Kesenian Badawang Diharapkan Jadi Ikon Baru Kota Bandung

Bandung, Jabar - Selain kesenian Benjang Helaran dengan Bengberokannya, “Festival Ujungberung Ke-6” juga memperkenalkan kesenian Badawang. Kesenian berupa hasil penggalian seniman Ujungberung ini diharapkan semakin memperkaya ikon kesenian Kota Bandung asal Kec. Ujungberung.

“Selama ini kesenian Benjang Helaran dengan Bengberokannya sangat identik dengan Ujungberung, bahkan sudah mejadi ikon kesenian Kota Bandung. Karenanya, pada festival Ujungberung kali ini kami memperkenalkan kepada khalayak kesenian Badawang, yang tidak kalah uniknya dengan kesenian Benjang Helaran dengan Bengberokannya,” ujar Ketua BKPMK, Wawan Gunawan, yang juga selaku ketua pelaksana dan penggagas Festival Ujungberung, kepada “PRLM” disela-sela rangkaian acara “Ujungberung Festival Ke-6” di Alun-alun Ujungberung.

Dikatakan Wawan, meski kesenian Badawang disejumlah daerah dapat ditemui, namun masing-masing memiliki ciri khas. Semisal seni Badawang yang ada di Ujungberung, biasa ditampilkan dalam ajang seni helaran (pesta rakyat atau festival).

Seni Badawang adalah salah satu bentuk kesenian berupa raksasa bertubuh tinggi besar dengan muka menyerupai sosok raksasa ataupun tokoh jenaka. “Bentuknya tidak jauh beda dengan kesenian Ondel-ondel Betawi, tapi yang membedakan dari seni Badawang kita adalah tokoh yang ditampilkan biasanya tokoh pawayangan,” ujar Wawan.

Sementara, Jajat Sudrajat salah seorang seniman Ujungberung mengatakan Badawang merupakan gambaran tradisi totemistik masyarakat agama asli Indonesia walaupun dalam perkembangannya mengalami perubahan dalam bentuk yang lebih lucu ataupun kocak.

“Berdasarkan latarbelakang sejarah, ditatar Sunda keberadaan Badawang disebut juga memeniran karena dilihat dari bentuk yang besar dan tinggi dilambangkan dengan manusia yang tubuhnya besar dan tinggi serta identik dengan orang barat yang dalam hal ini orang Belanda, karenanya disebut meneer,” ujar Jajat.

Musik pengiring untuk badawang biasanya mempergunakan jenis musik yang mudah dibawa seperti kendang, goong, bedug, terompet, dog-dog. Umumnya musik yang dibawakan tidak jauh berbeda dengan kesenian pencak silat, seperti musik padungdung, golempang, dan belakangan diiringi musik dangdut, pop sunda dangdut dan lainnya. (A-87/kur)

Argentina Vs Jerman di Tengah Kontroversi

Peraturan sederhana bagi setiap tim saat menjalani pertandingan di turnamen besar: jangan membuat kesalahan. Oh, dan sebaiknya juga berharap wasit tidak melakukan kesalahan fatal. Meksiko dan Inggris melanggar aturan itu, berkali-kali. Sialnya, wasit juga tidak bertugas dengan baik, mengesahkan gol ”off-side”ke gawang Meksiko dan menganulir gol Frank Lampard yang jelas-jelas sah.

Argentina akan menantang Jerman di perempat final, 3 Juli mendatang, meninggalkan Meksiko dan Inggris yang terluka, sebagian karena blunder wasit yang memalukan. Argentina menghancurkan Meksiko 3-1, Senin (27/6), dengan gol pertama yang dicetak Carlos Tevez jelas-jelas off-side.

Para pemain memprotes keras wasit Roberto Rosetti asal Italia dan asistennya. Namun, wasit tetap mengesahkan gol pada menit ke-26 itu. Tevez dalam posisi off-side menyundul bola tendangan Lionel Messi yang mengarah ke gawang Meksiko. Tayangan ulang televisi dan layar lebar di stadion semakin mempertajam kontroversi itu.

Tujuh menit kemudian, bek Meksiko, Ricardo Osorio, kehilangan bola dan direbut Gonzalo Higuain untuk mencetak gol kedua Argentina. Tevez mencetak gol kedua, kali ini indah dan tanpa kontroversi pada menit ke-52. Meksiko mendapat gol hiburan pada menit ke-71 melalui Javi Hernandez.

Kontroversi Tevez terjadi hanya beberapa jam setelah wasit asal Uruguay, Jorge Lorrionda, dan asistennya, Mauricio Espinosa, melakukan kesalahan fatal saat tidak melihat bola tendangan Lampard yang menerpa mistar memantul masuk melewati garis gawang sebelum memantul keluar. Oleh media, insiden ini disebut ”Blunder of Bloemfontein”. Inggris seharusnya menyamakan kedudukan 2-2 jika gol itu disahkan. Namun, mereka justru harus mengakhiri laga dengan dipermalukan Jerman, 1-4.

Pelatih Argentina Diego Maradona mengatakan, ia dengan senang hati menyambut kesempatan untuk sekali lagi bertarung melawan Jerman. ”Saya merasa seperti mengenakan seragam dan bermain sendiri,” kata Maradona dikutip AP.

Pelatih Meksiko Javier Aguirre menyatakan, dua kesalahan membuat timnya kalah pada pertandingan itu. ”Pada beberapa menit pertama, kami superior. Namun, ketika kami kebobolan sebuah gol yang jelas-jelas off- side, kemudian kami melakukan kesalahan di lini pertahanan. Dua kesalahan membuat perbedaan yang dramatis,” ujar Aguirre.

Dua kontroversi itu memicu desakan pada FIFA agar mengadopsi teknologi guna membatu tugas wasit. Dari dua insiden itu, Presiden FIFA Sepp Blatter melihat dengan mata kepala sendiri kejadian di Bloemfontein. Blatter terakhir kali menolak penggunaan teknologi untuk sepak bola.

Kontroversi

Banyak yang mengkritik, Blatter sangat sadar teknologi, misalnya dengan memakai Tweeter, untuk menjaga citranya. Namun, ia menutup telinga ketika teknologi ingin digunakan untuk menjaga citra sepak bola.

Dalam Tweeter-nya, Minggu, Blatter menyebutkan, ia tengah dalam perjalanan untuk menonton laga Inggris vs Jerman.

Jika Blatter berada di Stadion Free State, seharusnya ia melihat bola tendangan Lampard sudah melewati garis gawang. Mustahil orang tidak melihat, kecuali Lorrionda dan Espinosa. Blatter seharusnya juga menyaksikan tayangan televisi atas gol pertama Tevez dan mulai memikirkan teknologi untuk kebaikan sepak bola yang ia cintai.

Jangan terjebak dengan menyamakan keputusan wasit pada dua laga itu seperti kontroversi-kontroversi yang tercipta saat belum ada teknologi seperti zaman sekarang. Tidak ada yang tahu pasti apakah gol Geoff Hurst pada menit ke-101 ke gawang Jerman Barat bola benar-benar telah melewati garis gawang atau belum. Mustahil untuk mengatakan 100 persen bahwa hakim garis asal Soviet, Tofik Bakhramov, membuat keputusan benar atau keputusan salah.

Kasus di Afrika Selatan kali ini tentu sangat berbeda. Tendangan Lampard terbukti telah melewati garis gawang. Ini bukan revans Jerman atas gol tahun 1966. Ini gol Inggris yang sah. Wasit seharusnya melihat, hampir semua orang melihat, bahkan tanpa bantuan teknologi video.

Gol Tevez juga bisa dipastikan off-side. Praktis semua orang, kecuali Rosetti dan asistennya, melihat, Tevez orang terakhir di pertahanan Meksiko saat menyundul bola dari Messi. Fabio Capello telah merayakan gol Lampard, hanya untuk melihat dengan kecewa wasit tidak mengesahkannya. Para pemain Meksiko memprotes hakim garis, penonton juga melihat itu off-side, tetapi wasit mengesahkan gol itu.

Jika gol Inggris disahkan atau gol Argentina dianulir, jalan pertandingan akan berbeda. Inggris dan Meksiko tidak harus bermain lebih menyerang untuk mengejar gol, yang menimbulkan risiko terkena serangan balik dengan pertahanan terbuka.

Layak menang

Akan tetapi, di luar kontroversi gol Lampard yang tidak disahkan atau gol Tevez yang disahkan, Jerman dan Argentina layak memenangi pertandingan itu. Dua insiden itu tidak bisa menutup fakta bahwa Inggris memang bermain buruk di Piala Dunia kali ini, sementara Argentina lebih berkelas ketimbang Meksiko.

Jerman lebih muda, lebih terorganisasi, lebih bersemangat, lebih beruntung, lebih cerdas, serta lebih bertenaga daripada pasukan Inggris. Argentina lebih kreatif, lebih cepat, dan lebih segala- galanya ketimbang Meksiko.

Melihat permainan kedua tim, pertemuan antara Argentina dan Jerman di perempat final bisa dikatakan terlalu awal. Setidaknya, mereka seharusnya bertemu di semifinal. Ini partai ulangan 2006. Bagi Argentina, pertemuan kali ini merupakan kesempatan untuk melakukan revans atas kekalahan di perempat final 2006, yang diakhiri dengan perkelahian antarpemain kedua tim.

Maradona juga berkesempatan revans atas kekalahannya saat menjadi kapten Argentina melawan Jerman Barat pada final Piala Dunia 1990. Maradona berjanji, ia akan memilih pemain terbaik melawan Jerman. ”Kami melihat situasi dulu, lalu mencoba memilih pemain terbaik untuk menunjukkan bakat kami melawan Jerman. Ini akan menjadi tim yang menjamin kemenangan atas Jerman,” ujar Maradona. (MH SAMSUL HADI dari Johannesburg, PRASETYO EKO P)

Kerinci, Sekepal Tanah Surga yang Terabaikan

Oleh Irma Tambunan dan Ilham Khoiri

Kerinci, di perbatasan Jambi dan Sumatera Barat, bisa dibilang surga dunia wisata. Kawasan ini tak saja memiliki banyak pesona alam dan budaya, tetapi semuanya hadir bersama: gunung, danau, air terjun, kebun teh, hutan taman nasional, peninggalan bersejarah, dan seni tradisional.

Mari kita daki Bukit Kayangan, satu kawasan puncak di Sungai Penuh, pusat kota kabupaten yang telah dimekarkan dan berjarak 10 kilometer dari pusat kota.

Memandang ke arah barat, pepohonan rimbun memenuhi gugusan Bukit Barisan. Berpaling ke timur, Kota Sungai Penuh terhampar di sebuah lembah bepermukiman padat. Tampak pula Danau Kerinci dengan airnya yang kebiruan.

Di puncak bukit itu kita bisa merasakan udara dingin yang segar. Kabut dengan cepat menyelimuti seluruh pemandangan. Bak berada dalam dunia mimpi. ”Bukit ini jadi favorit wisatawan yang ingin menikmati seluruh kawasan Kerinci dari kejauhan,” papar Sofa, warga Sungai Penuh, awal Mei lalu.

Turun dari Bukit Kayangan, kita bisa menuju Kayu Aro, sentra pertanian hortikultura dan perkebunan teh di kaki Gunung Kerinci. Hamparan kebun teh tua membentuk petak-petak seperti motif beludru. Tak hanya menawan, kebun ini juga punya banyak keunikan.

Didirikan Belanda tahun 1928, Kebun Teh Kajoe Aro menjadi satu hamparan teh terluas di dunia, 2.624 hektar, yang mencakup 29 desa. ”Teh Kajoe Aro menjadi langganan para bangsawan di Eropa,” kata Saiful Kholik Tanjung, Asisten Kepala Perkebunan Teh PTPN VI di Kayu Aro.

Di atas beludru hijau itu, Gunung Kerinci terlihat gagah. Menjulang setinggi 3.805 meter di atas permukaan laut. Ini adalah gunung vulkanik tertinggi di Sumatera. Tak jauh dari kawasan ini terdapat Danau Gunung Tujuh pada ketinggian 1.950 meter di atas permukaan laut, sebagai danau vulkanik tertinggi di Asia Tenggara. Indahnya....

Kerinci terasa semakin sempurna ketika kita mengetahui bahwa daerah itu juga kaya akan seni dan budaya tradisional, terutama tari dan lagu, yang rutin digelar pada Festival Danau Kerinci di pelataran danau. Selain itu, ada pula sejumlah batu besar peninggalan zaman megalitik pada awal Masehi, Danau Kaca, Rawa Bento, Air Terjun Telung Berasap, dan Air Panas Sumurup.

Daftar wisata alam di Kerinci sekitar 20 obyek. Semuanya punya pesona kuat karena umumnya masih perawan alias terpelihara dengan baik.

Saking indah dan lengkapnya pesona alam di kawasan ini, muncul sebutan yang agak bombastis: Kerinci bagaikan sekepal tanah surga di dunia.

”Pokoknya, jangan mati sebelum ke Kerinci,” demikian pesan Bustomi (45), warga Gunung Tujuh, Kerinci.

Akses sulit

Sayangnya, berbagai potensi alam itu tak didukung infrastruktur memadai. Sarana pendukung seperti jalan raya, angkutan umum, dan penginapan kurang menunjang. Ini problem klasik yang menimpa banyak pengembangan wisata di Tanah Air. Soal akses jalan raya bisa menjadi masalah serius.

Kerinci saat ini bisa diakses dari tiga lokasi, yaitu dari Tapan dan Solok Selatan, Sumatera Barat, serta Bangko, Jambi. Di antara ketiga akses itu, hanya jalan dari Solok Selatan menuju Sungai Penuh yang kondisinya baik, walaupun berkelok-kelok. Sementara, dari Tapan dan Bangko, jalannya hancur-hancuran.

Jalan dari Kota Bangko menuju Kerinci sepanjang 60-an kilometer sudah lama rusak. Begitu pula ruas dari Tapan menuju Sungai Penuh. Lubang besar, aspal terkelupas dan retak-retak sangat mengganggu perjalanan.

Beberapa titik di jalanan yang berkelok-kelok di atas bukit itu juga longsor. Saat hujan deras, longsoran kerap menyelimuti badan jalan. Kendaraan sulit melintas, bahkan jika melintas bisa tertimbun reruntuhan tanah merah.

”Jalan di sini deg-degan terus. Takut tergelincir masuk jurang atau terkena runtuhan longsoran,” ujar Faisal, pengunjung dari Jakarta.

Sebenarnya ada juga transportasi udara, dari Bandar Udara Depati Parbo di Sungai Penuh. Setelah hampir tiga tahun ditutup, bandara itu belakangan ini beroperasi kembali.

Perjalanan udara dari Kota Jambi ke Kerinci dapat ditempuh satu jam saja. Namun, frekuensi penerbangannya rendah. Sebulan terakhir ini satu-satunya maskapai penerbangan dari Jambi menuju Kerinci, Riau Airlines, bahkan tidak lagi beroperasi, dari semula dua kali seminggu.

Transportasi umum lainnya juga minim. Untuk menempuh perjalanan darat selama 10-12 jam dari Jambi ke Kerinci hanya tersedia sejumlah minibus dan bus ekonomi. Tingkat kenyamanannya jauh dari memadai.

Hotel yang berfasilitas baik masih terbatas. Tapi, di Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, ada sejumlah rumah warga yang dijadikan home stay. Tamu bisa menginap di sana sambil larut dalam kehidupan warga yang sebagian besar bekerja sebagai petani sayur.

Lemahnya infrastruktur membuat pesona alam Kerinci menjadi terabaikan, bahkan seperti terisolasi. Akibatnya, Kerinci belum menjadi tujuan wisata favorit bagi wisatawan domestik, apalagi mancanegara.

Penurunan

Persoalan infrastruktur menyebabkan jumlah wisatawan asing ke Kerinci terus menyusut dalam tiga tahun terakhir. Menurut catatan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (DPOKP) Kerinci, tahun 2007 terdapat 2.629 wisatawan asing. Jumlah ini menurun menjadi 2.601 orang pada 2008, dan melorot lagi menjadi 2.267 orang pada 2009.

Menurut Kepala Dinas DPOKP Kerinci Arlis Harun, rata-rata 70 wisatawan mengunjungi sejumlah obyek wisata di Sumatera per hari, dari arah selatan. Ketika melewati Kota Bangko yang merupakan pintu gerbang menuju Kerinci dan Sumatera Barat, wisatawan asing umumnya memilih untuk meneruskan perjalanan ke Sumatera Barat. Soalnya, jalan dari Kota Bangko menuju Kerinci rusak berat.

”Banyak wisatawan yang batal mengunjungi Kerinci setelah tahu jalannya hancur. Bagaimanapun, infrastruktur memang jadi salah satu pertimbangan utama wisatawan,” tutur Arlis.

Ketua Asosiasi Agen Travel (Asita) Jambi Ali Siwon mengatakan, lebih dari 60 persen wisatawan yang berkunjung ke Kerinci datang dari Padang, bukan dari Jambi. ”Infrastruktur dari Padang jauh lebih baik sehingga wisatawan lebih nyaman menempuh jalur itu,” ujarnya.

Itulah fakta saat ini. Jika tak dibangun infrastruktur yang memadai, surga dunia tersebut tentunya akan terus terpinggirkan. Jargon ”jangan mati sebelum ke Kerinci” agaknya menjadi sebatas wacana saja.

Minat Pemuda Terhadap Budaya Minim

Sambas - Lunturnya dialek bahasa Melayu di kalangan generasi muda Malaysia patut menjadi pelajaran bagi kita. Miris dengan kondisi tersebut, mahasiswa Akademik Pengkajian Melayu (APM) Malaysia melakukan Studi Banding Budaya Melayu di Kabupaten Sambas selama seminggu.

Sebanyak 23 mahasiswa S2 tersebut berasal dari Universiti Malaya. Sabtu (12/6) lalu, mereka mengawali penelitiannya mengenai budaya Melayu di Desa Sebadi dan Desa Ratu Sepudak, Kecamatan Teluk Keramat.

Guna mendukung kegiatan tersebut, Dinas Pemuda Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Sambas mengenalkan situs sejarah budaya Sambas, diantaranya Istana Alwatzikoebillah Sambas, ziarah ke Makam Ratu Sepudak dan menyaksikan secara langsung seni tradisional, seperti Tari Otar-otar, Bekesah dan dialek bahasa Melayu. “Tak hanya itu, para mahasiswa juga menyaksikan seni Ratib Saman dan pertunjukan Alok Gambang,” kata Kabid Budaya Disporabudpar Kabupaten Sambas Sherly Nurlita SH didampingi Kasi Budaya Disporabudpar Kabupaten Sambas Tajili kepada Equator, Sabtu (12/3) saat melakukan kunjungan ke Desa Sebadi, Kecamatan Teluk Keramat dan Desa Kota Lama, Kecamatan Galing.

Ditemui terpisah, Dosen Pembimbing Mahasiswa APM Dr Sudarsono mengatakan, banyak hal mereka peroleh setelah berkunjung ke Kabupaten Sambas, seperti Tari Otar- otar dan Desa Kota Lama Kecamatan Galing, yang tidak banyak mahasiswa Malaysia mengetahuinya. “Kebudayaan lain, adalah mengenal tradisi adat pernikahan Melayu Sambas. Kami juga menyaksikan pagelaran Tari Ratib Saman, Mayong, Bubu, dan Tari Radat di Desa Sebadi,” jelasnya.

Menurutnya, tidak banyak mahasiswa yang tertarik mengambil Jurusan Budaya Melayu. Justru, banyak mahasiswa di Malaysia menekuni bidang teknologi. Akibatnya, tidak banyak generasi muda disana yang tahu mengenai kebudayaan Melayu yang sesungguhnya. Bahkan, di Malaysia dialek bahasa Melayu sudah jarang ditemukan. “Ada sebagian kecil perkampungan yang masih dihuni warga Melayu dengan mempertahankan tradisi yang ada. Sementara di pusat kota, bahasa Melayu yang ada sudah bercampur dengan bahasa Inggris,” ungkapnya.

Kondisi ini paparnya, terjadi karena banyak pemuda maupun pemudi mengenyam pendidikan di luar negeri. Sehingga bahasa Melayu dan bahasa Inggris sering digunakan masyarakat Malaysia secara bercampur-campur. “Seiring berkembangnya teknologi, semakin meredupkan minat masyarakat meneliti budayanya,” ucapnya.

Oleh karena itu lanjutnya, kunjungan ke Kabupaten Sambas bertujuan untuk mengenalkan para mahasiswa dan berminat mendalami bahasa, adat dan budaya Melayu di Sambas. “Hasilnya akan menjadi sebuah referensi mahasiswa, setelah melihat secara langsung kebudayaan Melayu Sambas itu sendiri,” tegasnya.

Hal senada diungkapkan Amin, Ketua Regu Mahasiswa Malaya. Ia kagum dengan semua yang disaksikan dalam kunjungan ke Kabupaten Sambas. Mulai dari keramahtamahan masyarakat hingga sambutan yang diberikan masyarakat. “Banyak pagelaran sudah disaksikan, begitu juga dengan jamuan makanya. Sungguh luar biasa,” pujinya.

Sementara itu, Kepala Dusun Kota Lama, Kecamatan Galing Marwan menyambut baik kunjungan mahasiswa Malaysia untuk melakukan pengkajian kebudayaan Melayu Sambas. Ia berharap hasil kunjungan mahasiswa dapat makin mengenalkan seni dan budaya Kabupaten Sambas ke mancanegara. (edo)

Tembang Jawa Awali Konser Gamelan di Alpen

London, Inggris - Tembang "Suwe Ora Jamu" mengawali konser gamelan Jawa yang digelar di panggung utama Place du Manoir, Martigny, di pusat kota Martigny, Kanton Valais, pegunungan Alpen, Swiss.

Konser tersebut mewakili Indonesia pada festival 5 benua "Festival des Cinq Continents" yang menampilkan berbagai macam jenis seni dan budaya dari mancanegara, demikian Pensosbud KBRI Bern Rizka Desinta dalam keterangannya yang diterima koresponden Antara London, Minggu.

Lebih dari 200 pengunjung ikut menyaksikan konser gamelan Jawa, yang dibawakan lima belas remaja, murid Sekolah Musik 1, 2, 3 Musique Sion, pimpinan Nicole Coppey.

Selain tembang "Suwe Ora Jamu", juga mengalun tembang Jawa lainnya seperti Kupu Kuwi dan Kagok Semarang yang turut memeriahkan konser tersebut.

Dalam sambutannya, Pimpinan Kelompok Musik Nicole Coppey, mengucapkan terima kasih atas bantuan dan dukungan dari Kedutaan Besar RI di Bern yang telah meminjamkan Gamelan Jawa kepala kelompok musik pimpinannya.

Konser Gamelan Jawa ini bukan yang pertama kalinya digelar Kelompok Musik pimpinan Nicole Coppey. Sebelumnya, Kelompok Musik pimpinannya telah menggelar konser serupa di Sion, Montreux dan di Bern, Swiss.

Salah seorang warga Indonesia yang telah tinggal selama 29 tahun di Kota Martigny, Ida Pellaud, menyatakan sangat terharu dan bangga, dapat mendengar suara gamelan Jawa di Martigny, alunan merdu yang telah lama tidak didengarnya. (H-ZG/A024)

Berbagai Tarian Tradisional Siap Ramaikan FDS

Jayapura, Papua - Berbagai tarian tradisional khas Papua siap meramaikan pesta budaya Festival Danau Sentani (FDS) III tahun 2010 yang akan digelar di bibir Danau Sentani, Kalkote, Kabupaten Jayapura pada 19 Juni hingga 23 Juni mendatang.

"Sedikitnya 1.600 penari tradisional Papua baik perempuan maupun laki-laki dengan berpakaian tradisional dari kulit kayu dan daun-daunan telah siap meriahkan pesta budaya, "Festival Danau Sentani " ke III tahun 2010," kata Ketua Panitia FDS, Anna O.S.H.Sawai, di Jayapura, Senin.

Ia mengatakan, berbagai persiapan pesta budaya telah dilakukan sejak awal tahun 2010 lalu, seperti persiapan fisik berupa lokasi pagelaran perhelatan akbar tersebut di Kalkote.

Selain itu juga telah digelar latihan berbagai atraksi seni-budaya khas Jayapura khususnya dan Papua pada umumnya.

Pada pembukaan FDS yang berlangsung di bibir danau Sentani, semua peserta akan berdiri atau duduk dengan disuguhkan panorama danau, serta berbagai tarian tradisional khas Papua yang dibawakan oleh putra-putri Papua.

"Sama seperti FDS sebelumnya, pekik sorak, gegap gempita ribuan penari tradisional membahana di Kalkote yang dipilih menjadi pusat penyelenggaraan pesta budaya tahunan itu," ujarnya.

Anna Sawai menjelaskan, pesta budaya tahunan ini bertujuan mendukung program Pemerintah di bidang kepariwisataan, melestarikan nilai-nilai budaya lokal untuk memperkaya khazanah budaya Nasional Indonesia.

"FDS bertujuan untuk mengangkat dan melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat asli Papua dan dikemas sedemikian rupa menjadi paket-paket budaya yang siap dijual kepada para wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisata domestik," katanya.

Begitu pula, lanjut Anna, FDS akan memperkenalkan potensi budaya Papua khususnya potensi wisata Kabupaten Jayapura kepada para wisatawan, mendorong pengembangan objek-objek wisata dan mendorong pertumbuhan dan pengembangan investasi khususnya industri pariwisata.

"Lebih dari itu, FDS bertujuan menjadikan Jayapura sebagai daerah tujuan wisata nasional yang handal," katanya.

Peserta yang akan memeriahkan pesta budaya tahun ini adalah masyarakat tradisional dari 24 kampung di Kabupaten Jayapura, dan mereka akan menampilkan berbagai tarian tradisional Papua.

Untuk itu, Ketua Panitia FDS, Anna O.S.H. Sawai mengajak semua lapisan masyarakat dan para wisatawan agar ikut menyemarakkan pesta budaya Danau Sentani yang sudah berlangsung sejak tahun 2008. (ALX/B010)

-

Arsip Blog

Recent Posts