Kemendikbud Rencanakan Bangun Rumah Budaya Indonesia di 10 Negara

Jakarta - Kebijakan pelestarian dan diplomasi budaya merupakan salah satu pembahasan dalam Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015. Kemendikbud berencana membangun Rumah Budaya Indonesia di 10 negara.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Kacung Marijan mengatakan, diplomasi budaya merupakan pertukaran ide, informasi, nilai-nilai, sistem, tradisi, kepercayaan, dan aspek budaya lainnya dengan keinginan untuk mendorong‎ saling pengertian antar negara.

Untuk itu, lanjut Kacung, Kemendikbud merencanakan beberapa kegiatan untuk‎ diplomasi budaya dengan negara lain. Namun Kacung belum memaparkan di negara-negara mana saja Rumah Budaya itu akan dibangun.

"Yaitu pembangunan rumah budaya Indonesia di luar negeri di 10 negara, sebanyak 45 fasilitas kegiatan kebudayaan‎ di luar negeri, penyelenggaraan Frankfurt Book Fair di Jerman bulan Agustus-November 2015, penyelenggaraan World Culture Forum di Bali tahun 2016, dan festival budaya lingkup Eropa yang diselenggarakan di Belgia tahun 2017," kata Kacung di Pusbang Tendik, Depok, Jawa Barat, Selasa (31/3/2015).

Sementara itu, Kacung menegaskan Indonesia memiliki beragam warisan budaya. Pihaknya juga telah mengkategorikan warisan budaya tak benda yang dimiliki Indonesia ke dalam 14 kategori. Pencatatan dan penetapan warisan budaya tak benda itu menjadi satu pembahasan penting dalam Rembuk Nasional.

14 kategori warisan budaya tak benda itu adalah, tradisi lisan, bahasa, naskah kuno, permainan tradisonal, seni tradisi, upacara arau ritus, kearifan lokal, teknologi tradisional, arsitektur, kain tradisional, kerajinan tradisonal, kuliner tradisional, pakaian adat, dan senjata tradisonal.

Nasabah Dihibur Musik Melayu

Pekanbaru, Riau - Suasana berbeda terasa saat melakukan transaksi di Bank Riau Kepri (BRK) cabang utama Jalan Sudirman No 377 pada Senin (30/3). Selain kesibukan para petugas bank, para nasabah yang akan melakukan transaksi dihibur dengan alunan musik tradisional Melayu secara live. Ternyata hadirnya para pemusik Melayu di Bank Riau Kepri cabang utama merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan Bank Riau Kepri dalam rangka memperingati HUT nya yang ke 49.

Selain di Cabang Utama hadirnya lantunan musik Melayu secara live juga dilaksanakan di Bank Riau Kepri cabang-cabang utama/kantor pusat, cabang Batam, Cabang Bangkinang, Cabang Tanjung Pinang dan Cabang Pasir Pangaraian yang dilaksanakan selama 5 (lima) hari. “Di ulang tahun Bank Riau Kepri yang Ke-49 ini, kami melaksanakan secara sederhana berbeda debngan tahun sebelumnya,’’ ungkap Edy Muhardy Ketua Panitia HUT Bank Riau Kepri.

Dikatakannya, hal ini terkait banyaknya kegiatan lain yang akan dilaksanakan di tahun 2015 seperti kegiatan Porseni Bank Pembangunan Daerah Seluruh Indonesia (BPDSI) serta renncana pindah kantor ke Gedung Menara Dang Merdu Bank Riau Kepri yang pelaksanaannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Edy menjelaskan untuk ulang tahun ke 49 Bank Riau Kepri dilaksanakan antara lain, tanggal 24-25 Maret lalu diadakan donor darah bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia. Acara Puncak peringatan pada tanggal 1 April adalah upacara HUT yang dilaksanakan di seluruh jaringan Kantor Bank Riau Kepri. Untuk wilayah Pekanbaru Upacara dipusatkan di halaman parkir Kantor Pusat Bank Riau Kepri dan diikuti oleh karyawan/ti di wilayah Pekanbaru. Pada tanggal 1 April tersebut di seluruh jaringan kantor, para nasabah yang melakukan transaksi akan disuguhkan aneka jajanan pasar seharian penuh.

Selain memberikan suguhan snack bagi para nasabah, seluruh kantor juga akan melaksanakan kegiatan sosial.

2-5 April, 105 Peserta Meriahkan Solo Culinary Festival

Solo, Jateng - Siapkan agenda wisata Anda pada 2-5 April mendatang. Solo Indonesia Culinary Festival 2015 siap tampilkan khasanah kuliner tradisional Indonesia. Ada 105 perserta dari pelaku bisnis kuliner, usaha kecil menengah (UKM), dan perwakilan sejumlah hotel di Solo dan sekitarnya yang akan meramaikan festival pada Kamis-Minggu (2-5/4).

Ketua panitia, Daryono, mengatakan festival kuliner tahunan ini selalu mengangkat tema berbeda. Tahun ini tema yang diangkat adalah kuliner tradisional.

“Alasan kami mengangkat kuliner tradisional nusantara karena kuliner tersebut sudah mulai langka,” kata Daryono saat dihubungi Solopos.com, Selasa (31/3/2015).

Daryono memaparkan festival diikuti oleh para pelaku usaha kuliner, UKM, dan sejumlah hotel. Mereka akan mengisi stan di halaman Benteng Vastenburg dengan menonjolkan jenis kuliner tradisional.

Selain peserta dari Kota Solo dan sekitarnya, festival juga dimeriahkan peserta dari Sumatera dan Kalimantan. “Semua menonjolkan kuliner tradisional. Kami memberi kesempatan warga Solo dan sekitarnya menikmati kuliner tradisional,” imbuhnya.

Festival akan dibuka oleh Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Arief Yahya pada Kamis (2/4) pukul 19.00 WIB.

Festival juga diramaikan dengan lomba festival sate kere, talk show kuliner, dan pelatihan kuliner dari panitia yang bekerjasama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Solo.

Banda Aceh Promosikan Wisata Syariah

Jakarta - Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh ingin mengangkat wisata syariah sebagai unggulan pariwisata. Seperti diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh, Fadhil, selama ini ada kesan wisata syariah sebagai wisata religi.

"Padahal bukan sekadar wisata religi. Tapi perilakunya. Misalnya fasilitasnya ramah pada Muslim. Konsep syariah ini malah bisa menjadi unggulan kami," ungkapnya kepada KompasTravel di sela-sela peluncuran "Positioning Kota Banda Aceh Sebagai Pusat Wisata Islami Dunia", di Jakarta, Selasa (31/3/2015).

Ia mengakui dari sekitar 50 obyek wisata di Banda Aceh, belum semuanya memiliki fasilitas yang memenuhi kaidah wisata syariah. Namun ke depan pengembangan pariwisata Banda Aceh akan berfokus pada wisata syariah.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, CEO PATA Chapter Indonesia Poernomo Siswoprasetijo menuturkan pihaknya tertarik mempromosikan Banda Aceh sebagai destinasi wisata karena kota ini kaya akan budaya dan kekayaan alam.

"Dan syariah Islam yang sudah di-Perda-kan dan didengungkan. Kami melihat suatu branding dari Banda Aceh yang sudah tepat sasaran," kata Poernomo.

PATA (Pacific Asia Travel Association) sendiri merupakan organisasi pariwisata dengan anggota dari 42 negara di kawasan Asia Pasifik. "Kota Banda Aceh hari ini bersedia melakukan kerja sama dengan PATA untuk mengembangkan promosi bersama sehingga Banda Aceh menjadi wisata tingkat dunia," katanya.

Festival Legu Gam Tampilkan Pameran Batu Mulia

Ternate, Malut - Festival Legu Gam yang akan digelar di Ternate, Maluku Utara, selain menyuguhkan berbagai kekhasan budaya daerah, juga akan menampilkan pameran batu mulia dari berbagai wilayah di provinsi ini.

Ketua Umum Panitia Festival Legu Gam 2015 Arifin Djafar mengatakan di Ternate, Selasa, Festival Legu Gam yang semula digelar tanggal 1-14 April 2015, namun kemudian diundur menjadi 11-30 April 2015 itu sengaja menampilkan pemeran batu mulia untuk mempromosikan kekhasan batu mulia Malut.

Panitia Festival Legu Gam telah mengundang para pengusaha dan pengrajin batu mulia dari semua kabupaten/kota di Malut, seperti dari Kabupaten Halmahera Selatan, Halmahera Utara, Halmahera Timur dan Kota Ternate untuk ambil bagian dalam pameran batu mulia itu.

Menurut Arifin Djafar, Malut memiliki kekayaan potensi batu mulia, namun belum semuanya dikenal secara luas, baik di dalam maupun luar negeri, oleh karena itu melalu pameran batu mulia di Festival Legu Gam tersebut diharapkan semuanya bisa dikenal luas.

Batu mulia Malut yang selama ini sudah dikenal luas di dalam dan luar negeri, baru batu bacan asal Kabupaten Halmahera Selatan, khususnya untuk jenis batu doko dan batu palamea, yang harganya bisa mencapai puluhan rupiah untuk ukuran batu cincin.

Sementara itu, salah seorang pengrajin batu mulia di Ternate Ibrahim menyambut baik adanya pameran batu mulia di Festival Legu Gam tersebut, karena akan menjadi saran bagi mereka untuk memperkenalkan hasil kerajinanannya sekaligus memasarkannya kepada para pengunjung.

Oleh karena itu, ia telah menyiapkan berbagai jenis batu mulia hasil karyanya, yang umumnya berupa batu cincin dengan harga bervariasi yakni khusus untuk batu doko dan batu palamea mulai dari harga Rp5 juta per buah sampai Rp40 juta per buah tergantung kwalitasnya.

Festival Legu Gam yang digelar Kesultanan Ternate telah menjadi kalender tahunan kegiatan pariwisata Kementerian Pariwisata dan selalu dihadiri ribuan pengunjung baik dari dalam maupun luar negeri.

Festival Sriwijaya akan Tampilkan Budaya Daerah

Palembang, Sumsel - Festival Sriwijaya yang sudah menjadi agenda tahunan Sumatera Selatan (Sumsel) akan dilaksanakan di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya Palembang pada pertengahan 2015. Rencananya dalam festival tersebut akan menampilkan budaya daerah.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan Irene Camlyn Sinaga di Palembang, Kamis (27/3/2015) mengatakan, penampilan itu tersebut untuk melestarikan kebudayaan yang ada di daerah ini.

"Festival Sriwijaya mendatang akan lebih meriah karena pagelaran yang akan ditampilkan bersifat massal," katanya.

Dalam festival tersebut selain mengikutsertakan kabupaten dan kota juga dari luar Sumsel. Bahkan, Festival Sriwijaya itu akan dipromosikan lebih maksimal lagi supaya kebudayaan masyarakat daerah ini semakin dikenal dari berbagai provinsi.

Yang jelas, pihaknya ingin memperkenalkan secara luas termasuk ke luar negeri mengenai kebudayaan di daerah ini. Selama ini pihaknya sudah melaksanakan Festival Jazz dengan menghadirkan musisi dari Amerika Serikat untuk memperkenalkan budaya daerah ke mancanegara dalam arti Amerika Serikat

"Hal ini karena lagu dan musik lokal juga tampil bersamaan dengan Festival Jazz tersebut," kata dia.

-

Arsip Blog

Recent Posts