Jakarta Melayu Festival Goyang Penonton

Jakarta - Ratusan penonton menyaksikan pentas musik di acara Jakarta Melayu Festival. Acara ini di selenggarakan di Hotel Bidakara, Jakarta Jumat malam 30 Agustus 2013.
Alunan musik Melayu dengan sentuhan orkestra Anwar Fauzi meriuhkan suasana yang temaram dengan penerangan yang ditembakkan dari atas panggung. Satu persatu penyanyi yang tampil mendendangkan lagu Melayu. Bersamaan dengan itu para penonton menggoyang-goyangkan kepala atau sekadar mengangkat dan menggoyangkan tangan di udara.
Penonton yang terkondisikan menyaksikan acara sambil duduk menjadi terbatas untuk bergerak. Namun masih terlihat bagaimana semua yang hadir menikmati sajian musik itu.
Saking gatal bergoyang beberapa orang pada akhirnya membentuk kerumuman di area barisan kursi belakang dan mulai bergoyang sambil berdiri. Rupanya menikmati musik Melayu pun tidak bisa tidak dilewati tanpa goyangan.
Pentas musik Melayu ini nampak memiliki peminatnya sendiri. Pantauan Tempo selama acara berlangsung penonton didominasi oleh orang berketurunan Arab.

Wayang Dikagumi Dunia, Telantar di Negeri Sendiri

Jakarta - Sebanyak 295 seniman boneka dari 46 negara menunjukkan kebolehannya di sejumlah tempat di Jakarta pada 1-8 September 2013. Perhelatan terbesar di dunia soal wayang ini sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia adalah rumah bagi wayang.
Sepuluh penari pria bertelanjang dada. Tangan mereka ditekuk di atas kepala, lalu diikat. Bersama dengan tangan, wajah para penari itu kemudian ditutup kain berwarna-warni. Dada dan perut gendut (ada pula yang kurus) penari berubah menjadi wajah-wajah pria dan wanita yang dilukis dengan berbagai ekspresi.
Ketika musik berirama dangdut dimainkan, tubuh para penari sontak berputar-putar, meliuk ke kiri kanan, dan membuat formasi saling silang atau berjejer. Gerakan tubuh menghidupkan ekspresi wajah di perut penari.
Gelayut perut gendut yang bergoyang-goyang membuat ekspresi wajah di perut ikut berubah-ubah, terkadang seperti cemberut atau tersenyum. Inilah boneka manusia yang menjadi tradisi baru masyarakat Rajasthan dan Gujarat, India. Pertunjukan boneka manusia yang diciptakan seniman Jeetendra Adwani ini mampu membuat geli penonton yang sebagian besar orang asing, Senin (2/9), di Hall Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan.
”Saya terinspirasi orang-orangan sawah di ladang kami,” kata Jeetendra yang sore kemarin ikut menari. Ia menciptakan boneka manusia pada tahun 1995 dan sejak itu tarian boneka manusia dikenal sebagai ciri khas tarian tradisi Rajasthan dan Gujarat.
Jeetendra mementaskan tarian boneka manusia dalam rangkaian Wayang World Puppet Carnival (WWPC) 2013 di Jakarta.
Beragam boneka
WWPC 2013 menampilkan beragam boneka dari sejumlah negara. Valeria Sacco dari Riserva Canini Teatro Italia, misalnya, memperkenalkan boneka perempuan seukuran manusia yang ia mainkan sendiri. Dalam penampilannya, Sacco membaur bersama boneka yang selalu bersandar pada tangannya. Ia sendiri menutupi wajahnya dengan kain dan kadang- kadang dibuka untuk berperan menjadi lawan bicara sang boneka.
Dari Peru, Amerika Selatan, Jose Navarro memainkan boneka yang digerakkan dengan tali- temali. Keterampilan jarinya membuat boneka yang mengenakan pakaian tradisional Peru itu begitu hidup. Boneka itu ia hidupkan dari ritual tari tradisional Peru bernama tari gunting (scissors dance).
Pertunjukan boneka lainnya bentuknya sangat beragam, mulai dari boneka jari, boneka tali, boneka bayangan, hingga boneka yang tangan kaki dan kepalanya langsung digerakkan tangan-tangan pemainnya. Mereka tampil dalam pertunjukan gratis di empat lokasi yang berbeda, yaitu di Gedung Pewayangan TMII, Museum Nasional, Monumen Nasional (Monas) dan Gedung Teater Usmar Ismail pada 1-8 September. Selesai bermain, giliran para seniman itu ”digiring” untuk menonton wayang Indonesia semalam suntuk di Monas.
”Banyak orang asing sudah tahu wayang, tetapi mereka tidak tahu bagaimana wayang dimainkan komunitasnya di sini,” kata Eko Tjipto, Ketua Umum Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) yang menggagas WWPC 2013. Indonesia menampilkan lima dalang dalam pergelaran wayang kulit dan wayang golek semalam suntuk.
Permainan bayangan
Lalu, di mana posisi wayang dalam tradisi dunia? Menurut Suyanto, dosen pedalangan Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta, wayang berbeda dengan pertunjukan boneka yang menjadi tradisi sebagian besar bangsa Eropa. Wayang dalam tradisi Indonesia sudah berkembang jauh sebelum orang Eropa mengenal pertunjukan boneka.
Wayang menjadi bagian ritual masyarakat Nusantara yang pada masa itu masih memuja leluhur. Solichin, peneliti dan penulis buku Filsafat Wayang, mengungkap, wayang sudah dikenal di Nusantara sekitar 1.500 tahun sebelum Masehi sebelum bangsa ini mengenal tulisan dan masih memeluk animisme.
Buku Wayang, Masterpiece Seni Budaya Dunia, yang ditulis Solichin, menyebutkan, pada masa itu, roh leluhur dipuja-puja dan diwujudkan dalam bentuk patung atau gambar. Salah satu contoh bentuk wayang purba adalah si Gale-gale dari Sumatera Utara, yaitu boneka kayu yang digerakkan dengan tali dari belakang.
Adapun wayang berasal dari bahasa Jawa yang artinya bayang-bayang. Hal ini disebabkan pada mulanya pertunjukan wayang hanya bisa disaksikan dari balik layar. Obor penerangan atau blencong menciptakan bayang-bayang indah di layar dari karakter yang dimainkan. Fenomena inilah yang membuat seniman boneka di luar negeri menjuluki wayang sebagai shadow puppet atau boneka bayang- bayang.
Wayang juga menginspirasi seniman dunia untuk mengembangkan kreasinya. Larry Reed, seniman dari San Francisco Amerika Serikat, misalnya, menciptakan karya baru setelah melihat pertunjukan bayang-bayang wayang Bali. Ia menciptakan pertunjukan bayang-bayang berskala layar bioskop.
Eko Tjipto mengatakan, kreasi ini menunjukkan wayang dikagumi di tataran dunia. Ironisnya, seni wayang di Tanah Air justru ditelantarkan. Dari sekitar 100 jenis wayang yang ada di Indonesia, misalnya, kini 75 di antaranya sudah musnah karena tidak ada regenerasi.
Agar tak semakin banyak wayang yang punah inilah, WWPC diselenggarakan. ”Ini sekaligus mengajak generasi muda untuk mencintai wayang,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Arsari Djojohadikusumo, Catrini Pratihari Kubontubuh, yayasan yang mendukung WWPC.
Jangan sampai wayang dikagumi dunia, tetapi ditelantarkan di negeri sendiri.

Singkawang Raih Juara Vocal Group Lagu-lagu Melayu

Singkawang, Kalbar - Kota Singkawang tampil sebagai juara I lomba vocal group lagu-lagu Melayu yang diselenggarakan dalam rangka Festival Seni Budaya Melayu se Provinsi Kalimantan Barat, di Kabupaten Sambas, pada tanggal 24 s/d 31 Agustus 2013.
Koordinator sekaligus Pembina Vocal group lagu-lagu Melayu Kota Singkawang, Dedy Syaputra, bertempat di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika, Jumat (30/8) mengungkapkan rasa sukurnya, karena group Vocal Group binaannya berhasil keluar sebagai juara.
Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat (FSBMKB) IX Tahun 2013 tersebut, dilaksanakan pada tanggal 24 s/d 31 Agustus 2013 di Kabupaten Sambas, dengan peserta adalah utusan dari Majelis Adat Budaya Melayu Kabupaten/Kota se-Kalimantan Barat.
Dedy mengatakan berhasilnya vocal group Kota Singkawang berkat doa restu masyarakat Kota Singkawang dan usaha, serta kerja keras tim dalam persiapan mengikuti perlombaan yang diselenggarakan oleh Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (MABMKB).
“Semuanya atas Ridho Allah, akhirnya Kota Singkawang bisa menaikkan peringkat kejuaraannya. Tahun sebelumnya kami harapan l. Dengan prestasi ini, kami berharap dijadikan motivasi bagi tim untuk lebih keras berusaha dan berjuang, agar selalu siap untuk menghadapi perlombaan ke jenjang yang lebih tinggi,” kata Dedy.
Dedy juga berharap dengan kegiatan  Festival Seni Budaya Melayu yang rutin diselenggarakan setiap tahun, Pemerintah Kota Singkawang melalui SKPD terkait agar dapat mengapresiasi, meningkatkan perhatian dan pembinaannya.
“Apresiasi Pemerintah Kota Singkawang terhadap seni budaya yang bersifat kedaerahan sangat kami harapkan,” kata Deddy.
Dengan demikian, diharapkan para generasi muda bisa mengerti, memahami, melestarikan dan akhirnya bangga dengan seni budaya daerah dibandingkan dengan seni budaya dari luar. “Kalau tidak kita sendiri, mau siapa lagi yang mau menjaga dan melestarikan kekayaan bangsa in,” katanya.
Menurut Dedy, seni budaya daerah bisa mengangkat citra daerah ke tingkat nasional bahkan internasional kalau dikelola dengan sebaik-baiknya. Dia juga bertekad, kecintaannya pada Seni Budaya Melayu akan dijaga dan ditularkan pada binaannya.
Juara bukan menjadi target utama, Majelis Adat Budaya Melayu Provinsi Kalimantan Barat mengemas dalam bentuk festival Seni Budaya Melayu merupakan upaya memotivasi masyarakat khususnya generasi muda, agar tertarik untuk melestarikan Seni Budaya Melayu ini.
Selain melalui FSBM dengan fasilitasi Pemerintah Tingkat Provinsi Kalimantan Barat, juga diselenggarakan Festival Budaya Bumi Khatulistiwa. Lomba yang diselenggarakan dalam FBBK selain Seni Budaya Melayu juga Dayak.
“Dengan festival-festival ini, selain memotivasi generasi mudah juga bisa menjadi daya tarik wisatawan dari luar provinsi Kalimantan Barat,” ujar Dedy.
Seiring dengan tema yang diusung dalam FSBM yaitu ”Adat Dijunjung Budaya Disanjung“, festival ini diselenggarakan agar menjadi pendorong generasi muda Melayu agar selalu bertindak positif dan berakar kepada kekuatan kebudayaan sendiri.
Sehingga dapat terhindar dari pergaulan buruk yang mengiringi kebebasan gaya hidup di era kebebasan informasi dan globalisasi.

Silaturahmi Berbalut Budaya Digelar Warga Kalimantan di Surabaya

Surabaya, Jatim - Ratusan warga dari empat provinsi di Kalimantan memenuhi gedung Gelora Pancasila Surabaya untuk menjalin silaturahmi dan tetap menghidupkan budaya Kalimantan di perantauan dalam acara halalbihalal Kerukunan Keluarga Kalimantan se-Jawa Timur.
Silaturahmi Kerukunan Keluarga Kalimantan (K3) yang dilaksanakan pascalebaran, di Surabaya, Minggu (1/9/2013) merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun yang penyelenggaraannya dilaksanakan secara bergantian.
Kali ini provinsi Kalimantan Timur sebagai pelaksana atau tuan rumah, dengan tujuan untuk lebih merekatkan silaturahmi dengan warga Kalimantan yang ada di Jawa Timur yang kini jumlahnya mencapai 10 ribu kepala keluarga.
Wakil Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Resnawan mengungkapkan, melalui kegiatan ini diharapkan akan memupuk rasa persaudaraan dan kebersamaan warga perantauan terjalin semakin erat.
"Saya sangat mengapresiasi silaturahmi ini, apalagi  berbagai ragam khas budaya Banjar, seperti kesenian, kuliner dan busana ditampilkan dalam acara tesebut," katanya.
Dengan demikian, kata dia, kegiatan ini setidaknya akan melepaskan rasa kangen dengan Banua Banjar," katanya.
Melalui Silaturahmi tersebut diharapkan pembinaan terhadap keluarga Kalimantan juga akan lebih mudah dilakukan, sehingga berbagai persoalan yang terjadi bisa dipecahkan bersama dan diantisipasi sehingga tidak menimbulkan hal-hal yanga tidak diinginkan.
Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat dari Kalimantan Timur  turut hadir seperti Bupati Kutai Timur H Isran Nur, Wakil Wali Kota Samarinda H Nursirwan, HM Yos Sutomo, dan Hj Nafsiah Dakhlan Iskan (Isteri Menteri BUMN).
Sedangkan dari Kalimantan Selatan selain Wakil Gubernur Kalsel H Rudy Resnawan, juga hadir  sejumlah Pejabat Pemprov Kalsel diantaranya Staf Ahli H Nisfu¿ani, Karo Humas HM Haris Makki, Karo Umum H Zulkifli, Karo Perlengkapan H Wing Ariansyah, Karo Organisasi H Perkasa Alam, dan karo hukum.
Nuansa  Banjar terasa sangat kental pada halal bihalal, dimana sebelum memasuki Gelora Pancasila aneka kuliner Banjar dari Nasi kuning, Soto Banjar, Katupat Kandangan, buras, hingga wadai bingka, cincin, ontuk-ontuk, hingga roti pisang.
Selain itu, amparan tatak, kararaban dan makanan khas lainnya, cukup menarik minat warga banjar di perantauan untuk membeli.
Begitu pula gelaran seni budaya Banjar ditampilkan, dari tari-tarian, lagu Banjar, busana/pakai adat banjar tradisionil dan modifikasi, juga ditampilkan kesenian Madihin.
Komunikasi dalam bahasa banjar, terdengar masih fasih sesama yang hadir.
Ketua K3 Jawa Timur H Ma’mun Adnan mengatakan kegiatan Halal Bihalal, selain untuk bersilaturahmi 10 ribu Kepala Keluarga warga perantauan asal Kalimantan, juga untuk mengetahui perkembangan kemajuan daerah asal.
"Makanya kita harapkan para pejabat empat propinsi di Kalimantan bisa hadir, untuk memberikan informasi kemajuan pembangunan didaerah," katanya.
Menurut H Ma¿mun Adnan, ada sekitar 10 ribu kepala keluarga (KK) asal Kalimantan yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Timur.

"Lebaran Betawi" Ajang Melestarika Budaya

Jakarta - Gubernur DKI  Jakarta Joko Widodo berpendapat acara Lebaran Betawi merupakan cara untuk melestarikan budaya.
"Jadi, ini adalah budaya Betawi yang harus dilestarikan. Masih banyak makanan khas kita banyak yang nggak tahu. Ini keplak, akar kelapa, kembang goyang," kata Jokowi, panggilan akrab Joko Widodo, usai memberikan sambutan Lebaran Betawi di Silang Monas Timur, Jakarta Pusat.
Di acara Lebaran Betawi tahun ini, masing -masing wilayah administratif Jakarta: Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Kepulauan Seribu, mendirikan rumah Betawi yang memamerkan kesenian maupun makanan khas Betawi. Rumah Jakarta Timur, misalnya, menampilkan tarian yang menggunakan rebana, sedangkan Jakarta Utara menampilkan musik gambang kromong.
Menurut Asisten Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta, Sylviana Murni, acara Lebaran Betawi ini merupakan ajang untuk mengembangkan budaya Betawi.
"Seperti yang gubernur bilang, 'mem-Betawi-kan masyarakat Jakarta dan men-Jakarta-kan masyarakat Betawi," katanya saat dihubungi Antara News.
Acara Lebaran Betawi ini telah memasuki tahun keenam. Lebaran Betawi pertama diadakan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat dan berpindah-pindah di lima wilayah Jakarta lainnya pada tahun-tahun berikutnya.
"Mestinya sekarang di Kepulauan Seribu, tapi karena tidak memungkinkan, jadi tuan rumah diboyong ke Monas," jelas Sylviana.
Lebaran Betawi 2013 diadakan selama dua hari 31 Agustus dan 1 September. Mengenai pemilihan waktu, Sylviana menjelaskan memang sengaja diadakan setelah Idul Fitri, salah satu pertimbangannya adalah banyak orang Betawi yang menikah dengan suku lain sehingga mereka mudik saat Lebaran.
"Kalau ngumpul-ngumpul kan biasanya Sabtu-Minggu. Yang penting nggak lewati bulan Syawal," jelasnya.

Penyanyi Top Ramaikan Jakarta Melayu Festival

Jakarta - Jakarta Melayu Festival diramaikan penampilan beberapa penyanyi top seperti Sulis, Muchsin Alatas, Hamdan ATT, Mustafa Abdullah, Nizar Ali, Ema Lopez, Fahad Munif, Fuad Balfas, dan Hendri Lamiri. Mereka secara total mampu menghibur penonton.
Selain itu, Jakarta Melayu Festival menyuguhkan berbagai tari nusantara, seperti Riau, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Jambi. Para penari menunjukan kebolehannya dengan iringan musik melayu. Acara yang digelar di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta, itu benar-benar penuh corak melayu hingga kepada busana penyanyi dan pemain musiknya.
Lagu berjudul “Dingding Badingding” dan “Rentak Seratus Enam” menjadi pembuka dalam festival itu dengan tarian khas melayu. Sulis membawakan lagu berjudul “Bunga Seroja”. Lagu yang diciptakan S. Effendi ini sukses menghibur penonton. Apalagi, suaranya yang mampu mencapai nada-nada tinggi nan sulit. Lagu ini sempat populer kembali pada era 2000-an. Saat itu, lagu ini menjadi soundtrack film “Laskar Pelangi”. Tak heran, tua dan muda begitu fasih dalam menyanyikan lagu tersebut.
Lagu berjudul “Laila Canggung” juga mampu menghipnosis penonton. Lagu yang dibawakan oleh Iyeth Bustami ini sanggup membuat beberapa penonton untuk berdendang sambil berdansa.
“Saya senang dengan digelarnya Jakarta Melayu Festival ini. Menurut saya kalau bisa setiap tahun harus diadakan, agar musik melayu bisa dikenal lebih banyak lag,” kata Sulis.
Menurut Sulis, usik Melayu merupakan salah satu aset penting Tanah Air yang harus terus dilestarikan. Jangan sampai musik ini tergerus oleh zaman. Apalagi, arus deras musik barat semakin membius generasi muda. Karena itu, festival ini bisa menjadi pemacu untuk musik melayu berkembang kembali di industri Tanah Air.
-

Arsip Blog

Recent Posts