Tampilkan postingan dengan label Sampit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sampit. Tampilkan semua postingan

Pasar Ramadhan Jadi Ajang Wisata Kuliner

Sampit, Kalteng - Pasar Ramadhan di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, tidak hanya menjadi tempat berbelanja persiapan buka puasa, juga jadi ajang wisata kuliner.

"Hampir semua kue tradisional ada di Pasar Ramadhan. Di luar Ramadhan, jarang ada yang jual kue-kue seperti itu. Hanya saat bulan puasa seperti ini banyak yang menjualnya," ungkap Ari, warga Sampit, Selasa.

Hampir semua jenis kue tradisional disediakan pedagang. Seperti berbagai jenis bingka, kue lapis, putu mayang, amparan tatak dan lainnya yang dijual dengan harga berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 30.000 per kue ukuran sedang.

Tak hanya umat Muslim, pembeli yang datang sebagian juga non-Muslim yang sudah menganggap tradisi Pasar Ramadhan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Kotim yang sudah ditunggu-tunggu setiap Ramadhan.

"Hampir semua kue tradisional ada disediakan. Ini bisa menjadi wisata kuliner bagi masyarakat kita dan tamu dari luar daerah," kata Bupati Kotim, H Supian Hadi.

Saat hari pertama usai membuka Pasar Ramadhan, Supian juga ikut berbelanja di pasar tersebut. Dia terlihat membeli beberapa kue dan masakan untuk berbuka puasa di rumah.

Bagi tamu dari luar daerah, Pasar Ramadhan sangat menarik dan menyajikan suasana menyenangkan sekaligus petualangan memanjakan lidah bagi yang suka berwisata kuliner.

"Tadi malam saya sudah ke sana (Pasar Ramadhan). Kuenya manis-manis. Saya suka," kata Mark Avery, guru di Scoth Grafton High School Australia yang kebetulan berkunjung ke Sampit.

Mark yang merupakan guru bahasa Indonesia di negeri Kangguru itu mengaku senang dengan suasana di Pasar Ramadhan karena menyajikan sesuatu yang berbeda baginya. Dia mendukung kegiatan tersebut dilestarikan.

Lokalisasi di Sampit Siap Tampung PSK Dolly

SAMPIT - Kekhawatiran akan adanya eksodus pekerja seks komersial (PSK) dari Lokalisasi Dolly, Surabaya, Jawa Timur, ke Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, hingga kini belum terbukti.

"Belum ada tanda-tanda eksodus penghuni lokalisasi Dolly ke Sampit. Tetapi kalau pun mereka masuk ke sini, kami juga tidak bisa melarang kalau mereka masuknya sesuai aturan dan melaporkan diri," kata Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kotim, Fadlian Noor di Sampit, Jumat (13/6/2014).

Pemerintah Kota Surabaya berencana menutup Lokalisasi Dolly pada 18 Juni. Jika lokalisasi terbesar di Indonesia itu ditutup, besar kemungkinan PSK di kawasan itu akan pindah ke lokalisasi-lokalisasi di daerah lain, termasuk di Sampit.

Hasil pantauan Dinsosnakertrans Kotim, saat ini penghuni lokalisasi Pal 12 Pasir Putih Sampit belum ada peningkatan signifikan dan relatif tetap yaitu 243 orang.

Setiap pendatang baru diwajibkan melapor ke Ketua RT setempat dan kemudian dilaporkan ke Dinsosnakertans untuk pengawasan.

Fadlian memprediksi, tidak menutup kemungkinan akan ada eks penghuni Dolly yang pindah ke lokalisasi Pal 12 Pasir Putih. Pemerintah daerah tidak boleh menolak apalagi mengusir jika yang bersangkutan mematuhi aturan yang berlaku.

Masuknya PSK ke lokalisasi justru dinilai lebih baik karena akan mudah bagi pemerintah daerah dalam melakukan pengawasan dibanding jika PSK tersebut beroperasi ilegal di perkotaan atau di hotel-hotel.

"Sebenarnya kedatangan mereka tidak perlu dikhawatirkan, karena kalau bicara masalah sosial itu tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Yang penting mereka dibina dan diawasi," sambung Fadlian.

Saat ini jumlah penghuni lokalisasi Pal 12 Pasir Putih berfluktuasi karena ada yang datang dan ada pula yang pergi. Namun kebanyakan penghuni tersebut memang berasal dari Provinsi Jawa Timur.

"Kami tidak bosan-bosannya memberi penyuluhan kepada mereka untuk kembali ke kehidupan normal seperti masyarakat lainnya dengan bekerja sesuai keterampilan yang dimiliki. PSK yang masuk dan keluar selalu terdata. Penyuluhan kesehatan, khususnya tentang HIV/AIDS juga dilakukan oleh Dinas Kesehatan agar mereka lebih berhati-hati," ucap Fadlian. (ant//trk)

Festival Qasidah Kalteng, Palangkaraya Juara Umum

Sampit, Kalteng - Kota Palangka Raya berhasil menjadi juara umum Festival Seni Qasidah ke-2 Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah yang digelar sejak 6 hingga 10 November di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur.

Kami mengucapkan selamat kepada para juara, dan bagi yang belum berhasil tidak boleh berkecil hati. Setelah acara ini, kita harus mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba di tingkat nasional, kata Ketua Lembaga Seni Qasidah Provinsi Kalteng, Tutut Solehah di Sampit.

Festival Seni Qasidah kali ini diikuti oleh 13 kabupaten/kota di Kalteng, sedangkan satu kabupaten yakni Barito Selatan tidak mengirimkan wakil mereka tanpa alasan jelas. Penutupan sekaligus pengumuman pemenang dilaksanakan di Stadion 29 November Sampit pada Minggu malam.

Dewan Juri menobatkan Palangka Raya sebagai juara umum dengan perolehan nilai 30, disusul Kabupaten Kotim sebagai Juara II dengan perolehan nilai 19, disusul Kabupaten Kapuas dengan nilai 17.

Kami memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bupati Kotim dan seluruh pemerintah daerah atas pelayanan yang telah diberikan oleh panitia dalam pelaksanaan acara ini yang sangat luar biasa, meskipun persiapannya dalam waktu singkat ini, puji Tutut.

Wakil Bupati Kotim, HM Taufik Mukri, mengatakan, kekurangan dalam pelayanan dan pelaksanaan itu diharapkan bisa menjadi perbaikan bagi Kotim ke depannya dalam menyelenggarakan event yang serupa.

Kami atas nama pemerintah daerah, dalam hal ini memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan dalam pelaksanaan ini, apalagi Kotim pada tahun 2014 nanti akan menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan MTQ tingkat Provinsi Kalteng, ujar Taufiq.

Sementara itu, panitia mengumumkan hasil musyawarah bahwa pelaksanaan Festival Seni Qasidah ke-3 tingkat Provinsi Kalteng tahun 2014 akan dilaksanakan di Kabupaten Seruyan. Pemerintah berharap seni qasidah akan terus berkembang di seluruh daerah di Kalteng.

Motif Batik Sampit Punya Makna Motivasi

Sampit, Kalteng - Motif batik Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah yang dilucurkan pekan lalu, memiliki makna penting yaitu motivasi, kata Bupati Kotim, Supian Hadi di Sampit, Selasa.

Bupati menyebutkan, motif batik Sampit "anggrek tebu" atau dalam bahasa Dayak disebut anggrek tewu dan motif gayung birang. Anggrek tebu merupakan anggrek khas Kotim. Kedua motif ini sengaja dipilih karena punya makna yang dalam sekaligus sebagai harapan dan doa.

Dari sinopsis yang dibuat Sanggar Seni Habaring Hurung Sampit dijelaskan, motif pada batik Sampit, Kabupaten Kotim adalah hasil penggabungan antara motif gayung birang yang berarti percikan emas yang tercecer dan motif anggrek tebu.

Kedua motif tersebut berasal dari alam, terutama anggrek tebu yaitu tumbuhan sejenis pakis yang dapat hidup dan berkembang di hutan tropis khsusus.

Jenis anggrek ini tumbuh liar di hutan pedalaman wilayah Utara seperti Kecamatan Antang Kalang dan Kuala Kuayan, sedangkan percikan emas adalah gambaran emas hasil dari usaha masyarakat hulu di daerah penambangan atau pendulangan emas.

"Bunga anggrek tebu sangat indah dengan bentuk yang kecil-kecil. Warna anggrek tebu didominasi kuning ditambah bercak-bercak berwana coklat, hitam dan ungu," katanya.

Dalam satu batang anggrek biasanya terdapat puluhan tangkai bunga. Sebelum berbunga, tanaman ini didahului batang yang sama persis dengan tebu, kemudian akan muncul batang anggrek di tengah yang kemudian berbunga.

Menurut Supian Hadi, alasan menjadikan anggrek tebu sebagai motif batik Sampit, Kabupaten Kotim karena pertimbangan filosofi hidup anggrek tebu.

Tanaman ini bisa tumbuh di mana saja dengan jenis tanah apa saja. Anggrek tebu juga bisa berdampingan dengan tanaman apa saja tanpa mengganggu tanaman lain seperti halnya benalu.

Setelah tumbuh, anggrek tebu akan besar dan lebih dominan dari tanamana lain di sekitarnya. Setelah berbunga, anggrek ini akan memberikan keindahan terhadap alam di sekitarnya.

Filosofi inilah yang diambil dengan harapan masyarakat Kotim juga bisa terus tumbuh seperti anggrek tebu. Bisa hidup bersama atau berdampingan tanpa mengganggu orang lain dan akan menjadi kabupaten paling maju diantara kabupaten-kabupaten lain di Kalteng.

Kotim juga diharapkan bisa memberi keindahan, kemaslahatan serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat pada khususnya dan Kalteng pada umumnya.

Inspirator batik khas Kotim adalah Ketua Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Kotim, Hj Iswanti Supian Hadi, sedangkan pengembangan motif merupakan hasil karya Bupati Kotim, Supian Hadi.

Penelusuran sinopsis sudah lama dilakukan dengan meminta informasi dari budayawan Kotim seperti (almarhum) H Syah Ideris Masdipura dan sejumlah damang di Kotim.

"Saya akan mematenkan motif batik Sampit itu melalui Peraturan Bupati (Perbub), tujuannya adalah supaya memiliki dasar hukum yang kuat dan agar tidak klaim oleh daerah lain," terangnya.

Pemerintah daerah juga akan mendorong pengembangan produksi batik Sampit, dan mengupayakan pemasaran batiknya dapat menerobos ke tingkat nasional, bahkan jika perlu ke dunia internasional.

Sementara Risa, salah seorang pegawai negeri sipil (PNS) Pemkab Kotim menyatakan menyambut gembira akan digunakan batik Sampit sebagai seragam kerja PNS pada hari-hari tertentu.

Dia berharap batik Sampit terus dikembangkan sehingga bukan sekadar identitas batik khas daerah saja, tetapi punya daya saing sehingga bisa tampil di pasaran nasional dan internasional.

"Motifnya bagus. Saya suka, apalagi makna dari motif itu sangat bagus, sehingga tidak berlebihan jika terus dibudayakan. Masyarakat tentu akan mendukung upaya positif seperti ini. Hak patennya harus segera didaftarkan supaya tidak diklaim daerah lain," katanya.

Festival Habaring Hurung Akan Digelar di Kotim, Kalimantan Tengah

Sampit, Kalteng - Setelah kegiatan di awal tahun yakni Simah Laut di Pantai Ujung Pandaran Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) sukses digelar, agenda wisata selanjutnya yang akan digelar oleh Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kotim adalah Festival Seni dan Budaya Habaring Hurung.

Rencananya kegiatan ini akan digelar bersamaan dengan pelaksanaan "Sampit Expo" yang diperkirakan akan dimulai pada pertengahan bulan Februari mendatang.

Kepala Disbudpar Kotim Calon I Ranggon mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan event tahunan Pemkab Kotim sehingga memang dilaksanakan setiap tahunnya. Pada tahun ini direncanakan ada sekitar 14 cabang lomba yang akan digelar dan diikuti oleh peserta diantaranya adalah lomba Menyumpit, Gasing, Besei Kambe, serta Balogo, sedangkan untuk kesenian juga akan diadakan lomba tari-tarian tradisional, hingga pemilihan putra dan putri pariwisata Kotim.

"Untuk waktu mungkin Februari akan kita laksanakan kegiatan seperti tahun-tahun sebelumnya," ucapnya (23/1).

-

Arsip Blog

Recent Posts