Tampilkan postingan dengan label Bojonegoro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bojonegoro. Tampilkan semua postingan

Warga Sraturejo Tetap Lestarikan Tradisi Kirap Encek Nganten

Bojonegoro, Jatim - Tradisi Kirap Encek Nganten yang sudah menjadi tradisi sejak dulu terus dilestarikan oleh Warga Desa Sraturejo, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro. Warga setempat selalu menunggu tradisi yang dilakukan sebagai wujud syukur tersebut.

Encek Nganten merupakan gunungan yang dibuat dengan rangkaian hasil bumi. Mulai dari buah-buahan, padi, jagung, sayur mayur dan hasil pertanian lain. Encek gunungan itu dibuat dua buah yang mewakili encek lanang (laki-laki) dan encek wadon (perempuan) yang melambangkan pasangan pengantin.

Gunungan yang dirangkai dari hasil bumi itu kemudian diarak mengelilingi desa oleh para pemuda setempat. Setelah diarak keliling desa gunungan dibawa ke petilasan Sumur Nganten. Di sana, warga sudah ada yang menunggu untuk mendapat berkah dari hasil bumi tersebut. Setelah pembacaan doa, hasil bumi tersebut kemudian dibuat rebutan.

Belum selesai dibacakan doa. Ratusan warga sudah saling berebut encek setinggi 1 meter (m) tersebut. Baik pria, perempuan, maupun anak-anak. Mereka saling berdesakan, seakan tidak memperdulikan keselamtannya. "Yang penting dapat," kata salah seorang warga desa setempat, Rohmatullah Umah, kemarin.

Perempuan berusia 45 tahun itu lumayan mendapat sejumlah hasil pertanian. Seperti kacang, cabai, tomat, dan buah-buahan. Rencananya, hasil pertanian dari tumpeng itu akan dimasak. Kemudian dimakan bersama dengan seluruh anggota keluarganya. "Biar mendapat berhakah dan ditambah rezekinya," ujarnya.

Selain Encek Nganten, saat keliling kampung juga lengkap dengan model pasangan pengantin dan pengiringnya. Pasangan pengantin itu berada dibarisan paling depan. Barisan kedua pemuda yang berseragam hitam-hitam memikul encek, serta para pengiring. Barisan terakhir musik pengiring drum band.

Ketika sampai di petilasan Sumur Nganten. Pasangan pengantin tersebut dibasuh muka, tangan, dan kaki. Hal tersebut seperti yang dilakukan pasangan pengantin yang baru mengucapkan ijab-kabul (akad nikah). Sambil memohon kepada ridho Tuhan Yang Maha Esa (YME) agar pernikahnya langeng, dijauhkan dari cobaan, dan dimurahkan rejeki.

Serta dikaruniai keturunan tidak cacat, berbakti kepada orang tua, agama, dan negara. Ritual tersebut diyakini masyarakat setempat, berawal dari sebuah cerita atau legenda desa setempat.

Awal mula ceritanya, pernah terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Patih Joyosingo terhadap Akuwu atau Bupati Basunondo alias Prabu Lembu Amiseno dengan permaisurinya Kanjeng Ratu Lebdosari pada masa akhir kerajaan Kahuripan. "Lokasi akuwu Basunondo itu diyakini berada di Desa Staturejo," kata Sekretaris Desa (Sekdes) Desa Sraturejo, Haryanto Abdoelah.

Puncak pemberontakan patih Joyosingo ketika berhasil memenjarakan akuwu Basunondo beserta permaisurinya, setelah bertarung di kawasn Sendhang Ratu. Dengan kemenagan tersebut, lanjut dia, Patih Joyosingo mengambil alih kekuasan sebagai akuwu, bergelar Akuwu Joyosingo dengan permaisurinya Niken Lembayung.

Tapi rakyat yang masih mencintai akuwu Basunondo dan permaisurinya akhirnya berencana merebut kembali tampuk kekuasaan. Pengikut istana yang masih setia bersidang di suatu tempat di bawah pohon rindang untuk menyusun srategi. Sementara didekat pohon itu ada sumur yang besar sumber airnya. Lokasi itu disebut Sumur Gandring.

Singkat cerita, seteleh dilakukan penyerangan ke pusat pemerintahan berhasil menumpas pemberontak dan menewaskan patih Joyosingo. Kemudian akuwu Basunondo dan permaisurinya disucikan oleh para tertua adat di sebuah sumur agar segala sesuker atau musibah hilang.

Peritiwa tersebut akhirnya melahirkan sebutan nama Mbah Krebut. Artinya kakek-nenek yang berasil direbut. Keduanya bagaikan sepasang pengantin tidak terpisahkan. Kemudian sumur tersebut dinaman Petilasan Sumur Nganten. Yakni berupa pondasi berkas bangunan kuno berbahan batu bata sebesar 20x35 centimeter (cm). "Setiap tahun, masyarakat melakukan Kirap Encek Nganten. Sebagia bentuk rasa syukur atau sedekah bumi," imbuhnya.

Sementara Kepala Dusun Grenjeng, Desa Sraturejo, Sunoko mengungkapkan, sedekah bumi atau nyadran yang dilakukan masyarakat ini merupakan upaya untuk terus menjaga tradisi masyarakat. Selain itu, diharapkan nyadran tersebut menjadi potensi desa sebagai objek wisata. Nyadran itu dilakukan setiap tahun pada hari Senin Pon.

"Bentuk kegiatan ini merupakan bentuk melestarikan kebudayaan yang sudah dilakukan terhadap nenek moyang dulu. Juga diharapkan menjadi potensi wisata tahunan," jelasnya.

Cepu Patenkan 5 Motif Batik

Bojonegoro, Jatim - Lima motif batik khas dari Cepu, Jawa Tengah akan segera dipatenkan. Pendaftaran paten ini dilakukan keluarga besar Keraton Djipang yang berpusat di Desa Djipang, Cepu, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah, bersamaan dengan peresmiannya pada 7 Mei 2016.

Lima motif batik khas Cepu yang akan dipatenkan dan sarat filosofis itu adalah batik motif gagak rimang kyai seton kober, batik soreng-soreng, batik mawar djipang kelopak 9, batik tebu ireng, dan batik sri rejeki (batik ceplok mawar sri rejeki).

Dengan paten 5 motif batik ini, Keraton Djipang berharap agar budaya seni membantik akan semakin memasyarakat sekaligus melestarikan nilai seni daerah. Lebih jauh, paten bisa menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal dengan membatik.

Untuk memperoleh batik khas Cepu sendiri, wisatawan dapat mengunjungi sentra batik di empat kawasan yang terkenal, yaitu Kelurahan Ngelo, Kelurahan Balun, dan Desa Kentong.

Sementara itu, Keraton Djipang adalah sebuah lembaga adat yang terbentuk untuk melestarikan Kerajaan Djipang beserta budayanya, yang memiliki sejarah di kota ini.

Kerajaan Djipang berpusat di Desa Djipang, Cepu, Jawa Tengah. Wilayahnya meliputi Blora, Pati, Bojonegoro dengan rajanya yang sangat dikenal, yaitu Pangeran Arya Penangsang.

Wayang Kulit Tontonan untuk Mencintai Budaya Bangsa

Bojonegoro, Jatim - Masyarakat pecinta wayang kulit berkumpul dihalaman Stadion Letjen. H. Soedirman Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur untuk menyaksikan pertunjukan pagelaran wayang kulit yang diselenggarakan oleh MPR RI bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro dalam rangka Sosialisasi Empat Pilar MPR RI (Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika). bersama dalang Ki Sigid Ariyanto dari Rembang dengan lakon “Wahyu Makutoromo”, Sabtu 9 April 2016.

Acara pagelaran wayang kulit ini di hadiri oleh anggota MPR RI, antara lain: Didik Mukrianto, SH. (Fraksi Partai Demokrat), Dr. Anna Mu’awanah, SE., MH. (Fraksi PKB), Drs. H. Kuswiyanto, M.Si.(Fraksi PAN), Prof. Dr. John Pieris, SH., MS. (Kelompok DPD). Sedangkan dari pemerintah daerah hadir Wakil Bupati Bojonegoro Drs. H. Setya Hartono, MM. dan beberapa anggota DPRD Bojonegoro serta jajaran FKPD dan SKPD Kabupaten Bojonegoro.

Tujuan dari pementasan seni budaya wayang kulit ini, seperti disampaikan oleh ketua panita pelaksana Drs. Purwadi, yaitu untuk melakukan reaktualisasi terhadap nilai-nilai Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, dalam rangka Internalisasi pemahaman terhadap Empat Pilar MPR RI kepada masyarakat, khususnya melalui pagelaran seni budaya tradisional dan juga sebagai salah satu bentuk apresiasi sekaligus langkah konkret dan nyata MPR RI dalam upaya melestarikan warisan budaya tradisional, khususnya wayang kulit, yang telah menjadi ciri, jati diri dan kekayaan intelektual bangsa Indonesia yang telah diakui dunia.

Drs. H. Setya Hartono, MM. yang mewakili Bupati Bojonegoro dalam sambutanyamengungkapkan, dalam rangka memiliki tekad bersama dalam memahami Empat Pilar MPR yang melatarbelakangi diselenggarakannya pagelaran wayang semalam suntuk bersama dalang kondang Ki Sigid Ariyanto. Dengan harapan sosialisasi Empat Pilar MPR RI mampu sampai ke sasaran dengan pesan-pesan yang disampaikan dalam alur cerita pagelaran ini.

Setya selanjutnya mengucapakan terimakasih pada MPR RI yang telah memilih Bojonegoro untuk melaksanakan sosialisasi Empat Pilar MPR danberharap agar generasi muda menyadari bahwa wayang itu merupakan tontonan danjuga tuntunan agar generasi muda lebih mencintai budaya dalam negeri sendiri,”ujarnya.

Sementara Prof. Dr. John Pieris, SH., MS. mewakili Pimpinan MPR RI dalam sambutanya menegaskan, jika kita ingin tetap dalam satu Negara Kesatuan Republik Indonesia maka tidak ada pilihan bagi kita kecuali merawat, menjaga, memelihara, dan merangkul semua lapisan masyarakat termasuk kaum minoritas untuk memperkuat Empat Pilar MPR RI.

Menurut ketua kelompok DPD di MPR RI ini, sekarang ini masyarakat mulai berkurang jiwa kerukunan, toleransi, kebersamaan dan keharmonisan. Hal tersebut merupakan tanda-tanda semakin jauhnya nilai-nilai Pancasila. Dengan keyakinan diselenggarakannya wayang sebagai instrumen sosialisasi diharapkan mampu menjadi tatanan, tontonan dan tuntunan untuk mencintai budaya bangsa jangan sampai tergerus oleh budaya global, kata John Pieris.

Tepat pukul 21.00 WIB dengan penyerahan tokoh wayang oleh John Pieris kepada dalang Ki Sigid Ariyanto menjadi penanda dimulainya pagelaran dengan lakon "Wahyu Makutoromo"yang isi ceritanya mengisahkan tentang pencarian mahkota Sri Batara Rama. Barang siapa memiliki mahkota itu maka akan menjadi sakti dan kelak akan menurunkan raja-raja yang memerintah di Marcapada. Karena berkasiat menurunkan raja-raja, mahkota itu kemudian disebut sebagai "Wahyu Makutoromo".

Tari Kahyangan Api Bojonegoro Boyong Piala Presiden

Bojonegoro, Jatim - Tari Kahyangan Api Kabupaten Bojonegoro, sebagai wakil tari Jawa Timur, berhasil memboyong Piala Bergilir Presiden RI dalam Parade Tari Nusantara ke-34 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, pada 22 Agustus lalu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro Amir Syahid, di Bojonegoro, Senin, mengatakan, Tari Kahyangan Api mampu meraih 11 nominasi, dalam Parade Tari Nusantara ke-34, yang juga diikuti peserta lainnya dari seluruh provinsi di Tanah Air.

Dalam parade tari itu, lanjut dia, tari Kahyangan Api, tampil sebagai penyaji terbaik, penata tari terbaik, penata musik terbaik, penata busana rias terbaik, dan penampilan terbaik se-wilayah Jawa-Bali.

"Tari Kahyangan Api di lima kategori masuk lima besar sekaligus meraih yang terbaik, sehingga mampu meraih 11 nominasi, karena keluar sebagai juara umum," kata penata tari Kahyangan Api Deni Ike, menambahkan.

Dengan demikian, menurut dia, piala bergilir Presiden RI dalam parade tari nusantara di Jakarta, yang tahun lalu dipegang Bali, untuk tahun ini berpindah ke Provinsi Jawa Timur.

"Piala bergilir Presiden dalam parade tari nusantara sekarang ini disimpan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur," jelasnya.

Meski demikian, kata Ike, Bojonegoro nantinya akan memperoleh replika piala nominasi yang dilombakan dalam parade tari nusantara itu.

"Piala bergilir Presiden disimpan di Jawa Timur, sebab dalam parade itu kita mewakili Jawa Timur," ucapnya, menegaskan.

Lebih lanjut Ike menjelaskan tari Kahyangan Api, sebelumnya keluar sebagai juara dalam parade tari se-Provinsi Jawa Timur, pada 27 Mei lalu.

Dalam parade tari di Jawa Timur itu, lanjut dia, semua personelnya dari Bojonegoro, mulai 10 penari, juga penata musiknya Rudy Lestyono.

"Dalam parade tari nusantara, untuk tari Kahyangan Api, yang durasinya tujuh menit, sebelum maju ke Jakarta, mengalami proses bedah tari, yang langsung ditangani penata tari dan musik dari Provinsi Jawa Timur," jelas dia.

Ia menambahkan tari Kahyangan Api, menampilkan tari-tarian, yang berisi legenda kehidupan seorang tokoh pembuat senjata atau mpu bersama masyarakat di sekitar obyek api abadi Kahyangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem.

Bojonegoro Gelar Tari Thengul Massal 5 Desember

Bojonegoro, Jatim - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro berencana menggelar tari Thengul massal dengan melibatkan 500 penari di lokasi objek wisata Bedung Gerak Bengawan Solo di Desa Ngringinrejo, 5 Desember 2015.

"Tari Thengul massal batal melibatkan 2.000 penari dengan target masuk Museum Rekor-Dunia Indonesia atau MURI," kata Kepala Bidang Pengembangan dan Pelestarian Disbudpar Bojonegoro Suyanto di Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu.

Menurut dia, batalnya pelaksanaan tari Thengul dengan melibatkan 2.000 penari, dengan mempertimbangkan teknis latihan, dan kemampuan penari dalam memperagakan tari Thengul.

"Tapi target tari Thengul massal, dengan melibatkan 2.000 penari tetap masuk agenda," ujarnya.

"Pergelaran tari Thengul di Bendung Gerak, juga sebagai persiapan menggelar tari Thengul massal dengan jumlah 2.000 penari," tambahnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan persiapan tari Thengul massal sudah mulai dilakukan dengan melatih sejumlah penari wanita, yang kemudian juga akan diteruskan melatih penari lainnya.

"Kita harapkan penari yang terlibat dari para pelajar yang ada di seluruh kecamatan di Bojonegoro," ucapnya.

Yang jelas, katanya, pergelaran tari Thengul massal tersebut, sebagai upaya mempromosikan tari Thengul, yang merupakan tari khas daerahnya, yang mengadopsi tari-tarian yang ada di Wayang Thengul.

Selain itu, lanjut dia, pergelaran tari Thengul massal itu, sekaligus juga untuk merayakan HUT ke-338 kabupaten.

Oleh karena itu, menurut dia, dalam pelaksanaannya sebanyak 500 penari Thengul, akan mengawali dari kebun belimbing di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, yang selama ini masuk wisata agrobisnis terbaik di Jawa Timur.

"Dengan berjalan kaki para penari, menuju lokasi Bendung Gerak Bengawan Solo. Lokasi yang yang akan dimanfaatkan untuk menari Thengul sudah kami survei bersama tim ahli tari dari Surabaya," katanya, menegaskan.

Festival Bengawan Solo Bojonegoro Resmi Dimulai

Bojonegoro, Jatim – Rangkaian kegiatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke 337 sesi Festival Bengawan Solo resmi dibuka hari ini, Selasa (14/10).

Acara dipusatkan di kawasan Bendungan Gerak, Desa Ngringinrejo dan Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro. Pembukaan Festival Bengawan ditandai dengan ritual dan doa pukul 08.00 WIB.

Festival Bengawan Solo akan berlangsung selama tiga hari, mulai hari ini hingga 16 Oktober mendatang. Festival sendiri berlangsung di tiga tempat berbeda. Sejumlah kesenian khas Bojonegoro akan disajikan dalam acara tersebut seperti keroncong muda, wayang Thengul, band lokal, dan beberapa perlombaan rakyat.

Bupati Bojonegoro, Suyoto mengatakan, bermacam-macam acara yang akan ditampilkan di festival ini, seperti parade budaya, perahu hias, lomba renang menyeberangi bengawan dan masih banyak lagi lainnya.

Kang Yoto, sapaan akrab orang nomor satu di Bojonegoro itu juga melepas ikan sebagai tanda dimulainya festival. “Kegiatan ini untuk mengasihi dan menyayangi sungai bengawan solo, bukan sekadar menunggu kiriman banjir dari hulu, melainkan juga turut serta merawatnya, salah satunya dengan menanami ikan seperti ini,” ungkapnya kepada sejumlah awak media, seusai melepas bibit ikan.

Sesuai agenda, puncak Festival Bengawan akan berlangsung pada Kamis (16/10) mendatang, dengan kegiatan inti Parade Perahu Hias yang mengambil start dari Bendungan Gerak kemudian menyusuri sungai Bengawan Solo menuju ke Lapangan Banjarsari, Kota Bojonegoro.

Festival Bengawan Bojonegoro Bakal Digelar Secara Meriah

Bojonegoro, Jatim - Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, akan menggelar festival "Bengawan Bojonegoro", pada 14 - 16 Oktober 2014.

Festival itu akan diisi dengan berbagai kegiatan budaya kesenian di perairan sungai terpanjang di Jawa di daerah setempat,

"Festival "Bengawan Bojonegoro" ini merupakan acara andalan dalam rangka memeriahkan HUT kabupaten ke-337," kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Bojonegoro Heri Kristianto, di Bojonegoro, Selasa (30/9/2014).

Sesuai rencana, festival itu akan digelar di lokasi Bendung Gerak Bengawan Solo, di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, di lapangan Desa Sukoharjo, juga di Kecamatan Kalitidu, dan di Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk.

"Festival itu akan diisi dengan berbagai kegiatan budaya dan kesenian, mulai perahu hias, membaca puisi, juga lomba berenang menyeberang Bengawan Solo," katanya.

Ia juga menjelaskan kegiatan memeriahkan HUT kabupaten lainnya yaitu pergelaran Wayang Kulit dengan dalang Ki Anom Suroto, parade budaya, dan berbagai kegiatan kesenian lainnya.

"Yang jelas peringatan HUT kabupaten tahun ini digelar selama dua bulan penuh, sejak awal September lalu," katanya.

Ketua Panitia penyelenggara Festival "Bengawan Bojonegoro" di Bojonegoro M. Kuzaini, mengatakan kegiatan festival "Bengawan Bojonegoro", antara lain, pameran fosil purbakala hasil temuan di lembah Bengawan Solo, juga berbagai lomba, mulai lomba perahu "getek", lomba voli "gisik" (di atas pasir), dan lomba sepak bola "gisik".

Ia menambahkan bahwa puncak festival "Bengawan Bojonegoro" akan dimeriahkan sengan perahu hias, yang akan melibatkan sekitar 100 perahu tambang.

"Kami sudah menentukan bentuk perahu hias sesuai dengan karakter masyarakat di tepian Bengawan Solo," ucapnya, sambil menunjukkan gambar perahu hias yang akan dijadikan model perahu hias.

Mengenai lomba berenang menyeberang Bengawan Solo, katanya, sudah dicarikan di lokasi yang airnya tidak terlalu dalam, sebagai usaha mengamankan peserta, selain juga melibatkan Tim SAR Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

"Bupati Bojonegoro Suyoto juga akan ikut menjadi peserta penggembira lomba menyeberang Bengawan Solo," katanya.

Yang jelas, menurut dia, festival "Bengawan Bojonegoro" akan menjadi agenda setahun sekali bersamaan dengan HUT kabupaten setempat, sebagai usaha mengaet wisatawan domestik (wisdom) dan wisatawan mancanegara untuk datang berkunjung.

Batik "Jonegoroan" Jadi Seragam Konferensi Anak Indonesia

Bojonegoro, Jatim - Batik "Jonegoroan" dengan motif "Sekar Jati" produksi perajin batik di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, akan menjadi seragam 36 siswa SD berprestasi dalam Konferensi Anak Indonesia dengan tema "Aksi Kecil Hidup Bersih" di Jakarta, 26--31 Oktober mendatang.

Humas PKK Pemkab Bojonegoro, Heru Sugiarto, di Bojonegoro, Minggu, mengatakan terpilihnya batik "Jonegoroan" di ajang Konferensi Anak Indonesia tersebut bisa menjadi ajang promosi batik Jonegoroan.

Batik motif Sekar Jati itu, merupakan produksi perajin batik "Planet 99", yang menjadi binaan PKK pemkab di daerahnya.

"Kain batik motif Sekar Jati yang akan dimanfaatkan untuk pakaian seragam sudah dikirimkan kepada panitia Konferensi Anak Indonesia di Jakarta. Soal bentuk pakaiannya akan dikerjakan panitia Jakarta," jelasnya.

Menurut dia, pihaknya memilih motif Sekar Jati di antara banyak motif batik Jonegoroan lainnya, karena merupakan ciri khas daerahnya.

"Banyak motif batik Jonegoroan, tetapi motif Sekar Jati bisa mewakili khas Bojonegoro, karena sebagai daerah penghasil kayu jati," paparnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan sebanyak 36 siswa di ajang Konferensi Anak Indonesia yang digelar Majalah Bobo, bekerja sama dengan "World Bank", Kementerian Kesehatan akan mengenakan seragam batik Jonegoroan dengan motif Sekar Jati.

"Batik motif Sekar Jati juga akan menjadi cendera mata di acara itu," tandasnya.

Ada Atraksi Jaranan di Taman Mini Indonesia Indah

Bojonegoro, Jatim - Empat kesenian tradisional Bojonegoro, Jatim, terpilih sebagai duta seni Jatim untuk tampil dalam acara paket budaya khusus di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta, 29 Juni 2013.

Kepala Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Saptatik, Jumat menjelaskan empat tim kesenian itu dalah Upacara Adat Pengantin Desa Campurejo (Kecamatan Kota), Tari Thengul, Tari Sang Dewi dan Jaranan.

"Empat kesenian Bojonegoro yang akan tampil melibatkan 96 seniman," katanya.

Ia menjelaskan empat kesenian tradisional di daerah ini cukup layak mewakili Jatim. Apalagi, empat kesenian itu sudah sering tampil di pelbagai ajang kesenian di Jatim," tuturnya.

Ia mencontohkan Tari Thengul yang merupakan tari khas yang sudah biasa tampil di berbagai ajang kesenian di antaranya di Surabaya, Nganjuk, juga tampil dalam ajang besar di daerahnya.

Mengenai persiapan, menurut dia, sudah dilakukan cukup lama baik langsung di lokasi sanggar kesenian yang bersangkutan juga di Pendopo Disbudpar.

"Kita terus melakukan evaluasi kesenian yang akan ditampilkan agar tidak mengecewakan penonton," katanya.

Di Jakarta, katanya, acara paket budaya khusus juga dimeriahkan pameran produk unggulan, mulai makanan, di antaranya belimbing asal Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, salak Wedi asal Desa Wedi, Kecamatan Kapas dan batik "Jonegoron".

"Pengunjung bisa membeli produk unggulan khas Bojonegoro. Bagi warga Bojonegoro yang menetap di Jakarta ada pameran produk unggulan bisa sebagai obat penganti "kangen" dengan kampung halaman," ujarnya.

Bojonegoro Perkenalkan Lima Motif Batik

Bojonegoro, Jatim - Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu malam, memperkenalkan lima motif batik baru, sebagai usaha mengembangkan batik "Jonegoroan” di wilayah setempat.

Ketua Dekranasda Bojonegoro Ny. Mahfudzoh Suyoto, Sabtu, mengatakan, lima motif baru yaitu "Pelem-pelem Suminar, "Sekar Rosella", "Woh Roning Pisang", "Surya Salak Kartika", dan "Belimbing Lining Limo", merupakan hasil pemenang lomba desain batik.

Lima motif baru ini, katanya, akan menambah lima motif batik "Jonegoroan" yang sebelumnya sudah ada yang jumlahnya sembilan motif.

"Pengembangannya memang belum banyak, baru lima motif," katanya.

Ia mengharapkan, masyarakat bisa menikmati lima motif batik baru yang baru diperkenalkan tersebut.

"Pemasarannya juga kita tempatkan di lokasi kerajinan Dekranasda di Jalan Gajahmada Bojonegoro," katanya, dengan nada berpromosi.

Sebelum itu, Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro Setyo Hartono, yang membuka perkenalan lima motif batik baru itu meminta, masyarakat bisa mengembangkan batik "Jonegoroan" dengan menciptakan desain baru.

"Dengan adanya desain baru, batik "Jonegoroan" bisa berkembang dan bersaing di pasaran," katanya, menegaskan.

Secara terpisah Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Suismoyo menyatakan, lima motif batik baru itu, secara serentak langsung diproduksi sebanyak 12 perajin batik "Jonegoroan", yang lokasinya ada di Desa Jono, Kecamatan Temayang, juga di tempat lainnya.

"Pemasarannya juga kita kembangkan hingga Surabaya, juga Kalimantan," katanya, mengungkapkan.

Perkenalan lima motif batik baru itu, selain diisi dengan penjualan pakaian dan kain lima motif batik baru, sekaligus juga diperagakan sejumlah pakaian batik yang digarap Arva Mode Bojonegoro.

"Harga kain batik motif baru dengan ukuran 2 meter lebar 115 centimeter mulai Rp70 ribu hingga Rp175 ribu/potong," kata seorang penjual batik.

-

Arsip Blog

Recent Posts