimbiang, Nagari Tuo Pariangan, Bukik Shaduali, dan Aie Angek Padang Ganting.

Pemko Gelar Kongres Bahasa, Undang 7 Negara

Batam, Kepri - Pemko Batam melalui Dinas Pariwisata akan menggelar kongres Bahasa. Kegiatan yang akan dilaksanakan selama dua hari berturut-turut, 14-15 Juni di Planet Holiday nanti akan mengundang sejumlah tokoh bahasa.

Wali Kota ‎Batam Ahmad Dahlan mengatakan kongres tersebut bertujuan untuk memantapkkan bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahkan bahasa yang menjadi bahasa tertinggi di Indonesia itu, bisa dipakai di beberapa negara.

"Ada empat negara yang memakai bahasa melayu sebagai bahasa resmi. Itu di Indonesia, Brunei Darusalam, Malaysia dan Singapura. Ke empatnya dengan dialek Riau Johor. Termasuk di Thailand bagian selatan, Filipina bagian selatann Kamboja, dan Laos," ujar Dahlan.‎

Rencananya kegiatan tersebut akan dibuka oleh Menteri Pendidikan Indonesia, dan dihadiri oleh perwakilan pusat bahasa Indonesia, dewan bahasa dan pustaka malaysia.

‎"‎Tanggal 14 itu malam pembukaanya, kita akan mengundang dari pusat bahasa Indonesia, dewan bahasa dan pustaka malaysia, serta ketua bahasa Malaka. Kenapa Malaka, sebab Malaka itu mengklaim dirinya sebagai kota pusat sejarah. Baru tanggal 15 nya seharian kita ikuti kongresnya," tutur dia.

2 Meriam Keramat Kerajaan Melayu Nyaris Terbenam Tanah

Rantau Prapat, Sumut - Sebanyak dua meriam peninggalan Kerajaan Melayu yang diperkirakan sudah berumur ratusan tahun nyaris terbenam akibat gerusan air pasang laut di Dusun I, Desa Sijawi-Jawi, Kecamatan Panai Hulu, Kabupaten Labuhanbatu.

Kedua meriam sepanjang sekitar 1,5 meter dan berdiamater sekitar 40 di bagian penyulutnya ini tak terurus. Namun dianggap keramat serta penuh mistis oleh sebahagian warga.

Posisinya terletak hampir terbenam di dalam tanah sedalam sekitar 10 cm dari badan kedua meriam tersebut.

Konon menurut warga, meriam-meriam dengan moncong mendongak menantang menghadap ke arah laut itu memiliki penunggu gaib, sehingga tidak boleh menganggapnya sebagai benda tak ada nilainya (sepele).

Berbagai cerita penuh mistis juga dianggap warga telah terjadi akibat ulah sebahagian orang yang menilai meriam itu tidak lagi penting dan hanya pesona hiburan rakyat di masa lalu dan kini sebagai besi tua peninggalan sejarah.

Salah seorang tetua di daerah itu, Bahruddin Rambe (63) menceritakan, pernah suatu ketika, ada tiga pemuda datang berkunjung bersama rombongan untuk menghadiri pesta perkawinan di Desa Sijawi-jawi.

Kemudian ketika pemuda itu melihat kedua meriam karbit itu terletak begitu saja diatas di tanah, mereka juga mengunjak-injaknya sambil menyatakan besi tua itu dapat dijual. Karena dapat ditampung oleh pengumpul besi tua menjadi rupiah.

Begitu ketiganya pulang bersama rombongan ke desa mereka, malam harinya tiba-tiba mengalami demam panas sambil menjerit-jerit.

Uniknya mereka bertiga sama-sama mengalami demam panas dan merasakan keanehan dengan cara melihat mereka didatangi oleh meriam tersebut.

Ketiga pemuda yang masih bertetangga itu kaget karena merasa diserang bertubi-bertubi oleh puluhan moncong meriam mirip seperti yang mereka injak-injak.

-

Arsip Blog

Recent Posts