Tampilkan postingan dengan label Balige. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Balige. Tampilkan semua postingan

Ulos Sepanjang 500 Meter Bidik Rekor MURI

Balige, Sumut - Parade "Ulos Sadum" sepanjang 500 meter akan dicatatkan sebagai ulos terpanjang untuk memecahkan rekor museum rekor indonesia (MURI) pada pembukaan Festival Danau Toba di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, 17 September mendatang.

"Ulos Batak atau kain tenun ikat ini dikerjakan oleh 20 orang anggota kelompok pengrajin binaan Bank Indonesia secara bergantian selama sekitar tujuh bulan," ujar Asisten Direktur Bank Indonesia, Susi Masniari Nasution di Balige, Minggu.

Bahan yang dibutuhkan untuk mengerjakan Ulos itu, kata dia, membutuhkan benang tanpa terputus sepanjang 600 meter dan prosesnya dimulai sejak Maret 2014.

Pada awalnya, menurut Susi, mereka ingin membuat ulos sepanjang 600 meter. Namun, akibat adanya penyusutan pada benang yang digunakan, kemungkinan hanya bisa menghasilkan ulos berukuran sekitar 500 meter saja.

Saat ini, Bank Indonesia memiliki sejumlah kelompok pengrajin binaan untuk pemberdayaan usaha kecil menengah (UKM) dilengkapi dengan pusat pendidikan latihan kerja di Jalan Pendidikan Medan, Sumatera Utara.

Ia mengatakan ide membuat ulos sadum terpanjang yang akan dicatatkan dalam rekor MURI untuk menggugah semua pihak dalam melestarikan kain tenun unik yang khas dari etnis Batak tersebut.

"Ulos Batak merupakan warisan budaya yang hampir punah sehingga perlu dilestarikan," ujar Susi.

Kepala Dinas Pariwisata Toba Samosir, Ultri Simangunsong menyebutkan, penyelenggara Festival Danau Toba 2014 akan menjadi momen pemecahan rekor kain tenun ulos terpanjang tersebut.

Menurutnya, pihak Bank Indonesia ikut berpartisipasi dengan menyumbangkan ulos sepanjang hampir 550 meter, yang dirangkaikan dengan pagelaran tortor cawan massal yang akan dipertunjukkan sekitar 300 murid SLTA Kabuptaen setempat.

"Pencatatan rekor ulos sadum bermotif warna ceria itu, akan dilakukan di komplek museum Batak TB Silalahi Center, Pagarbatu dan selanjutnya dibawa ke Lapangan Sisingamangaraja XII Balige," kata Ultri.

Festival danau Toba (FDT), merupakan tahun kedua pelaksanaannya setelah namanya berganti dari sebelumnya Pesta Danau Toba, dengan penunjukan Pemkab Toba Samosir sebagai tuan rumah, berdasarkan surat Kemenparekraf nomor HM.304/3/8/WPEK/2013 tanggal 7 November 2013.

Becak Berhias Rumah Adat Batak Semarakkan Festival Danau Toba

Balige, Sumut - Parade becak berhiaskan rumah adat Batak akan menyemarakkan pembukaan Festival Danau Toba (FDT) di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, pada 17 September 2014.

"Sedikitnya 15 becak khas yang dihiasi miniatur rumah adat Batak akan berkonvoi membawa rombongan tamu dari acara pembukaan di museum TB Center ke lapangan Singamangaraja," ujar Kepala Dinas Pariwisata Toba Samosir, Ultri Simangunsong di Balige, Selasa (16/9).

Para tamu dan panitia akan menumpang becak menuju lokasi penyelenggaraan pameran ekonomi kreatif yang dipusatkan di lapangan Singamangaraja. Lapangan ini terletak di tengah kota Balige sebagai ibukota Kabupaten Toba Samosir.

FDT 2014, kata dia, merupakan tahun kedua pelaksanaannya setelah namanya berganti dari sebelumnya Pesta Danau Toba, dengan penunjukan Pemkab Toba Samosir sebagai tuan rumah, berdasarkan surat Kemenparekraf nomor HM.304/3/8/WPEK/2013 tanggal 7 November 2013.

Festival yang digelar mulai 17 hingga 21 September ini akan menampilkan berbagai atraksi budaya. Jenis perlombaan yang akan meramaikan pesta rakyat itu, di antaranya, pertunjukan tari tortor, Lake Toba World Drum Festival, lomba solu bolon (sejenis perahu besar/dragon boat) serta pameran pariwisata dan ekonomi kreatif.

Selain itu, akan diadakan sejumlah atraksi budaya lokal, seperti Monsak Batak (seni olahraga beladiri) dan berbagai permainan rakyat yang dulu sering dimainkan untuk turut diperlombakan.

"Pelaksanaan FDT 2014 di Kabupaten ini diharapkan akan menjadi tahun kebangkitan pariwisata yang berdampak pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya," kata Ultri.

Ulos Diburu Wisatawan untuk Suvenir

Balige, Sumut - Kain tenun Batak yang biasa disebut ulos hingga kini tetap ramai diburu wisatawan domestik maupun mancanegara untuk dijadikan suvenir, karena keunikannya yang khas dan kualitasnya tidak kalah bersaing dengan produk luar daerah.

"Selain digunakan konsumen sebagai kelengkapan prosesi adat Batak, tenun ikat tersebut selalu banyak diburu para wisatawan untuk dijadikan sebagai buah tangan," kata Sianipar, pedagang ulos di Pasar Balerong Balige, Sabtu (28/6/2014).

Ulos, menurut Sianipar, memiliki keistemewaan dan keunikan sebagai pakaian adat tradisional Batak serta menyimpan rahasia keterampilan seni yang tersendiri dalam proses pembuatannya dan biasa dipadukan dengan budaya.

Eksistensi ulos terlihat jelas, terutama dalam peranannya pada pelaksanaan berbagai budaya adat Batak. Kain tenunan khas Batak yang berbentuk selendang ini, merupakan lambang ikatan kasih sayang.

Proses pembuatannya bukanlah pekerjaan mudah dan butuh waktu lama. Lewat sentuhan tangan ahli, ulos akan tampak semakin indah, dalam perpaduan warna yang dirangkai benang bermotif seni.

"Dari dulu hingga sekarang ulos selalu diminati konsumen dan banyak dijadikan sebagai kado atau suvenir," kata Sianipar.

Hal senada disebutkan pedagang Ulos lainnya, Boru Panjaitan, yang mengaku penjualan selendang tenun untuk prosesi acara adat Batak itu terus mengalami peningkatan. Sebab, ulos dibeli oleh konsumen untuk berbagai keperluan. Salah satunya, sebagai suvenir.

Boru Panjaitan menyebutkan, sejak generasi kakeknya, mereka sudah menggeluti usaha penjualan ulos secara turun temurun. "Harga ulos ini sangat bervariasi. Ada yang dijual sekitar Rp 50 ribu dan ada yang harganya mencapai jutaan rupiah. Tergantung jenis dan penggunaannya," katanya.

Hendarto, pengunjung Pasar Balerong, berasal dari Surabaya mengaku dirinya sangat tertarik dengan motif ulos yang didominasi tiga warna khas Batak itu, yakni merah, hitam dan putih.

Dikatakannya, beberapa lembar Ulos telah dibelinya, untuk suvenir sebagai kenang-kenangan dan pertanda dirinya pernah berkunjung ke kawasan Danau Toba. "Saya sangat mengagumi ulos yang dihasilkan alat tenun bukan mesin itu karena kualitasnya lumayan bagus dan tidak kalah dengan sarung Suji yang ada di Palembang," katanya.

9 Atraksi Budaya akan Meriahkan FDT 2014

Balige, Sumut - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadwalkan sembilan atraksi budaya yang akan digelar untuk memeriahkan Festival Danau Toba (FDT) di Balige, Kabupaten Toba Samosir, pada 17-21 September 2014.

“Sembilan atraksi kegiatan budaya tersebut tercantum dalam surat Kemenparekraf No.HM.304/3/8/WPEK/2013 tanggal 7 November tentang penunjukan Kabupaten Tobasa sebagai tuan rumah pelaksanaan FDT 2014,” ujar Kepala Disbudpar Toba Samosir (Tobasa), Ultri Sonlahir Simangunsong di Balige, hari ini.

Jenis perlombaan yang dipersiapkan untuk meramaikan pesta rakyat itu, yakni, pertunjukan budaya, lomba renang tradisonal, lomba renang internasional, pameran pariwisata dan ekonomi kreatif serta “Lake Toba world drum festival” dan “fashion show”.

Selain itu, akan diadakan perlombaan “solu bolon” sejenis perahu besar (dragon boat), paralayang, arung jeram, seminar pariwisata dan lomba nyanyi paduan suara solo.

Disamping itu, menurut Ultri, akan ditambahkan sejumlah atraksi budaya lokal, seperti “Panangkok Ogung”, “Sulang Sulang Pasangap Natua-tua”, “Mangalahat Horbo”, dan “Panggokhon Ulaon Nauli”.

Atraksi budaya dan berbagai permainan rakyat itu, kata dia, dulu sering dimainkan dan akan diperlombakan dalam festival dimaksud. Ultri menjelaskan, pihaknya akan menggelar pra FDT yang dijadwalkan pada 4-5 Juli. Sejak Mei hingga Agustus 2014, akan digelar sosialisasi, edukasi, promosi dan “action plan pendukung” pesta rakyat tersebut. “Kita minta dukungan semua pihak terkait, termasuk SKPD di lingkungan Pemkab Toba Samosir,” katanya.

Kabag Humas Pemkab Toba Samosir, Robintang Sitepu menambahkan, sebagai tuan rumah pelaksanaan FDT 2014, pihaknya sudah melakukan berbagai persiapan dalam menyongsong penyelenggaraan festival yang diharapkan dapat mempromosikan potensi pariwisata Danau Toba tersebut hingga ke mancanegara.

Dikatakan, Festival Danau Toba merupakan tahun yang kedua, setelah namanya berganti dari sebelumnya Pesta Danau Toba dan selalu diikuti setiap kabupaten yang bersinggungan langsung dengan wilayah danau tersebut.

“Manajemen pengelolaan festival yang ditangani pihak pemerintah pusat secara nasional, diperkirakan mampu mempermudah akses dan penyebarluasan informasinya, sehingga gaungnya diharapkan mampu lebih cepat ke tingkat pariwsata internasional,” kata Robintang.

Pusat Kurang Peduli Festival Danau Toba

Balige, Sumut - Pemerintah Pusat diminta serius mendukung pelaksanaan Festival Danau Toba (FDT) 2014 di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, karena hingga kini belum terlihat adanya instruksi dari Kementerian terkait, menyangkut penyelenggaraan pesta rakyat tersebut.

"Belum terlihat tanda-tanda keseriusan Pemerintah Pusat mengenai pelaksanaan event tahunan bergilir oleh tujuh kabupaten yang wilayahnya merupakan daerah tangkapan air Danau Toba itu," ungkap Kepala Disbudpar Toba Samosir, Ultri Sonlahir Simangunsong di Balige.

Padahal, menurut dia, jadwal pelaksanaan yang ditetapkan relatif semakin dekat, yakni pada minggu kedua bulan September 2014 dan sejauh ini belum ada instruksi atau ketentuan dari Kementerian terkait.

Memang, lanjutnya, dengan berbagai pertimbangan yang lebih menguntungkan, tentang jadwal maupun kegiatan pelaksanaannya kemungkinan masih bisa saja dirobah.

Sesuai surat Kemenparekraf nomor HM.304/3/8/WPEK/2013 Pemerintah Kabupaten Toba Samosir ditunjuk sebagai tuan rumah untuk pelaksanaan FDT 2014.

Ultri menyebutkan, hingga kini belum ada kejelasan tentang anggaran yang bisa dipergunakan dan panitia pelaksananya juga belum terbentuk.

Kendati demikian, kata dia, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan Pemerintah Propinsi Sumatera Utara, tentang berbagai hal yang diperlukan untuk kesuksesan acara yang diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah ini.

Sebagai tuan rumah untuk pelaksanaan FDT 2014, Ultri menyebutkan, pihaknya sudah melakukan berbagai persiapan dalam menyongsong penyelenggaraan festival yang mempromosikan potensi pariwisata Danau Toba tersebut hingga ke mancanegara.

Festival Danau Toba, merupakan tahun kedua pelaksanaannya setelah namanya berganti dari sebelumnya Pesta Danau Toba dan selalu diikuti setiap kabupaten yang bersinggungan langsung dengan Danau Toba.

Manejemen pengelolaan festival yang ditangani pihak pemerintah pusat secara nasional, diperkirakan mampu mempermudah akses dan penyebarluasan informasinya, hingga gaungnya mampu lebih cepat ke tingkat pariwisata internasional.

"Berbagai persiapan yang perlu sedang dilaksanakan dan diharapkan daerah lain yang berdekatan dengan Kabupaten Toba Samosir dapat berpartipasi secara lebih optimal," kata Ultri.

Tobasa Festival 2013 Gali Nilai Seni Budaya

Balige, Sumut - Tobasa festival 2013 yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Pariwisata (Dispudpar) Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, pada Kamis (5/12) untuk menggali serta mengembangkan nilai seni budaya sebagai kearifan lokal.

"Festival diikuti peserta yang merupakan utusan dari 16 Kecamatan se-kabupaten dalam upaya menimbulkan rasa kecintaan dan memiliki nilai budaya daerah," kata Kepala Disbudpar Toba Samosir, Ultri Sonlahir Simangunsong di Balige, Kamis.

Event dimaksud, kata dia, sebagai wadah untuk penyaluran bakat serta potensi remaja, serta memotivasi mereka dalam membangun kreasi dan kretivitas di bidang seni dan budaya Batak.

Atraksi budaya yang akan diperlombakan, yakni tari "tortor", lomba vocal solo dan lomba nyanyi trio membawakan lagu wajib "Oh Tao Toba".

Dikatakannya, pergelaran itu sekaligus merupakan persiapan dalam menyongsong pelaksanaan Festival Danau Toba yang direncanakan antara bulan Juli atau September 2014, sesuai penunjukan Kabupaten Toba Samosir sebagai tuan rumah oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif.

"Tiga atraksi yang diperlombakan tersebut, termasuk dari sepuluh kegiatan yang dijadwalkan akan digelar dalam memeriahkan FDT di Balige, berdasarkan surat Kemenparekraf nomor HM.304/3/8/WPEK/2013 tanggal 7 November," kata Ultri.

Kepala Bidang Kesenian Disbudpar Toba Samsosir, Rencana Simbolon menambahkan, festival yang diselenggarakan sekaligus sebagai ajang bagi generasi muda menyalurkan bakat di bidang kesenian daerah.

Di samping itu, katanya, juga dalam rangka mendorong pengembangan industri pariwisata di Kabupaten berpenduduk 205.331 jiwa yang terletak di bagian tengah provinsi Sumatera Utara tersebut.

Simbolon menjelaskan, setiap kontingen penari tortor, terdiri dari 11 orang peserta masing-masing enam orang penari laki-laki dan lima perempuan.

"Para penari akan mengikuti gerak tortor mengirngi irama gondang mula-mula, gondang somba, sitio-tio dan gondang hasahatan," katanya.

Festival Toba Samosir 2014 Dimeriahkan 10 Atraksi Budaya

Balige, Sumut - Sepuluh atraksi budaya dijadwalkan akan digelar untuk memeriahkan Festival Danau Toba (FDT) di Balige, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara, Juli 2014.

"Sepuluh kegiatan tersebut tercantum dalam surat Kemenparekraf tanggal 7 November tentang penunjukan Kabupaten Tobasa sebagai tuan rumah pelaksanaan FDT 2014," ungkap Kepala Disbudpar Tobasa, Ultri Sonlahir Simangunsong di Balige, Senin.

Jenis perlombaan yang akan meramaikan pesta rakyat itu, yakni, pertunjukan budaya, Lake Toba world drum festival, fashion show, lomba renang internasional dan lomba renang tradisonal serta pameran pariwisata dan ekonomi kreatif.

Selain itu, akan diadakan perlombaan solu bolon sejenis perahu besar (dragon boat), paralayang, arung jeram, seminar pariwisata dan lomba nyanyi paduan suara solo.

Di samping itu, menurut Ultri, kemungkinan akan ditambahkan sejumlah atraksi budaya lokal, seperti Monsak Batak (seni olahraga beladiri) dan berbagai permainan rakyat yang dulu sering dimainkan untuk turut diperlombakan.

Karnaval Ulos akan Meriahkan Festival Danau Toba 2014

Balige, Sumut - Karnaval Ulos akan memeriahkan Festival Danau Toba di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, pada Juli 2014.
Pengurus Indonesia Heritage Society Merdi Midian Sefnat Sihombing pada Selasa mengatakan ribuan warga Toba Samosir akan berpartisipasi dalam karnaval untuk menampilkan kekayaan budaya Indonesia melalui pameran kain tradisional Batak itu.
Menurut pengurus Perhimpunan Pecinta Kain Adat Indonesia itu, Ulos Batak telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari orang Batak dan mengalami perubahaan seiring berjalannya waktu.
Bagi suku Batak, ulos tidak hanya berfungsi sebagai lambang penghangat dan kasih sayang, melainkan juga sebagai lambang kedudukan, lambang komunikasi, dan lambang solidaritas.
Namun ulos Batak belum banyak diperkenalkan dalam ajang-ajang fesyen seperti batik Jawa atau songket Palembang.
Selain ulos, kata Merdi, seni ukir Gorga Batak Toba yang umumnya hanya menggunakan cat warna merah, hitam, dan putih juga akan dipamerkan dalam festival.
"Keanekaragaman budaya Batak lewat ulos dan seni manggorga akan dimunculkan kehadirannya dalam Festival Danau Toba 2014," katanya.

Ulos Jadi Ikon Festival Danau Toba 2014

Balige, Sumut - Ulos Batak akan dijadikan sebagai ikon pada Festival Danau Toba 2014 oleh Pemkab Toba Samosir yang ditunjuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadi tuan rumah pelaksanaan festival budaya yang akan deselenggarakan sekitar Juni 2014.
"Kami mengandalkan Ulos Batak menjadi ikon pada pelaksanaan pesta rakyat yang akan diselenggarakan pada Juni atau Juli bertepatan dengan hari libur sekolah," ujar Bupati Toba Samosir, Kasmin Simanjuntak di Balige, Minggu (22/9/2013).
Bahkan, menurut Kasmin, pihaknya merencanakan pembuatan ulos terpanjang yang disain dan ukuran detailnya masih dalam pengkajian.
Bagi suku Batak, Ulos tidak hanya berfungsi sebagai lambang penghangat dan kasih sayang, melainkan juga sebagai lambang kedudukan, lambang komunikasi, dan lambang solidaritas.
Tenun ikat Batak itu memiliki fungsi simbolik yang tidak dapat dipisahkan dalam aspek kehidupan orang Batak dengan berbagai jenis serta motifnya yang menggambarkan makna tersendiri.
Kasmin mengaku, sebenarnya pihaknya belum sanggup melaksanakan agenda nasional berskala internasional tersebut. Tapi, karena mendapat dukungan dari sesepuh masyarakat Batak, TB Silalahi, akhirnya penunjukan sebagai penyelenggara dalam FDT 2014 diterima oleh Pemkab Toba Samosir.
"Wamenparekraf Sapta Nirwandar menunjuk Pemkab Toba Samosir menjadi tuan rumah pada pelaksanaan FDT 2014," ujarnya.
Dengan adanya penunjukan tersebut, menurut Kasmin, pihaknya langsung bergerak cepat untuk mempersiapkan festival, termasuk melakukan koordinasi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo, kata Kasmin, akan mengucurkan dana sekitar Rp 20 miliar, yang akan digunakan Pemerintah setempat membangun infrastruktur serta sarana dan prasarana olahraga. "Kami akan bangun dua tribun, dan salah satunya di Lapangan Sisingamangaraja Balige, sementara untuk dana lainnya akan dicarikan dari pihak sponsor," katanya.
Selain menyiapkan tim, lanjut Kasmin, pihaknya juga telah mempersiapkan waktu pelaksanaan festival tersebut yakni medio Juni hingga Juli, bertepatan dengan libur sekolah,  salah satu tujuannya untuk mendorong hadirnya masyarakat pada festival tersebut.
Untuk menyemarakkan kegiatan olahraga, kabupaten yang terletak di bagian tengah Provinsi Sumatera Utara itu akan mengandalkan arung jeram menyusuri sungai Asahan, karena objek wisata olahraga tersebut sudah mulai dikenal hingga tingkat internasional.
Kasmin menegaskan, hingga saat ini sudah banyak turis yang mencoba arung jeram di Asahan, sehingga lokasi tersebut akan diandalkan dalam pelaksanaan festival.
"Guna memenuhi akomodasi, sejumlah hotel telah dipersiapkan bagi tamu lokal maupun pengunjung asing, sementara infrastruktur jalan, sarana dan prasarana lainnya akan terus diperbaiki," tambah Kasmin.

Pagelaran Seni Budaya Tobasa di PRSU di Medan

Balige, Sumut - Pagelaran Seni dan Budaya Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) di arena Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) yang dihadiri Bupati Tobasa Pandapotan Kasmin Simanjuntak dan Ketua TP PKK Ny. Netty Pandapotan br Pardosi, Minggu (17/3)

Menuai pujian dan decak kagum para penonton yang memadati lokasi open stage arena PRSU. Hadir juga pada kesempatan tersebut, Gubernur Sumatera Utara yang diwakili Asisten Pemerintahan, Hasiholan Silaen, Danlanud Soewondo Medan, Kol. Pnb. S.M Handoko, Ketua Yayasan Universitas Dharma Agung, Ny. Sariaty Pardede, Rektor Universitas Dharma Agung, Binsar Panjaitan, Anggota DPRD Tobasa Viktor Silalahi dan Sekdakab Tobasa Liberty Manurung.

Sebelum pagelaran dilakukan, Bupati Pandapotan Kasmin Simanjuntak dalam sambutannya mengatakan, pagelaran tersebut dimaksudkan sebagai ajang promosi potensi wisata Tobasa, untuk menarik minat para investor dalam pengembangan destinasi pariwisata unggulan.

Karena menurutnya, potensi wisata di Tobasa sangat beragam, seperti potensi wisata rohani, wisata sejarah, wisata seni budaya, wisata alam dan lainnya.

Diharapkannya, pertunjukan seni dan budaya Tobasa, akan mampu meningkatkan pemahaman dan apresiasi masyarakat terhadap karya seni dan budaya, sehingga kreatifitas dan produktifitas para pelaku seni semakin berdaya saing.

Setelah dibuka, dengan lagu-lagu daerah Batak Toba oleh Tobasa Idol dan Group Band Hephata, pagelaran seni dan budaya ini mementaskan beberapa kreasi Tortor (tarian Batak-red), seperti Tortor Tunggal Panaluan dan Tortor Sigale-gale yang dipersembahkan Sanggar Lusido Tortor Ajibata pimpinan Rismon Raja Mangatur Sirait.

Dalam rangkaian pagelaran seni dan budaya ini, selanjutnya Yayasan Pusuk Buhit Sakti mementaskan opera Batak “Siboru Manggale” dengan naskah dan disutradarai langsung Prof. M. Sorimangaraja Sitanggang, yang juga pimpinan yayasan ini. Dalam opera ini, dikisahkan, bagaimana munculnya tatanan kehidupan orang Batak yang dikenal dengan istilah “Dalihan Natolu”, yang diawali dengan kisah Siboru Manggale yang dibuat dari batang kayu oleh seorang tukang ukir, kemudian didandani seorang pedagang ulos dan selanjutnya dapat diwujudkan menjadi manusia oleh seorang dukun sakti.

Karena merasa sama-sama berperan hingga adanya Siboru Manggale, maka untuk menghindari pertengkaran, disepakatilah tukang ukir tersebut menjadi ayahnya, pedagang ulos menjadi amang borunya dan dukun sakti sebagai tulang. Pementasan opera ini sangat menarik perhatian para penonton, karena didukung dengan penataan cahaya dan suara yang sangat menarik serta dekorasi pentas yang mampu mengajak penonton hanyut dalam kisah yang diceritakan.

Setelah sebelumnya di awal acara dilakukan penyerahan bibit pohon oleh Marandus Sirait dari Taman Eden 100 Lumban Julu kepada Bupati dan undangan yang hadir sebagai simbol kepedulian akan lingkungan hidup, di sela-sela acara ini juga dilakukan pemberian hadiah kepada para penonton yang hadir dengan berbagai kuis interaktif seputar potensi Toba Samosir khususnya potensi wisata. Mengakhiri rangkaian pementasan ini, seluruh pendukung acara manortor bersama dan menyayikan lagu “O Tano Batak”.

Disbudpar Gelar Lomba Tor-tor Tingkat SLTA

Balige, Sumut - Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, menyelenggarakan lomba "Tortor" Batak antarpelajar untuk mewujudkan pelestarian nilai budaya.

Lomba tersebut sekaligus memotivasi para generasi muda berkreasi melalui irama gerak tubuh yang diiringi alunan musik gondang, kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Toba Samosir Ultri Sonlahir Simangunsong di Balige, Senin.

"Perkembangan zaman globalisasi perlu dibentengi norma-norma budaya, untuk pencerahan secara berkelanjutan, dalam rangka melestarikan budaya," katanya.

Menurut dia, kegiatan lomba yang diikuti 19 peserta dari berbagai Sekolah Menengah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) se Kabupaten Toba Samosir pada Jumat (15/2) itu, diharapkan dapat membangkitkan semangat para pelajar untuk menggapai prestasi dengan menjunjung tinggi nilai budaya sebagai perekat persaudaraan dan kebersamaan.

Kriteria penilaian dewan juri pada festival Tortor tersebut meliputi dasar/pakem tari, koreografi bentuk pola tortor, "wirama" keserasian gerakan dan irama musik, "wiraga" olah gerak tubuh, "wirasa" kemampuan berekspresi dalam etika adat daerah serta penampilan keserasian bersama antara penguasaan pentas dengan kostum.

Ultri menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Universitas Darma Agung Medan atas kerjasama dan kesempatan yang diberikan, hingga pihaknya dapat menyelenggarakan festival tari tortor itu di Balai Desa Monumen D.I.Panjaitan Balige yang dihadiri ribuan warga Toba Samosir dengan cukup antusias.

"Dengan penyelenggaraan festival tersebut, diharapkan dapat menggerakkan spirit untuk meningkatkan seni budaya Batak," katanya.

Sekdakab Toba Samosir, Liberty Manurung menambahkan, moment tersebut dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan potensi seni budaya tortor, dalam rangka mendukung percepatan pembangunan, khususnya di bidang kepariwisataan, demi mewujudkan daerah berpenduduk sekitar 175.277 jiwa yang terletak di bagian tengah provinsi Sumatera Utara itu menjadi salah satu tujuan wisata.

Kegiatan dimaksud, lanjutnya, juga merupakan salah satu wadah pengembangan dan pelestarian karya seni budaya berbasis kearifan budaya lokal dalam rangka memotivasi para generasi muda Batak untuk berkreasi dan berekspresi melalui olah gerak tubuh serta sentuhan alunan musik gondang sehingga menimbulkan rasa mencintai dan rasa memiliki budayanya sendiri.

Liberty meminta, agar para peserta lomba dapat menjadikan moment tersebut pengalaman serta pembelajaran berharga untuk menggapai prestasi sebagai generasi muda tunas bangsa, melalui pertandingan dan kompetisi yang sehat.

"Kegiatan tersebut hendaknya dijadikan sebagai agenda berkelanjutan dalam mengemban misi sosial dan budaya," ujarnya.

Tari Tortor Dipengaruhi Nyanyian Opera Batak

Balige, Sumut - Perkembangan tari tortor dipengaruhi nyanyian tumba (gerak tari bersifat minimalis) dalam seni opera Batak, yang banyak dipertunjukan pada 1920 hingga tahun 1980.

"Tari tortor, masuk dalam identitas kebudayaan bangsa sebagai warisan budaya yang banyak berkembang dalam pengaruh nyanyian (ende) melalui tumba dan penampilan seni lakon pada opera Batak," kata budayawan Thompson Hs di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Minggu.

Saat ini, tortor kreasi baru dipengaruhi rekaman musik gondang atau instrumen Barat. Representasinya telah banyak digantikan alat musik elektronik untuk mengiringi tarian tradisi tersebut.

Menurut pendiri Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Sumatera Utara itu, beberapa perubahan dalam pola dan gerak tortor telah terjadi melalui kebijakan interaksi kebudayaan dan peran perguruan tinggi, yang mungkin bisa disebut sebagai modernisasi tortor.

Sebagai tarian tradisional Batak, secara umum istilah tortor digunakan di daerah Angkola-Mandailing, Simalungun, dan Toba pada sub kultur (sosio-antropologis) Batak.

"Di daerah Karo, tari tortor dikenal dengan landek dan di wilayah Pakpak, Dairi disebut tatak," ujar Thompson.

Tortor merupakan tarian tradisi yang digunakan di wilayah sub-kultur Toba secara administratif, mencakup Samosir, Toba Holbung, Humbang, dan Silindung, serta ditemukan juga di sekitar lingkar luar Danau Toba.

Dikatakannya, musim Tortor di daerah Batak Toba, terkait dengan berbagai upacara, di antaranya pendirian `huta` (perkampungan) dan `horja bius` (konfederasi kampung dalam kaitan tanah dan pertanian).

Selain itu, terkait dengan adat (pernikahan, orang meninggal) dan penyembuhan penyakit (Tortor Sibaso dan Tortor Saem), kepemimpinan spiritual (Hamalimon) serta konteks hiburan, yakni tari tumba sebagai pemicu kreasi baru dalam pertunjukan opera Batak dalam zaman transisi.

Pola dan gerak dalam Tortor Toba dikenal dengan urdot, yakni gerak turun naik badan dengan bertumpu di tumit (bukan jinjit) dan lenggang badan ke kanan dan ke kiri dengan posisi tangan sejajar atau dengan gerak tertentu disebut eol.

"Tortor terikat dengan spiritual, moral adat, dan instrumen yang sudah ada serta merupakan bagian tidak terpisahkan dari gondang Batak," kata Thompson.

Lembaga Budaya Perlu Maksimalkan Tortor

Balige, Sumut - Budayawan Thompson mengemukakan, lembaga budaya lokal perlu memaksimalkan fungsinya untuk memikirkan pelaksanaan latihan tari tortor dan gondang Batak, karena kesenian tradisional tersebut merupakan warisan leluhur yang patut dipertahankan kelestariannya.

"Tortor dan gondang merupakan bagian tidak terpisahkan serta memerlukan perhatian seluruh kalangan, terutama lembaga kebudayaan lokal, seperti lembaga adat dalihan natolu," kata budayawan Thompson Hs di Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Jumat.

Lewat para akademisi, menurut Pendiri Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Sumatera Utara di Pematangsiantar itu, pihak pemerintah perlu membuat kebijakan terkait tortor dan gondang melalui peraturan daerah sebelum ditampung dalam undang-undang kebudayaan yang masih dalam proses pembentukan draf.

Sejak 1920 hingga 1980, kata dia, etnis Batak di wilayah Sumatera Utara pasti masih mengenal seni pertunjukan Opera Batak, dengan unsur-unsur tradisi instrumen musikal gondang dipadukan tarian tortor dalam gerak tari bersifat minimalis melalui tumba dari awal hingga akhir pagelaran.

Gondang Batak merupakan salah satu karya seni musik yang sangat kaya dan menjadi kekaguman bagi dunia, karena repertoarnya yang beragam memenuhi segala kebutuhan seni yang digunakan untuk berbagai kegiatan, seperti pada upacara keagamaan, adat dan hiburan.

Sedangkan, tortor, masuk dalam identitas kebudayaan bangsa sebagai warisan budaya yang banyak berkembang dalam pengaruh nyanyian (ende) melalui tumba dan penampilan pada opera Batak.

Dikatakannya, Opera Batak mengembangkan fungsi "uning-uningan" (gondang) untuk mengiringi penampilan lakon, nyanyian, tumba, dan repertoar musik khusus dan pada masa Tilhang Gultom kelengkapan ansamble tersebut ditambahi dengan sordam, sulim, tanggetang, dan sagasaga, sarune bolon, dan odap.

Beberapa perubahan dalam pola dan gerak tortor terjadi melalui kebijakan, interaksi kebudayaan dan peran perguruan tinggi, yang mungkin bisa disebut sebagai modernisasi tortor.

Namun, lanjutnya, tortor kreasi baru semakin dipengaruhi oleh rekaman musik gondang atau instrumen Barat, dan representasinya telah banyak digantikan alat musik lainnya untuk mengiringi tortor.

Makna dalam repertoar gondang sudah mengalami reduksi atau pembongkaran makna dan pelaksanaan gondang tergantung kepada konsensus yang disesuaikan dengan lembaga-lembaga tertentu dan individu.

"Sehingga, pembinaan sanggar-sanggar yang terkait dengan tortor dan gondang perlu mendapat pemahaman yang luas dan mendetail," ujar Thompson.

-

Arsip Blog

Recent Posts