Jabar Akan Daftarkan Seni Budaya Tradisional ke Dirjen Haki

Bandung, Jabar - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat akan mendaftarlan 10 seni budaya tradisional ikon Jawa Barat ke Dirjen Hak Kekayaan Intelektual.

Program pelaksanaan pelestarian dan pengembangan seni budaya tradisi akan dilakukan oleh pihak atau lembaga yang berkompenten.

Demikian diungkapkan Dr. Bucky Wikagoe, dari Tim Gugus HKI Disparbud Jabar disela-sela acara Forum Dialog Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat 2013, Selasa (2/4) bertempat di Ball Room Hotel Grand Papandayan Bandung.

“Tahun ini kita akan mengupayakan dulu 10 seni budaya yang menjadi ikon Jabar untuk didaftarkan ke Dirjen HKI,” ujar Bucky.

Terhadap upaya penyelamatan dan pelestarian seni budaya tradisional di Jabar, menurut Bucky, bukan perkara mudah. Seperti yang dialaminya bersama Gugus Hak Kekayaan Intelektual saat akan mendaftarkan sejumlah kesenian dan benda seni budaya ke Dirjen HKI, mengundang pro dan kontra.

Kini setelah memasuki tahapan inventarisir dan penentuan sepuluh seni budaya yang akan didaftarkan ke Dirjen HKI, pro dan kontra masih berlangsung.

Ke sepuluh seni budaya yang merupakan ikon Jabar tersebut diantaranya, Kujang, tari Jaipongan, tari Topeng, Kendang, Payung Tasikmalaya, Kelom Geulis, Gotong Singa, dan Kuda Renggong.

Pelestarian seni budaya tradisional, menurut Bucky, harus dilakukan oleh pihak atau lembaga yang berkompenten.

“Di Jawa Barat ini banyak pakar, kelompok atau komunitas maupun lembaga pendidikan seni budaya, seharusnya dilibatkan dan pemerintah dalam hal ini Disparbud Jabar hanya memposisikan diri sebagai fasilitator,” ujar Bucky.

Legu Gam Gairahkan Kunjungan Wisatawan ke Malut

Ternate, Malut - Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Esthy Reko Astuty mengatakan Festival Legu Gam ke-12 diharapkan akan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Provinsi Maluku Utara (Malut).

"Kami yakin Festival Legu Gam yang digelar oleh Kesultanan Ternate akan meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara ke Malut," kata Esthy saat membuka Festival Legu Gam di Ternate, Minggu (31/3/2013).

Esthy mengatakan, Festival Legu Gam yang digelar setiap tahun dalam rangka memperingati ulang tahun Sultan Ternate Mudaffar Syah yang akan menggairahkan kunjungan wisatawan ke Malut, karena festival ini akan merangsang para wisatawan domestik maupun mancanegara datang ke Malut.

Selain itu, menurut Esthy, saat ini Kemenparekraf gencar mempromosikan berbagai pariwisata dan budaya daerah, sehingga target wisatawan mancanegara untuk datang ke Indonesia mencapai 9 juta orang, sedangkan wisatawan domestik diproyeksikan pada tahun 2013 mencapai 250 juta orang.

Festival Legu Gam yang diselenggarakan di Kota Ternate yang telah masuk dalam kalender kegiatan pariwisata nasional sangat mendukung promosi pariwisata Malut, sehingga festival ini juga sangat mendukung usaha pelestarian dan pengembangan budaya di Malut.

Oleh karena itu, Esthy menyatakan penghargaan kepada Kesultanan Ternate yang selama ini rutin menggelar Festival Legu Gam setiap tahun dan dari tahun ke tahun terus menunjukkan kemeriahan. Kemenparekraf mengharapkan agar penyelenggaraan Festival Legu Gam pada tahun-tahun mendatang lebih meriah lagi dan Pemprov Malut akan selalu berupaya mendukung festival itu.

Esthy mengharapkan kepada kabupaten/kota lainnya di Malut untuk menggelar festival serupa sehingga semakin banyak kegiatan festival maka akan semakin mengoptimalkan promosi wisata di daerah ini.

Sementara itu, Ketua Umum Panitia Festival Legu Gam, Arifin Djafar melaporkan, festival yang digelar dalam rangka memeriahkan ulang tahun Sultan Ternate Mudaffar Syah itu akan berlangsung dari tanggal 31 Maret sampai 13 April 2013, dan akan diisi dengan berbagai pertunjukan budaya dan kesenian tradisional.

"Festival Legu Gam kali ini akan menampilkan nasi jaha sepanjang 10 kilometer dan mensosialisasikan pengusulan Sultan Muhammad Djabir Syah sebagai pahlawan nasional melalui seminar nasional yang akan digelar dalam rangka memeriahkan hari jadi Sultan Ternate Mudaffar Syah tersebut," ujarnya.

Sultan Langkat Anugerahkan Gelar Melayu

Tanjung Pura, Sumut - Kesultanan Negeri Langkat menganugerahkan gelar adat melayu kesulthanan “Datuk Setia Negeri” kepada Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu, SH ditandai dengan pemakaian selempang dan penyematan pin.

Gelar itu dinobatkan Sultan Langkat Sri Paduka Duli Y M Tuanku Azwar Abdul Djalil Rahmatshah Al Hajj pada acara Majelis Upacara Penganugrahan gelar adat Melayu dan pengukuhan Kerapatan Adat Negeri Langkat di halaman Masjid Azizi Tanjung Pura, Sabtu (30/3).

Gelar kehormatan itu juga diberikan kepada Ir H Irsan Noor Bupati Kutai Timur Kalimantan Timur (Datuk Duta Diraja), Prof, DR Hj Mariam Darus Badrulzaman, SH, FCBArb guru besar bidang hukum USU (Datuk Sri Cahaya Bestari), Prof DR Djohar Arifin Husin Ketua Umum PSSI (Datuk Mulia Perkasa), Mayjend (Purn) H Barkah Tirtadjaya mantan duta besar RI di Mesir (Datuk Indra Diraja) dan Kolonel (Purn) H Bachtiar Jafar mantan Walikota Medan (Datuk Johan Perkasa).

Sultan Langkat Tuanku Azwar Abdul Djalil Rahmatshah Al Hajj mengatakan, gelar yang diberikan jangan dipandang sebagai alat kekuasaan, tetapi jadikan amanah dan dijaga, prosesi itu juga diselenggarakan sebagai upaya pelestarian adat budaya bangsa ,yang merupakan tanggung jawab bersama menjaga dan melestarikannya,

“Jangan biarkan adat budaya tenggelam, harus digali agar tak hilang dari muka bumi supaya anak cucu kita nanti tau dan mengerti sejarah,” ujarnya.

Disebutkan, pemberian gelar kepada Bupati Haji Ngogesa didasari daya upaya yang telah banyak diperbuatnya bagi pembangunan dan kemajuan Langkat, termasuk masyarakat melayu dengan terbuktinya Langkat sebagai daerah yang banyak menerima penghargaan tingkat nasional sejak dipimpin Bupati Ngogesa.

“Sudah selayaknya kita mendukung kepemimpinan Bupati Ngogesa Sitepu dilanjutkan pada periode yang akan datang. Mari kita kembalikan kejayaan Langkat, terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung,”ujar Sultan Langkat.

Bupati Langkat Datuk Setia Negeri H Ngogesa Sitepu, SH usai menerima penganugrahan mengucapkan terima kasih dan bersyukur atas gelar yang diberikan, dia mengimbau kepada masyarakat Langkat agar tidak terpecah belah oleh pengaruh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab atas isu-isu yang berkembang di masyarakat

“Langkat ini tanah melayu, kita semua harus hidup dengan menjunjung tinggi adat dan budaya mengedepankan kesantunan seperti masyarakat melayu,” kata bupati.

Datuk Mulia Perkasa Prof DR Johar Arifin Husin mengatakan, pentingnya masyarakat memahami adat dan berbudaya karena dengan beradat manusia akan berakhlak dan bertutur sapa baik dan sopan sehingga terhindar dari berbagai perselisihan dan konflik yang dapat memecah belah bangsa.

Diungkapkannya, Langkat di bawah kepemimpinan Bupati Haji Ngogesa telah bertambah martabatnya hingga layak untuk terus didukung dan dilanjutkan.

“Apabila terus mendapat kepercayaan, Pemkab Langkat nantinya akan membantu pembangunan replika istana Sulthan Langkat sebagai objek wisata sejarah,”ungkap Johar.

Sebelumnya juga dikukuhkan Kerapatan Adat, Kepala Balai dan Penghulu Adat serta kejeruan yakni Kejeruan Bahorok T. Alfit Hasyim, Selesai HT. Zulkarnain, Bingai HT. Haidir Sulaiman BBM, Punggai HT. Abdul Hamid S bin T. Abu Serah, kemudian Kedatukan Hinai Datuk OK Fahmi, Cempa Datuk OK Fadlan, Pt Cermin Datuk OK Elfian Agus Bin OK Marhasyim dan Secanggang Datuk OK HOK Zulkarnain Bin OK Idrus.

Pentas Seni Memotivasi Pelestarian Budaya Daerah

Tarutung, Sumut - Bupati Tapanuli Utara (Taput) Torang Lumbantobing mengatakan, pentas seni merupakan kegiatan positif memotivasi generasi muda untuk terus mengembangkan, melestarikan dan mempertahankan budaya daerah sebagai aset kekayaan bangsa dan negara.

“Kegiatan pentas seni merupakan motivasi untuk generasi muda untuk terus melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai seni budaya daerah sebagai kekayaan aset daerah,” ucapnya.

Pagelaran pentas seni ini diikuti murid SD, pelajar SMP dan SMA se Kecamatan Pahae Julu dan Kecamatan Purba Tua di Desa Hutanagodang Purba Tua, Minggu (24/3).

Menurut bupati, dengan ada kegiatan seperti ini, tentu nilai-nilai seni budaya daerah akan bisa terus bertahan dan berkembang baik di tengah masyarakat maupun tengah bangsa dan negara.

Selain untuk mempertahankan nilai-nilai seni budaya daerah, bupati mengatakan, kegiatan pentas seni ini juga penting untuk mempererat rasa kebersamaan dan rasa persatuan antara sesama masyarakat desa maupun dengan pemerintah daerah (Pemda).

“Dengan ada kegiatan seperti ini juga tentu akan meciptakan rasa kebersamaan dan persatuan masyarakat,” katanya.

Bupati berharap, ke depan kegiatan seperti ini harus terus dilakukan khususnya bagi pelajar agar tetap mengingat dan bisa menjadi pioner untuk mengembangkan dan melestarikan seni budaya daerah.

“Kegiatan seperti ini harus terus dilakukan generasi muda agar menjadi pelopor dalam melestarikan nilai-nilai budaya sebagai aset dan kekayaan bangsa kita,” ucapnya.

Ada Pameran Batik di Prancis

London, Inggris - Kolektor Batik asal Swiss Gaspard de Marval menggelar pameran batik Indonesia bertema "Batik Javanais, Sekar Jagad (Fleurs de L'Univers)" di Galerie Saint-Jacques, Saint-Quentin, Picardie, Prancis baru-baru ini.

Menurut Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Paris Arifi Saiman yang menghadiri pembukaan pameran Batik tersebut, menyebutkan pameran ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Saint-Quentin dan Galerie Saint-Jacques dengan sang kolektor.

Arifi Saiman mengatakan, pameran berlangsung dari 27 Maret 2013 sampai dengan 12 Mei dan dibuka Wakil Walikota Saint-Quentin Stephane Lepoudere.

Lepoudere mengatakan Pemerintah Prancis, khususnya Pemerintah Kota Saint-Quentin, mengakui batik sebagai warisan dunia seperti diakui UNESCO.

Dia juga menyebutkan pemerintah dan masyarakat Saint-Quentin menaruh perhatian besar pada seni budaya Indonesia, termasuk Batik.

Pada pameran itu juga dipamerkan karya seni Indonesia lainnya seperti wayang kulit dan benda-benda budaya Suku Dayak, sementara jumlah batik yang dipamerkan sekitar 200 bahan/pakaian.

Khusus batik Jawa, pameran menampilkan seni karya batik khas keraton Surakarta dan batik Tiga Negeri bermotif kombinasi Pekalongan, Surakarta dan Yogyakarta.

Pihak penyelenggara juga menampilkan batik asing batik buatan Belanda untuk konsumsi pasar Afrika dan batik buatan Cina.

Pelestarian Budaya Minangkabau untuk Penguatan Lembaga Adat

Padang, Sumbar - Ketua DPRD Sumatera Barat Yulteknil mengatakan, pengajuan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Penguatan dan Pelestarian Budaya Minangkabau yang diprakarsai DPRD ditujukan untuk menguatkan lembaga-lembaga adat daerah itu.

DPRD selaku pihak yang memprakarsai Ranperda itu ingin menguatkan kembali lembaga-lembaga adat Minangkabau yang telah ada selama ini, katanya di Padang, Kamis.

Selain itu, tambahnya, aturan hukum ini nantinya juga untuk pelestarian nilai-nilai budaya Minangkabau yang senantiasa masih hidup dan dipakai oleh masyarakat Minang (Sumbar, red).

Penguatan dan pelestarian ini, menurut dia, agar budaya Minangkabau tidak tergerus akibat adanya perkembangan zaman atau adanya infiltrasi budaya asing karena arus globalisasi.

Senada dengan itu, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengakui, persentuhan era globalisasi ditandai perkembangan teknologi dan informasi dengan budaya Minangkabau telah menyebabkan melemahnya nilai-nilai budaya etnis ini.

Dengan terjadinya globalisasi dengan perkembangan teknologi dan informasi serta komunikasi maka terjadi pula persentuhan antara budaya Minangkabau dengan budaya Barat telah menyebabkan melemahnya budaya salah satu etnis besar di Indonesia tersebut, katanya.

Ia menyebutkan, melemahnya nilai-nilai budaya Minangkabau karena perkembangan zaman dan era globalisasi menjadi salah satu pertimbangan disusunnya Ranperda penguatan dan pelestarian budaya Minangkabau tersebut.

Melemahnya nilai-nilai budaya tersebut juga berdampak negatif terhadap kewibawaan pemuka masyarakat adat dan agama di daerah Minangkabau (Sumbar, red), tambahnya.

Ia menjelaskan, Minangkabau dan masyarakat etnis ini telah memiliki budaya yang tumbuh, berkembang, dipertahankan dan diwariskan oleh leluhurnya sejak ratusan tahun untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Menurut dia, budaya Minangkabau telah dimanfaatkan sejak ratusan tahun sehingga telah teruji keandalannya dalam kehidupan masyarakat, sesuai dengan kepribadian dan filsafat hidup serta merupakan jati diri yang perlu dipelihara.

Ia menyatakan, dalam perkembangnya budaya Minangkabau tidak menutup diri terhadap masuknya pengaruh dan budaya asing seperti melalui kearifan lokal masyarakat Minang telah terjadi akulturasi dengan masuknya ajaran Islam ke Sumbar ratusan tahun lalu.

Meski demikian, persentuhan dengan globalisasi tidak dipungkiri juga berdampak terhadap menurunnya nilai-nilai budaya Minangkabau sehingga dibutuhkan aturan hukum untuk penguatan dan pelestarian budaya etnis tersebut, tambahnya.

-

Arsip Blog

Recent Posts