Tampilkan postingan dengan label Salatiga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salatiga. Tampilkan semua postingan

Mengenalkan Budaya Nusantara lewat Tarian

Salatiga, Jateng - Pembentukan karakter anak agar cinta terhadap Tanah Air perlu ditanamkan sejak dini. Salah satu caranya dengan mengenalkan adat-istiadat dari Nusantara, berupa tarian dan lagu daerah.

Hal itu yang menjadi tema kegiatan tradisi kelulusan Kelompok Bermain (KB)/Taman Kanak- kanak (TK) Rainbow, di Grand Wahid Hotel Salatiga, kemarin. Kegiatan itu diisi pentas drama yang dimainkan murid dan guru.

Dalam drama itu, mereka mengungkapkan keinginan keliling Nusantara, untuk mengerti tarian dan adat setiap daerah. Dimulai dari Sabang dan berakhir di Merauke. Dalam pentas itu dikisahkan, anak-anak itu melakukan tur mulai dari Sumatera, dan mendapatkan tarian lilin khas Minangkabau.

Ketika berada di Pulau Jawa, mereka mendapat suguhan tari gambyong. Adapun ketika perjalanan mereka sampai ke Bali, mereka menikmati tari kecak dan karakter buta (tokoh jahat), berupa raksasa yang kerap mengganggu manusia.

Pengalaman Baru

Kemudian yang terakhir perjalanan di Provinsi Papua, mendapat hiburan tarian khas penduduk yakni tari dan lagu sajojo yang dibawakan penuh kegembiraan. ”Tema kegiatan kelulusan tahun ini adalah mengajak anak mengenal wilayah Nusantara melalui tarian dan adat istiadatnya. Kami yakin, anak-anak mendapat pengalaman baru mengenal tradisi setiap daerah yang tidak akan dilupakan seumur hidup,” kata Kepala TK/KB Rainbow, Deshinta Kridawati.

Adapun acara kelulusan tersebut dihadiri orang tua dan perwakilan dari dinas, serta lembaga lainnya. Persiapan pentas drama dan tarian tersebut sudah dilaksanakan murid sejak beberapa pekan lalu. KB/TK Rainbow berada di Jl Pramuka-Penggalang Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo.

Program pendidikan yang ditawarkan tidak hanya melatih kecerdasan dengan berbagai pengetahuan, namun dibarengi pula dengan kegiatan kaya pengalaman dan menyenangkan (real fun learning).

Berita Korupsi Memberi Efek Jera Pelaku

Salatiga—Banyaknya kasus korupsi di Indonesia, karena masih banyak pejabat pusat atau daerah yang belum memahami UU Anti Korupsi. Namun demikian ada juga pejabat yang sudah mengetahui, tetapi tetap saja melakukan korupsi, bahkan dengan cara korupsi berjamaah. Media menjadi salah satu unsur ikut memberantas korupsi di Indonesia.

Hal itu terungkap dalam seminar `Peranan media dalam pemberantasan korupsi`, yang diselenggarakan FH UKSW Salatiga dan Yayasan Bina Darma, Senin kemarin. Sebagai pembicara seminar Penasehat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abdullah Manua, Ketua PWI Jateng Sasongko Tedjo SE MM, dosen FH UKSW Ari Siswanto SH, dan Prof Erhard Blankenburg (Belanda), sebagai moderator Alex Litay (UKSW). Seminar diikuti mahasiswa dan dosen itu dibuka oleh Rektor UKSW Prof Dr Khris H Timotius.

Abdullah lebih lanjut mengatakan, korupsi tidak hanya dilakukan di lembaga pemerintah yang memang memungkinkan seorang pejabat itu melakukan korupsi uang negara. Namun di lembaga KPU (Komisi Pemilihan Umum) juga terjadi korupsi berjamaah.

Anehnya, kata dia, mereka yang jadi tersangka korupsi di KPU adalah yang tahu tentang hukum, UU, tingkat keintelektualannya tinggi. Mereka dari kalangan dosen, LSM dan pejabat. Mereka ini sebenarnya tidak ada niatan melakukan korupsi, namun karena ada kesempatan.

“Seorang dosen belum pernah melihat uang Rp 1 miliar, begitu tahu uang miliaran rupiah, maka niat untuk korupsi pun dilakukan, mereka lupa bahwa itu perbuatan melawan hukum,” kata Abdullah. Menurut dia, ada tiga puluh bentuk korupsi di Indonesia, yang paling banyak dilakukan ada tujuh katagori, yakni korupsi yang menjadikan kerugian negara, suap menyuap (aktif dan pasif), penggelapan jabatan, perbuatan pemerasan (seperti membuat KTP, STNK, SIM dan lain-lain), korupsi curang dengan mengurangi campuran (seperti capuran beton 1 : 4, menjadi 1 : 10), lelang pengadaan barang dan jasa konstruksi serta gratifikasi.

Sebagai nara sumber seminar dari KPK, kata Abdullah, pihaknya tidak mau dijemput dari bandara ke UKSW. “Saya minta maaf tidak mau minum air di gelas ini (air yang disuguhkan, red.), karena hal ini sudah termasuk katagori gratifikasi (hadiah/pemberian), saya sudah makan di jalan dan juga sudah membawa minuman sendiri,” kata Abdullah yang mendapat aplause dari peserta seminar.

Masih kata Abdullah, korupsi memiliki dampak yang sangat luas, yakni laju ekonomi menjadi lambat, jumlah pengangguran dan orang miskin bertambah, negara akan miskin dan Indonesia pada saatnya nanti bisa menjadi negara bagian dari sebuah negara super power karena terlilit hutang. “Tahun 2025 mungkin Indonesia akan kehilangan hutan dan kondisinya sudah masuk stadium 4 (kritis), kalau korupsi tidak segera diberantas,” tegas Abdullah.

Sasongko Tedjo mengatakan, media memiliki peranan penting dalam ikut memberantas korupsi, karena sejak tahun 1999 agenda setelah reformasi adalah kekebasan pers dan pemberantasan korupsi. “Saya berharap KPK masih memiliki nafas dan tenaga untuk tetap terus memberantas korupsi,” kata Sasongko. Dikatakan, tidak menutup kemungkinan wartawan bisa ikut andil dalam korupsi. Karena dikondisikan oleh pihak tertentu untuk tidak memuat berita korupsi di lembaga tertentu. “Ini menjadi tugas masyarakat untuk tetap mengontrol pers,” katanya.

Sebagai Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, Sasongko mengaku, sering ditelepon oleh oknum pejabat yang akan diperiksa kejaksaan atau polisi karena kasus korupsi. Pejabat itu meminta agar wartawan tidak memuat foto dirinya. Namun imbauan itu tetap diabaikan. Sebab kata dia, dalam pemberitaan korupsi di media memiliki efek psikologis dan efek jera. “Pejabat yang diberitakan terus menerus oleh media akan kapok dan merasa malu untuk melakukan korupsi lagi,” jelas Sasongko.

Prof. Erhard Blankenburg mengatakan, hasil penelitian di beberapa kota di Belanda dan Jerman, menunjukkan bahwa pers memiliki peranan penting dalam ikut memberantas korupsi. Pers sangat getol mengincar pejabat-pejabat yang korup. Akhirnya sedikit demi sedikit korupsi hilang, karena pejabat takut jika kasus korupsinya diberitakan di media.

Ari Siswanto mengatakan, korupsi ternyata sudah merampah ke semua lini, termasuk pers. Seperti yang diungkapkan Sasongko. Kehadiran KPK sebagai lembaga pemberantas korupsi sangat diharapkan masyarakatluas. Menurut Ari, kehadiran KPK menjadi tantangan bagi lembaga penegak hukum seperti kejaksaan dan kepolisian. Lembaga ini saling bersaing untuk memberantas korupsi. “Saya berharap media tetap menjalankan tugasnya, mengkritisi kasus-kasus korupsi, dan jangan sampai terjebak oleh situasi dan kondisi,” katanya.

Sumber: Wawasan, Selasa, 03 April 2007

25 Mahasiswa Australia Belajar Budaya Indonesia

Salatiga, Jateng - Sebanyak 25 mahasiswa Australia belajar bahasa dan budaya Indonesia di Salatiga. Para mahasiswa yang didominasi dari Australia National University (ANU) tersebut, mengikuti Program Intensif Belajar Bahasa dan Budaya Indonesia (PIBBI) ke-62.

PIBBI merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap tahun. Para mahasiswa asing tersebut akan mengikuti program tersebut hingga 15 Februari mendatang.

PIBBI ke-62 dibuka Rektor UKSW John Titaley, baru-baru ini. Sebagaimana biasa, John menyambut hangat dan mengucapkan selamat datang kepada para mahasiswa yang datang guna memperdalam bahasa dan budaya Indonesia.

"Selamat datang di kampus Satya Wacana dan Salatiga. Saya berharap peserta PIBBI dapat mengikuti program ini dengan baik. Kami juga mengucapkan terima kasih untuk pihak-pihak yang mendukung terselenggaranya program ini, khususnya Australia National University," ungkap Guru Besar Ilmu Teologi tersebut.

Direktur Language Training Center UKSW Dian Widi Sasanti mengungkapkan, selain pembelajaran di dalam kelas, para peserta PIBBI juga akan belajar bahasa dan budaya Indonesia lewat kunjungan ke pasar, pesantren dan perkebunan tanaman organik di Salatiga. Selama di Salatiga, sebagian besar di antara mereka akan tinggal di rumah dosen atau penduduk.

Salah satu program yang diikuti peserta PIBBI adalah kelas budaya. Dian mengatakan, kelas budaya kali ini meliputi kelas membatik, memasak dan olahraga beladiri asli Indonesia, pencak silat.

"Hasil belajar peserta PIBBI di kelas budaya akan ditampilkan pada acara 'Siang Budaya', 30 Januari mendatang," katanya.

-

Arsip Blog

Recent Posts