Festival Gudeg Manggar Ingatkan Sejarah Dusun

Bantul, DIY - Festival Gudeg Manggar yang digelar di Dusun Mangir, Desa Sendangdari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai upaya mengingatkan sejarah keberadaan dusun itu.

"Gudeg manggar yang saat ini telah mendunia dulunya juga dibuat oleh warga dusun ini. Festival ini sebagai upaya memunculkan lagi sejarah dusun ini," kata Panitia Penyelenggara Badroni, Rabu.

Di sela acara Festival Gudeg Manggar sekaligus peluncuran buku sejarah Dusun Mangir, ia mengatakan festival gudeg manggar diikuti oleh sebanyak 25 orang pembuat gudeg manggar yang menyajikan masakan gudeg manggar dengan berbagai macam rasa serta sajian.

"Diharapkan salah satu di antara mereka dapat menyajikan rasa yang enak seperti konon apa yang dikatakan orang bahwa orang tua terdahulu di dusun ini pandai membuat gudeg, bahkan secara turun temurun," katanya.

Badroni yang juga sesepuh desa ini menceritakan asal mula gudeg manggar di dusun ini, yakni Putri Pambayun atau Nyai Ageng Mangir Wonoboyo pada ratusan tahun lalu telah menciptakan gudeg manggar .

Menurut dia, gudeg manggar dengan bahan baku mayang (bunga kelapa) yang masih muda sebagai pengganti nangka tersebut rasanya sangat lezat sehingga menjadi santapan utama keluarga di zaman itu.

"Konon rasa gudeg manggar yang dicampur dengan daging ayam rasanya menjadi sangat khas dan tidak ada yang menandinginya, sehingga sangat dikenal pada masa itu," katanya.

Bahkan, kata dia seorang ahli kecantikan terkenal yaitu Mooryati Sudibyo telah memopulerkan gudeg manggar ke seluruh dunia sebagai menu masakan untuk kecantikan.

"Dengan menyantap gudeg manggar konon seseorang akan menjadi lebih nampak cantik dan bercahaya wajahnya, atau dulu orang mengatakan dalam bahasa jawa "klimis"," katanya.

Sehingga, kata dia, gudeg manggar yang telah ada sejak ratusan tahun lalu dan telah menjadi ikon masakan yang mampu menarik wisatawan ke negeri ini mengingatkan kepada masyarakat luas bahwa sejarah gudeg juga berasal dari Dusun Mangir.

Cinta Indonesia? "Vote Komodo" di www.new7wonders.com

Ende, NTT - Wakil Presiden Boediono akan melakukan pemberian suara untuk Komodo (vote komodo), sebagai dukungan agar hewan langka itu diakui sebagai salah satu tujuh keajaiban dunia baru. Pemberian dukungan itu akan dilakukan di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Rabu (29/12).

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik menegaskan, "vote komodo" bukan untuk kepentingan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), melainkan kepentingan Indonesia. Karena itu, warga di daerah mana pun di Indonesia silakan pilih komodo, yang kini jadi salah satu dari 28 finalis untuk menjadi Tujuh Keajaiban Dunia Baru. Dukungan menjadikan komodo jadi keajaiban dunia dapat dilakukan dengan memberi suara di www.new7wonders.com.

"Masing-masing pengurus PHRI diimbau untuk meminta anggotanya ikut vote komodo. Jika Taman Nasional Komodo terpilih menjadi salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Baru yang akan diumumkan Juli 2011, maka hal itu akan berdampak pada kemajuan pariwisata Indonesia," katanya

Sebelum bertolak ke Labuan Bajo, Wakil Presiden Boediono menyapa seluruh pelajar sekolah menengah atas, SMK, MA se-Nusa Tenggara Timur, di Kabupaten Ende. Selanjutnya Wapres bertemu dan berdialog dengan para penerima manfaat KUR provinsi, Kelompok Swadaya Masyarakat PNPM Mandiri.

Wapres didampingi beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu II berdialog dengan para siswa-siswi di SMA Syuradikara, Ende. Selama dua hari kunjungan kerja di NTT, Wapres didampingi Menteri Agama Surya Dharma Ali, Menteri Kesehatan Endang Sedyaningsih, Menteri Pendidikan M. Nuh, Menteri Pariwisata Jero Wacik, Menteri Kehutanan Zulkifli Hassan, Menteri Perdagangan Mari Pangestu, dan Menteri Perikananan dan Kelautan Fadel Muhammad.

Warga Melayu Singapura Minati Sutera Sulsel

Singapura - Tenunan sutera Sulawesi Selatan (Sulsel) yang dipamerkan di Wedding, Food and Shopping Paradise and South Sulawesi Silk Festival 2010 di Singapura, diminati masyarakat Melayu Singapura. Perajin sutera asal Kabupaten Wajo H Baji di Singapura, Sabtu (25/12) tampak sibuk melayani pertanyaan dari pengunjung yang mendatangi anjungan sutera Sulsel.

"Sutera Sulsel diminati tapi masyarakat Singapura masih perlu diberikan pemahaman cara merawat sutera agar tidak cepat rusak," ujarnya.

Ia mengatakan, pengrajin sangat membutuhkan bentuk promosi seperti pameran yang digelar selama empat hari ini dan berharap pameran serupa dapat digelar secara berkelanjutan. Sebelumnya, Pemprov Sulsel juga menggelar peragaan busana baju tradisional khas Sulsel, baju Bodo berbahan sutera dan baju rancangan Carmanita yang berbahan dasar Sutera Sulsel.

Busana yang diperagakan oleh anggota Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia Sulsel sebanyak 30 model. Peragaan busana disaksikan oleh pengurus Dynamic Enterpreuner Women Internasional Singapura dan pengunjung pameran. Peragaan busana yang digelar tampaknya cukup berhasil menarik minat pengunjung. Setelah peragaan busana usai, pengunjung pun berbondong-bondong ke anjungan Sulsel.

Ekspedisi Budaya TNB 12 Digelar

Sarolangon, Jambi - Jika tidak ada aral melintang, akhir Desember 2010 ini Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kab. Sarolangun akan melaksanakan ekspedisi budaya Taman Nasional Bukit (TNB).

Kadis Budparpora, Drs Joni Rusman, menerangkan ekspedisi budaya TNB 12 merupakan rangkaian program ekspedisi potensi wisata yang secara gradual digelar sebulan sekali. Kegiatan ini sudah dilaksanakan sejak November lalu dan akan berlangsung hingga akhir 2011 nanti.

Dijelaskannya, program ekspedisi budaya merupakan salah satu upaya inventarisasi terhadap keragaman wisata dan budaya yang ada di Sarolangun. Selain itu, kegiatan ini juga untuk mensosialisasikan kekayaan wisata Sarolangun yang selama ini acap terlupakan oleh masyarakat. Nantinya, diharapkan masyarakat luar tertarik untuk menyambangi potensi wisata dan budaya yang ada di Bumi Sepucuk Adat Serumpun Pseko.

“Khusus untuk ekspedisi budaya TNB 12, akan kita gelar 28 - 30 Desember 2010. Ekspedisi ini diikuti 10 orang yang berasal dari pemerhati lingkungan, budayawan, jurnalis, dan perwakilan dari Disbudparpora Sarolangun,” sebut Joni.

Disinggung soal kendala terbesar pengembangan potensi wisata di Sarolangun, Joni menyatakan, rusaknya infrastruktur jalan dan minimnya fasilitas pendukung merupakan dua kendala utama yang saat ini sedang terus dipayakan anggarannya, baik dari Pemkab maupun dukungan dari Pemprov Jambi. “Kebanyakan jalan menuju ke potensi wisata rusak parah, seperti ke Batang Asai, Limun, dari Air Hitam,” ujarnya.

Walaupun demikian, Disbudparpora tak patah arang dan akan terus berupaya mencari anggaran melalui Pemkab, Pemprov Jambi, maupun pemerintah pusat. Diharapkan kegiatan ekspedisi dapat menginventarisasi sekaligus mensosialisasikan keragama budaya yang ada di Sarolangun. Disbudparpora juga siap menggandeng pihak ketiga dalam rangka membangun obyek wisata di Sarolangun.

Borobudur Recovery Art, Upaya Pulihkan Pariwisata

Magelang, Jateng - Kegiatan "Borobudur Recovery Art" yang diselenggarakan di halaman parkir Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dimaksudkan untuk memulihkan bidang pariwisata pasca-erupsi Merapi.

"Kegiatan ini sebagai upaya meyakinkan kepada masyarakat dan dunia pariwisata bahwa Candi Borobudur aman untuk dikunjungi," kata Kepala Bidang Logistik dan Peralatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Putu Adi Sutrisno, di Magelang.

Putu mengatakan bahwa dampak bencana letusan Gunung Merapi cukup besar. Termasuk masyarakat sekitar Candi Borobudur yang bergerak di bidang pariwisata karena tidak banyak wisatawan yang berkunjung. "Mata rantai wisata yang juga mengalami keterpurukan dampak erupsi Merapi antara lain biro perjalanan, restoran, hotel, dan pedagang cenderamata," katanya.

Dengan turunnya aktivitas Merapi saat ini dan pemerintah juga telah menurunkan status Merapi dari awas menjadi siaga, maka sektor riil dan pariwisata bersama seni budaya perlu dibangkitkan. Selain perbaikan sarana prasarana, kata Putu, perlu dilakukan pemulihan bagi masyarakat korban Merapi. Masyarakat perlu diberikan penyegaran budaya dalam upaya pengurangan trauma pascaerupsi.

Sastro Al Ngatawi, Ketua Lesbumi selaku penyelenggara "Borobudur Recovery Art", mengatakan, bencana letusan Merapi merupakan cobaan, tetapi jangan larut dalam keterpurukan. Masyarakat harus bangkit kembali dari penderitaan.

Kegiatan Borobudur Recovery Art selain menyelenggarakan kirab budaya dan pergelaran seni, juga dilakukan penanaman pohon di Desa Kenalan, Kecamatan Borobudur. "Penanaman pohon tersebut nantinya bisa dimanfaatkan sebagai penghijauan dan upaya pencegahan longsor di masa mendatang," katanya.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pengalungan rangkaian bunga kepada wisatawan asing yang berkunjung di Candi Borobudur oleh seorang penari dan doa bersama oleh para tokoh lintas agama.

Paket Jogja Recovery Terjual 60 Persen

Yogyakarta - Paket wisata Jogja Recovery, yang ditawarkan ke beberapa kota direspon positif oleh pasar. Sampai saat ini dari 150 paket yang disediakan sudah terjual 60 persen. Paket tersebut sangat membantu pemulihan wisata di Yogyakarta setelah letusan Gunung Merapi.

"Belum ada seminggu paket wisata tersebut kami tawarkan tetapi sampai saat ini sudah terjual 60 persen. Sisanya kami yakin akan habis sebelum tanggal 30 Desember nanti," kata Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY), Deddy Pranowo Eryono, Senin (27/12/2010).

Dia mengatakan penawaran paket wisata Joga Recovery dilakukan ke tiga kota yakni Bali, Jakarta, dan Bandung. Promosi tersebut dilangsungkan tanggal 19-22 Desember 2010. Ketiga kota tersebut dipilih karena selama arus kunjungan wisatawan dari ketiga daerah tersebut sangat mendominasi.

Paket wisata Jogja Recovery dipatok seharga Rp 800.000 per paket. Dengan harga tersebut, wisatawan bisa menikmati one day tour ke Borobudur dan lava tour ke Merapi. Harga tersebut sudah tersebut biaya menginap di hotel selama dua malam tiga hari. Paket tersebut berlaku mulai tanggal 30 Desember sampai 5 Januari mendatang.

Menurutnya lava tour Merapi menjadi pilihan karena banyak yang tertarik mengunjungi Merapi setelah meletus selama beberapa kali. "Paket wisata ke Merapi tersebut sekaligus meyakinkan orang bahwa Merapi sudah aman," katanya.

-

Arsip Blog

Recent Posts