Tampilkan postingan dengan label Madiun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madiun. Tampilkan semua postingan

Pemeriksaan Kasus Korupsi di Madiun Terganjal Ijin Presiden

Madiun—Tim penyidik Kepolisian Wilayah Madiun belum bisa melanjutkan pemeriksaan kasus dugaan korupsi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2002 - 2004 senilai Rp 9,68 milliar. Sebab sampai sekarang polisi belum mengantongi ijin untuk memeriksa tersangka Kokok Raya dan Gandhi Yuninta yang menjabat sebagai walikota dan wakil waliko Madiun.

Kepala Bagian Reserse Kriminal Polwil Madiun Komisaris Polisi Suparmin mengatakan, polisi sudah mengirim surat permohonan kepada presiden sejak 14 Desember 2005. “Kami sudah tiga kali menanyakan. Namun sampai hari ini surat pengajuan ijin itu masih berada di meja sekretaris negara,” kata Suparmin, Jumat (31/8).

Suparmin tidak tahu alasan pemerintah pusat membiarkan begitu lama surat yang mereka kirim. Tampaknya tidak ada keseriusan dari pemerintah pusat untuk menuntaskan kasus korupsi,” ujarnya.

Kasus korupsi ini terjadi ketika kedua tersangka masih menjabat sebagai Ketua dan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) periode 1999-2004. Indikasi korupsi awalnya ditemukan lembaga swadaya Madiun Corruption Watch (MCW). MCW menemukan selisih antara anggaran yang telah ditetapkan dengan realisasinya. Lembaga ini kemudian melaporkan temuan itu ke Polwil Madiun pada April 2005. MCW.

Dugaan kerugian negara dalam APBD 2002 hingga 2004 senilai Rp. 9,68 milliar. Dengan rincian pengelembungan anggaran senilai Rp 1,773 miliar pada 2002, senilai Rp 3,735 miliar pada 2003, dan senilai Rp 4,171 miliar pada 2004.

Anggaran yang diduga digelembungkan diantaranya adalah tunjangan kesehatan,
biaya rutin rumah dinas ketua, anggaran operasional internal, penyerapan aspirasi masyarakat, operasional internal, operasional eksternal dan biaya kegiatan rumah dinas ketua.

Direktur MCW, Dimyati Dahlan, mengatakan penggunaan anggaran APBD Kota Madiun tahun 2002-2004 itu diduga menyalahi ketentuan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 105 tahun 2000 dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 161/321/SJ tentang Kedudukan Keuangan DPRD.

Sebagaimana diketahui, kasus dugaan korupsi APBD di DPRD Kota Madiun 2002-2004 ini sudah ditangani oleh Polwil Madiun dalam tiga kepemimpinan. Mulai Kapolwil Komisaris Besar Polisi (Kombespol) Ondang Sutarsa, kemudian digantikan Kombespol Ibnu Hadi Pramono, dan sekarang digantikan Kombespol R.M.L Tampubolon. Dini Mawuntyas

Sumber: TEMPO Interaktif, Jum`at, 31 Agustus 2007

Warga Madiun Temukan Benda Peninggalan Kerajaan Majapahit

Madiun, Jatim - Warga Dusun Ngurawan, Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, kembali menemukan sejumlah benda bersejarah di sekitar Situs Ngurawan yang diduga kuat merupakan peninggalan era atau peradaban Kerajaan Majapahit.

Benda-benda tersebut ditemukan di halaman rumah milik Suharto, warga dusun setempat. Adapun benda yang ditemukan diantaranya berupa terakota atau gerabah kuno yang berbentuk patung dan cangkir yang bertuliskan huruf Mandarin.

Pemerhati Cagar Budaya Situs Ngurawan, Anto Purba, di Madiun, Selasa, mengatakan, terakota tersebut merupakan penanda kebudayaan Kerajaan Majapahit.

"Hal itu dilihat dari salah satu terakota yang berupa patung dengan penggambaran seksual seperti yang tertuang dalam Serat Centhini yang dibuat di era tersebut," ujat Anto Purba kepada wartawan, Selasa (15/3/2016).

Selain menemukan terakota, juga ditemukan susunan batu bata berbentuk pondasi bangunan di pekarangan rumah Suharto tersebut.

Ia menjelaskan, benda-benda dan pondasi bangunan tersebut ditemukan sejak sebulan yang lalu dan akhirnya dilakukan penggalian atau ekskavasi yang baru selesai pada tanggal 12 Maret 2016.

Penggalian dilakukan oleh pemilik rumah Suharto dan Pemerhati Cagar Budaya Situs Ngurawan Anto Purba, perangkat desa setempat, dan sejumlahh warga sekitar.

"Kakateristik batu batanya berbeda. Bentuknya lebih besar sekitar 40 sentimeter dan jika diamati terdapat corak garis yang berbeda yang menunjukkan perbedaan ruangan. Beda tempat maka beda bata batu yang disusun," kata Anto.

Meski demikian, pihaknya belum dapat memastikan pondasi tersebut merupakan bangunan apa, bisa jadi berupa "kedaton". Adapun, susunan batu bata berbentuk pondasi bangunan tersebut ditemukan setelah warga menggali sekitar kedalaman 8 meter.

Pemilik halaman rumah, Suharto, mengatakan, penggalian dan temuan benda-benda serta susunan batu bata peninggalan peradaban Majapahit tersebut dilakukan setelah ia bermimpi.

Dalam mimpi tersebut, ia mengaku ada sebuah bangunan megah di halaman rumahnya. "Bangunan itu seperti istana kerajaan Jawa. Hanya saja tidak terlalu jelas," kata Suharto.

Camat Dolopo Arik Krisdiananto, mengatakan, banyak bena-benda bersejarah yang ditemukan warga di Situs Ngurawan selama beberapa tahun terakhir.

Bahkan, pada akhir tahun 2014 lalu, tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta pernah melakukan ekskavasi di lokasi setempat dan menemukan banyak benda serupa.

"Dengan kata lain, Situs Ngurawan ini sangat berpotensi karena selama ini telah ditemukan banyak benda-benda bernilai sejarah," kata Arik.

Ia mengaku selama ini belum ada pengelolaan resmi di Situs Ngurawan dari Pemkab Madiun. Kalaupun ada, hanya sebatas kunjungan-kunjungan singkat yang izinnya diketahui oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun.

Arik menilai, jika digarap dan dikelola dengan baik, Situs Ngurawan bisa menjadi salah satu tempat tujuan wisata budaya yang menjajikan.

Untuk itu, pihaknya dengan para warga yang melakukan penggalian telah melaporkan hasil temuan berharga tersebut ke BPCB Provinsi Jawa Timur yang berkantor di Trowulan, Mojokerto, guna mendapatkan bimbingan dan dampingan. Hasilnya, dalam waku dekat tim BPCB akan meninjau lokasi temuan tersebut.

Warga Madiun Gelar Tradisi "Megengan" Jelang Ramadhan

Madiun, Jatim - Warga Kota Madiun, Jawa Timur, menggelar selamatan "megengan" dengan menukar makanan sebagai tradisi dalam menyambut Ramadhan.

Selamatan megengan dilakukan selepas Magrib di masing-masing masjid atau musala yang ada di tiap rukun tetangga (RT) yang tersebar di seluruh wilayah Kota Madiun.

"Dalam selamatan itu, selain melantunkan ayat-ayat suci Alquran, juga menukarkan berkat makanan yang dibawa oleh masing-masing kepala keluarga. Tujuannya adalah bersyukur atas berkah bulan Ramadhan yang suci dan mohon lindungan Allah SWT untuk lancar dalam menjalankan puasa dan semua urusan keluarga," ujar Ketua RT 10/RW 1, Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Mbah Wandi, Rabu.

Menurut dia, selamatan megengan tersebut rutin dilakukan sehari sebelum Ramadhan. Berkat makanan yang dibawa oleh masing-masing keluarga bervariasi sesuai dengan kemampuan.

"Kalau dulu, megengan harus ada jajanan apemnya. Namun, seiring kemajuan zaman, jajanan apem sudah jarang yang membuatnya. Sehingga makanan apa saja bisa untuk megengan," terang dia.

Waktu untuk selamatan juga relatif singkat. Sebelum salat Isya sudah harus selesai, karena masyarakat akan langsung menjalankan salat tarawih.

Pihaknya bersyukur tradisi megengan masih dilakukan di hampir semua wilayah di Kota Madiun. Sebab, tardisi tersebut terancam pudar seiring kemajuan zaman.

Salah satu warga RT setempat, Sony Sugiarto, mengaku senang dengan tradisi megengan. Selain untuk menyiapkan diri menyambut Ramadhan, selamatan megengan juga merupakan acara silaturahim dengan warga satu RT.

"Biasanya kita sibuk sendiri-sendiri sehingga jarang bersosialisasi dengan tetangga. Dengan selamatan megengan bisa berkumpul," kata dia.

Selain megengan, tradisi lain jelang Ramadhan yang masih lestari di Kota Madiun adalah nyekar atau berziarah ke makam leluhur dengan membawa bunga untuk ditabur di atas pusara. Makam-makam leluhur itu juga dibersihkan dari rerumputan dan dedaunan.

"Tujuannya adalah mendoakan keluarga yang sudah meninggal agar diberi ketenangan," kata salah saru warga Kelurahan Winongo, Kota Madiun, Suyono.

Tradisi nyekar tersebut berimbas pada kenaikan harga bunga tabur di pasaran karena tingginya permintaan. Pada hari biasa, harga satu tampah bunga tabur berkisar Rp3.000 hingga Rp5.000, namun saat jelang Ramadhan bisa naik hingga Rp10.000 bahkan Rp30.000 per tampah.

Ribuan Warga Madiun Rayakan Garebek Maulid 2015

Madiun, Jatim - Ribuan warga Kota Madiun, Jawa Timur, mengikuti kirab Gunungan Jaler dan Estri dalam Garebek Maulid Nabi Muhammad SAW 1436 H/2015 M yang digelar pemerintah kota setempat, Sabtu.

Dalam kegiatan di Alun-Alun Kota Madiun tersebut warga berebut bahan dan makanan olahan di gunungan untuk mendapatkan berkah.

"Saya percaya, kalau mendapatkan jajanan dari gunungan ada berkahnya. Jadi setiap tahun saya ikut memperingati di alun-alun sini," ujar warga Madiun, Ninik Pritayanti kepada wartawan.

Hal yang sama diungkapkan Sudarti, warga Jalan Walet, Kelurahan Nambangan Kidul, Kota Madiun. Sudarti menuturkan, tahun ini merupakan tahun kedua berebut berkah pada perayaan Garebek Maulud.

"Saya baru dua kali ini, tahun lalu saya malah tidak dapat apa-apa. Saya takut terjatuh, takut terinjak-injak orang dan alhamdulillah tadi tidak, hanya desak-desakan. Harapannya ingin dapat berkah saja," katanya.

Wali Kota Madiun Bambang Irianto, mengatakan, kegiatan Garebek Maulud telah menjadi agenda tahunan sekaligus ikon wisata religi di Kota Madiun. Di sisi lain, Wali Kota mengaku bangga, sebab acara tersebut bukan hanya dihadiri oleh umat Muslim namun juga umat Kristiani.

"Jadi kita tidak hanya berbicara masalah agama, tapi juga kerukunan antarwarga. Buktinya hari ini umat Kristiani ada yang hadir. Insya Allah ini akan menjadi agenda tahunan, " kata Bambang Irianto.

Kepala Dinas Pendidikan, Budaya, Pemuda, dan Olahraga (Dikbudpora) Kota Madiun, Suyoto, menyatakan, kegiatan Garebek Maulud merupakan acara rutin tahunan yang diselenggrakan Pemkot sejak tahun 2006. Acara ini bertujuan untuk meneladani ajaran nabi Muhammad SAW.

"Ini merupakan agenda tahunan. Tahun ini acaranya lebih menarik dan bernilai seni," kata Suyoto.

Ia menambahkan, anggaran kegiatan Garebek Maulud tahun ini meningkat dibanding tahun sebelumnya, dari Rp170 juta menjadi Rp218 juta.

Acara Garebek Maulud kali ini juga mendapatkan pengamanan ketat dari aparat gabungan Kepolisian Resor (Polres) Madiun Kota, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika setempat, guna menghindari kemacetan lalu lintas dan mengantisipasi tindak kriminalitas.

-

Arsip Blog

Recent Posts