Istri Wapres Puji Keunikan Batik Jatim

Surabaya, Jatim - Istri Wakil Presiden RI, Ny. Mufidah Jusuf Kalla, memuji dan menilai batik-batik khas Jawa Timur memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri sehingga berbeda dengan daerah lainnya.

"Sepintas seperti sama, tapi kalau diteliti lebih jauh pasti ada spesifikasi yang berbeda, dan disitulah keunikannya," ujarnya di sela berkunjung ke Galeri Batik Jatim di Kantor Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi, Senin.

Keunikan lainnya, kata dia, ada di bagian pewarnaannya yang satu dengan lain berbeda, seperti sejumlah batik berwarna mencolok dan batik berwarna dominan tampak anggun.

Selain itu, banderol harga yang dijual juga dinilai beragam, mulai dari Rp75 ribu hingga Rp5 juta sehingga pembeli bisa memilih sesuai kemampuan.

"Jadi pembeli tidak perlu takut karena semua kebutuhan dan kemampuan pembeli sudah tersedia," ucapnya.

Dalam kunjungan tersebut, istri orang nomor dua di Indonesia itu didampingi Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jatim Nina Soekarwo, sekaligus memborong sejumlah batik dari berbagai macam daerah di 38 kabupaten/kota se-Jatim.

Pada kesempatan itu, Nina Soekarwo tak berhenti mempromosikan batik maupun hasil kerajinan batik Jatim, termasuk jenis dan keistimewaannya.

"Batik, kerajinan dan cenderamata UKM-UKM asal Jatim sangat luar biasa, bahkan belum tentu ada di daerah lain. Pokoknya tidak rugi kalau membawa oleh-oleh kerajinan asal Jatim," kata Bude Karwo, sapaan akrabnya.

Solok Selatan Siap Helat Rang Solsel Baralek Gadang

Solsel, Sumbar - Pemerintah Solok Selatan (Solsel) telah siap dalam pelaksanaan festival akbar bertema ‘Rang Solsel Baralek Gadang pada tanggal 3 hing­ga 17 Agustus 2016 men­datang. Hal itu dikatakan Kepala Dinas Budaya Pari­wisata dan Pemuda Olahraga Solsel, Doni Hendra kepada awak media, Minggu, (24/7).

Menurutnya, kesiapan pemkab Solsel tidak saja dalam rangkaian acara tapi juga dalam menyambut tamu atau wisatawan domestik maupun mancanegara. “Kita telah siap untuk pelaksanaan iven akbar tersebut. Semua kesiapan berkat dukungan penuh pmpinan daerah dan seluruh pihak. Apalagi du­kungan dari para perantau Solsel,” ungkapnya.

Ia mengatakan, pembu­kaan festival juga diime­riahkan oleh artis Elsa Pitalo­ka. “Kendati kita batal dalam perhelatan Tour de Sing­karak. Namun, berkat do­rongan para perantau dan seluruh masyarakat kita tetap melaksanakan iven besar,” katanya.

Dalam rangkaian festival tersebut juga dilakukan pem­berian rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) kepada Bupati Solsel, Muzni Zakaria untuk tiga kategori yaitu, lomba memasak Pangek Pi­sang terbanyak, Rumah Ga­dang Panjang Abai dan rekor MURI kawasan Saribu Ru­mah Gadang. “Hal itu ter­wujud berkat kerja sama dengan PKK, Dekrasnada, GOW dan Dhama Wanita Solsel,” sebutya.

Adapun rangkaian acara adalah, Pada 3 Agustus, Pa­wai Budaya 3 dengan lokasi dihalaman kantor Bupati dan Grand final uda uni Solsel. Pada 7 Agustus Funbike di RTH Muara Labuh, pada 8-9 Agustus Arung Jeram di Pulau Mutiara Sangir. Pada 10 Agustus Funbike ke dua di Kantor Bupati. Pada 11 Agus­tus lomba lagu Minang Solsel. Pada 12 Agustus, lomba Kuliner khas Solsel. Pada 11-12 Agustus pameran produk unggulan Sol­sel. Pada 13 Agustus lomba Pidato Adat di kawasan Saribu Ru­mah Gadang.

Dan pada 14 Agustus dilakukan Silat Tradisional di Abai, Kecamatan Sangir Batang Hari. Untuk Randai dilaksanakan pada 15 Agus­tus di RTH Muara Labuh dan 17 Agustus malam resepsi dan penutupan di Aula Kan­tor Bupati.

Festival Budaya Iya Mulik Bengkang Turan

Muara Teweh, Kalteng - Bupati Barito Utara (Batara) H Nadalsyah membuka secara resmi Festival Budaya Iya Mulik Bengkang Turan (FBIMBT) tahun 2016. Festival diikuti sembilan kecamatan se Kabupaten Batara. Festival diselenggarakan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke 66 Kabupaten Batara, di Lapangan Hijau Muara Teweh, Kamis (21/7).

Nadalsyah mengutarakan, FBIMBT setiap tahun rutin diadakan. Dia berharap kegiatan ini dapat menjadi sebuah event untuk menggali, memasyarakatkan, mengembangkan dan melestarikan seni budaya tradisional yang dimiliki.

Lebih lanjut, diutarakan bupati, kabupaten dengan motto Iya Mulik Bengkang Turan ini, memiliki keanekaragaman suku, adat istiadat, bahasa dan budaya daerah. Kekayaan khasanah seni budaya tradisional tersebut tentunya dapat menjadi suatu kebanggaan dan potensi, yang mendukung berbagai seni budaya tradisional, yang memiliki ciri khas tersendiri dalam pembentukan etika, budaya dan moral bagi masyarakat Batara.

“Diharapkan kebanggaan dan kecintaan terhadap seni budaya tradisional ini, akan dapat memupuk dan memelihara sikap nasionalisme yang dilandasi semangat Bhineka Tunggal Ika dalam bingkai NKRI yang tercinta,” tuturnya.

Dia berharap, kepada seluruh masyarakat Batara dan peserta FBIMBT tahun 2016, agar bersama-sama mensukseskan serta mendukung kegiatan ini. Menciptakan suasana aman, kondusif dan tertib didalam pelaksanaannya agar seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan dapat berjalan baik.

Lima Desa Adat Meriahkan Festival Adat DIY

Sleman, DIY - Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Festival Adat yang diikuti lima desa adat perwakilan kabupaten/kota di Lapangan Denggung, Kabupaten Sleman, Ahad.

Dalam Fdestival Adat tersebut masing-masing peserta menampilkan keunikan dan kekhasan adat budaya dan upacara tradisi masing-masing.

Lima peserta tersebut yakni Merti Dusun Tinalah dari Purwoharjo, Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, kemudian makanan khas "bongko" yang merupakan bagian dari upacara adat Nyadran Mbah Jobeh, Desa Petir, Rongkob, Kabupaten Gunung Kidul.

Selain itu, ada pula upacara adat Umbul Kamulyan dari warga Dayakan, Purwomartani, Kecamatan Kalasan. Kabupaten Sleman, Merti Dusun Pancuran dari warga Terong, Dlingo, Kabupaten Bantul dan Merti Code dari Jetis, Terban, Kota Yogyakarta. Masing-masing membawa cerita dan sejarah dari fragmen kehidupan yang tumbuh di tengah masyarakat.

Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Umar Priyono mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi upaya pemerintah daerah untuk melestarikan upacara adat yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

"Apalagi DIY memiliki lebih dari 300 jenis upacara adat yang mengandung nilai luhur serta mencakup sekian banyak sisi kehidupan. Mulai dari kelahiran manusia hingga masa kematian, hubungan antar manusia, nilai kegotongroyongan, pelestarian lingkungan, hingga ungkapan rasa syukur atas hasil panen melimpah," katanya.

Menurut dia, banyak nilai keluhuran dalam upacara adat tersebut yang ditinggalkan nenek moyang kepada kita. "Itu menjadi kekayaan budaya yang harus dilestarikan," katanya.

Ia mengatakan, upaya pelestarian sendiri meliputi tiga hal, yakni perlindungan, pemanfaatan, dan pengembangan.

"Kami berharap, agenda ini bisa memberikan manfaat yang lebih optimal bagi upaya pelestarian budaya. Partisipasi masyarakat menjadi kunci dalam melestarikan dan memajukan kebudayaan di Yogyakarta. Terutama generasi muda yang diharapkannya turut ambil bagian sebagai penjaga dan penerus perlindungan kelestarian upacara adat dan tradisi budaya lainnya," katanya.

Umar mengatakan, bagi Yogyakarta budaya itu menjadi garda depan tourism makanya upaya pelestarian seharusnya tumbuh dari masyarakat, termasuk generasi muda.

"Kami berharap kaum muda memiliki rasa bangga menggali nilai luhur budayanya sendiri," katanya.

Ribuan Orang Berebut Gunungan Teh di Festival Seni & Kirab Budaya

Yogyakarta - Ribuan orang di Kota Yogyakarta menyerbu gunungan teh yang menjadi puncak acara dari Festival Seni dan Kirab Budaya Prawirotaman, Minggu 24 Juli 2016.

Teriakan-teriakan terdengar semakin kencang setelah para pembawa gunungan sampai di depan panggung utama. Pemandu acara sempat mengingatkan warga untuk berhati-hati dan menunggu sebentar jika ingin rebutan. Meskipun begitu, masyarakat tetap bersiap untuk merebut bungkusan teh yang sudah disusun sedemikian rupa.

Tidak hanya masyarakat sekitar dan wisatawan lokal yang terpukau, beberapa wisatawan mancanegara yang hadir di lokasi juga mengagumi festival tersebut.

"Ini sangat luar biasa, baru pertama kali saya mengikuti acara seperti ini," kata salah satu tamu festival yang berasal dari Mesir, Mohamed Ali Galal El Fouly (17), seperti dikutip dari KRjogja, Senin (25/7/2016).

Festival hari kedua ini dibuka dengan kirab yang dimulai pukul 15.00 WIB. Rombongan kirab terdiri dari barongsai, 20 tamu festival dari berbagai negara, Bergodo Prawirotaman, becak hias, marching band dan komunitas sepeda ontel jadul.

Kirab dimulai dari Jalan Prawirotaman I kemudian memutar ke Jalan Prawirotaman II dan kembali ke Jalan Prawirotaman I.

Kemilau Budaya Indonesia Tersaji di Taman Budaya

Pontianak, Kalbar - Keceriaan anak-anak bermain layaknya anak tingang (enggang) yang terbang bebas di alam.

Mereka pun melompat kesana-kemari tanpa adanya beban. Kebersamaan sangat berarti bagi mereka, sehingga hari-harinya tampak selalu ceria.

Dengan balutan busana adat Dayak Kayan, dilengkapi dengan aksesoris bulu tingang di tangannya, mereka mengepakkan tangan layaknya sayap burung tingang yang sedang terbang.

Demikian sepenggal cerita yang terkandung dalam tarian anak tingang, yang dipentaskan oleh tujuh penari cilik dari Sanggar Borneo Tarigas pada Pagelaran Budaya Seni Tradisional Multi Etnis, di Taman Budaya, Jl Jend A Yani, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (23/7/2016) malam.

Pementasan Tarian Anak Tingang tersebut merupakan satu di antara pertunjukan dalam acara seni yang bertajuk Kemilau Budaya Indonesia di Kalimantan Barat, yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional.

Selain pertunjukan sejumlah tarian dari berbagai etnis di Indonesia, juga ditampilkan sejumlah penyanyi cilik, permainan angklung dan pementasan drama pendek yang dipersembahkan oleh Sanggar Terbit 12 yang berjudul Anak-Anak yang Tertudoh.

Ketua panitia kegiatan, John Roberto Panurian dalam sambutannya menyampaikan, acara ini bertujuan mendorong potensi para seniman muda untuk meningkatkan khasanah budaya Indonesia.

Para seniman diharapkan mencintai dan bangga terhadap seni tradisional multietnis Indonesia terutama kepada regenerasi penerus kesenian di Kalbar.

Kegiatan yang bersifat pagelaran bersama kelompok seni dan sanggar dengan mengangkat khasanah budaya seni tradisional berbagai macam suku bangsa.

"Pesertanya, kita melibatkan 200 pelaku seni dari berbagai sanggar atau kelompok seni yang ada di Kalbar," katanya.

Johh menyatakan dukungannya kepada anak-anak sebagai regenerasi, khususnya di bidang seni. "Dari kecil lah kita mencintai seni dan budaya hingga nantinya kita menjadi masyarakat yang berbudaya. Hasil yang diharapkan semoga dapat meningkatkan potensi seniman muda untuk mengangkat hasanah budaya Indonesia," kata John.

-

Arsip Blog

Recent Posts