Pangarmatim Buka Parade Budaya di Bali

Denpasar, Bali - Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Darwanto, S.H., M.A.P membuka Parade Budaya di Mako Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Denpasar. Kegiatan tersebut dilaksanakan Pangarmatim di sela kunjungan kerja ke Lanal Denpasar Bali. Dalam pelaksanaannya Pangarmatim didampingi oleh Komandan Lanal Denpasar Kolonel Laut (S) Julius Widjojono.

Parade budaya dalam bentuk pawai mobil hias Endog-Endogan merupakan kerjasama Lanal Denpasar dengan Warga Muslim Bali yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Banyuwangi (Ikawangi) Dewata dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Parade budaya yang mengambil tema “Meneguhkan Kembali Budaya Bahari; Wangine Kembang Pesisiran” tersebut menampilkan sejumlah kesenian warisan budaya dari pulau paling ujung di JawaTimur, seperti Barongan, Tari Kuntulan, dan JarananButo, Kebokeboan. Parade budaya tersebut mengambil start dari Mako Lanal Denpasar dan finish di Lapangan Mahendradata Denpasar.

Dalam sambutannya sebelum melepas pawai, Pangarmatim mengatakan bahwa pelaksanaan tradisi Endog-Endogan diharapkan mampu memperkuat kemaritiman dan kelautan di Negara Indonesia sehingga Bangsa Indonesia kembali menjadi bangsa maritim yang besar.

Ketua Panitia Mahmud Mu’roj menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pihak TNI AngkatanLaut dalam hal ini Lanal Denpasar yang telah banyak membantu, sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan sukes. Lebih lanjut dikatakan bahwa telur atau endog yang dihias warna warni tersebut diarak berkeliling menggunakan mobil yang kebanyakan dibentuk mirip kapal atau perahu. Tradisi tersebut masih dilestarikan oleh warga muslim asal Banyuwangi di Bali yang mayoritas beragama Hindu.

Lebih lanjut dikatakan bahwa selain pawai juga dilaksanakan kegiatan sosial, seperti menyantuni anak yatim, memberikan pelayanan kesehatan gratis dan donor darah.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi, Ketua Ikawangi Dewata Bambang Sutiyono, Budayawan Banyuwangi dan ribuan masyarakat asal Banyuwangi yang ada di pulau Dewata.

Yogyakarta Siapkan "Art Point" Pentas Kesenian Wilayah

Yogyakarta - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta menyiapkan art point memanfaatkan panggung berjalan untuk menambah atraksi wisata di Kota Yogyakarta, khususnya malam hari.

"Ada dua titik tetap yaitu di Jalan Margo Utomo dan di Jalan Malioboro, selain itu juga disiapkan art point di Kotagede dan Lapangan Sewandanan Pakualaman," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta Eko Suryo Maharso di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, penetapan art point tersebut bermula dari cukup banyaknya kelompok kesenian dan kebudayaan di wilayah yang membutuhkan ruang untuk mengekspresikan karya mereka.

Oleh karena itu, lanjut Eko, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta kemudian berupaya memfasilitasi kelompok kesenian itu dengan menyiapkan lokasi pentas. Dinas akan memanfaatkan dana keistimewaan untuk menyiapkan art point itu.

"Setiap kali saya ke wilayah, selalu ditanya kapan kelompok kesenian bisa pentas karena selama ini hanya berlatih saja," katanya yang menyebut ada sekitar 700 kelompok kesenian dan kebudayaan di wilayah.

Kelompok kesenian yang ingin pentas bisa mendaftarkan diri secepat mungkin ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Di setiap art point akan ada lima kelompok yang pentas setiap Sabtu malam.

"Jika peminatnya banyak, maka kami akan melakukan seleksi. Jika tidak, maka kelompok kesenian yang mendaftar bisa langsung pentas. Setiap kelompok yang pentas akan memperoleh stimulan," katanya.

Hanya saja, lanjut Eko, kelompok kesenian yang bisa memanfaatkan art point itu adalah kesenian tradisional yang bisa mendukung keistimewaan Yogyakarta. "Bukan band yang menyanyikan lagu-lagu modern," katanya.

Ia menambahkan kegiatan itu akan segera terlaksana setelah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta selaku kuasa pengguna anggaran bisa mencairkan dana keistimewaan.

"Begitu dana cair, kegiatan akan segera dijalankan," lanjutnya.

Selain membuka art point, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta juga sudah memiliki rencana pengalokasian dana keistimewaan untuk menunjang kegiatan budaya di antaranya untuk mendukung pelaksanaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, pentas kesenian dengan memanfaatkan bangunan cagar budaya atau warisan budaya, Festival Kesenian Yogyakarta serta Gelar Maestro seniman yang dibesarkan di Yogyakarta.

Total dana keistimewaan yang dikelola Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk urusan kebudayaan pada tahun ini tercatat sebesar Rp9 miliar.

"Harapannya, penyerapan dana keistimewaan tahun ini bisa optimal," katanya.

Masyarakat Nusa Utara Bitung Gelar Ritual Tulude

Bitung, Sulut - Masyarakat Nusa Utara etnis Sangihe dan Talaud di Kota Bitung, Sulawesi Utara(Sulut) menggelar ritual adat Tulude serentak di 10 kecamatan, Sabtu.

"Digelarnya pesta adat ini akan menjadi momentum sakral untuk warga dan masyarakat Nusa Utara yang sudah menjadi warga Bitung," kata Wali Kota Bitung Hanny Sondakh dalam sambutan di pesta adat Tulude Kecamatan Aertembaga, Sabtu.

Pesta adat Tulude sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas perlindungan, limpahan rejeki dan kesehatan di sepanjang tahun 2014 atau sering disebut tolak tahun.

Pesta adat Tulude dirangkaikan dengan pemotongan Tamo (tumpeng) oleh seorang warga Nusa Utara yang dituakan sambil membacakan doa dalam bahasa Sangihe.

Gelaran Tulude di masing-masing Kecamatan Kota Bitung dihadiri oleh pejabat pemerintah setempat. Wakil Wali Kota Bitung Maximilian J Lomban di Kecamatan Lembeh Utara sedangkan Sekretaris Kota Bitung Edison Humiang di Kecamatan Matuari dan diikuti para asisten pada kecamatan lainnya.

Meski jauh dari kampung halaman dan kini hidup di tanah rantau, masyarakat etnis Sangihe dan Talaud tetap menjalankan ritual adat tulude.

Hal ini merupakan kebiasaan yang dilakukan turun temurun sejak nenek moyang sebagai ekspresi ungkapan syukur kepada Yang Maha Kuasa.

"Tulude" atau "Menulude" berasal dari kata Suhude, bahasa Sangihe yang berarti tolak. Sedangkan tulude berarti menolak atau melepaskan.

Usai pesta adat tersebut, masyarakat nusa utara yang berbaur dengan masyarakat dari berbagai suku termasuk Minahasa melanjutkan acara masamper atau kesenian Nusa Utara

Pemkot Jaktim Gelar Budaya Betawi di Jalan Pemuda

Jakarta - Dalam upaya menjaga dan melestarikan kearifan lokal budaya Betawi, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur (Pemkot Jaktim) mengadakan Gelar Budaya Betawi dan Budaya Nusantara 2015.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di depan Gedung PT Aneka Tambang (Antam), Jl. Pemuda, Pulogadung, mulai pukul 17.00 wib Sabtu sore ini.

Kepala Bagian Perekonomian Jakarta Timur Sutrisna mengatakan, acara ini selain untuk memberikan hiburan juga memperkenalkan kepada masyarakat keanekaragaman budaya Betawi dan nasional.

"Pada acara tersebut akan ditampilkan berbagai kesenian antara lain atraksi gotong singa dan egrang. Selain itu ada pula atraksi ondel-ondel dan upacara palang pintu untuk menyambut para tamu undangan dan pengunjung," kata Sutrisna, seperti dikutip dari laman resmi Pemkot Jaktim, Sabtu (31/1).

Selain aneka budaya dan kesenian, juga akan digelar bazar di arena kegiatan. Sedikitnya ada 120 stand dari para pengusaha binaan Suku Dinas Koperasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, dan Perdagangan (KUMKMP) Kota Administrasi Jakarta Timur yang ikut berpartisipasi. Stand-stand tersebut akan menjual aneka kuliner, fashion, asesoris dan kerajinan tangan.

"Untuk memperlancar acara, dilakukan penutupan ruas Jalan pemuda bagi kendaraan bermotor, dari persimpangan Tugas sampai Kantor Pos Jakarta Timur, mulai pukul 12.00 - 24.00 wib," ungkapnya.

Separuh Desa di DIY Ditarget Jadi Desa Budaya

Yogyakarta - Pemerintah Daerah melalui Dinas Kebudayaan DIY menargetkan 50 persen desa di seluruh DIY menjadi desa budaya. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Umar Priyono, Sabtu (31/1).

Umar mengatakan bahwa saat ini sudah ada sebanyak 32 desa yang menjadi desa budaya di wilayah DIY. Saat ini DIY memiliki 438 Desa yang tersebar di 78 kecamatan di Kabupaten Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul dan Kota Yogyakarta. Dari jumlah tersebut, Dinas Kebudayaan menargetkan 50 persen diantaranya dapat menjadi desa budaya yang nantinya juga berkembang menjadi desa wisata.

"Saat ini ada 32 desa yang sudah menjadi desa budaya, tentunya masih sangat sedikit jika dikaitkan Yogyakarta sebagai daerah istimewa. Oleh karena itu kami mengharapkan dapat berkembang hingga 50 persen nantinya dan perintisannya dimulai pada 2015 ini," ungkapnya.

Menurut Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) DIY, ditargetkan tahun 2025 DIY menjadi kota pariwisata, budaya dan pendidikan nomer satu di Asia Tenggara. "Kita akan berusaha untuk memenuhi target tersebut," lanjutnya.

Hal senada juga dikatakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono saat menjadi pembicara dalam acara obrolan di Bangsal Kepatihan, Sabtu (31/1). Sultan mengharapkan agar nantinya desa budaya tersebut dapat berkembang dan menjadi mandiri baik secara ekonomi maupun pembangunan.

"Tentunya juga agar perekonomian masyarakat desa bisa semakin baik dan mandiri untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan juga," ungkap Sultan.

Maulid Nabi dan Festival Telur

Bontang, Kaltim - Wali Kota Bontang yang diwakili Asisten Administrasi Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Masyarakat Emlizar Muchtar menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan dirangkai dengan Festival Telur yang berlangsung di Anjungan Bontang Kuala, Minggu (25/1) lalu.

Peringatan Maulid Nabi dan Festival Telur yang digagas oleh Lembaga Adat Bontang Kuala ini, juga dihadiri Pembina Himpunan Majelis Taklim Bontang (HMTB) Najirah Adi Darma. Berikut unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD), tokoh masyarakat, dan ratusan masyarakat Kelurahan Bontang Kuala dan sekitarnya.

Terkait pelaksanaan Festival Telur, Emlizar Muchtar memberikan apresiasi yang tinggi karena menurutnya kegiatan tersebut akan semakin memperkaya keanekaragaman budaya yang ada di Kota Bontang. Terutama di Bontang Kuala yang menjadi salah satu destinasi pariwisata Kota Bontang.

“Festival Telur ini salah satu bentuk dukungan masyarakat Bontang Kuala dalam meningkatkan dan menyukseskan program kepariwisataan yang dilaksanakan Pemerintah Kota Bontang. Saya yakin, kegiatan ini juga merupakan sumbangsih masyarakat sebagai bentuk partisipasi dalam membangun Kota Taman,” ungkap Emlizar.

Selanjutnya dia mengharapkan Festival Telur dijadikan sebagai modal utama melaksanakan pembangunan. Berikut menyinergikan hubungan pemerintah dengan seluruh lapisan masyarakat, sekaligus sebagai wadah untuk mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Semoga kegiatan ini berpengaruh positif terhadap upaya melestarikan adat istiadat serta menjadi budaya khusus di Bontang Kuala. Tentunya, Festival Telur ini akan mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Bontang,” tambahnya.

Sementara itu, Najirah menyebutkan bahwa Festival Telur salah satu bentuk kreativitas masyarakat Bontang Kuala yang harus terus dibudayakan dan dilestarikan. Bahkan kegiatan ini layak dijadikan agenda rutin yang diselenggarakan setiap tahun.

“Saya berharap kepada seluruh masyarakat Bontang Kuala agar Festival Telur ini diselenggarakan setiap tahun. Saya yakin festival ini nantinya bisa dijadikan salah satu daya tarik dan akan memperkaya keanekaragaman budaya di Kota Taman,” tegas Najirah.

-

Arsip Blog

Recent Posts