Tampilkan postingan dengan label Baduy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Baduy. Tampilkan semua postingan

"Festival Baduy 2016" Bukti Geliat Pariwisata Banten

Lebak, Banten - Dorongan menuju destinasi kelas dunia membuat Kementerian Pariwisata terus meminta semua pihak berinovasi, terutama daerah yang berada dalam radius dekat dengan 10 Bali baru. Hal ini kemudian dilakukan Provinsi Banten, lebih tepatnya Kabupaten Lebak, Banten.

”Untuk pertama kalinya, kami mengadakan Festival Baduy 2016. Kami memancing wisatawan untuk datang ke Banten, khususnya Lebak, untuk bisa menengok Tanjung Lesung yang indah. Semoga ini debut yang baik untuk Festival Baduy,” ujar Panitia Pelaksana Festival Baduy 2016, Banten, Arman Bin Kaipin, beberapa waktu lalu.

Perhelatan itu rencananya akan dilaksanakan pada 28-30 Oktober 2016, di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

”Target utamanya adalah kehadiran wisatawan mancanegara dan meningkatkan ekonomi kreatif, karena kami memiliki banyak kerajinan tangan berkelas dunia,” ujar laki-laki, yang juga tokoh Desa Kanekes itu.

Ia menambahkan, berbagai kegiatan menarik akan hadir dalam acara tersebut, seperti pagelaran seni dan budaya, pameran produk buatan masyarakay Baduy, pemecahan rekor menenun, pembangunan gerbang Baduy, dan sosialisasi digital marketing.

”Budaya Baduy sangat menarik untuk wisatawan. Ini merupakan salah satu kekuatan kami, termasuk Pantai Tanjung Lesung yang indah. Jika ingin lihat budayanya, bisa kunjungi Baduy,” ujarnya bangga.

Sekadar informasi, Suku Baduy di pedalaman Banten lebih senang menyebut diri mereka sebagai “urang Kanekes”. Banten yang dikenal selama ini, ternyata tidak hanya memiliki kekayaan alam yang luar biasa indah, namun jika masuk lebih dalam, Anda akan menjumpai masyarakat adat yang unik.

Masyarakat adat ini tinggal di perbukitan, yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng, dengan ketinggian hingga 600 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Menuju Baduy tidak sulit. Jika Anda dari terminal Ciboleger Banten, Anda hanya tinggal melanjutkan perjalanan sekitar 3 jam.

Masyarakat Kanekes dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tangtu dan panamping. Kelompok tangtu dikenal sebagai Kanekes Dalam atau Baduy Dalam, yang paling ketat mengikuti adat. Mereka tinggal di tiga desa, yaitu Cikertawana, Cikeusik, dan Cibeo.

Masyarakat Kanekes tidak memakai alat elektronik, tidak menggunakan alas kaki, tidak menggunakan kendaraan untuk transportasi, dan menggunakan pakaian adat yang ditenun dan dijahit sendiri.

Mereka masih menganut kepercayaan tradisional berupa Sunda Wiwitan, yang dipimpin oleh seorang Pu’un, yang juga berkedudukan sebagai pemimpin masyarakat Kanekes.

”Sangat indah menikmati Kanekes. Di Desa Cibeo sudah langsung terasa kenyamanan sebuah permukiman adat. Sinar matahari masuk menyelinap di antara dedaunan, suara burung-burung merdu bernyanyi bersahutan. Suasananya sangat tenang,” kata Arman.

Perpaduan masyarakat adat yang hangat dan alamnya masih terjaga dengan baik dan jarang dijumpai di kota besar, termasuk Jakarta. Udara di kawasan ini masih segar, tanpa polusi dan bersih, tanpa sampah berserakan.

Untuk sampai Desa Cibeo, Anda akan melalui kelompok masyarakat panamping, yang dikenal sebagai Kanekes Luar atau Baduy Luar. Kelompok masyarakat ini telah mengenal teknologi dan alat elektronik, serta sudah menggunakan pakaian yang modern.

”Namun kita masih bisa mengenali masyarakat ini dengan ciri khas mereka, yaitu menggunakan ikat kepala berwarna hitam,” kata Arman.

Kepercayaan masyarakat Kanekes Luar sudah bercampur dengan masyarakat pada umumnya. Mata pencaharian mereka adalah bertani, namun masih membuat tenun yang biasa digunakan sebagai suvenir.

”Inilah yang akan kami kedepankan di Festival Baduy yang pertama kalinya ini,” tandasnya.

Tanjung Lesung, Banten, merupakan sebuah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata tengah dibangun sebagai amenitas baru. Proses pembangunan jalan tol Serang-Panimbang, menurut Menpar Arief Yahya sedang dalam proses.

"Begitu tol 84 kilometer itu selesai, maka Tanjung Lesung akan cepat berkembang," katanya.

Ribuan Warga Baduy Akan Ikuti Tradisi Seba di Serang Banten

Banten - Masyarakat adat Baduy Luar dan Baduy Dalam memiliki tradisi unik yang digelar setiap tahun. Tradisi itu, bernama Seba Baduy. Di 2016 ini, upacara tradisi akan dipusatkan di gedung eks Pendopo Gubernur di Alun-alun Barat Kota Serang, Banten pada 13 - 15 Mei 2016.

Sebelum upacara itu, warga Baduy dalam dan Baduy luar, Banten, akan menempuh perjalanan jauh. Mereka akan berjalan kaki menempuh jarak sekitar 115 kilometer. Beragam hasil bumi dibawa dalam perjalanan panjang itu. Semuanya, akan disampaikan kepada kepala pemerintah daerah yang kerap disebut Bapak Gede. Ini bukanlah upeti, melainkan bentuk ketulusan dan keikhlasan semata yang diungkapkan setiap tahun.

“Tahun ini, sebanyak 1.839 warga akan mengikuti tradisi yang diawali dengan mendatangi Kantor Bupati Lebak dan Kantor Gubernur Banten sebagai ‘Bapak Gede’ . Masyarakat Baduy akan menyerahkan hasil komoditas pertanian kepada kepala pemerintah daerah di upacara itu,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banten Opar Sochari, dalam rilisnya, Rabu (11/5).

Ritual tahunan masyarakat adat Baduy menjadi salah satu objek wisata budaya di Banten, yang sudah terkenal tidak hanya di dalam negeri tetapi sampai mancanegara. Karena itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memberikan dukungan penuh dalam even ini. “Pak Menpar Arief Yahya sering menyebut, portofolio produk pariwisata Wonderful Indonesia itu ada tiga, Alam 35%, Budaya

60%, dan Buatan Manusia 5%. Seba Baduy itu ada di kolom budaya yang 60% itu. Karenanya, membuat even budaya yang kental dengan culture Baduy sudah sangat tepat. Silakan ke Banten. Tonton Seba Baduy. Pasti seru,” terang Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar, Esthy Reko Astuty, Selasa (10/5).

Perayaan “Seba Baduy” sampai sekarang masih dipertahankan secara turun-temurun oleh masyarakat Baduy Dalam yang berpakaian khas putih-putih dan masyarakat Baduy Luar yang berpakaian hitam-hitam. Perjalanan saat upacara ditempuh lebih kurang 12 jam. Tidak kenal panas dan hujan. Segala cuaca akan tetap diterabas. Warga Baduy yang ikut dalam Seba, semuanya laki-laki. Kaum hawa dilarang ikut.

Perayaan Seba Baduy, biasanya dilakukan setelah warga baduy menjalani ritual kawalu selama tiga bulan. Kawasan masyarakat Baduy dalam yang tersebar di tiga kampung, yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikawartana, saat ritual kawalu biasanya tertutup bagi wisatawan atau pengunjung. (*)

Tradisi Kawalu, Baduy Dalam Terlarang Didatangi Wisatawan

Lebak, Banten - Wisatawan domestik maupun mancanegara dilarang memasuki kawasan Baduy Dalam di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, karena mulai tanggal 18 Februari 2016 melaksanakan tradisi Kawalu sehingga tertutup bagi masyarakat luar.

"Kami meminta wisatawan menghormati dan menghargai keputusan adat karena masyarakat Baduy Dalam sedang menjalani ritual adat peninggalan nenek moyang itu," kata Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak yang juga tetua adat Baduy Saija saat dihubungi di Rangkasbitung, Senin (15/2/2016).

Pelaksanaan Kawalu dilaksanakan selama tiga bulan untuk menjalankan tradisi dengan puasa serta berdoa meminta keselamatan bangsa dan negara yang aman, damai, dan sejahtera.

Tradisi Kawalu tersebut berlangsung sejak nenek moyang hingga kini masih dipertahankan oleh suku Baduy.

Mereka melaksanakan tradisi Kawalu pertama itu mulai Februari, dan Maret Kawalu dua serta Kawalu ketiga pada Maret mendatang.

Selama perayaan Kawalu, wisatawan domestik maupun mancanegara dilarang memasuki kawasan Baduy Dalam yang tersebar di Kampung Cibeo, Cikawartana dan Cikeusik.

Warga Baduy akan menjalankan tradisi Kawalu. Mreka berdoa meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar negara ini diberikan rasa aman, damai, dan sejahtera.

"Kalau negara ini aman dan damai tentu masyarakat akan sejahtera," katanya.

Menurut dia, larangan tersebut nantinya dipasang peringatan di pintu gerbang Baduy di Ciboleger agar pengunjung menaati hukum adat.

tradisi Kawalu warisan nenek moyang yang harus dilaksanakan setiap tahun, dirayakan tiga kali selama tiga bulan dengan puasa seharian.

Perayaan Kawalu merupakan salah satu tradisi ritual yang dipercaya oleh warga Baduy Dalam sehingga perlu menghargai dan menghormati keyakinan agama yang dianut mereka.

"Selama melaksanakan Kawalu, kondisi kampung Baduy Dalam sepi karena mereka berpuasa dan banyak memilih tinggal di rumah-rumah," katanya.

Penggiat Masyarakat Baduy, Asep mengatakan, selama kawalu perkampungan Baduy Dalam tertutup bagi pengunjung, sekalipun itu pejabat daerah ataupun pejabat negara.

Mereka menjalankan kawalu karena peninggalan adat yang turun temurun dan harus dilaksanakan.

Setelah berakhir perayaan Kawalu, lanjut dia, tentu pengunjung kembali diperbolehkan mendatangi kawasan Baduy Dalam.

Dia menjelaskan, setelah Kawalu, satu bulan yang akan datang merayakan acara "Seba" dengan mendatangi bupati dan Gubernur Banten dengan membawa hasil-hasil bumi (pertanian).

"Setiap Seba mereka masyarakat Baduy akan membawa hasil pertanian ladang, seperti gula merah, pisang dan petai," katanya.

Tenun Baduy Diminati Wisatawan

Lebak, Banten - Produk kerajinan tenun Baduy di Kabupaten Lebak, Banten, kini diminati wisatawan sehingga dapat mendorong pendapatan ekonomi masyarakat Baduy.

"Keunggulan tenun Baduy itu, karena memiliki nilai seni tradisional dan warnanya berbeda dengan tenun lain di Tanah Air," kata Meti (40), seorang perajin Baduy warga Kadu Ketug, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rabu (27/1).

Selama ini, wisatawan dari berbagai daerah yang mengunjungi wisata budaya di kawasan adat, mereka tertarik kain Baduy.

Mereka wisatawan domestik ingin mengetahui kehidupan warga Baduy.

Bahkan, banyak wisatawan yang datang ke sini membeli tenun dengan jumlah banyak. Pengunjung membeli kain tenun Baduy untuk dijadikan kenang-kenangan dengan alasan tradisional juga memiliki nilai seni.

Benang bahan baku kain tenunan didatangkan dari Majalaya Bandung, Jawa Barat. Kerajinan kain tenunan dikerjakan kaum perempuan dengan peralatan secara manual.

"Kami sejak sebulan omzet penjualan relatif baik karena memasuki musim liburan tahun baru itu," katanya.

Menurut dia, untuk mengerjakan kain dengan ukuran 3x2 meter persegi bisa dikerjakan selama sepekan. Pengerjaan kain tenun sambil duduk di balai-balai rumah yang terbuat dari dinding bambu dan atap rumbia.

Mereka mengerjakan tenun Baduy itu dengan berbagai motif dan corak warna. "Kami sangat terbantu pendapatan ekonomi keluarga dengan kerajinan kain Baduy itu," katanya.

Begitu juga perajin tenun lainnya, Jali (55) mengaku, selama ini permintaan kain dan batik Baduy meningkat sehingga wisatawan domestik dari luar daerah setiap hari datang ke perkampungan Baduy.

Adapun, kata dia, harga kain tenun dan pakaian batik Baduy itu tergantung kualitas mulai Rp 70.000 sampai Rp 350.000 per busana. "Semua wisatawan domestik itu sangat mencintai produk masyarakat adat," katanya.

Pemerhati: Objek Wisata Baduy Bisa Mendunia

Lebak, Banten - Pemerhati sosial dari Rangkasbitung Ahmad Kusaeni mengatakan objek wisata adat masyarakat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, bisa dijadikan wisata dunia karena memiliki keunikan suku terasing.

"Kami yakin wisata budaya Baduy memiliki nilai jual yang mendunia, seperti kehidupan komunitas suku Aborigin di Australia, suku Amish di Amerika Serikat, atau suku Incha di Manchu Pichu Peru," kata Ahmad saat dihubungi di Lebak, Rabu.

Khasanah budaya masyarakat Baduy cukup menarik untuk dilakukan wisata penelitian antropologi, karena kehidupan masyarakat itu hingga kini masih mempertahankan adat leluhurnya.

Untuk itu, banyak pengunjung wisata domestik dan mancanegara melakukan penelitian kehidupan masyarakat Baduy.

Masyarakat Baduy hingga kini masih mempertahankan adat istiadat dan menolak kehidupan modern.

Kawasan hutan yang dihuni masyarakat Baduy seluas 5.100 hektare tanpa jalan, jaringan listrik, televisi, radio, dan kendaraan.

Bahkan, masyarakat Baduy Dalam berpakaian putih-putih bepergian ke luar daerah harus berjalan kaki dan dilarang naik angkutan kendaraan.

"Banyak para antropolog datang ke Baduy untuk melakukan penelitian," katanya.

Menurut dia, keberadaan suku terasing itu akan menjadi objek wisata dunia sehingga memberikan nilai tambah untuk peningkatan ekonomi masyarakat juga pendapatan asli daerah (PAD).

Dengan begitu, ujarnya, pemerintah daerah harus memprogramkan wisata Baduy menjadi Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA).

Pengembangan wisata ini nantinya ditata melalui pembangunan terintegrasi dengan infrastruktur, penginapan, dan pusat perdagangan.

Apalagi, produk-produk kerajinan suku Baduy cukup unik di antaranya aneka jenis souvenir, tas koja, golok, tenun, dan gula aren.

"Saya yakin jika dibangun secara terintegrasi di kawasan Baduy dipastikan bisa menjadi objek wisata mendunia," kata mantan Direktur Pemberitaan LKBN Antara itu.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata Kabupaten Lebak Okta mengatakan pemerintah daerah terus membangun jalan menuju objek wisata budaya Baduy dari Rangkasbitung hingga Ciboleger atau pintu gerbang masuk kawasan Baduy.

Kunjungan wisatawan domestik 2015 kemungkinan bertambah hingga mencapai 6.849 orang, sedangkan tahun sebelumnya hanya 5.380 orang.

Sedangkan, wisatawan mancanegara tercatat 158 orang berasal dari Belanda, Inggris, dan Swiss.

Sebagian besar wisman itu, katanya, untuk kepentingan konservasi maupun mempelajari budaya setempat.

Para pengunjung kawasan permukiman Baduy tidak dibebani retribusi oleh pemerintah daerah.

"Kami memberikan kemudahan bagi wisatawan yang berkunjung ke Baduy dengan tidak tidak memungut biaya," katanya.

Emuy Mulyanah, seorang Anggota DPRD Kabupaten Lebak mengatakan potensi objek wisata Baduy memiliki nilai jual hingga mendunia karena cukup menarik untuk dijadikan bahan penelitian.

Sebab, katanya, masyarakat Baduy masuk kategori suku terasing yang ada di Tanah Air.

Masyarakat Baduy bersahabat dengan alam, sehingga kawasan Baduy tidak ada penerangan listrik, elektronika, maupun jalan beraspal.

Namun, pihaknya prihatin kekayaan potensi wisata adat itu tidak didukung infrastuktur dan sarana lainnya yang memadai.

Saat ini, di kawasan wisata Baduy tidak terdapat hotel, wisma, pasar, dan pasokan air bersih.

Dengan demikian, ujar dia, hingga kini objek wisata adat Baduy relatif kecil dikunjungi wisatawan mancanegara.

"Kami yakin objek wisata itu bisa mendatangkan wisatawan mancanegara," ujar politikus PDI Perjuangan itu.

Sekretaris Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar Sarpin mengatakan selama ini rombongan pengunjung objek wisata Baduy kebanyakan dari perguruan tinggi, sekolah, peneliti, lembaga, instansi swasta, dan pemerintah, sedangkan dari kalangan keluarga relatif kecil.

"Kami yakin ke depan kunjungan wisata adat Baduy meningkat, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal," kata Sarpin.

Tenun Baduy, Unik dan Bernilai Ekonomi Tinggi

Lebak, Banten - Kerajinan tenun tradisional produksi masyarakat komunitas adat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, diminati wisatawan.

"Kelebihan tenun Baduy itu warnanya berbeda dengan tenun lain di Tanah Air," kata Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustreian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak, Herisnen di Lebak, Selasa (28/10).

Selama ini, kata dia, banyak wisatawan yang berkunjung ke wisata budaya Baduy membeli kain tenun tradisional dengan jumlah banyak. Mereka para wisatawan itu tertarik dengan tenun Baduy karena dinilai cukup unik dan berbeda dengan tenun lainnya di tanah air. Sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Baduy berasal dari domestik dari Jakarta, Bandung, Bogor, dan Bekasi.

Mereka para wisatawan, kata dia, membeli kain tenun Baduy untuk dijadikan kenang-kenangan dengan alasan tradisional juga memiliki nilai seni. Sementara, benang bahan baku kain tenun didatangkan dari Majalaya Bandung, Jawa Barat.

Kerajinan kain tenun itu dikerjakan kaum perempuan dengan peralatan secara manual.

Biasanya, kata dia, untuk mengerjakan kain dengan ukuran 3x2 meter persegi bisa dikerjakan selama sepekan. Para perajin merajut kain tenun sambil duduk di balai-balai rumah yang terbuat dari dinding bambu dan atap rumbia.

"Kami terus mempromosikan tenun Baduy agar bisa mendunia sehingga bisa meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga," katanya.

Menurut dia, pemerintah daerah terus melakukan pembinaan diversifikasi produk kerajinan tenun dan batik Baduy. Saat ini, tercatat 50 perajin tenun dan batik Baduy terus dikembangkan karena dapat menumbuhkan ekonomi lokal. "Kami berharap kerajinan tenun Baduy itu dapat menyerap lapangan pekerjaan juga meningkatkan pendapatan ekonomi mereka," katanya.

Salah seorang perajin warga Baduy Luar, Jali mengaku selama ini permintaan kain dan batik Baduy meningkat. Adapun harga kain tenun dan pakaian batik Baduy itu tergantung kualitas mulai Rp 70 ribu sampai Rp 350 ribu per busana. "Saya kira banyak wisatawan domestik semakin mencintai produk Baduy karena memiliki keunikan itu," katanya.

Tenun Baduy Diminati Wisatawan

Lebak, Banten - Kerajinan tenun hasil produksi masyarakat komunitas adat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, diminati wisatawan karena warnanya berbeda dengan tenun lain di tanah air.

"Wisatawan yang berkunjung ke sini membeli kain tenun dengan jumlah banyak," kata Meti, seorang perajin Baduy warga Kadu Ketug, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Kamis.

Selama ini, permintaan tenun cukup tinggi, teruatama para wisatawan dari berbagai daerah yang melakukan perjalanan wisata budaya di kawasan Baduy.

Sebagian besar wisatawan domistik dari Jakarta, Bandung, Bogor dan Bekasi.

Mereka para wisatawan membeli kain tenun Baduy untuk dijadikan kenang-kenangan dengan alasan tradisional juga memiliki nilai seni.

Benang bahan baku kain tenunan didatangkan dari Majalaya Bandung, Jawa Barat.

Kerajinan kain tenunan dikerjakan kaum perempuan dengan peralatan secara manual.

Biasanya, kata dia, untuk mengerjakan kain dengan ukuran 3x2 meter persegi bisa dikerjakan selama sepekan.

Mereka para perajin merajut kain tenun sambil duduk di balai-balai rumah yang terbuat dari dinding bambu dan atap rumbia.

"Kami sudah puluhan tahun menjadi perajin tentu dan bisa memenuhi ekonomi keluarga," katanya.

Salah seorang perajin warga Baduy Luar, Jali mengaku selama ini permintaan kain dan batik Baduy meningkat sehingga wisatawan domistik dari luar daerah setiap hari datang ke perkampungan Baduy.

Adapun harga kain tenun dan pakaian batik Baduy itu tergantung kualitas mulai Rp70.000 sampai Rp350.000/busana.

"Selama ini banyak wisatawan domistik semakin mencintai produk Baduy," katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak Wawan Ruswandi mengatakan, pihaknya terus melakukan pembinaan diversifikasi produk kerajinan tenun dan batik Baduy.

Saat ini, tercatat 50 perajin tenun dan batik Baduy terus dikembangkan karena dapat menumbuhkan ekonomi lokal.

"Kami berharap kerajinan tenun Baduy itu dapat menyerap lapangan pekerjaan juga meningkatkan pendapatan ekonomi mereka," katanya.

Kain Tenun Baduy tarik Minat Wisatawan

Lebak, Banten - Wisatawan melirik kain tenun Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, karena memiliki nilai seni tradisional dan warnanya berbeda dengan tenun lain di tanah air. "Kami merasa kewalahan permintaan wisatawan untuk membeli tenun Baduy cukup banyak," kata Meti, seorang perajin Baduy warga Kadu Ketug, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Senin (27/10/2014).

Menurut Meti, selama ini wisatawan yang berkunjung dari berbagai daerah yang melakukan perjalanan wisata budaya di kawasan Baduy mereka tertarik kain Baduy. Wisatawan domestik yang datang ke sini ingin mengetahui kehidupan warga Baduy. Bahkan, banyak juga wisatawan membeli produk kerajinan Baduy dengan jumlah banyak. "Pengunjung membeli kain tenun Baduy untuk dijadikan kenang-kenangan dengan alasan tradisional juga memiliki nilai seni," katanya.

Benang bahan baku kain tenunan didatangkan dari Majalaya Bandung, Jawa Barat. Kerajinan kain tenunan dikerjakan kaum perempuan dengan peralatan secara manual manual.

Biasanya, lanjut Meti, untuk mengerjakan kain dengan ukuran 3x2 meter persegi bisa dikerjakan selama sepekan.

Pengerjaan kain tenun sambil duduk di balai-balai rumah yang terbuat dari dinding bambu dan atap rumbia. "Kami sangat terbantu pendapatan ekonomi keluarga dengan kerajinan kain Baduy itu," katanya.

Salah seorang perajin warga Baduy Luar, Jali, mengaku selama ini permintaan kain dan batik Baduy meningkat sehingga wisatawan domistik dari luar daerah setiap hari datang ke perkampungan Baduy.

Harga kain tenun dan pakaian batik Baduy tergantung kualitas mulai Rp 70.000 sampai Rp 350.000. "Kini banyak wisatawan domestik semakin mencintai produk Baduy," katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak, Wawan Ruswandi mengatakan, pihaknya terus melakukan pembinaan diversifikasi produk kerajinan tenun dan batik Baduy. Saat ini, tercatat 50 perajin tenun dan batik Baduy terus dikembangkan karena dapat menumbuhkan ekonomi lokal.

Pemerintah daerah juga memperkenalkan tenunan hasil karya perajin Baduy pada pameran-pameran pembangunan yang diselenggarakan di Banten maupun DKI Jakarta.

Sebab kain tenun Baduy memiliki nilai tradisional dan hasil produk dalam negeri. Bahkan, sekarang produk kain dan batik Baduy sudah banyak dipakai oleh pegawai negeri sipil (PNS) remaja, usia lanjut dan siswa sekolah.

Mereka berbusana pakaian batik Baduy itu, selain digunakan untuk sehari-hari juga undangan. "Kami optimistis produk tenun Baduy itu bisa mendunia karena kualitasnya cukup bagus dan unik," katanya.

Tradisi Kawalu, Wisatawan Dilarang Masuki Baduy Dalam

Lebak, Banten - Wisatawan nusantara maupun mancanegara dilarang memasuki kawasan Baduy Dalam di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, karena sedang melaksanakan tradisi kawalu kedua atau "bulan karo".

"Kami meminta wisatawan menghormati dan menghargai keputusan adat karena masyarakat Baduy Dalam sedang menjalani ritual adat peninggalan nenek moyang itu," kata Koordinator Pemandu Wisata Baduy, Danil Ismundaru di Lebak, Rabu (26/3/2014).

Danil mengatakan, selama tiga bulan warga Baduy Dalam menjalankan tradisi ritual kawalu dengan puasa serta berdoa meminta keselamatan bangsa dan negara yang aman, damai, dan sejahtera.

Tradisi kawalu tersebut berlangsung sejak nenek moyang. Saat ini mereka sudah melaksanakan kawalu kedua dan April nanti memasuki kawalu ketiga.

Selama perayaan kawalu, wisatawan nusantara maupun mancanegara dilarang memasuki kawasan Baduy Dalam yang tersebar di Kampung Cibeo, Cikawartana dan Cikeusik.

Mereka menjalankan tradisi kawalu penuh khusyuk dan penuh sederhana. Warga Baduy sambil berdoa meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar negara ini diberikan rasa aman, damai, dan sejahtera.

"Kalau negara ini aman dan damai tentu masyarakat akan sejahtera," katanya.

Menurut Danil, larangan tersebut juga telah dipasang peringatan di pintu gerbang Baduy di Ciboleger agar pengunjung menaati hukum adat.

Sebab, tradisi kawalu warisan nenek moyang yang harus dilaksanakan setiap tahun, dirayakan tiga kali selama tiga bulan dengan puasa seharian.

Perayaan kawalu merupakan salah satu tradisi ritual yang dipercaya oleh warga Baduy Dalam sehingga perlu menghargai dan menghormati keyakinan agama yang dianut mereka.

"Selama melaksanakan kawalu, kondisi kampung Baduy Dalam sepi karena mereka berpuasa dan banyak memilih tinggal di rumah-rumah," katanya.

Ketua Wadah Musyawarah Masyarakat Baduy, Kasmin Saelan mengatakan, selama kawalu perkampungan Baduy Dalam tertutup bagi pengunjung, sekalipun itu pejabat daerah ataupun pejabat negara.

Mereka menjalankan kawalu karena peninggalan adat yang turun temurun dan harus dilaksanakan.

Setelah berakhir perayaan kawalu, lanjut Kasmin, tentu pengunjung kembali diperbolehkan mendatangi kawasan Baduy Dalam.

Dia menjelaskan, setelah kawalu, satu bulan yang akan datang merayakan acara 'seba' dengan mendatangi bupati dan Gubernur Banten dengan membawa hasil-hasil bumi (pertanian).

"Setiap 'seba' mereka masyarakat Baduy akan membawa hasil pertanian ladang, seperti gula merah, pisang dan petai," katanya.

Suku Baduy Di Pedalaman Banten

Oleh erwan rosmana

Orang kanekes atau disebut juga Baduy, adalah suatu kelompok masyarakat dengan Adat sunda yang berlokasi di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Awal mula sebutan baduy tersebut adalah sebutan yang diberikan oleh penduduk luar, yang berawal dari peneliti Belanda yang menyamakan mereka dengan Badawi atau Bedouin Arab yang merupakan masyarakat yang nomaden (berpindah-pindah). Selain itu sebutan Baduy juga mungkin karena adanya sungai Baduy dan Gunung Baduy yang terdapat di wilayah utara. Namun suku Baduy sendiri lebih senang disebut dengan orang “kanekes”. Sesuai dengan nama wilayah mereka atau sesuai dengan kampung mereka.

Wilayah kanekes bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Tidak heran bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa sunda dialek Sunda-Banten. Namun mereka juga lancar menggunakan Bahasa Indonesia ketika berdialog dengan penduduk luar.

Suku Baduy sendiri terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka (Permana, 2001). Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam. Yaitu kelompok Baduy yang paling ketat mengikuti adat mereka. Terdapat tiga kampung pada kelompok Baduy dalam yaitu: Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Ciri khas orang Baduy Dalam adalah mereka mengenakan pakaian yang berwarna putih alami dan biru tua serta mengenakan ikat kepala putih. Kelompok yang kedua adalah Baduy Luar atau dikenal sebagai kelompok masyarakat panamping. Yang berciri mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. Dan tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Lain halnya kelompok ketiga disebut dengan Baduy Dangka, mereka tinggal di luar wilayah Kanekes tidak seperti Baduy Dalam dan Luar. dan saat ini hanya 2 kampung yang tersisa yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam).

Kepercayaan Suku Baduy atau masyarakat kanekes sendiri sering disebut dengan Sunda Wiwitan yang berdasarkan pada pemujaan nenek moyang (animisme), namun semakin berkembang dan dipengaruhi oleh agama lainnya seperti agama Islam, Budha dan Hindu. Namun inti dari kepercayaan itu sendiri ditunjukkan dengan ketentuan adat yang mutlak dengan adanya “pikukuh” ( kepatuhan) dengan konsep tidak ada perubahan sesedikit mungkin atau tanpa perubahan apapun.

Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. masyarakatnya mengunjungi lokasi tersebut dan melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan kalima. Hanya ketua adat tertinggi puun dan rombongannya yang terpilih saja yang dapat mengikuti rombongan tersebut. Di daerah arca tersebut terdapat batu lumping yang dipercaya apa bila saat pemujaan batu tersebut terlihat penuh maka pertanda hujan akan banyak turun dan panen akan berhasil, dan begitu juga sebaliknya, jika kering atau berair keruh pertanda akan terjadi kegagalan pada panen.

Mata pencaharian masyarakat Baduy adalah bertani dan menjual buah-buahan yang mereka dapatkan dari hutan. Selain itu Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba yang masih rutin diadakan setahun sekali dengan mengantarkan hasil bumi kepada penguasa setempat yaitu Gubernur Banten. Dari hal tersebut terciptanya interaksi yang erat antara masyarakat Baduy dan penduduk luar. Ketika pekerjaan mereka diladang tidak mencukupi, orang Baduy biasanya berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan berjalan kaki, umumnya mereka berangkat dengan jumlah yang kecil antara 3 sampai 5 orang untuk mejual madu dan kerajinan tangan mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Perdagangan yang semula hanya dilakukan dengan barter kini sudah menggunakan mata uang rupiah. Orang baduy menjual hasil pertaniannya dan buah-buahan melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Bambu dan Baduy: Keserasian Hidup Bersama Alam

Oleh : Redaksi Explore Indonesia

Baduy, sebuah nama yang lazim diberikan kepada satu kelompok masyarakat adat di wilayah Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Sebenarnya, kelompok masyarakat ini lebih senang disebut Orang Kanekes, sesuai nama wilayah atau desa mereka. Mungkin sekali, nama Baduy dihubungkan dengan adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara wilayah perkampungan Desa Kanekes. Masyarakat suku Baduy terkenal dengan kemampuan luar biasa yang mereka miliki untuk menolak pengaruh budaya dari luar.

Saat ini, masyarakat Baduy terpisah menjadi dua kelompok besar yang disebut Baduy Luar dan Baduy Dalam. Berbeda dengan Baduy Luar yang terdiri dari belasan perkampungan kecil menyebar di sekeliling wilayah Desa Kanekes, Baduy Dalam hanya terdiri dari 3 kampung yang masing-masing mempunyai ke-puun-nan (kepala adat), yakni Cibeo, Cikeurtawarna, dan Cikeusik. Walaupun sudah sedikit terbuka dengan pengaruh budaya dari luar, namun masyarakat Baduy Luar masih sangat kuat memegang adat istiadat Baduy dengan ”kiblat” utama kepada ketiga kepuunan Baduy Dalam.

Perbedaan sikap, walau tidak exkstrim, antara Baduy Luar dan Baduy Dalam ketika merespon intervensi budaya dari luar komunitasnya, telah memberikan perbedaan warna antara kedua kelompok tersebut. Penggunaan paku untuk membuat rumah, misalnya, bagi Baduy luar adalah hal yang biasa, sementara bagi Baduy Dalam penggunaan paku tersebut merupakan hal tabu dan dilarang. Contoh lain adalah penggunaan angkutan transportasi kendaraan bermotor; bagi orang Baduy Luar diperbolehkan, sedangkan untuk orang Baduy Dalam tidak boleh sama sekali.

Namun demikian, adalah hal menarik ketika keseluruhan Baduy dari kedua kelompok sama-sama memiliki ikatan yang sangat kuat dengan tumbuhan bambu. Hal ini dengan mudah dapat dilihat disaat kita mulai memasuki wilayah habitat Baduy Luar. Sepanjang perjalanan akan dijumpai sejumlah rumpun bambu yang sebagian-nya terpelihara dengan baik oleh penduduk Baduy. Beruntung, letak wilayah Desa Kanekes yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL), yang mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan) dengan suhu rata-rata 20°C. Keadaan tersebut memungkinkan untuk tumbuh suburnya rumpun bambu.

Menilik sejarah panjang suku-suku pedalaman yang ada di Indonesia, hampir semua masyarakat tradisional itu memiliki keterkaitan langsung dengan tumbuhan bambu ini. Sehingga ada pameo mengatakan ”dimana ada bambu, di sana ada masyarakat tradisional”. Umumnya, habitat manusia yang pernah ada di dunia dari dahulu kala hingga sekarang dikaitkan dengan keberadaan sungai. Manusia akan membangun pemukimannya di dekat aliran sungai. Masyarakat Baduy mengambil kombinasi antara kedua hal tersebut: membuat perumahan mereka di dekat sungai dan rumpun bambu.

Ada alasan kuat mengapa masyarakat Baduy memilih tumbuhan bambu sebagai ”teman hidup”nya. Bambu dengan segala kelebihannya telah menyediakan dirinya menjadi bahan baku bagi hampir semua kebutuhan hidup manusia! Hampir tidak ada dari bagian tumbuhan ini, mulai dari akar hingga pucuk dan daun-nya yang tidak bisa dimanfaatkan. Akar bambu sering dipakai sebagai bahan ramuan obat, pucuk (rebung) bambu dibuat sayuran, dan batang bambu dewasa untuk bermacam keperluan bangunan. Bahkan tanah tempat bekas rumpun bambu adalah bagian tanah yang amat subur untuk berladang.

Bambu telah menyediakan hampir semua kebutuhan peralatan hidup bagi manusia Baduy. Gelas Bambu adalah yang paling sederhana. Orang Baduy, terutama kelompok Baduy Dalam mengkreasi gelas minum dari bambu dengan berbagai ukuran. Struktur tumbuhan yang berlubang di tengah dengan buku-buku kokoh yang menjadi pembatas antar ruas-ruasnya telah dimanfaatkan secara cerdas untuk menciptakan gelas-gelas tempat minum manusia. Selain gelas, bambu juga dapat dibuat berbagai peralatan dapur dan rumah tangga, seperti sendok, garpu, sumpit, dan untuk menanak nasi. Bambu kering kerap juga digunakan sebagai kayu bakar untuk perapian memasak makanan.

Bambu ternyata juga menjamah wilayah naluri seni manusia di banyak tempat di Indonesia, termasuk Baduy. Alat musik tiup seperti seruling bambu, angklung, dan kentongan adalah beberapa contoh penggunaan ruas-ruas bambu dengan berbagai ukuran bagi kepentingan pemenuhan hasrat bermusik atau berkesenian orang Baduy. Pembuatan wayang dari anyaman bambu juga sering dijumpai di komunitas Baduy, dan banyak lagi. Perlengkapan kerja seperti caping (tudung) yang biasa digunakan bekerja di ladang di tengah terik matahari terbuat dari bambu. Terdapat juga tikar bambu, atau sekedar anyaman bambu yang agak kasar, yang biasanya digunakan untuk menjemur ketela, kopi, kelapa, bahkan padi. Bakul berukuran kecil, sedang dan besar dibuat dari bambu. Bambu Timba adalah alat mengambil dan membawa air dari sungai atau pancuran hampir dimiliki di setiap rumah orang Baduy.

Bambu adalah bahan bangunan utama bagi suku Baduy. Bambu dapat dibuat lumbung padi, tempat jemuran padi yang baru dipanen, rumah, saluran air, dan jembatan penyebrangan di atas sungai atau jurang. Format bambu yang lurus dan panjang tanpa cabang, berlubang tengah, beruas dan berbuku kokoh, tersedia dalam berbagai ukuran, dan berbagai kelebihan tumbuhan ini, telah menjadikannya sebagai bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat tradisional seperti orang Baduy. Dengan keahlian dan dan kemampuan tehnik yang amat sederhana, Baduy remaja dan dewasa dapat membuat berbagai macam bangunan bagi keluarganya dari bahan baku bambu. Dalam membuat rumah misalnya, bambu dapat diolah sedemikian rupa untuk menjadi apa saja. Bambu bisa jadi tiang penyanggah rumah yang umumnya berbentuk panggung, ia juga bisa jadi dinding, lantai, kasau, bahkan jadi atap rumah.

Bangunan jembatan bambu di atas kali besar adalah satu fenomena ”teknologi tradisional” yang spektakuler sekaligus unik dan indah. Jembatan bambu di atas sungai Cihujung di Kampung Gajebo, salah satu perkampungan Baduy Luar, terlihat artistik melintang kokoh menghubungkan kedua sisi jurang sungai di ketinggian sekitar 40-an meter dari permukaan sungai. Kemampuan teknologi yang cukup baik untuk menciptakan bangunan jembatan di tengah hutan dengan formasi jembatan ala Jembatan Merah di Palembang atau meniru gaya London Bridge di Inggris. Semua bahan utama bangunan jembatan ini dari bambu. Tiang-tiang penyanggah dibuat dari bambu besar yang panjang dan kokoh, juga tiang-tiang gantungan jembatan menggunakan bambu. Lantai jembatannya juga dari bambu yang bulat dan utuh yang disusun sedemikian rupa seperti rakit, sambung-menyambung dari sisi yang satu ke sisi sungai yang lainnya. Sebagai pengikat jembatan, Orang Baduy menggunakan pilinan ijuk yang didapatkan dari pohon enau yang juga banyak tersebar di wilayah hutan di Baduy. Ada beberapa buah jembatan bambu seperti ini di sana, di samping terdapat juga jembatan akar yang dibuat dari rangkaian akar-akar pohon besar dari kedua sisi sungai.

Saat ini, di masyarakat modern di kota-kota besar, bahkan di negara maju, keberadaan perabotan dan perlengkapan furniture dari bambu sudah menjadi pemandangan jamak. Meja-kursi bambu adalah hal biasa, bukan saja di rumah-rumah, bahkan sering terlihat di perkantoran dan restoran mewah. Aksesoris bangunan yang terbuat dari bambu seperti bel, lampu dinding, gantungan kunci, dan lain-lain adalah juga merupakan bagian dari kehidupan masyarakat moderen. Bahkan, bila bambu asli tidak ditemukan, orang justru membuat hasil karya bambu mereka melalui imitasi bambu dari bahan baku plastik dan lainnya. Bambu telah menjadi inspirasi manusia di mana saja sepanjang masa.

Jadi, amat logis jika akhirnya tercipta suatu ikatan bathin yang kuat antara masyarakat Baduy dengan pokok bambu, yang pada akhirnya membuat masyarakat tradisional ini menjaga dengan seksama rumpun-rumpun bambu di sekitar mereka dengan baik. Sepanjang bambu masih tumbuh subur, rimbun dan kokoh di daerahnya, orang Baduy akan tetap eksis dengan segala pernik kebudayaan dan adat istiadatnya yang ”tidak lekang oleh panas, tidak lapuk oleh hujan”. (WL)

Religi Masyarakat Badui

Oleh Tim Wacana Nusantara

Dasar religi orang Badui ialah penghormatan terhadap roh nenek moyang dan kepercayaan terhadap satu kuasa, Batara Tunggal. Keyakinan mereka itu disebut Sunda Wiwitan. Orientasi, konsep-konsep, dan kegiatan-kegiatan keagamaan ditujukan kepada pikukuh agar orang hidup menurut alur itu dalam menyejahterakan orang Badui dari hierarki tua dan dunia ramai (keturunan yang lebih muda).

Mereka bertugas menyejahterakan dunia melalui tapa (perbuatan, bekerja) dan pikukuh. Apabila Kanekes sebagai inti jagat selalu terpelihara baik, maka seluruh kehidupan akan aman sejahtera. Gangguan terhadap inti bumi ini berakibat fatal bagi seluruh kehidupan manusia di dunia. Konsep keagamaan dan adat terpenting yang menjadi inti pikukuh adalah Badui tanpa perubahan apa pun, seperti dikemukakan oleh peribahasa “lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung” (panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung). Konsep-konsep itu tidak berada dalam diri orang Badui sendiri yang kekuatannya tergantung dari tindakan atau perbuatan seseorang. Konsep pikukuh merupakan pengejawantahan dari adat dan keagamaan yang ditentukan oleh intensitas konsep mengenai karya dan keagamaan. Dengan melaksanakan semuanya itu orang akan dilindungi oleh kuasa tertinggi, Batara Tunggal, melalui para guriang yang dikirim oleh karuhun dan Batara Tunggal, karena orang tidak patuh kepada pikukuh. Inilah hakikat agama Sunda Wiwitan.

Para puun itu bukan hanya pemimpin tertinggi tetapi juga keturunan karuhun, yang langsung mewakili mereka di dunia. Ada beberapa konsep yang merupakan kewajiban puun dalam rangka pikukuh, yaitu memelihara Sasaka Pusaka Buana, memelihara Sasakan Domas atau Parahyang, mengasuh dan memelihara para bangsawan/pejabat, bertapa bagi kesejahteraan dunia, berbakti kepada dewi padi dengan berpuasa pada upacara, memuja nenek-moyang, dan membuat laksa untuk bahan pokok seba (Garna, 1988).

Nenek moyang orang Badui dikategorikan dalam dua kelompok: nenek moyang yang berasal dari masa para batara dan masa para puun. Batara Tunggal digambarkan dalam dua dimensi, sebagai suatu kuasa dan kekuatan yang tak tampak tetapi berada di mana-mana, dan sebagai manusia biasa yang sakti. Dalam dimensi sebagai manusia sakti, Batara Tunggal memunyai keturunan tujuh orang batara yang dikirimkan ke dunia di kabuyutan (tempat nenek-moyang), yaitu titik awal bumi Sasaka Pusaka Buana. Yang pertama ialah Batara Cikal, yang diberitakan tidak ada keturunannya. Kedua, Batara Patanjala yang menurunkan tujuh tingkat batara ketiga, yaitu (dari yang paling senior) Daleum Janggala, Daleum Lagondi, Daleum Putih Seda Hurip, Daleum Cinangka, Daleum Sorana, Nini Hujung Galuh, dan Batara Bungsu. Mereka itu yang menurunkan Bangsawan Sawidak Lima atau tujuh batara asal, nenek moyang orang Baduy. Daleum Janggala adalah batara yang tertua, dan yang menurunkan kerabat tangtu Cikeusing; Daleum Putih Seda Hurip menurunkan kerabat Kampung Cibeo. Para batara tingkat ketiga lain masing-masing menurunkan jenis kerabat pemimpin lainnya.

Lima batara tingkat kedua, saudara-saudara muda Batara Pantajala, yaitu Batara Wisawara, Batara Wishnu, Batara Brahmana, Batara Hyang Niskala, dan Batara Mahadewa. Mereka menurunkan kelompok kerabat besar di luar Baduy yang disebut salawe nagara (dua puluh lima negara), yang menunjukkan jumlah kerabat yang besar, dan menurut pengetahuan orang Badui adalah wilayah yang sangat luas di sebelah Sungai Cihaliwung (Garna, 1988). Kelompok kerabat itulah yang dianggap orang Badui sebagai keturunan yang lebih muda.

Dari ketujuh orang batara tingkat ketiga nenek-moyang orang Badui itu, tampak bahwa hanya kerabat jaro dangka yang berasal dari garis keturunan perempuan. Lainnya diturunkan melalui garis keturunan patrilineal. Para puun adalah keturunan Batara Patanjala, dan sampai masa akhir abad ke-19 oleh Jacobs dan Maijer dicatat sudah terjadi 13 kali pergantian puun Sikeusik (1891:13). Menurut catatan tahun 1988, jumlah puun Cikeusik adalah 24 orang, dan yang terakhir adalah Puun Sadi (Garna, 1988).

Suatu konsep penting dalam religi orang Badui ialah karuhun, yaitu generasi-generasi pendahulu yang sudah meninggal. Mereka berkumpul di Sasaka Domas, yaitu tempat di hutan tua di hulu Sungai Ciujung. Karuhun dapat menjelma atau datang dalam bentuk asalnya menengok para keturuannya, dan jalan untuk masuk ialah melalui hutan kampung.

Dalam kaitan dengan konsep karuhun itu ada konsep lain, yaitu guriang, sanghyang, dan wangatua. Guriang dan sanghyang dianggap penjelmaan para karuhun untuk melindungi para keturunannya dari segala marabahaya, baik gangguan orang lain maupun makhluk halus yang jahat (dedemit, jurig, setan). Wangatua ialah roh atau penjelmaan roh ibu-bapak yang sudah meninggal dunia.

Kosmologi orang Badui yang menghubungkan asal mula dunia, karuhun, dan posisi tangtu, merupakan konsep penting pula dalam religi mereka. Karena itu wilayah yang paling sakral berada di Kanekes, terutama wilayah taneuh larangan (tanah suci, tanah terlarang) tempat kampung tangtu dan kabuyutan. Bumi dianggap bermula dari masa yang kental dan bening, yang lama-kelamaan mengeras dan melebar. Titik awal terletak di pusat bumi, yaitu Sasaka Pusaka Buana tempat tujuh batara diturunkan untuk menyebarkan manusia. Tempat itu juga merupakan tempat nenek moyang. Kampung tangtu kemudian dianggap sebagai inti kehidupan manusia, yang diungkapkan dengan sebutan Cikeusik, Pada Ageung Cikartawana disebut Kadukujang, dan Cikeusik disebut Parahyang; semua itu disebut Sanghyang Daleum. Secara khusus posisi tempat nenek moyang (kabuyutan) dan alur tangtu dalam memperlihatkan kaitan karuhun, yaitu Pada Agueng--Sasaka Pusaka Buana--dangka-nya disebut Padawaras; Kadukujang--Kabuyutan ikut pada Cibeo dan Cikeusik--dengan dangka-dangka-nya yang disebut Sirah Dayeuh.

Konsep buana (buana, dunia) bagi orang Badui berkaitan dengan titik mula, perjalanan, dan tempat akhir kehidupan. Ada tiga buana, yaitu Buana Luhur atau Buana Nyungcung (Tngkasa, Buana Atas) yang luas tak terbatas; Buana Tengah atau Buana Panca Tengah, tempat manusia melakukan sebagian besar pengembaraannya dan tempat memperoleh segala suka-dukanya; dan Buana Handap (Buana Bawah) yaitu bagian dalam tanah yang tak terbatas pada luasnya. Keadaan di tiga benua itu adalah seperti halnya dunia ini, ada siang dan ada malam, dan keadaannya sebaliknya dengan di dunia.

Konsep lain dalam religi orang Badui ialah kaambuan atau ambu (ibu, wanita, ibu suci). Menurut orang Badui ada tiga ambu yang penting (paling tidak, yang ditakuti dan disegani), yaitu Ambu Luhur di Buana Luhur, Ambu Tengah di Buana Panca Tengah, dan Ambu Rarang di Buana Handap. Ambu Tengah ialah pemelihara kehidupan yang harus dihormati dengan kesungguhan melakukan pikukuh. Ambu Luhur tidak hanya mengurus tempat orang Badui setelah mati, tetapi juga dengan segala kekuatan dan kesaktiannya. Ambu Luhur dapat menyelesaikan setiap masalah kehidupan dengan menyebut namanya atau membaca mantra-mantra. Sedang Ambu Rarang adalah ambu yang menerima jasad dan roh orang Badui yang mati untuk diurus selama tujuh hari dan melepaskannya setelah 40 hari ke tempat akhir tetapi juga bentuk nyata dari Buana luhur.

Kepustakaan
Djoewisno, M.S. 1995. Potret Kehidupan Masyarakat Baduy. Pandeglang-Banten.
Koentjaraningrat. 1985. Ritus Peralihan di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi. Jakarta: UI-Press.
Koentjaraningrat. 2007. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Koentjaraningrat, dkk. 1993. Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Mutakin, A. dan Pasya, G.K. 2000. Masyarakat Indonesia dalam Dinamika. Bandung: Buana Nusa.

Sumber Tulisan:
http://www.wacananusantara.org/1/172/Religi%20Masyarakat%20Badui?mycustomsessionname=8587a74380f161d73d51e0b5573a743e
-

Arsip Blog

Recent Posts