Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Dosa-dosa Para Pemimpin Melayu Nusantara

Dalam Pandangan Khalid Salleh


Oleh Imam Qalyubi

Khalid Salleh adalah budayawan dan aktor film maupun teater Malaysia, yang sering memerankan tokoh etnis Jawa, apalagi karena ia memang pernah nyantrik di Bengkel Teater WS Rendra.

Khalid Salleh bahkan pernah meraih aktor terbaik Festival Film Asia Pasifik ke 43 di Taipei sebagai pemeran imigran Jawa dalam film “Jogho” karya sutradara terkenal Malaysia generasi Garin Nugroho, yaitu U-Wei Haji Shaari.

Khalid Salleh juga suka menulis buku, yang kebanyakan dinilai keras dan kontroversial untuk ukuran Malaysia, yang memang lebih konservatif dibanding Indonesia. Dalam bukunya yang terbaru, Melayu Hilang di Dunia, Khalid Salleh menyoroti sejarah Nusantara dari sudut pandang nasib rumpun Melayu seluruh Nusantara, dengan penekanan pada Melayu Malaysia.

Kesimpulan yang dia ambil adalah, para pemimpin Melayu Nusantara mempunyai dosa-dosa besar yang akibatnya menghancurkan nasib pribumi Nusantara sendiri sejak dulu hingga sekarang.

Pribumi yang Dihancurkan
Nusantara dulu adalah kepunyaan pribumi Nusantara, dan itu meliputi Australia, Taiwan (waktu masih bernama Formosa), Kamboja, Thailand, Filipina, Ryukyu, dan banyak daratan Nusantara lainnya yang kini jatuh ke tangan bangsa asing.

Australia jatuh ke tangan bule kulit putih para narapidana buangan dari penjara Inggris. Formosa jatuh ke tangan China lalu diganti menjadi Taiwan. Kamboja-Laos-Vietnam dulu punya Melayu Nusantara bernama Champa, kini jatuh ke tangan China juga lalu di”china”kan. Filipina jatuh ke tangan Spanyol kemudian Amerika, lalu agama dan kebudayaannya di bule-kan full, meski wajah dan kulit mereka masih Melayu Nusantara . Ryukyu kini jatuh ke tangan Jepang dan dijepangkan, sisa-sisa Melayunya tinggal pada beberapa perkataan lokal misalnya “Matahari” dan sebagainya.

Semua itu, menurut Khalid Salleh, tentu karena kelemahan para pemimpin pribumi Nusantara zaman dulu, yang mudah menyerah kepada kejahatan para penjajah asing. Namun Khalid juga mencatat, perselisihan para pemimpin lokal Nusantara, menyumbang banyak kepada kelemahan Nusantara. Apalagi karena sebagian pemimpin Nusantara menjadi komprador yang berkhianat kepada bangsanya,lalu menjalin kerjasama dengan pemimpin penjajah, bahkan sampai sekarangpun hal semacam itu masih terjadi.

Yang masih agak baru adalah nasib Singapura. Dosa Sultan Hussein sebagai Raja Johor adalah menjual Singapura (salah satu wilayah Johor) kepada Inggris pada tahun 1824 seharga 33.200 dolar Spanyol.

Inggris lalu menghancurkan kehidupan pribumi Melayu dengan cara mengisi Singapura dengan imigran-imigran dari Cina dan India sebanyak-banyaknya, dan itulah bibit penyakit yang menghancurkan Singapura dan kini menjalar ke Malaysia.

Ketika Inggris memerdekakan Negeri-negeri Melayu, penyakit itu mulai menyeruak. Lee Kwan Yew mendirikan partai Cina ekstrem PAP, dan menghina Partai Cina MCA yang dianggapnya tempat puak Cina lemah dan menghamba kepada pribumi Melayu. Lee Kwan Yew memprovokasi orang-orang Cina dan India agar menghina Melayu, sampai terjadi perang antar-etnis yang menimbulkan banyak korban pada tahun 1964. Tunku Abdul Rahman yang panas hati lalu memisahkan Singapura, dengan tujuan agar kerusuhan tidak menjalar ke Semenanjung Malaya.

Tapi sebaliknya, justru Lee Kwan Yew tertawa mendapat “Singapura gratis” dan sejak itu Lee Kwan yew melanjutkan langkah penjajah Inggris mendesak rumpun Melayu Singapura hingga “Melayu hilang di dunia Singapura”, dan kini Singapura identik dengan Cina,India, Israel dan Zionis.

“Cina pengikut aliran Lee Kwan Yew” melanjutkan perjuangan Lee Kwan Yew dengan mendirikan partai DAP di Malaya Semenanjung, dan tetap menuntut pergantian nama Malaya menjadi Malaysia yang lebih berkonotasi “Malaysia milik bersama antara pribumi dan imigran pendatang”. Sedang nama Malaya mereka anggap berkonotasi milik pribumi Melayu”.

Para aktifis DAP, orang-orang Cina dan India terus menerus bikin pawai menghina Melayu di Kuala Lumpur,dan akhirnya puncaknya terjadi perang antar-etnis antara pribumi dengan pendatang di Kuala Lumpur, yang terkenal dengan nama Rusuhan Berdarah 13 Mei 1969 yang mengakibatkan korban meninggal ratusan orang dari berbagai pihak.

Maka para pemimpin Melayu mulai tegas, mereka mendirikan UMNO dan menerapkan politik garis keras dengan undang-undang ISA yang bisa dipakai untuk menangkap para pembangkang/oposan. Namun sebaliknya, tuntutan agar nama Malaya diganti menjadi Malaysia diwujudkan.

Dosa atau Bodoh?
Bagi Khalid Salleh, sekalilagi itu adalah dosa para pemimpin Melayu karena terlalu baik hati kepada imigran yang “meminta sepaha padahal sudah dikasih selutut”. Dan kini mereka minta lagi seperut bahkan sedada. Yaitu ketika Mahathir Mohammad, pemimpin UMNO paling ditakuti memilih pensiun tanpa sebab.

Dengan pensiunnya Mahathir, DAP kembali berani berulah, terutama ketika musuh utama Mahathir, yaitu Anwar Ibrahim berani mendirikan partai oposisi PKR.

Dengan dukungan Anwar Ibrahim, plus didukung Partai Islam “garis kacamata kuda” PAS, maka DAP memprovokasi agar para pendukung partai China MCA dan partai India MIC membelot ke partai DAP atau PKR. Gelombang pembelotan Cina dan india berlambak-lambak, akhirnya Oposisi menang lumayan dalam Pemilu Raya 2009.

Sejak itu, para pejabat baru dari partai oposisi Malaysia mulai bergerak menghancurkan kebudayaan Melayu Nusantara dan agama Islam sampai kini. Bahkan yang terbaru, Anwar Ibrahim berjanji, kalau Oposisi menang dalam Pemilu Raya 2013, akan mendukung Israel dan membawa masuk Neo-Liberalisme yang menghalalkan pembaratan total Malaysia.

Itulah, makanya Khalid Salleh dengan geram mengutuk para pemimpin Melayu yang justru mendorong “Melayu Hilang di Dunia” !!!
__________

Imam Qalyubi, budayawan yang mengkaji KeNusantaraan.

Cerita Seksi Kaum Tani Rancabali

Peresensi Hasyim Rosidi

Judul Buku: Entrepreneur Organik (Rahasia Sukses KH Fuad Affandi bersama pesantren dan Tarekat “Sayuriah”-nya).
Penulis: Faiz Manshur
Editor: Mathori A-Elwa
Pengantar: Dr Bisri Effendi, Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, Prof Dr Sri-Edi Swasono.
Penerbit: Nuansa Cendekia (Anggota IKAPI) Bandung bekerja sama dengan Yayasan Al-Ittifaq Bandung. Cetakan Pertama September 2009. Tebal: 390 hlm (dengan kertas berkualitas dan cetak warna bagian dalam 32 hlm). Harga (Rp 88.000).

Buku ini dikenal sebagai buku biografi, tetapi tidak sepenuhnya disebut demikian. Sekalipun sosok K H Fuad Affandi sangat banyak diulas di dalamnya, tetapi sesungguhnya kita akan mendapatkan aneka ragam kisah kehidupan petani desa, umat islam desa, pendidikan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan sejuta warna kisah kehidupan yang inspiratif guna mewujudkan kemakmuran, kesejahteraan, dan harmoni kehidupan.

Di dalam buku ini diulas beberapa hal, 1) Kisah Perjuangan K H Fuad Affandi dalam memperjuangkan kemajuan kaum tani di kawasan Rancabali, Bandung Selatan. 2) Menyingkap fenomena kesuksesan koperasi dalam menyukseskan sistem pertanian agrobisnis modern. 3) Metode perjuangan gerakan bersama kelompok tani dalam menghadapi pasar bebas. 4) Dan lain sebagainya. Di dalamnya juga memuat tips-tips dan kiat serta motivasi meraih sukses wirausaha dalam berbagai bidang melalui paradigma berpikir ilmiah khas KH Fuad Affandi, sang peraih penghargaan Kalpataru dalam bidang penyelamat lingkungan.

Ditulis dengan gaya tutur yang lugas dan penuh aroma sastrawi membuat kita enggan berhenti membacanya. Satu per satu kisah dikuakkan melalui cerita yang khas dan menarik. Kalau selama ini kata petani dikonotasikan sebagai sesuatu yang identik dengan kemiskinan, kebodohan, dan marjinal, maka buku ini menegaskan bahwa ada kenyataan lain, yakni kenyataan petani yang makmur, sejahtera, dan mampu mewujudkan kehidupan yang ramah lingkungan dengan tata kelola hidup Islam yang damai dan toleran. Kehidupan petani yang seksi.

Ahmad Baso, anggota Komnas HAM yang mengapresiasi sebelum buku ini dicetak, mengatakan, "Buku ini menyebut Kiai Fuad ”entrepreneur organik”. Kalau membaca buku ini kita memang bisa menyebut Kiai Fuad dengan tiga istilah sekaligus, yakni Kiai Organik, Intelektual Organik, atau Entrepreneur Organik. Tentang pemilihan salah satu dari ketiganya tentu penulis ataupun penerbit memiliki alasan tertentu. Akan tetapi, saya lebih suka menyebut Kiai Fuad sebagai kiai organik: kiai yang bukan hanya pengusaha, pelaku usaha, atau businessman. Atau, lebih dari itu, ia juga seorang manusia kebudayaan, yang menawarkan pikiran, idelogi, ide-ide, dan keyakinan. Ia memberikan harapan, siasat, dan juga solusi kepada masyarakat sekitarnya. Beliau mengajarkan bagaimana mereka percaya diri pada kemampuan dan kesanggupannya pribadi untuk mandiri dan berdikari, tidak bergantung pada orang lain.

Di tangan Fuad Affandi, agama yang biasanya dipraktikkan sebatas ibadah shalat, mengaji, dan berdoa, diubah menjadi agama yang bersifat sosial, menekankan etos kerja...”, serta agama sebagai etika pembebasan. Sang kiai bukan hanya tampil sebagai aktor penjaga nilai-nilai masyarakat, tetapi juga sekaligus sebagai agen perubahan sosial.

Ahmad Baso dalam catatan akhir ini mengatakan,.... bahwa figur Kiai Fuad dengan Pondok al-Ittifaq-nya adalah sebuah sosok yang penuh karakter. Karakter itu bukan hanya tecermin dalam dirinya, tetapi juga pada orang lain. Sejauh kita memandang dan membaca kehidupan Kiai Fuad, sejauh itu pula kita melihat efek dari pengaruh karakternya dalam membangun kepribadian orang lain. Kepribadian untuk mandiri secara ekonomi, berkarakter spiritual, serta berpijak pada kehidupan Tanah Air dan bangsanya, dan sekaligus menebar rahmat bagi masyarakat sekelilingnya.

Lalu simak pula pendapat Prof Dr Sri-Edi Swasono, Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia, yang mengatakan, entrepreneurial spirit Kiai Fuad tidak saja perlu ditularkan, disosialisasikan (sebagai pendidikan formal), tetapi bahkan harus bisa masuk mengisi silabus pendidikan formal sekolah-sekolah dan di kampus-kampus kita—biar menara gading bisa pula menjadi menara air yang bermanfaat secara sosial....”

Adapun dari sisi gerakan politik, Poppy Ismalina, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mengatakan,”....Buku Entrepreneur Organik ini adalah cermin bagaimana salah satu gerakan lokal itu tumbuh berkembang di Indonesia. Meskipun buku ini menjadikan Mang Haji (KH Fuad Affandi) sebagai tokoh sentral, kita akan mendapatkan eksplorasi gerakan lokal tersebut dibangun. Membangun dan mobilisasi inisiatif dan partisipasi masyarakat secara aktif adalah kata kunci dalam keberlanjutan gerakan kekuatan lokal. Pemimpin yang karismatik seperti KH Fuad Affandi di Bandung atau Muhammad Yunus di Banglades memang dibutuhkan dalam tahap awal gerakan tersebut, tetapi gerakan dapat dipertahankan dan dikembangkan dalam waktu yang cukup panjang jika memang kesadaran itu tumbuh dari bawah, dari dalam diri mereka sendiri. Apabila semua kondisi ini tercipta, tidak terlalu berlebihan kalau kita menjadi makin yakin bahwa another world is still possible di tengah dominasi dan kekuatan globalisasi.

Dan, AE Priyono, peneliti Reform Institute Jakarta, mengapresiasi buku ini dengan mengatakan secara lugas, "Buku ini mengisi banyak sekali kekosongan pengetahuan kita mengenai agama dalam praksis kehidupan sosial-ekonomi akar rumput. Selama ini agama di kalangan itu hanya difungsikan sebagai jalan ekstase untuk mengelabui keputusasaan. Tapi, buku ini memberi gambaran lain, sangat lain. K H Fuad Affandi bisa menjadi contoh kiai organik dan 'Islam organik' yang selama ini tertimbun oleh jenis-jenis selera keagamaan yang artifisial, penuh gincu ritualisme, dan status-quois...”

Selamat membaca.

Hasyim Rosidi, Pekerja Buku Asal Madiun.

Mengelak Aroma Busuk Politik

Oleh Ahmad Sahidah

Masa transisi, dari rezim tangan besi ke demokrasi, bisa disandera oleh kehendak kelompok tertentu untuk memaksakan kepentingannya sehingga menyebabkan pembusukan politik. Faktor-faktor pembusukan harus diungkap dan dikikis sebelum masyarakat menjadi korban.

Buku ini melengkapi khazanah ihwal asal-muasal tatanan dan pembusukan politik dalam sejarah manusia. Mengingat satu disiplin tak memadai, Francis Fukuyama memanfaatkan pendekatan lain terkait kehendak manusia berkuasa, seperti antropologi, ekonomi, dan biologi. Penulis, yang pernah menggemparkan jagat keilmuan dengan The End of History, ini tidak lagi terperangkap pada pembedaan ilmu sosial dan alam yang diandaikan oleh Wilhem Dilthey, filsuf Jerman. Tentu, dengan pengandaian melalui pelbagai disiplin, siapa pun akan lebih utuh melihat naluri manusia asali, kekuasaan.

Karya pertama dari dua jilid ini melihat dua isu besar, yaitu asal-muasal institusi politik dan proses pembusukan politik. Yang pertama bisa dilacak sejak prasejarah hingga masa revolusi Perancis dan Amerika. Di antara jejak ini, ada warisan penting, seperti sejarah peradaban China, India, dan Islam. Misal, model birokrasi modern yang sesungguhnya telah dijalankan pada masa Dinasti Ming. Di sini, sistem pengangkatan dan promosi pejabat publik didasarkan pada merit, bukan kedekatan emosional dengan penentu keputusan. Pendek kata, sejarah kekuasaan mengandaikan pelbagai warisan kebudayaan dunia. Di sisi lain, pembusukan juga terjadi pada rentang waktu yang sama, dan tentu saja faktor pelemahan itu berulang hingga era kini.

Secara ideal, lembaga politik harus menuju pada pengelolaan modern, yang disebut sebagai ”menuju Denmark”. Negara ini dianggap sebagai sebuah tempat mitos karena mempunyai lembaga politik dan ekonomi yang baik: stabil, demokratis, damai, makmur, inklusif dan tingkat korupsi yang sangat rendah. Namun, yang perlu dicermati bahwa kemajuan itu tidak diraih begitu saja. Orang Denmark sendiri adalah keturunan Viking, suku yang menaklukkan banyak negara Eropa. Perilaku barbarian suku ini telah dikenal dunia. Pada akhirnya, keturunan mereka berhasil mengembangkan tiga penyangga lembaga politik, yaitu negara, aturan hukum, dan akuntabilitas secara meyakinkan (halaman 14-16).

Penyebab pembusukan

Di tengah perkembangan lembaga politik, pembusukan kadang terjadi ketika sistem gagal menyesuaikan dengan perubahan zaman. Menurut Fukuyama, ada semacam hukum perlindungan institusi di mana manusia adalah binatang yang mengikuti aturan. Mereka lahir untuk menyesuaikan dengan norma-norma sosial yang ada di sekitar dan mengembangkan aturan itu dengan makna dan nilai transenden. Ketika lingkungan sekitarnya berubah dan tatanan baru muncul, acap kali ada keterputusan antara lembaga yang ada dan kebutuhan baru. Oleh karena itu, tradisi lama wantoks (patron-client) di Papua Niugini dan Kepulauan Salomon masih bertahan. Di sini, Orang Besar yang dipilih sebagai wakil rakyat dalam sistem ”Westminter” menggelontorkan anggaran belanja pada sukunya sendiri untuk merawat dukungan.

Selain itu, pembusukan bisa disebabkan oleh masyarakat sipil yang maju. Kelompok-kelompok yang didasarkan pada fanatisme etnik atau rasial menyebarkan ketidaktoleranan. Kelompok kepentingan bisa menanam modal dalam usaha pencarian rente hingga titik penghabisan. Politisasi berlebihan terhadap konflik ekonomi dan sosial bisa melumpuhkan masyarakat dan meruntuhkan legitimasi institusi demokratis (halaman 472).

Penyebab pembusukan yang lain adalah patrimonialisme, yakni kecenderungan ”alamiah” manusia untuk mengutamakan keluarga dan teman. Model politik semacam ini, yang telah lama dipraktikkan dalam sejarah kesukuan oleh China, India, dunia Muslim dan Eropa, akhirnya ditinggalkan menuju pembentukan lembaga politik yang netral. Pun, dalam politik modern, praktik pengutamaan kerabat kadang muncul. Oleh Fukuyama, ini disebut sebagai repatrimonialisme.

Agar kronisme tidak meruyak, pemerintahan yang diberi amanah harus menegakkan akuntabilitas dan hukum, dua pilar penting dalam perkembangan politik. Akuntabilitas berarti penguasa harus bertanggung jawab kepada rakyat dan meletakkannya di atas kepentingan dirinya. Pertanggungjawaban semacam ini bisa dicapai dengan pelbagai cara, di antaranya melalui pendidikan moral (halaman 322). Lagi-lagi, cara ini juga telah lama dijalankan oleh China sebelum era modern.

Penegakan hukum juga perlu mendapat perhatian, yang harus dibedakan dengan legislasi. Yang pertama merupakan sejumlah aturan abstrak tentang keadilan yang mengikat seluruh komunitas. Dengan kata lain, hukum harus didasarkan pada nilai-nilai universal, bukan primordial. Terkait dengan peranan hukum dalam masyarakat, Fukuyama mengurai kesamaan antara dunia Muslim dan Kristen. Dalam dua agama semitik ini, hukum berakar pada Tuhan Yang Esa, yang menetapkan yurisdiksi universal dan merupakan sumber dari semua kebenaran dan keadilan (halaman 278). Namun, dalam perjalanan sejarah, keduanya menanggapi secara berbeda mengenai hubungan antara negara dan agama.

Perlu dimaklumi bahwa pembusukan politik itu bisa melemahkan pemerintahan, bahkan yang sebelumnya tak terbayangkan akan terjadi. Imperium Osmaniyah yang sangat kuat akhirnya tumbang. Salah satu faktor pembusukan berasal dari kalangan elite yang tak lagi memperhatikan kepentingan orang ramai dan lebih mengutamakan kelompok tertentu. Pada masa yang sama, hukum dan akuntabilitas dilanggar untuk memuluskan akal bulus segelintir elite.

Dengan menekankan pada proses pembusukan sebuah pemerintahan, sejatinya bisa juga ditelusuri banyak informasi tentang persaingan manusia dari pelbagai belahan dunia. Bagaimanapun, buku ini alurnya tak sepenuhnya bernuansa ilmu politik, tetapi juga sejarah dan filsafat, meski refleksi yang terakhir tak lagi membuat dahi berkerut karena dijelaskan melalui contoh- contoh perilaku manusia kebanyakan yang akrab di telinga. Sayangnya, Fukuyama masih tersandera pada citra keunggulan Eropa dalam banyak hal sehingga harus menulis subbab khusus tentang eksepsionalisme (paham pengecualian) benua yang namanya berasal dari legenda dalam mitologi Yunani ini.

Ahmad Sahidah Dosen Filsafat dan Etika pada Universitas Utara Malaysia

• Judul: Political Branding & Public Relation: Saatnya Kampanye Sehat, Hemat, dan Bermartabat • Penulis: Silih Agung Wasesa • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011 • Tebal: xxxvi + 321 halaman • ISBN: 978-979-22-6901-7

Reformasi politik nasional membawa perubahan pada sistem pemilihan yang lebih semarak. Di sisi lain, ongkos pemilihan umum turut menjadi lebih mahal, termasuk biaya yang harus dikeluarkan tiap kandidat, seperti biaya kampanye atau tim sukses. Pemilihan langsung juga memaksa politisi untuk membangun citra, tetapi terkadang citra yang dibangun tanpa diiringi usaha kurang memberikan pendidikan politik untuk rakyat.

Menangkap kekhawatiran tersebut, publikasi ini menawarkan alternatif membangun citra dan kampaye dengan biaya murah dan tepat sasaran. Kuncinya, menggunakan cara-cara pencitraan yang lebih sistematis dan cerdas. Salah satunya adalah membentuk komunitas eksternal politik, mengembangkan loyalitas kepada mereka yang memiliki simpati atau kedekatan dengan merek politik.

Langkah yang perlu dilakukan adalah membangun program yang berkelanjutan dan konsistensi pesan dalam program-program yang dibuat. Keuntungan yang didapat adalah budget pengembangan komunitas yang relatif murah. Ini terjadi karena targetnya dimulai dari komunitas yang terkecil. Bahkan, simpatisan yang merasa nilainya selaras dengan komunitas politik akan dengan sukarela menggunakan dana pribadi untuk berkontribusi.

Selain membentuk komunitas, dalam bagian lain Leila Mona Ganaiem menunjukkan perlunya mengelola personal branding sebagai sebuah strategi pemasaran politik. Pendekatan yang dapat dilakukan adalah penggalian terhadap diri kandidat, kredibilitas, dan juga kepribadiannya. (YOG/Litbang Kompas)

• Judul: Ayat-ayat Filosofi Satyanegara • Penulis: Satyanegara • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2011 • Tebal: xii + 245 halaman • ISBN: 978-979-22-7468-4

Satyanegara terlahir dengan nama Oei Kim Sing di Kudus, Jawa Tengah. Ia dididik dengan keras oleh sang ibu yang seorang guru. Lulus SMA, ia memutuskan pergi ke Jepang untuk menempuh pendidikan kedokteran berbekal uang seadanya dan tanpa kemahiran berbahasa Jepang. Kenekatannya dilatarbelakangi dorongan sang ibu yang sangat menginginkan ada putranya yang menjadi dokter.

Persepsi masyarakat terhadap keluarga guru sebagai golongan ekonomi lemah, serba terbatas, serta sederhana, membuat Satyanegara muda minder. Meledaklah dalam jiwa yang masih kekanak-kanakan keinginan untuk menonjol, menunjukkan kebolehannya. Ia pun menjadi sosok yang terkenal ”iseng”. Gerak-gerik unik yang selalu mengundang tawa membuatnya selalu dilibatkan dalam acara panggung yang diselenggarakan sekolah. Peran pelawak selalu ia bawakan, bahkan sampai saat ia di Jepang. Pada peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia di KBRI Jepang, sandiwara perjuangan kemerdekaan yang seharusnya sarat nuansa patriotik menjadi pertunjukan komedi karena ulahnya.

Dikenal sebagai orang iseng, bukan berarti kehidupannya penuh dengan kejenakaan. Hidup di negeri seberang bergantung dari beasiswa membuatnya harus berjuang. Tak jarang ia kelaparan karena kiriman beasiswanya datang terlambat dan sering kali dihinggapi keputusasaan. ”Kuda yang baik tidak memakan rumput yang telah dilalui”, petuah dari sang ayah membangkitkannya. Keuletan menjadikannya seorang dokter bedah saraf yang memilih untuk kembali ke tanah air setelah hampir 14 tahun bermukim di Jepang. (DRA/Litbang Kompas)

Pendekar Sakti dari Lamongan

Judul:Pendekar Sendang Drajat “Memburu Negarakertagama”
Penulis: Viddy AD Daery Terbit: Februari 2011
Penerbit: Metamind- Tiga Serangkai Group –Solo
ISBN:978-979-30
Ukuran: 20 cm Cover:soft cover
Halaman: 146 halaman + XXX
Kategori:fiksi sejarah

Peresensi: Akbar Ananda Speedgo

Lamongan, siapa kini yang tidak mengenal kota atau daerah itu? Semenjak Bupati Masfuk menyulap daerah miskin dan minus serta langganan banjir itu menjadi kota indah gemerlapan dan bebas banjir ( sampai terancam banjir lagi, namun justru karena kelemahan kabupaten-kabupaten tetangganya yang gagal mengendalikan banjir lalu meluberi Lamongan ), kini Lamongan dan Bupati Masfuk menjadi bahan pembicaraan semua kalangan di seluruh Indonesia.

Apalagi setelah para pedagang soto Lamongan, pecel lele dan sea-food muncul di tenda-tenda kaki-lima seluruh jengkal tanah Indonesia, Lamongan menjadi cap dagang yang paten,bahkan pengusaha Cina non-Lamonganpun banyak yang mendirikan restoran besar dengan merek Soto Lamongan,termasuk yang terbakar ludes di Jakarta Barat baru-baru ini.

Nah,apakah Lamongan zaman “prasejarah” juga top dan seterkenal Lamongan masa kini? “Prasejarah—dalam tanda petik” di sini bukan berarti Lamongan zaman sebelum Masehi, namun Lamongan sebelum dicatat sejarah Indonesia yang notabene baru dibicarakan mulai di era Bupati Masfuk. Karena Lamongan sejak Bupati pertama sampai sebelum Masfuk, dianggap Lamongan yang tak perlu digubris,bahkan sempat menjadi daerah yang selalu dijadikan olok-olok oleh para pelawak ludruk di pentas tobong maupun di layar TVRI di tahun 80-an,sebagai daerah minus dimana “yen ketigo ora iso cewok, yen udan ora iso ndhodhok” yang maknanya ialah jika kemarau tidak bisa membersihkan najis, jika hujan tidak bisa duduk manis”..

ERA PENDEKAR
Nah, era Lamongan zaman pendekar silat dan zaman wali atau sunan ( abad 16 ) inilah yang dijadikan setting elaborasi novel “Pendekar Sendang Drajat” ( PSD ) karya Viddy AD Daery—sastrawan Indonesia yang justru terkenal di Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand selatan daripada di negaranya sendiri.

Lamongan sendiri waktu itu,sebagai kota malah belum ada,dalam novel PSD seri pertama yaitu “Pesisir Utara Majapahit di abad 16 M” dikisahkan secara selintas bahwa beberapa kyai dari Laren,Karang Cangkring, Latukan,Duri, Ngambeg, Drajat dan sebagainya berkumpul di pesantren Badu Wanar Pucuk, untuk membahas pembentukan kota katumenggungan/ kadipaten Lamongan dari desa kecil Keranggan Lamong. Dan yang dicalonkan sebagai Tumenggung/Adipati adalah Raden Hadi atau Sunan Hadi yang masih kerabat Sunan Giri, sebagai panutan kekuasaan politik-keagamaan di Jawa Timur pada saat itu.

Nah,ketika Lamongan justru baru direncanakan pembangunannya,desa-desa yang kini dilupakan sejarah seperti Laren, Pringgoboyo, Karang Cangkring, Sendang Duwur, Drajat, Trenggulun, Centhini, Brumbun dan sebagainya dalam novel PSD diceritakan sudah menjadi kota ramai ( untuk ukuran zaman dulu) karena mereka rata-rata berlokasi di tepi bengawan Solo atau laut Jawa (pantura), dan karena itu menjadi desa/kota perdagangan yang banyak berinteraksi dengan para saudagar-pelayar dari pulau lain bahkan dari Negara lain seperti Yaman/Hadramaut, Persia, Gujarat, Malaka dan Cina.

Bahkan diceritakan beberapa oknum bangsa Eropa juga sudah mulai datang berlabuh dan tujuan mereka tidak hanya berdagang tapi juga memata-matai kekuatan politik kerajaan-kerajaan keci/pesantren di pantai utara Jawa, dan karena itu mereka lalu diperangi para pendekar silat garis keras yang dipimpin Pendekar Syamrozi dari Pesantren Trenggulun. Mungkinkah mereka adalah leluhur Amrozi?

Boleh jadi,novel PSD bermain dengan symbol-simbol,karena sebagai karya sastra,juga sangat mungkin bermuatan dakwah dan pencerahan seperti zaman “roman bertendens” di ranah kesusastraan Indonesia masa lalu.

Jasa besar novel PSD adalah menyingkap sejarah masa lalu Lamongan yang minim data dan amat jarang dibicarakan oleh sejarawan Indonesia,padahal kalau merujuk beberapa situs dan folklore Lamongan,ada banyak hal yang bisa disumbangkan ke khasanah sejarah nasional Indonesia,antara lain bahwa desa Modo adalah tempat kelahiran Mahapatih Gajah Mada. Juga Bre Parameswara atau Raja Pamotan ( Lamongan zaman Majapahit ) adalah raja yang lari ke Palembang lalu ke Singapura lalu mendirikan Kerajaan Malaka. Jadi bisa dikatakan bahwa Malaysia itu milik wong Lamongan.Yaitu Gajah Mada ( penguasa Nusantara ) dan Bre Pamotan ( pembangun kerajaan Malaka).

Sedang PSD jilid atau seri 2 yang berjudul “Memburu Kitab Negarakertagama”, mengisahkan bahwa Pendekar Sendang Drajat kedatangan serombongan tamu dari Kerajaan Johor-Malaka yang sedang melarikan diri dari kisruh perang di negaranya.

Mereka berlayar ke Tanah Jawa untuk mempelajari “Kitab Desawarnana alias Negarakertagama”. Dalam perjalanan mengantar para pendekar Melayu mencari Kitab Negarakertagama itulah, sepanjang perjalanan banyak ditemui rahasia-rahasia sejarah lokal Lamongan yang banyak diungkap oleh Viddy AD Daery yang kaya pengetahuan mengenai kisah-kisah lokal yang tentunya sangat jarang diketahui oleh peminat sejarah nasional yang menafikan folklor.

Padahal bagi sejarawan aliran Annales kelas dunia, kini sudah menyatakan bahwa peran folklore lokal tidak bisa diremehkan sebagai sumber sejarah yang valid.

Kinilah saatnya, di zaman reformasi ini, pikiran para ilmuwan sejarah juga harus direformasi. Folklor-folklor lokal sudah waktunya layak menjadi sumber sejarah yang terpercaya, tentunya setelah melalui uji penyaringan unusr-unsur mitos dan mistik-gaibnya dibersihkan terlebih dahulu. Toh unsur mitos dan gaib itu sebenarnya juga adalah kenyataan yang memang ada di Nusantara juga.

*AKBAR ANANDA SPEEDGO--Sarjana Teknik Sipil ITS-penyuka novel sejarah

Buku Pintar "Kisah dan Khasiat Teh"

Oleh Maria D. Andriana

"Konsumsilah teh secara teratur, maka Anda akan memperoleh banyak manfaat darinya."

Sebaris kalimat itu ditulis oleh Ratna Somantri di dalam buku berjudul "Kisah dan Khasiat Teh" buku kecil tetapi berbicara banyak tentang teh.

Buku-buku yang berbicara tentang kesehatan, biasanya menarik minat banyak orang karena pada dasarnya orang ingin menjadi sehat dan ini dibuktikan melalui penjualan laris manis dari buku baru terbitan Gramedia yang beredar pada April 2011 itu.

Pasalnya, kehadiran buku tentang teh yang disusun dan ditulis dengan cermat oleh Ratna Somantri serta disunting oleh Tanti K ini sudah lama dinantikan oleh para penikmat dan peminat teh di Indonesia.

Beberapa anggota milis Komunitas Pecinta Teh ramai bertukar informasi bahwa persediaan buku tentang teh itu sudah habis pada sejumlah gerai (outlet) hanya beberapa hari setelah terpajang di rak buku, padahal penulisnya baru akan melakukan peluncuran buku tersebut pada 12 Mei 2011.

Rahasianya terletak pada kedekatan buku tersebut pada komunitasnya, atau penikmat teh di Indonesia terlebih lagi mereka yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya yang haus akan pengetahuan tentang manfaat dan khasiat minuman teh, jenis-jenis teh, budaya minum teh di Indonesia dan tips untuk menemukan tempat belanja teh serta pernak-perniknya.

Buku setebal 117 halaman itu disusun dalam enam bagian yaitu bab pertama berjudul Bukan Hanya Teh Hijau yang menceritakan tentang macam-macam teh, misalnya ada teh putih, teh kuning, teh hitam, teh pe-erh, teh wangi dan juga teh tisane atau teh dari buah, daun, bunga yang bukan dari tanaman teh (camellia).

Mengolah teh adalah pekerjaan yang penuh ketelitian. Rasa, warna, bentuk serta aroma teh sangat tergantung pada tempat tumbuh pohon teh, proses panen, petik dan pengolahannya, ada yang dapat dikeringkan dengan penjemuran pada sinar matahari, dioksidasi, fermentasi, digoreng, dan digulung, digiling atau dihaluskan.

Pada bab dua seperti judulnya Manfaat Teh Untuk Kesehatan, penulis mengulas zat-zat yang terkandung di dalam daun teh yang banyak memberi manfaat bagi kesehatan misalnya untuk meluruhkan lemak yang membuat air teh dapat menjadi penurun berat badan, juga kandungan anti-oksidan yang tinggi untuk melawan radikal bebas di dalam tubuh hingga manfaatnya yang menyegarkan.

Dari China
Budaya minum teh konon berawal di China. Seperti apa budaya minum teh di Indonesia? Apakah terpengaruh oleh budaya China, Jepang, Inggris dan bagaimana kebiasaan di negara peminum teh lainnya? Cerita ini dirangkum dalam bab tiga yang antara lain menampilkan budaya "Nyaneut" pada masyarakat Sunda.

Minum teh merupakan kebiasaan bagi banyak keluarga di Indonesia dan bagaimana produsen meracik teh-teh itu serta bagaimana cara menyajikan teh dalam berbagai budaya, menjadi bahan bacaan yang tidak kalah menariknya pada bab empat.

Bangsa Rusia, misalnya, menyeduh teh dengan pemanis berupa selai buah, orang Maroko mencampurkan daun mint yang beraroma segar, sedangkan di Indonesia lazim dikenal teh beraroma melati yaitu mencampurkan melati pada teh. Dalam bab ini diperkenalkan budaya "ngeteh" di India, Timur tengah, Amerika, Eropa dan tentu saja Asia.

Ratna Somantri yang pernah mengaku bahwa "teh" baginya adalah sekedar hobi --bukan pekerjaan profesional yang digelutinya, sudah lama dikenal sebagai pembicara handal pada seminar dan pertemuan tentang teh, bahkan ia adalah salah seorang pendiri komunitas pecinta teh di Indonesia.

Latar belakangnya sebagai ahli pastry membuat Ratna sering bereksprimen mengolah teh dalam aneka makanan. Ia pun berbagi sejumlah resep minuman dan masakan dengan bahan utama teh yang ditulisnya untuk bab lima dalam buku ini.

Sajian foto-foto oleh Ariyo Pidekso atas racikan minuman dan kue-kue berbahan teh hasil kreasi Ratna tampil mempercantik buku Kisah dan Khasiat Teh ini sekaligus mampu menjadi bukti bahwa teh dapat disajikan untuk kenikmatan sekaligus kesehatan, apalagi peralatan minum yang elok, bisa memberi inspirasi para kolektor dan pebisnis.

Buku bersampul berwarna pastel bergambar lima macam seduhan teh dalam gelas tinggi ini memang agak sulit "dilirik" ketika terpajang pada rak buku di toko-toko yang menjualnya, tetapi sekali pegang dan membalik halamannya, peminat dan pecinta teh bisa jatuh cinta, karena informasi yang lengkap dan padat di dalam buku itu tampil dengan tata letak dan ilustrasi yang tepat. Berbeda dengan beberapa buku lain yang memisahkan antara buku resep dan buku referensi.

Buku ini ditutup dengan bab keenam yang lebih mirip direktori, berisi informasi tempat penjualan teh berikut peralatan minum yang unik, cantik, spesifik dan layak untuk dimiliki.

Mau minum teh yang enak dan sehat? Temukan rahasianya pada buku ini.

Ingin sehat? Ingin menemukan rasa teh yang nikmat? Pembaca tinggal memilih dan membaca cara meracik masala chai, atau mempelajari mengapa kita perlu mengonsumsi tiga cangkir teh hijau sehari untuk menjadi sehat.

Kisah Inspiratif Merayakan Kehidupan

Oleh Mulyo Sunyoto

Indonesia boleh dibagi secara artifisial menjadi dua dunia. Katakanlah dunia politis dan sosiologis. Kalau Anda membaca koran halaman politik hari-hari ini, yang tersaji tentang Indonesia tak lain dunia yang warna dominannya adalah kelam kelabu. Sebaliknya, Indonesia yang bewarna utama cerah cemerlang, terbentang di ranah sosiologis.

Sebuah buku yang diterbitkan Antara Publishing, berjudul Kisah-kisah Inspiratif Anak Bangsa, Kumpulan Tulisan LKBN ANTARA 2000-2010, dengan penyunting Maria D. Andriana, berisi 50 karangan hasil reportase sang wartawan, boleh dibilang menjadi saksi bahwa Indonesia masih menyimpan optimisme dan dunia penuh harapan dimiliki warga yang tersebar di seantero Nusantara.

Oleh penyunting, buku ini dibagi menjadi empat bagian utama: kisah tentang ketegaran warga, tokoh yang bisa menjadi inspirasi bagi orang lain, kekuatan bangkit dari bencana dan kisah tentang warisan budaya. Sebagian feature yang dimuat dalam buku ini merupakan karya terbaik yang diperlombakan dalam sayembara yang diadakan setiap tahun oleh lembaga kantor berita yang kini berstatus badan usaha milik negara itu.

Kisah-kisah yang tersaji, dari segi kedalaman, tentu bisa dimaklumi jika terkesan sebatas sketsa. Itu disebabkan oleh ruang terbatas yang disediakan dalam rubrik karangan khas di Antara, yang rata-rata tak bisa lebih dari 1.200 kata. Makanya, bagi yang pernah terpukau oleh kisah lima keluarga karangan Oscar Lewis, tak perlulah melakukan komparasi di level kedalaman isi kisah.

Terlepas dari sifatnya yang sekadar berkabar, 50 kisah dalam buku ini bisa dipakai untuk membaca situasi kemasyarakatan di Tanah Air, daya dan kedigdayaan orang-orang yang hidup tanpa menunggu bantuan dari pemerintah. Salah satu figur yang bisa dicatat di sini adalah Pastor Samuel Oton Sidin yang tergerak untuk memulihkan lahan kritis di Pontianak.

Yang mengagumkan dari usaha sang pastor bukan kesuksesannya dalam mengolah lahan kritis menjadi lahan yang bertumbuh aneka tanaman, melainkan ketegarannya untuk terus bekerja ketika usahanya kurang mendapat perhatian dari warga sekitar. Sang pastor yang visioner ini tidak melihat hasil kekiniannya, tetapi prospek jangka panjangnya. Dia yakin, jerih payahnya akan dinikmati anak-anak masa depan.

Kalau Pastor Samuel bekerja atas dasar kerusakan yang ditimbulkan deforestasi, Topo, tetua adat komunitas Ammatoa di kawasan Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, mengerjakan aksi prolingkungannya atas dasar tradisi.

Dialah figur yang menerapkan filsafat kenalilah lingkunganmu untuk hidup lebih arif dan tak destruktif. Dia mencoba sintas, survive, dengan menanam, mengolah tanah dan beternak.

Memang tak semua kebutuhan hidupnya dipenuhi oleh alam sekitarnya, tetapi setidaknya dia melakukan perlawanan terhadap intrusi produk manufaktur. Dia masih mengikat tidak dengan tali rafia, tetapi tali yang dibuatnya sendiri dari pelepah pisang. Atap dari rumbai masih bertahan di rumahnya yang sebagian besar materinya didapat dari alam sekitar.

Jika Samuel dan Topo bergerak di ranah darat untuk menyelamatkan lingkungan, Nicodemus Manu mewarnai hidupnya dengan menjaga kelestarian terumbu karang di ranah laut Pulau Flores. Profesi utama Nico sebagai Kepala Konservasi Sumber Daya Alam di Taman Wisata Alam Laut Riung, Pulau Flores. Tapi kecintaannya pada alam itulah yang membuat Nico gigih bekerja untuk menyelamatkan terumbu karang dan biota di laut. Dengan kecintaan semacam itu, Nico tak perlu menggugat, sedikitnya bertanya, apakah gaji yang diterimanya sepadan dengan pengorbanan yang dilakukannya dan risiko yang dihadapinya dalam menjalankan tugasnya.

Kisah inspiratif tentu tak cuma di wilayah nun jauh dari pusat kekuasaan. Kisah penjaga pintu air Manggarai, Jakarta, yang sering didamprat warga juga menjadi salah satu isi buku yang terbit Desember 2010. Gus Haryanto (43) ini menunaikan pekerjaannya, yang di musim hujan, dengan mengorbankan waktu normalnya bersama keluarga. Ketika ketinggian debit Sungai Ciliwung sudah di angka yang mengkhawatirkan, piket 24 jam adalah keniscayaan bagi pria Purworejo, Jawa Tengah, ini.

Kisah inspiratf yang berakhir dengan kesuksesan material terjadi pada diri Asril Das (55), yang memulai usahanya sebagai tukang cukur keliling di Kotobaru, Kabupaten Solok, Sumbar.

Asril Das adalah salah satu prototipe perantau Minang, yang dengan etos kerja kerasnya, jatuh bangun, dan berhasil melewati banyak rintangan sebelum akhirnya menjadi sorang hartawan, dengan sukses di bidang percetakan, penerbitan, dan perhotelan.

Tentu masih ada 45 kisah inspiratif lain, di berbagai bidang kehidupan, yang dikemas buku yang diberi pengantar oleh Direktur Utama Perum LKBN Antara Ahmad Mukhlis Yusuf itu. Mukhlis mengawali pengantarnya dengan mengutip sajak WS Rendra. Pesan sajak itu berbunyi: Kita menyandang tugas demi kehormatan seorang manusia. Ya kehormatan manusia.

Ke-50 kisah inspiratif dalam buku ini adalah kisah manusia terhormat, yang menjaga kehormatannya itu dengan cara mereka masing-masing, tetapi memiliki satu titik temu, atau benang merah yang bernama keutamaan atau kebajikan dalam merayakan kehidupan.

Kisah Justin Bieber Mengguncang Dunia

Judul Buku: Inspiring True Story Justin Bieber Never Say Never
Penulis: Chas Newkey-Burden
Penerjemah: Melody Violine
Penerbit: Ufuk Press, Jakarta
Cetakan: Pertama, November 2010
Tebal: 367 halaman

Peresensi: Muhammad Itsbatun Najih*

Kemunculan Justin Bieber dalam panggung musik skala internasional telah menyita perhatian pecinta musik di dunia, khususnya para penggemarnya yang didominasi oleh remaja kaum hawa. Di usia yang masih belia, Justin telah menyihir dunia lewat suara emasnya. Walau kepopulerannya atas jasa besar situs video Youtube, itu semua tetap diawali dengan sebuah kerja keras dari Justin sendiri.

Justin dilahirkan dari keluarga yang tidak terlalu kaya. Pada awal-awal kelahirannya, ibunya, Pattie, sudah harus menjadi orangtua tunggal untuk Justin karena bercerai. Hal ini membuat kondisi finansial keluarga cukup mengkhawatirkan.

Bakat hebat Justin dalam tarik suara sudah terlihat sejak kecil. Apalagi ini didukung oleh kondisi keluarganya yang telah akrab dengan dunia musik. Ibunya adalah seorang anggota penyanyi pada bagian pelayanan gereja. Ayah Justin juga merupakan pemain gitar sekaligus seorang penyanyi. Neneknya merupakan pianis andal.

Tak cuma suaranya yang merdu. Di usia belia, Justin sudah akrab dengan berbagai peralatan musik, seperi drum dan gitar. Pada usia empat tahun, Justin sudah akrab dengan drum pribadinya yang merupakan hibah dari para jemaat gereja karena kagum terhadap bakat seorang Justin.

Perjalanan Justin bermusik diawali dengan narasi yang cukup menyentuh ketika dia prihatin akan perjuangan ibunya yang bekerja keras demi terpenuhinya kebutuhan mereka berdua. Dalam diri Justin, tak ada pikiran untuk bermanja-manja. Justin justru bertekad untuk ikut memperingan beban ibunya tersebut.

Diikatkan gitar pemberian ibunya yang terlalu besar untuk ukuran tubuh Justin pada bahunya, penyanyi muda ini kemudian menuju jalanan kota Stratford dan mulai mengamen. Rupanya selalu ada hasil yang dia dapatkan dari kebulatan tekadnya itu. Orang-orang yang lalu lalang di jalanan kota tersebut begitu terkesima dengan suara bocah tiga belas tahun ini.

Kesempatan menuju pintu kesuksesan semakin terbuka lebar ketika ada kompetisi menyanyi di Stratford. Berbekal kepercayaan diri, Justin berusaha berani mengikuti kompetisi tersebut. Di kontes, ia benar-benar tampil lepas. Justin bergerak lincah dan berhasil menggiring penonton untuk bernyanyi bersama.

Teramat sayang, penampilan memukaunya tersebut harus diganjar dengan hanya menduduki peringkat ketiga. Meskipun kecewa, dia sangat terlihat dewasa ketika menyodorkan tangannya untuk bersalaman dan mengucap selamat kepada pemenang pertama kompetisi itu.

Kekalahan Justin itu segera akan berganti dengan ketenarannya yang tidak ia duga-duga jalannya. Video-video bernyanyi selama kompetisi yang direkam oleh ibunya itu kemudian diunggah ke Youtube. Unggahan video yang pada awalnya hanya sebatas ditujukan untuk keluarga dan teman dekat Justin perlahan-lahan terus mendapat kunjungan yang intens dan semakin meningkat.

Justin begitu terkejut ketika angka kunjungannya melesat lebih dari 500 kunjungan. Padahal, keluarganya tak sampai 100 orang dan angka tersebut terus bergerak melesat semakin besar.

Ketenaran terus perlahan tumbuh. Beberapa pengunjung bahkan meminta Justin untuk menyanyikan lagu lainnya sesuai permintaan penggemarnya itu. Kondisi yang menguntungkan ini tentu tak disia-siakan oleh Justin untuk terus mengunggah video-video bermusiknya yang lain.

Suatu hari, Scoot Braun, Direktur SB Projects, yang bergerak pada industri film, televisi, dan musik di Amerika Serikat, tak sengaja menemukan video-video musik milik Justin di Youtube. Ia langsung terkesima dan cepat-cepat menawarkan kerja sama kepada Justin.

Braun seperti halnya dengan penggemar Justin (beliebers) lainnya teramat terpesona dengan anak belasan tahun ini. Tak menyia-nyiakannya, Braun kemudian menghubungi Justin dan ibunya untuk meyakinkan keduanya bahwa dia siap membawa Justin menjadi bintang terkenal.

Kini, Justin ditangani oleh orang yang profesional yang siap untuk merekam suara emas Justin. Ini kali pertama Justin melakukan rekaman seperti itu.

Lagu pertama "One Time" dari album My World langsung menyentak dan menggebrak dunia musik Amerika. Single tersebut mulai menjadi hit di kawasan Amerika. Hebatnya, di negaranya sendiri, Kanada, Justin menempatkan dirinya sebagai penerima anugerah platinum atas lagunya tersebut.

Berada di puncak kariernya seperti sekarang ini tidak membuat Justin berubah dari watak asalnya. Sikap rendah hati dan ungkapan rasa terima kasih selalu ia perlihatkan kepada orang-orang yang selama ini menjadi aktor di balik kesuksesannya. Itulah yang selalu ia lakukan di setiap acara musiknya atau kicauan di Twitter-nya. Kerendahhatian dan tidak bersikap congkak inilah yang semakin memunculkan karisma dari seorang Justin muda.

Nah, sebelum Justin benar-benar menggebrak penggemarnya di Jakarta pada bulan April nanti, rasanya buku ini telah cukup menjadi pegangan wajib untuk setidaknya mengenal lebih mendalam dari sisi pribadi, perjuangan, sampai kesuksesan yang telah Justin capai. Selamat membaca beliebers!

* Pencinta buku, tinggal di Yogyakarta

Kepalsuan Fantasi Seks Internet

Judul: Birahi Maya: Mengintip Perempuan di Cyberporn
Penulis: Ellys Lestari Pambayun
Penerbit: Nuansa Cendekia Bandung, Oktober 2010
Tebal: 332 Hlm.
Harga: Rp 55.000

Tidak semua hewan melakukan hubungan seksual. Perkembangan sebuah spesies bisa berkembang secara aseksual. Seks menjadi masalah pada hewan seksual, termasuk manusia. Masalahnya mengapa soal fundamental ini lebih menguat dibicarakan ketimbang bidang lain, seperti makanan dan rumah, yang sebenarnya menjadi masalah mendasar setiap hari?

Harus dijelaskan bahwa seks lebih menarik dibicarakan karena tabu. Dalam masyarakat Timur yang rasionalitasnya masih tergolong rendah, tabu membicarakan sesuatu ibarat membicarakan hal-hal yang misterius. Semakin ditabukan, seks menjadi isu yang menarik. Dan ini juga masih terjadi pada era serba canggih zaman teknologi informasi sekarang ini. Melalui buku tersebut, kita akan mendapat suguhan, bagaimana seksualitas beroperasi dalam internet.

Perempuan menjadi sentral dalam topik seksual di internet karena di sanalah fakta obyektif laki-laki lebih dominan mengambil peran sebagai subyek dan perempuan menjadi obyek seksual. Di masyarakat kita, seks, yang karena dianggap tabu, berdampak pada asumsi sesuatu yang menjijikkan. Mereka yang menganggap seks sebagai praktik privat pasangan suami istri manakala muncul ke ruang publik menjadi begitu mencemaskan.

Anehnya mengapa hal yang menjijikkan itu justru banyak mendapat tempat yang luas. Bahkan ketika seribu cara dilakukan untuk menanggulangi, selalu ada sejuta cara untuk tetap menghidupkan seks di ruang publik

Dari pengamatan sang penulis buku ini, tampak terlihat bagaimana susunan dan cara penampilan distrukturkan melalui hubungan yang berlaku antara internet dengan para pemilik modal (kapitalis) pornografi dan pelaku (eksibisionis/model), di mana cara pandang mereka pada internet menunjukkan ada pengaruh oleh kehidupan organisasi domestik dan kekuasaan atas dasar kepentingan politik dan ekonomi. (Hlm 9).

Di ruang publik cyber itu, perempuan seolah-olah menjadi barang dagangan dengan cara yang paling sensasional (seks-gila-gilaan). Perempuan menjadi barang yang paling menarik dikejar oleh laki-laki karena cara pandang tradisional masih begitu kuat mendudukkan pola hubungan patriarki.

Dunia cyberporn semakin gencar dan menantang orang untuk melakukan voyeurisme atau melihat secara diam-diam dengan cara mengintip kaum hawa di internet. Dan di sanalah berkembang fantasi seks kaum lelaki atas perempuan-perempuan yang dijadikan atau rela menjadikan diri sebagai obyek seksual.

Melalui sudut pandang hubungan feminisme kritis, buku ini memperlihatkan bagaimana masyarakat tradisional yang beroperasi di dunia internet menunjukkan bagaimana laki-laki masih kuat mendominasi perempuan. "Laki-laki sebenarnya tidak bisa mengendalikan semua hal."

Dengan kata lain, kaum adam masih memiliki persoalan dalam cara pandang terhadap perempuan. Mendudukkan perempuan dalam konteks seksual ini menjadi nilai hidup laki-laki tergolong rendah karena bermain di wilayah kehidupan semu dan mereka para penikmat pornografi itu tergolong jauh dari kesadaran sejati tentang bagaimana seharusnya berhubungan secara tepat dan baik terhadap perempuan.

Dengan pendekatan kritis, buku ini memberikan hal yang baru untuk bagaimana masyarakat kita, terutama lelaki dan perempuan, bermitra sinergis dengan cara dialog kritis menjawab mengapa masalah seksual ada yang harus jadi subyek dan harus jadi obyek. Pendekatan kritis seperti ini akan membuat kaum lelaki lebih meningkatkan kesadaran untuk tidak memperlakukan perempuan sebagai obyek, dan dengan itu pula kaum perempuan tidak mudah terperosok menjadi bulan-bulanan dominasi lelaki.

Buku ini tergolong unik karena secara simpel mampu memetakan berbagai cara pandang pemikiran tentang seksual. Dari cara pandang itu, kita mengenal peta untuk meneropong seksualitas di era teknologi informasi. Penulisnya memiliki tawaran bahwa masalah dan solusinya bukan pada internet, melainkan dari kesadaran dan cara pandang manusia itu sendiri. Selain analisis keilmuan, buku ini menyajikan pengakuan-pengakuan berbagai pihak (pelaku seks ala cyberporn) untuk menjawab mengapa dan bagaimana semua itu terjadi.

Adapun mengenai letak kelemahan, agaknya buku ini ditulis dengan terlalu emosional. Karena penulisnya seorang perempuan, terkadang di beberapa bagian disisipkan gugatan-gugatan sepihak kepada lelaki untuk lebih sadar dan mengabaikan sisi perempuan yang sebenarnya untuk saat sekarang telah banyak memiliki kesadaran yang cerdas untuk menolak patriarki. Walau demikian, buku ini tetap layak dibaca untuk memperkaya sudut pandang baru tentang hubungan seksual; layak dibaca oleh para pendidik, orangtua, dan siapa saja yang setiap hari berurusan dengan internet.

Makmun Yusuf, peminat kajian buku kritis

Menumbuhkan Kembali Keindonesiaan Kita

Oleh Ecep Heryadi*

Judul Buku: Mereka Bilang Kita Orang Indonesia: Desain Kebudayaan Nusantara
Penyusun : Giat Wahyudi
Pengantar : Guruh Sukarno Putra
Penerbit : Taman Mini Indonesia Indah
Edisi : Cetakan I, 2010
Tebal : 327 halaman

Mayoritas bangsa ini, secara umum, telah mengalami degradasi nilai-nilai kecintaan dalam bentuk patriotisme, kepahlawanan dan kebangsaan. Tak hanya gerusan arus budaya asing yang menjadi sebab, melainkan kesadaran kolektif yang membentuk aras kesadaran bernegara kita—khususnya kaum muda—yang tak bangga lagi menyanyikan “Indonesia Raya” sebagai pemersatu bangsa, atau “berjiwa merah putih” sebagai personifikasi dari kecintaan akan tanah air.

Jika demikian, alangkah baiknya jika kita kembali melakukan permenungan mendalam akan nasib eksistensi bangsa kita ke depan, yang secara menyedihkan sudah banyak ditanggalkan justru oleh kaum penerusnya sendiri. Sepatutnya jika kita membuka lembar-lembar historisitas yang mampu mentrigger semangat kebangsaan dan kegotongroyongan, sebagaimana pernah ditekankan oleh Presiden Soeharto tatkala meresmikan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) medio 70-an. Iya, TMII tak hanya lantas dipandang sebagai suatu area pariwisata semata, namun disegenap bangunan-bangunannya tersimpan rapi memori kolektif bangsa ini yang sarat akan kebanggaan.

Sejatinya, apresiasi mendalam patut diberikan kepada Giat Wahyudi yang kembali merangkai bunga rampai mengenai kebudayaan dan perkembangannya, yang sejatinya bertumpu pada jati diri bangsa: nilai-nilai kegotong-royongan. Memang tepat buku ini lantas diberikan judul Mereka Bilang Kita Orang Indonesia: Desain Kebudayaan Nusantara, yang meski “Indonesia” merupakan hasil penamaan bukan oleh orang Indonesia, menyimpan etos dan spiritisme kesatuan budaya dan multietnisitas sehingga terangkum dalam keindonesiaan kita.

Maksud dari disusunnya buku ini, yang salah satunya dipelopori oleh Ade F. Meyliala, Direktur Operasional TMII, yakni ditujukan untuk menggugah kecintaan segenap anak bangsa, walau berbagai problem berbangsa dan kohesifitas sosial masih urung dipetik. Sebuah upaya yang patut diberikan penghargaan.

Substansinya, buku ini tersusun dari tiga bagian yang totalnya terdiri dari 30 bab. Bagian pertama (terdiri dari enam bab), berisi ihwal narasi kebudayaan yang membentangkan tiga aspek yakni geografis, sosial, dan budaya negeri ini yang berada di “perempatan” lalu lintas internasional. Sebab itu, proses asimilasi budaya tak bisa dielakkan. Tokoh-tokoh untuk mengulas hal inipun dihadirkan dalam kodifikasi bunga rampainya, semisal, Franz Magnis Suseno, AB. Lapian, Denys Lombard, Abdurrahman Apatji, Mun’in DZ.

Bagian keduanya, menampilkan secercah pemikiran lepas para pemikir, intelektual dan budayawan untuk berbicara mengenai kebhinekaan dan cinta tanah air. Bagian penutup, sebenarnya menjadi esensi pentingnya, yakni berkenaan dengan pembahasan mengenai hakikat dibangunnya TMII sebagai lokasi wisata budaya untuk meningkatkan kesadaran dan kemajuan berbudaya bangsa Indonesia.

Buku ini layak dibaca ditengah krisis kesadaran berbudaya yang kian hari, kian menuju titik nadir.

Penulis adalah Analis Politik UIN Jakarta, Peneliti di International Studies for Peace, Prosperity and Democracy (ISEAC) Jakarta

Menggagas Pendidikan Islam Multikultural

Peresensi: Badrul Munir Chair*

Judul : Pendidikan Islam Multikultural di Pesantren (Telaah terhadap Kurikulum Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta)
Penulis : Dr. Abdullah Aly, M. Ag.
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : I, Februari 2011
Tebal : xiii + 368 halaman

Pentingnya pendidikan multikultural di Indonesia telah lama diwacanakan oleh para pakar pendidikan. Wacana tersebut dikemukakan atas dasar fakta bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak problem tentang etnik, eksistensi sosial, kelompok keagamaan yang beragam. Problem tersebut disebabkan oleh adanya pengelolaan yang kurang baik terhadap keberadaan multietnik dan multibudaya yang ada di Indonesia.

Pesantren sebagai basis pendidikan yang menampung santri dari berbagai kalangan dan berbagai budaya di Indonesia mempunyai posisi strategis untuk mengusung Multikulturalisme di negara yang mempunyai budaya beragam ini. namun posisi strategis pesantren akan sia-sia jika tidak diikuti oleh pemilihan kurikulum pendidikan yang tepat dan mengusung nilai kebhinnekaan.

Maka di sinilah, Dr. Abdullah Aly, M. Ag. dalam bukunya, Pendidikan Islam Multikultural di Pesantren (Telaah terhadap Kurikulum Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta) menawarkan sebuah sistem pendidikan Multikultural di pesantren berdasarkan sebuah kajiannya terhadap kurikulum pendidikan di Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta (PPMI Assalaam). Dalam kajiannya tersebut, Abdullah Aly menemukan bahwa nilai dasar dari kurikulum pendidikan di PPMI Assalaam adalah kemajemukan. Beliau mengemukakan bahwa betapa pentingnya sikap menerima, mengakui, dan menghargai keragaman.

Dalam hal ini, pesantren diharapkan mampu menyadari dan menghargai keberagaman tersebut untuk kemudian diintegrasikan dalam sistem pendidikan yang dijalankannya. Dalam kajiannya, penulis buku ini sengaja mengambil PPMI Assalaam sebagai sampel sebagai perwakilan dari pesantren modern. Hal ini bisa jadi adalah nilai kurang dari buku ini. Corak pesantren di Indonesia sangatlah beragam, dan tidak cukup satu pesantren dijadikan sebagai acuan kurikulum pendidikan yang multikultural.

Namun jika kita kaji lebih lanjut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa betapa semua pesantren modern (tidak melulu PPMI Assalaam) harus mempunyai misi yang sama dalam ranah memajukan pendidikan Islam yang multikultur dan tentu juga mengusung misi Bhinneka Tunggal Ika.

Keragaman memang sangat diperlukan dalam kehidupan sosial di masyarakat majemuk, terutama di Indonesia. Pesantren sebagai basis pendidikan yang ideal harus mengusung nilai kebhinnekaan dan tidak monoton bahkan tertutup. Buku Pendidikan Islam Multikultural di Pesantren ini menawarkan sumbangsih pemikiran terhadap pengembangan dan kemajuan pendidikan, khususnya dunia pendidikan di Pesantren.

* Badrul Munir Chair, mahasiswa jurusan Theologi dan Filsafat fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kecil-kecil Jadi Pengusaha: Gokil Story

Tak pelak lagi gadis remaja berusia 15 tahun bernama Nilam Zubir ini memiliki bakat amat besar untuk menjadi seorang penulis besar kelak.

Perhatikan cara menulis pelajar kelas tiga SMP yang pernah menjadi presenter cilik ini. Dia mampu menularkan pengalaman konyol dari keseharian hidupnya yang sebenarnya serius, kepada pembaca. Ia sungguh berbakat menggerakkan orang lain berbuat, atau setidaknya terbuai oleh ceritanya.

Abaikan dulu Bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi tangkaplah pesan-pesan besar dalam cerita 'gilanya' saat bagaimana orang seusianya jadi pengusaha.

Dia menjuduli buku ini dengan "Kecil-kecil jadi Pengusaha." Masih ada tempelan kalimat di belakang judul itu, "A Gokil Story"! Sebenarnya karyanya bukan hanya yang satu ini.

Dia memang gokil, tentu saja dalam makna yang positif. Justru setiap kata dirangkai dan setiap lelucon yang dia sampaikan, menunjukkan betapa cerdas dan luasnya wawasan anak ini. Perhatikan pengantar dia di awal bukunya di bawah ini.

"Awal tahun ini, emak dan daddy bilang, tambah umur mustinya tambah karya. Tiba-tiba gua nyadar. Bener juga tuh ortu. Ya udah deh, gue kelarin ni buku. Tapi gua maunya naskahku jangan diedit kebanyakan, ntar jadi kayak tulisan Pak Dendy Kepala Pusat Bahasa hihihi..Emak setuju. Tooosss! Paling2 ntar editornya bilang "Bagus deh ngeringanin kerjaan gue." Hehe, lucu kan?

Itu baru pengantarnya. Dari awal sampai akhir, buku tipis 90 halaman ini terus-terusan memaksa bibir Anda menyungging senyum karena mendapati dan membayangkan kegokilan yang cerdas dari si empunya cerita.

Tapi jangan salah sangka. Isi kisahnya sendiri serius, yaitu tentang manajemen usaha, mengambil inisiatif, cara memimpin dan mengoordinasikan anak buah, mencari hal-hal baru dalam hidup, bagaimana 'tampil beda,' pengambilan keputusan, dan banyak lagi.

Penerbit buku ini, Pustaka Bestari, ingin menggugah semangat kewirausahaan pada kaum muda, dari anak usia SD, SMP, sampai SMA. Dan memang target utama buku ini adalah anak-anak seusia itu.

Pustaka Bestari ingin jiwa wirausaha ditanamkan dalam-dalam sejak usia dini. Melalui buku ini mereka ingin turut mengubah masyarakat 'pencari kerja', menjadi 'pencipta lapangan kerja.' Konon, negara bisa makmur jika memiliki sedikitnya 2% wirausaha. Indonesia baru 0,18 % penduduknya berwirausaha. Pantas saja Indonesia kalah makmur dari sejumlah negara.

Upaya penerbit mengajak Nilam Zubir untuk menuliskan pengalamannya menjadi pengusaha cilik, tepat sekali. Bagi orang-orang dewasa, buku tergolong memotivasi ini mungkin terkesan kurang serius.

Tapi lain bagi anak-anak usia belia. Lagi pula, tidak adil mengajak anak-anak memahami dunia yang masih sulit dirabanya, jika kita tak mengenal dunianya, termasuk gaya berkomuniksi mereka.

Nilam Zubir berhasil menunaikan tugas sebagai penyampai dan pengajar yang baik.

Selain dia sendiri bagian dari dunia anak-anak itu, Nilam mampu mengajak kawan-kawan sedunianya untuk menyelamati hal-hal fantastis yang justru berguna ketika anak masuk ke kehidupan yang sesungguhnya.

Mempelajari hal serius tidak harus selalu dengan muka serius. Nilam melakukan ini. Buku ini ditarik dari pengalaman hidup sehari-hari Nilam saat bersama saudaranya merintis usaha dan mengikuti banyak aktivitas yang umumnya bisa "diuangkan".

Di sini, ada ajaran moral yang dibagi Nilam yang diperolehnya dari wejangan luhur orangtuanya. Dia dirancang untuk bisa berbisnis dari kecil, tetapi itu tidak membuatnya menjadi komersil atau matre.

Ajaran orangtua ternyata tetap yang terampuh, setidaknya dari penuturan Nilam mengenai sejumlah nilai moral yang diajarkan orangtuanya, diantaranya diungkapkan dalam salah satu bagian akhir bukunya, "Kata emak, kalo konsep dagangnya diniatin jadi wirausahawan sosial, itu akan membuat kita jadi gak serakah, jadi mikirin ornag lain, jadi peka sosial, dan peka situasi (gua udah apal luar kepala...tenooooot J).

Kendati Nilam menyampaikannya dalam gaya berseloroh, petuah moral yang diajarkan ibunya itu amat sarat nilai.

Jadi, kalau satu saat anak Anda menimpali Anda dengan kalimat sekenanya seperti Anda akan jumpai dalam buku ini, jangan marah dulu, mungkin sebenarnya anak Anda memahami dan menuruti petuah Anda.

Pelajaran bagus lainnya yang bisa dipetik dari Nilam adalah kemauannya untuk selalu mencoba dan mengenali hal baru. Dia juga mengajarkan, menjadi pengusaha itu adalah juga soal kemauan memetik pelajaran dari orang-orang sukses.

Maka disebut-sebutlah oleh Nilam tokoh-tokoh besar seperti pendiri Bank Grameen Muhammad Yunus, pengusaha Moeryati Soedibyo dan Pia Alisyahbana, konsultan-konsultan bisnis yang sarannya selalu diperhatikan orang, dan banyak lagi.

Di akhir bagian buku, masih dalam gaya 'gokil'-nya, Nilam berbagi kiat mengenai bagaimana baiknya memulai, mengelola, dan mengembangkan usaha.

Kiat pertama, katanya, berani memulai. Lalu, pilih usaha yang dimengerti dan bisa dijalankan. Selanjutnya, buatlah perencanaan dan konsep usaha yang jelas. Kemudian --nah ini yang keren-- membuat tim kerja dan internal sistem serta SOP. Berikutnya, berpikir tepat cara mengembangkan usaha.

Karena buku ini ditulis oleh yang memahami alam pikiran anak muda, dan karena juga isinya mencerahkan, maka buku ini pantas dimiliki dan dibaca anak Anda, bahkan Anda sendiri.

Jika seorang pengusaha kesulitan mengajari anak-anaknya untuk belajar berusaha agar bisnis mereka ada pelanjutnya, buku ini mungkin membantu keinginan Anda itu. Juga, siapapun yang bukan pengusaha.

Percayalah, jarang ada buku berisi hal serius yang menjadi bekal hidup manusia, disampaikan dengan cara gokil seperti buku ini.

Anda dan anak Anda dijamin menikmatinya dari awal sampai akhir. Tapi harap ingat, jangan sendirian membaca buku ini. Salah-salah orang akan mengatai Anda gokil alias gila, karena Anda akan mesem-mesem sepanjang membaca buku ini.

Superioritas China di Mata Duo-Naisbitts

Oleh Ecep Heryadi*

Judul Buku : China’s Megatrends: 8 Pilar yang Membuat Dahsyat China
Penulis : John & Doris Naisbitt
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : I, Juli 2010
Tebal : 282 halaman

Tahun 1982, bagi mereka yang pernah membaca Megatrends: Ten New Directions Transforming Our Lives yang ditulis suami-isteri Jhon Naisbitt dan Doris Naisbitt, tentu akan senantiasa menantikan buku-buku berikutnya oleh duo penulis kenamaan AS dan pakar tentang China itu. Dalam buku laris yang dirilis tahun 1982 itu, duo-Naisbitts mampu menghadirkan sepuluh prediksi (prediction) yang sangat berani. Dan lebih mencengangkan lagi, karena sebagian besar dari prediksinya itu berbuah menjadi kenyataan secara hampir sempurna. Misalnya, “globalisasi” yang pada medio 1980-an awal sampai menjelang 1990-an bukan ide yang mudah difahami mayoritas orang, namun kontur-kontur apa yang kita sebut “globalisasi” itu sudah mampu dipetakan oleh Jhon dan Doris Naisbitt.

Dalam dua dekade terakhir ini, menurut John dan Doris, China merupakan negara yang mampu mengalami perubahan fundamental terkait beragam hal; kehidupan sosial, ekonomi, dan politik, serta dampaknya yang signifikan bagi pesaing-pesaing utamanya; negara-negara Barat terutama AS.

Dalam urusan ekonomi, China sebagai aktor terkuat di BRIC yang memiliki cadangan devisa sampai 2,5 triliun dollar AS, diprediksi menjadi eksportir terbesar di dunia, mampu memuncaki sektor-sektor potensial semisal keuangan, perdagangan, teknologi informasi, jelas menjadi ancaman utama AS. Selain juga, dalam konteks kekuatan politik, negeri Tirai Bambu yang sosialis-komunis ini sudah mampu digdaya karena memiliki populasi dan jumlah militer sangat signifikan dalam konteks kekuatan global, akhir-akhir ini telah berani melakukan klaim teritorial di Laut China Selatan, serta pemilik hak veto di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).

Sehingga dengan berbagai alasan diatas, sah-sah saja jika kemudian John dan Doris lebih concern dalam mendalami segala pergerakan fundamental-radikal yang dilakukan China. Masih menggunakan teknik serupa dalam best seller book Megatrends, megakarya terbarunya China’s Megatrends: 8 Pilar yang Membuat Dahsyat China diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, diekspektasikan bakal menyamai bahkan melebihi “Megatrends” 1982 sebagai pendahulunya. China’s Megatrends ini terlihat sangat teliti dan komprehensif, sampai-sampai dalam prosesi penulisannya John dan Doris Naisbitt menjelajahi pelosok negeri berpenduduk 1,5 miliar itu, melakukan pelbagai wawancara dengan aneka profesi seperti dengan akademisi, politisi, wartawan, budayawan, pengusaha, sampai pengamat.

Bahkan, lebih dari itu, puluhan staf di lembaga yang didirikannya, Naisbitt China Institute yang office-nya di Provinsi Tianjin, melakukan monitoring terhadap berbagai surat kabar nasional dan lokal untuk melakukan identify serta mapping beragam perspektif serta power yang menjadi backbone reformasi ekonomi-politik China. Riset berkala dan ketat itu mampu menghasilkan kesimpulan bahwa bukan hanya mengalami perubahan fundamental—sebagaimana terlingkup diatas—saja, melainkan jauh lebih penting mampu mengkreasikan apa yang disebut banyak ahli sebagai “demokrasi vertikal” sebagai penentang demokrasi liberal ala Barat.

Banyak hal yang diungkap penulis dalam buku terbarunya ini, semisal, membongkar habis “secret” yang telah dilakukan para pemimpin China dan apa saja yang sedang dan akan terus dilakukan oleh China dalam menghadapi peta persaingan globalisasi dimana mereka—bersama BRIC lainnya—telah menjadi pusat perhatian dunia karena pertumbuhan ekonominya yang melonjak signifikan.

Buku ini, laiknya buku “Megatrends” sebelumnya, menjadi menarik karena selalu berupaya melakukan “ramalan-ramalan” masa depan China terkait lanskap budaya dan politik di China. Instrumentasi yang digunakannya yakni identifikasi terhadap indikasi-indikasi akan lanskap yang menjadi modal penting bagi China. Sehingga, menurut duo-Naisbitts tersebut, negara-negara manapun harus memahami lanskap komponen tersebut jika ingin membangun hubungan produktif dengan pemerintah China.

China secara keseluruhan dikenal sebagai negara yang berorientasi pada hasil dari reformasi ekonomi dan politik, bukan pada cara dan bingkainya. Dengan brilian, hal ini menjadi pembahasan diawal bab buku ini bahwa para pendukung reformasi China tersebut lebih menekankan pada tujuan-tujuan substansial masyarakatnya seperti kemakmuran dan kesejahteraan sebagai salah satu pilar pentingnya, dengan kurang memperhatikan pada aspek lainnya, pada demokrasi (ala Barat) misalnya. Itulah, mungkin yang menjadi penyebab mengapa China belum juga tertarik mengimplementasikan demokratisasi di negaranya sebagaimana didesakkan oleh mayoritas negara-negara di dunia.

Lantas, apa yang disebut 8 pilar masyarakat baru sebagaimana menjadi judul buku ini? Yakni “emansipasi pikiran”, “membingkai hutan dan membiarkan pohon tumbuh”, “menyeimbangkan top-down dan bottom-up”, “menyeberangi sungai dengan merasakan batu”, “bergabung dengan dunia”, “kebebasan dan keadilan”, “antusiasme artistik dan intelektual”, dan “dari medali Olimpiade menuju hadiah Nobel”. Kedelapan pilar itulah yang berusaha dielaborasi dan diimplementasikan oleh pemerintah China untuk menguasai dunia dan menjadi pesaing utama Barat.

Lebih jauh dielaborasi, bahwa identifikasi Naisbitts tentang “Barat” yang condong individualistis dengan “Timur” yang sosialis. Sehingga itulah mengapa China selalu berupaya mendengungkan kekuatan—dalam berbagai hal—dalam negerinya sendiri dan meminimalkan bantuan asing yang bisa mencengkeram kepentingan nasionalnya. Di China, kepentingan ekonomi menjadi “panglima” dibandingkan politik, karena para pemimpinnya berasumsi bahwa keberhasilan di bidang ekonomi akan melegitimasi kekuasaannya yang ‘tak dipedulikan’ mayoritas bangsa China.

Bagi Indonesia yang berdekatan dengan China secara geografis—dibandingkan AS—tak berlebihan jika mencoba mengintip apa yang dilakukan China dalam membangun imperium kekuatan ekonomi-politiknya untuk menghadapi aras globalisasi yang sarat dengan persaingan. Maka, membaca buku ini, terlepas dari lebih dan kurangnya, bisa menjadi solusi dalam menemukan kiat-kiat China menghadapi kedinamisan dunia, kini.

* Penulis analis politik UIN Jakarta.

Sejarah Nusantara Model Gus Dur

Judul buku : Membaca Sejarah Nusantara
Penulis : Abdurrahman Wahid
Pengantar : KH A Mustofa Bisri
Penerbit : LKIS, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal buku: 133 halaman

Peresensi : Danuji Ahmad

Diskursus sejarah Nusantara memang mengasyikkan. Kehadirannya terbuka untuk kita telaah dan diperbincangkan dengan ragam tafsir dan versi. Ragam tafsir itu tentu tidak sekonyong-konyong hadir begitu saja. Menurut para pakar sejarah, ragam tafsir itu hadir terkait dengan berkembangnya kebudayaan lisan di antara masyarakat pribumi prasejarah. "Kebudayaan lisan yang lebih merakyat daripada bahasa tulis itu," kata para pakar, "sangat memengaruhi proses penyampaian sejarah dari generasi ke generasi."

Itu karena sumber penyebarannya dari lisan ke lisan sudah pasti akan terjadi banyak kerancuan versi di dalam penyebarannya. Berawal dari sinilah, sumber sejarah Nusantara mengalami titik perbincangan dan perdebatan yang sangat serius di antara para sejarawan. Salah satu sejarawan yang meramaikan perdebatan dan tafsir itu tidak lain adalah Abdurrahman Wahid atau yang akrab di sapa Gus Dur. Bagi sebagian orang, Gus Dur mungkin tidak terkenal dengan predikat sejarawan, tetapi lebih akrab di mata masyarakat sebagai agamawan, budayawan, atau bahkan cendekiawan yang mengibarkan spirit pluralisme, pribumisasi Islam, bahkan sosok guru bangsa yang getol memperjuangkan hak asasi manusia.

Hadirnya buku yang berjudul Membaca Sejarah Nusantara, 25 Kolom Sejarah Gus Dur, predikat sejarawan tampaknya tidak terlalu berlebihan jika kita sematkan kepada beliau, selain predikat-predikat lain seperti agamawan, budayawan rohaniawan, cendekiawan, serta lainnya. Gus Dur memang sosok yang multitalenta, unik, cerdik, serta berpola pikir divergen (berpikir keluar dari konvensional) ketika membicarakan sesuatu, entah itu masalah agama, politik, serta sejarah. Inilah ciri khas pemikiran Gus Dur yang oleh sebagian orang dianggap nyeleneh itu.

Oleh sebab itu, buku setebal 133 halam ini cukup menarik untuk kita baca dan telaah, utamanya bagi peminat sejarah. Buku karya Gus Dur ini merupakan acuan yang pas untuk memperkaya perspektif, data, dan pola penulisan sejarah yang unik, hidup, lincah, dan merakyat. Gus Dur selalu menekankan adanya pengolahan baru di dalam penulisan sejarah yang berorientasi untuk memberikan paradigma baru, angin segar di setiap tafsirnya ihwal sejarah Nusantara. Sebab, bagi Gus Dur, sejarah bukanlah sebuah serial yang mati dan stagnan dari sebuah perspektif. Oleh karenanya, gagasannya tentang sejarah selalu dibuatnya baru.

Contoh dari sekian kecerdasan Gus Dur di dalam mengolah sejarah bisa kita simak ketika Gus Dur mengaitkan asal-usul LSM dengan cerita rakyat. Cerita itu diawali dari pertempuran antara Sultan Hadiwijaya atau yang terkenal dengan sebutan Jaka Tingkir dan menantunya Sutawijya. Peperangan yang pada akhirnya dimenangi Sutawijaya itu membuat Hadiwijaya kembali ke Asta Tinggi, Sumenep, Madura, tempat di mana ia dilahirkan untuk mencari kesaktian.

Akhirnya, setelah Hadiwijaya mendapatkan kanuragan, dia pun siap bertempur kembali untuk merebutkan Pajang dari tangan menantunya, Sutawijaya. Akan tetapi, ketika Hadiwijaya istirahat di Pulau Priggobayan atau kalau sekarang terlentak di Kabupaten Lamongan, Hadiwijaya tertidur lalu bermimpi dengan sang guru. Dalam Mimpi itu kemudian sang guru menyarankan agar Hadiwijaya tidak melanjutkan perjalanannya ke Pajang untuk bertempur dengan Sutawijaya. "Jika itu kamu lakukan," ujar guru Hadiwijaya dalam mimpi, "kamu hanya akan menjadi budak kekuasaan." Singkat cerita, akhirnya Hadiwijaya mengurungkan niat ke Pajang, lalu mendirikan kekuatan baru di Pringgobayan, Lamongan, di luar kekuasaan Pajang. (hlm 5-7)

Menurut perspektif Gus Dur, cerita Hadiwijaya tidak jadi perang dengan Sutawijaya untuk merebutkan Pajang, dengan mendirikan kerajaan baru di Pringgobayan, Lamongan, itu merupakan benih-benih asal-usul tradisi LSM di negera kita. Artinya, LSM seharusnya keluar dari lingkar kekuasaan dengan mengembangkan jati dirinya sendiri, mendidik masyarakat, dan mengontrol kekusaan yang cenderung arogan. Di sinalah kelebihan tulisan-tulisan sejarah Gus Dur. Pembaca akan disuguhi cerita-cerita rakyat, kemudian diolah dengan sesuatu yang baru seperti dikontekskan dengan kondisi sekarang, diramu dengan bahasa yang jenaka dan lugas.

Gus Dur dengan gaya kepenulisannya juga berani keluar dari mainstream kepenulisan sejarah pada umumnya. Menafsirkan sejarah dengan gayanya sendiri, memilih dan memilah data-data referensi dari berbagai sumber yang tepercaya, termasuk dari cerita rakyat. Sejarah Nusantara mampu dibaca Gus Dur dengan kritis dan selalu menekankan adanya reinterpretasi baru dengan menyelipkan nilai-nilai humanisme. Kritik di dalam karya-karyanya merupakan kelebihan tersendiri dari sosok Gus Dur.

Tulisan-tulisan Gus Dur memang lebih bersifak kualitatif daripada kuantitatif, dalam artian data-data seperti tahun-tahun tidak begitu terlihat di sana-sini dalam tulisan-tulisan Gus Dur. Di sinilah mungkin kelebihan dari kepenulisan sejarah versi Gus Dur. Pembaca tidak dijenuhkan dengan menghafal tahun-tahun, tetapi lebih diajak untuk bersikap kritis, bahkan pembaca sering dibuat bertanya-tanya untuk memberikan tafsir sendiri dari sebuah peristiwa.

Oleh sebab itu, hadirnya buku ini patut kita apresiasi dan kita jadikan karya nyata, spirit, serta kobar untuk selalu membuat inovasi-inavasi baru untuk kemajuan bangsa seutuhnya dan seluruhnya.

*Peresensi adalah pustakawan pada rumah baca Jagad Aksara, Yogyakarta

-

Arsip Blog

Recent Posts