Ini Lho Kode-kode Pelaku Prostitusi Online di Medsos, Jangan Salah Tulis, Bisa-bisa Dibooking

TULUNGAGUNG - Video IR, siswi SMAN Kauman yang tersebar luas menjadi perbincangan hangat.

Bagaimana tidak, video itu berisi adegan yang membuat kaum adam panas dingin.

IR sambil bertelanjang dada menyanyi sebuah lagu dangdut koplo di room karaoke.

Sementara di depannya, K, seorang siswa SMAN 1 Boyolangu tengah menyawer uang pecahan Rp 100.000.

Sosok IR ternyata sudah dikenal luas di kalangan tertentu.

Sebab saat SMP, IR pernah menyebarkan gambar dirinya tengah telanjang.

IR dengan sengaja menjual foto bugilnya, dengan imbalan uang Rp 100.000.

Menjual foto syur adalah salah satu modus bagi pelaku prostitusi di dunia maya.

Yuk, kenali kodenya!

1. Open Member

Open member biasa lazim digunakan untuk pelaku prostitusi online, untuk mendapatkan uang dari foto bugil.

Pelaku akan memasang tarif tententu, dengan imbalan beberapa file foto bugil.

Tidak hanya foto, kadang juga video adegan panas, seperti (maaf) masturbasi.

2. Live Show

Pada tahapan yang lebih profesional, open member diisi dengan live show atau pertunjukan langsung.

Biasanya pelaku akan melakukan panggilan video, tanpa mengenakan busana.

Sementara klien harus membayar sejumlah uang, sebelum ada kesepatan video call.

Agar bisa langsung dipantau banyak klien, pelaku menggunakan aplikasi grup video call.

3. Open BO

Open BO, kepanjangan dari booking out

Ini artinya pelaku menawarkan diri, bisa dibawa untuk memberikan layanan seksual.

Open BO untuk memberikan kode, bahwa pelaku tidak punya tempat untuk memberikan layanan seksual. Karena itu klien bisa membawa ke tempat yang dimau klien.

4. Expo/Include

Expo atau include biasanya digunakan untuk pelaku prostitusi online, yang menginap di sebuah hotel.

Include di sini diartikan, jasa yang ditawarkan sudah termasuk dengan ruangan.

Pelaku akan memberikan layanan seksual kepada klien di hotel tempatnya menginap.

Dengan begitu klien tidak perlu repot mencari hotel untuk mendapatkan layanan seksual.

5. BU (butuh uang)

Kode BU sebenarnya sudah umum digunakan, terutama pada forum jual-beli online. BU mempunyai makna, pelaku sedang butuh uang dan siap memberikan layanan seksual dengan upah.

Kode-kode itu sering dipakai di media sosial, terutama Twitter.

Jadi jika membawa sebuah cuitan berisi kode-kode itu, sekarang kamu sudah tahu artinya kan?

Sumber: http://surabaya.tribunnews.com

Tarif 12 PSK Online di Manado Mulai Rp 1 Juta/30 Menit

Manado - Polisi menangkap 9 wanita dan 3 pria terkait prostitusi online di Manado. Para PSK 'online' itu menjual diri lewat aplikasi chatting dengan harga Rp 1-3,5 juta.

"Pelaku tertarik dengan harga Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta untuk short-time (30 menit) dan Rp 3,5 juta untuk long-time (12 jam)," ujar Kasubdit Cybercrime AKBP Iwan Permadi kepada detikcom, Jumat (23/2/2018).

Ke-12 orang yang ditangkap itu adalah anak kos. Mereka juga diduga sudah bekerja sama dengan hotel. Iwan menegaskan 12 orang ini akan diproses sesuai dengan hukum. Menurutnya, 12 orang ini bukanlah korban, melainkan pelaku prostitusi.

"Karena semua adalah pelaku karena ada yang menawarkan diri dan pembeli jasa, aplikasi," ucapnya.

Menurut Iwan, target dari 12 orang ini adalah pria hidung belang yang memiliki uang. Dia meminta warga di Manado bijak menggunakan aplikasi chatting online.

"Lebih bijaklah dalam menggunakan medsos atau aplikasi karena semua data akun kan ada di kita," ujarnya.
(rvk/asp)

Sumber: https://news.detik.com

'Langsung Masuk Aja' Begini Pengakuan Gadis SMA Nyambi Jadi PSK Online di Kos-kosan

Prostitusi online menjamur baik di kota besar maupun daerah pinggiran.

Seiring kemajuan teknologi internet, memilih teman kencan tak lagi harus datang ke lokasi.

Seperti bisnis prostitusi yang satu ini, melibatkan gadis-gadis SMA.

Harga yang ditawarkan pun beragam, mulai ratusan ribu sampai jutaan rupiah.

Keberadaan prostitusi ini sulit terpantau, karena pelakunya tinggal di kos maupun kontrakan layaknya warga biasa.

Hal ini diketahui setelah mencoba salah satu akun yang diketahui sebagai penyedia gadis-gadis muda.

Lewat aplikasi pesan WhatsApp sang pemilik akun kemudian memberikan balasan.

Pesan balasan yang berhasil diterima meliputi, tarif yang dipatok, pelayanan kencan yang akan didapatkan, serta tempat di mana akan bertemu.

Setelah sebelumnya memberikan foto-foto gadis yang tersedia untuk diajak kencan.

Mirisnya, tak sedikit praktik prostitusi online ini yang melibatkan anak di bawah umur, utamanya gadis-gadis yang masih duduk di bangku sekolah.

Terang saja, ketika Tribun Jogja meminta kepada si pemilik akun gadis-gadis sekolahan, mereka menyanggupi.

Hal inilah yang menggilitik untuk dilakukan penelusuran.

Setelah berbalas pesan cukup lama, terjadilah kesepakatan tarif kencan antara Tribun Jogja dengan si pemilik akun, yang kemudian penentuan tempat kencan.

Si pemilik akun mengklaim gadis yang dia tawarkan masih sekolah.

Lalu terjadilah kesepakatan tarif sebesar Rp 500 ribu dan tempat kencan, yakni di sebuah hotel kelas melati di daerah Prawirotaman.

Sayangnya, kencan tersebut urung terjadi lantaran si gadis yang sebelumnya menyanggupi untuk datang, tak juga menampakkan batang hidungnya.

Ketika mencoba menghubungi nomor yang bersangkutan, mendadak dia memblokir nomor akun WhatsApp Tribun Jogja.

Hal yang sama pun dilakukan terhadap nomor si pemilik akun yang tak lain merupakan penyalur gadis ini.

Tak ingin mendapat cap akun abal-abal, akun tersebut kemudian menawarkan gadis lain yang dimiliki oleh mucikari lain.

Lagi-lagi dia mengklaim bahwa gadis yang ditawarkan ini juga masih anak sekolahan.

Tribun Jogja kemudian disambungkan dengan mucikari lain yang menyediakan teman kencan gadis sekolahan.

Setelah terjadi kesepakatan harga seperti sebelumnya, yakni Rp 500 ribu.

Si mucikari tersebut kemudian mengirimkan lokasi kencan yang hendak dituju.

Lokasi kencan tersebut berada di sebuah indekos bebas di daerah ring road utara, Condongcatur, Depok, Sleman.

Lewat aplikasi pesan WhatsApp itu, si mucikari mengarahkan tata krama masuk ke dalam kos tersebut.

"Langsung masuk ajaa. Nanti naik yaaa. Tangga belok kiri. Nggak usah tanya penjagane," begitu isi pesan WhatsApp tersebut.

Jarum jam menunjukkan pukul 23.00 ketika Tribun Jogja sampai di indekos yang dimaksud.

Suasana indekos terlihat sepi, pintu gerbang dari teralis besi itu terlihat belum ditutup rapat-rapat.

Begitu masuk di halaman indekos tersebut kendaraan roda dua maupun roda empat sudah terparkir berjejer rapi.

Tribun Jogja perlahan melangkah masuk menuju kamar yang dituju.

Tiba-tiba seorang penjaga indekos memberhentikan langkah, mencecar bermacam pertanyaan akan maksud kedatangan.

Waktu itu, dengan alasan mengantarkan uang akhirnya dikantongilah izin untuk menuju kamar yang dituju.

Terletak di lantai dua, seorang wanita berambut pirang yang tak lain si mucikari ini kemudian menyapa mempersilakan masuk.

Di dalam kamar tersebut, terdapat seorang pemuda dan seorang wanita berambut hitam sebahu.

Ketiganya terlihat masih muda. Belakangan diketahui si pemuda yang ada di kamar tersebut merupakan pasangan si mucikari.

Setelahnya, si mucikari beserta psangannya bergegas meninggalkan kamar.

Tinggalah Tribun bersama si gadis yang diduga masih duduk di bangku sekolah ini.

Sebut saja Kenanga, gadis kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah ini begitu ramah menyapa.

Tak ada kesan seksi dan erotis ketika melihat gadis berperawakan mungil ini.

Mengenakan pakaian berlengan pendek berwarna biru, serta bercelana jins warna hitam.

Berkali-kali senyum manis Kenanga terlontar dari bibir mungil merah bergincunya.

Gadis yang lahir di tahun 1999 silam ini kelihatan begitu supel, melemparkan bermacam candaan diikuti dengan polah tingkahnya yang begitu menggemaskan.

Gadis bertinggi sekitar 155 sentimeter ini terlihat sangat mudah bergaul dan akrab dengan orang baru.

Hal itu tergambar dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos seakan sudah berkawan lama.

Kepada Tribun Jogja, Kenanga mengaku baru enam bulan ini berada di Yogya.

Dia menetap di sebuah indekos, namun entah di mana berada.

Ketika disinggung keberadaannya, Kenanga enggan memberikan jawaban.

"Ih.. kepo," selorohnya.

Kenanga dengan santainya bercerita kesana kemari akan perjalanan hidupnya.

Dari mulai kisah cintanya yang kandas, masa studinya yang terbengkalai, hingga kehidupan selama di Yogya dia umbar.

Dari pengakuannya saat itu, Tribun Jogja adalah tamu pertamanya.

"Baru ini aku. Beneran ini yang pertama kalinya," ujarnya singkat.

Entah benar atau tidak, yang jelas awal mula dia berani mencicipi dunia prostitusi setelah berteman lama dengan si Melati, yang tak lain adalah si mucikari.

"Kenalnya di sebuah kafe belakang mal, aku sendiri yang minta. Bisa nggak cariin aku tamu," kenang Kenanga.

Dari perkenalan itu, Kenanga kemudian diajak untuk terjun ke dalam dunia prostitusi.

Untuk sekali kencan, Kenanga mematok tarif Rp 500 ribu.

Kemudahan mencari rupiah ini seperti membuat Kenanga gelap mata.

"Yang Rp 400 buat aku, yang Rp 100 buat Melati. Tanda terimakasih udah nyariin tamu dan dipinjami tempat juga," jawabnya.

Kenanga pun tak terlalu menarget berapa tamu yang hendak ia layani.

Dari pengakuannya, selama tubuh mungilnya masih bisa diajak bekerja, selama itu pula dia akan terus berpeluh menimba rupiah.

Lewat aplikasi pesan WhatsApp Kenanga mulai ditawarkan kepada para lelaki hidung belang.

Kenanga pun mesti bolak-balik Solo-Yogya untuk mencari pasaran.

Disinggung kenapa tidak membuka praktik di tanah kelahirannya, dia berdalih bahwa kota Solo sangat sepi.

Kontras dengan kehidupan di Yogyakarta.

"Di Solo sepi, mas. Enakan di Yogya. Rame. Lagian di sini juga buat nyari pengalaman, selagi muda carilah banyak pengalaman. Uangnya bisa buat hiduplah, mas," kata anak kedua dari dua bersaudara ini.

Pertemanan dia dengan Melati pun berdampak akan masa studinya.

Kenanga yang mengaku siswi kelas XII di sebuah Sekolah Menengah Atas di Mojosongo ini banyak absen dari kegiatan belajar mengajar.

"Karena pengen nyari duit, ya sekolah kebanyakan bolos. Apalagi ini mau ujian kan. Pengennya sih cepet lulus, baru kerja," kata gadis 18 tahun ini.

Dicecar bermacam pertanyaan, Kenanga juga merasa risih.

Maka tak jarang dia sesekali menggerutu dengan banyaknya pertanyaan yang terlontar.

"Ini malah nanya terus ee," tanyanya.

Ditanya adakah teman atau bahkan kerabat yang mengetahui akan kesibukan dia, tak sedikit pun mulutnya bergeming.

Di tengah-tengah cerita, sebenarnya Kenanga tahu akan risiko yang menghantui dari praktik prostitusi ini, yaitu penyakit kelamin.

Untuk menyiasati hal-hal yang tidak diinginkan, sebelumnya Kenanga telah memeriksakan alat reproduksinya di Puskesmas di daerah tempat tinggalnya.

"Ya takut mas, mesti rutin cek kesehatan kelamin. Kalau sebelumnya cuma 3 bulan sekali. Setelah kerja seperti ini, ya mau nggak mesti 1 bulan sekali rutin cek ke Puskesmas," katanya.

"Kalau di Solo biayanya Rp 300 ribu sekali periksa. Kalau di sini kurang tahu," tambahnya.

Selain itu, lanjutnya, Kenanga mewajibkan setiap tamu yang hendak menikmati tubuhnya mesti mengenakan pengaman. (Tribun Jogja/Sis)

Sumber: http://bangka.tribunnews.com

Mahasiswi di Aceh Nyambi Jadi PSK Online, Tarif Rp 2 Juta/Malam

Aceh - Tujuh terduga pekerja seks komersial (PSK) dan seorang germo ditangkap personel Polresta Banda Aceh. Tarif para perempuan ini adalah Rp 2 juta/orang untuk sekali kencan.

Kedelapan pelaku dihadirkan saat konferensi pers di Mapolresta Banda Aceh, Jumat (23/3/2018). Tujuh terduga PSK mengenakan topeng dan menutup mulut dengan masker. Sedangkan si germo mengenakan sebo dan baju tahanan berwarna oranye.

Penangkapan terduga PSK online dan germo ini berawal dari informasi yang diperoleh polisi. Setelah dilakukan penyelidikan, polisi kemudian melakukan penyamaran sebagai pemesan. Komunikasi dengan germo berinisial MRS dilakukan via WhatApp. Setelah polisi berhasil meyakinkan, MRS kemudian mengirim beberapa foto.

Ketika itu, polisi memesan dua PSK berinisial AYU dan CA. Setelah harga cocok, transaksi selanjutnya dilakukan di sebuah hotel di kawasan Aceh Besar. Polisi saat itu menyerahkan uang Rp 4 juta untuk menyewa dua PSK. Seusai transaksi, seorang PSK langsung diamankan, sedangkan germo ditangkap di parkiran.

Setelah menangkap keduanya, polisi melakukan pengembangan. Enam terduga PSK lain selanjutnya diamankan di beberapa lokasi di Banda Aceh. Ketujuh terduga PSK ini adalah AYU (28), CA (24), RM (23), DS (24), RR (21), IZ (23), dan MU (23).

"Enam orang perempuan yang kita amankan ini merupakan mahasiswi dan satu orang pekerja swasta," kata Kapolresta Banda Aceh AKBP Trisno Riyanto dalam konferensi pers di Mapolresta, Jumat (23/3).

Mereka diciduk pada Rabu (22/3) sekitar pukul 23.00 WIB. Setelah diamankan, mereka diboyong ke Mapolresta Banda Aceh untuk menjalani pemeriksaan. Hingga sore tadi, mereka masih diamankan di Mapolresta.

"Dua akan ditahan, yaitu MRS dan AYU. Sementara yang lain akan dibina," ungkap Trisno.

Menurut Kapolresta, tarif para perempuan ini masing-masing Rp 2 juta. Mereka dipertemukan dengan calon pelanggan oleh germo MRS lewat aplikasi chatting WhatsApp. MRS sendiri sudah dua tahun menjalani bisnis tersebut.

"Perempuan yang kita amankan ini merupakan jaringan MRS. Modus operasinya MRS mengirim foto ke pelanggan yang memesan," jelas Trisno.
(asp/asp)

Sumber: https://news.detik.com

Cerita PSK Online yang Mengaku Tamu Minta Layanan Seks Aneh, Hingga Beramai-ramai

SURABAYA - Kisah pekerja seks komersial (PSK) online di Surabaya membuat geger masyarakat pertengahan tahun lalu.

Dia semula ditangkap polisi setelah perbuatannya tercium.

Dalam pemeriksaan, pengakuan dia malah mengejutkan banyak orang.

//
Ya, itu terkait modus, dan orang-orang yang pernah bercinta dengannya.

//
Berikut kisahnya...

ID (23), tertunduk sambil menutupi wajah engan rambut panjangnya saat penyidik memeriksanya di ruang Unit PPA Polrestabes Surabaya, Kamis (2/3/2017) lalu.

Perempuan berwajah cantik ini menjawab beberapa pertanyaan penyidik dengan suara pelan dan singkat.

Ibu muda satu anak asal Lamongan yang indekos di Gresik ini terlibat kasus trafficking.

Ia ditangkap polisi ketika hendak melayani tamu di salah satu hotel di Surabaya, pada 27 Februari 2017.

Ia ditangkap bersama satu temannya sesama wanita panggilan dan seorang pria hidung belang.

"Saat digerebek kami belum sempat ngapa-ngapain. Saya masih mandi dan teman saya baru melepas baju, lalu pintu digedor petugas," kata Irsya.

Irsya mengaku, baru tiga bulan menjadi wanita panggilan.

Ia biasa memasarkan diri lewat media sosial Facebook.

Biasanya, ia menambahi keterangan open order booking di foto yang diunggah di grup Facebook.

"Saya buka order tidak tiap hari, kalau lagi butuh duit saja," ujar wanita yang pernah kerja di salon kecantikan ini.

Gaya hidup ID memang lumayan tinggi.

Ia gemar belanja di mal. Ia juga suka beli alat-alat kecantikan dan baju-baju mahal.

Uang belanja dari suaminya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan gaya hidupnya.

Akhirnya, ia mencari uang tambahan dengan menjadi wanita panggilan.

Kegemaran ID berdandan masih terlihat dari penampilannya, meski sudah di dalam tahanan Polrestabes Surabaya.

Sisa-sisa perawatan kecantikannya masih terlihat. Kulit dan wajahnya masih terlihat bersih seperti sering perawatan.

Rambut sebahunya direbonding dan tertata rapi.

"Saya dulu memang pernah bekerja di salon kecantikan," katanya.

Meski masih muda, Irsya sudah menikah dua kali.

Ia dikarunia satu anak usia empat tahun di pernikahan pertamanya lalu cerai.

Ia menikah lagi, tapi belum dikaruniai anak.

Ia mengaku suaminya sekarang hanya bekerja di proyek.

"Uang belanja dari suami hanya cukup buat makan dan bayar sewa kos," katanya.

Ketika ditangkap polisi, Irsya memang sedang mendapat order dari tamu.

Tamu itu meminta layanan seks threesome.

Sebenarnya, ia tidak pernah melayani tamu yang meminta layanan seks threesome. Karena butuh uang, ia pun menerima ajakan tamu itu.

Kemudian, ia mencari teman untuk melayani tamu tersebut. Ia mencari di grup Facebook.

Kebetulan, ketika itu ada wanita panggilan yang juga buka order. Irsya menghubungi wanita tersebut.

Ia menawarkan ke wanita itu bahwa ada tamu yang mengajak seks ramai-ramai.

Tarifnya, per orang Rp 600.000.

Tarif itu sudah bersih tidak dipotong biaya sewa hotel.

Wanita panggilan yang dihubungi itu juga setuju.

Irsya segera memberitahukan jadwal dan lokasi hotel tempatnya bertemu.

Ternyata itu menjadi hari apesnya.

Ia digerebek polisi ketika berada di hotel.

"Awalnya saya ragu mau melayani tamu itu. Tapi dia memberi uang muka, sehingga saya percaya," katanya.

Ia ragu melayani tamu yang mengajak layanan seks ramai-ramai karena ada beberapa temannya yang ditangkap polisi saat melakukan hal serupa.

"Ternyata digerebek polisi juga. Sekarang memang banyak tamu yang minta layanan seks aneh-aneh," katanya.

Penyidik Unit PPA Polrestabes Surabaya, Bripka Anti mengatakan, belakangan ini memang banyak kasus trafficking dan prostitusi yang melayani seks ramai-ramai seperti yang dilakukan Irsya.

Malah, ia pernah menangani kasus suami yang menjual istrinya demi kepuasan fantasi seksualnya.

(Tribun Jateng/Catur Waskito Edy)

Sumber: http://bangka.tribunnews.com

Kisah Wanita Asal Bandung: Suami Selingkuh dengan Teman Baiknya Saat Tengah Hamil

KUALA LUMPUR- Indonesia memiliki banyak talenta di dunia artis. Tidak hanya di Indonesia, mereka ada yang sukses di negara lain.

Salah satunya adalah Refika Novianti Faturohman (28) atau lebih dikenal sebagai Vicha.

Vicha adalah anggota kelompok lawak Saywho yang kmini naik daun di Malaysia.

Grup lawak ini terdiri dari tiga personil yang semuanya asal Indonesia, Eko dan Bocil.

Vicha sudah beberapa kali berkompetisi dalam program Maharaja Lawak Mega (MLM) di stasiun Astro Malaysia, dan selalu juara.

Karirnya terus menanjak di neeri jiran tersebut dan mendapat banyak tawaran drama televisi di Malaysia.

Vicha yang telah menetap di Malaysia sejak tahun 2016 ini, sampai saat ini terus melakukan perjalanan bolak-balik dari Jakarta ke Kuala Lumpur karena tiga anaknya yang masih kecil-kecil, masih tinggal di Jakarta bersama ibunda Vicha.

Namun, siapa nyana, di balik kesuksesannya mengocok perut para penonton di negara tersebut, ia memiliki kisah panjang yang sangat getir.

Vicha mengaku besar dari keluarga broken home karena ibu dan ayahnya berpisah sejak ia masih kecil.

Bakat artisnya berasal dari sang ayah yang berprofesi sebagai komedian dan sulap, namun sang ayah tidak pernah merestui Vicha mengikuti jejaknya, bahkan hingga saat ini.

Dari sebuah video yang diunggah oleh Faiz Ibrahim, dilansir Astro Warna di Youtube, Vicha blak-blakan tentang perjalanan hidupnya yang sangat berbanding terbalik dengan keceriaannya di depan kamera dan penonton.

Vicha mengungkapkan kisah hidupnya yang sangat menyedihkan.

Mulai dari tidak adanya uang untuk mengurus paspor dan ongkos ke Malaysia, ketika mendapat tawaran tampil di MLM hingga ditipu oleh manajernya.

Salah satunya adalah, dikhianati suaminya yang berselingkuh dengan teman baiknya sendiri selama beberapa tahun, saat ia mencari nafkah di Malaysia.

“Ketika saya meninggalkan anak-anak di rumah, saya pikir dia ada di sana untuk mengawasi anak-anak. Jadi saya membiarkan dia merawat mereka. Saya meminta bantuannya. Rupanya, setiap kali saya pergi ke Malaysia, suami saya berselingkuh dengan teman saya sendiri, sahabat saya.”

“Ketika saya di Malaysia, dia merawat anak-anak saya, dia mengurus rumah saya dan saya mempercayainya. Tetapi teman-teman saya yang lain mengatakan sebaliknya. Mereka berkata, 'lihat, ia menipumu’.”

Sedihnya lagi, dalam video itu ia mengungkapkan bahwa suaminya memiliki utang dimana-mana dan terlibat penipuan.

Sampai ia dan anak-anaknya sempat dibawa ke kantor polisi terkait kasus tersebut, meskipun ia kembali dibebaskan.

“Sebenarnya, dalam tiga tahun menikah dengan suami saya, dia sering menipu saya. Tapi saya mengabaikannya demi anak-anak. Saya tidak ingin menjadi korban perceraian. Saya seorang anak dari keluarga yang rusak. Saya tidak pernah merasakan kasih sayang ibu dan ayah saya dalam satu rumah. Saya tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.”

“Saya tidak ingin anak-anak saya melewati semua itu. Jadi, saya menutup satu mata meskipun dia selingkuh dan dia keluar dengan wanita lain dan melakukan apapun yang dia inginkan. Yang penting kita tidak bercerai. ”

Vicha akhirnya pulang karena harus merawat anak-anaknya yang masih berusia 1 tahun lebih dan beberapa bulan.

Setiap hari ia hanya tinggal di rumah bersama sementara suaminya pergi kerja.

“Saya pikir suami saya benar-benar akan bekerja. Tapi ternyata dia bersenang-senang tinggal di rumah teman saya. Wanita itu kaya, jadi dia memberi makanan dan uang kepada suami saya.

Lucunya, sahabat yang menjadi selingkuhan suaminya itu tetap baik kepadanya, menawarkan uang untuk biaya hidup.

“Uang dari wanita itu pada suami saya kemudian diberikan kepada saya RM30 (Rp 100 ribu) atau RM50. Dan dia bahkan mengirimi saya pesan seperti 'Bagaimana kabarmu? Apa tadi kamu makan? Jika tidak, saya akan pergi dan memberi Anda sejumlah uang ’.

“Saya masih percaya padanya, tetapi di belakang saya, mereka berdua berselingkuh. Apakah ada pria seperti itu? Ada! Dan ini adalah kenyataan. ”

Vicha kembali hamil anak ketiganya.

Namun, ia kembali harus menerima kenyataan pahit suaminya tidak berubah, dan terus berselingkuh.

Ia bahkan “disekap” di apartemen dan tidak bisa kemana-mana karena kunci dibawa sang suami.

Setiap hari, ia hanya memberi anaknya makan mi instan bercampur nasi serta air gula pengganti susu.

Sampai akhirnya, ia didatangi oleh kawan-kawannya dan meninggalkan apartemen itu.

Bahkan, biaya persalinan anaknya juga hasil urunan kawan-kawannya tersebut.

Vicha kembali mendapat tawaran dari Astro Warna untuk tampil di Malaysia.

Karena peluang kembali terbuka, ia kemudian menitipkan anak-anaknya kepada sang ibunda.

Vicha mengaku bahagia karena karirnya terus membaik dan bisa mengirimkan uang belanja setidaknya RM3.000 atau sekitar Rp 10 juta lebih sebulan untuk membeli perlengkapan sekolah dan biaya hidup anak-anaknya.

Dalam video yang berdurasi 22 menit lebih itu juga ada testimoni pedangdut Cita Citata yang mengelan Vicha saat mendapat undangan tampil di Malaysia.

Sumber: http://bali.tribunnews.com
-

Arsip Blog

Recent Posts