Tampilkan postingan dengan label Sleman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sleman. Tampilkan semua postingan

Kenduri Pohon, Tradisi untuk Menjaga Mata Air di Tunggularum

Sleman, Yogyakarta - Jika tradisi kenduri umumnya adalah kegiatan masyarakat dengan berkumpul membawa berbagai maknan untuk didoakan sesepuh adat. Tapi ada kenduri unik yang bakal digelar di Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta. Yakni ‘Kenduri Pohon’ yang bakal digelar besok Minggu (23/10/2016). Acara ini bakal digelar mulai pukul 09.00 WIB dan bakal dihadiri Gubernur DIY.

Menurut Tomon Wirosobo, Kepala Desa Wonokerto, kegiatan tersebut merupakan bentuk ekspresi budaya dari komitmen bersama semua pihak baik masyarakat, pemerintah, akademisi dan semua stakeholder yang peduli untuk melestarikan dan menyelamatkan mata air yang terletak di kaki Gunung Merapi agar tetap mengalir.

“Acara kenduri pohon ini sekaligus sebagai penanda peresmian hutan lindung dan penanda tanganan komitmen bersama tentang penyelamatan dan kelestarian mata air oleh Gubernur D.I.Yogyakarta,” ujar Tomon Wirosobo kepada KRjogja.com, Kamis (20/10/2016).

Kegiatan kenduri pohon ini merupakan satu rangkaian acara Gelar Potensi dan Budaya WONOKERTO EXPO TAHUN 2016 yang dibuka 18 Oktober 2016 dengan rangkain kegiatan diantaranya pameran potensi desa seperti kuliner, kerajian dan pariwisata serta penampilan seni pertunjukan kerakyatan yang ada di Desa Wonokerto. Kegiatan akan berakhir pada tanggal 23 Oktober 2016.

Wonokerto adalah desa paling atas diutara Daerah Istimewa Yogyakarta yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah disisi barat dan gunung merapi disisi utara yang merupakan daerah tangakapan air dan menjadi wilayah penyangga ketahanan suplay air ke daerah yang ada dibawahnya yaitu Kota Yogyakarta. Oleh sebab itu penyelamatan dan pelestarian mata air ini diharapkan tetap terjaga.

“Salah satunya program yang dikembangkan untuk menyelamatkan dan melestarikan mata air adalah dengan menanam berbagai jenis tanaman yang mampu menahan dan menyimpan air di sepanjang aliran sungai yang bersumber dari Merapi,” pungkas Tomon.

Kirab Budaya Bregada Buka Pelangi Bumi Merapi

Sleman, DIY - Sebanyak 34 Bregada Prajurit Tradisional dari 17 Kecamatan se Kabupaten Sleman bakal tampil di kawasan Pemkab Sleman Yogyakarta, Sabtu (23/09/2016). Mereka menghibur masyarakat dan wisatawan dengan melakukan kirab sepanjang 1 (satu) kilometer dengan start Lapangan Denggung menuju Lapangan Pemda Sleman.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ir. AA Ayu Laksmidewi TP, MM, Jum’at (23/09/2016) di sela memantau persiapan Pembukaan Pelangi Budaya Bumi Merapi di Lapangan Denggung Sleman Yogyakarta menjelaskan usai Kirab Bregada, pada malam harinya mulai pukul 18.00 di Gedung Serbaguna disajikan wayang suket, emprak, jeber juwes, kethek ogleng, dadungawuk, srunthul, sampakan. Sedangkan Minggu (25/09/2016) dipentaskan atraksi kesenian jathilan, orchestra serenade, tarian teatrikal, flashmop dilanjutkan dengan kirab pelangi budaya Bumi Merapi.

"Kirab pelangi terdiri atas 55 kontingen dari berbagai kalangan dan komuitas seni budaya, museum, sekolah, perwakilan luar daerah yaitu Riau, Lampung, Papua, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, NTB," kata Ayu.

Ayu menjelaskan Festival Bragada Prajurit akan memperebutkan total hadiah sebesar Rp.20 juta, dengan rincian untuk Penampil Terbaik 1 - Terbaik 6 secara berturut-turut memperoleh hadiah tropy dan uang pembinaan sebesar Rp.5 juta, Rp.4,5 juta, Rp.4 juta, Rp.3 juta, Rp.2 juta dan Rp.1,5 juta.

Ayu meminta masyarakat dan wisatawan yang menonton Kirab Bragada Prajurit menjaga keamanan dan ketertiban agar dapat menyaksikan kirab dengan nyaman dan tidak menimbulkan kerusakan taman yang ada disepanjang jalur kirab.

Disbudpar Sleman Gelar Pelangi Budaya Bumi Merapi

Sleman, DIY - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman akan menggelar Pelangi Budaya Bumi Merapi, 23-25 September 2016. Event tersebut menghadirkan karnaval dan gelar potensi seni budaya.

Kepala Disbudpar Sleman AA Ayu Laksmi Dewi mengatakan, potensi seni dan budaya di kawasan Bumi Merapi semakin berkembang. Hal itu merupakan bagian dari harmoni kehidupan masyatakat. “Perkembangan seni dan budaya di Merapi patut dieksplore sebagai daya tarik kepariwisataan. Kami berharap event tersebut bisa mendatangkan jumlah kunjungan wisatawan,” kata Ayu, Jumat (16/92016).

Pelangi Budaya Bumi Merapi dipusatkan di Lapangan Denggung. Event pada 23 September menghadirkan kirab festival potensi kesenian unggulan dari 17 kecamatan. Adapun pada 24 September digelar Festival Bregada Prajurit Radisiopnal dan pentas seni unggulan. Puncak kegiatan karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi pada 25 September.

Ayu mengatakan, karnaval puncak akan diikuti sekitar 50 kontingen seni dan budaya, 10 kontingren museum, dan 7 kontingen perwakilan luar daerah. Di antaranya dari Riau, Lampung, Papua, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, dan juga Bali. Selain itu juga diramaikan dengan pertunjukan teatrikal, parade upacara adat dan merti desa, maupun festival batik. “Nanti juga akan ada pertunjukan tayub massal dengan 40 orang penari putri yang atraktif,” kata dia.

Gejog Lesung Lestarikan Seni Kerakyatan

Sleman, DIY - Sebagai upaya melestarikan Gejog Lesung sebagai sebuah seni tradisi kerakyatan yang juga memiliki sejarah tentang proses usaha menghasilkan makanan pokok berupa beras, Dinas Kebudayaan DIY bakal menggelar Festival Lesung Keistimewaan di Areal Persawahan Banyuraden Gamping Sleman Yogyakarta, 9-10 September 2016. Kegiatan ini juga sebagai wujud peringatan bergabungnya DIY ke dalam NKRI dalam Amanat 5 September oleh Sri Sultan HB IX.

"Selain sebagai upaya peleatarian meliputi menjaga dan mengembangkan seni, juga menjadi ajang semangat kerukunan untuk menjaga bumi dengan memelihara pangan melalui tradisi Gejog Lesung, " tutur Kasi Sejarah Disbud DIY Bambang Marsamtoro kepada wartawan, Rabu (07/09/2016).

Panitia penyelenggara dari Masyarakat Tradisi (Matra) Yogyakarta Agus Sunandar menambahkan, Gejog Lesung memiliki makna mendalam sebagai sebuah media. Seni ini bukan semata sebagai periatiwa budaya, tapi banyak nilai sosio kultural di baliknya. Pasalnha dulu masyarakat desa memiliki andil besar dalam mensuplai pangan. Sedang saat ini tradisi tersebut terus tergerus laju perkembangan jaman.

"Bukannya ingin kembali ke masa lalu yang semu, tapi coba memberi gambaran pada masa depan bahwa kita pernah memiliki sejarah kedaulatan pangan yang pada perkembangannya ikut melahirkan seni tradisi, " kata Agus.

Selain itu pihaknya juga ingin makin memperkuat kelembagaan Kraton Yogyakarya dan Pura Pakualaman dengan konsep manunggaling kawula gusti yang saat ini bisa diupayakan melalui seni budaya. Fenomena munculnya Gejog Lesung secara sosio kultural juga cukup menarik sebagai seni kerakyatan tanpa ada niatan mengembalikan sejarah pemanfaatannya seperti dulu meski saat ini masih ada sebagian kecil masyarakat yang menggunakannya untuk keseharian.

Lima Desa Adat Meriahkan Festival Adat DIY

Sleman, DIY - Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Festival Adat yang diikuti lima desa adat perwakilan kabupaten/kota di Lapangan Denggung, Kabupaten Sleman, Ahad.

Dalam Fdestival Adat tersebut masing-masing peserta menampilkan keunikan dan kekhasan adat budaya dan upacara tradisi masing-masing.

Lima peserta tersebut yakni Merti Dusun Tinalah dari Purwoharjo, Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, kemudian makanan khas "bongko" yang merupakan bagian dari upacara adat Nyadran Mbah Jobeh, Desa Petir, Rongkob, Kabupaten Gunung Kidul.

Selain itu, ada pula upacara adat Umbul Kamulyan dari warga Dayakan, Purwomartani, Kecamatan Kalasan. Kabupaten Sleman, Merti Dusun Pancuran dari warga Terong, Dlingo, Kabupaten Bantul dan Merti Code dari Jetis, Terban, Kota Yogyakarta. Masing-masing membawa cerita dan sejarah dari fragmen kehidupan yang tumbuh di tengah masyarakat.

Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Umar Priyono mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi upaya pemerintah daerah untuk melestarikan upacara adat yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

"Apalagi DIY memiliki lebih dari 300 jenis upacara adat yang mengandung nilai luhur serta mencakup sekian banyak sisi kehidupan. Mulai dari kelahiran manusia hingga masa kematian, hubungan antar manusia, nilai kegotongroyongan, pelestarian lingkungan, hingga ungkapan rasa syukur atas hasil panen melimpah," katanya.

Menurut dia, banyak nilai keluhuran dalam upacara adat tersebut yang ditinggalkan nenek moyang kepada kita. "Itu menjadi kekayaan budaya yang harus dilestarikan," katanya.

Ia mengatakan, upaya pelestarian sendiri meliputi tiga hal, yakni perlindungan, pemanfaatan, dan pengembangan.

"Kami berharap, agenda ini bisa memberikan manfaat yang lebih optimal bagi upaya pelestarian budaya. Partisipasi masyarakat menjadi kunci dalam melestarikan dan memajukan kebudayaan di Yogyakarta. Terutama generasi muda yang diharapkannya turut ambil bagian sebagai penjaga dan penerus perlindungan kelestarian upacara adat dan tradisi budaya lainnya," katanya.

Umar mengatakan, bagi Yogyakarta budaya itu menjadi garda depan tourism makanya upaya pelestarian seharusnya tumbuh dari masyarakat, termasuk generasi muda.

"Kami berharap kaum muda memiliki rasa bangga menggali nilai luhur budayanya sendiri," katanya.

Festival Jajanan Pasar Nusantara 2016 Digelar di Yogyakarta

Sleman, DIY - Selama dua hari mulai Kamis (2/6/2016), Kementerian Pariwisata menggelar Festival Jajanan Pasar Nusantara 2016 yang berlangsung di DI Yogyakarta. Ada banyak jajanan pasar dari berbagai daerah di Nusantara.

Festival Jajanan Pasar Nusantara tahun ini digelar di Taman Kuliner Condong Catur, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Selama dua hari yakni 2-3 Juni 2016, warga dan wisatawan bisa mencicipi aneka jajanan khas berbagai wilayah Indonesia.

"Jogja merupakan salah satu kota destinasi utama wisata kuliner di Indonesia. Berbagai macam sajian kuliner mulai dari kaki lima hingga restoran bintang lima banyak dijumpai di kota ini," tutur Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar, Esthy Reko Astuty M.Si dalam rilis yang diterima KompasTravel, Kamis (2/6/2016).

Festival ini resmi dibuka oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo dalam rangka mendukung program Pesona Indonesia dan Wonderful Indonesia. Selain juga, untuk mempromosikan Yogyakarta sebagai destinasi wisata kuliner unggulan.

Esthy menjelaskan, Yogyakarta merupakan salah satu destinasi wisata kuliner unggulan. Beberapa kota lainnya adalah Bandung, Solo, Semarang, dan Bali. Kuliner dan pariwisata merupakan elemen penting dalam ekonomi kreatif karena memberikan kontribusi yang besar terhadap ekonomi nasional.

Menteri Pariwisata Arief Yahya pernah menyebutkan, sekitar 40 persen pengeluaran wisatawan di Indonesia adalah untuk kuliner.

Wisata kuliner merupakan bagian dari pengembangan potensi budaya (culture) sebesar 65 persen yang dikembangkan sebagai wisata warisan budaya dan sejarah (heritage and pilgrim tourism) sebesar 20 persen, wisata belanja dan kuliner (culinary and shopping tourism) sebesar 45 persen, juga wisata kota dan desa (city and village tourism) sebesar 35 persen.

Selain mencicipi aneka jajanan pasar dari seluruh Nusantara, wisatawan juga bisa ikut serta dalam lomba dan demo pembuatan makanan tradisional. Festival ini juga dimeriahkan oleh penampilan grup band Ibu Kota, Letto, serta beragam kesenian tradisional.

12 SD Ikuti Lomba ‘Dolanan Anak’

Sleman, DIY - Sebanyak 12 sekolah dasar di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengikuti lomba "Dolanan Anak" di Kantor Kecamatan Ngemplak untuk menyemarakkan Satu Abad Sleman, Senin.

"Lomba dolanan anak diperankan murid-murid SD secara berkelompok antara lima hingga 12 anak," kata Ketua Panitia Lomba "Dolanan Anak" Beska.

Menurut dia, jenis "dolanan anak" yang dilombakan meliputi "jaranan", "jamuran", permainan egrang, sepatu batok, "jetungan" (petak umpet), tembang-tembang anak, dan lainnya.

"Kegiatan ini untuk menyemarakan dan memeriahkan peringatan Hari Jadi ke-100 Tahun atau Satu Abad Kabupaten Sleman," katanya.

Ia mengatakan permainan "dolanan anak" merupakan pelestarian terhadap permainan anak-anak waktu lampau sebelum tahun 1990-an.

"Namun dengan perkembangan zaman dan era digital yang sangat pesat, permainan atau dolanan anak pada saat ini sangat jarang dijumpai," katanya.

Beska mengatakan sebenarnya permainan dolanan anak ini sangat banyak makna pendidikan yang terkandung di dalammnya, di antaranya kekompakan, kejujuran, dan kebersamaan.

"Nilai-nilai pendidikan yang terkandung tersebut akan menjadikan anak penuh tanggung jawab apabila terlibat dalam permainan," katanya.

Camat Ngemplak Subagyo mengatakan "dolanan anak" memang harus dilestarikan dan diperkenalkan terhadap anak-anak sekarang.

"Jangan hanya mempelajari teknologi permainan yang ada handphone atau gaget, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi dan melestarikan budanya," katanya.

Juara lomba "dolan anak" ini untuk juara I SD Randusari, Juara II SD Model, dan Juara III SD Kejambon.

Keraton Yogyakarta Gelar Upacara Adat Labuhan Merapi

Sleman, DIY - Keraton "Ngayogyakarto Hadiningrat" hari Minggu (8/5/2016) menggelar upacara adat Labuhan Gunung Merapi. Acara tersebut dalam rangka memperingati naik tahta Sultan Hamengku Buwono X pada Minggu.

"Upacara adat yang selalu menarik minat wisatawan tersebut diawali penyerahan uba rampe labuhan dari Kraton Ngayogyakarto kepada Camat Depok di Pendopo Kecamataan Depok Minggu," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ayu Laksmidewi kepada wartawan, Minggu (8/5/2016).

Ayu menjelaskan, dari Kecamatan Depok yang merupakan wilayah perbatasan dengan Kota Yogyakarta tersebut, uba rampe oleh para abdi dalem dan Camat Depok diarak ke Kecamatan Cangkringan dan diserahkan kepada Camat Cangkringan di Pendopo Kecamatan Cangkringan.

"Camat Cangkringan kemudian menyerahkan uba rampe tersebut kepada Juru Kunci Gunung Merapi Mas Kliwon Suraksohargo untuk dibawa ke Balai Labuhan di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan," tutur Ayu.

Ditegaskan, nantinya sesampainya di Balai Labuhan di Kinahrejo (pendopo petilasan Mbah Maridjan) dan diinapkan satu malam.

"Pada pagi harinya yakni Senin, (9/5/2016) sekitar pukul 06.00 WIB rangkaian uba rampe akan diarak dengan berjalan kaki yang dipimpin Juru Kunci Gunung Merapi Kliwon Suraksohargo menuju ke Bangsal Sri Manganti atau pos dua untuk dilakukan upacara resmi Labuhan Merapi," jelas Ayu.

Ada pun uba rampe yang dilabuh berupa sinjang limar satu lembar, sinjang cangkring satu lembar, semekan gadhung satu lembar, semekan gadhung melati satu lembar, paningset udaraga satu lembar, kambil watangan satu biji, seswangen 10 biji, seloratus lisah konyoh satu buntal, yotro tindih dua amplop, destar doromuluk satu lembar.

Menu lainnya, yaitu berupa kembang setaman, nasi tumpeng, ingkung serta serundeng, yang dibagikan kepada setiap pengunjung selesai upacara labuhan.

"Acara labuhan Merapi yang sudah menjadi agenda rutin dan hajat Kraton Ngayogyokarto, diharapkan menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik wisatawan nusantara maupun wisatawan manca negara," jelas Ayu.

Keraton Yogyakarta akan Gelar Upacara Labuhan Merapi

Sleman, DIY - Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat akan melaksanakan upacara adat Labuhan Gunung Merapi dalam rangkaian peringatan naik takhta Sultan Hamengku Buwono X pada Minggu (8/5) dan Senin (9/5).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ayu Laksmidewi di Sleman, Sabtu, mengatakan upacara tersebut akan diawali dengan penyerahan uba rampe (sesajian) Labuhan dari Keraton Yogyakarta kepada Camat Depok di Pendopo Kecamataan Depok Minggu (8/5).

Dari Kecamatan Depok, ia melanjutkan, para abdi dalem dan Camat Depok akan mengarak uba rampe upacara ke Kecamatan Cangkringan dan menyerahkannya kepada Camat Cangkringan di Pendopo Kecamatan Cangkringan.

"Camat Cangkringan kemudian menyerahkan uba rampe tersebut kepada Juru Kunci Gunung Merapi Mas Kliwon Suraksohargo untuk dibawa ke Balai Labuhan di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan," katanya.

Sesampainya di Balai Labuhan di Kinahrejo (pendopo petilasan Mbah Maridjan), ia menuturkan, pelengkap upacara akan diinapkan satu malam dan pagi harinya, Senin (9/5)sekitar pukul 06.00 WIB, diarak menuju ke Bangsal Sri Manganti atau pos dua untuk upacara resmi Labuhan Merapi.

Juru Kunci Gunung Merapi Kliwon Suraksohargo akan memimpin arak-arakan menuju ke Bangsal Sri Manganti.

Uba rampe yang dilabuh pada upacara itu meliputi sinjang limar satu lembar, sinjang cangkring satu lembar, semekan gadhung satu lembar, semekan gadhung melati satu lembar, paningset udaraga satu lembar, kambil watangan satu biji, seswangen 10 biji, seloratus lisah konyoh satu buntal, yotro tindih dua amplop, dan destar doromuluk satu lembar.

Selain itu ada kembang setaman, nasi tumpeng, serta ingkung (hidangan ayam kampung) dan serundeng yang akan dibagikan kepada pengunjung usai upacara labuhan.

"Labuhan Merapi yang sudah menjadi agenda rutin dan hajat Kraton Ngayogyokarto, diharapkan menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik wisatawan Nusantara maupun wisatawan manca negara," kata Ayu.

GKR Hemas Prihatin dengan Perkembangan Budaya Yogyakarta

Sleman, DIY - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI GKR Hemas prihatin terhadap perkembangan budaya di Yogyakarta saat ini yang hanya berfokus pada masalah kesenian saja.

“Budaya tidak hanya pada ranah kesenian saja namun dapat diterapkan dalam bidang lainnya seperti budaya gotong-royong dan guyub rukun, serta pemahaman akan bahasa daerah setempat khusunya bahasa Jawa,” ujar GKR Hemas pada silaturahmi dan sosialisasi DPD RI di Dusun Gayamharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta, Rabu (6/4).

Menurut dia, pemahaman budaya sudah semakin menipis dan banyak anak muda sekarang yang tidak bisa bahasa Jawa.

“Di kota itu koe-koe, aku-aku, berbeda dengan di desa karena guyub rukun dan gotong-royong,” katanya.

Selain masalah budaya, GKR Hemas juga menampung aspirasi warga masyarakat yang mengeluhkan masalah sosial seperti bencana, kemiskinan dan kekurangan air ketika kemarau melanda di dusun yang berada paling timur di Kabupaten Sleman tersebut.

Menanggapi hal itu, GKR Hemas akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman dan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemprov DIY) untuk menanganinya.

Camat Prambanan Abu Bakar mengatakan, jumlah KK rawan kekeringan saat kemarau melanda sebanyak 2118, KK berada di daerah rawan lonsor sebanyak 289 dan KK miskin sebanyak 3.655.

“Ketika musim kemarau, truk tangki air berbondong-bondong ke Gayamharjo, kedepannya kami ingin secara mandiri mengatasi masalah kekeringan air di wilayah Gayamharjo,” ujar dia.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menyebutkan bahwa upaya penanganan bencana di Kecamatan Prambanan didukung oleh 1.512 orang relawan dan 39 organisasi yang tergabung dalam Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman, termasuk didalamnya FPRB Bandung Bondowoso yang ada di Prambanan.

“Selain kebencanaan, Kecamatan Prambanan juga menjadi pilot proyek penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Sleman,” katanya.

Menurut dia, melalui tim koordinasi penanggulangan kemiskinan daerah (TKPKD), TPK Kecamatan, TPK Desa, dan TPK Padukuhan, berbagai upaya pengentasan kemiskinan disinergikan dan digerakkan untuk memberdayakan masyarakat Prambanan keluar dari kondisi kemiskinan.

“Dari tahun ke tahun, jumlah kepala keluarga (KK) miskin di Kecamatan Prambanan terus menurun. Pada 2015, di Kecamatan Prambanan terdapat 16,79%, KK miskin atau 3.100 KK. Pada 2014, terdapat 18,19% KK miskin atau 3421 KK. Sedangkan pada 2013, terdapat 22,74% atau 3.684 KK,” jelasnya.

Seabad Sleman Diramaikan dengan Gelar Seni Ogoh-Ogoh

Sleman, DIY - Dalam rangka menyemarakkan hari jadi Kabupaten Sleman ke 100, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) setempat akan menghelat gelar seni ogoh-ogoh dengan tema “Fantasi Flora Fauna Hutan Salimar”. Acara ini rencananya akan berlangsung pada Selasa (8/3) mendatang.

Menurut Kepala Disbudpar Sleman, AA Ayu Laksmidewi, kirab ogoh-ogoh ini akan diikuti oleh 20 komunitas. Agenda kesenian ini akan digelar pada pukul 13.00 WIB dari kompleks Pasar Kutu Tegal Sinduadi Mlati menuju Jalan AM Sangaji. "Tepatnya, nanti finish di sekitar RS Sakina Idaman sepanjang 1,5 kilometer," tutur Ayu, Senin (29/2).

Ia menambahkan, penyelenggaraan gelar seni ogoh-ogoh ini merupakan yang kedua kalinya untuk menyemarakkan Hari Jadi Kabupaten Sleman. Tahun lalu pagelaran seni ogoh-ogoh juga ditampilkan pada agenda yang sama.

Namun Ayu meyakini, pagelaran tahun ini akan jauh lebih spesial. Pasalnya acara tersebut diselenggarakan untuk hari jadi Sleman yang ke-100. Selain itu, event budaya ini dimaksudkan untuk memberikan suguhan kepada wisatawan yang berkunjung ke DIY, khususnya Sleman.

"Kami berharap event ini dapat menjadi daya tarik yang bisa ditawarkan kepada para tamu hotel oleh pihak travel agent yang membawa tamu ke DIY maupun masyarakat umum," kata Ayu.

Selain kirab di jalur selokan Mataram dan Jalan AM Sangaji antara kompleks Pasar Kutu Tegal dan RS Sakina Idaman, semua peserta kirab juga melakukan display di perempatan Jalan Baru UGM. Adapun Ogoh-ogoh nantinya terdiri dari 15 komunitas masyarakat dan lima komunitas tematik.

Ayu mengemukakan, ke-15 komunitas masyarakat tersebut meliputi Margoagung Seyegan, Sumbersari Moyudan, Sanggar Sakura Mlati, Glagaharjo Cangkringan, Umbulmartani Ngemplak, Wonokerto Turi, Hargobinangun Pakem, Purwobinangun Pakem, Ambarketawang Gamping, Donokerto Turi, Blendangan Berbah, serta 5 ogoh ogoh ritual bertemakan “Sedulur papat limo pancer”. Sementara itu, ogoh-ogoh flora dan fauna yang ditampilkan di antaranya meliputi Hutan Bambu, Salak, Rusa, Ganesha, Kuda, Lembu, Raksasa, Kera, Lembu Sura, dan Sapi.

Wisatawan Asing Menari Tayub di Gelar Budaya Merapi

Sleman, DIY - Sedikitnya 17 wisatawan asing dari delapan negara turut hadir dan menari tayub bersama dengan 18 penari tayub serta para pejabat di Kabupaten Sleman pada puncak Gebyar Budaya Pelangi Bumi Merapi, Minggu sore.

Para wisatawan asing dari Jepang, Thailand, Vietnam, Ukraina, Filipina, Meksiko, Singapura dan Prancis tersebut mencoba mengikuti gerakan tarian tayub bersama dengan Penjabat Bupati Sleman Gatot Saptadi, Sekda Sleman Sunartono dan pejabat lainnya.

Puncak acara Gebyar Budaya Pelangi Bumi Merapi yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman tersebut berupa kirab budaya dari berbagai komunitas seni, budaya, dan pemangku kepentingan di bidang pariwisata.

"Semua kontingen yang hadir selain melakukan kirab sepanjang tiga kilometer juga melakukan display dihadapan dewan juri," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ayu Laksmidewi.

Peserta kirab Pelangi Budaya Bumi Merapi tersebut meliputi Drum Band dari Akademi Maritim Yogyakarta, Bregada Purna Paskibraka Indonesia, Bregada KRT Pringgodiningrat, Bregada Upacara Adat Bathok Bolu, Komunitas Paes Sekar Sedah, Desa Wisata Sidoakur, Batik Permata Bunda, Sadranan Agung Pangeran Purboyo, Desa Wisata Gabugan.

Kemudian Prodi Pariwisata UGM, Batik Sleman Mukti Manunggal, Bregada Waneng Caki Tempel, Ogoh-Ogoh Saparan Bekakan, Fakultas Teknik UNY, Desa Wisata Brayut, Upacara Adat Labuhan Merapi, Bregada Sentana Budaya, Desa Wisata Pajangan, Upacara Adat Saparan Kwagon, Tradisi Merti Dusun Sri Tanjung, Desa Wisata Grogol, Desa Wisata Pulesari, Desa Wisata Brajan.

"Turut pula Museum Gunungapi Merapi, Museum Geoteknologi Mineral UPN, Poeri Devata Resort, Hotel Royal Ambarukmo, Bank Sleman, Dimas Diajeng Sleman, Museum Sisa Hartaku, Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA, SMKN 1 Tempel, Rwestoran Mr. Blangkon, Monumen Jogja Kembali, Museum TNI AU Dirgantara Mandala, Museum Gempa Prof Sarwidi, dan Bank BRI Sleman," katanya.

Ia mengatakan, selain itu juga tampil perwakilan mahasiswa luar daerah dari Provinsi Bali, Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Riau, Kabupaten Banjarnegara serta kontingen dari Kota Surabaya.

Pascaerupsi, Kesenian Warga Merapi Dibangkitkan

Sleman, DIY - Bencana erupsi Merapi tahun 2010 tidak hanya mengakibatkan kerugian jiwa dan harta benda, tapi juga aset budaya. Untuk membangkitkan kesenian khususnya di lingkungan lereng Merapi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY memberikan bantuan seperangkat gamelan.

Kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi sosial ini sudah rutin dilaksanakan sejak tahun 2012. Tahun ini, bantuan gamelan diberikan kepada kelompok seni “Cahyo Budoyo” dari Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman.

Pelaksana harian BPBD DIY GBPH Yudaningrat menyampaikan, sampai saat ini setidaknya sudah 15 kelompok kesenian mendapat bantuan peralatan. “Bantuan ini diharapkan dapat memberikan stimulan untuk membangkitkan aktivitas sosial budaya di kawasan rawan bencana,” katanya, Selasa (14/9).

Sementara itu, Penjabat Bupati Sleman Gatot Saptadi mengatakan, musibah erupsi lima tahun silam memberikan dampak berat bagi warga khusus­nya yang tinggal di zona KRB. Butuh waktu cukup lama bagi mereka untuk dapat pulih dari kondisi tersebut.

Sleman Gelar Festival Ketoprak Mulai 11 September

Sleman, DIY - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Festival Ketoprak 2015 selama sembilan hari mulai Jumat 11 September hingga Sabtu 19 September 2015.

"Festival Ketoprak ini diikuti 17 kontingen yang mewakili masing-masing kecamatan di Kabupaten Sleman," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ayu Laksmidewi, Rabu.

Ketoprak, ujarnya, merupakan salah satu kesenian yang masih eksis di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terlebih di Kabupaten Sleman.

"Hampir di setiap pedukuhan di Kabupaten Sleman terdapat paguyuban ketoprak, disamping itu penyelenggaraan festival kethoprak merupakan suatu media untuk belajar Bahasa Jawa," katanya.

Ia mengatakan, "unggah-ungguh" (tatakrama) dan nilai filosofi yang terkandung dan tersirat dalam bahasa dan lakon kethoprak.

"Pelaksanaan festival ketoprak juga dimaksudkan untuk melestarikan dan mewariskan kesenian ketoprak kepada generasi muda," katanya.

Ia berharap generasi muda akan lebih mengenal Bahasa Jawa, mengenal dan memahami budi pekerti sekaligus mencintai kesenian ketoprak.

"Mengingat pertunjukan ketoprak selain merupakan tontonan juga mengandung nasihat dan tuntunan yang positif untuk membangun masyarakat yang berkualitas," katanya.

Ayu mengatakan, para pelaku ketoprak dibatasi maksimal berusia 35 tahun. Hal ini mengandung makna bahwa pemerintah daerah mengedepankan regenerasi pelaku seni.

"Selain itu juga sebagai upaya penanaman nilai-nilai budaya lokal yang adiluhung di kalangan generasi muda," katanya.

Festival Ketoprak 2015 akan dilaksanakan di tiga zona meliputi wilayah timur pada 11-13 September di lapangan Pokoh Wedhomartani Ngemplak, wilayah barat pada 14-16 September 2015 di Lapangan Krenggolan Margomulyo Seyegan dan Wilayah Tengah di Lapangan Denggung Tridadi Sleman pada 17-19 September 2015.

Dewan juri yang dihadirkan dalam festival ketoprak adalah Prof Dr Suminto A. Sayuti dari akademisi, praktisi kethoprak senior Widayat, dan budayawan Purqwadmadi.

Tiga penyaji terbaik akan mendapatkan tropi dan uang pembinaan masing-masing sebesar Rp15 juta, Rp10 juta, dan Rp7,5 juta. Selain itu juga akan diberikan hadiah lain kepada Juara Harapan I, II dan III yang masing-masing akan memperoleh uang pembinaan sebesar Rp5 juta.

Kemudian, untuk sutradara terbaik, penata iringan, penata busana dan rias, penata artistik, pemain pria, pemain putri, pemeran pembantu putra,dan pemeran pembantu putri terbaik akan mendapat hadiah masing-masing sebesar Rp2 juta.

Akhir Pekan, Ada Festival Upacara Adat di Sleman

Sleman, DIY - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta akan menggelar Festival Upacara Adat dan Tradisi Budaya 2015 selama dua hari pada Sabtu (5/9/2015) dan Minggu (6/9/2015) di taman parkir Meseum Gunungapi Merapi Hargobinangun Pakem.

"Festival upacara adat ini diikuti 17 kecamatan se-Kabupaten Sleman masing-masing mengirimkan satu kontingen," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ayu Laksmidewi, di Sleman, Rabu (2/9/2015).

Menurut dia, dari 17 kontingen perwakilan kecamatan se-Kabupaten Sleman tersebut masing-masing terdiri atas minimal 50 orang.

"Festival Upacara Adat dan Tradisi Budaya merupakan sebuah gelar kolosal tradisi unggulan yang dilaksanakan sebagai upaya untuk menjaga eksistensi budaya lokal yang adiluhung," katanya.

Ayu mengatakan, selain itu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk penguatan nilai-nilai tradisi dan mewariskan nilai-nilai kearifan lokal kepada masyarakat khususnya generasi muda serta sebagai wahana apresiasi yang bermakna bagi para pelaku ritual upacara adat dan tradisi budaya serta masyarakat umum.

"Melalui ajang ini diharapkan tumbuh kompetisi positif sehingga ke depan akan meningkatkan kualitas SDM pelaku ritual upacara adat dan tradisi budaya di wilayah Kabupaten Sleman," katanya.

Ia mengatakan, diharapkan kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk sajian pertunjukan atraksi budaya yang dapat mendukung dan menjadikan daya tarik tersendiri terhadap kepariwisataan di Kabupaten Sleman.

"Melalui event ini akan diharapkan dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke wilayah Kabupaten Sleman," katanya.

Dalam festival upacara adat ini, kata dia, akan diambil lima penyaji terbaik yang akan mendapatkan tropi dan uang pembinaan masing-masing Rp 6 juta, Rp 5 juta, Rp 4 juta, Rp 3 juta dan Rp 2 juta.

Sleman Kirim Duta Seni ke Korea

Sleman, DIY - Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengirimkan lima seniman yang berstatus pelajar untuk misi kebudayaan dalam rangka diplomasi budaya ke Korea Selatan dalam acara "Gang Neung International Junior Art Korea" awal Agustus 2015.

"Kelima seniman yang semuanya masih berstatus pelajar usia 17 dan 18 tahun tersebut diberangkatkan bersama dengan perwakilan kabupaten/kota lain se DIY," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman Ayu Laksmidewi di Sleman, Kamis (30/07/2015).

Kelima pelajar tersebut adalah Danu Anggada Bimantara, Indra Tirta Wijaya, Erina Dwi Yoga, Bayu Probo Prasopo Aji dan Farid Imam Rahmanto. Mereka akan menampilkan tari garapan gaya Jogja dan musik acapela.

Menurut Ayu, pengiriman misi kebudayaan tersebut difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan DIY melalui dana keistimewaan DIY.

"Mereka adalah duta-duta yang terbaik sehingga dipilih untuk mewakili Sleman dalam event internasional. Mereka mengemban misi besar sebagai duta bangsa di kancah internasional dalam rangka diplomasi budaya," katanya.

Ia mengatakan, kesempatan yang bagus tersebut, mereka diharapkan benar-benar siap dan dapat tampil dengan sebaik-baiknya.

"Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga sikap, perilaku sopan santun budaya Jawa," katanya.

Ayu mengatakan, sebagai duta budaya di kalangan masyarakat mereka juga memiliki peran yang strategis untuk menunjukkan dan membuktikan bahwa generasi muda memiliki kecintaan yang tinggi terhadap budaya lokal di tengah-tengah derasnya pengaruh arus globalisasi.

Festival Bergodo Keprajuritan Rakyat Semarak

Sleman, DIY - Lebih dari 30 group bergodo se DIY mengikut Festival Bergodo Keprajuritan Rakyat yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY, Minggu (24/5). Mengambil start dari Lapangan Pemda, mereka lalu jalan kaki menuju Lapangan Denggung Sleman.

Iringan musik khas terdengar terus mengalun pelan. Musik ini mengiringi jalannya tim yang tampak kompak. Mulai dari pakaian hingga cara berjalan. Tombak dan panah juga tidak luput mereka bawa, sebagai ciri bergodo. Tidak hanya berjalan, mereka juga menampilkam sejumlah atraksi dalam bentuk langkah macak

.

Widihasto selaku sekretaris panitia mengatakan, ada 31 tim bergodo dari seluruh Yogyakarta yang ikut ambil bagian pada event yang baru dua kali dilangsungkan ini. Tahun lalu, Kota Yogyalarta bertindak sebagai tuan rumah. Tahun ini giliran Kabupaten Sleman dan tahun depan kegiatan serupa direncanakan akan berlangsung di Kabupaten Bantul.

"Bergodo keprajuritan rakyat ini merupakan imitasi dari bergodo keraton. Sebab mereka murni dari masyarakat dari tingkat desa hingga kecamatan. Dibutuhkan kerjasama antar tim agar selama berjalan, mereka tetap bisa kompak. Sebab mereka diharuskan untuk berjalan," ujarnya.

Dalam setiap tim bergodo, terdiri antara 40-60 orang. Tujuan diselenggarakan kegiatan ini selain untuk melestariman kebudayaan juga untuk memperkenalkan bergodo kepada generasi muda. Sebab, tidak dapat dipungkiri selama ini yang sering terlibat aktif dalam bergodo sudah berusia lanjut. "Padahal bergodo di Yogyakarta ini sangat beda dengan daerah lain," jelasnya.

Salah satu bergodo yang ambil bagian dalam festival ini, yakni Kyai Selarong dari Pajangan Bantul. Berbeda dengan tim lainnya, mereka menampilkan replika Pangeran Diponegoro yang naik kuda sambil membawa keris. Ini sebagai simbol perjuangan Pangeran Diponegoro pada zaman penjajahan dulu.

"Kita bikinnya sekitar dua pekan. Kita sengaja menampilkan sosok Pangeran Diponegoro, agar generasi muda dapat ikut merasakan perjuangannya dulu," jelas Jumari.


Keraton Yogyakarta Kembali Gelar Labuhan Merapi

Sleman, DIY - Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat kembali menggelar upacara adat Labuhan Merapi dalam rangka memperingati naik tahta Sultan HB X.

"Rangkaian acara labuhan tersebut diawali pada Selasa 19 Mei 2015 pukul 08.00 WIB berupa penyerahan uba rampe labuhan dari Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat kepada Camat Depok di Pendopo Kecamatan Depok," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ayu Laksmidewi di Sleman, Senin.

Menurut dia, uba rampe tersebut oleh para abdi dalem dan Camat Depok diarak ke Kecamatan Cangkringan. Kemudian pada jam 9.30 WIB Camat Depok menyerahkan uba rampe tersebut kepada Camat Cangkringan di Pendopo Kecamatan Cangkringan.

"Camat Cangkringan kemudian menyerahkan uba rampe tersebut kepada Juru Kunci Gunung Merapi Mas Kliwon Suraksohargo atau yang akrab dipanggil dengan Pak Asih untuk dibawa ke Balai Labuhan di Kinahrejo dengan pengawalan bregada, abdi dalem, masyarakat dengan menggunakan kendaraan jeep melewati Huntap Plosokerep," katanya.

Ia mengatakan, sesampainya di Balai Labuhan di Kinahrejo (pendopo petilasan Mbah Maridjan) sekitar pukul 11.30 WIB akan diadakan upacara seremonial dan diselingi fragmen labuhan dan kesenian tradisional jathilan.

"Pada malam harinya pukul 19.00 WIB di Balai Labuhan di Kinahrejo dilakukan doa dan kenduri wilujengan dilanjutkan dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Dumadining Gunung Merapi oleh Dalang Ki Cermo Suwondo," katanya.

Selanjutnya pada Rabu 20 Mei 2015 mulai pukul 06.00 WIB rangkaian uba rampe akan diarak dalam perjalanan sekitar dua jam menuju ke Bangsal Sri Manganti untuk dilakukan upacara resmi Labuhan Merapi.

"Uba rampe yang dilabuh berupa sinjang limar satu lembar, sinjang cangkring satu lembar, semekan gadhung satu lembar, semekan gadhung melati satu lembar, paningset udaraga satu lembar, kambil watangan satu biji, seswangen 10 biji, seloratus lisah konyoh satu buntal, yotro tindih dua amplop, destar doromuluk satu lembar," katanya.

Ia mengatakan, ikut menyertai uba rampe labuhan yakni kembang setaman, nasi tumpeng, ingkung serta serundeng, yang dibagikan kepada setiap pengunjung selesai upacara labuhan.

"Event labuhan Merapi yang sudah menjadi agenda rutin dan hajat Kraton Ngayogyokarto, diharapkan menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik wisatawan nusantara maupun wisatawan manca negara," katanya.

Budaya Lokal Sleman Tetap Dilestarikan

Sleman, DIY - Sebanyak 20 (dua puluh) Desa Budaya di Kabupaten Sleman siap untuk mengembangkan dan melestarikan budaya lokal yang adiluhung melalui berbagai program yang akan dilaksanakan. Hal ini mendukung sepenuhnya keberadaan keistimewaan DIY sebagaimana diamanatkan dalam UU No.13 Tahun 2012.

Demikian dinyatakan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ir. AA Ayu Laksmidewi TP, MM saat Sosialisasi Desa Budaya Kabupaten Sleman, Rabu (01/04/2015) di Ruang Rapat Golong Gilig 2 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Jl. KRT Pringgodiningrat No.13 Beran Tridadi Sleman.

Ayu menambahkan konsep yang diterapkan dalam pengembangan desa budaya adalah konsep pemberdayaan. Dalam hal ini diharapkan masing-masing desa budaya bersama dengan pendamping dan pengawasnya masing-masing dapat memetakan dan menggali kemampuan, kekuatan dan potensi yang dimilikinya secara maksimal. Kemudian mengoptimalkan keberlangsungan dan keberlanjutan aset budaya yang dimilikinya dengan program-program yang selaras serta kreatifitas yang berdasarkan pada budaya lokal sehingga dapat memperkuat jati diri Jogja yang istimewa.

"Budaya lokal yang adiluhung perlu dijaga dan dipertahankan dengan baik, diantaranya budaya gotong royong yang memiliki nilai-nilai yang sangat kuat di kalangan masyarakat. Selain itu budaya menjaga martabat juga perlu terus ditumbuhkembangkan dengan memperkuat semangat kemandirian dan pemberdayaan potensi yang dimiliki yang meliputi adat dan tradisi, kesenian, permainan tradisional, kuliner, sastra dan warisan budaya lainnya."

Karnaval Budaya Sinduadi Meriah

Sleman, DIY - Sejumlah kesenian baik tradisional maupun modern akan berkolaborasi meramaikan karnaval budaya Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Minggu (7/12/2014). Gelaran tersebut merupakan puncak acara peringatan HUT ke-68 Desa Sinduadi.

Gita Gemilang, Koordinator Seni Budaya HUT Sinduadi mengatakan sebanyak 20 kelompok kesenian di Desa Sinduadi akan berpartisipasi dalam acara tersebut. Di antaranya kelompok kesenian hadrah, bergada, tari tradisional dan modern, serta kreasi kostum.

"Acara ini merupakan even perdana yang diselenggarakan oleh Desa Sinduadi. Biasanya hanya pagelaran wayang kulit, tapi pada tahun ini evennya diperbesar," ungkapnya saat ditemui di Kantor Desa Sinduadi, Jumat (5/12/2014).

Menurutnya, selain sebagai peringatan HUT Desa Sinduadi, acara tersebut juga bertujuan untuk melestarikan budaya. Di sisi lain, melalui even tersebut Pemerintah Desa Sinduadi bermaksud mengajak warganya untuk mencintai kebudayaan dan kesenian tradisional.

"Kami juga terbuka pada kesenian modern, namun acara ini dimaksudkan agar warga Sinduadi tidak melupakan kesenian tradisional sebagai bagian dari kebudayaan lokal," paparnya.

Gita menjelaskan karnaval ini mengambil konsep street performance. Setiap kelompok kesenian akan menampilkan kebolehannya tidak hanya di panggung utama namun juga pada saat karnaval berlangsung.

"Rute yang diambil sepanjang 3 kilometer, dimulai dari Kantor Desa Sinduadi hingga ke Sindu Kusuma Edupark (SKE) sebagai panggung utama," terangnya.

-

Arsip Blog

Recent Posts