Hari Gawai Lestarikan Budaya

Sanggau, Kalbar - Rangkaian kegiatan Nosu Minu Podi tahun 2012 ditutup oleh Wakil Bupati Sanggau Paolus Hadi, Selasa (29/5) lalu. Kegiatan tersebut sebagai bagian dalam memeriahkan hari Gawai, melestarikan adat budaya serta menggali bakat dan prestasi di bidang olahraga. Ketua panitia, Stepanus Sibang mengatakan, kegiatan pertandingan dan perlombaan diadakan dalam rangka melestarikan adat budaya serta memeriahkan Gawai di Desa Suka Gerundi, Kecamatan Parindu.

Camat Parindu, Siron menyampaikan, bahwa pihak pemerintah kecamatan sangat menyambut baik terhadap inisiatif masyarakat dalam mengembangkan dirinya, baik dalam melestarikan adat budaya maupun menggali potensi diri di dunia olahraga. "Ke depan kegiatan serupa perlu kita kembangkan bersama, guna menjaga tatanan adat budaya agar terjaga dengan baik serta kegiatan olahraga merupakan salah satu langkah dalam memeriahkan hari Gawai, juga sekaligus dapat menggali potensi serta bakat kaum muda dibidang olahraga serta permainan rakyat juga dapat terpelihara dengan baik pula," ujarnya.

Siron juga mengajak masyarakat untuk ikut serta menyukseskan pemilihan kepala desa yang akan dilaksanakan ditempatnya dalam waktu dekat. "Di desa kita dalam waktu dekat akan melaksanakan pesta demokrasi pemilihan kepala desa (Pilkades), saya harap Pilkades bisa berjalan dengan mulus, aman dan lancar," harapnya.

Wakil Bupati Sanggau Paolus Hadi mengatakan, kegiatan Nosu Minu Podi diharapkan mampu membawa masyarakat dalam melestarikan adat budaya warisan leluhur agar tidak ditelan zaman. Kemudian, momen gawai Nosu Minu Podi merupakan salah satu sarana pertemuan para sanak saudara dan keluarga serta ungkapan syukur masyarakat kepada sang pencipta atas apa yang di peroleh selama ini.

"Mengenai perlombaan permainan rakyat kegiatan tersebut perlu ditingkatkan, karena itu merupakan ciri khas budaya yang hampir hilang saat ini dan budaya permainan rakyat merupakan gambaran perilaku hidup masyarakat saat lampau, maka perlu kita pelihara dengan baik dan lestarikan serta dikemas dengan baik sehingga memiliki nilai budaya yang tinggi," katanya seraya menutup acara tersebut.

Rekor Dunia Bermain Angklung Pecah di Kapal Pesiar

Selat Malaka - Rekor dunia bermain angklung di atas kapal pesiar berhasil dipecahkan oleh penumpang kapal pesiar Voyager of the Seas yang tengah berlayar di Selat Malaka, Jumat (1/6/2012).

Sebanyak 460 penumpang bermain angklung di auditorium dalam kapal pesiar bernama La Scala.

Rekor tersebut dipecahkan oleh penumpang yang berasal dari dealer produk komputer Acer yang diajak PT Pazia Pillar Mercycom dalam pesiar selama lima hari. Mereka tidak pernah bermain angklung sebelumnya.

Bertindak sebagai konduktor adalah Mugi Pangestu, seorang dosen angklung di Jaya Suprana School of Performing Arts. Jaya Suprana sendiri hadir dalam pemecahan rekor tersebut.

"Pencapaian ini memperkaya 6.000 rekor yang sudah dicatatkan sebelumnya oleh Museum Rekor Indonesia," kata Jaya.

Selain rekor bermain angklung, PT Pazia juga mendapatkan rekor sebagai penyelenggara acara itu. Penghargaan tersebut diberikan oleh Jaya kepada Presiden Direktur PT Pazia Pillar Mercycom, Yulisiane Sulistiyawati.

Jabar Gelar Festival Wayang Dunia

Bandung, Jabar - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) menjadi tuan rumah Festival Wayang Dunia pada 2013 yang akan dihadiri oleh para seniman wayang dari mancanegara.

"Jabar rutin menggelar Festival Pewayangan yang menampilkan dalang-dalang yang ada di Jabar, namun pada 2013 Jabar akan menggelar festival bertaraf internasional dengan melibatka peserta para seniman wayang dari luar negeri," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat Nunung Sobari di Bandung, Jumat.

Dukungan dari berbagai elemen untuk menggelar festival wayang bertaraf internasional cukup besar dan akan menguatkan wayang sebagai warisan budaya non benda yang telah ditetapkan oleh UNESCO.

Sebagai persiapan, Jabar kembali menggelar "West Java Wayang Festival 2012" yang akan menjadi ajang seniman pedalangan menampilkan keahliannya dalam forum yang berskala besar, sekaligus untuk kembali meningkatkan animo masyarakat untuk mengapresiasi pewayangan.

Kegiatan "West Java Wayang Festival 2012" akan digelar di Gedung Sunan Ambu STSI Bandung, 12-13 Juni 2012. Pagelaran delapan jenis wayang tersebut akan dinilai tiga orang pengamat yang berkompeten, mulai dari grup penampil terbaik satu, dua hingga tiga.

Delapan pagelaran wayang yang akan ditampilkan adalah Wayang Cepak (Kota Cirebon), Wayang Kulit (Indramayu), Wayang Babad (Kabupaten Cirebon), Wayang Catur (Kabupaten Bandung), Wayang Keroncong (Kota Bandung), Wayang Kulit Bekasi (Kabupaten Bekasi), Wayang Bambu (Kota Bogor) dan Wayang Dalang Rampak (SMK 10 Bandung).

Selain pagelaran wayang juga akan ditampilkan pameran wayang, demo pembuatan wayang, diskusi wayang, dan pertunjukkan musik tradisi.

"`West Java Wayang Festival` ini sebagai salah satu kegiatan untuk menumbuh kembangkan kesenian tradisional khususnya wayang yang ada di Jawa Barat, disamping untuk mempersiapkan Festival Wayang Dunia 2013," kata Nunung.

Ia menyebutkan, Wayang di Jawa Barat cukup beranekaragam, mulai dari yang klasik hingga bersifat eksperimen atau kontemporer dan kesemuanya itu tersebar di kabupaten dan kota.

Pertunjukan Dul Muluk Terancam Punah

Palembang, Sumsel - Seni pertunjukan tradisional khas Palembang "Dul Muluk" terancam punah akibat jarang tampil dalam kehidupan masyarakat dewasa ini, kata Ketua Seksi Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Sumatera Selatan, Dadang Irawan.

"Padahal dalu, jenis kesenian itu sering ditampilkan dalam acara hajatan semisal perkawinan, khitanan, ataupun syukuran lainnya, namun seiring berkembangnya zaman, dan semakin modernnya peradaban manusia maka kesenian teater Dul Muluk semakin ditinggalkan," ujarnya di Palembang, Kamis.

Masyarakat lebih senang mengundang musik organ tunggal atau musik modern lainnya untuk memeriahkan acara hajatan.

"Jika tidak diwaspadai dari sekarang bisa jadi seni pertunjukan Dul Muluk yang lahir sekitar abad 20-an ini benar-benar punah. Apalagi seniman-seniman yang biasa memainkannya telah rentah sementara anak-anak muda enggan menggantikan," katanya.

Konsep "Dul Muluk" hanya sebuah pertunjukan dongeng atau pembacaan kisah pertualangn Abdul Muluk Jauhari, anak dari Sultan Adbul Hamid Syah yang bertahta di Negeri Berbari.

Peran ini dimainkan saudagar-saudagar Arab (Gujarat) pada malam hari sehabis berniaga di Kota Palembang dan sekitarnya.

"Ternyata kisah yang dicuplik dari buku Syair (Sultan) Abdul Muluk karangan seorang perempuan bernama Saleha ini menarik perhatian oleh sebagian besar masyarakat Palembang. Sejak itulah pada berbagai kesempatan, sosok saudagar Gujarat itu kerap diundang untuk membacakan dongeng maupun pembacaan kisah Abdul Muluk dalam bahasa Melayu klasik ataupun pantun-pantun bertutur," ujarnya.

Pemerintah Provinsi Sumsel berupaya melestarikan kesenian khas daerah itu dengan memberikan kesempatan kepada senima-seniman menggelar pertunjukan pada sejumlah acara penting.

"Pada SEA Games tahun 2011 lalu, Dul Muluk kerap ditampilkan untuk menjamu para tamu-tama negara. Pada beberapa kesempatan juga ditampilkan mal-mal Kota Palembang untuk menarik perhatian dan menghilangkan citra terkebelakangnya," katanya.

Selain itu, dilakukan workshop pembinaan teater tadisional bekerja sama dengan Dewan Kesenian Sumsel. "Saat ini Dul Muluk sudah tampil secara rutin pada sejumlah televisi swasta lokal. Ini sudah berjalan kurang lebih satu tahun dan cukup berhasil menggugah masyarakat untuk melestarikannya," ujarnya.

Naskah Kuno di Sulsel Akan Digitalisasi

Jakarta - Untuk mencegah kepunahan naskah kuno, Perpustakaan Nasional akan melakukan digitalisasi. Termasuk naskah kuno yang tersimpan di Perpustakaan dan Arsip Daerah Sulsel. Demikian diungkapkan Kepala Perpustakaan Nasional Indonesia, Sri Sularsih, dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 30 Mei.

Di Perpustakaan dan Arsip Daerah Sulsel sendiri, terdapat 4.049 naskah bertuliskan huruf lontarak (aksara asli Bugis Makassar), terdiri atas naskah lontarak Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Sebagian naskah tersebut, sebenarnya sudah dimikrofilmkan, karena naskah aslinya sudah lapuk.

Menurut Sri, ada enam provinsi yang ditetapkan pemerintah pusat untuk melakukan digitalisasi naskah kuno. Keenam provinsi yang dikenal gudangnya naskah-naskah kuno tersebut, masing-masing, Sulsel, Riau, Kaltim, Bali, Yogyakarta dan NTT.

Jumlah naskah kuno yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Indonesia, ada 10.169 jenis. Belum termasuk naskah-naskah kuno yang ada di berbagai daerah di Indonesia, yang juga memiliki kekayaan tersendiri.

Perpustakaan Nasional menargetkan, 2014 sudah sekitar 50 persen naskah-naskah tersebut, sudah digitalisasi dan mengalami trans-aksara. "Proses digitalisasi tersebut diperkirakan akan memakan waktu lama, karena selain proses digitalisasi, juga akan dilakukan trans aksara agar semua orang bisa memahaminya," tegasnya.

Menurutnya, naskah-naskah tersebut sangat penting, karena memuat tentang sejarah, budaya, adat istiadat, yang sebenarnya sangat mempengaruhi generasi bangsa di zamannya. Namun saat ini terancam punah karena generasi bangsa sudah memasuki era teknologi dan informasi.

Perpustakaan Nasional juga sudah membangun jaringan online dengan 35 titik perpustakaan daerah. Tujuannya memudahkan koordinasi dan informasi, juga akses masyarakat yang menginginkan buku bacaan secara gratis.

Marawis, Kesenian Daerah Kental Unsur Keagamaan

Depok - Sebagian orang mungkin mengetahui kesenian Marawis, khususnya orang yang memiliki latar belakan kebuadayaan Betawi. Marawis adalah salah satu jenis alat musik tepuk dengan perkusi sebagai alat musik utamanya. Musik ini adalah kolaborasi dari kesenian Timur Tengah dan Betawi. Yang paling menonjol dari kesenian Marawis ini adalah kentalnya unsur keagamaan.

Hal tersebut tercermin dari setiap lirik lagu yang dibawakan dengan musik Marawis seringkali merupakan puji-pujian atau ungkapan rasa cinta kepada Sang Pencipta. Bila ditengok dari sejarahnya, kesenian Marawis berasal dari negara Yaman, wilayah Timur Tengah.

Nama Marawis sendiri berasal dari nama salah satu alat musik yang dipergunakan dalam kesenian ini. Secara keseluruhan, musik ini menggunakan hajir (gendang besar) berdiameter 45 cm dengan tinggi 60-70 cm, marawis (gendang kecil) berdiameter 20 cm dengan tinggi 19 cm, dumbuk atau jimbe (sejenis gendang yang berbentuk seperti dandang, memiliki diameter yang berbeda pada kedua sisinya), serta dua potong kayu bulat berdiameter sepuluh sentimeter.

Terkadang musik Marawis juga dilengkapi dengan symbal kecil dan kecrekan. Lagu-lagu yang dibawakan berirama gambus diiringi dengan jenis pukulan tertentu, seperti pukulan zapin, sarah dan zahefah. Umumnya musik Marawis dipentaskan dalam acara-acara hajatan, pernikahan atau kerapkali ditampilkan dalam acara-acara keagamaan.

Musik ini dimainkan paling sedikit oleh sepuluh orang. Setiap orang memainkan satu buah alat sambil bernyanyi. Terkadang, untuk membangkitkan semangat atau sekedar menambah variasi musik Marawis, beberapa orang dari kelompok tersebut bergerak sesuai dengan irama lagu.

Semua pemainnya pria, dengan busana gamis dan celana panjang, serta berpeci. Uniknya, banyak para pemain marawis bersifat turun temurun. Sebagian besar masih dalam hubungan darah. kakek, cucu, dan keponakan.

-

Arsip Blog

Recent Posts