Lukisan "Pangeran Panji Asmorobangun" Dipajang di Rusia

LONDON, Cerita Panji Asmorobangun ditampilkan dalam sebuah lukisan raksasa di Ibukota ujung dunia, Moskow selama sebulan dalam rangka keketuaan Indonesia di APEC tahun depan sebagai tebar pesona di Rusia.

Pameran lukisan Panji berukuran 1 x 60 m tersebut diselenggarakan atas kerjasama Museum Dekorasi dan Kerajinan Rakyat, Museum Kesenian Timur dan Teater Akademi Boneka S.V. Obrastsov, ujar Sekretaris I Pensosbud KBRI Moskow, Lailal K.Yuniarti kepada ANTARA London, Kamis.

Pameran diselenggarakan dalam menyambut KTT APEC di Vladivostok, tanggal 2 sampai 9 September dan keketuaan Indonesia tahun 2013.

Duta Besar Djauhari Oratmangun dalam sambutannya mengatakan bahwa cerita Panji dan wayang hanya merupakan sebagian kecil dari kebudayaan Indonesia yang sangat beragam sebagaimana juga keberagaman seni dan budaya Rusia.

"Jika ingin mengetahui lebih banyak mengenai seni dan budaya Indonesia, maka berkunjung ke Indonesia merupakan cara terbaik untuk mengenal seni budaya Indonesia secara langsung," ujar Dubes Djauhari Oratmangun yang disambut tepuk tangan meriah dari hadirin yang mengikuti acara pembukaan pameran.

Tidak hanya itu, Dubes Djauhari Oratmangun juga melengkapi kekaguman hadirin dengan mempersembahkan tarian kontemporer Indonesia yang dibawakan oleh tiga pelajar dari Sekolah Indonesia Moskow.

Tari Burung yang ditampilkan secara aktraktif dengan musik pengiring yang rantak mengiringi gerak-gerik penari yang melenggak lenggok dan mengepakkan sayap laksana burung tersebut membuat hadirin berdecak kagum.

Lukisan Panji berukuran raksasa tersebut merupakan proyek Budayawan Taufik Razhen, dari Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana, Bali dengan warna dasar krem ini terdiri dari 23 episode yang masing-masing berisi kisah percintaan antara Panji Asmorobangun (dari Kerajaan Jenggala, Kediri) dan Putri Candrakirana atau Dewi Sekartaji (dari Kerajaan Daha).

Cerita rakyat yang berkembang di Jawa Timur pada abad ke-7 hingga abad ke-15 ini bagaikan kisah Romeo dan Juliet pada era modern, yang mengisahkan cerita cinta antara dua muda-mudi yang dimabuk asmara. Ke-23 episode tersebut dilukis dalam dua sisi kain selebar satu meter dan panjang 60 meter dengan warna-warni yang sangat menarik.

Epos Panji yang berkembang dari Jawa Timur kemudian menyebar ke berbagai wilayah nusantara seperti Bali, Sunda, Lombok, Kalimantan hingga Melayu) ini merupakan epos yang tidak kalah menarik dibandingkan epos Ramayana atau pun Mahabarata meskipun popularitasnya tidak setenar kedua epos tersebut.

Mungkin karena pada awalnya cerita rakyat Panji ini tertutup dikalangan masyarakat Jawa Timur sebelum akhirnya menyebar melalui penuturan lisan hingga ke wilayah Melayu bahkan ke Asia Tenggara.

Lukisan raksasa berisi kisah Panji yang dipamerkan tersebut sangat menarik perhatian pengunjung, selain karena ukurannya yang luar bisa juga karena lukisan di tiap-tiap episode yang dibuat sangat menarik dan detil.

Tokoh Panji digambarkan dengan ciri khas topinya yang disebut "tekes", badan bagian atas tidak mengenakan pakaian sedangkan bagian bawahnya menggunakan kain yang dilipat-lipat hingga menutupi paha. Dalam lukisan tersebut sang Pangeran dari Kerajaan Jenggala, Kediri ini bagaikan sedang menebarkan pesonanya kepada setiap pengunjung pameran.

Untuk melengkapi lukisan Panji, yang di Indonesia juga sering menjadi tokoh dalam pertunjukan wayang baik wayang kulit hingga wayang klithik, serta tari topeng yang berkembang di beberapa daerah seperti Cirebon dan Indramayu, pihak Museum juga menampilkan sejumlah wayang dan topeng.

Tokoh-tokoh pewayangan yang ditampilkan cukup lengkap, mulai dari Arjuna, Bima, Gatot Kaca, Dewi Drupadi hingga si Cepot dari Jawa Barat.

Dalam sambutannya, Direktur Museum, Alexander Sysoenko menyampaikan penghargaannya karena akhirnya pameran ini dapat berlangsung meskipun pada awalnya sempat mengalami sedikit hambatan saat membawa lukisan ini ke Rusia mengingat ukurannya yang tidak biasa.

Di dalam ruang pamer dimana lukisan Panji dipajang, pengunjung juga bisa langsung mencoba memainkan alat musik angklung dan gamelan yang disiapkan KBRI Moskow dan diikuti secara antusias oleh pengunjung dan media yang hadir saat itu.

Rasa penasaran tamu undangan terhadap Indonesia semakin besar setelah mencicipi kue-kue kecil khas Indonesia termasuk kerupuk udang yang membuat lidah ketagihan untuk mencicipi.

Pameran lukisan Andaken Penurat-Young Prince-Panji yang dibuka tanggal 28 Agustus lalu ini direncanakan akan diadakan hingga akhir September untuk selanjutnya akan dibawa berkeliling ke beberapa kota lainnya termasuk Vladivostok dan Saint Petersburg.

Selain dihadiri oleh perwakilan Kementerian Kebudayaan Rusia dan tamu undangan lain, acara pembukaan pameran juga dihadiri oleh puluhan wartawan Rusia baik media cetak maupun elektronik.

Sumber : KOMPAS.com

Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Makassar menerima mahasiswa baru 2013

MAKASSAR – Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Makassar mulai menerima mahasiswa baru 2013 mendatang. Saat ini, Pemprov Sulsel menggandeng Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk kesiapannya.

Bahkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengucurkan anggaran hingga Rp3,5 miliar untuk melaksanakan studi kelayakan hingga persiapan sumber daya manusia (SDM) tenaga pengajar. Rektor ISI Surakarta Prof. Slamet Suparno yang ditunjuk Kemendikbud untuk merintis ISBI Makassar berkata, saat ini pihaknya tengah melakukan studi kelayakan pendirian sekolah tersebut di Makassar.

Studi kelayakan tersebut dinilai sangat penting untuk mengetahui seberapa besar kebutuhan masyarakat akan kehadiran ISBI di Makassar. Selain itu, juga meminta pendapat dari para lembaga terkait. Rencananya, hasil studi kelayakan yang dilakukan ISI Surakarta tersebut akan dibuatkan naskah akademik Oktober mendatang, dan pada November 2012 dibuatkan seminar nasional.

"Kami memang ditugaskan khusus oleh Kemendikbud mempersiapkan ISBI di kota ini, dengan anggaran persiapan hingga Rp3,5 miliar," kata Slamet di Makassar, kemarin.

Anggaran miliaran rupiah ini, dipergunakan untuk melakukan studi kelayakan, pembuatan naskah akademik, perencanaan SDM. Sedangkan untuk lahan perkuliahan, akan disiapkan oleh Pemprov Sulsel. Slamet mengaku, ISBI Makassar belum bisa beroperasi pada tahun ini. Hal tersebut karena pada 2012 ini fokus untuk persiapannya. Dia memperkirakan, perguruan tinggi ini baru bisa menerima mahasiswa baru tahun depan.

"Secara teknis, tahun ini ISBI belum bisa terbentuk. Pak Gubernur sendiri menginginkan tahun ini sudah bisa menerima mahasiswa, tapi menurut kami, itu belum siap," katanya.

Dia mengimbuh, ISBI Makassar dengan ISI Surakarta pada prinsipnya tak ada perbedaan. Masing-masing memiliki budaya kearifan lokal yang harus dihidupkan dan diteruskan ke generasi muda.

Sementara itu, pelaksana teknis persiapan ISBI Makassar Abd Jabbar menerangkan, pihaknya akan siap melengkapi seluruh syarat yang dikeluarkan oleh Kemendikbud. Termasuk, kata dia, lokasi yang harus ditanggung Pemprov Sulsel juga telah dipersiapkan. Untuk saat ini, lokasi tersebut berada di Benteng Rotterdam Makassar dan di Kabupaten Gowa.

Didirikannya ISBI tersebut merupakan instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh yang meminta langsung Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo membangun kampus di Makassar. Hal ini mengingat, belum ada satu pun kampus serupa dibangun di kawasan timur Indonesia (KTI), tahun lalu.

(wahyudi/koran si) (//rfa)
Sumber : Okezone.com

Mahasiswa Indonesia Ikut Konferensi Budaya di London

LONDON, Enam mahasiswa Indonesia mengikuti konferensi diplomasi budaya "Art as Cultural Diplomacy" dengan tema "Promoting Global Peace & Stability Through Strengthening Intercultural Relations" di London, baru baru ini. Konferensi itu digelar Academic Conference of Institute of Cultural Diplomacy (ICD).

Duta Putra Budaya Indonesia, Jodi Salahuddin Akbar, kepada ANTARA London, Jumat mengatakan, Academic Conference of Institute of Cultural Diplomacy (ICD) adalah satu institusi yang berpusat di Berlin, Jerman, dan memiliki beberapa rangkaian acara dalam setahun.

Konferensi itu bertujuan mengulas lebih dalam mengenai seni dan budaya, sebagai salah satu "media diplomasi" antarnegara dan budaya, khususnya dalam menangani konflik yang sering terjadi di beberapa negara akibat unsur rasial dan sebagainya.

Delegasi Indonesia ke acara tersebut terdiri atas Edi Saputra, mahasiswa S1 Finance Management FE UI 2008 yang juga Abang Jakarta Barat 2011, Sydney Amanda Ramandita, D3 Komunikasi- Advertising Vokasi UI yang juga None Harapan 1 Jakarta Pusat 2010, Harahap Thigor Anugrah, lulusan S1 Sastra Arab FIB UI 2009 yang juga mahasiswa UI untuk Kuliah Kerja Nyata 2012 di Perbatasan Indonesia - Malaysia (daerah Puttosibau Kalimantan Barat).

Duta budaya lainnya adalah Bening Karilla Kinasih, S1 Political Science FISIP UI 2011, Gilang Sasmoyo, S1 Political Science FISIP UI 2010, serta Jodi Salahuddin Akbar, S1 Political Science concentration in Comparative Politics FISIP UI 2009.

"Kami mendapat dukungan dari Garuda Indonesia, PT. Ultraco Mitrajaya Tbk, Media Partner: Suara Mahasiswa, Vivanews.com, RTC UI 104.7 FM," ujar Jodi.

Dikatakannya manfaat yang dirasakan setelah mengikuti konferensi itu adalah mendapatkan pengetahuan baru mengenai budaya sebagai diplomasi. Apalagi pembicara yang hadir banyak berasal dari berbagai kalangan.

Para pembicara antara lain dari seniman kulit hitam di UK (Inggris), anggota Parlemen Inggris, Rabbi Yahudi co founder Muslim - Jewish Forum, Ribal Al-Assad dari Siria founder IMAN foundation.

"Kami bertukar pengetahuan mengenai budaya dan berdiskusi dengan para peserta konferensi dari berbagai negara mulai dari Afghanistan, Brazil, Jepang, UK, USA, India, Nigeria, Ghana, Italia, Slovakia, Moldova, Russia, dan lain lainnya," ujarnya.

Mereka bukan hanya dari kalangan mahasiswa melainkan akademisi yang sudah S3 maupun S2 yang memang ahli dalam bidang kebudayaan dan seni di negara asal masing masing.

Dalam konferensi ini disuarakan pentingnya menghilangkan stigma negatif mengenai sentimen terhadap ras, agama, budaya, dan identitas tertentu.

Dalam konferensi juga dibahas mengenai "challenge extremism" di berbagai negara guna menghilangkan unsur-unsur fundamental terorisme di berbagai negara rawan konflik.

Selain itu delegasi Indonesia juga diajak untuk mengikuti Notting Hill Carnival 2012 di London, yang merupakan salah satu acara carnival terbesar di Eropa, menggunakan Baju Adat "Abang None Jakarta" bersama para delegasi lainnya.

"Manfaat yang kami rasakan dalam mempromosikan kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa untuk dijadikan sebuah diplomasi dalam dunia internasional serta memperluas jaringan mahasiswa Indonesia dalam konteks internasional," katanya.

Sumber : KOMPAS.com

Suku Betawi

3 juta (sensus 2000)
Kawasan dengan populasi yang signifikan
Jakarta: 2.3 juta
Bahasa
Betawi, Indonesia
Agama
Islam dan Kristen (minoritas)
Kelompok etnik terdekat
Banten, Jawa, Sunda, Melayu

Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa pada masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Bali,Bugis, Makassar, Ambon, dan Melayu serta suku-suku pendatang, seperti Arab, India, Tionghoa, dan Eropa.Etimologi Betawi

Kata Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni Jakarta dan bahasa Melayu Kreol yang digunakannya, dan juga kebudayaan Melayunya. Kata Betawi berasal dari kata "Batavia," yaitu nama lain dari Jakarta pada masa Hindia Belanda, kemudian penggunaan kata Betawi sebagai sebuah suku yang termuda, diawali dengan pendirian sebuah organisasi yang bernama Perkoempoelan Kaoem Betawi yang lahir pada tahun 1923.

Sejarah

Diawali oleh orang Sunda (mayoritas), sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan Tarumanegara serta kemudian Pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India.

Selain itu, perjanjian antara Surawisesa (raja Kerajaan Sunda) dengan bangsa Portugis pada tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa mengakibatkan perkawinan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis yang menurunkan darah campuran Portugis. Dari komunitas ini lahir musik keroncong.

Setelah VOC menjadikan Batavia sebagai pusat kegiatan niaganya, Belanda memerlukan banyak tenaga kerja untuk membuka lahan pertanian dan membangun roda perekonomian kota ini. Ketika itu VOC banyak membeli budak dari penguasa Bali, karena saat itu di Bali masih berlangsung praktik perbudakan. Itulah penyebab masih tersisanya kosa kata dan tata bahasa Bali dalam bahasa Betawi kini. Kemajuan perdagangan Batavia menarik berbagai suku bangsa dari penjuru Nusantara hingga Tiongkok, Arab dan India untuk bekerja di kota ini. Pengaruh suku bangsa pendatang asing tampak jelas dalam busana pengantin Betawi yang banyak dipengaruhi unsur Arab dan Tiongkok. Berbagai nama tempat di Jakarta juga menyisakan petunjuk sejarah mengenai datangnya berbagai suku bangsa ke Batavia; Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Ambon, Kampung Jawa, Kampung Makassar dan Kampung Bugis. Rumah Bugis di bagian utara Jl. Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota.

Antropolog Universitas Indonesia, Dr. Yasmine Zaki Shahab, MA memperkirakan, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Castle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi. Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moor, orang Bali, Jawa, Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu. Kemungkinan kesemua suku bangsa Nusantara dan Arab Moor ini dikategorikan ke dalam kesatuan penduduk pribumi (Belanda: inlander) di Batavia yang kemudian terserap ke dalam kelompok etnis Betawi.

Suku Betawi

Pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.

Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.

Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.

Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga mencakup penduduk di luar benteng tersebut yang disebut masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal di luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.

Setelah kemerdekaan

Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi — dalam arti apapun juga — tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, 'suku' Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah ’suku’ Betawi hadir di bumi Nusantara.

Seni dan kebudayaan

Budaya Betawi merupakan budaya mestizo, atau sebuah campuran budaya dari beragam etnis. Sejak zaman Hindia Belanda, Batavia (kini Jakarta) merupakan ibu kota Hindia Belanda yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara. Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari penduduk Nusantara, budaya Betawi juga banyak menyerap dari budaya luar, seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan Portugis.

Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari Indonesia maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah cagar budaya di Situ Babakan.

Bahasa

Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing.

Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar Batavia juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum Sumpah Pemuda, sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.

Karena perbedaan bahasa yang digunakan tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda menganggap orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan etnis Sunda dan menyebutnya sebagai etnis Betawi (kata turunan dari Batavia). Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lain-lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.

Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi. Dialek Betawi sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu dialek Betawi tengah dan dialek Betawi pinggir. Dialek Betawi tengah umumnya berbunyi "é" sedangkan dialek Betawi pinggir adalah "a". Dialek Betawi pusat atau tengah seringkali dianggap sebagai dialek Betawi sejati, karena berasal dari tempat bermulanya kota Jakarta, yakni daerah perkampungan Betawi di sekitar Jakarta Kota, Sawah Besar, Tugu, Cilincing, Kemayoran, Senen, Kramat, hingga batas paling selatan di Meester (Jatinegara). Dialek Betawi pinggiran mulai dari Jatinegara ke Selatan, Condet, Jagakarsa, Depok, Rawa Belong, Ciputat hingga ke pinggir selatan hingga Jawa Barat. Contoh penutur dialek Betawi tengah adalah Benyamin S., Ida Royani dan Aminah Cendrakasih, karena mereka memang berasal dari daerah Kemayoran dan Kramat Sentiong. Sedangkan contoh penutur dialek Betawi pinggiran adalah Mandra dan Pak Tile. Contoh paling jelas adalah saat mereka mengucapkan kenape/kenapa'' (mengapa). Dialek Betawi tengah jelas menyebutkan "é", sedangkan Betawi pinggir bernada "a" keras mati seperti "ain" mati dalam cara baca mengaji Al Quran.

Musik

Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong. Betawi juga memiliki lagu tradisional seperti "Kicir-kicir".

Tari

Seni tari di Jakarta merupakan perpaduan antara unsur-unsur budaya masyarakat yang ada di dalamnya. Contohnya tari Topeng Betawi, Yapong yang dipengaruhi tari Jaipong Sunda, Cokek dan lain-lain. Pada awalnya, seni tari di Jakarta memiliki pengaruh Sunda dan Tiongkok, seperti tari Yapong dengan kostum penari khas pemain Opera Beijing. Namun Jakarta dapat dinamakan daerah yang paling dinamis. Selain seni tari lama juga muncul seni tari dengan gaya dan koreografi yang dinamis.

Drama

Drama tradisional Betawi antara lain Lenong dan Tonil. Pementasan lakon tradisional ini biasanya menggambarkan kehidupan sehari-hari rakyat Betawi, dengan diselingi lagu, pantun, lawak, dan lelucon jenaka. Kadang-kadang pemeran lenong dapat berinteraksi langsung dengan penonton.

Cerita rakyat

Cerita rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita rakyat yang sudah dikenal seperti Si Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen atau si jampang yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal "keras". Selain mengisahkan jawara atau pendekar dunia persilatan, juga dikenal cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan zaman kolonial. creita lainnya ialah Mirah dari Marunda, Murtado Macan Kemayoran, Juragan Boing dan yang lainnya.

Senjata tradisional

Senjata khas Jakarta adalah bendo atau golok yang bersarungkan terbuat dari kayu.

Kepercayaan

Sebagian besar Orang Betawi menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katolik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini wajar karena pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara.

Profesi

Di Jakarta, orang Betawi sebelum era pembangunan orde baru, terbagi atas beberapa profesi menurut lingkup wilayah (kampung) mereka masing-masing. Semisal di kampung Kemanggisan dan sekitaran Rawabelong banyak dijumpai para petani kembang (anggrek, kemboja jepang, dan lain-lain). Dan secara umum banyak menjadi guru, pengajar, dan pendidik semisal K.H. Djunaedi, K.H. Suit, dll. Profesi pedagang, pembatik juga banyak dilakoni oleh kaum betawi. Petani dan pekebun juga umum dilakoni oleh warga Kemanggisan.

Kampung yang sekarang lebih dikenal dengan Kuningan adalah tempat para peternak sapi perah. Kampung Kemandoran di mana tanah tidak sesubur Kemanggisan. Mandor, bek, jagoan silat banyak di jumpai disana semisal Ji'ih teman seperjuangan Pitung dari Rawabelong. Di kampung Paseban banyak warga adalah kaum pekerja kantoran sejak zaman Belanda dulu, meski kemampuan pencak silat mereka juga tidak diragukan. Guru, pengajar, ustadz, dan profesi pedagang eceran juga kerap dilakoni.

Warga Tebet aslinya adalah orang-orang Betawi gusuran Senayan, karena saat itu program Ganefo yang dicetuskan oleh Bung Karno menyebabkan warga Betawi eksodus ke Tebet dan sekitarnya untuk "terpaksa" memuluskan pembuatan kompleks olahraga Gelora Bung Karno yang kita kenal sekarang ini. Karena asal-muasal bentukan etnis mereka adalah multikultur (orang Nusantara, Tionghoa, India, Arab, Belanda, Portugis, dan lain-lain), profesi masing-masing kaum disesuaikan pada cara pandang bentukan etnis dan bauran etnis dasar masing-masing.

Perilaku dan sifat

Asumsi kebanyakan orang tentang masyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik dalam segi ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Padahal tidak sedikit orang Betawi yang berhasil. Beberapa dari mereka adalah Muhammad Husni Thamrin, Benyamin Sueb, dan Fauzi Bowo yang menjadi Gubernur Jakarta saat ini .

Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain jiwa sosial mereka sangat tinggi, walaupun kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dan pendatang dari luar Jakarta.

Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan sebagian besar masyarakat Betawi masa kini agak terpinggirkan oleh modernisasi di lahan lahirnya sendiri (baca : Jakarta). Namun tetap ada optimisme dari masyarakat Betawi generasi mendatang yang justru akan menopang modernisasi tersebut.

Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia

Korupsi Kepresidenan, Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga; Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa

George Junus Aditjondro
Bahasa:Indonesia
Judul:Korupsi Kepresidenan, Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga; Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa
Jenis:Buku
Pengarang:George Junus Aditjondro
Subyek:
Penerbit:LKiS
Fisik:xix + 492
Edisi:1
ISBN:
Tahun:2006
Kota:Yogyakarta
Negara:Indonesia
No. Klasifikasi:
Catatan Umum:
Lokasi (URL):Sentra Informasi dan Data untuk Anti Korupsi (SIDAK)

Menyatukan Bangsa Lewat Musik Melayu

Jakarta - Ketika politik memisahkan, musik Melayu menyatukan kita. Demikian pesan besar Jakarta Melayu Festival 2014. Setelah konser bertema Bulan di Pagar Bintang 16 Januari 2013, juga Konser Kemerdekaan Musik Melayu 'SEROJA', 30 Agustus 2013, Gita Cinta Production kembali menggelar pergelaran budaya Jakarta Melayu Festival 2014, yang merupakan konser tahunan musik melayu, yang kali ini bertema "Melayu Menyatukan Kita".

Konser musik melayu akan diselenggarakan pada Jumat 22 Agustus 2014 Pukul 19.00 sd 24.00 bertempat di Theater Jakarta Taman Ismail Marzuki Jalan Cikini Raya Jakarta Pusat itu, sebagaimana dikatakan Geisz Chalifah, produser Gita Cinta Production di Jakarta, menghadirkan para penyanyi dengan kemampuan olah vokal yang baik. Selain itu ada padu dengan para penari melayu dari Kosentra Sumut.

Nama sejumlah pendukung pertunjukan seperti Fadly (Padi), Uma Tobing (Juara Indonesia Mencari Bakat Trans TV), Novi Ayla (KDI), Rafly Kande, Darmansyah Ismail, Niken Astri (KDI), Duo Shahab, Amigos Band serta musisi ternama Hendri Lamiri (Biola) , Buthonk (Accordion), dibawah arahan Music Director Anwar Fauzi Orchestra, dipastikan turut serta. Yang pasti, ujar Geisz, konser nanti, paduan musik yang dinamis dan memukau.

Geisz juga mengatakan miris dengan dampak negatif globalosasi, yang menggerus budaya dan seni bangsa Indonesia. Termasuk dampak musik pop yang di matanya mengalahkan musik asli Indonesia. Oleh karenanya dia mengagas konser musik melayu yang selaras dengan semangat zamannya. "Tanpa harus menghilangkan subtansi nilai yang di kandungnya," tambah dia.

Sementara menurut Anis Baswedan, ikhtiar untuk menjaga tradisi musik melayu sepatutnya mendapatkan dukungan yang sangat besar. "Meski seringkali kegiatan festifal musik melayu perlu ditingkatkan lebih jauh, agar kita mampu membawa musik Melayu ke level global," katanya sembari menambahkan, musik Melayu bisa diikhtiarkan sebagai trend musik dunia.

Fadli menambahkan, sejak dia mengumpulkan musik melayu Indonesia dari tahun 1936, menilai musik melayu menghadapi tantangan globalisasi. "Di era globalisasi siapa yang kuat, dia yang menang," katanya sembari menekankan musik melayu adalah aset nasional, yang mempunyai identitas yang berbeda di antara genre musik yang ada.

-

Arsip Blog

Recent Posts